Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 1 hour 30 min ago

Apa arti altar?

Fri, 22/06/2018 - 23:09
Paus Fransiskus rayakan Ekaristidi Basiika Santo Petrus di Vatikan 10 April 2018. CNS photo/Paul Haring

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

297. Mengapa Sakramen Ekaristi Kudus itu Perjamuan Paskah?

Sakramen Ekaristi Kudus itu perjamuan Paskah sejauh Kristus menghadirkan Paskah-Nya secara sakramental dan memberikan kepada kita Tubuh dan Darah-Nya, yang diberikan sebagai makanan dan minuman, yang mempersatukan kita dengan Diri-Nya dan satu sama lain dalam kurban-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1382-1384, 1391-1396

288. Apa arti altar?

Altar adalah simbol Kristus yang hadir, baik sebagai kurban persembahan (altar kurban) dan sebagai makanan dari surga yang diberikan kepada kita (meja perjamuan Allah).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1383, 1410

 

Paus dalam Misa di Jenewa: ‘Persatuan ditemukan dalam pengampunan’

Fri, 22/06/2018 - 16:41
Paus merayakan Misa di Palexpo Convention Center/Foto Vatican News

Dalam homili Misa di Palexpo Convention Center, saat mengadakan perjalanan apostolik ke Jenewa, Swiss, 21 Juni 2018, Paus Fransiskus menyampaikan pesan pengampunan dan langkah menuju persatuan umat Kristen dengan mengatakan bahwa doa “Bapa Kami” mengajarkan kita untuk menjadi Gereja yang terfokus pada Tuhan, Gereja yang menemukan Roh persatuan dalam pengampunan.

Dalam homili itu, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, Bapa Suci juga berbicara tentang tiga kata dari doa Yesus, “Bapa Kami,” yakni bapa, roti (makanan, rezeki), dan pengampunan.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa itu dimulai dengan “Bapa Kami”, yang merupakan “kunci untuk membuka hati Tuhan.” Kata-kata ini, kata Paus, adalah untuk mengingatkan bahwa orang Kristen bukanlah anak yatim atau hidup terisolasi.

“Kata-kata ‘Bapa Kami’ mengungkapkan identitas kita, makna kehidupan kita: kita adalah putra dan putri terkasih Allah,” tegas Paus Fransiskus.

Doa Yesus, lanjut Paus, mengajarkan kita untuk berpikir sebagai Gereja yang terfokus pada “kata Engkau (-Mu) yakni Allah,” yang merupakan “peta jalan untuk kehidupan rohani.” Kita dipanggil, sebagai putra dan putri Allah, untuk “memperhatikan saudara dan saudari kita dalam satu keluarga manusia” … “termasuk yang belum lahir, orang yang lebih tua yang tidak bisa lagi berbicara, orang yang sulit kita memaafkan, orang miskin dan orang yang terbuang.”

Paus Fransiskus kemudian merenungkan kata kedua, yakni roti. Roti itu, kata Paus, “penting untuk kehidupan.” Maka Paus memperingatkan, “Celakalah mereka yang berspekulasi tentang roti!” Paus mengatakan, “kesederhanaan roti” dapat membantu kita menemukan kembali “keperkasaan diam dan doa, ragi kehidupan manusia yang sesungguhnya.”

Paus mengatakan, roti bukan hanya kebaikan material, yang semua orang butuhkan untuk bertahan hidup, tetapi juga sebuah kebutuhan spiritual, yakni “Yesus sendiri.”

Paus menegaskan, “Jika Dia bukan menjadi makanan harian kita, pusat dari hari-hari kita, udara yang kita hirup, maka segalanya tidak ada artinya.”

Akhirnya, Paus Fransiskus berbicara tentang pengampunan, yang “tidak mudah”. Paus mengatakan bahwa pengampunan merupakan karunia timbal balik yang kami berikan kepada orang yang menyakiti kami dan kepada diri kami sendiri.

“Tuhan membebaskan hati kita dari semua dosa, Dia memaafkan semua yang sudah berlalu. Namun dia hanya meminta satu hal dari kita: agar kita pada gilirannya tidak pernah bosan memaafkan. Dia mau agar kita mengeluarkan pengampunan umum untuk dosa-dosa orang lain. ”

Tindakan pengampunan, kata Paus, “juga merupakan karunia yang kita terima dari Tuhan dan dikembalikan kepada-Nya.”

“Pengampunan memperbarui; pengampunan menyebabkan mukjizat.”

Dengan cara ini, kata Paus Fransiskus, “kita akan menjadi lebih seperti Bapa, yang mengasihi tanpa syarat. Dan Dia akan mencurahkan Roh persatuan kepada kita.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel terkait:

Paus mengingatkan bahwa Tuhan memohon umat Kristen untuk bersatu

Paus berkunjung ke Jenewa dalam Ziarah Ekumenis

Tahta Suci merilis Jadwal Ziarah Ekumenis Paus Fransiskus

Wakil-wakil Katolik dan Protestan membuat dokumen bersama tentang pendidikan

Suasana kebaktian ekumene/Reuters Vatican News Umat memenuhi Palexpo Convention Center Jenewa untuk Misa Paus menyapa umat yang menantinya di depan Palexpo Convention Center Jenewa

“Berjalan, Berdoa dan Bekerja Bersama,” semboyan Paus dalam “Ziarah Ekumenis”

Fri, 22/06/2018 - 13:28
Paus Fransiskus ambil bagian dalam pertemuan ekumenis di WCC, Jenewa (AFP)

Paus Fransiskus menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik untuk ekumene dalam renungan singkatnya tentang semboyan yang dipilih untuk “ziarah ekumenis” itu yakni “Berjalan, Berdoa dan Bekerja Bersama.” Penegasan itu diungkapkan dalam sambutannya di depan Panitia Pusat Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) serta sejumlah delegasi ekumenis, otoritas sipil dan anggota rombongan Paus di Jenewa, Swiss, dalam rangka HUT ke-70 WCC, 21 Juni 2018.

Berbicara tentang “Berjalan”, Paus mengatakan, kita harus berjalan ‘Masuk’ agar “bergerak konstan ke pusat guna mengakui bahwa kita adalah cabang-cabang yang dicangkokkan ke dalam satu pokok anggur yaitu Yesus” dan berjalan ‘Keluar’ kepada banyak orang pinggiran dalam dunia saat ini, “guna ikut membawa karunia Injil yang menyembuhkan kepada para saudara dan saudari kita yang menderita.”

“Doa” adalah oksigen dari ekumene, kata Paus. “Tanpa doa, persekutuan menjadi goyah dan tanpa kemajuan, karena angin Roh yang mendorong maju kita halangi.”

Terakhir tentang “Bekerja Bersama.” Di sini, kata Paus, “Saya ingin menegaskan kembali bahwa Gereja Katolik mengakui pentingnya karya yang dilakukan Komisi Iman dan Tata Tertib serta keinginan-keinginan untuk terus berkontribusi dalam karya itu melalui peranserta para teolog yang berkualifikasi tinggi.”

Paus mengatakan, “pencarian visi bersama Gereja yang dilakukan Komisi Iman dan Tata Tertib, bersama dengan upaya mempelajari isu-isu moral dan etika yang dilakukannya, menyentuh bidang-bidang yang sangat penting bagi masa depan ekumene.”

Selain itu, Paus Fransiskus meminta semua umat Kristen menjauhi godaan untuk membuat paradigma kultural mereka sendiri sebagai yang mutlak dan terperangkap dalam kepentingan partisan. “Perjalanan ekumenis kita didahului dan disertai dengan ekumene darah yang mendorong kita maju ke jalan menuju persatuan umat Kristen,” kata Paus.

Sambutan Paus itu dimulai dengan ucapan terima kasih bagi mereka yang membuka jalan “supaya kita bisa berkumpul bersama hari ini sebagai saudara dan saudari yang memilih jalan pengampunan dan tidak bersusah payah menanggapi kehendak Tuhan ‘supaya mereka semua menjadi satu’.”

Paus mengatakan, karena cinta kepada Yesus “mereka tidak membiarkan diri mereka terperosok dalam ketidaksepakatan, tetapi sebaliknya menatap masa depan dengan berani, percaya pada persatuan dan meruntuhkan hambatan-hambatan kecurigaan dan kekhawatiran.”

Paus memuji WCC yang, katanya, dilahirkan untuk melayani gerakan ekumenis, yang berasal dari panggilan yang kuat untuk misi. “Karena, bagaimana umat Kristen bisa mewartakan Injil, kalau mereka sendiri terpisah-pisah?” kata Paus.

Paus juga prihatin karena saat ini ekumene dan misi mungkin tidak lagi begitu terjalin erat seperti awalnya. Maka Paus mengingatkan mereka yang hadir bahwa “mandat misi semua umat Kristen menentukan identitas kita.”

“Iman kepada Yesus Kristus bukanlah buah konsensus, Umat Allah juga tidak dapat dirubah menjadi LSM,” kata Paus seraya mengungkapkan bahwa karunia yang Tuhan minta kita tawarkan adalah pengetahuan tentang Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa yang benar-benar dibutuhkan adalah jangkauan evangelis baru. Paus yakin bahwa meningkatnya dorongan misionaris akan membawa kita pada persatuan lebih besar.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

catholicnewsworld.com

Apa arti transubstansiasi?

Thu, 21/06/2018 - 22:31
Disputa Sakramen lukisan Raphael, diambil dari Wellspring

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

283. Apa arti transubstansiasi?

Transubstansiasi berarti perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi Tubuh Kristus dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi Darah Kristus. Perubahan ini terjadi dalam doa Ekaristi melalui kata-kata Kristus dan karya Roh Kudus. Tetapi, ciri khas luar roti dan anggur, yaitu ”rupa Ekaristi” tetap tidak berubah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1376-1377, 1413

284. Apakah pemecahan roti itu juga membagi Kristus?

Pemecahan roti tidak membagi Kristus. Dia hadir secara penuh dan lengkap dalam setiap rupa Sakramen Ekaristi dan dalam setiap bagiannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1377

Paus mengingatkan bahwa Tuhan “memohon” umat Kristen untuk bersatu

Thu, 21/06/2018 - 20:34
Paus Fransiskus berbicara dalam kebaktian ekumene di markas Dewan Gereja-Gereja se-Dunia/Foto Vatican News

Ketika merenungkan nasihat Rasul Paulus kepada umat Kristen untuk berjalan di dalam Roh, Paus Fransiskus menekankan bahwa “bagi kita umat Kristen berjalan bersama bukanlah cara memperkuat posisi kita sendiri” serta mengingatkan bahwa Tuhan “memohon” kita untuk bersatu.

Paus Fransiskus berbicara dalam kebaktian ekumene yang dilaksanakan di markas Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (World Council of Churches, WCC) dalam kunjungannya sehari ke Jenewa untuk merayakan ulang tahun ke-70 WCC, 21 Juni 2018. Susy Hodges dari Vatican News melaporkan dari  Jenewa.

Paus mengakui bahwa berjalan dalam Roh adalah sesuatu yang “menantang” karena berarti “menolak keduniawian. Itu berarti memilih pola pikir pelayanan dan bertumbuh dalam pengampunan.” Paus menyesalkan bahwa“ rasa haus akan hal-hal materi membuat kita buta melihat sesama kita di sepanjang jalan dan “kita menjadi budak konsumerisme yang tak terkendali.”

Seraya menekankan perlunya pertobatan terus-menerus, Paus Fransiskus mengatakan kepada para peserta kebaktian itu bahwa perpecahan di kalangan umat Kristen sering muncul karena pada akarnya, “di dalam kehidupan komunitas,” pola pikir duniawi telah meresap.

“Bahkan beberapa upaya masa lalu untuk mengakhiri perpecahan di kalangan umat Kristen gagal total karena mereka terutama terinspirasi oleh cara berpikir duniawi,” kata Paus.

Paus Fransiskus mengatakan gerakan ekumene muncul sebagai anugerah Roh Kudus. Namun dikatakan bahwa di mata dunia gerakan itu, sering dipandang bahwa gerakan itu “merugikan” karena gerakan itu berarti milik Kristus bukan milik kelompok kita sendiri.

Mengacu pada peringatan ulang tahun  ke-70 WCC, Paus mendesak peserta kebaktian itu untuk “memperkuat” langkah-langkah mereka di jalan menuju persatuan umat Kristen, dengan berjalan, berdoa dan bekerja bersama. “Tuhan meminta kita untuk bersatu: dunia kita, yang terbelah oleh terlalu banyak perpecahan yang mengakibatkan kerentanan berat, memohon kita untuk bersatu,” kata Paus.

Paus Fransiskus menutup sambutannya dengan mengatakan bahwa bagi kita sebagai umat Kristen, “berjalan bersama bukanlah cara untuk memperkuat posisi kita sendiri tetapi memperkuat aksi ketaatan kepada Tuhan.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Suasana kebaktian ekumene/Reuters Paus bersama para pemimpin Gereja Kristen/Reuters Paus bersama Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) Pendeta Olaf Fykse Tveit/Reuters

Paus berkunjung ke Jenewa dalam “ziarah ekumenis”

Thu, 21/06/2018 - 18:36
Vatican News

Paus Fransiskus sedang melakukan “ziarah ekumenis” ke Jenewa. Paus terbang ke Swiss tanggal 21 Juni 2018 di pagi hari waktu setempat. Di Jenewa Paus akan ikut merayakan ulang tahun ke-70 tahun Dewan Gereja se-Dunia (WCC) yang beranggotakan 350 kelompok yang tersebar di lebih dari 110 negara dan wilayah, sebuah kelompok payung terbesar denominasi Kristen di dunia.

Menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, WCC mewakili lebih dari 500 juta orang Kristen dan mencakup sebagian besar Gereja-Gereja Ortodoks dunia, sejumlah besar Gereja Anglikan, Baptis, Lutheran, Methodis, dan Gereja-Gereja Reformasi, serta banyak Gereja Bersatu dan Independen.

Gereja Katolik bukan anggota WCC tetapi keduanya telah menjalin hubungan yang baik, dan Paus Fransiskus datang ke sana dengan mengusung tema “Berjalan, Berdoa dan Bekerja Sama.”

Kunjungan Paus ke Jenewa dimulai dengan pertemuan pribadi dengan Presiden Swiss Alain Berset. Setelah itu Paus melanjutkan perjalanan ke Pusat Ekumenis WCC untuk kebaktian ekumenis. Dalam kebaktian itu Paus akan menyampaikan homili.

Paus juga akan bertemu dengan sebuah delegasi yang terdiri dari 8 anggota WCC dari Korea, empat dari Korea Utara dan empat dari Korea Selatan.

Dari Pusat Ekumenis Jenewa, Paus akan berkendara sekitar 18 km ke Institut Ekumenis Bossey, pusat perjumpaan,  dialog dan pembinaan WCC. Setelah makan siang dengan pimpinan WCC, Bapa Suci juga akan mengunjungi kapel institut itu.

Dari Institut Ekumenis Bossey, Paus akan kembali sore hari ke Pusat Ekumenis WCC. Di sana Paus akan bertemu dengan pejabat tinggi WCC, otoritas sipil, tim kepausan dan para anggota Panitia Pusat yang bertugas sebagai badan pimpinan tertinggi WCC. Paus akan memberikan ceramah di sana.

Peristiwa kepausan besar berikutnya adalah Misa malam bagi umat Katolik Swiss di pusat pameran Palaexpo, Jenewa. Sekitar 40.000 orang, termasuk dari Perancis yang terletak dekat kota itu, diperkirakan akan menghadiri Misa itu.

Setelah Misa, Paus akan mengucapkan selamat tinggal kepada para uskup Swiss dan perwakilan kepausan di Jenewa dan terbang kembali ke Roma. (paul c pati berdasarkan laporan Vatican News)

Paus Fransiskus bertemu secara pribadi dengan Presiden Swiss Alain Berset/Vatican News

Pastor Benny Susetyo: “Siapa yang bilang politik itu jahat atau tidak bagus? Politik itu baik!”

Thu, 21/06/2018 - 16:23
Pastor Benny Susetyo (kiri) sedang berbicara tentang Gereja dalam Panggung Politik. Foto dari panitia seminar.

Mengapa orang Katolik selama ini tidak banyak muncul ke dunia politik? Bukankah dengan terjun ke dunia politik berarti kita ikut memberi garam dan terang dunia? Salah satu kelemahan Gereja Katolik selama ini adalah kurang merespon situasi politik Indonesia dan kaderisasi. Contohnya, setelah era Frans Seda, Cosmas Batubara, dan YB Sumarlin, Gereja Katolik seperti kehabisan stok tokoh Katolik.

Pastor Benny Susetyo Pr mempertanyakan hal itu dalam seminar bertema “Gereja Katolik dalam Pusaran Dunia (Politik): Quo Vadis?” di Gedung Srijaya, Surabaya, 10 Juni 2018 yang dihadiri sekitar 500 peserta.

“Apakah peran kita (Gereja Katolik) menghadapi situasi semacam itu? Bolehkah pastor dan Gereja Katolik berpolitik praktis? Bolehkan umat Katolik ikut berpolitik praktis? Pertanyaan-pertanyaan itu pun diangkat oleh Pastor Benny yang saat ini bertugas sebagai Satgas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam “Gereja dalam Panggung Politik.”

Seraya menghimbau dan memotivasi semua generasi muda Katolik dan umat Katolik untuk terjun di bidang politik, Pastor Benny bertanya, “Siapa yang bilang politik itu jahat atau tidak bagus? Politik itu baik!”

Maka, Pastor Benny mengajak umat Katolik untuk “berdiri sejajar dengan yang lain dalam membangun bangsa dan negara” dan mengkritik umat dan pastor yang setiap saat hanya sibuk mengurus paroki tapi tidak melihat ke luar. “Kita ini hanya berpikir paroki, hanya sibuk di dalam. Setiap kali yang dipikirkan rapat paroki, tetapi kita tidak berpikir ke luar. Harusnya sebagai umat Katolik, sebagai garam dan terang dunia, kita terjun ke dunia politik juga,” tutur imam itu.

Kelemahan lain umat Katolik adalah tidak saling mengalah dan tidak saling mendukung. “Misalnya dalam satu dapil, harusnya kita berikan kesempatan kepada calon kita yang secara kemampuan luar biasa untuk maju menjadi anggota legislatif. Tetapi yang terjadi apa? Kita malah royokan di dapil itu, sekitar 4-5 orang Katolik di situ. Hasilnya, kita kalah melulu,” jelas imam itu.

Pastor Benny juga melihat Gereja Katolik “tidak menyiapkan pendidikan dan kaderisasi politik” tetapi “hanya sibuk urusan di dalam, bertengkar di dalam, rapatnya paling ramai, jago kandang.”

Maka, Pastor Benny menghimbau peserta seminar untuk mulai belajar dari Romo Van Lith  yang meletakkan dasar Katolik di Jawa. Karena yakin bahwa pewartaan Gereja tidak akan berhasil kalau Gereja tidak menjadi Gereja pribumi, jelas imam itu, “Romo Van Lith awalnya tidak membangun gereja tetapi membangun manusia.”

Awalnya van Lith bukan membangun gereja tetapi sekolah dan kursus-kursus untuk ibu-ibu warga setempat. “Dari inilah muncul tokoh-tokoh Katolik yang nantinya menjadi  peletak dasar tokoh-tokoh Katolik yakni tokoh politik, tokoh berpengaruh, karena baru sadar investasi manusia lebih penting.”

Namun saat ini, sebaliknya, investasi tanah dan gedung lebih penting. “Dewan paroki datar-datar saja. Kalau urusan pembangunan gereja umat antusias, kalau urusan kaderisasi umat tidur karena merasa tidak penting.”

Akhirnya, imam itu mengamati, “kita seperti ini, bukan menyiapkan manusia yang mampu menjadi tanda sarana hadirnya Allah itu, karena keberhasilan diukur dari materi bukan kualitas manusianya. Bagaimana Gereja bisa hadir menjadi ajur ajer, menjadi terang dan garam dunia, itu tidak pernah dipikirkan.” (herman yos k)

Pastor Benny dan pembicara lain dalam seminar “Gereja Katolik dalam Pusaran Dunia (Politik): Quo Vadis?/Foto dari Panitia Penyelenggara

Bagaimana Kristus hadir dalam Sakramen Ekaristi?

Wed, 20/06/2018 - 23:17
Foto dari Catholic Say

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

281. Dengan cara bagaimana Gereja berpartisipasi dalam kurban Sakramen Ekaristi?

Dalam Sakramen Ekaristi, kurban Kristus juga menjadi kurban anggota-anggota Tubuh-Nya. Kehidupan kaum beriman, pujian mereka, doa-doa, pekerjaan, dipersatukan dengan kehidupan Kristus. Sejauh merupakan sebuah kurban, Sakramen Ekaristi juga dipersembahkan untuk semua umat beriman, yang hidup dan yang mati, untuk pengampunan dosa-dosa semua orang dan untuk- mendapatkan anugerah rohani dan jasmani dari Allah. Gereja di surga juga dipersatukan dengan persembahan Kristus ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1368-1372, 1414

282. Bagaimana Kristus hadir dalam Sakramen Ekaristi?

 

Yesus Kristus hadir dalam Sakramen Ekaristi dalam cara yang unik dan tak tertandingi. Dia hadir dalam cara yang sungguh-sungguh, nyata, dan substansial, dengan Tubuh dan Darah-Nya, dengan Jiwa dan Keilahian-Nya. Karena itu dalam Sakramen Ekaristi, Dia hadir secara sakramental, yaitu dalam rupa roti dan anggur ekaristis, Kristus penuh dan total, Allah dan Manusia.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1373-1375, 1413

Dokumen Kerja untuk Sinode Para Uskup tentang Orang Muda disajikan

Wed, 20/06/2018 - 22:49
Paus Fransiskus bersama peserta orang muda dalam Pertemuan Pra-Sinode di Roma, 19 Maret 2018. (ANSA)

‘Instrumentum Laboris’ atau dokumen kerja Sinode Para Uskup tentang Orang Muda yang dijadwalkan berlangsung di Vatikan 3-28 Oktober 2018, dirilis oleh Sekretaris Jenderal Sinode para Uskup Kardinal Lorenzo Baldisseri bersama dengan tiga pejabat lain pada konferensi pers di Vatikan, 19 Juni 2018.

Menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, dokumen setebal 67 halaman dengan tiga bagian utama, yaitu, mengakui, mengartikan dan memilih perihal panggilan hidup, itu adalah buah dari tahap persiapan panjang yang dimulai dengan pengumuman sinode oleh Paus Fransiskus, 6 Oktober 2016.

Dokumen kerja dari sinode yang bertema “Orang Muda, Iman dan Kebajikan Panggilan” itu merupakan hasil konsultasi dengan Sinode Gereja-Gereja Katolik Timur, konferensi para uskup seluruh dunia, berbagai dikasteri Vatikan dan Kuria Roma serta Persatuan International para Superior Jenderal.

Masukan penting berasal dari daftar pertanyaan online yang ditanggapi oleh lebih dari 100.000 orang muda. Masukan lain datang dari Seminar Internasional tentang Kondisi Orang Muda yang diadakan di Roma September 2017, dan Pertemuan Pra-Sinode Maret 2018 di Roma yang dihadiri 300 orang muda yang juga diikuti secara online oleh 15.000 orang muda lainnya.

Bagian pertama dari “Instrumentum Laboris” itu, yakni mengakui, didedikasikan untuk Gereja yang mendengarkan dan terbuka terhadap realitas dan sejumlah tantangan yang dihadapi orang muda dalam konteks saat ini. Banyak dari tantangan ini, seperti diskriminasi agama, rasisme, ketidakamanan kerja, kemiskinan, kecanduan narkoba, alkoholisme, bully, eksploitasi seksual, pornografi anak dan korupsi .., berasal dari “budaya sampah” dan penyalahgunaan teknologi digital baru yang tersebar luas.

Bagian kedua, yakni mengartikan, berhubungan dengan tema kebaikan panggilan seseorang dalam terang tradisi teologis dan biblis.

Bagian ketiga, yakni memilih, menunjukkan langkah-langkah pertobatan pastoral dan misionaris, dimulai dengan kabajikan laksana Gereja yang pergi keluar.

“Instrumentum Laboris” diakhiri dengan catatan tentang kesucian dengan mengatakan, “masa muda adalah waktu untuk hidup suci” dan orang-orang muda juga dipanggil untuk menjalani Sabda Bahagia dalam kehidupan sehari-hari. Hidup suci harus diusulkan sebagai cakrawala yang dapat diakses oleh semua orang muda.

“Faktanya,” tulis dokumen kerja Sinode itu, “semua orang kudus melewati masa muda mereka, maka baiklah kalau orang muda saat ini menunjukkan bagaimana orang-orang kudus dihidupi di masa muda mereka.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Baca juga:

http://penakatolik.com/2018/03/19/paus-fransiskus-pada-pertemuan-pra-sinode-orang-muda-harus-serius-diperhatikan/

http://penakatolik.com/2018/02/17/orang-muda-dari-berbagai-latar-belakang-akan-ikut-proses-sinode-para-uskup-xv/

http://penakatolik.com/2018/03/26/paus-fransiskus-dalam-minggu-palma-minta-omk-berteriak-sebelum-batu-batu-berteriak/

Suster ikut lomba semi-maraton dengan mengenakan jubah dan kerudung  

Wed, 20/06/2018 - 18:33
Suster Carmen Vilches berlari dalam lomba Semi Maraton Cúcuta/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi

Dengan mengenakan jubah dan kerudung, Suster Carmen Vilches, ikut dalam Lomba Semi-Maraton sepanjang 10 km di Cúcuta, di Kolombia, 3 Juni 2018. Biarawati asal Maracaibo, Venezuela, itu mengatakan kepada kantor berita Katolik berbahasa Spanyol,  ACI Prensa, bahwa komunitasnya baru tahu tentang lomba itu sehari sebelumnya, ketika “para novis ingin mengumpulkan dana di Cúcuta dengan penjualan kue. Saat itu mereka diperingatkan bahwa jalan-jalan akan akan ditutup pada hari berikutnya karena ada lomba maraton.”

Suster Carmen adalah anggota Kongregasi Suster-Suster Trovadoras de la Eucaristía atau Trovadoras Ekaristi (pemuja Ekaristi dengan lagu, puisi, dan tarian). Komunitasnya tinggal di kota Pamplona. Untuk mengikuti lomba itu mereka meminta izin kepada ibu superior. Mereka mendapat izin dengan syarat mereka tetap mengenakan kerudung dan jubah. Namun, ketika mereka mendaftar “hanya satu quota yang tertinggal.” Maka, satu-satunya yang dipilih adalah Suster Carmen, yang sudah menjadi anggota kongregasi itu selama tujuh tahun.

Suster Carmen menjelaskan bahwa alasan dia terpilih “karena saya sangat suka olahraga dan para suster sudah melihat bakat itu dalam diri saya, terutama daya tahan saya saat berlari, jogging atau bermain.”

Meskipun belum pernah ikut maraton sebelumnya, religius berusia 29 tahun itu berkomentar bahwa ketika sekolah dia bermain bola voli dan sepak bola.

Dalam komunitas, “kami olahraga dua atau tiga kali seminggu. Kami main sepak bola, basket, voli, tenis meja dan naik sepeda.” Selain itu, di Pamplona, “​​saya mendapat kesempatan keluar setiap hari dengan bersepeda untuk melakukan berbagai kegiatan.” Kegiatan fisik yang konstan itu membuat dia bisa berlari sepuluh kilometer dalam sirkuit maraton itu.

Ketika para biarawati itu mendaftarkan Suster Carmen, “mereka tahu bahwa mereka bisa ikut dengan mengenakan jubah, karena yang harus dikenakan adalah baju dan nomor dada atau bib.” Dengan demikian, mereka bisa “mempromosikan komunitas dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa status religius kami tidak menghalangi kami untuk ikut dalam acara semacam ini.”

Suster asal Venezuela itu mengatakan kepada ACI Prensa bahwa berlari maraton itu “merupakan pengalaman indah dan unik, karena dia menerima motivasi dari para suster, terutama dari Ibu Superior Angarita González.”

“Melihat orang-orang mendukung saya dan mengatakan ‘ayo suster’ memberi saya sukacita yang besar, karena mereka tidak menyebutkan Carmen tetapi kenyataan saya sebagai religius. Saya juga bersemangat meninggalkan bau Allah di jalan-jalan Cúcuta,” kata suster itu.

Dari 1500 peserta, “Saya tiba di posisi ke-15 dan panitia senang bahwa seorang religius ikut serta dengan jubahnya. Walikota Cúcuta memberi komunitas kami sumbangan ekonomi sebesar satu juta peso,” kata biarawati itu seraya menambahkan bahwa dia ingin berlari lagi dalam maraton mendatang.

Kongregasi Trovadoras Ekaristi adalah salah satu kongregasi termuda di Kolombia. Karya kerasulannya dimulai tahun 2006, dengan otorisasi dari Uskup Agung Nueva Pamplona, waktu itu, Mgr Gustavo Martínez Frías.

Bagian dari kerasulan mereka adalah menginjili dengan menggunakan seni teater, musik, tarian dan puisi. Tahun 2015, mereka menjadi perhatian orang-orang Kolombia karena mereka mulai bersepeda di jalanan sebagai cara untuk menjaga lingkungan. Mereka juga melakukan misi di berbagai bagian Kolombia yang terkena dampak perang gerilya dan kekerasan, khususnya penduduk di perbatasan. (Ditulis oleh Maria Ximena Rondon dari ACI Prensa dan diterjemahkan dengan perubahan oleh Paul C Pati untuk PEN@ Katolik)

Sister Carmen dengan dua postulan dari komunitasnya/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Para suster bermain sepakbola/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Sister Carmen dengan beberapa peserta Semi Maraton Cúcuta/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi saat penyerahan penghargaan/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Para suster bersepeda di jalan-jalan di Pamplona/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi

Dengan cara apa Sakramen Ekaristi merupakan kenangan kurban Kristus?

Tue, 19/06/2018 - 21:52
Kredit Foto: pexels

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

278. Siapa pelayan perayaan Sakramen Ekaristi?

Pemimpin perayaan Ekaristi adalah seorang Imam tertahbis (Uskup atau Pastor) yang ditahbiskan secara sah, yang bertindak dalam Pribadi Kristus Sang Kepala dan atas nama Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1348, 1411

279. Apa hal-hal pokok dan unsur-unsur yang perlu untuk merayakan Sakramen Ekaristi?

Unsur-unsur pokok adalah roti gandum dan anggur murni.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1412

280. Dengan cara apa Sakramen Ekaristi merupakan kenangan kurban Kristus?

Ekaristi merupakan kenangan dalam arti menghadirkan dan mengaktualkan kurban yang dipersembahkan oleh Kristus kepada Bapa di kayu salib, satu kali untuk selamanya demi umat manusia. Ciri khas kurban Ekaristi Kudus dinyatakan dalam kata-kata penetapannya: ”Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu” dan ”Cawan ini adalah perjanjian baru oleh Darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20). Kurban salib dan kurban Ekaristi adalah kurban yang satu dan sama. Imam dan kurban adalah sama, hanya cara persembahannya berbeda: dengan cara berdarah pada kurban salib, dengan cara yang tak berdarah pada Sakramen Ekaristi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1362-1367

Konferensi Waligereja Filipina memuji kembalinya visa misionaris Suster Fox

Tue, 19/06/2018 - 20:57
Suster Patricia Fox menyalakan lilin dalam doa untuk para imam Katolik yang terbunuh. Peristiwa ini berlangsung di luar Gereja Quiapo, Manila, 18 Juni 2018. RICHARD DE LEON

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) memuji keputusan Departemen Kehakiman yang membiarkan Suster Patricia Fox melanjutkan karya misionarisnya di negara itu. Ketua CBCP Uskup Agung Romulo Valles mengatakan bahwa keputusan itu “bijaksana, sangat pengertian dan sangat baik” sehingga biarawati Australia yang berusia 71 tahun itu dapat terus melayani penduduk miskin dan terpinggirkan.

“Kami sungguh menghargai keputusan otoritas pemerintah yang mempertahankan visa misionaris Suster Patricia Fox,” kata Mgr Valles. Secara khusus, lanjut prelatus itu, para uskup menghargai dan berterima kasih kepada pejabat Departemen Kehakiman (DOJ) yang memerintahkan “sampai Kantor Imigrasi mengeluarkan keputusan tentang kasus deportasinya atau sampai visanya berakhir, Suster Pat dapat terus melakukan pelayanannya sebagai misionaris di negeri ini,” kata uskup agung itu.

Menteri Kehakiman Menardo Guevarra, dalam resolusi yang dikeluarkan 18 Juni 2018, membatalkan perintah Kantor Imigrasi yang membatalkan visa misi Suster Fox atas dugaan “kegiatan politik.” Guevarra berpendapat, perintah kantor itu “tanpa dasar hukum.” Kantor itu, lanjutnya, tidak punya kuasa untuk merampas visa.

Namun, bagi biarawati itu, perjuangan berlanjut karena Kantor Imigrasi masih bisa menyuruh Suster Fox dideportasi jika kantor itu bisa memperkarakannya. “Saya akan terus (melakukan karya misionaris) karena itu adalah ungkapan misi saya,” kata suster itu. “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Beberapa jam setelah dikeluarkannya keputusan DOJ, biarawati itu kemarin muncul dalam Misa solidaritas di Gereja Quiapo yang dipersembahkan bagi para imam yang terbunuh. Saya di sini untuk mengungkapkan solidaritas, kesedihan dan kemarahan atas pembunuhan Pastor (Richmond) Nilo dan imam-imam lainnya,” kata Suster Fox. “Pembunuhan para imam harus dihentikan. Pembunuhan ini menurunkan martabat dan nilai kehidupan,” tegas suster itu.(pcp berdasarkan berita CBCPNews)

“Jangan percaya. Itu fake news. Paus baik-baik saja”

Tue, 19/06/2018 - 17:03
Paus merayakan Misa di Casa Santa Marta Selasa 19 Juni 2018 (Foto: Vatican Media)

Padre Marco Solo SVD

Selasa pagi, 19 Juni 2018, saya dikejutkan dengan tiga pesan WA: Paus sakit berat. Minta doa sampai 10 juta kali Salam Maria. Foto Paus Fransiskus yang jatuh saat Misa di Jasna Gora, Polandia tahun 2016 digandeng dengan berita sakitnya tadi. Ketika membaca target 10 juta kali Salam Maria, saya mulai ragu. Bagi yang sudah familiar dengan internet, ini bukan hal baru. Banyak orang menyebar petisi online dengan target angka tertentu, supaya bisa menekan atau memaksa pihak pengambil keputusan untuk mengambil aksi tertentu atau merubah tujuan. Ada lagi yang mengarang berita lalu meminta penerima untuk meneruskannya sampai kesekian jumlah sahabat lain, dan dengan itu akan menerima pahala yang tidak bisa disebutkan sebelumnya. Macam-macamlah.

Setelah membaca berita di atas, saya langsung tidak yakin. Tadi malam pukul 19.30 saya masih mondar-mandir di depan rumahnya. Tidak ada berita sakitnya. Selain tidak ada sumber jelas pada berita WA itu, aneh juga ada tuntutan untuk memenuhi angka 10 juta kali Salam Maria. Masa’ Tuhan bisa ditekan atau dipaksa untuk menyembuhkan Paus dengan 10 juta kali Salam Maria! Apakah Tuhan sendiri yang menentukan angka itu? Kalau ya, Tuhan mengatakannya kepada siapa? Apakah ada sumber tertulis? Bukankah Yesus pernah berkata, “Kalau Anda ingin berdoa, janganlah bertele-tele. Tuhan tahu apa isi hatimu.” Lalu kita diberikan doa Bapa Kami dalam rumusan yang pendek dan padat. Yesus juga tidak mengatakan supaya kita mengulang-ulang doa Bapa Kami hingga angka tertentu kalau kita mau supaya permohonan kita dikabulkan-Nya. Bukankah Tuhan itu Mahatahu, Mahapendengar, Mahabijaksana dan Mahasegala-galanya, yang hanya ingin mendengar doa yang muncul dari hati yang tulus ikhlas, penuh keimanan dan penyerahan diri yang total?

Saya start mobil ke Kantor di Vatikan. Cuaca indah pagi ini. Sekitar 20 derajat Celsius. Pukul 07.45 saya lewat di depan Domus Santa Marta, rumah kediaman Paus. Serdadu Swiss dan Tentara Vatikan berjaga seperti biasa di pintu rumah. Beberapa umat berpenampilan rapi keluar beriringan dari pintu rumah itu. Saya teringat lagi berita WA dari beberapa orang dari Indonesia dan satu dari Roma: Paus sakit berat, minta doa 10 juta kali Salam Maria. Saya berlari pelan sekitar 50 meter lalu berhenti, menanti sepasang suami istri bersama dua anak kecil yang sedang berjalan keluar dari pintu Rumah Paus.

Saya keluar dari mobil. Keluarga muda itu berjalan saling bergandengan tangan dan anak-anaknya meloncat-loncat tanda kegirangan. Saya menyalami mereka dalam bahasa Italia. Mereka menjawab juga dalam bahasa Italia tetapi saya langsung mengetahui kalau mereka pengguna bahasa Jerman. Ternyata benar. Mereka berasal dari Swiss. Saya bertanya, “Saya melihat Anda baru saja keluar dari Rumah Paus. Apakah Anda tinggal di sana? Mereka menggeleng kepala dan menjawab: Kami mendapat kehormatan untuk boleh Misa bersama Paus pagi ini dan baru saja selesai.” Saya bertanya lagi sekedar ingin konfirmasi: “Benar?” Mereka menjawab: “Ya, benar. Misa baru saja selesai dan kami mendapat berkat Paus. Oleh karena itu kami semua masih sangat bahagia saat ini.”

“Oh ya?” Saya menjawab sambil memuji mereka. Saya teruskan, “Tadi pagi beberapa WA masuk, katanya Paus sedang sakit berat dan kita diminta berdoa sampai 10 juta kali Salam Maria.” Mereka tertawa. “Ah, itu fake news,” kata mereka serempak. “Paus baik-baik saja. Kami tidak menemukan tanda-tanda kalau beliau sakit. Fake news!”

Pada saat yang sama WA dari Ajudan Paus dan seorang teman yang tinggal di rumah Paus masuk ke HP saya. Keduanya mengatakan hal yang sama. “Jangan percaya. Itu fake news. Paus baik-baik saja,” tulisnya.

Ketelitian dan sikap kritis dalam membaca dan mencernakan berita, disertai dengan cross-check sebelum menyebarkannya, adalah sebuah sikap yang bijaksana untuk tidak turut menyebarkan hoax atau fake news atau malah diri sendiri ikut tertipu. Paus tentu bukan mesin yang tidak akan sakit. Beliau juga manusia seperti kita dan bisa jatuh sakit. Tetapi menyebarkan berita palsu itu tidak etis. Mari kita tetap berdoa untuk beliau dengan cara yang wajar. Salam. ***

Bagaimana Sakramen Ekaristi itu sesuai dengan rencana penyelamatan ilahi?

Mon, 18/06/2018 - 23:55
commons.wikimedia.org

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

276. Bagaimana Sakramen Ekaristi itu sesuai dengan rencana penyelamatan ilahi?

Ekaristi sudah dipralambangkan dalam Perjanjian Lama terutama dalam Perjamuan Paskah yang dirayakan setiap tahun oleh orang Yahudi dengan roti tak beragi untuk mengenang kepergian mereka dari Mesir, yang terburu-buru tapi membebaskan. Yesus mengisahkan hal ini dalam pengajaran-Nya, dan Dia menetapkannya ketika merayakan Perjamuan Malam Terakhir dengan para Rasul-Nya dalam perjamuan Paskah. Gereja, yang setia kepada perintah Allahnya, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor 11:24), selalu merayakan Ekaristi khususnya pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1333-1344

277. Bagaimana melaksanakan perayaan Sakramen Ekaristi Kudus?

Ekaristi terbagi menjadi dua bagian besar yang membentuk satu ibadah. Liturgi Sabda berisi pewartaan dan mendengarkan Sabda Allah. Liturgi Ekaristi terdiri dari persembahan roti dan anggur, doa atau Anafora yang mencakup katakata Konsekrasi dan Komuni.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1345-1355, 1408

Vatikan dianugerahi hadiah internasional untuk video tentang migran dan pengungsi

Mon, 18/06/2018 - 23:16

www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2018-06/vatican-dicastery-integral-human-award-video-migrants-refugees.html#play

Sebuah kampanye video dari Vatikan tentang kaum migran dan pengungsi telah menjadi praktik terbaik yang diakui secara internasional dalam mempromosikan perubahan positif di dalam masyarakat melalui iklan sosial.

Festival Iklan Sosial Internasional atau Publifestival memberikan penghargaan “Strategi Terbaik dalam Aksi Sosial” untuk video yang dibuat oleh Seksi Migran dan Pengungsi dari Dikasteri Vatikan untuk Promosi Pembangunan Manusia Terpadu. Video itu diproduksi oleh agen bernama La Machi Communication for Good Causes.

Edisi 12 dari Publifestival itu, menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, berlangsung Jumat malam, 15 Juni 2018, di Teater Fernando Rojas dari Círculo de Bellas Artes di Madrid, Spanyol. Agen-agen dan pengiklan seluruh dunia ikut dalam teater itu.

Video sepanjang tiga setengah menit itu menampilkan Paus Fransiskus yang menjelaskan empat kata kerja aktif yang dia usulkan untuk menjadi dasar tindakan-tindakan para pemerintah, organisasi dan warga untuk menangani hal-hal yang problematik dalam mobilitas manusia:  Menyambut, Melindungi, Mempromosikan, dan Memadukan.

Video, yang tersedia dalam hampir 30 bahasa itu, pertama kali ditampilkan pada sesi penilaian untuk Global Compact PBB tentang tentang Kaum Migran (Puerto Vallarta, Meksiko), Desember 2017, dan dalam Dialog Komisaris Tinggi tentang Tantangan Perlindungan untuk Global Compact for Refugees di Palais des Nations (Jenewa). Video itu telah dipresentasikan juga di markas besar PBB di New York dan banyak tempat lain di seluruh dunia.

“Paus Fransiskus memberi tanggapan Kristen dan tentunya beradab terhadap kebutuhan mendesak orang-orang rentan yang saat berpindah tempat,”  kata Pastor Michael Czerny, Wakil Sekretaris Seksi Migran dan Pengungsi dari dikasteri itu dalam upacara penghargaan itu.

“Dalam gambar, musik, dan gerakan,” katanya, “video itu membuat permohonan mendesak Bapa Suci begitu nyata.” Juga dikatakan, “Kami senang membantu pesan, yang menyentuh dan sungguh memotivasi ini, menjangkau jutaan orang yang peduli di mana pun.”

Publifestival juga memberikan penghargaan kepada video-spot tentang Seruan Apostolik Paus Fransiskus, “Gaudete et Exsultate”, tentang panggilan untuk kekudusan di dunia saat ini. Spot sepanjang dua setengah menit itu diproduksi oleh Vatican Media dengan kolaborasi dari La Machi Agency.(pcp berdasarkan laporan Vatican News)

Suster Fox boleh tinggal di Filipina sekarang ini, pembatalan visanya tidak punya dasar hukum

Mon, 18/06/2018 - 19:12
Suster Patricia Fox berbicara dengan para wartawan dalam sebuah konferensi pers di Quezon City, April 26, 2018. ROY LAGARDE

Departemen Kehakiman (Department of Justice, DOJ) Filipina untuk sementara waktu menghentikan perintah meninggalkan negeri itu terhadap biarawati Australia Suster Patricia Fox. Dengan demikian suster itu bisa tinggal di negara itu untuk sekarang ini.

Dalam resolusi yang dikeluarkan hari Senin, 18 Juni 2018, Sekretaris DOJ Menardo Guevarra mengabulkan petisi Suster Fox untuk membatalkan perintah Kantor Imigrasi yang membatalkan visa misionaris dari biarawati berusia 71 tahun itu.

Guevarra berpendapat bahwa penyitaan visa misi dari Suster Fox oleh Kantor Imigrasi atas dugaan ikut serta dalam kegiatan politik partisan adalah “tanpa dasar hukum.”

Undang-undang imigrasi, jelasnya, memberikan kekuasaan yang luas kepada kantor itu dalam mengatur masuk dan tinggal orang asing di negara itu, namun perampasan visa tidak ada dalam kekuasaan itu. “Apa yang Kantor Imigrasi lakukan dalam kasus ini di luar penetapan undang-undang. Itulah mengapa (perampasan visa) itu harus dibatalkan,” kata Guevarra.

Kepala DOJ memerintahkan kepada Kantor Imigrasi “untuk memastikan apakah tuduhan dan bukti terhadap Fox menjadi kasus untuk pembatalan visa, dan apakah alasan-alasannya dinyatakan dalam undang-undang.”

Dikatakan, Kantor Imigrasi memperlakukan ini sebagai kasus penyitaan visa bukan kasus pembatalan visa. “Karena Kantor Imigrasi belum memutuskan apakah tindakan-tindakan yang diduga dilakukan Fox benar-benar membenarkan pembatalan visanya, maka prematur bagi kami di Departemen Kehakiman untuk memutuskan hal itu sekarang.”

Guevarra juga memerintahkan Kantor Imigrasi untuk mengadili kasus pembatalan visa bersama dengan kasus deportasi terhadap Suster Fox yang sudah ditunda oleh kantor itu. “Sampai dicapainya penyelesaian akhir dari proses pembatalan visa dan atau deportasi itu, atau sampai berakhirnya visa misionarisnya, yang mana lebih dulu, Suster Fox dapat terus melakukan tugasnya sebagai misionaris di Filipina,” lanjutnya.

Fox menyambut baik perintah DOJ dan dia menegaskan kembali kesediaan untuk tinggal dan melayani kaum miskin di negara itu. “Kami hanya harus menunggu dan melihat apa yang terjadi, apakah itu (keputusan DOJ tentang visa misionaris) mempengaruhi kasus deportasi, karena kasus itu terpisah dari masalah visa,” kata suster itu. (Roy Lagarde di CBCPNews)

Apa yang digambarkan oleh Sakramen Ekaristi dalam kehidupan Gereja?

Sun, 17/06/2018 - 23:28
Paus Fransiskus memegang monstran pada Pesta Tubuh Kristus di Basilika Santa Maria Maggiore. (CNS/Tony Gentile, Reuters)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

274. Apa yang digambarkan oleh Sakramen Ekaristi dalam kehidupan Gereja?

Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak semua kehidupan Kristen. Dalam Sakramen Ekaristi, karya pengudusan Allah untuk kita dan ibadah kita kepada-Nya mencapai puncaknya. Sakramen Ekaristi berisikan seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus, Paskah kita. Persatuan dengan kehidupan ilahi dan kesatuan dengan Umat Allah diungkapkan dan dilaksanakan dalam Sakramen Ekaristi. Melalui Sakramen Ekaristi, kita dipersatukan dengan liturgi surgawi dan dapat mencicipi kehidupan kekal.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1324-1327, 1407

275. Apa nama-nama dari Sakramen ini?

Kekayaan yang tak terperikan dari Sakramen ini diungkapkan dengan bermacam-macam nama yang menunjuk kepada berbagai macam segi. Nama yang paling umum adalah Sakramen Ekaristi, Ekaristi Kudus, Perjamuan Allah, Pemecahan Roti, Perayaan Ekaristi, Kenangan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan, Kurban Kudus, Liturgi Kudus dan Ilahi, Misteri Kudus, Sakramen Altar yang Paling Kudus, dan Komuni Kudus.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1328-1332

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

Sun, 17/06/2018 - 20:07

 

Ziarah untuk perdamaian di Nikaragua di Bulan Mei/LA PRENSA

Pemerintah dan oposisi Nikaragua menyetujui gencatan senjata sementara mengakhiri demonstrasi dan pertempuran jalanan yang telah menyebabkan hampir dua ratus orang tewas. Setelah upaya sebelumnya gagal, persetujuan gencatan senjata itu disetujui setelah Gereja bertindak sebagai penengah dalam negosiasi terakhir. Komisi Kebenaran sekarang akan dibentuk untuk menyelidiki krisis itu dan untuk selanjutnya mengajukan proposal agar kehidupan sehari-hari kembali normal. Bulan lalu Komisi Lintas Amerika untuk Hak Asasi Manusia mengunjungi Nikaragua. Laporannya, yang baru saja keluar …  mengkritik keras tanggapan kejam terhadap demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan Pasukan Keamanan Pemerintah. Laporan itu ditolak oleh Kementerian Luar Negeri dengan mengatakan sebagai sesuatu yang miring dan bias. Namun demikian, Komisi Lintas Amerika untuk Hak Asasi Manusia bersama faksi-faksi HAM Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang akan datang ke Nikaragua, sebagai bagian dari perjanjian terbaru ini. Krisis itu dimulai tanggal 19 April, ketika Pemerintahan Presiden Daniel Ortega meningkatkan pembayaran jaminan sosial tetapi sekaligus memangkas pembayaran pensiun. Protes terhadap hal itu sekarang berkembang menjadi tuntutan untuk pengunduran dirinya. (pcp berdasarkan laporan James Blears dari Vatican News)

Paus Fransiskus kepada Forum Keluarga-Keluarga: ‘Terima kasih atas usaha kalian!’

Sun, 17/06/2018 - 19:25
Paus Fransiskus bersama Forum Asosiasi Keluarga/Vatican Media

Ketika bertemu para anggota Forum Asosiasi Keluarga di Sala Clementina, Italia, 17 Juni 2018, Paus Fransiskus berterima kasih kepada mereka atas dukungan mereka untuk nilai-nilai keluarga. Asosiasi itu merayakan ulang tahun ke-25.

Mendengar keinginan yang disampaikan anggota asosiasi itu saat memperkenalkan kelompok itu, Paus Fransiskus mengesampingkan sambutan yang sudah disiapkan. Berikut ini adalah pernyataan yang Paus siapkan sebelumnya . Sambutan itu diberikan kepada perwakilan asosiasi itu untuk dibagikan. Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News lalu memberitakannya.

Paus membuka sambutannya dengan mengatakan, “Keluarga, yang kalian promosikan dalam berbagai cara, adalah pusat rencana Allah,” dan keluarga adalah “tempat lahirnya kehidupan.” Kasih Yesus bagi anak-anak, ajarannya tentang keluarga dan tidak bisa mencairnya perkawinan mengungkapkan tempat keluarga dalam rencana Allah. Keluarga itu “bagaikan jendela yang diarahkan pada misteri Allah sendiri yakni Cinta akan satu Allah tiga pribadi,” kata Paus.

Dunia yang dipandu oleh logika yang berpusat pada diri sendiri telah kehilangan rasa ikatan yang stabil, lanjut Paus. Dengan demikian, sulit memahami nilai keluarga. Lembaga-lembaga sipil seharusnya berupaya mendukung keluarga. Mereka yang telah belajar “menjalani hubungan otentik dalam keluarga” juga akan menjalankannya dalam konteks lain di masyarakat, kata Paus.

Paus Fransiskus lalu mendorong mereka yang hadir untuk bersaksi tentang sukacita cinta. “Tidak ada argumen persuasif selain sukacita,” kata Paus seraya mendorong mereka agar dengan sukacita “menunjukkan harta yang telah kami temukan dan keinginan untuk berbagi.”

Paus juga berterima kasih kepada kelompok itu seraya mengutip Statuta Asosiasi itu. “Terima kasih untuk komitmen yang telah kalian ambil,… melalui partisipasi aktif dan bertanggung jawab dari keluarga di bidang budaya, sosial, dan politik’ dan untuk ‘promosi kebijakan-kebijakan keluarga yang melindungi dan mempertahankan fungsi keluarga serta hak-haknya’.”

Mengakhiri sambutannya, Paus mengatakan bahwa masalah-masalah yang ditemukan keluarga dalam masyarakat harus dihadapi “dengan tegas dan murah hati.” Kepekaan mereka berkaitan dengan keluarga, lanjut Paus, hendaknya berakar “pada martabat pribadi manusia. Dengan demikian, kepekaan itu bisa diakui dan dibagikan oleh semua orang.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Kematian Tiga Imam

Sun, 17/06/2018 - 07:23

(refleksi atas kematian tiga imam di Filipina)

17 Juni 2018

Gereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Pastor Richmond Nilo dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan Misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan Maria, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Tanggal 4 Desember 2017, Pastor Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu, 29 April, Pastor Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan Misa. Kita mungkin bisa mendoakan juga Pastor Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Pastor Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Pastor Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan. Karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Caloocan Mgr Pablo David mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Pages