Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 11 min 12 sec ago

Minggu, 23 April 2017

16 hours 53 min ago

PEKAN PASKAH II (P)

Minggu Kerahiman Ilahi

Santo Adalbertus; Santo Georgius; Beata Helena dari Udin

Beata Maria Gabriella Saghedu; Egidius dari Assisi

Bacaan I: Kis. 2:42-47

Mazmur: 118:2-4.13-15.22–24; R:1

Bacaan II: 1Ptr. 1:3-9

Bacaan Injil: Yoh. 20:19-31

Setelah Yesus wafat di salib, ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Renungan

Menarik kita perhatikan di sini dalam penampakan kepada para murid, Yesus menunjukkan luka-lukanya (bdk. Yoh. 20:20), malah kepada Tomas, sesuai permintaannya, Yesus menyuruhnya menyentuh luka-luka tersebut (bdk. Yoh. 20:27) agar dia percaya. Luka-luka adalah bukti pengorbanan, bukti kasih. Seorang anak tukang cuci, terharu ketika meraba dan melihat tangan ibunya yang kasar, bahkan juga bekas-bekas luka karena kerja keras mencuci. Dia sadar bahwa hanya karena pengorbanan ibunya itu, dia bisa hidup dan sekolah. Tangan kasar dan bekas luka itu juga kesaksian bagi si anak, bahwa hidup ini penuh perjuangan, dan kita tak boleh menyerah. Luka-luka Yesus menunjukkan pengorbanan-Nya bagi keselamatan kita. Luka-luka itu juga menunjukkan solidaritasnya dengan suka duka hidup kita (bdk. Ibr. 4:15).

Lebih dari itu, luka-luka menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa: Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:8). Menjadi anak Allah dalam Yesus, kita tak boleh hanya bangga dan ikut mulia bersama-Nya. Kita juga diajak untuk ikut berjuang bagi keselamatan umat manusia dengan segala pengorbanan kita.

Ya Tuhan, demi luka-luka-Mu pulihkanlah iman kepercayaanku dan seluruh dunia. Amin.

Katedral Kristus Raja Sintang, Kalimantan Barat

17 hours 51 min ago

Katedral Kristus Raja Sintang, Kalimantan Barat

Sabtu 22 April 2017 

Sat, 22/04/2017 - 00:22

OKTAF PASKAH (P)

Santo Soter dan Kayus; Beata Maria Gabriella

Santo Teodoros; Santo Yosef Moscati

Bacaan I: Kis. 4:13-21

Mazmur: 118:1.14-15a.16a.18.19-21;R: 21a

Bacaan Injil: Mrk. 16:9-15

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia,

Renungan

Akhir Injil Markus ini menyatakan bahwa para murid tidak gampang percaya akan kebangkitan Yesus, walaupun Maria Magdalena dan dua murid dari Emaus yang mengalami kehadiran Yesus yang bangkit telah memberitahukan kepada mereka. Akhirnya, Yesus menampakkan diri kepada kesebelas rasul itu dan mengecam ketidakpercayaan mereka. Apakah kita sungguh percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus? Kepercayaan ini membawa konsekuensi apa dalam hidup kita? Selama kepercayaan itu hanya informatif belaka, sering tidak membawa perubahan apa-apa dalam diri kita. Kalau kita sungguh percaya maka kita akan tergerak untuk mewartakannya, karena inilah pesan Yesus: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah injil kepada segala makhluk!”

Banyak orang yang mengaku percaya pada Kristus, pengikut Kristus, namun sama sekali tidak merasa terdorong untuk mewartakan-Nya. Mereka masih hidup untuk dirinya sendiri, bersembunyi di balik kesibukannya, dan sama sekali tak mau diganggu untuk diajak menggereja. Mereka ini perlu merasakan kehadiran Tuhan Yesus sendiri. Banyak perubahan terjadi ketika orang sungguh merasakan kehadiran Tuhan Yesus yang hidup. Entah itu lewat kejadian luar biasa dalam hidupnya: sembuh dari sakit, luput dari kecelakaan, diutuhkan kembali keluarganya, dll, maupun lewat kesediaan mengikuti SEP, KEP, Meditasi Kristiani, Doa Taize, Lectio Divina, Adorasi. Menyadari kehadiran Tuhan yang hidup mengubah orientasi hidup mereka, mengubah kesadaran mereka akan apa yang terpenting dalam hidup ini, sehingga mereka giat menggereja dan melayani. Kita diundang untuk mengikuti berbagai kegiatan tersebut, tanpa menunggu Tuhan menyentuh kita lewat sakit atau kecelakaan.

Ya Tuhan, tidak mungkin bagiku untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah aku lihat dan aku dengar tentang Dikau. Namun, sering kali aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Mantapkanlah diriku untuk berani menjadi saksi-Mu. Amin.

Berdasarkan Ziarah Batin 2017

Paus Fransiskus mengumumkan kanonisasi anak-anak gembala dari Fatima

Fri, 21/04/2017 - 23:56

Paus Fransiskus mengumumkan tanggal 20 April 2017 bahwa dua anak gembala muda dari Fatima, Francisco dan Jacinta Marto akan dikanonisasikan atau digelari kudus dalam kunjungan pastoral yang akan datang ke kota Portugis itu tanggal 13 Mei 2017.

Dalam konsistori publik biasa di Vatikan, Paus mengumumkan kanonisasi sebanyak 35 orang, mayoritas adalah para martir Amerika Latin abad ke-16 dan 17. Mereka antara lain 30 imam dan umat awam Brasil yang dibunuh oleh tentara Belanda karena menolak masuk aliran Calvinisme saat kolonisasi di Brasil bagian timur laut tahun 1645. Tiga martir lainnya adalah anak laki-laki muda Meksiko, yang dididik oleh misionaris Fransiskan dan dibunuh karena mereka menolak mengikuti agama asli setempat.

Orang-orang kudus yang baru juga termasuk seorang imam Spanyol, yang mendirikan sebuah lembaga untuk anak-anak terlantar pada pergantian abad ke-20, serta seorang biarawan Capuchin dari Naples yang membela hak-hak kaum miskin di awal abad ke-18.

Namun yang pasti, nama-nama terkenal dalam daftar yang diumumkan hari Kamis itu sebagai santo dan santa adalah Francisco dan Jacinta Marto, anak-anak gembala warga Portugis, yang bersama sepupu mereka Lucia Santos melihat penampakan Bunda Maria di Fatima tepat seratus tahun yang lalu.

Tidak seperti Lusia, yang menjadi biarawati dan hidup sampai usia 98, Francisco dan Jacinta meninggal di masa kecil, baru berusia 9 dan 11 tahun, akibat wabah flu yang besar melanda Eropa pada tahun 1918. Tanggal 13 Mei tahun 2000, kedua gembala itu dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II saat melakukan kunjungan pastoral ke Portugal.

Sementara itu, tahap pertama proses beatifikasi Suster Lucia sudah berakhir di Portugal awal tahun ini dan sekarang sedang diperiksa di Kongregasi Penggelaran Kudus di Vatikan.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

Jumat, 21 April 2017 

Fri, 21/04/2017 - 12:33

OKTAF PASKAH (P)

Santo Anselmus; Santo Simon bar Sabbae;

Santo Konradus dari Parzham

Bacaan I: Kis. 4:1-12

Mazmur: 118:1-2.4.22-24.25-27a; R:22

Bacaan Injil: Yoh. 21:1-14

“Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.”

Renungan

Salah satu godaan orang beriman adalah kembali menjadi orang biasa; melakukan pekerjaan sehari-hari, menggunakan perhitungan manusiawi melulu, membuat perencanaan dan usaha-usaha menusiawi belaka. Itulah yang dilakukan para rasul setelah Yesus wafat. Hidup bersama Yesus membuat mereka melakukan hal-hal yang luar biasa: Mewartakan injil kebaikan Tuhan, menyembuhkan yang sakit, memberi pertolongan dan harapan kepada yang miskin dan berdosa. Semua itu sekejap “sudah berlalu” dengan berlalunya Yesus dari hidup mereka. Mereka kembali menjala ikan dipimpin oleh Petrus, dan bekerja semalaman, mereka tidak memperoleh apa-apa.

Bukankah kita juga seperti para rasul? Merasakan ketidakhadiran Yesus membuat kita lupa bahwa hidup kita sudah diubah oleh-Nya, dari penjala ikan (melulu mencari rezeki) menjadi penjala manusia (mewartakan kasih Tuhan). Kita lupa bahwa tanpa Tuhan tak akan menghasilkan apa-apa. Kita percaya. “Keselamatan tidak di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia.”

Ya Tuhan, Engkaulah sumber keselamatanku. Semoga aku tak akan pernah terpisah dari-Mu dalam segala situasi hiidupku. Hanya Engkaulah andalanku. Amin.

Berdasarkan Ziarah Batin 2017

 

Pejuang Kemanusiaan, Misionaris Paul Hendrikus Janssen CM, meninggal dunia

Thu, 20/04/2017 - 23:44

“Selamat jalan Romo Paul Hendrikus Janssen CM, semoga Engkau tenang bersama Tuhan YME. Romo adalah papa kami, pendiri, pembina, pendidik yang baik, dan contoh teladan yang pernah Tuhan berikan untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup kami, Yayasan Bhakti Luhur, ALMA dan Perkasih. Terima kasih atas segala kebaikan Romo, mohon berkati kami yang masih menjalani hidup di dunia ini. Bapa di surga terimalah Romo Janssen dalam pangkuan kasih-Mu.”

Tulisan itu terpampang di halaman website Yayasan Bhakti Luhur di Malang. Mereka berduka atas meninggalnya Pastor Janssen CM di Rumah Sakit RKZ Malang, 20 April 2017. Setelah disemayamkan di Kampus STP IPI, Jl. Seruni Nomor 6 Malang, 21 April,jenazah imam itu akan dipindahkan ke Kapel Paulo di Bhakti Luhur, Jalan Terusan Dieng Nomor 40, Malang. Di sana peti jenazah akan ditutup 22 April, pukul 10.00, setelah Misa Requiem, dan dimakamkan di samping Kapel Paulo.

Tanggal 5 Agustus 1959, Pastor Janssen CM mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun, yayasan sosial yang memberi perhatian khas kepada penyandang cacat yang miskin, terlantar dan dipinggirkan. Pusat Bhakti Luhur yang secara resmi berdiri di Madiun itu dipindahkan ke Malang tahun 1975. Misi dan Visi Yayasan Bhakti Luhur adalah pelayanan anak cacat, yang karena salah satu atau beberapa sebab seperti fisik, psikis, mental, sosio-ekonomi, menyebabkan keterbelakangan dalam perkembangan. Doktor Teologi dengan disertasinya “Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus” itu lahir di Venlo, Belanda, 29 Januari 1922. Sejak awal, putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot itu hanya bercita-cita menjadi misionaris, maka tahun 1940 dia masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan imam 13 Juli 1947 dengan moto “Kamu adalah alat pilihan untuk-Ku, untuk membawa nama-Ku ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi nama-Ku.”

Sebulan setelah tahbisan, adik dari almarhum Pastor Willem Paul Janssen itu, berlayar selama dua bulan ke Cina dan mengajar di seminari di Shanghai. Di sana imam itu tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin. Di sana imam itu melihat dari dekat penderitaan anak-anak yang sakit, cacat, terlantar, yang dibuang keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan yang yatim piatu karena perang.

Akibat perang, Internuntius memutuskan memindahkan para imam CM ke Manila dan para imam diosesan (praja) ke Italia. Akhir 1948, Pastor Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju Manila. Di sana kongregasi CM memiliki lima seminari, salah satunya seminari untuk mendidik para imam diosesan.

Kesibukan membina calon imam praja tidak menyurutkan niat Pastor Janssen untuk melanjutkan studi di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar doktor. Di UST, imam itu memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.

Tahun 1950, Pastor Janssen meninggalkan Filipina dan menuju Indonesia, karena tidak mungkin lagi ke Cina dan ditolak oleh provinsial untuk menuju Chili, Amerika Latin. Tanggal 1 Mei 1950, Pastor Janssen tiba di Surabaya dengan kekuatiran akan ditempatkan di bagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah menjadi misionaris.

“Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silahkan ke Kediri,” tegas Uskup Surabaya waktu itu. Tanggal 5 Mei 1951, imam itu berada di Kediri. Ketika bertugas di Pohsarang, dia senang karena itulah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda, dan dia mulai belajar bahasa Jawa.

Kebahagiaan dalam tugas semakin bertambah, ketika imam itu menemukan suasana penuh kelembutan, keramahan dan keterbukaan yang menjadi ciri khas orang Jawa, tulis “Buku Kenangan 50 Tahun Pesta Imamat Romo Paul Janssen.”

Tugas utama Pastor Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian. Bersama Pastor Wolters CM, imam itu membangun daerah Pohsarang dan Gereja Pohsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya adalah Pastor Janssen.

Dalam melakukan pelayanan pastoralnya di berbagai daerah, imam itu menemui banyak orang sakit TBC dan frambosia, serta banyak anak cacat, miskin dan terlantar. Maka, kadang-kadang imam itu bertindak sebagai “dokter” dengan obat-obatan yang diusahakannya.

WNI sejak 27 September 1989 itu mulai mendirikan Taman Kanak Kanak serta SD dan SMP, karena “orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya.” Selain merekrut tenaga guru di Jogjakarta, imam itu mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP).

Namun, aktivitasnya mendirikan dan mengelola atau menyelenggarakan lembaga pendidikan, tulis buku itu, tidak mengurangi perhatiannya kepada anak-anak cacat, terlantar dan miskin. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pernah memberi penghargaan Satya Lencana atas jasa imam Lazaris itu di bidang pelayanan kemanusiaan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Juli 1959, Pastor Janssen hijrah ke Madiun. Setahun kemudian, 27 September 1960, pada peringatan 300 tahun wafatnya pendiri kongregasi CM, Santo Vincensius A Paulo, Pastor Janssen mendirikan ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam), yang secara resmi diterima oleh Mgr AEJ Albert OCarm sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang tanggal 26 Agustus 1967.

Guru besar IKIP Malang itu juga menjadi pelindung dan bapa rohani ALMA Putra yang melaksanakan karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabilitation), serta mendirikan Institut Pembangunan Masyarakat, Sekolah Menengah Pekerja Sosial, Institut Pastoral Indonesia di Malang, dan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang.(paul c pati)

Kamis, 20 April 2017 

Thu, 20/04/2017 - 12:37

OKTAF PASKAH (P)

Santo Teodorus Trichinas; Santa Oda

Bacaan I: Kis. 3:11-26

Mazmur: 8:2a.5.6-7.8-9; R:2ab

Bacaan Injil: Luk. 24:35-48

Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”

Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Renungan

Injil Lukas menyampaikan pesan-pesan terakhir Yesus ketika Dia menampakkan diri kepada para murid-Nya sebelum Dia naik ke surga. Pesan pertama adalah “Damai sejahtera bagi kamu!” mengiringi kehadiran-Nya di tengah mereka, mereka malah terkejut dan takut karena menyangka melihat hantu, Yesus menegur mereka: “Aku sendirilah ini: rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Yesus meyakinkan bahwa Dia yang hadir dalam segala kemanusiaan-Nya  ketika hidup bersama mereka, Dia juga yang kini hadir di tengah mereka.

Pesan kedua, Yesus  adalah penggenapan seluruh Kitab Suci. Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci, dan puncak dari pesan itu adalah: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem.”

Yesus menyebut murid-Nya sebagai saksi dari semuanya itu. Saksi adalah mereka yang ikut melihat dan mengalami. Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari.

Ya Tuhan, berilah aku damai-Mu dan jadikanlah aku saksi pembawa kasih dan damai-Mu dalam hidupku setiap hari Amin.

 

Benediktus XVI bersyukur kepada Allah untuk Bavaria yang asli di hari ulang ke-90

Wed, 19/04/2017 - 23:45

Paus Emeritus Benediktus XVI merayakan ulang tahun ke-90 dengan teman-teman Jerman, keluarga, dan musik tradisional Bavaria serta bir pada hari Senin, 17 April 2017.

Dalam sambutan singkatnya kepada kerumunan orang termasuk kakak kandungnya Mgr Georg Ratzinger, dan perdana menteri Bavaria Horst Seehofer, Paus Emeritus Benediktus XVI berterima kasih kepada Tuhan untuk “90 tahun yang Allah yang baik telah berikan kepada saya.”

“Ada tantangan dan masa-masa sulit, tetapi Dia selalu membimbing saya dan menarik saya keluar [dari situasi-situasi itu], sehingga saya bisa meneruskan langkah saya. Dan saya sungguh bersyukur atas semua yang Dia berikan kepada saya seperti tanah air yang indah.”

Paus Emeritus terus menyanyikan pujian-pujian terhadap Bavaria yang asli.

“Bavaria sudah indah sejak penciptaannya, menara-menara loncengnya, rumah-rumah dengan balkon-balkon yang penuh bunga, dan kebaikan rakyatnya. Di Bavaria itu indah, karena orang mengenal Allah, tahu bahwa Dia telah menciptakan dunia, dan tahu bahwa baiklah kalau kita bekerja sama dengan Dia untuk membuatnya lebih indah.”

Untuk Gebirgsschützen (orang-orang gunung bersenjatakan senapan dari Bavaria) yang hadir di kebun tempat tinggalnya di Vatikan, Benediktus XI mengatakan, “Terima kasih banyak telah membawa Bavaria di sini, sehingga Bavaria terbuka untuk dunia, hidup, bahagia, yang bisa demikian karena akarnya tertanam dalam iman.”

Akhirnya, Paus Emeritus Benediktus XVI mengirim salam dan berkat-Nya untuk tanah kelahirannya.

“Saya ingin memberikan berkat Allah kepada kalian. Bawalah pulang salam dan terima kasih saya kepada kalian. Dengan kesenangan di hatiku, saya terus berjalan dan tinggal di daerah pedesaan kita. Dan saya berharap suasananya masih tetap sama. ‘Vergelt ‘s Gott’ (Tuhan memberkati).”

Karena hari ulang tahunnya sebenarnya jatuh pada hari Minggu Paskah, maka Benediktus XVI merayakannya pada hari berikutnya. (pcp berdasarkan tulisan Devin Sean Watkins dari Radio Vatikan)

Rabu, 19 April 2017 

Wed, 19/04/2017 - 09:41

OKTAF PASKAH (P)

Santo Leo IX, Paus; Santa Tarbula;

Santo Werner; Santa Agnes Montepulciano

Bacaan I: Kis. 3:1-10

Mazmur: 105:1-2.3-4.6-7.8-9; R: 3b

Bacaan Injil: Luk. 24:13-35

Pada hari Sabat sesudah Yesus dimakamkan, dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. …. Yesus berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu.

Renungan

Apakah harta kita yang paling berharga? Bagi para murid, harta itu bukan perak atau emas, namun iman akan Tuhan yang hidup dan menyelamatkan. Itulah yang membuat mereka dalam nama Yesus membangkitkan orang yang lumpuh. Para murid tidak begitu saja mencapai iman seperti itu, seperti dua murid dari Emaus yang pulang karena menganggap kisah mereka mengikuti Yesus sudah tamat, sudah masa lampau. Bagaimanapun mereka masih membicarakan-Nya, dan karena itu Yesus hadir menyertai mereka, walau semula mereka tidak mengenali-Nya – lagi-lagi karena pikiran mereka: tak mungkin Yesus yang sudah mati kini menyertai mereka. Namun karena mereka membicarakan Dia, Yesus ikut hadir dan berbicara dengan mereka.

Seperti para murid itu, sering kali bagi kita pun Yesus tidak sungguh hadir, kita puas dengan mengikuti ajaran-Nya, minimal dengan ke gereja setiap Minggu. Sedangkan dalam hidup sehari-hari kita tak pernah membicarakan Tuhan Yesus, kita juga tak pernah menyentuh Kitab suci yang kita biarkan menghiasi meja atau rak buku kita. Kita juga tak pernah ikut pertemuan lingkungan, karena merasa lelah sesudah kerja seharian, lebih baik santai menikmati hiburan dari TV. Lalu lewat mana Tuhan Yesus boleh hadir menemani kita? Iman kita akan Yesus yang hidup harus kita wujudkan dengan sering membicarakan Dia. Inilah pintu masuk Yesus untuk menemui kita, Dia hadir tatkala kita mau membicarakan Dia.

Ya Tuhan, tiada harta yang lebih berharga bagiku selain iman akan Dikau yang hidup dan menyelamatkan. Tambahkanlah imanku selalu. Amin.

Anggota KKMK KAJ diajak untuk tidak takut menjadi pengusaha sukses

Wed, 19/04/2017 - 09:25

Seorang pengusaha muda Katolik mengajak anggota Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk tidak takut menjadi pengusaha sukses saat ini dan untuk tidak hanya berpikir mengenai gaji dari pekerjaan yang ditekuni, tetapi berpikir untuk memberikan pekerjaan dan gaji bagi orang lain.

Reiner Bonafasius Rahardja berbicara di depan 60 anggota KKMK KAJ dari berbagai paroki yang mengikuti seminar tentang kewirausahaan di aula Nazareth dari Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat, 8 April 2017.

Reiner mengatakan, animo kewirausahaan sekarang ini mengalami peningkatan, “namun tidak sedikit orang menghadapi masalah, kemudian berhenti. Padahal, setiap masalah yang dihadapi adalah dinamika dalam proses menjadi seorang pengusaha.”

Pengusaha atau pebisnis,  tegas Reiner yang berasal dari Paroki Maria Kusuma Karmel Meruya, Jakarta Barat, perlu memiliki “semangat pantang menyerah, karena yang mungkin sangat gampang dalam teori terkadang praktiknya sangat sulit.”

Lulusan Australia yang kini menjadi pengusaha ekspor impor ini menyarankan kepada seluruh anggota KKMK agar bisa melakukan apapun untuk menggairahkan minat menjadi pengusaha. “Kesuksesan itu bisa diraih apabila apa yang dikerjakan itu selalu dilakukan dengan focus,” katanya.

Ditegaskan bahwa melakukan kegiatan bisnis bukan hanya butuh semangat, “tapi perlu aksi nyata dan keberanian menghadapi risiko apa pun … dan yang paling menentukan adalah diri kita sendiri bukan orang lain.”

Ketua KKMK KAJ Vivo Zeno menjelaskan bahwa kelompok kategorialnya yang telah berusia lebih dari tiga tahun itu sedang melaksanakan program kerja kewirausahaan dan profesionalisme.

Vivo mengharapkan agar kaum muda Katolik tidak hanya mencari zona nyaman, karena mereka berpeluang menjadi calon pengusaha sukses, maka “program KKMK ke depan akan memberikan pelatihan kepada pengurus KKMK dari 26 paroki yang hadir. (Konradus R Mangu)

Reiner Bonafasius Rahardja

Selasa, 18 April 2017 

Tue, 18/04/2017 - 11:41

OKTAF PASKAH (P)

Santo Eleutherius, Paus; Beata Maria dari Inkarnasi

Bacaan I: Kis. 2:36-41

Mazmur: 33:4-5.18-19.20.22; R: 5b

Bacaan Injil: Yoh. 20:11-18

Setelah makam Yesus kedapatan kosong, maka Maria Magdalena, berdiri dekat kubur dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka bahwa orang itu adalah penunggu taman. Maka ia berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepada-Nya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Renungan

Maria Magdalena kita kenal sebagai perempuan yang kedapatan berbuat zina. Karena dosanya ia seharusnya dirajam sampai mati. Namun, pertemuannya dengan Yesus membawanya pada keselamatan jiwa dan raganya. Yesus mempersilakan siapa pun untuk menghukum dia apabila mereka tidak berdosa. Rupanya perintah ini menjadi penyadaran kepada mereka bahwa sesama pendosa dilarang saling menghukum. Akhirnya, Maria Magdalena pun terluput dari lemparan batu.

Yesus sendiri tidak menghukum Maria Magdalena. Namun, Yesus tetap menunjukkan bahwa dia itu berdosa. Maka Yesus meminta dia untuk bertobat dan tidak berbuat dosa lagi mulai sekarang. Perintah Yesus ini sungguh-sungguh dihayati Maria Magdalena. Ia bertobat dan setia mengikuti Yesus kapan pun dan di mana pun Dia berada, bahkan ketika Yesus menapaki jalan salib sekalipun.

Kali ini Maria Magdalena seorang diri mengunjungi kubur Yesus. Kesetiaannya mengikuti Yesus ia tunjukkan bukan saja pada saat Yesus hidup, melainkan berlanjut hingga Yesus dimakamkan. Ternyata kesetiaan Maria Magdalena dalam mengikuti Yesus ini berbuah indah. Ia bisa bertemu Yesus yang bangkit di tempat yang tidak disangka-sangka. Yesus akan menampakkan diri kepada kita juga, apabila kita setia mengikuti-Nya.

Ya Tuhan, anugerahkanlah kekuatan kepadaku untuk selalu bertobat dan bersemangat mengikuti jejak-Mu agar aku bisa merasakan sukacita karena bertemu dengan Dikau. Amin.

 

Korupsi dan Pilkada DKI Jakarta inti Pesan Paskah 2017 dari Mgr Suharyo

Mon, 17/04/2017 - 22:57

 

Mgr Suharyo didampingi (kiri) Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan (kanan) Kepala Paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ

Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, korupsi dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Putaran Kedua DKI Jakarta menjadi inti pesan perayaan Paskah 2017, maka sesuai Tema APP KAJ 2017, “makin adil makin beradab,’  Uskup Agung Jakata itu menghimbau umatnya untuk melakukan upaya stop korupsi dan menyukseskan Pilkada DKI Jakarta.

Mgr Suharyo menyampaikan Pesan Paskah 2017 itu di lantai dua Gedung Pelayanan Pastoral KAJ, 16 April 2017. Uskup agung yang didampingi Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan Kepala Paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ itu berbicara di depan puluhan media cetak dan elektronik.

Seraya mengajak umatnya untuk “menyelesaikan pekerjaan dengan mengutamakan kejujuran” dan “menjauhkan praktik pelayanan yang menodai nilai-nilai keadaban publik,” Mgr Suharyo menyebut tiga pilar yang diharapkan bisa mencegah praktik korupsi, yakni negara, bisnis dan warga masyarakat (civil society).

Mgr Suharyo menyebut satu contoh yakni DPR, yang bertugas membuat undang-undang yang bisa mencegah korupsi. “Kenyataan, UU KPK yang mau direvisi, apakah ini menjadi suatu hal yang membawa kebaikan atau justru membuat korupsi semakin menjamur?” tanya uskup.

Uskup agung juga menyebu soal tax amnesty yang tidak serta merta dilakukan oleh pelaku ekonomi dan pengusaha dan ‘peselingkuhan’ antara lembaga negara serta pilar pelaku bisnis. “Kasus KTP elektronik (eKTP) menjadi contoh paling aktual. Sorotan kasus mega korupsi e KTP menjadi fakta bahwa antara pilar itu ditengarai ‘berselingkuh’ sehingga menyebabkan kerugian negara yang sangat memprihatinkan.”

Pilkada Putaran Kedua DKI Jakarta kini dihadapkan kepada isu radikalisme yang berpotensi mengacaukan keadaan, bahkan menggagalkan hasil Pilkada. Namun, enggan menjelaskan lebih detail tentang radikalisme, Mgr Suharyo hanya mengutip apa yang pernah dikatakan Ketua Umum PP Muhammadyah, Ketua NU, dan Imam Besar Istiqal Jakarta bahwa Islam tidak mengenal kekerasan, tapi memberikan kedamaian.

Dikatakan, “Islam tidak mengajarkan kekerasan, tapi Islam menjunjung tinggi kedamaian.” Maka, dalam kaitan dengan Pilkada DKI Jakarta, Mgr Suharyo berharap seluruh masyarakat harus menerima siapa pun yang terpilih dengan menganut sistem demokrasi, pemilihan suara terbanyak. “Semua pihak harus dengan lapang dada menerima hasil Pilkada DKI Jakarta itu.”

Mgr Suharyo mengajak umat Katolik untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan menyikapi keadaan. Dalam imbauan yang diberikan kepada seluruh awak media yang hadir, Uskup Agung Jakarta meminta umat Katolik yang memiliki hak memilih, menyiapkan waktu untuk menggunakan hak pilih tersebut.

“Umat Katolik mengedepankan kebhinekaan, selanjutnya menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila,”’ kata Mgr Suharyo dalam imbauan tertulis itu. (Konradus R Mangu)

 

 

 

 

 

Senin, 17 April 2017 

Mon, 17/04/2017 - 10:56

OKTAF PASKAH (P)

Santo Anisetus; Santa Klara Gambacorta OP;

Beato Baptista Spagnoli

Bacaan I: Kis. 2:14.22-32

Mazmur: 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; R: 1

Bacaan Injil: Mat. 28:8-15

Pada waktu itu, perempuan-perempuan pergi dari kubur, diliputi rasa takut dan sukacita yang besar. Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitahukan kepada para murid bahwa Yesus telah bangkit. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Renungan

Iman kita dibangun dari pengalaman kehadiran Allah dalam hidup kita. Pengalaman indah para murid bersama Yesus di Galilea menjadi dasar dari iman mereka akan kebangkitan Yesus. Karena itu, Yesus menyuruh mereka pergi ke Galilea dan di sanalah mereka akan melihat Yesus lagi.Yesus juga mau menegaskan bahwa Dia yang bangkit adalah juga Dia yang hidup dan berkarya bersama mereka di Galilea.

Yesus memang telah bangkit mulia, namun kita murid-murid-Nya masih di dunia, pada saatnya kita pun akan hidup mulia bersama Dia. Yesus tidak menghendaki kita untuk segera meninggalkan dunia ini, Ia bahkan menghendaki kita untuk masuk ke dalam dunia sebagai utusan-Nya, sebagaimana Dia juga telah diutus Bapa-Nya (bdk. Yoh. 17:15-19). Di satu pihak kita tentu tak bisa lepas dari urusan kita sehari-hari: mencari nafkah, merawat keluarga, belajar, bergaul dengan sesama. Namun, itu semua kita lihat kini dengan pandangan yang berbeda, yakni pandangan seorang utusan Tuhan yang peduli pada keselamatan umat manusia, dimana bukan lagi kehendak kita masing-masing yang utama, namun kehendak Allah.

Mungkin kita bertanya: Tetapi, bagaimana saya tahu kehendak dan cita-cita Tuhan bagi saya? Yesus menjawab: “Ikutilah Aku!” Tetapi, bagaimana aku mengikuti-Mu, Tuhan? “Pergilah ke Galilea, di sanalah kamu akan melihat Aku.” Ini bukan berarti kita harus berziarah atau hijrah ke Tanah Suci, tapi kita diajak membaca injil setiap hari. Dalam injil itulah kita menjumpai Yesus yang hidup, bergaul dan berkarya dalam hidup kita. Dituntun oleh Yesus, dituntun oleh Injil-Nya, kita pun dapat menghayati Galilea kita, saat-saat kita mengikuti Yesus dalam hidup sehari-hari.

Ya Tuhan, Engkau telah bangkit dari kematian untuk membuka jalan bagiku menuju kemuliaan. Semoga aku setia mengikuti jalan-Mu setiap hari. Amin.

Paus mengatakan dalam pesan “Untuk Kota dan Dunia,” Yesus benar-benar telah bangkit

Sun, 16/04/2017 - 21:34
Paus menyampaikan pesan tradisional Urbi et Orbi

Yesus telah bangkit! – Dia benar-benar telah bangkit, seperti dikatakan-Nya! Oleh kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah membebaskan kita dari perbudakan dosa dan kematian, dan di depan kita telah terbuka jalan menuju kehidupan kekal.

Itulah kata-kata Paus Fransiskus saat menyampaikan pesan tradisional Urbi et Orbi (untuk kota dan dunia) dari balkon tengah Basilika Santo Petrus pada hari Minggu Paskah, 16 April 2017, yang cerah.

Sebelumnya di Hari Jumat Agung malam, Paus Fransiskus memimpin Via Crucis (jalan salib) di Colosseum, Roma. Sesuai tradisi, Paus memberi sambutan kepada umat beriman yang berkumpul untuk mengikuti devosi itu. Sedangkan di malam Sabtu Suci, Paus memimpin Misa di Basilika Santo Petrus, yang dimulai dengan Upacara Cahaya.

Di setiap zaman, kata Paus Pesan menggarisbawahi Urbi et Orbi tahun ini, “Gembala yang Bangkit tanpa lelah mencari kita, saudara-saudarinya, seraya mengembara di padang pasir dunia ini. Dia pergi mencari semua orang hilang dalam kebingungan  kesepian dan marjinalisasi. Dia lebih mementingkan semua korban bentuk-bentuk perbudakan lama dan baru, … dan mementingkan anak-anak dan remaja yang dicabut kepolosan penuh riang mereka …”

Gembala yang Bangkit, lanjut Paus Fransiskus, berjalan di samping semua orang terpaksa meninggalkan tanah air mereka akibat konflik bersenjata, serangan teroris, kelaparan dan rejim yang menindas. Paus berdoa juga agar Tuhan yang Bangkit mau memberikan kepada para pemimpin negara keberanian yang mereka butuhkan untuk mencegah penyebaran konflik dan untuk menahan laju perdagangan senjata.

Dalam sambutannya Paus berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah terutama dalam perang yang melanda Suriah seraya mengingat serangan hari Sabtu yang menewaskan puluhan orang dekat kota Aleppo. “Itulah serangan terbaru yang keji terhadap pengungsi yang melarikan diri,” kata Paus.

Paus memandang juga Benua Afrika seraya berdoa agar Gembala yang Baik mau tetap dekat dengan rakyat Sudan Selatan, Sudan, Somalia dan Republik Demokratik Kongo, yang “sabar menanggung permusuhan terus-menerus, yang diperburuk oleh kelaparan berat yang mempengaruhi bagian-bagian tertentu Afrika.”

Saat mengenang Amerika Latin, Paus ikut berharap agar ada kemungkinan dibangunnya jembatan dialog dan dicarinya solusi yang layak dan damai atas perselisihan yang terjadi.

Mengalihkan perhatian ke Eropa, Bapa Suci berdoa agar Tuhan yang Bangkit memberikan harapan kepada mereka yang mengalami krisis dan kesulitan, terutama karena tingginya angka pengangguran, khususnya di kalangan anak muda. Paus juga memberi perhatian khusus kepada Ukraina seraya mengungkapkan harapan agar negara “yang masih dilanda konflik dan pertumpahan darah itu, akan kembali menikmati kerukunan  sosial.”

Akhirnya, Paus Fransiskus memohon kepada Yesus, yang mengalahkan kegelapan dosa dan kematian, agar “memberikan kedamaian di masa kini.”(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Via Crucis di Colosseum Paus Fransiskus memimpin Misa Vigili Paskah Paus Fransiskus saat memimpin Misa Paskah

Minggu, 16 April 2017

Sun, 16/04/2017 - 01:41

HARI RAYA PASKAH (P)

Santa Bernadetta Soubirous; Santo Paternus

Bacaan I: Kis. 10:34a.37-43

Mazmur: 118:1-2.16ab-17.22-23; R: 24

Bacaan II: Kol. 3:1-4 atau 1Kor. 5:6b–8

Bacaan Injil: Yoh. 20:1-9

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

Renungan

Pintu makam terbuka dan makam Yesus kosong, itulah pengalaman Paskah para murid. Ada fakta tambahan, yakni kain yang membungkus jenazah Yesus ada di sana, kain kafan ada di tanah, sedang kain peluh untuk kepala Yesus sudah tergulung agak di samping. Fakta ini disebutkan kiranya untuk menunjukkan bahwa jenazah Yesus tidak dicuri. Kalau dicuri mestinya dengan kain pembungkusnya, atau kalau ditinggal pasti berantakan. Posisi kain itu juga menunjukkan bahwa Yesus seperti hanya tidur dan kemudian bangkit sendiri, dan menata kain yang membungkusnya.

Apa maksud semua ini? Injil menutup dengan ringkas: “Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.” Kebangkitan Yesus memang didukung fakta, namun fakta yang tidak gamblang, fakta yang hanya dapat dimengerti kalau orang mengerti(dan percaya) akan apa yang disabdakan Kitab Suci. Kita juga hanya dapat sungguh mengimani kebangkitan Yesus jika kita mengerti dan percaya Kitab Suci.

Mengimani Yesus yang bangkit, berarti mengimani “kalau kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus…. Maka, carilah perkara yang di atas, … Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Itu tidak berarti bahwa kita mau hidup di awang-awang. Kita tetap masih hidup di bumi, tentu juga mengurus perkara di bumi, namun kita tak lagi terikat pada urusan itu secara mutlak. Sikap seperti ini membuat kita lebih bijaksana dan lebih membawa damai. Kita tetap mengurus perkara duniawi untuk dapat hidup di bumi ini, namun tidak lagi hidup hanya untuk mengurus perkara duniawi, karena “Kristuslah hidup kita! Apabila Ia menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Selamat Paskah. Kristus bangkit, alleluya!

Ya Tuhan, betapa aku berbangga memiliki Dikau sebagai Tuhan dan Juru Selamatku. Di dalam Dikau aku tahu apa yang terbaik untuk kehidupan yang kekal dan aku diikutsertakan di dalam kemuliaan kebangkitan-Mu. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

MENCARI TUHAN (yang bangkit), Oleh Pastor Yohanes Robini Marianto OP

Sun, 16/04/2017 - 01:27


RENUNGAN MALAM PASKAH

Pertanyaan sederhana: “Kamu (Gereja) khotbah Yesus bangkit. Itu baik kami percaya. Namun itu peristiwa 2000 tahun yang lalu. Kami bagaimana? Apakah kami bisa mengalami seperti para wanita dan Rasul? Kalau bisa; di mana kami bisa bertemu dengan-Nya?”

Bertemu dengan Yesus yang bangkit, menurut Matius di dalam Injil-Nya, mengandaikan pernah kenal Dia sebelumnya. Matius jelas mengingatkan para wanita ketika menemukan kubur yang kosong dikaitkan dengan apa yang telah Ia katakan sebelum Ia wafat. Matius ingin mengatakan dua hal kalau mau selalu bergaul dengan Yesus, maka kamu akan ingat kata-Nya. Kebangkitan tidak akan dialami dan dimengerti lepas dari pergaulan dengan Yesus sebelum kebangkitan-Nya. Itu berarti pengalaman dan pertemuan dengan Yesus yang bangkit bukan iman dadakan. Ia mengandaikan pergaulan, mendengarkan, dan akhirnya mengerti dan melihat atau bertemu. Maka kalau ingin bertemu dengan Yesus yang bangkit tidak bisa datang hanya misa Natal-Paskah (iman Napas) dan “datang dengan fisik ke jemaat; tetapi tidak dengan hati.” Mengalami kebangkitan mengandaikan pergaulan yang intens dengan Dia.

Lalu di manakah persisnya mengalami Yesus yang bangkit?

Paulus mempunyai jawaban yang mengejutkan kita. Dia mengatakan bahwa semua orang yang telah dibaptis sebenarnya di dalam kematian dan dibangkitkan di dalam kebangkitan-Nya. Paulus bukan hanya bilang kita bisa bertemu dengan Yesus yang bangkit di dalam pembaptisan; melainkan kita sudah masuk di dalam kebangkitan-Nya. Jadi melalui pembaptisan kita ini sekaligus bertemu dan di dalam Dia yang bangkit. Di sini persoalannya. Kita manusia mau melihat dengan indera mata supaya percaya; padahal kebangkitan itu bukan persoalan inderawi saja melainkan kita sudah di dalamnya. Ini artinya apa?

  1. Susah untuk melihat sesuatu di dalam diri kita; apalagi kita termasuk di dalamnya. “Bagaimana membuktikan kita ini hidup padahal kita ini belum mati? Kita ini de fakto hidup. Bagaimana bisa buktikan kalau orang tanya untuk membuktikan kita hidup? Lihat saja dan alami saja bahwa saya ini di depanmu dan masih hidup!” Maka membuktikan sesuatu di mana kita termasuk di dalamnya tidak bisa dilakukan. Lalu bisanya apa? Bisanya bercermin; atau orang lain menilai. Kamu yakin saya masih hidup karena saya masih di depan kamu. Kalau saya meninggal; maka saya tidak akan di depan kamu dan sudah terbaring di peti mati dan atau sudah masuk liang kubur. Kamu tidak akan melihat saya berdiri di depan kamu lagi. Lagian, saya masih bisa melakukan sesuatu tindakan yang khas untuk orang hidup: bicara langsung tatap muka, makan-minum, bicara tatap muka dll. Maka untuk mengenal dan bertemu Yesus yang bangkit itu adalah dari “Bagaimana orang melihat kita:” apakah mereka menemukan Yesus yang bangkit di dalam hidup kita. Apakah tindakan kita mencerminkan bahwa kita hidup di dalam Yesus yang bangkit? Apakah menjadi Kristen itu ada perbedaan dengan yang tidak Kristen karena kita yang dibaptis hidup di dalam terang kebangkitan Tuhan? Apakah baptisan membuat perubahan di dalam hidup kita? Kalau tidak; maka kebangkitan Tuhan tidak bisa kita alami dan kita lihat.
  1. Hal ini membawa kita kepada persoalan iman dan keyakinan: apakah pembaptisan menurut kita betul-betul kita yakini dan kita hidupi sebagai “hidup di dalam kebangkitan Tuhan?” Apakah menurut kita menjadi orang Kristen itu ada beda tidak? Kalau kata Paulus kita harus “mencari perkara di atas.” Kalau kita mencari perkara di bawah pasti tidak akan kena. Iman itu harus dihidupi dengan keyakinan; dan bukan sekedar nama. Para serdadu melihat kebangkitan Tuhan dan mengalami kebangkitan secara dahsyat. Namun mereka tetap tidak percaya! Lalu apa artinya melihat langsung kalau tidak ada arti dan efek?

Iman itu persoalan keyakinan dan dari keyakinan menghidupi maka akan kelihatan efeknya. Hidup orang Kristen yang benar dan “mencari perkara di atas,” itu pasti mewahyukan di balik hidupnya sebuah misteri; yaitu keyakinan dan perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit. Kalau Gereja sendiri tidak meyakini dan menghidupi terang kebangkitan maka pasti Gereja pun tidak akan mengalami kebangkitan Tuhan. Kebangkitan Tuhan itu bukan sebuah “benda” yang bisa dimasukkan ke laboratorium untuk diteliti obyektivitasnya dan setelah itu diumumkan hasilnya. Kebangkitan Tuhan itu sesuatu yang melingkupi kita dan kita di dalamnya berkat sakramen baptis. Maka kalau mau mengalaminya: hiduplah sesuai dengan baptisan yang kita terima; maka kita akan bertemu dengan Tuhan yang bangkit.

Untuk tahu kita masih hidup bukanlah dibuktikan di lab; melainkan dihidupi, dilakoni dan dijalankan selayaknya orang hidup dan kita dan orang lain akan betul-betul tahu kita masih hidup. Kalau kita masih hidup tetapi bertingkah layaknya orang mati; bagaimana bisa kita yakin kita masih hidup dan orang lain yakin kita masih ada? Mungkin secara fisik kita belum dikubur; tetapi orang lain akan mengatakan “Dia masih hidup; tetapi sebenarnya sudah tidak bernyawa lagi! Semangat hidupnya tidak ada!”

Kebangkitan Tuhan itu untuk dihidupi karena de fakto kita sudah di dalamnya. Maka itu bukan dibuktikan secara obyektif; tetapi diyakini dan dilakoni sehingga apa yang didalam memancar keluar dan kita bertemu dengan Dia yang bangkit. Selamat Paskah 2017.***

 

Sabtu, 15 April 2017

Sat, 15/04/2017 - 02:23

SABTU PASKAH (P)

Beato Pedro Gonzalez; Beato Damian de Veuster

Bacaan I: Kej. 1:1-2:2 (Kej. 1:1, 26-31a)

Mazmur: 104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c; R: 30

Bacaan II: Rm. 6:3-11

Bacaan Injil: Mat. 28:1-10

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.” Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Renungan

Banyak salah kaprah yang mengatakan bahwa malam ini kita belum mengenang kebangkitan Tuhan, kita berjaga(vigili) untuk menyongsong kebangkitan-Nya Minggu pagi. Ini tentu sama sekali tidak benar. Yesus wafat Jumat siang (hari pertama), Jumat malam sudah hari kedua, dan Ia bangkit pada hari ketiga yang dimulai setelah senja hari Sabtu,—perhitungan kalender Yahudi seperti kebanyakan kalender Timur dimulai dengan terbitnya bulan, bukan terbitnya matahari. Malam Paskah adalah perayaan terbesar iman kita. Tradisi Gereja berjaga semalam suntuk dengan penuh syukur dan sukacita mengenang karya penciptaan dan penyelamatan Tuhan dengan berbagai bacaan Kitab Suci. Kita bersukacita karena kebangkitan Kristus adalah Terang bagi dunia yang kita nyatakan dengan upacara cahaya lilin Paskah. Cahaya suci malam ini mengusir kedurhakaan, membersihkan orang berdosa, mengembalikan kesucian kepada yang jatuh, menghibur yang berdukacita. Karena itulah seturut tradisi malam Paskah juga menjadi saat pembaptisan dan pembaruan janji baptis yang didahului litani para kudus.

Paskah senantiasa mengajak kita untuk membuka lembaran baru bagi hidup kita. Walaupun selama ini seperti para murid yang tercerai berai kita meninggalkan Yesus, Dia tidak mendendam. Bahkan Dia menyebut kita murid-murid-Nya saudara-saudara-Ku, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Bila seperti para murid, kita selama ini belum sungguh mengerti iman kita akan Yesus, kebangkitan-Nya kiranya membuka mata iman kita. Kita diajak kembali pada hidup kita sehari-hari (Galilea kita), namun kini dalam kebersamaan dengan Dia yang hidup dan berkarya bersama kita.

Syukur kepada Allah atas karya agung-Nya pada malam kebangkitan ini. Cahaya kebangkitan Tuhan menyinari seluruh diriku hingga aku menjadi baru kembali. Amin.

KENAPA ORANG BAIK SELALU KENA? Oleh Pastor Yohanes Robini Marianto OP

Fri, 14/04/2017 - 10:40

[JUMAT AGUNG]

“Tuhan, mengapa saya yang rajin sembahyang dan tidak melakukan kejahatan, tetapi hidup saya tidak bahagia dan bahkan saya menderita? Penderitaan saya itu banyak Tuhan, keluarga saya tidak beres karena pasangan saya selingkuh, bisnis saya juga tidak maju-maju, dan terlebih orang tua saya kena sakit keras. Di mana Engkau Tuhan?”

Saya kira ini banyak pertanyaan ini kita dengar; dan jangan-jangan itu pertanyaan kita. Mengapa orang baik menderita? Mengapa orang yang jahat kelihatannya baik-baik saja. Apalagi mereka yang telah berbuat jahat menyakiti kita. Ternyata mereka semakin jahat dan sukses dan tidak kena batunya? Di mana keadilan Tuhan bagi orang yang mau berbuat benar dan baik serta beriman?

Ketika orang beriman, biasanya pandangan dia tentang Allah adalah serba kuat kuasa. Itu tidak salah. Ketika orang Israel melihat pernyataan Tuhan di Sinai; yang mereka alami adalah guntur-gemuruh dan kilat halilintar menyambar-nyambar. Mereka bahkan takut melihat wajah Allah dan mendekati-Nya. Firaun dengan segala bala tentaranya pun hancur dibuat-Nya. Ini gambaran normal dan umum tentang Tuhan. Ini tidak salah. Tuhan itu memang kuat kuasa-Nya. Siapakah yang bisa melawan Tuhan? Itulah sebabnya banyak yang melihat hidup iman itu kemenangan. Bersama Tuhan kita pasti menang! Bersama Tuhan kita pasti sukses! Maka kalau anda dekat Tuhan dan tidak sukses artinya anda belum beriman betul dengan Dia.

Pertanyaan ini juga digeluti mereka sejak Perjanjian Lama, paling tidak hari ini Yesaya dan Perjanjian Baru yaitu kitab Ibrani. Mereka adalah pihak yang mencoba mengerti “Mengapa Yesus, Putera Allah, yang Ilahi, mengalami nasib yang fatal pada hari ini. Mengapa Yesus disalibkan di antara penjahat dan dianggap sebagai bagian dari penjahat?” Sulit untuk dimengerti bahwa Allah yang kuat kuasa, tak tersentuh penderitaan karena Dia itu abadi; kini mengalami derita yang begitu hebat dan mengalami kematian. Betulkan ini Anak Allah? Ini sungguh wajah Allah yang lain! Itulah sebabnya bagi Paulus dikatakan salib itu sandungan (untuk percaya kepada keilahian Yesus) dan kebodohan. Mana mungkin Allah itu menderita dan mati? Allah itu kuat kuasa dan abadi; derita dan kematian bukan termasuk di dalam atribut-Nya.

Penulis Suci mau mengatakan setidaknya dua hal besar kepada kita:

  1. Di dunia ini, atau selama di dunia ini, misteri kejahatan dan dosa berkuasa dan mewahyukan dirinya paling jahat di dalam penyaliban Tuhan. Selama di dunia ini, tidak ada jaminan bagi orang yang berbuat baik akan selalu bahagia dan baik. Ini ilusi kesalehan bahwa selama berbuat baik kita pasti akan di dunia ini mendapat balasan yang baik. Malah Yesaya mengatakan bahwa orang yang baik bisa mendapatkan balasan yang jelek dari kejahatan. Kita kena masalah dan dijahati bukan karena kita kurang berbuat baik; melainkan kejahatan tidak suka dengan kebaikan. Kejahatan menampakkan diri di dalam kekerasan hati, kesombongan, penghakiman yang tidak adil, kekuasaan yang semena-mena dan bahkan alasan suci yang dibungkus kepentingan diri dan kelompok. Kalau begitu, untuk apa berbuat baik?
  1. Kitab Ibrani menjawabnya dengan gamlang. Kitab Ibrani mengatakan kenaikan bahkan Sang Kebaikan mau mengalami segala yang jahat karena Ia ingin menghancurkan kejahatan selama-lamanya. Bagaimana Ia menghancurkan kejahatan; padahal Ia sendiri dijahati sampai parah?
  1. Menjadi sama dengan kita. Ia mengalami supaya mengerti dan memahami! Ia mengalami penolakan, ratap tangis dll supaya Ia mengerti sampai tingkat dasar kelemahan dan situasi manusia. Ini Ia lakukan supaya Ia berbelas kasih dan bisa membantu kita. “Marilah menghadap tahta kemurahan Tuhan; karena kita akan mendapatkan pertolongan pada waktu-Nya!”
  1. Ia ingin menunjukkan jalan bahwa selama di dunia ini, misteri kejahatan hanya bisa dikalahkan bukan dengan cara tidak berbuat baik; melainkan menyerahkan diri kepada Allah. Ia pun seolah-olah tidak didengarkan Allah; “tetapi karena ketaatan-Nya Ia didengarkan.” Artinya: meski berbuat baik itu kelihatannya mendatangkan kejahatan atas diri kita namun kalau kita melakukan kebaikan di dalam ketaatan iman maka Allah akan memperhitungkannya untuk kita. Pembalasan kebaikan kita bukan pada dunia ini melainkan pada Allah. Dan itu hanya mungkin kalau kita menyerahkan di dalam ketaatan kepada Tuhan. Hukum Tuhan untuk berbuat baik tidak bisa digantikan. Ketaatan artinya selalu berbuat baik; apapun resikonya, tetapi Tuhan yang akan menentukan nasib kita pada akhirnya. Dunia yang akan berlalu dan jatuh di dalam misteri kejahatan sejak awal bukan jaminan kita; melainkan Allah.
  1. Ketaatan dan penyerahan diri kepada Tuhan harus dibarengi dengan memaafkan/mengampuni. Itu artinya memutuskan rantai kejahatan selamanya. Kejahatan bukan dibalas dengan kejahatan; melainkan dengan berserah diri dan dengan pengampunan. Memang kita kena. Namun minimal kejahatan terputus lingkaran setannya pada kita sehingga tidak bisa berkembang lagi. Maka dari itu kejahatan hancur dan tidak bisa merajai kita dan lingkungan di sekitar kita karena kita memutuskannya dengan pengampunan. Itulah arti doa Tuhan Yesus kepada Bapa: “Ampunilah mereka!” Itulah yang juga diajarkan Tuhan: “Cintailah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!” Memang kelihatannya konyol. Mereka yang diampuni pun tidak tahu mereka diampuni dan bahkan mereka merasa menang di atas angin. Jangan harap setelah kita mengampuni mereka akan bertobat. Tetapi itu bukan tanggung jawab kita sudah. Kalau mereka menolak kebaikan dan pengampunan maka merekalah yang memutuskan untuk tidak menerima kebaikan hati dan berubah. Mereka itu urusan Tuhan! Toh pada akhirnya mereka juga akan bertanggung jawab atas hidup mereka di depan Tuhan. Dan satu hal: Tuhan membalas mereka dengan cara yang tidak sangka-sangka; Ia yang dihukum mati pada hari ketiga bangkit! Kebangkitan itu artinya: yang baik meski dihukum dengan tidak adil didengarkan Tuhan. Tuhan menyediakan masa depan yang beda dan tidak disangka-sangka.

Banyak dari kita setelah hancur luluh berantakan dan berani menyerahkan kepada Tuhan tidak menyangka hidupnya berubah dari apa yang mereka pikirkan semula. Memang rencana mereka buyar. Tetapi rencana dahulu adalah buatan tangan manusia. Sekarang masa depan dan hidup adalah tangan Allah yang kerjakan. “Yerusalem baru itu turun dari surga dan bukan buatan manusia,” demikian kata kitab Wahyu. Masa depan yang setelah penindasan akan jauh beda dari apa yang kita rencanakan; tetapi pasti lebih baik karena itu tindakan Tuhan dan masa depan dari Tuhan. Hidup bukanlah linear atau perjalanan garis lurus. Ketika menyerahkan diri kepada Tuhan; hidup orang menjadi beda. Ia bukannya dihancurkan; tetapi disediakan masa depan yang baru dan beda buatan tangan Tuhan. Itulah kebangkitan!***

Paus Fransiskus ajak umat untuk saling membantu dan saling melayani

Fri, 14/04/2017 - 10:35
Paus Fransiskus membasuh kaki narapidana di pusat penahanan Paliano, selatan Roma – AP

Paus Fransiskus membasuh kaki narapidana di penjara Paliano, selatan Roma, dalam Misa Perjamuan Tuhan kita, Kamis Putih, 13 April 2017.

Paus melakukan perjalanan ke lembaga pemasyarakatan itu untuk kunjungan pribadi dan untuk perayaan Misa yang menandai Perjamuan Terakhir Yesus bersama dengan murid-murid-Nya pada hari sebelum Penyaliban-Nya.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan bahwa dalam homili spontan Paus Fransiskus mengajak mereka yang hadir, dan semua umat Kristen, untuk melayani orang lain.

“Para murid biasa berdebat tentang siapa yang paling penting di antara mereka,” kata Paus. “Dia yang merasa atau berpikir bahwa dia penting, harus menjadi yang kecil dan menjadi pelayan bagi orang lain. Itulah yang Tuhan, yang mencintai kita apa adanya, lakukan setiap hari,” lanjut Paus.

Di penjara itu tinggal sekitar 70 narapidana, dan yang kakinya dibasuh oleh Paus terdiri dari 10 orang Italia, 1 Argentina dan 1 Albania. Dari 12 orang itu, 3 orang adalah perempuan dan 1 orang beragama Islam yang akan menerima Sakramen Baptisan bulan Juni mendatang.

Pusat penahanan Paliano adalah satu-satunya lembaga pemasyarakatan di Italia yang dikhususkan untuk mantan anggota geng-geng kriminal yang berkolaborasi dengan polisi dan peradilan.

Pelatihan kejuruan adalah bagian program di penjara itu. Kursus-kursus yang diberikan, antara lain,  membuat pot, membuat roti, pekerjaan tukang kayu, pertanian dan pembiakan lebah. Itu sebabnya hadiah dari para narapidana itu untuk Paus Fransiskus adalah beberapa keranjang produk segar pertanian, telur, madu dan salib yang terbuat dari kayu.

Paus Fransiskus memulai tradisi kunjungan ke penjara untuk merayakan Misa Perjamuan tradisional di bulan Maret 2013, hanya beberapa hari setelah dia dilantik sebagai paus. Pada kesempatan itu Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke pusat penahanan remaja Casal del Marmo di Roma. Di sana, untuk kali pertama, Paus membasuh kaki narapidana yang perempuan dan Muslim.

Tahun berikutnya, Paus Fransiskus merayakan Misa Perjamuan Terakhir di pusat penyandang cacat Don Gnocchi, Roma. Di sana Paus membasuh juga kaki para penyandang cacat termasuk perempuan, guna mengenang sikap kerendahan hati dan pelayanan Yesus.

Tahun 2015, Paus Fransiskus mengunjungi penjara Rebibbia di Roma untuk perayaan Kamis Putih. Sementara tahun lalu, Paus Fransiskus membasuh kaki pengungsi, termasuk pria dan wanita Muslim, Hindu dan Koptik Ortodoks di pusat pencari suaka di Castelnuovo di Porto, sebelah utara Roma.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus Fransiskus membasuh kaki narapidana di pusat penahanan Paliano, selatan Roma – AP

Jumat, 14 April 2017

Fri, 14/04/2017 - 01:30

JUMAT AGUNG (M)

Santo Tiburtius, Valerianus dan Maximus

Bacaan I: Yes. 52:13-53:12

Mazmur: 31:2.6.12-13.15-16.17.25; R: Luk. 23:46

Bacaan II: Ibr. 4:14-16; 5:7-9

Bacaan Injil: Yoh. 18: 1-19:42

Seusai perjamuan Paskah, keluarlah Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang Sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: ”Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: ”Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: ”Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: ”Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Jawab Yesus: ”Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: ”Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa.” Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus: ”Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab….)

Renungan

Barang siapa menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk berperang. Begitulah bunyi pepatah bahasa Latin yang terasa kontradiktif, namun dalam kenyataan sering kali benar. Itulah yang diajarkan oleh dunia. Jika kita menginginkan perdamaian, kita harus berkuasa dan kuat, sehingga tak ada yang berani melawan kita. Namun, ajaran Tuhan bukan ajaran dunia. Raja Damai yang diwartakan di sini bukanlah raja yang perkasa; inilah wajah Putra Manusia yang demi ketaatan kepada Allah dan kesetiaan kepada manusia rela menderita sengsara: Rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya tidak seperti anak manusia lagi, demikianlah Ia akan membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia.

Wajah Yesus yang disiksa adalah wajah orang-orang yang menderita karena dosa-dosa kita: “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, … Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Sungguh permenungan kita akan sengsara Tuhan tak boleh berhenti pada rasa sedih atau bela rasa, namun terutama pada penyesalan dan pertobatan, pada tekat untuk berdamai dengan Tuhan dan sesama.

Ya Tuhan, aku tak kuasa menutup perasaan sedih dan pedih memandang wajah-Mu yang terluka dan berlumur darah hingga meregang nyawa di kayu salib.

Ampunilah aku orang berdosa ini. Aku berjanji akan merawat wajah-Mu dengan menyembuhkan luka-luka sesamaku. Amin.

Pages