Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 2 hours 42 min ago

Senin, 8 Mei 2017

Mon, 08/05/2017 - 12:38

PEKAN PASKAH IV (P)

Peringatan Wajib Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat

Santo Bonifasius IV; Santo Benediktus II; Santo Aloysius R.

Bacaan I: Kis. 11:1-18

Mazmur: 42:2-3;43:3.4; R: 42:3a

Bacaan Injil: Yoh. 10:11-18

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Renungan

Kasih karunia Allah terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang, status  sosial asal usul, suku ras, dan sebagainya. Kasih Allah itu senantiasa mengalir dan  meresapi hidup setiap insan yang dengan tulus dan setia mencari Allah. Hidup dalam kasih karunia Allah berarti membiarkan seluruh diri dituntun oleh kuasa Roh Kudus yang memerdekakan. Itulah pesan pokok yang terungkap dari peristiwa pembaptisan Korentus oleh Petrus dalam sabda Tuhan hari ini. Kita melihat bahwa peristiwa pembaptisan sang perwira yang salah itu bukan semata-mata sebuah karya yang digerakkan oleh motivasi lahiriah, melainkan terutama dituntun dan digerakkan oleh Roh Kudus.Ia seperti domba dari kandang lain yang dibawa ke dalam kepenuhan hidup bersama Kristus. Yesus bersabda: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala“ (Yoh.10:16).

Seperti Petrus, tugas kita sebagai orang beriman adalah menuntun sesama pada pengenalan yang benar dan utuh tentang Allah. Untuk itu , pertama-tama kita harus terbuka pada karya Roh Kudus dan membiarkan diri diresapi oleh kuasa-Nya. Agar kita dapat bertindak dengan jujur dan benar seturut kehendak Allah. Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran kita dengan cahaya ilahi kepada pemahaman yang sejati tentang Allah. Ia pun akan memampukan kita untuk menghadirkan rahmat dan sukacita kepada siapa pun yang membutuhkannya: baik atau pun tidak baik waktunya,menyenangkan atau pun tidak menyenangkan situasinya.

Ya Tuhan, kuatkanlah aku dengan daya ilahi-Mu dan penuhilah hidupku dengan kuasa Roh Kudus-Mu agar aku sanggup mewartakan Dikau dalam hidup, sehingga semakin banyak orang mengenal dan percaya kepada-Mu. Amin.

Berdasarkan Renungan Ziarah Batin

Paus sambut anggota-anggota baru Garda Swiss dan minta mereka kuat dalam iman

Mon, 08/05/2017 - 03:45

Setiap tahun tanggal 6 Mei, anggota-anggota baru Garda Swiss Kepausan bersumpah dalam upacara yang mengagumkan dan kuno di Halaman San Damaso di Istana Apostolik Vatikan. Empat puluh Garda Swiss yang baru itu merupakan kelompok pertama yang menjalani model pelatihan baru, yang mencakup sebulan pendidikan di sekolah Garda Swiss yang terkenal di Isone, wilayah kanton Ticino, sebelum memulai tugas mereka di Vatikan.

Menjelang upacara pengucapan sumpah, para anggota baru, bersama keluarga dan teman-teman mereka, serta anggota-anggota Garda Swiss lain, diterima oleh Paus Fransiskus dalam audiensi di Sala Clementina.

Kehadiran banyak pengunjung dari Swiss ini, kata Paus, “mewujudkan kasih sayang umat Katolik Swiss kepada Takhta Suci, pendidikan Kristen, dan teladan yang baik yang orang tua gunakan untuk menularkan iman, nilai yang berkaitan dengan umat Kristen, dan pentingnya pelayanan gerejani kepada anak-anak mereka.”

Paus Fransiskus mengingat bahwa upacara itu berlangsung di hari peringatan Sack of Rome (Penjarahan Kota Roma), saat 147 Garda Swiss mengorbankan diri untuk melindungi Paus. Saat ini, kata Paus, Garda Swiss “tidak meminta kalian melakukan persembahan kehidupan fisik yang heroik ini, tetapi pengorbanan lain yang tidak kalah sulitnya: melayani, yakni, kekuatan iman.”

Kekuatan iman, lanjut Paus, “adalah penghalang efektif untuk melawan berbagai kekuatan di dunia ini, dan terutama ‘pangeran dunia ini,’ ‘bapa kebohongan,’ yang berjalan laksana singa, mencari seseorang untuk dilahap.’”

Paus menekankan pentingnya pertumbuhan rohani para Garda Baru selama bertugas di Roma. Paus mengajak mereka melewatkan waktu di Kota Abadi “dengan persaudaraan tulus, saling mendukung dalam menjalani kehidupan Kristen yang patut diteladani yakni yang dimotivasi dan didukung oleh iman kalian.”

Paus mendorong mereka untuk menganggap diri sebagai “bagian aktif dari umat Allah yang hebat, murid misionaris yang berkomitmen untuk memberi kesaksian tentang Injil” dalam pekerjaan mereka dan waktu luang mereka di Roma.

Roma, kata Paus, memberikan banyak peluang untuk pertumbuhan spiritual dan budaya. Paus mendorong mereka baru untuk memanfaatkan peluang-peluang itu. Paus berbicara tentang teladan Santo Philip Neri, yang hendak membantu anak-anak yang dia sayangi untuk menemukan “bekas-bekas umat Kristen kuno.” Meluangkan waktu “mengikuti jejak banyak orang kudus yang tinggal di Kota Roma,” kata Paus Fransiskus, “akan membuat waktumu di Roma lebih tak terlupakan dan kaya akan buahnya.” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Misa awali Musim Lefa agar orang Lamalera percaya Allah siapkan ikan di laut untuk hidup

Mon, 08/05/2017 - 02:08

Dulu, ketika agama belum dikenal di Lamalera, nenek moyang sangat percaya bahwa Allah sudah menyediakan ikan di laut untuk hidup. Sayangnya, saat ini orang Lamalera lebih percaya pada mesin. Akibatnya, tidak ada lagi bagian ikan yang khusus diberikan untuk orang susah dan anak yatim piatu, karena bagian tersebut diberikan untuk mesin. Ola Nue (melaut) sudah diganti dengan mesin nuang (musim). Anak-anak muda saat ini tidak lagi dayung, maunya ikut di perahu dengan mesin.

Kekecewaan itu diungkapkan oleh Pastor Pieter Dile Bataona SVD dalam Misa Pembukaan Musim Lefa (musim bekerja di laut bagi para nelayan) tahun ini. Bahasa Lamalera mendominasi keseluruhan upacara Misa yang dihadiri ratusan orang. Kepala Paroki Lamalera Pastor Leo Lewokrore Pr dan Pastor Bernard Kedang Pr menjadi konselebran Misa yang dirayakan di Pantai Lamalera, 1 Mei 2017.

Melihat keadaan umat Lamalera saat ini dan mengingat bahwa Allah menginginkan agar semua orang percaya kepada putera-Nya, Pastor Pieter Dile Bataona bertanya, “Apakah kita pasrah saja?” Padahal, lanjut imam itu, mereka sudah dididik untuk melestarikan budaya.

“Apakah iman leluhur yang kita anut? Percaya kepada Allah (Alepte), atau iman yang dibangun berdasarkan sistem modernisasi yang sedang menghempas dan menyingkirkan kita menjadi orang asing di warisan budaya leluhur ini?” tanya imam itu seraya menegaskan bahwa terasing dari budaya akan membuat mereka gampang tertangkap jerat-jerat hukum.

Lalu, “Apa yang harus kita lakukan? Percaya seperti nenek moyang kita atau ikut irama modernisasi, motornisasi yang membuat kita semakin jauh dari semangat iman leluhur kita,” imam itu masih bertanya, seraya menjelaskan bahwa motornisasi justru membuat mereka semakin miskin dalam setiap sendi kehidupan.

Semakin miskin, jelas imam itu, “karena kita melepas anak suku, mereka tidak dapat bagian, karena mereka tidak punya tenaga untuk ikut melaut. Kita semakin miskin karena ikan-ikan harus diuangkan untuk beli minyak solar mesin.”

Dalam pernyataan tobat, terdengar lagu “Ampuni Ya Tuhan” mengiringi pernyataan tobat dari tuan tanah, Tena Alep (pemilik perahu), Ume Alep (pengatur pembagian ikan), Pnete Alep (Perempuan Lamalera). Mereka menyampaikan seluruh isi hati mereka dan apa yang mereka lakukan selama musim lefa yang berlalu. Di hadapan altar Kapel Santo Petrus Paulus Lamalera, mereka berbicara dalam bahasa Lamalera, memohon pengampunan Tuhan atas semua kesalahan mereka.

Misa diakhiri dengan pemberkatan seluruh perahu dan pelepasan Praso Sapang sebagai tanda mengawali Musim Lefa tahun ini.

Sehari sebelumnya, di tempat yang sama, diadakan Misa Arwah untuk nelayan yang meninggal di laut. Sebanyak 39 orang yang meninggal sejak tahun 1917 dibacakan. Sebelum Misa diakhiri, dilakukan upacara arung lilin dan bunga di Laut Lamalera. Misa itu dipimpin oleh Pastor Leo Lewokrore Pr. (Eman Bataona)

 

Minggu, 7 Mei 2017

Sat, 06/05/2017 - 23:35

Akses

Minggu Paskah IV

Bacaan Injil:  Yohanes 10: 1-10

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”

Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?

Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyayanginya, dan memperjuangkannya.

Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut.

Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB, lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.

Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai koordinator lapangan di sebuah perusahaan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek pekerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut.

Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk masuk dan menyia-nyiakan koneksi ini.

Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!

Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Empat imam dan tiga bruder MSC yang mati sebagai martir digelari beato

Sat, 06/05/2017 - 01:56

Hari ini, Sabtu, 6 Mei 2017, empat imam dan tiga bruder MSC Spanyol digelari Beato dalam upacara yang dipimpin oleh Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Kardinal Angelo Amato, di Keuskupan Girona, Spanyol. Tujuh religius yang bersama-sama ditembak mati tanggal 29 September 1936 di Seriñá, Spanyol, itu masih berusia antara 20-28 tahun.

Ketujuh religius MSC itu adalah Pastor Antonio Arribas Hortigüela, Pastor Abundio Martínez Rodríguez, Pastor José Oriol Massó, Pastor José Vergara Echeverría, Bruder Gumersindo Gómez Rodríguez, Bruder Jésus Moreno Ruiz, Bruder José del Almo del Almo.

“Kami sudah menghimbau para konfrater, khususnya komunitas-komunitas MSC, untuk menjadikan hari ini, suatu peristiwa penting dengan, misalnya, mengadakan Misa Syukur Khusus,” kata Sekretaris Provinsialat MSC Indonesia Pastor Johanis Mangkey MSC kepada PEN@ Katolik.

Sebuah tulisan dari Salvador Murillo MSC yang diterjemahkan oleh Pastor Mangkey menceritakan bahwa anggota-anggota pertama Tarekat MSC yang dinyatakan sebagai beato-beato itu hidup dan bekerja di Pequeña Obra (seminari menengah) Canet de Mar, Barcelona, untuk mempersiapkan sekitar 65 anak muda untuk hidup membiara dan imamat. Mereka sungguh sadar akan saat-saat sangat kritis yang sementara dialami Spanyol. Mereka pun mempersiapkan komunitas itu menghadapi apa yang mungkin akan terjadi, termasuk kemartiran.

Mereka menyaksikan hari-hari penganiayaan sesudah 18 Juli 1936, dan 21 Juli, gereja Paroki Canet de Mar dibakar. Di hari yang sama, sekitar pukul 16.00, sekelompok orang bersenjata mengetuk dengan kasar pintu rumah dan menuntut agar seluruh komunitas seminari meninggalkan kompleks itu atas perintah Komite Rakyat. Mereka dibawa ke taman tidak jauh dari situ, di samping Kapel Belaskasih. Taman ini menjadi kamp konsentrasi. Selama dua pekan para biarawan dan siswa-siswa seminari menengah ditempatkan di situ dengan pengawasan ketat.

Tanggal 3 Agustus, sekitar pukul 17.00, seorang anggota Komite datang dan menanyakan keberadaan direktur seminari. “Kalian semua segera menghadapi bahaya. Komite telah memutuskan untuk menembak kalian malam ini juga. Pergilah dan jangan biarkan saya terlibat. Jangan mengkhawatirkan anak-anak. Tidak ada yang akan menimpa mereka. Dan kami memandang imam tua sama seperti anak-anak itu,” katanya.

Sangat disayangkan bahwa para religius ini harus meninggalkan para seminaris. Mereka membentuk dua kelompok untuk menyelamatkan diri: satu kelompok terdiri dari empat orang dan kelompok lain tujuh orang yakni empat imam dan bruder. Kelompok kedua ini yang dipilih memberikan kemuliaan kepada Allah dengan kemartiran mereka.

Tanggal 3 Agustus, guna menghindar dari yang ingin membunuh mereka malam itu, mereka mulai melakukan perjalanan panjang selama dua bulan menuju perbatasan Perancis. Mereka melewati tempat-tempat yang mereka tidak kenal, sambil terus bersembunyi. Mereka hampir tidak dapat tidur dan makan. Kondisi cuaca sangat buruk. Tapi, mereka menerima bantuan di beberapa perkebunan yang dilewati. Yang sungguh luar biasa, mereka selalu bisa bersama-sama sebagai kelompok.

Tanggal 28 September, mereka tiba di sebuah rumah pertanian bernama Mont-Ros. Malam mulai tiba. Salah satu dari mereka pergi ke rumah itu untuk menanyakan arah. Mereka tidak ingin tinggal untuk makan. Mereka hanya inginkan informasi tentang jalan yang akan ditempuh. Mereka mengikuti petunjuk yang diberikan dan setelah berjalan satu kilometer lebih sedikit, sekelompok anggota Komite sedang menanti mereka. Mereka dikhianati! Mereka ditangkap dan dibawa ke markas Komite.

Sekitar pukul 22.00, mereka diserahkan kepada Komite Sant Joan les Fonts, Girona. Dari sini, semuanya berjalan sangat cepat. Mereka dibawa ke rumah sekolah yang merupakan basis Komite. Mereka tinggal semalam di ruang itu. Dari teras sebuah rumah, seorang wanita tetangga melihat para religius itu terus berdoa rosario dalam ruangan.

Hari berikutnya, 29 September, antara pukul 3 dan 4 sore, banyak orang berkumpul di pintu sekolah. Semua dapat melihat bagaimana para religius itu diambil lalu diikat berdua-dua. Yang berjalan sendirian, tangannya diikat di belakang punggungnya. Mereka semua diam. Hampir semua tenang. Namun yang termuda menangis. Meski terharu, orang tetap diam. Salah seorang anggota Komite memperlihatkan aksinya. Bagaikan penjahat yang ganas dia menyerang Sri Paus, Gereja dan kaum klerus. “Tidak ada seorang pun dari bangsamu akan hidup!” katanya.

Para tahanan dimasukkan dalam bus. Bus berhenti sebelum menyeberangi jembatan di Sungai Ter. Di situ ada rumah rusak dekat lereng kecil. Beberapa saksi, yang bekerja di perkebunan dekat situ, melihat bus itu berhenti. Mereka melihat empat orang yang diikat berdua-dua dikeluarkan dan didorong ke lereng. Mereka mendengar perlawanan, kemudian tembakan-tembakan dan empat mayat terkapar pada waktu yang sama. Kemudian tiga orang lain dikeluarkan dan dihadapkan kepada teman-teman yang sudah terkapar. Mereka pun mengalami kematian yang sama.

“Bagaimana sikap para konfrater kita pada saat menentukan dan mulia itu? Kalvari yang diderita ketujuh biarawan itu dan situasi yang mengitari kematian mereka memungkinkan kita melihat di dalam diri mereka kesaksian yang tak dapat diragukan lagi akan kesetiaan pada komitmen mereka sebagai orang-orang Kristen dan akan praktek nasihat-nasihat Injili yang telah mereka ikrarkan,” demikian tulisan yang diterbitkan dalam buletin berita generalat MSC di Roma itu.

Sore hari, beberapa orang Kristen yang baik dari kota dipaksa membawa mayat-mayat itu ke pekuburan kota. Mereka dikuburkan di makam-makam yang sudah digali, empat di satu lubang dan tiga lainnya di lubang yang lain.

Tanggal 30 Maret 1940, jenazah-jenazah mereka digali dan dipindahkan ke pemakaman Canet de Mar, dekat komunitas MSC.

Sesudah perayaan 6 Mei 2017 di Katedral Girona, sisa-sisa jenazah para martir ini akan ditempatkan di salah satu kapel dalam Gereja Bunda Hati Kudus, Jalan Rosellon 175, Barcelona, untuk dapat dihormati oleh semua umat beriman.

Melalui hidup dan kematian mereka sebagai martir, ketujuh MSC itu memberikan arti sepenuh-penuhnya pada semboyan Tarekat MSC: Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana! I(pcp, berdasarkan laporan dari Pastor Johanis Mangkey MSC)

Jumat, 5 Mei 2017

Fri, 05/05/2017 - 14:07
Foto-foto dalam tulisan ini diambil oleh PEN@ Katolik dalam salah satu Misa Komuni Pertama di Paroki Santa Maria KBI

PEKAN PASKAH III (P)

Santo Hilarius dari Arles; Santa Yutta;

Santo Angelus; Beato Vinsent Soler

Bacaan I: Kis. 9:1–20

Mazmur: 117:1.2; R: Mrk. 16:15

Bacaan Injil: Yoh. 6:52–59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: ”Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup se­lama-lamanya.” Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

Renungan

Pada tahun 2015, Ahok sebagai gubernur DKI gencar melakukan normalisasi bantaran Sungai Ciliwung yang disinyalir selalu menjadi biangnya banjir di Jakarta. Di beberapa titik rawan seperti Kampung Pulo ditata kembali. Banyak orang protes terhadap kebijakan Ahok ini, mulai dari warga yang menghuni kawasan yang ditertibkan sampai pada preman-preman yang sudah lama menjadikan kawasan itu sebagai mata pencahariannya. Lebih dari itu, orang protes karena belum tahu bakal seperti apa perubahan hidup warga sesudah penerbitan itu. Buah dari kebijakan itu adalah banjir semakin kurang dan warga yang menghuni kawasan itu dipindahkan ke rusun yang disiapkan penda DKI. Hidup pun menjadi enak, tidak dibayang-bayangi lagi ketakutan datangnya banjir bila hujan turun.

Kisah tentang warga Kampung Pulo hampir serupa terjadi pada orang-orang Yahudi yang bertengkar antara mereka karena Yesus hendak memberikan daging-Nya kepada mereka untuk dimakan. ”Bagaimana Ia dapat memberikan daging-Nya  kepada kita untuk dimakan?” (Yoh. 6:52). Mereka bertengkar karena mereka tidak tahu maksud Tuhan Yesus di balik kata daging-Nya itu. Pemahaman mereka tentang daging hanya sebatas daging dalam arti fisik daging manusia. Hal ini menjadi sebuah kesesatan pemahaman untuk orang Yahudi di satu pihak, tetapi menjadi kesempatan bagi Yesus untuk memberikan pencerahan kepada mereka tentang istilah itu di lain pihak. Memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh Yesus tidak mudah untuk dilakukan. Melalui kesetiaan dalam membaca dan merenungkan firman-Nya, Tuhan Yesus senantiasa menuntun kita untuk mencapai pada pemahaman yang lebih tepat.

Tuhan Yesus, kadang aku membuang waktu hanya untuk berpolemik dengan diriku tentang misteri-Mu. Tetapi syukur, Engkau selalu hadir melalui Firman-Mu yang senantiasa memberikan jawaban kepadaku. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2017

Paus Fransiskus akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Fri, 05/05/2017 - 02:05
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam sebuah Hari Doa Nasional di Gedung Putih 4 Mei 2017, REUTERS

Kantor Pers Tahta Suci mengumumkan pada hari Kamis, 4 Mei 2017 bahwa Paus Fransiskus akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Vatikan pada pagi hari tanggal 24 Mei 2017. Pemimpin AS itu akan juga bertemu dengan Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin dan dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci Uskup Agung Paul Gallagher. Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan, perjalanan luar negeri pertama dari Donald Trump sebagai presiden AS itu akan mencakup kunjungan ke Belgia, Israel dan Arab Saudi, serta Italia dan Vatikan. Tanggal 25 Mei, Trump akan menghadiri pertemuan NATO di Brussels dan keesokan harinya akan ambil bagian dalam pertemuan tingkat tinggi G7 di Sisilia.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Intensi Doa Paus Bulan Mei: umat Kristen di Afrika yang dilanda perang saudara

Fri, 05/05/2017 - 01:25

Paus Fransiskus di Afrika Tengah 29 November 2015, ANSA

Intensi doa Paus Fransiskus untuk bulan Mei 2017 dipersembahkan untuk orang-orang Kristen di Afrika: Semoga umat Kristen di Afrika, seperti halnya Yesus yang Penuh Belas Kasih, boleh memberikan kesaksian kenabian tentang rekonsiliasi, keadilan, dan perdamaian. Kerasulan Doa telah memproduksi Video Paus tentang intensi doa ini, demikian laporan Radio Vatikan.

Dalam video itu, Paus selengkapnya mengatakan: “Kalau kita melihat Afrika, kita melihat jauh lebih banyak daripada kekayaan alamnya yang luar biasa. Kita melihat sukacita hidupnya, dan yang terpenting, kita melihat dasar-dasar harapan dalam warisan intelektual, budaya dan agama yang kaya di Afrika. Tetapi, kita tidak boleh tidak melihat perang saudara yang membunuh orang dan yang menghancurkan sumber-sumber daya alam dan budaya ini. Marilah kita ikut bersama saudara-saudari kita di benua besar ini, dan berdoa bersama agar umat Kristen di Afrika, seperti halnya Yesus yang Penuh Belas Kasih, boleh memberikan kesaksian kenabian tentang rekonsiliasi, keadilan, dan perdamaian.”(pcp berdasarkan RV)

Kamis, 4 Mei 2017

Thu, 04/05/2017 - 14:21
Mgr Pius Riana Prapdi Pr, yang lahir anal 5 Mei 1967, ketika masih imam di KAS. Foto diambil oleh PEN@ Katolik di Gua Kerep Ambarawa.

PEKAN PASKAH III (P)

Santa Rachel; Santa Gemma Galgani; Beato Yosef Maria Rubio

Bacaan I: Kis. 8:26-40

Mazmur: 66:8-9.16-17.20; R:1

Bacaan Injil: Yoh. 6:44-51

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada  orang banyak: ”Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Renungan

Yesus datang kepada kita dengan memberikan segala-galanya, yakni diri-Nya sendiri, tubuh-Nya sendiri sebagai roti hidup, yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman, dan memberikan kehidupan kekal. Yesus datang untuk memberikan hidup kepada dunia. Yesus datang untuk memberikan teladan cinta tanpa batas.

Tubuh dan Darah Kristus adalah makanan rohani yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus. Tugas kita, umat Katolik yang telah menyantap roti kehidupan ini, bukan hanya bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk bersatu dengan Tuhan Yesus dalam Ekaristi, tetapi ikut membagi-bagikan Tuhan kepada sesama, agar semua orang datang kepada-Nya dan mengalami sukacita dan keselamatan.

Tuhan Yesus Kristus, kasih-Mu sungguh luar biasa. Engkau telah wafat untuk semua orang, Engkau memberi diri-Mu untuk keselamatan umat manusia. Bantulah aku agar berupaya mencintai sesama seraya mewartakan harapan dan kehidupan kepada mereka. Amin.

Mgr Suharyo saat Misa May Day: Selain cari nafkah, perutusan buruh adalah wartakan kebaikan

Wed, 03/05/2017 - 22:23

Meskipun di tengah situasi pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk merasa nyaman bekerja, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak para pekerja (buruh) untuk memberikan makna atas pekerjaan mereka di perusahaan atau tempat kerja mereka.

“Bekerja bukan hanya semata-mata mencari nafkah untuk kehidupan keluarga, tapi di balik pekerjaan yang dilakukan sesungguhnya ada wujud perutusan kita di tengah-tengah dunia, yakni mewartakan kebaikan,”’ kata Mgr Suharyo dalam homili Misa Hari Buruh (May Day), 1 Mei 2017 di Gereja Paroki Santo Agustinus Perum Karawaci, Tangerang.

Sekitar 800 buruh (pekerja) dari 13 paroki se-Dekenat Tangerang menghadiri Misa yang dipimpin Mgr Suharyo dan didampingi konselebran pendamping buruh Pastor Benediktus Juliawan SJ dan Pastor Rafael Adi Pramono OSC, tujuh imam lain yang bertugas di Dekenat Tangerang, serta Direktur Lembaga Daya Darma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang juga Ketua Komisi PSE KAJ Pastor Yulius Sigit SJ.

Selain Hari Buruh, tanggal 1 Mei adalah Pesta Pelindung Santo Yosef Pekerja, sosok suami dari Bunda Maria, dan awal Bulan Maria, bulan yang biasanya dirayakan oleh seluruh umat Katolik dengan Doa Rosario.

Sesuai tema “Mewujudkan Dunia Kerja yang Adil dan Beradab,” Mgr Suharyo mengimbau seluruh pekerja untuk meneladani sosok Santo Yusuf dan Bunda Maria “yang hidup dalam penuh kesetiaan.”

Mengawali homili, Uskup Suharyo mengungkapkan macam-macam cara untuk merayakan Hari Buruh antara lain melakukan donor darah dan menyerukan tuntutan-tuntutan pekerja yang (mungkin) belum dipenuhi pemilik perusahaan atau lembaga negara.

“Namun  ada pula yang memilih menyatakan rasa syukur mendalam atas setiap pekerjaan yang dijalankan dan bersyukur pula kepada Tuhan yang memberikan penyertaan dalam setiap pekerjaan melalui perayaan Misa Kudus,” kaya Mgr Suharyo.

“Kalau Hari Buruh dirayakan dalam Misa Kudus berarti para buruh melihat setiap pekerjaan sebagai rahmat Allah, karya Agung Tuhan Allah,” lanjut Uskup Agung Jakarta.

Mencermati kondisi pekerja saat ini dengan sistem outsourcing, sistem kontrak dan upah buruh yang rendah, Mgr Suharyo menceritakan sebuah relief burung yang ditempatkan di Candi Mendut, Magelang.

“Burung itu memiliki dua kepala di atas dan di bawah. Setiap kali burung itu mendapatkan makanan yang enak pasti dinikmati oleh kepala yang paling atas, sedangkan kepala kedua selalu mendapat makanan sisa.

Suatu kali, kepala burung kedua meminta untuk mendapatkan makanan pertama yang enak-enak, karena selama ini ia tidak mendapatkan yang enak, tapi setelah dimakan oleh kepala pertama. Namun hal itu ditolak kepala burung pertama yang selalu mendapat makanan enak-enak.

“Karena jengkel, kepala burung di bawah memakan racun sehingga akibatnya burung itu mati. Cerita ini sangat erat kaitan dengan kondisi buruh akhir-akhir ini, kendati pekerjaan dilakukan sangat baik, tapi upah yang diperoleh tak sebanding dengan apa yang telah dikerjakan. Realitas hidup manusia sama dengan burung berkepala dua yang hanya mementingkan dirinya sendiri.”

Uskup mengatakan, sebaiknya para pekerja memiliki keyakinan bahwa “Roh Kudus sungguh mengubah roti menjadi Tubuh Kristus dan Roh Kudus yang sama pula mengubah anggur menjadi Darah Yesus yang Kudus. Demikian pula, Roh Kudus suatu saat akan mengubah perjalanan hidup yang penuh harapan dengan dengan penderitaan.”

Pendamping Buruh Tangerang Pastor Rafael Adi Pramono menginformasikan bahwa Misa Buruh sudah dilakukan secara bergilir mulai tahun 2013 di Dekenat Tangerang, “sebagai sarana untuk membagi pengalaman antarburuh, sehingga mereka memiliki ikatan kekeluargaan dalam satu iman dan saling meneguhkan, dan pekerja di setiap paroki, yang bekerja di perusahaan, saling mengenal.

Pendamping buruh lainnya, Pastor Juliawan mengatakan, Gereja Katolik secara terus-menerus, dalam bahagia maupun dalam kesedihan bersama dengan pekerja, sesuai dengan amanat Gaudium et  Spes. “Artinya, Gereja selalu mendampingi dan selalu memberikan harapan, walaupun di tengah-tengah situasi buruh yang kurang beruntung,” tegas imam itu.

Acara Hari Buruh diisi dengan berbagai hiburan yang dipersembahkan oleh para buruh. Hari Buruh 2018 akan dilaksanakan di Paroki Gregorius Agung Kuta Bumi, Tangerang.(Konradus R Mangu)

 

Rabu, 3 Mei 2017

Wed, 03/05/2017 - 12:23

PEKAN PASKAH III

Pesta Santo Filipus dan Yakobus, Rasul (M)

Bacaan I: 1Kor. 15:1-8

Mazmur: 19:2-3.4-5; R: 5a

Bacaan Injil: Yoh. 14:6-14

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada Tomas: ”Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

Renungan

Mungkin Yesus kecewa dengan Rasul Filipus, yang dalam Injil hari ini dikatakan bahwa dia belum melihat Bapa. Sepertinya, Rasul Filipus tidak percaya bahwa Bapa berada dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Maka Yesus menegaskan, ”Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.”

Kita juga mungkin sering bimbang seperti Rasul Filipus atau seperti umat di Korintus atau Rasul Yakobus. Mungkin saja Yesus sering kecewa dengan kita yang mengaku beriman kepada-Nya tetapi iman itu belum nyata dalam perbuatan.

Banyak peristiwa dalam hidup kita mungkin juga merupakan teguran dari Tuhan, namun kita belum atau tidak mau memahaminya. Padahal kalau mau jujur seperti Rasul Filipus, kita pun belum mengenal Yesus. Buktinya, perbuatan kita sering tidak mencerminkan iman itu.

Tuhan, teguhkanlah imanku kepada Sabda-Mu, dan bantulah kami untuk tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci dan tanpa keraguan dan kebimbangan mewujudkan iman dalam perbuatan sehari-hari. Amin

Uskup yang ditahbis jadi anggota waligereja, terima kuasa tahbisan penuh, pimpin jemaat

Wed, 03/05/2017 - 04:29

Bulan Maret lalu, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menahbiskan Uskup Sintang Mgr Samuel Otto Sidin OFMCap. Dalam Bulan Mei ini, tepatnya 19 Mei 2017 akan juga berlangsung pentahbisan Pastor Robertus Rubiyamoko sebagai Uskup Agung Semarang, dan nanti bulan Juli, Pastor Rolly Untu MSC akan ditahbiskan menjadi Uskup Manado.

Untuk lebih dalam mengenai uskup dan tahbisan uskup, baru-baru ini Paul C Pati dari PEN@ Katolik dan Arue mewawancarai Pastor Johanes Robini Marianto OP di Pontianak.

Pembicaraan dengan lulusan S3 bidang eklesiologi dari Universitas Santo Thomas Manila itu seputar seluk-beluk teologi mengenai uskup dan keuskupan.

PEN@ Katolik: Bagaimana keyakinan iman Gereja akan seorang uskup dan tahbisan uskup?

PASTOR JOHANES ROBINI MARIANTO OP: Sejak jaman Santo Ignatius Antiokhia, Gereja selalu dilihat sebagai persekutuan umat beriman yang dibaptis, atau yang percaya kepada Kristus, di bawah penggembalaan seorang uskup yang sah ditahbiskan dalam kerangka tujuan Ekaristi.Gereja mempunyai tiga unsur utama. Pertama, iman yang terwujud dalam baptisan. Kedua, hierarki dengan uskup sebagai gembala jemaat. Ketiga, Ekaristi. Di sinilah kerangka Konsili Vatikan II sesuai tradisi suci, bahwa komunitas dapat disebut Gereja secara penuh apabila memenuhi ketiga kriteria itu. Jika ada salah satu kriteria hilang maka mereka bukan disebut Gereja per se.

Untuk menjadi uskup secara sah, seseorang haruslah sudah imam, minimal jaman sekarang, karena dulu Santo Ambrosius dipilih secara aklamasi oleh umat di Milan, tanpa terlebih dahulu menjadi imam. Namun ini bukan praktek sekarang.

Saat ini, uskup adalah seorang imam yang dipilih secara sah oleh Tahta Suci, lalu menerima konsekrasi atau tahbisan sesuai ritus yang ada, salah satunya penumpangan tangan, dan paling tidak dihadiri oleh dua hingga tiga uskup yang mengkonsekrasikannya. Peraturan kuno sejak Konsili Nikea (325) itu berlaku sampai hari ini. Dengan tahbisan uskup, seseorang masuk dalam persekutuan atau kolegium para uskup dan berkat tahbisan uskup seseorang menerima kuasa tahbisan penuh dan lengkap, dan otomatis menjadi pemimpin jemaat di wilayah yang dipercayakan kepadanya.

Apakah setiap tahbisan uskup otomatis sah menjadikan seorang sebagai uskup?

Ada dua pengertian dalam tahbisan dan banyak sakramen lain dalam Gereja, yaitu keabsahan dan kelayakan. Keabsahan adalah legitimasi bahwa memang terjadi sebagaimana diinginkan oleh Gereja dan dengan demikian diakui sah oleh Gereja. Kelayakan artinya dianggap sah secara hukum dan de fakto sah, tapi tidak dianggap layak dilakukan atau diterimakan karena kekurangan satu dua unsur.

Uskup dalam Gereja Latin ditahbiskan sah apabila pengangkatannya dilakukan oleh Tahta Suci, ditahbiskan dengan ritus yang sah diakui Gereja Latin, dan dihadiri minimal 2-3 uskup konsekrator. Ini untuk menjamin keabsahan garis suksesi apostolik, yaitu peran uskup sebagai pengganti para Rasul.

Di abad II, ketika ada krisis bidaah Gnostik yang mengajarkan dualisme dunia ciptaan, yang material badaniah berlawanan dengan yang rohani (dunia rohani adalah yang asali dan nyata sedangkan dunia material adalah kejatuhan dan dosa), salah satu argumen yang membuktikan keabsahan sebuah komunitas gerejani adalah garis suksesi apostolik yang sah.

Yang bidaah diminta menuliskan para uskup mereka yang bisa dianggap berasal dari salah satu Rasul atau Gereja kuno, yang mendasarkan diri pada tradisi salah satu atau para Rasul. Dengan dijaminnya garis suksesi, maka dianggap tradisi iman dan moral (depositum fidei) bisa terjamin otentisitasnya.

Sedangkan kelayakan berdasarkan salah satu unsur, yang di luar keabsahan tidak terpenuhi. Keabsahannya tidak dipersoalkan, tapi amat disayangkan kalau tidak layak dilakukan, misalnya uskup ditahbiskan tanpa upacara yang dipersiapkan, umat yang hadir hanya segelintir, pengumuman tak diketahui publik. Sekali lagi, kelayakan tidak membatalkan keabsahan, namun pantas disayangkan, karena seharusnya bisa lebih baik dilakukan agar tahbisan yang sah menjadi layak.

Mungkinkah seseorang yang ditahbiskan sah, tapi tahbisannya tidak dianggap, menjadi pemimpin jemaat?

Dalam Gereja Latin Roma, salah satu unsur penting adalah persetujuan. Bahkan pengangkatan dilakukan Tahta Suci, oleh Paus. Bagi Gereja, tahbisan bukan hanya peristiwa rohani, melainkan memberikan kuasa tahbisan (sacra potestas) dan pengangkatan sebagai pemimpin jemaat lokal.

Apabila Paus tidak menyetujui, maka tahbisan itu bisa berarti dua. Pertama, tetap sah karena ditahbiskan oleh uskup yang telah menerima sakramen tahbisan dengan sah, tetapi si tertahbis tidak mendapatkan kuasa formal sebagai gembala jemaat. Dengan kata lain, kuasa kepemimpinannya tidak diakui dan dibekukan (suspend). Kedua, apabila tahbisan tetap dilakukan dan komunitas itu menganggapnya sah, meski Tahta Suci menganggap tidak mendapatkan persetujuan dan pengakuan, si tertahbis tidak bisa melaksanakan kuasa tahbisannya. Maka terjadilah skisma yaitu perpecahan dalam Gereja dengan akibat hukum ekskomunikasi atau dikeluarkan dari komunitas gerejani yang sah.

Contohnya, kasus komunitas Santo Pius X yang dikenal dengan Gereja Lefebvre. Setelah menahbiskan tujuh uskup yang belum disetujui Roma, komunitas Lefebvre dianggap pecah, terpisah, atau skisma dengan Gereja Katolik Roma. Tahbisannya tetap sah, karena ditahbiskan oleh uskup, yang sah ditahbiskan sebelumnya. Namun, kuasa tahbisannya dibekukan dan tidak boleh dijalankan dalam Gereja Roma. Mereka dianggap melawan ketaatan sehingga diekskomunikasi.

Kalau begitu, posisi tahbisan uskup dan uskup dalam Gereja Katolik Roma sangatlah penting!

Tahbisan uskup adalah tahbisan imamat penuh yang menjadikan seseorang sebagai pengganti sah para Rasul (dan tradisi Rasuli) dan sah sebagai pemimpin jemaat lokal. Ekaristi yang dirayakan pun menjadi sah dan membangun Gereja lokal. Gereja lokal, menurut Konsili Vatikan II, adalah pengejawantahan Gereja universal. Gereja universal hadir dalam setiap Gereja lokal yang berkumpul sekitar altar merayakan Ekaristi secara sah di bawah kuasa kepemimpinan uskup yang sah ditahbiskan.

Maka kehadiran Gereja secara konkret justru terlihat dan nyata dalam Gereja partikular yang tidak lain adalah keuskupan yang dipimpin seorang uskup. Dalam diri seorang uskup mengalir kuasa imamat lain, termasuk kuasa tahbisan diakonat. Maka imamat para imam bahkan kuasa tahbisan diakon bersumber dari kepenuhan tahbisan uskup. Itulah sebabnya yang boleh menahbiskan imam dan diakon hanyalah uskup. Dalam diri uskup, jemaat kristiani yang merayakan Ekaristi terbangun selamanya. Itulah sebabnya tahbisan uskup dan uskup sangatlah penting peranannya dalam Gereja.

Apakah seorang uskup ditahbiskan hanya untuk jemaat lokal yang ia pimpin?

Dengan tahbisan uskup, seorang pertama-tama menjadi pengganti para Rasul dan tradisi Rasuli. Layaknya para Rasul di jaman Tuhan Yesus, uskup menerima perutusan, teristimewa tugas pewartaan, pengudusan dan kepemimpinan jemaat Gereja. Tahbisan uskup menjadikan seseorang ikut serta dalam kepemimpinan gerejani.

Maka, meskipun kelihatannya dengan tahbisan itu dia menjadi de fakto pemimpin Gereja setempat atau keuskupan, namun karena tahbisan episkopalnya, dia bersama Pengganti Rasul Petrus (Paus) memikirkan dan memimpin seluruh Gereja.

Panggilan tahbisannya adalah kepemimpinan Gereja sebagai pengganti Para Rasul bersama dengan pengganti Petrus (Paus). Ini tampak dalam apa yang dikatakan Konsili Vatikan II sebagai kolegium Para Uskup bersama dan selalu bersama ketuanya, Paus. Secara praktis tampak apabila atas kehendak Paus mereka dikumpulkan dalam Sinode Para Uskup, dan paling nyata dalam Konsili Suci. Mereka adalah pemimpin yang ditahbiskan untuk Gereja universal bersama Paus sebagai ketuanya. Bahkan kuasa yang mereka jalankan di lokal keuskupannya adalah dalam kerangka perutusan Gereja universal.

Salah satu tugas Uskup adalah Magisterium atau pengajar yang sah tentang iman dan moral. Apakah maksudnya?

Tahbisan menjadikan seseorang mempunyai tiga tugas yakni kepemimpinan, kuasa menguduskan terutama lewat sakramen, dan pengajar. Magisterium di sini artinya pengajar yang sah menyuarakan pandangan komunitas. Artinya, ketika para uskup mengajarkan iman dan moral, maka mereka menyuarakan iman dan moral Gereja secara resmi (official) dan mewakili iman Gereja.

Sebenarnya banyak pihak bisa mengajarkan dan menyuarakan iman dan moral Gereja. Para teolog atau ahli ilmu teologi bisa mengajarkan ajaran Gereja. Kadangkala mereka lebih spesifik dan ilmiah. Namun, pendapatnya dan bahkan penelitian para teolog tidak dianggap suara resmi dari iman Gereja. Hanya para Uskup, yang masih bersatu dengan Paus dan tidak bidaah dan skismatik, menjadi suara iman dan moral Gereja yang resmi. Maka, mereka juga diberi kuasa untuk menilai dan membuat pernyataan dan pendapat iman dan moral. Tekanannya pada sifat keresmian dan sungguh menyatakan iman dan moral secara sah serta resmi dari Gereja.

Apakah uskup yang sudah ditahbiskan untuk sebuah keuskupan boleh dipindahkan?

Sekali lagi, keputusan untuk sebuah keuskupan dan uskup ada di tangan Tahta Suci. Itu salah satu kriteria keabsahan. Maka adalah hak prerogative Tahta Suci untuk menahbiskan bahkan memindahkan seorang uskup. Dasarnya, meski ditahbiskan dalam kerangka pemimpin jemaat setempat, namun sebenarnya peranan uskup adalah kepemimpinan Gereja universal, Gereja bersama ketuanya, Sri Paus. Maka, sebagai ketua dewan para uskup, Paus berhak memindahkan wilayah kegembalaan seorang uskup. Dan uskup tidak bisa keberatan, karena itu bagian dari kodrat tahbisannya sebagai gembala Gereja universal bersama dengan ketuanya yaitu Paus.

Kepemimpinan uskup di Gereja setempat harus dalam kerangka pelayanannya kepada Gereja universal. Penempatannya melalui tahbisan di sebuah komunitas setempat sebenarnya merupakan tugas untuk menggembalakan Gereja universal yang diwujudnyatakan dalam keuskupan lokal. Tidak ada uskup yang ditahbiskan hanya untuk sebuah tempat belaka (stabilitas loci). Kita tidak boleh mengecilkan kuasa tahbisan, fungsi dan peranan seorang uskup.

Bagaimana hubungannya seorang uskup dengan Paus?

Paus pertama-tama adalah seorang uskup. Dia uskup Keuskupan Roma yang dianggap primat. Dia juga pengganti Rasul Petrus, yang menurut keyakinan Gereja Roma adalah pemimpin dewan para Rasul dan pengganti para Rasul. Maka ada tiga kedudukan Paus: Uskup Keuskupan Roma, yang memiliki primat, pengganti Petrus sebagai ketua dewan para Rasul, dan gembala agung kaum beriman yang kuasanya bersifat langsung (immediate) dan tertinggi.

Maka, sebagai umat beriman Katolik, seorang uskup harus menjunjung tinggi kuasa Paus sebagai kuasa tertinggi dan primat, dan harus menerima dalam iman bahwa Paus adalah ketua dewan pengganti para Rasul (yaitu Uskup).

Apakah perbedaan antara uskup agung dan uskup suffragan?

Dalam posisi Hukum Gereja setelah Vatikan II, setiap uskup adalah pemimpin sah dan otonom di keuskupannya. Seorang uskup tidak boleh dicampur atau diintervensi kuasanya oleh uskup mana pun. Namun dalam hukum juga dikatakan, uskup agung atau metropolit (bahasa hukumnya) mempunyai kuasa yang lebih daripada uskup suffragan dalam wilayah gerejaninya: turun tangan apabila ada masalah urgen dan besar di sebuah keuskupan di wilayah gerejaninya, menunjukkan administrator apabila uskup suffragan sudah turun tahta atau meninggal, bahkan bisa menyelenggarakan konsili partikular dan sinode lokal wilayah gerenainya apabila ia mau. Namun posisi hukum itu bukan berarti bisa setiap saat melakukan intervensi bahkan campur tangan dalam wilayah keuskupan lain.

Bagaimana dengan Konferensi Uskup (waligereja) di sebuah negara?

Konferensi Uskup seperti Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bukan struktur di atas keuskupan. Konferensi Uskup adalah persekutuan para uskup karena kepentingan misi bersama. Mereka berkumpul karena wilayah negara, bahasa atau kepentingan misi bersama, sehingga pastoral bisa lebih baik di dalam prinsip kerjasama.

Paus Yohanes Paulus II di dalam Konstitusi Apostolik Apostolos Suos telah menetapkan aturan hukum untuk konferensi para uskup. Di dalamnya dikatakan bahwa Konferensi Uskup tidak menjadi lembaga di atas para uskup dan menggantikan hak dan kuasa para uskup yang sah dan otonom di wilayah keuskupannya.

 

Secara hukum tidak ada kewajiban hukum bahwa seorang uskup harus setuju dengan konferensi para uskup, kecuali yang dikatakan dalam Konstitusi Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Namun sangat tidak layak apabila ia menentangnya karena dia juga termasuk bagian di dalam dan bahkan ikut serta dalam proses keputusannya.***

 

Selasa, 2 Mei 2017

Tue, 02/05/2017 - 11:03

PEKAN PASKAH III

Peringatan Wajib: Santo Atanasius Agung; Uskuskup dan Pujangga Gereja (P);

Santo Boris; Santo Sigismund

Bacaan I: Kis. 7:51-8:1a

Mazmur: 31:3c-4.6ab.7b.8a.17.21ab; R: 6a

Bacaan Injil: Yoh. 6:30-35

Di rumah ibadat di Kapernaum orang banyak berkata kepada Yesus: ”Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.” Maka kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: ”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: ”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Renungan

Makanan sangat penting untuk kehidupan kita, maka kita selalu diminta menjaga dan melestarikan alam ciptaan sebagai sumber makanan. Tanpa makanan kita tidak akan bisa bertahan hidup, tanpa pangan kita tidak akan mempunyai daya untuk berkarya. Kita harus menjaga, merawat, dan melestarikan sumber daya alam sebagai sumber makanan karena kita selalu membutuhkan makanan demi anak cucu kita.

Namun, sebagai umat beriman tentu kita tahu bahwa Yesus adalah roti hidup yang memberi hidup kepada orang yang percaya kepada-Nya agar kita tidak lapar lagi. ”Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35).

Di samping mendapat kekuatan untuk hidup di dalam Allah, Sabda Yesus sangat jelas untuk kita bahwa kalau kita ingin memiliki hidup kekal, kita harus datang kepada-Nya. Dialah roti hidup, datang kepada-Nya kita tidak akan lapar dan haus lagi.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah roti kehidupan kekal. Dengan menyambut Tubuh dan Darah-Mu, aku akan Kaukenyangkan dan Kaupuaskan. Semoga aku selalu menghidupi dan menghidupkan Ekaristi di dalam diriku. Amin.

 

Tujuh imam baru yang ditahbiskan di Keuskupan Manado bagaikan lima roti dan dua ikan

Mon, 01/05/2017 - 17:41
Foto dari Komisi Komsos Keuskupan Manado

Lima imam diosesan (praja) Keuskupan Manado dan dua imam MSC yang baru ditahbiskan di Gereja Paroki Santo Yohanes Penginjil Laikit, sebuah desa di Kecamatan Dimembe, Sulawesi Utara, 29 April 2017, digambarkan oleh Pastor Albertus Sujoko MSC, seorang doktor teologi dari Universitas Alfonsiana di Roma, sebagai “Lima Roti dan Dua Ikan.”

Kesan itu ditulis Pastor Sujoko saat menulis refleksi tentang tujuh imam baru yang baru itu  setelah menghadiri Misa Pertama mereka, 30 April 2017, di Kapel Seminari Pineleng, tempat tujuh imam itu belajar dan tempat Pastor Sujoko mengajar. Ketujuh imam itu ditahbiskan oleh Uskup Manado Mgr Josephus Suwatan MSC, yang pengunduran dirinya sebagai Uskup Manado telah diterima oleh Paus Fransiskus yang kemudian mengangkat Pastor Rolly Untu MSC sebagai penggantinya.

Mereka memang seperti lima roti dan dua ikan. Mereka hanya sedikit, kecil, tidak berarti, tidak cukup, tidak pantas, tidak layak, tidak pandai, tidak sempurna dan itu semua dikatakan oleh mereka sendiri dalam Misa Pertama kemarin sore. Saya sebagai salah satu guru mereka dan mengenal mereka dengan cukup baik juga dalam hati kecil merasa begitu,” tulis refleksi yang dikirim imam itu dalam sebuah milis.

Dalam Misa itu, seorang di antara mereka mengatakan, “kami bertujuh ini sebenarnya tidak layak untuk menjadi imam, kami tidak sempurna, tetapi Tuhan menganggap kami layak dan nanti Tuhan yang menyempurnakannya.”

Imam baru yang lain menambahkan, “Sebenarnya yang menganggap kami cukup layak adalah para dosen dan staf pembina, walaupun mereka tahu kami ini banyak kelemahan dan kekurangan. Kalau mereka menganggap kami tidak layak, pasti kami tidak bisa ditahbiskan. Namun, nanti Tuhanlah yang membantu kami untuk memperbaikinya.”

Waktu angkatan ini masuk tahun 2008, mereka berjumlah 48 orang. Tetapi hanya tujuh orang itu ditahbiskan imam. Memang, teman mereka Pastor Dismas Salettia Pr ditahbiskan tahun lalu dan Frater Stevian Undap masih ditunda tahbisan diakonnya. Jadi mereka sembilan orang. Berarti 39 orang tidak jadi imam.

Seleksi alam, atau seleksi iman, atau seleksi dari staf, atau seleksi dinamika psikis personal, seleksi hormonal, seleksi Tuhan, atau seleksi apa namanya atau bisa diberi nama dengan semua nama seleksi itu, tegas Pastor Sujoko, yang jelas itulah faktanya, dari 48 calon imam mulai tingkat satu, ada tujuh orang yang ditahbiskan. Mungkin dua teman mereka dari Keuskupan Amboina sudah menjadi imam, “Saya belum tahu.”Bersama para dosen lain, Pastor Sujoko duduk di belakang para imam baru. “Saya menikmati perayaan misa pertama anak-anak itu, dari awal ketika masih di Sakristi. Saya bisa melihat mereka masih gugup dan takut-takut. Dan ternyata kemudian mereka mengatakan sendiri bahwa mereka merasa gugup merayakan Misa bersama-sama para dosen mereka yang sudah tua-tua dan berpengalaman.”

Mereka memang takut salah bicara, salah liturgi, ada bagian yang terlewatkan dan seterusnya. “Jadi mereka memang mengakui bahwa mereka gugup dari awal. Namun anehnya, suasana liturgi menjadi sangat khidmat, tenang, mengalir, lancar dan juga meriah, tanpa ada hal yang terlewatkan,” kata imam itu.

Selama Misa, sambil melihat apa yang mereka lakukan, dan mendengarkan apa yang mereka khotbahkan dan sharingkan, “perasaan saya seperti orang tua yang menyaksikan anak-anaknya menikah; atau seperti opa yang menyaksikan cucu-cucunya menikah. Dan saya memang merasakan bahwa anak-anak atau cucu-cucu saya itu membuat saya gembira dan bahagia dengan apa yang mereka ungkapkan ketika mereka kini sudah menjadi imam.”

Mereka sangat bangga dan bahagia sehingga hampir tidak bisa berhenti bicara. “Misa berakhir lama, tetapi saya merasa senang mendengarkan ungkapan hati mereka. Saya merasa terharu bahwa anak-anak itu bisa seperti itu setelah ditahbiskan menjadi imam. Padahal sebelumnya mereka biasa-biasa saja dan ada salah satu yang begitu jelas keterbatasan pengetahuannya sehingga membuat kami tertawa di meja makan kalau membicarakannya. Namun dia justru tampil paling memukau dan mempesona. Yang lain juga tidak kalah memukau dan mempesona.”

Pastor Sujoko mengingat perkataan Felix Lengkong, doktor psikologi klinis yang kini bekerja di Rektorat Unika Atma Jaya, Jakarta, tentang hormon oksitoksin yang semakin banyak dalam diri orang umur 60 tahun yang membuat para opa merasakan kasih sayang lebih besar kepada anak dan cucu.

“Saya mendoakan mereka, saya cemas juga apakah mereka nanti bisa tetap semangat dalam karya pastoral di tempat-tempat yang sulit di pedalaman. Mereka ditempatkan di Papua, Beteleme, Mangaran, Nulion, Poso, dan itu tempat-tempat terpencil dan jauh dari pusat keuskupan. Semoga anak-anak muda itu tetap bersemangat,” harap imam itu.

Sama seperti “Lima Roti dan Dua Ikan” yang menjadi sangat bermanfaat ketika diambil dan diberkati oleh Yesus dari Nazaret, begitu pula lima imam praja dan dua imam MSC itu “akan sangat bermanfaat bagi Gereja dan masyarakat,” tegas Pastor Sujoko.

Imam-imam baru itu: Pastor Troyani Kalengkongan Pr yang banyak menangis waktu ditahbiskan; Pastor Hendro Kandowanko Pr yang tinggi, putih dan cakep; Pastor Frits Karamoy Pr yang gemuk tapi sehat; Pastor Kornel Kupea Pr yang ayahnya sakit stroke sehingga tidak bisa hadir dalam tahbisan; Pastor John Bomba Pr yang pendek, pengetahuan terbatas, tetapi sangat assertif dan semangat tinggi; Pastor Marianus Ada MSC dari Aliuroba, Flores, yang dititipkan tahbisan di Manado, dan yang cukup pandai, “sepertinya lebih besar otaknya daripada hatinya;” dan Pastor Christian Lala MSC yang cakep, pendiam dan pemalu dengan kemampuan intelektual biasa saja, namun baik dan punya tekad yang kuat.

“Itulah kandungan nutrisi dari 5 roti dan 2 ikan, semoga enak rasanya dan pasti kalau sudah diberkati oleh Yesus dan dibagikan kepada 5000 orang, semua akan makan kenyang dan masih sisa 12 bakul penuh,” tulis pastor yang menamakan dirinya Eyang Sujoko Hadiwardoyo MSC. (paul c pati)

 

 

Umat Katolik diminta secara khusus mendoakan Tanah Air Indonesia di Bulan Maria

Sun, 30/04/2017 - 23:19

 

Pastor Antonius Dwi Haryanto Pr (kaos biru) memberikan pengarahan kepada sejumlah tokoh umat mengenai kegiatan Minggu Panggilan

Kepala Paroki Santo Ignatius Loyola, Atang Senjaya Semplak, Keuskupan Bogor, Pastor Antonius Dwi Haryanto Pr menyerukan kepada umat Katolik, khususnya umat di parokinya, agar secara khusus  berdoa bagi Tanah Air Indonesia dalam intensi-intensi Doa Rosario sepanjang bulan Mei 2017.

“Doa-doa ini perlu kita lakukan secara khusus agar Tuhan yang mahakuasa berkenan melindungi Tanah Air kita dari bahaya perpecahan, kekacauan dan kerusuhan,” kata Pastor Anton dalam homili Misa Minggu, 30 April 2017 di gereja Semplak.

Pastor Anton mengatakan bahwa situasi dan kondisi di Tanah Air Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan, karena “semakin menguatnya radikalisme atau intoleransi, terorisme, narkoba dan korupsi. Hal-hal ini, jika tidak ditangani dengan tepat oleh pemerintah dan masyarakat, dapat menimbulkan perpecahan, dan sebagai kelompok minoritas, kita pasti terkena dampaknya.”

Maka, Pastor Anton meminta agar setiap umat Katolik, baik perempuan maupun lelaki, dewasa maupun remaja, juga anak-anak, “rajin berdoa Rosario setiap hari terutama pada bulan Mei ini.”

Dengan bercanda, imam itu mengatakan bahwa biasanya ibu-ibu lebih rajin berdoa daripada bapak-bapak. “Coba periksa tas ibu-ibu, pasti di dalamnya ada Rosario, sebaliknya dalam dompet atau kantong baju atau celana bapak-bapak  tidak ada Rosario tetapi rokok,” dan umat tertawa.

Homili diisi juga dengan rencana kegiatan Minggu Panggilan di Keuskupan Bogor, 7 Mei 2017, untuk memperkenalkan dan mempromosikan Panggilan Hidup Membiara kepada keluarga-keluarga, khususnya kepada kelompok Orang Muda Katolik (OMK).

Sejumlah frater dan suster akan berkunjung dan tinggal di rumah umat (live in) selama satu malam untuk bertemu dan berbagi pengalaman mengenai panggilan mereka. Di malam live in itu, mereka akan berdoa Rosario bersama keluarga dan dilanjutkan dengan memberikan kesaksian tentang panggilan hidup membiara mereka masing-masing.

Misa tanggal 7 Mei, akan dilengkapi prosesi panggilan yang menampilkan anak-anak yang mengenakan pakaian suster, pastor dan uskup. (Ans Gregory)

 

 

Dari Srawung Budaya terungkap, orang yang beragama dengan benar, semakin manusiawi

Sun, 30/04/2017 - 22:41
Pastor Aloys Budi Purnomo Pr memainkan lagu Tombo Ati melalui saksofonnya diiringi tarian sufi yang dibawakan oleh Ilham

Suara musik keroncong membuat acara Srawung Budaya semakin semarak di aula gereja Paroki Santa Perawan Maria, Purbowardayan, Solo. Terlebih lagi suara saksofon, siter dan suling saling bersahutan mengimbangi musik keroncong yang mengiringi lantunan tembang Ki Jantit, yang malam itu juga berperan sebagai dalang wayang srawung.

Malam itu, para seniman dan budayawan membicarakan tema Nglurug Tanpa Bala (Menyerbu tanpa Pasukan). Tema ini diangkat seiring dengan maraknya semangat komunalisme yang berkembang untuk memenangkan sesuatu dan tak jarang wajah yang ditampilkan adalah wajah yang tak ramah pada persahabatan.

Delegatus Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr yang malam itu hadir mengatakan nglurug tanpa bala merupakan cerminan dari peradaban kasih, “Nglurug tanpa bala merupakan ekspresi cinta kasih.”

“Berbagi cinta, rukun, apapun agamanya, jadi pelopor peradaban kasih,” kata Pastor Budi Purnomo malam itu, 22 April 2017, seraya memainkan lagu Tombo Ati dengan saksofon, berduet dengan tokoh Islam, Mbah Lepo, dan diiringi tarian sufi yang dibawakan oleh Ilham.

Srawung adalah kosa kata bahasa Jawa yang berarti komunikasi, sosialisasi, dan kontak sosial.  Srawung budaya menjadi sangat menarik karena Ki Jantit yang menjadi pembawa acara itu juga berperan sebagai dalang, yang memainkan wayang srawung sebagai sarana untuk memandu dan menyampaikan pesan-pesan dalam acara tersebut.

Srawung budaya juga dimeriahkan dengan tarian misi nusantara, pantomim al viona, tembang macapat, pembacaan puisi, yoga, dan permainan siter Kang Ujang.

Tembang Jawa juga dilantunkan oleh Kepala Paroki Purbawardayan Pastor Antonius Budi Wihandono Pr. Setelah itu, Pastor Wihandono menyampaikan keprihatinannya, atas nama agama, “banyak orang yang bertindak berlawanan dengan yang diajarkan Tuhan.”

Menurutnya, orang yang beragama dengan benar adalah orang yang semakin manusiawi. “Agama yang benar harus semakin manusiawi,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa beragama namun tidak membuat orang semakin manusiawi “berarti ada yang keliru dalam cara beragamanya.”

Pagi harinya, 23 April 2017, di balai kota Surakarta, ratusan kaum muda lintas agama juga merayakan keberagaman dalam acara Srawung Kaum Muda Lintas Agama. Dalam acara itu mereka merayakan keberagaman, melakukan refleksi, dan menyampaikan deklarasi tentang menghormati perbedaan.

Perayaan keberagaman ditandai dengan penampilan berbagai kesenian. Beberapa di antaranya adalah kesenian hadrah, tari Bali, dan tarian sufi. Selain Pastor Budi, sejumlah tokoh agama turut menyampaikan refleksi tentang kebhinekaan yaitu Suparman (Islam), Pinandhito Bagyohadi (Hindu), Sektiono (Buddha), dan Ws Adjie Chandra (Konghucu).

 

Kaum muda dari berbagai agama itu menyampaikan seruan dan tekad dalam deklarasi yang mereka gagas. Pertama, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 sebagai poros etik berbangsa dan bernegara yang merdeka. Kedua, menghayati keberagaman agama sebagai keindahan, perdamaian dan persatuan Indonesia. Ketiga, menghormati hak beragama antarumat. Keempat, bersikap toleran terhadap antarumat beragama. Kelima, merawat dan melestarikan kebudayaan asli Surakarta: budaya unggah-ungguh sebagai tata krama menghormati antar manusia. Keenam, Saling gotong-royong bekerja sama menciptakan suasana guyub rukun di kota Surakarta.(Lukas Awi Tristanto)

Kepala Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbawardayan Pastor Antonius Budi Wihandono Pr Ki Jantit, dalang wayang srawung

Srawung Kaum Muda Lintas Agama di Surakarta Tokoh-tokoh agama hadir dalam Srawung Kaum Muda Surakarta

 

 

 

 

 

Untuk pertama kali, Umat Katolik dan Umat Koptik mengakui baptisan bersama

Sat, 29/04/2017 - 18:23

Salah satu peristiwa penting dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Kairo, Mesir, adalah menandatangani pernyataan atau deklarasi bersama dengan Paus Koptik Tawadros II yang isinya untuk pertama kali saling mengakui Sakramen Permandian masing-masing.

Pernyataan bersama itu dipublikasikan setelah pertemuan para pemimpin Katolik dan Koptik di Kairo pada hari Jumat, 28 April 2017, atau 44 tahun setelah Paus Paulus VI pertama kali bertemu dengan Paus Copouda Shenouda III, Mei 1973.

Perjumpaan itu merupakan tonggak sejarah dalam hubungan yang terputus selama berabad-abad itu. Perjumpaan itu juga mengarah pada pembentukan Komisi Dialog Teologis dengan seluruh keluarga Gereja-Gereja Ortodoks Oriental.

Dalam deklarasi bersama yang baru itu, Fransiskus dan Tawadros mengingat kemajuan yang telah dicapai sejak saat itu dan meminta pendalaman akar bersama mereka dalam iman melalui doa bersama. Secara khusus, pernyataan itu menghimbau adanya terjemahan bersama Doa Bapa Kami dan tanggal bersama untuk perayaan Paskah.

Orang-orang Katolik dan Koptik, tulis deklarasi itu, dapat memberi kesaksian bersama tenang nilai-nilai kehidupan manusia, kesucian pernikahan dan keluarga, dan penghormatan terhadap ciptaan. Deklarasi itu menghimbau doa intensif untuk semua orang Kristen yang dianiaya dan dibunuh karena iman mereka, terutama di Mesir dan Timur Tengah.

Yang paling penting, pernyataan itu juga memecahkan isu yang telah menjadi sumber ketegangan konstan dalam dialog di antara orang Koptik dan orang Katolik: yakni menuntut baptisan kedua bagi orang-orang Kristen yang berpindah dari satu Gereja ke Gereja lainnya. Hari ini, kedua paus itu menyatakan, “kita tidak akan mengulangi baptisan yang diberikan di salah satu Gereja kita untuk setiap orang yang ingin bergabung dengan Gereja yang lain.” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Sabtu, 29 April 2017 

Sat, 29/04/2017 - 14:20

PEKAN PASKAH II (P)

Peringatan Wajib Santa Katarina dari Siena

Bacaan I: Kis. 6:1-7

Mazmur: 33:1-2,4-5,18-19

Bacaan Injil: Yoh. 6:16-21

Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Renungan

Ciri utama kepemimpinan Kristiani adalah pelayanan. Hal ini karena mengacu kepada Kristus sendiri. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yesus Kristus melayani, Ia mewartakan firman kepada orang banyak, bahkan memberi mereka makanan dengan mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan.

Setelah mengajar dan mempergandakan roti dan memberi makan lima ribu orang, Yesus mengundurkan diri ke gunung. Ia menyendiri untuk berdoa. Yesus selalu mengawali dan mengakhiri karya-Nya dengan doa.

Ketika Yesus sedang berdoa dan karena hari mulai gelap, para murid pergi ke danau lalu naik perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Saat itu laut bergelora karena angin kencang. Setelah kira-kira dua tiga mil para murid mendayung, Yesus berjalan di atas air dan mendekati mereka. Mereka ketakutan. Sabda Yesus: “Ini Aku, jangan takut!” Setelah mereka mempersilahkan Yesus naik, seketika itu juga perahu mereka sampai ke pantai yang mereka tuju.

Kita pun sering takut mengarungi lautan kehidupan, apalagi bila ada gelombang dan badai. Tetapi, bila kita mempersilahkan Yesus naik dan memasuki bahtera hidup kita, maka kita tidak merasa takut lagi. Bahkan tujuan hidup pun bisa kita capai dengan mudah dan selamat. Maka dari itu, hendaknya kita selalu menempatkan Yesus di dalam hidup kita, di awal dan di akhir setiap perjalanan kita.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah cahaya yang menerangi jalan hidupku. Semoga aku setia berjalan bersama-Mu, supaya aku selamat mencapai tujuan hidupku. Amin.

Berdasarkan Renungan Ziarah Batin 18415

OMK serta kaum muda berbagai agama dan suster rawat pesisir dengan menanam bakau

Fri, 28/04/2017 - 15:17

Meski bermandikan lumpur, sekelompok anak muda, pelajar SMA dan mahasiswa dari berbagai latar belakang tetap menanam bakau (mangrove) di pesisir kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Semarang.  Mereka masuk ke dalam lumpur sedalam 1 meter untuk menanam 10 ribu bibit bakau. Setelah bibit bakau ditanam, mereka menancapkan potongan bambu kecil sebagai alat untuk melindungi bibit bakau tersebut.

Penanaman bakau tanggal 23 April 2017 itu merupakan salah satu kegiatan “Menyentuh Bumi dengan Hati” yang dilakukan dalam “50 Tahun Gereja Santa Theresia Bongsari” dan “175 Tahun Kongregasi Penyelenggara Ilahi.” Umat Paroki Santo Yusuf Gedangan yang berada di wilayah pesisir itu ikut membantu.

Menurut Ketua Panitia, Natalis Utomo, “Menyentuh Bumi dengan Hati” merupakan kegiatan lanjutan dari tebar benih ikan yang dilakukan tiap tahun di sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Tahun ini, “karena keprihatinan yang melanda pesisir dengan berbagai kerusakannya, maka kegiatan yang berusaha untuk merawat bumi dilakukan di pesisir dengan melakukan aksi tanam bakau, di samping kegiatan aksi sosial pasar murah dan pelayanan kesehatan.”

Maka, jelasnya, panitia mendorong anak-anak muda untuk mengerti dan mencintai bumi, salah satunya dengan menanam mangrove, dan “kegiatan itu didukung oleh OMK, mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata, mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo, dan siswa-siswi SMA Kebon Dalem, suster-suster PI, para pemerhati dan pecinta lingkungan hidup serta warga setempat.”

Pastor Agustinus Sarwanto SJ dari Paroki Bongsari mengatakan, “Menyentuh Bumi dengan Hati” berarti hati sadar, pikiran juga sadar ketika kita berinteraksi dengan bumi. “Ada sebuah relasi. Relasi yang saya rasa relasi yang saling tergantung,” kata imam itu.

Seraya berharap pengalaman itu sungguh menyentuh peserta aksi tanam bakau, Pastor Sarwanto bercerita tentang pemanasan global yang menyebabkan kawasan pesisir terancam, garis pantai bergeser ke arah daratan, karena pertambahan volume air laut akibat mencairnya es di kutub bumi. “Semua itu terjadi karena ulah manusia yang serakah. Keserakahan adalah dosa-dosa manusia,” kata imam itu.

Kalau manusia tidak merawat alam, tegas imam itu, manusia sendiri akan terancam, sedangkan bumi bisa menyembuhkan dirinya sendiri, pada suatu hari.

Melihat keterlibatan sekitar 400 OMK dalam acara menanam itu, Pastor Sarwanto berharap “kaum muda akan menemukan pengalaman, dan bumi akan kelihatan baik, apalagi kalau mereka ikut membersihkan sampahnya.”

OMK tiba di lokasi penanaman bakau dengan naik perahu. Sesampai di lokasi, sebelum menanam bakau, mereka membersihkan pantai dari berbagai sampah berserakan, khususnya aneka jenis sampah yang tak mudah diurai seperti aneka jenis plastik, styrofoam, atau pun aneka jenis botol.

Suster Priska PI mengatakan bahwa kongregasinya, Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi, yang sedang merayakan 175 tahun, menaruh perhatian yang tinggi terhadap keselamatan bumi, “maka kongregasi PI selama ini juga getol melakukan aksi-aksi perawatan bumi.” Selain terlibat dalam aksi tanam bakau, PI juga melakukan aksi penghijauan di beberapa tempat.(Lukas Awi Tristanto)

Jumat, 28 April 2017 

Fri, 28/04/2017 - 13:41

PEKAN PASKAH II (P)

Santo Louis Marie Grignon de Montfort;

Santo Petrus Louis Chanel

Bacaan I: Kis. 5:34-42

Mazmur: 27:1.4.13-14; R: 4ab

Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15

Pada waktu itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Renungan

Tuhan Yang Mahabaik menyediakan semua bahan yang kita butuhkan di bumi ini untuk kita olah dan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tuhan Yang Mahabaik selalu menyediakan dan memenuhi apa yang kita butuhkan. Salah satu kebutuhan dasar supaya manusia tetap bisa bertahan hidup adalah makan.

Hari ini Yesus membuat mukjizat yang luar biasa, yaitu menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Setelah mereka kenyang makan, para murid mengumpulkan sisa-sisanya, dua belas bakul penuh. Allah, melalui Putra-Nya Yesus Kristus, selalu memenuhi kebutuhan hidup kita. Di dalam Putra-Nya yang terkasih, Allah senantiasa memberikan kelimpahan kepada kita. Hidup di dalam Yesus, berjalan bersama Dia dan selalu mengandalkan Dia maka kita tidak berkekurangan. Kita akan selalu dikenyangkan dan dipuaskan.

Semoga kita selalu setia mengikuti Kristus,  karena berjalan bersama Dia kita tidak akan tersesat dan tidak akan kekurangan suatu apa pun.

Bapa Yang Mahabaik, syukur kepada-Mu karena Engkau telah berkenan mengutus Putra-Mu sebagai penyelamat dan penyelenggara kehidupan manusia. Bimbinglah aku supaya selalu taat dan setia mengikuti Putra-Mu, Tuhan dan Juru Selamat manusia. Amin.

Berdasarkan Renungan Ziarah Batin 17415

Pages