Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 2 hours 31 min ago

Mgr Agus lantik DPP Santo Yusuf Karangan yang dipimpin imam Oblat Santo Joseph (OSJ)

Sat, 25/03/2017 - 01:55

“Umat Paroki Santo Yusuf yang berbahagia, saya selaku Uskup di Keuskupan Agung Pontianak, turut bergembira atas proses pemilihan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) ini. Sebelum memenuhi permintaan umat untuk melantik kepengurusan ini, saya akan bertanya kepada  pengurus DPP terpilih, tentang kesediaan dan kesiapannya untuk menerima dan mengemban tugas suci ini.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengatakan hal ini dalam Misa Syukur Paroki Baru dan DPP Pelantikan DPP Paroki Santo Yusuf Karangan Mempamah Bulu, Kalimantan Barat, yang berlangsung di gereja Santo Yusuf, 19 Maret 2017.

“Saudara-saudari terkasih, bersediakah saudara-saudari menerima dan mengemban tugas suci sebagai pengurus DPP masa bakti 2017-2020?” tanya Mgr Agus. “Ya, kami bersedia,” jawab 24 anggota pengurus DPP terpilih yang diketuai oleh Pastor Ray Sales OSJ (Oblates of Saint Joseph) sebagai ketua umum atau kepala paroki dan wakil ketua umum atau pastor rekan, Pastor Eliodoro Tubesa OSJ.

Pastor Ray Sales dan Pastor Eliodoro Tubesa adalah dua imam pertama dari Oblat Santo Joseph di Indonesia bersama Bruder Josh Bart Cancio OSJ yang ditugaskan sebagai ketua seksi kepemudaan dan panggilan di DPP paroki baru itu.

OSJ didirikan oleh Santo Joseph Marello (1844-1895). Menurut sayoka.org, Superior OSJ Filipina Pastor Jayson Endanya OSJ dan dua imam lainnya datang ke gereja stasi itu, Gereja Santo Hieronimus Karangan, 29 November 2016, karena “penanganan, pengelolaan dan pembinaannya nantinya akan diserahkan kepada biarawan-biarawan Santo Yosef dari Filipina.”

Paroki yang baru diresmikan di tanggal yang sama dengan pelantikan DPP itu adalah pemekaran dari Paroki Petrus dan Paulus Menjalin yang sebelum pemekaran umatnya berjumlah sekitar 42.000 orang. Sebelum menjadi paroki, gereja dari stasi yang didirikan tahun 1977 itu.

Uskup meresmikan paroki dan gereja baru itu dengan meletakkan reliqui orang kudus di tempat yang disediakan di altar dengan berkata, “Para Kudus Allah, engkau telah menerima tahta di bawah altar Allah, Doakanlah kami kepada Tuhan Yesus Kristus.”

Menurut seorang imam yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, Uskup Agus akan secara berkala menambah paroki dengan memekarkan paroki yang ada “agar umat bisa sering dikunjungi, karena banyak paroki di keuskupan itu memiliki puluhan stasi yang sangat jarang dikunjungi pastor dan hanya mengandalkan pemuka stasi untuk pelayanan ibadat minggu dan ibadat lainnya.”

Atas nama Gereja yang selaras dengan kebutuhan umat paroki ini, Mgr Agus mengukuhkan dan meneguhkan pengurus DPP itu disaksikan oleh Superior Jenderal OSJ Pastor Michele Piscopo OSJ yang mengadakan kunjungan kanonik pertama ke provinsi OSJ Filipina 17-28 Maret 2017.

“Tunaikan tugas pelayanan ini seturut tanggung jawab yang sudah diberikan kepada kalian, dengan semangat berkobar-kobar oleh cinta kasih persaudaraan,” kata Mgr Agus. (paul c pati)

Bruder Josh Bart Cancio OSJ. Foto Dokumentasi Sayoka

Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap ditahbiskan Uskup di depan lebih dari 10,000 umat

Fri, 24/03/2017 - 01:24
Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap merebahkan diri. Foto pcp/PEN@ Katolik

Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap ditahbiskan sebagai Uskup Sintang di depan lebih dari 10,000 umat dalam sebuah Misa Tahbisan dengan 29 uskup dan sekitar 200 imam konselebran yang dihadiri lebih dari 10,000 umat dari Keuskupan Sintang dan sekitar 125 orang Jakarta, khususnya Paroki Tebet, serta pimpinan pemerintahan dan keamanan di Stadion Baning, Sintang, 22 Maret 2017. Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menjadi Uskup Penahbis Utama sedangkan Uskup Penahbis Pendamping adalah Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi dan Uskup Sanggau Mgr Yulius Mencucini CP. Uskup yang lahir di Paranuk, 12 Desember 1954, dan masuk Ordo Kapusin tanggal 12 Januari 1977 itu ditahbiskan dengan moto kegembalaan “Non ego sed Christus in me” (bukan aku melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20). Berikut ini beberapa foto yang diambil oleh PEN@ Katolik saat upacara penahbisan itu.

Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap saat perarakan masuk. Foto pcp/PEN@ Katolik

Mg Samuel Oton Sidin OFM mendegarkan homili yang dibawakan oleh Dua Vatikan unuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi Penumpangan tangan oleh uskup[ penahbis dan semua uskup yang hadir. Foo pcp/PEN@ Katolik Penumpangan tangan oleh Duta Vatikan untuk Indonesia. Foto pcp/PEN@ Katolik Setelah Doa Tahbisan, Uskup Sintang yang baru menerima Minyak Suci, Kitab Injil dan Cincin. Foto pcp/PEN@ Katolik Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap menerima mitra. Foto pcp/PEN@ Katolik Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap menerima tongkat. Foto pcp/PEN@ Katolik Saudara-saudara terkasih, Keuskupan Sintang kini mempunyai seoang Uskup baru … Foto pcp/PEN@ Katolik Serah terima Keuskupan Sintang dari Mgr Agutsinus Agus kepada Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap. Foto pcp/PEN@ Katolik Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap memutari Stadion Baning untuk memberi pemberkaan perama kepada uma yang hadir serta para religius dan imam. Foto pcp/PEN@ Katolik Empat foto ini menunjukkan Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap yang memimpin Misa sebagai Uskup Sintang. Foto pcp/PEN@ Katolik

Suasana umat di salah satu sudut stadion menyaksikan perarakan para imam. Foto pcp/PEN@ Katolik Suasana Persembahan. Foto soni/PEN@ Katolik Suasana Stadion Baning Sintang saat Misa Tahbisan Uskup Sintang. Foto soni/PEN@ Katolik Beberapa undangan berfoto bersama uskup Sintang yang baru dan uskup-uskup lain yang hadir. Foto soni/PEN@ Katolik

Kapel yang baru dipugar di makam Yesus diresmikan di Yerusalem dengan ibadah ekumene

Thu, 23/03/2017 - 21:31

 

Sebuah ibadah ekumene berlangsung di Basilika Makam Suci Yerusalem tanggal 22 Maret 2017 saat, karya pemugaran kapel yang berisi tempat pemakaman Yesus diresmikan. Perwakilan dari semua Gereja Kristen setempat berkumpul bersama para undangan termasuk Patriark Ekumenis Bartolomeus, pemimpin spiritual dunia Ortodoks. Paus Fransiskus diwakili oleh perwakilan Vatikan untuk Israel dan Palestina, Uskup Agung Giuseppe Lazzarotto.

Kunjungan ke Tanah Suci sering digambarkan sebagai menemukan kelima Injil, tempat di mana setiap batu dan setiap nama jalan menghidupkan peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kota Yerusalem adalah pusat pengalaman itu. Di sana orang-orang Kristen dapat mengikuti jejak Yesus sepanjang peristiwa Pekan Suci dan Paskah, menjalani jalan salib ke tempat penyaliban, pemakaman, dan kebangkitan-Nya.

Namun selama bertahun-tahun, Edicule, atau kapel kecil di dalam Basilika Makam Kudus tempat makam Yesus berada sudah sangat perlu perbaikan, rusak karena banyaknya peziarah, polusi dan dengan tingkat kelembaban yang tinggi.

Tahun lalu program pemulihan intensif dimulai dengan anggaran yang diperkirakan sebesar 3,5 juta dolar AS. Tiga kelompok utama Kristen yang bertugas menjaga tempat-tempat suci, yakni Ortodoks Yunani, Armenia dan Kustodia Fransiskan membiayai karya, bersama-sama dengan dana dari pemerintah Yunani, Otoritas Palestina dan dari keluarga kerajaan Yordania.

Vatikan juga memberikan sumbangan sebesar satu juta dolar untuk proyek dan pemugaran Basilika Kelahiran di Betlehem. Uang akan sangat diperlukan karena peresmian hari itu hanya menandai tahap pertama dari proyek yang jauh lebih besar untuk mengangkat lantai, memasang kembali pipa-pipa dan menopang fondasi tempat suci itu.

Untuk situs yang sering masuk dalam pemberitaan di tahun-tahun silam masa lalu karena perkelahian yang pecah antara imam atau biarawan yang berdebat tentang siapa yang bertanggung jawab atas bagian-bagian tempat suci itu, ibadah hari itu merupakan berita bagus tentang kerjasama ekumenis yang sukses.

Meskipun demikian, dalam fase kerja berikutnya penggalian arkeologis lebih lanjut dapat juga dilakukan. Mengingat pentingnya situs ini, yang Paus Fransiskus dan Patriark Bartolomeus kunjungi bersama hampir tiga tahun lalu, tidak ada yang tahu apa yang bisa ditemukan para arkeolog. Semangat kerjasama dan kesaksian Kristen bersama disoroti oleh para pembicara di liturgi hari ini, tetapi akan terus sangat dibutuhkan dalam tahun-tahun mendatang. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Senin, 20 Maret 2017 

Mon, 20/03/2017 - 11:04

PEKAN PRAPASKAH III (U)

HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI MARIA

Beato Sebastianus dr Torino

Bacaan I: 2Sam. 7:4-5a, 12-14a.16

Mazmur: 89:2-3.4-5.27.29 R: 37

Bacaan II: Rm. 4:13.16-18.22

Bacaan Injil: Mat. 1:16.18-21.24a (atau Luk. 2:41–51)

Menurut silsilah Yesus Kristus, Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Sebelum Kristus lahir, Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf. Ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.

Renungan

Dewasa ini semakin sulit ditemukan orang yang tulus hati. Banyak yang pandai bersandiwara, di depan kita tampak baik, eh malah menusuk kita dari belakang. Ada orang yang tutur katanya manis dan lembut, tetapi hatinya jahat dan sikapnya licik. Ada orang yang suka berpura-pura atau munafik. Ada pula yang sikapnya diatur/dipoles sedemikian rupa agar orang lain terkecoh. Ada yang tampil alim dan dermawan, tetapi korup.

Kesan di atas jauh dari diri Santo Yusuf. Dalam Injil, Yusuf ditampilkan sebagai pribadi yang sungguh tulus. Ia tidak pura-pura atau bersandiwara. Ia tidak berusaha mengelabui dan mencelakakan

Maria. Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri. Namun, ia sungguh menghargai Maria dan berusaha mencari jalan terbaik dalam menghadapi kenyataan bahwa Maria telah mengandung. Ini adalah ungkapan ketulusan dan iman Yusuf. Ketulusannya ini berbuah manis. Tuhan pun turun tangan pada saat yang tepat. Ketulusan hati Yusuf memberikan ruang yang mudah bagi Tuhan untuk berkarya.

Ketulusan hati memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya dalam dan melalui kita. Ketulusan hati berkenan di hadapan Tuhan. Dia menghendaki kita menjadi orang-orang yang tulus hati, senantiasa mengandalkan-Nya dan mengusahakan yang terbaik bagi sesama. Apakah kita mau?

Ya Tuhan, terima kasih atas pilihan kepada St. Yusuf dan atas teladan ketulusan hatinya. Semoga aku mampu untuk selalu mengupayakan ketulusan hati di hadapan Engkau dan sesamaku. Amin.

Jalan Salib Hidup SMAK Kewapante hadirkan ”kairos” dari Kisah Sengsara Yesus

Mon, 20/03/2017 - 10:58

Para guru dan siswa Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Santo Petrus Maumere Flores, NTT, melaksanakan upacara jalan salib hidup untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus. Upacara itu merupakan  kegiatan pastoral sekolah dalam memaknai masa tobat menjelang Pesta Paska tahun ini.

Tablo jalan salib hidup itu yang dimulai tepat pukul 12.00 dan berakhir pukul 14.00 di halaman SMAK Santo Petrus tanggal 17 Maret  2017 itu dihadiri wakil orangtua siswa dan tetangga di sekitar sekolah.

Kepala sekolah Karinus Duli menyampaikan apresiasi tinggi kepada para pemeran tablo dan semua petugas jalan salib hidup karena mampu  menghadirkan kairos, yakni saat-saat kemenangan atau  keselamatan Allah bagi para guru dan siswa mulai dari kisah sengsara Yesus di Taman Zaitun, penghinaan dan pengadilan sesat di hadapan Pilatus bersama kelompok para imam, penindasan kejam para algojo sampai penyaliban dan wafat-Nya di salib di “Puncak Golgota” kemudian di makamkan.

“Kairos itu meneguhkan komitmen keagamaan, rasa religiositas dan iman kita akan Allah Tritunggal Maha Kudus,” katanya.

Menurut Karinus, jalan salib hidup di sekolah itu benar-benar menggugah dan meneguhkan kesadaran bahwa Yesus sungguh sempurna dalam keallahan dan kemanusiaan-Nya. “Rahasia besar ini digambarkan jelas melalui tablo jalan salib hidup. Sabda sudah menjadi daging (Verbum Carro factum est) dan tinggal  di antara kita sebagai manusia bahkan menghambakan diri-Nya bagi manusia berdosa.”

Jebolan STFK Ledalero Maumere Flores itu menambahkan, “Sebagai manusia, Yesus telah menderita, sengsara dan wafat di salib tetapi dengan cara demikian Yesus sungguh-sungguh adalah Allah yang menghadirkan kairos yakni saat  keselamatan bagi manusia melalui karya penebusan dari salib dan kebangkitan-Nya dari kematian bagi keselamatan manusia secara universal.”

Jalan salib hidup di sekolah, lanjutnya, membuat para guru dan siswa lebih menjadi orang beragama sekaligus beriman Katolik.

Kepala sekolah juga  mengajak para siswa untuk belajar tekun dan terus berjuang menjadi orang beragama sekaligus beriman Katolik. Sebagai orang beragama Katolik, “para guru dan siswa melakukan   jalan salib setiap hari melalui kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan mengajar bagi para guru harus lebih dari sekadar mengajar,” tegasnya.

Para guru, lanjut Karinus, “harus memiliki kemampuan lebih untuk mengajar dan mendidik para siswa di kelas agar lebih berprestasi.”

Kegiatan belajar bagi para siswa juga harus lebih dari sekedar belajar. “Para siswa juga harus menunjukkan kemampuan lebih dari bakat dan kemampuannya dalam belajar, agar menjadi peserta didik yang cerdas budi dan hati,” katanya.

Kemampuan lebih para guru dan para siswa, kata putra Lembata itu, “hanya dapat terwujud jika kita belajar dari Yesus Kristus, guru agung kita.”

Cita-cita luhur tentu tidak mudah diwujudkan apalagi SMAK Santo Petrus Kewapante merupakan sekolah keagamaan Katolik baru di Kabupaten Sikka, NTT, tegasnya. Akan tetapi, dengan mengandalkan Yesus Kristus, tentu para guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mampu menjadi orang yang beragama sekaligus beriman Katolik.

“Para guru dan siswa akan menderita dalam kegiatan belajar-mengajar karena keterbatasan sarana  dan fasilitas sekolah baru sehingga kemudian mereka juga mampu menemukan dan mengalami  saat kairos yaitu kesuksesan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah sebagai kemenangan atau keselamatan Allah,” tegasnya.

Cita-cita luhur telah menjadi komitmen perjuangan warga lembaga pengkaderan awam Katolik (SMAK Santo Petrus), kata Karinus mengutip cita-cita yang senantiasa disuarakan oleh Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Eusabius Binsasi, “mari kita (warga SMAK di Indonesia) mengukir prestasi  belajar-mengajar di sekolah masing-masing di dalam penderitaan….,” seperti yang ditunjukkan Yesus  Kristus melalui jalan salib … “Videte et Credite (lihatlah dan percayalah)” (Yuven Fernandez)

 

 

 

Minggu, 19 Maret 2017

Sun, 19/03/2017 - 01:09

PEKAN PRAPASKAH III (P)

Bacaan I: Kel. 17:3-7

Mazmur: 95:1-2.6-7.8-9; R:8

Bacaan II: Rm. 5: 1-2.5-8

Bacaan Injil: Yoh. 4: 5-42

Sekali peristiwa sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: ”Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” …. ”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada-Nya: ”Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu: ”Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: ”Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya: ”Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: ”Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab).

Renungan

Air hidup yang dimaksud Yesus adalah Roh Allah yang dicurahkan ke dalam diri kita melalui Pembaptisan. Roh membuat kita mengakui Yesus adalah Tuhan, dan mempersatukan kita menjadi satu tubuh dalam Kristus (bdk. 1Kor. 12:3.12). Roh meyakinkan kita betapa Allah itu baik dan murah hati. Ia juga mendorong kita untuk berbagi kasih dengan sesama. Melalui Roh-Nya, Allah menggerakkan orang untuk bertobat dan memberikan pengampunan (bdk. Yoh. 22:22-23). Dan itulah yang dialami oleh wanita Samaria: ia menerima Yesus sebagai Mesias, menyembah Tuhan dalam Roh dan kebenaran, memperoleh pengampunan dosa serta diutus menjadi berkat bagi sesama. Bersama St. Yusuf, kita belajar hidup dibimbing oleh Roh Kudus.

Ya Tuhan, hembuskanlah Roh-Mu ke dalam diriku agar aku mampu membarui diri dan bertumbuh dalam iman. Amin.

Paus Fransiskus angkat Pastor Robertus Rubiyatmoko Pr sebagai Uskup Agung Semarang

Sat, 18/03/2017 - 23:22

Hari ini, Sabtu 18 Maret 2017, pukul 18.00 waktu Jakarta atau pukul 12.00 waktu Roma, Kantor Pers Tahta Suci memberitakan bahwa Bapa Suci mengangkat Pastor Robertus Rubiyatmoko Pr yang kini bertugas sebagai sebagai Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang dan pembina di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, sebagai  Uskup Agung Semarang.

Pastor Robertus Rubiyatmoko lahir tanggal 10 Oktober 1963 di Sleman, di Keuskupan Agung Semarang. Ia masuk Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, dan menjalani pendidikan filsafat dan teologi di Fakultas Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Pastor Robertus Rubiyatmoko ditahbiskan imam diosesan Keuskupan Agung Semarang tanggal 12 Agustus 1992 dan memperoleh gelar Doktor Hukum Gereja dari Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, saat dia tinggal di sana 1993-1997.

Menurut berita dari Kantor Pers Tahta Suci itu, tugas-tugas yang dilalui imam itu adalah pastor pembantu Paroki Santa Maria Assumpta Pakem (1992-1993); dosen Hukum Gereja Fakultas Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; formator di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (2004-2011) dan Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang (sejak 2011).

Kepemimpinan di Keuskupan Agung Semarang lowong sejak Mgr Johannes Pujasumarta meninggal dunia 10 November 2015. Setelah kematian Mgr Pujasumarta, kepemimpinan Keuskupan Agung Semarang berada di tangan Pastor FX Sukendar Pr sebagai Administrator Keuskupan.(pcp)

Kebun Organik Taman Eden: Wujud iman dalam dimensi ekologis Keuskupan Bogor

Sat, 18/03/2017 - 12:46

Serombongan ibu-ibu anggota dan pengurus Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Ranting Katedral Santa Perawan Maria Bogor mengunjungi Taman Eden, 15 Maret 2017. Mereka datang membersihkan sampah-sampah plastik yang orang buang sembarangan di lahan itu. Selain itu, mereka menanam jagung, memanen petatas dan pisang, serta menjualnya kepada sesama pengunjung.

Kebun Organik “Taman Eden” di Taman Yasmin, Bogor, diresmikan oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM 11 Februari 2017. Saat peresmian itu Mgr Paskalis mengatakan, “Iman yang inkarnatif selalu harus terwujud dalam tindakan nyata, dan sebagai co-creator Allah, kita menjalankan panggilan untuk merawat alam dan bukan merusaknya.”

Guna mewujudkan iman melalui dimensi ekologis. Keuskupan Bogor telah membentuk Biro Ekologi di bawah Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE). Tugas biro itu adalah menganimasi umat untuk memberi perhatian yang lebih besar terhadap alam ciptaan Tuhan.

Salah satu upaya untuk memberi perhatian terhadap alam ciptaan adalah peresmian Taman Eden milik Paroki Katedral Bogor di atas lahan seluas 4100 meter persegi di kawasan Taman Yasmin, tepatnya di Jalan Dadap desa Curug Mekar itu.

Lahan itu kini dijadikan kebun untuk pertanian organik dengan menanam berbagai macam tanaman seperti kacang-kacangan, petatas, jagung, pepaya, serta tanaman buah-buahan seperti duren, dan jeruk.

Kepala Paroki Katedral Bogor Pastor Dominikus Savio Tukiyo Pr mengharapkan lahan itu dapat dijadikan tempat untuk menyalurkan hobi berkebun, dan dapat menghasilkan buah-buah dan sayur-sayuran yang baik.

Namun, dalam pesan saat peresmian, Mgr Paskalis berpesan agar, selain lahan pertanian, lahan itu juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan anak-anak sekolah.

Kebun, yang diberkati oleh Mgr Paskalis, yang sekaligus memberi nama “Taman Eden,” itu dikelola oleh Kelompok Eco 17, sebuah komunitas yang dibentuk Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi dari Paroki Katedral Bogor.

Pasangan suami-isteri Soewondo yang dipercayakan sebagai pengelola kebun itu menerima ibu-ibu dari WKRI yang datang menunjukkan kecintaan mereka terhadap bumi dan siapa pun yang berkunjung ke sana. (Ans)

Sabtu, 18 Maret 2017 

Sat, 18/03/2017 - 10:29

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santo Salvator OFM; Santo Anselmus dari Lucca;

Santo Syrillus dari Yerusalem; Beata Marta

Bacaan I: Mi. 7:14-15. 18-20

Mazmur: 103:1-2.3-4.9-10.11-12; R:8a

Bacaan Injil: Luk. 15:1-3.11-32

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: Yesus berkata lagi: ”Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.8 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab).

Renungan

Tujuh abad sebelum kedatangan Yesus, Nabi Mikha setia mengkritik bangsa Israel yang kerap jatuh dalam dosa, bahkan menubuatkan kehancuran Samaria dan Yerusalem. Namun, seperti nabi lainnya, ia melihat melampaui hukuman, bahwa keinginan dan rencana Allah bagi umat-Nya adalah pengampunan bukan hukuman, kehidupan bukan kematian. Ia meramalkan kelahiran Mesias yang datang untuk menyayangi kita, menghapus semua kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir laut (bdk. Mi. 7:19). Sosok Mesias itu ditampilkan Yesus dalam figur bapak yang murah hati; ia melupakan kelakuan anak-anaknya di masa lampau dan selalu siap menerima, memaafkan mereka tanpa syarat.

Kita harus yakin bahwa setiap kali berbalik kepada-Nya dengan penuh sesal dan tobat, Allah pasti memberi pengampunan. Kasih pengampunan itu harus diteruskan dengan semakin mudah pula memaafkan sesama yang bersalah kepada kita.

Ya Tuhan, beranikan aku berbalik dari dosa dan semua kebiasaan buruk untuk kembali kepada-Mu. Amin.

Tradisi jalan di bawah salib atau Loghu Senhor akan kembali digelar Jumat Agung

Fri, 17/03/2017 - 16:54

Prosesi Loghu Senhor (jalan dibawah salib), tradisi yang diwariskan Portugis dan sudah berakar di kampung Sikka tepatnya di Gereja Santo Ignasius Loyola Sikka Keuskupan Maumere sejak tahun 1607, akan kembali digelar pada Jumat Agung 14 April 2017.

Prosesi yang mengitari Kampung Sikka akan melakonkan adegan hidup Kisah Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus di lima armida, yakni Yesus Berdoa di Taman Getsemani, Yesus Dihadapan Pilatus, Yesus Ditolong Simon dari Kirene, Yesus Menasihati  Wanita-Wanita yang Menangis, dan Yesus Wafat di Salib.

Prosesi Loghu Senhor di Paroki Ignasius Loyola Sikka ini memiliki sejarah yang khas dan unik. Prosesi ini merupakan warisan Portugis. Goris Tamela dan Orestis Parera, dua tokoh agama dan pemerhati sejarah Paroki Sikka menjelaskan, prosesi ini diawali tahun 1600 dengan upaya raja Sikka Don Alesu Ximenes da Silva yang hendak mencari tanah hidup kekal atau dalam bahasa Sikka “tana moret dading”. Dalam upaya pencarian ini Don Alesu berangkat ke Malaka, Malaysia melalui Portugal.

Selama berada di Malaka, Don Alesu bertemu dengan raja Portugal dan imam Dominikan, yang menjelaskan kepada Don Alesu bahwa yang dimaksudkan dengan tanah hidup kekal adalah surga, yang bisa dicapai melalui ajaran agama Katolik.

Orestis menjelaskan, selama empat tahun berada di Malaka, Don Alesu belajar banyak di antaranya tentang agama Katolik, pemerintahan, budaya dan bahasa Portugis. Saat kembali ke Maumere, raja itu diberikan beberapa hadiah, di antaranya senhor dan patung Menino (kanak-kanak Yesus).

Para misionaris memberi petuah kepada Raja Don Alesu agar senhor dan Menino disimpan dan dijaga dengan baik dan harus disembah sebagai sesuatu yang sakral.

Menurut John da Gomez dari Panitia Prosesi Loghu Senhor Sikka, setiap tahun ribuan umat mengikuti prosesi ini. “Loghu Senhor bisa menjadi jembatan untuk saudara atau saudari  yang sangat membutuhkan mujizat, karena prosesi ini telah terbukti menjawab permintaan dan doa-doa kepada Bapa. Untuk itu, yang memiliki intensi atau ujud khusus jangan menyia-nyiakan kesempatan ini,” kata John. (Yuven Fernandez)

 

 

 

Jumat, 16 Maret 2017 

Fri, 17/03/2017 - 11:26

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santo Patrisius; Santo Gertrudis dr Nivelles;

Yusuf dari Arimatea

Bacaan I: Kej. 37:3-4.12.13a.17b-28

Mazmur: 105:16-17.18-19.20-21; R:5a

Bacaan Injil: Mat. 21:33-43.45-46

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi: ”Dengarkanlah perumpamaan ini. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya: ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka: ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

Renungan

Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya karena lebih dikasihi oleh Yakub, ayahnya. Ketika disuruh menghampiri saudara-saudaranya di padang penggembalaan, mereka menangkap, lalu menjualnya kepada saudagar Midian. Drama ‘anak terkasih’ ini dialami juga oleh Yesus yang diutus Bapa kepada bangsa Israel, namun ditolak, dibuang, lalu dibunuh.

Sejak saat itu, Allah mempercayakan kebun anggur-Nya kepada sisa-sisa bangsa Israel yang beriman dan bangsa-bangsa lain, yang dahulu dianggap kafir namun menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Di atas iman inilah Kerajaan Allah dibangun untuk menghasilkan buah pada waktunya. Komunitas baru inilah yang kita sebut Gereja. Sambil bersyukur atas panggilan dan pilihan-Nya, jangan kita lalai untuk berbuah kebaikan setiap saat, selagi masih ada waktu.

Ya Tuhan, berkati aku dengan Roh-Mu agar laksana carang aku selalu ingin bersatu erat dengan pokok anggur sejati, yakni Yesus Putra-Mu. Amin.

 

Panti Asuhan ABAS Bogor berulang tahun sambil beramal untuk seminari dan keuskupan

Thu, 16/03/2017 - 19:57
Potong kue ulang tahun ke 23-ABAS, 11 Maret 2017, dihadiri beberapa penghuni ABAS

Beberapa hari yang lalu, sebuah yayasan yang mengelola panti asuhan untuk bayi, anak-anak, remaja hingga lansia dan jompo di desa Tonjong, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, merayakan ulang tahun sambil beramal untuk pembangunan seminari dan untuk fasilitas Keuskupan Bogor.

Yayasan ABAS (Awam Bina Amal Sejati), yang didirikan 23 tahun silam, tepatnya 11 Maret 1994 oleh Suster Rina Ruigrok BKK beserta kawan-kawannya yang semuanya awam Katolik, membantu para tunawisma, sakit dan lanjut usia, yang “dibuang” oleh orangtua dan keluarganya, termasuk bayi-bayi yang tidak berdosa, dan menampung serta merawat mereka di Wisma Kasih.

Saat ini ABAS menampung, merawat dan memelihara sekitar 40 bayi, anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu jompo dalam tiga rumah dengan semboyan, “Menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan dalam melayani mereka yang miskin dan terlantar.”

Pimpinan ABAS Maria Rosa Tirtahadi mengatakan, penghuni khususnya anak-anak dididik sejak dini untuk memiliki rasa percaya diri, harga diri dan kesadaran akan kewajiban dan haknya sebagai manusia. “Walaupun kehidupan awal mereka suram, tetapi mereka tidak ingin dianggap sebagai kaum papa yang mesti dikasihani. Mereka diajar menjadi pribadi yang sadar akan arti hidup dan menjadi manusia berjiwa sosial, yang ingin turut membangun dunia menjadi lebih baik,” jelasnya.

Semua anak, mulai usia 3 tahun, mengikuti pendidikan formal di sekolah umum. “Di luar itu mereka juga mengikuti kegiatan non formal sesuai minat dan bakat mereka, seperti les musik, sekolah balet, les renang, bulu tangkis dan olahraga lainnya,” katanya.

Saat ini beberapa anak sudah menyelesaikan sekolah dan ada juga yang sudah berkeluarga. Tetapi mereka tetap memelihara hubungan baik dengan almamater sebagai suatu keluarga.

Dalam kehidupan sosial dan kegerejaan, jelasnya, anak-anak ABAS aktif mengambil bagian seperti menjadi misdinar, lektor atau lektris pada Misa di Katedral Santa Perawan Maria Bogor maupun di Paroki Santo Ignatius Loyola Semplak. Paduan suara ABAS sering tampil dalam perayaan kegerejaan dan sosial serta acara khusus lain di keluarga-keluarga yang mengundang mereka.

Saat ini Keuskupan Bogor sedang mempersiapkan pembangunan kompleks Seminari Menengah Stella Maris, Rumah UNIO dan Rumah Retret di Perumahan Telaga Kahuripan, Parung. Upaya-upaya untuk mencari dan mengumpulkan dana pembangunan terus dilakukan di tengah umat, baik berupa kolekte khusus dan penjualan kupon berhadiah.

Panti Asuhan ABAS pun berpartisipasi aktif dalam membantu upaya pembangunan itu, termasuk melakukan lelang hasil karya kreatif anak-anak ABAS dan menjual kupon pada perayaan HUT ke-23 Sabtu, 11 Maret 2017.

Perayaan itu diawali Misa yang dipimpin Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM dengan konselebran Kepala Paroki Katedral Bogor Pastor Dominikus Savio Tukiyo Pr, Kepala Paroki Semplak Pastor Antonius Dwi Haryanto Pr, Ketua Panitia Pembangunan Pastor Yohanes Maria Ridwan Amo Pr, Rektor Seminari Stella Maris Pastor Yohanes Suparto Pr dan Pastor Jemmy Rampengan Pr.

Selesai Misa dilanjutkan acara pelelangan hasil karya kreatif anak-anak ABAS berupa lukisan dan gambar-gambar, penjualan kue dan pakaian serta kupon berhadiah. Dari semua kegiatan lelang dan penjualan ini, terkumpul dana lebih dari 30 juta rupiah yang disumbangkan untuk pembangunan fasilitas Keuskupan Bogor. (Ans Gregory da Iry)

Uskup Bogor Mgr Paschalis Bruno Syukur OFM (kedua dari kanan) bersama pengurus Panti ABAS, para pastor dan pemenang lukisan hasil karya anak-anak ABAS dalam lelang untuk menyumbang pembangunan Seminari dan Rumah UNIO Marsella dan Marselly, dua bersaudara kembar, anggota pertama Panti Asuhan ABAS, yang sudah lulus SLTA dan mulai aktif mengelola ABAS Lukisan karya Marsella ini dilelang dengan harga tertinggi 5,2 juta rupiah yang disumbangkan untuk pembangunan kompleks seminari dan Rumah UNIO Keuskupan Bogor.

Kamis, 16 Maret 2017 

Thu, 16/03/2017 - 12:05

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Bacaan I: Yer. 17:5-10

Mazmur: 1:1-2.3.4.6; R:40:5a

Bacaan Injil: Luk. 16:19-31

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Renungan

Si kaya punya segala-galanya untuk meringankan penderitaan Lazarus, namun tidak melakukan sesuatu apa pun. Ia tidak menyadari seriusnya kesempatan sekarang ini untuk mempersiapkan hidup kekal di masa mendatang. Jadi, bukan kekayaan yang menjauhkannya dari pangkuan Abraham, melainkan pengelolaan hartanya yang tidak baik. Kita diingatkan bahwa hidup sejati diukur bukan dari melimpahnya harta, status sosial atau kekuasaan, tetapi seberapa pedulinya kita untuk berbagi dengan sesama.

Perumpamaan ini diceritakan Yesus untuk menegur orang Farisi yang mengandalkan kekayaan pengetahuan dan kekuatannya sendiri untuk mencapai surga. Kematian dan kebangkitan Yesus pun tidak bisa mengubah mereka yang sudah menutup hati bagi maksud Sabda Allah. Kegagalan kita dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah akan membawa kerugian besar bagi hidup sekarang ini dan nanti.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk selalu mengandalkan Dikau sehingga aku tidak berhenti menghasilkan buah yang manis bagi-Mu dan sesama. Amin.

 

Komkep KAJ kunjungi semua paroki untuk beri inspirasi motivasi dan stimulus bagi OMK

Thu, 16/03/2017 - 02:12
Pastor Albertus Yogo Prasetianto Pr

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta (Komkep KAJ) Pastor Albertus Yogo Prasetianto Pr mengatakan tugas komisi yang dipimpinnya adalah memberikan inspirasi, motivasi dan stimulus kepada seluruh anggota Orang Muda Katolik (OMK) di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), agar mereka memiliki semangat dalam melayani dan dalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat berubah.

Oleh karena itu, sepanjang tahun 2016 tim Komkep KAJ telah melakukan kunjungan ke berbagai paroki untuk memberikan penjelasan tentang keberadaan dan cara kerja OMK serta berdialog dengan OMK paroki, kata Pastor Yogo di sela-sela temu OMK Paroki Santo Gregorius Agung Kuta Bumi,  Tangerang, 12 Maret 2017.

Kunjungan ke Paroki Gregrorius Agung adalah kunjungan paroki ketiga sejak awal 2017. Melalui kunjungan itu, jelas Pastor Yogo, dia bersama timnya semakin menyadari dan memahami prosedur kerja dan struktur kepengurusan  OMK dalam suatu paroki.

“Program yang dicanangkan OMK paroki kadang-kadang tidak dapat terlaksana, karena kurang komitmen anggota OMK, yang rata-rata pelajar dan mahasiswa yang mungkin memiliki keterbatasan waktu untuk terlibat,” kata imam itu seraya mengakui bahwa anak-anak berusia antara 13- 35 tahun praktis masih memiliki kesempatan untuk lebih fokus belajar.

Pengajar Seminari Menengah Wacana Bhakti Pejaten itu mengakui ada wadah OMK paroki yang sangat aktif dan ada yang mesti terus-menerus dimotivasi dan diberikan inspirasi oleh Dewan Paroki.

Pastor Yogo juga mengingatkan bahwa Komkep KAJ sedang mempersiapkan ajang pertemuan Orang Muda Katolik se-Asia (Asian Youth Day, AYD) 2017, dan KAJ juga menjadi satu tempat untuk live-in.

Acara tiga tahunan yang akan berlangsung 30 Juli hingga 9 Agustus 2017 dengan pusat di Yogyakarta itu akan dihadiri 3.000 OMK dari 29 negara di Asia.

Mengomentari tema AYD 2017 “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia,” imam itu  mengatakan bahwa tema itu mengajak OMK se-Asia untuk terus mengedepankan nilai-nilai positif di tengah masyarakat yang semakin modern dan majemuk.

“Seluruh OMK diajak untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya dan menjadi corong dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dalam perbedaan,” kata Pastor Yogo seraya berharap OMK dapat menjadi teladan dalam memahami dan mengemban nilai moral positif di tengah keberagaman masyarakat Asia. (Konradus R Mangu)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 15 Maret 2017

Wed, 15/03/2017 - 13:19

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Louisa De Marillac, Klemens Maria Hofbauerer

Bacaan I: Yer. 18:18-20

Mazmur: 31:5-6,14,15-16

Bacaan Injil: Mat. 20:17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan

Dalam tradisi Yahudi, Mesias indentik dengan  kemuliaan dan kekuasaan. Namun Yesus – yang diakui Mesias oleh para murid justru menubuatkan kematian-Nya. Seperti pengalaman Yeremia. Yesus tidak takut dan menyerah mewartakan sabda kasih Allah dan melakukan kehendak-Nya sekalipun harus mengalami penolakan, penderitaan dan kematian.

Para murid kaget, sedih dan bingung karena mengira bahwa kedudukan dalam Kerajaan Surga dapat diraih tanpa penderitaan. Kenyataan sebaliknya justru derita dan kematian Yesus merupakan puncak pelayanan kasih-Nya kepada kita. Ia memberikan nyawa bagi tebusan kita. Kematian-Nya menjadi bukti konkret kerendahan hati (diri) pemenuhan nubuat ‘Hamba Allah yang menderita‘ dan kebesaran Diri-Nya, agar kita mendapat pengampunan dan jaminan hidup kekal. Melalui ‘Jalan Salib-Nya’, Yesus mengajarkan dasar kepemimpinan Kristiani, yakni menjadi hamba yang setia melayani sesama. Maka tempat di sebelah kiri dan kanan-Nya pasti diberikan bagi kita yang mampu hidup seperti-Nya: penuh kasih, semangat melayani sesama, pengorbanan dan kerja keras tanpa pamrih bagi kebahagiaan orang banyak.

Ya Tuhan, sering kali aku malas melayani dan tidak mau berkorban, tetapi ingin mendapatkan posisi dan pelayanan maksimal dari sesama. Ampunilah dan baruilah pola hidupku agar lebih berani melayani Dikau dan sesama dengan tulus. Amin.

 

Uskup mengecam serangan dan upaya pembakaran gereja di Argentina

Wed, 15/03/2017 - 12:41

Uskup Quilmes, di provinsi Buenos Aires, Argentina, Mgr José Carlos Tissera, menginformasikan bahwa tanggal 10 Maret 2017, setelah Misa sore, saat umat baru saja meninggalkan gereja Paroki Santo Yohanes Pembaptis, di lingkungan Florencio Varela, dua orang bertopeng melemparkan botol plastik berisi bensin ke dalam gereja dekat pintu masuk, dan membakarnya. “Api cepat dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran. Terima kasih Tuhan, api tidak menyebabkan kerusakan besar di dalam, tapi ketidaknyamanan dan kebingungan akibat asap yang muncul,” kata Uskup Quilmes. Menurut catatan yang dikirim ke Fides, Kepala Paroki Pastor Marcelo Eyheramendy bersama koster dan umat pergi ke kantor polisi untuk menyampaikan keluhan mereka. “Meskipun masih dini untuk menarik kesimpulan, kami bersama Pastor Marcelo percaya bahwa kejadian ini mungkin berhubungan dengan peristiwa lain yang terjadi hari Rabu, 8 Maret 2017, di Katedral Metropolitan Buenos Aires, dan hari Jumat tanggal 10 Maret 2017 di depan Katedral la Plata,” kata uskup itu. ”Kami mencela peristiwa serupa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, apakah terkait atau tidak dengan yang terjadi baru-baru ini di Florencio Varela,” lanjut uskup. Tanggal 8 Maret, dalam demonstrasi Hari Perempuan, sekelompok wanita melempari Katedral Buenos Aires dan mencoba membakar pintunya. Selain itu tanggal 10 Maret, sekelompok perempuan menampilkan sebuah tayangan sindiran asusila yang menampilkan Perawan Maria di depan Katedral Tucuman. (Agenzia Fides)

Uskup Quilmes, di provinsi Buenos Aires, Argentina, Mgr José Carlos Tissera Katedral Buenos Aires Katedral la Plata, Argentina

Selasa, 14 Maret 2017 

Tue, 14/03/2017 - 17:28

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santa Matilda, Pengaku Iman;

Bacaan I: Yes. 1:10.16-20

Mazmur: 50:8-9.16bc.17.21.23; R:23b

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan murid-murid-Nya: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Yesus mengkritik bukan saja kaum Farisi, tetapi juga semua pemimpin agama dan politik yang sering kali tidak mempraktikkan ajarannya sendiri, termasuk lalai memenuhi janji/sumpah politiknya dan hanya melakukan sesuatu untuk dilihat lalu dipuji orang (pencitraan). Kekuasaan yang disalahgunakan membuat banyak pemimpin menjadi sombong, suka menindas, membodohi, mencari hormat dan pujian; meskipun masih banyak pemimpin yang baik dan benar.

Kekuasaan bukan sarana untuk menguasai, tetapi memberdayakan sesama. Kekuasaan seyogyanya dipakai untuk melayani sesama. Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah, kita semua adalah sama—anak-anak-Nya, yang berbeda fungsi dan panggilan—, dan Ia pun berkata bahwa siapa saja yang ingin menjadi yang terbesar dan terkemuka harus mau melayani (bdk. Mrk. 10:43-45). Siapa saja yang meninggikan dirinya akan direndahkan, dan yang merendahkan diri akan ditinggikan (bdk. Mat. 23:12). Mari meneladani Yesus yang sekalipun Allah telah mengosongkan Diri-Nya, menjadi hamba, taat sampai mati sehingga Allah sangat meninggikan-Nya (bdk. Flp. 2:7-9). Setiap pemimpin dipanggil untuk berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik.

Ya Tuhan, karuniakanlah umat-Mu para pemimpin yang bijaksana dan arif. Dan bantulah aku agar memanfaatkan kekuasaan untuk kemuliaan nama-Mu dan kesejahteraan bersama. Amin.

 

Kardinal Jorge Bergoglio jadi Paus 13 Maret 2013 dengan sapaan pertama: Buona sera

Tue, 14/03/2017 - 13:25

Kardinal Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus yang ke-266 Paus tanggal 13 Maret 2013. Gaya rendah hati dan terus terangnya langsung terlihat saat dia mengucapkan kata-kata pertama sebagai Paus: “Buona sera” (Selamat Malam).

Empat tahun berjalan, reformasi Gereja dan Kuria yang dilaksanakannya berjalan terus dengan susah payah, namun ia terus menikmati pujian banyak orang yang setiap hari Rabu bersorak dalam Audiensi Umum mingguan dan setiap penampilan publik. Seruannya untuk belas kasihan dan keterbukaan serta jangkauan pastoralnya terhadap orang terpinggirkan dan orang paling rentan nampak jelas sebagai sifat konstan pelayanannya.

Di masa kepausan Fransiskus tahun lalu, kita merasakan beberapa saat yang tak terlupakan dan menerima beberapa ajaran penting seperti pelukan bersejarah dengan Patriark Kirill dari Ortodoks Rusia di Kuba, doa hening di Auschwitz, kanonisasi Ibu Teresa, perjalanan ekumenis ke Lund untuk menandai ulang tahun ke-500 Reformasi, dan penerbitan Seruan Apostolik “Amoris Laetitia.”

Bersama Alessandro Gisotti dari Radio Vatikan, Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin, salah seorang teman kerja terdekat Paus Fransiskus, melihat kembali apa yang terjadi di tahun silam. Mereka memulai dengan sapaan unik “buona sera” yang digunakan Uskup Roma yang baru itu dalam menyapa umatnya seraya meminta doa mereka. Jadi paus baru itu tidak hanya mempercayakan dirinya kepada Tuhan, tetapi kepada “umat Allah yang kudus.”

Langsung menjadi jelas, kata Kardinal Parolin, bahwa visinya tentang Gereja yang keluar, berjalan bersama-sama – gembala dan kawanan – yang dipercayakan kepada doa dan kepada kasih karunia serta belas kasih Allah, akan menjadi karakteristik-karakteristik penting Pontifikat yang baru itu. Sifat itu diperkuat oleh Bergoglio dengan pilihan nama “Fransiskus” dan oleh sikapnya yang memancarkan kesederhanaan, kedamaian dan ketenangan.

Kardinal Parolin menyoroti fakta bahwa meskipun Paus Fransiskus terus menghendaki Gereja yang keluar dan yang mampu menemani pria dan wanita yang berada dalam kesulitan dan yang mengalami tantangan hidup sehari-hari, dia sungguh selalu memperhatikan suara dan bimbingan Roh Kudus.

Juga ditunjukkan, meski Yubileum Tahun Belas Kasih sudah berakhir, belas kasih terus menjadi salah satu pilar kepausan Fransiskus. Namun ia menjelaskan, desakan Paus pada belas kasihan tidak berasal dari sensitivitas pribadi, tetapi terfokus pada kasih Allah dan pada misteri keselamatan.

Paus, kata Kardinal Parolin, “sedang mengarahkan kita kepada kasih Allah dan memastikan bahwa Gereja bertindak sebagai saluran kasih itu dan sebagai tempat perjumpaan antara belas kasih Allah dan manusia saat menjalani suka duka kehidupan di bumi.”

Kardinal Parolin juga mengatakan, banyak buah dihasilkan oleh Tahun Belas Kasih termasuk ‘penemuan kembali’ Sakramen Pengakuan Dosa oleh banyak umat Katolik dan perhatian besar pada kemiskinan.

Kardinal itu menggambarkan Seruan Apostolik pasca-sinode “Amoris Laetitia,” sebagai karunia yang sangat mendorong pelayanan pastoral keluarga, dan yang menghasilkan buah pembaharuan, harapan dan pendampingan bagi mereka yang mengalami kerapuhan keluarga.

Kritik terhadap Gereja dan ungkapan perbedaan pendapat juga diungkapkan kardinal itu dengan mengatakan “selalu ada suara-suara kritis dalam Gereja!”

Yang penting, kata kardinal, seperti dikatakan Paus sendiri bahwa kritik-kriik itu “tulus dan konstruktif, dan mau menemukan cara untuk kemajuan bersama dan cara lebih baik agar kehendak Allah terlaksana!”

Kardinal Parolin mengakhiri tanggapannya dengan mengatakan, inti kepausan Paus Fransiskus adalah keinginan untuk terus mereformasi Kuria karena ia percaya bahwa “Gereja harus terus mengupayakan  pertobatan, harus berusaha menjadi lebih otentik, menyingkirkan remah-remah yang terakumulasi dalam berabad-abad sejarah dan bersinar keluar dengan transparansi Injil.” (paul c pati berdasarkan Radio Vatikan)

Senin, 13 Maret 2017 

Mon, 13/03/2017 - 15:04

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santa Eufrasia; Besato Ludovikus dari Casoria

Bacaan I: Dan. 9:4b-10

Mazmur: 79:8.9.11.13; R:103:10a

Bacaan Injil: Luk. 6:36-38

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Renungan

Yesus mengajak kita bersikap murah hati seperti Bapa dan tidak mudah menghakimi sesama. Bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan sesama, tetapi kita diimbau untuk tidak munafik: hanya mampu melihat kesalahan sesama, namun enggan mengoreksi diri (bdk. Luk. 6:41-42). Memang terlalu sering kita menghakimi sesama, mengkritik dengan pedas di belakangnya serta menyebar fitnah tanpa bukti dan alasan yang wajar. Sering kita merasa sempurna dan superior sehingga tidak menaruh kasih terhadap kesalahan sesama. Bukannya memberi pengampunan dan membantu mereka mengatasi kesalahannya, kita malah tidak senang jika mereka bertobat dan berlaku benar. Maka, doa Daniel (9:4b-10) menjadi contoh yang bagus bagaimana kita harus lebih sering mengoreksi diri di hadapan Allah dan mohon kasih pengampunan-Nya.

Berlaku murah hati tidak terbatas pada kerelaan berbagi harta milik, namun juga tercermin dalam sikap saling mengasihi, penuh pengertian, toleransi, menerima perbedaan dan saling mengampuni. Semakin kita murah hati, maka semakin banyak pula kita menerima kemurahan dari Allah dan sesama (bdk. Mat. 5:7).

Ya Tuhan, kekanglah lidah, hati, dan pikiranku dari keinginan menghakimi sesama agar tidak menjadi congkak, sebab aku pun tidak sempurna. Aku mohon, ampunilah aku selalu, seperti aku pun harus mengampuni yang bersalah kepadaku. Amin.

 

Sebagai bagian utuh dari liturgi, tujuan musik liturgi tidak berbeda dengan tujuan liturgi

Mon, 13/03/2017 - 13:47

Musik liturgi adalah bagian penting dan utuh dari liturgi. Maka, logislah kalau tujuan musik liturgi sama dengan tujuan liturgi secara umum atau tidak berbeda dengan tujuan liturgi, tegas staf atau anggota ahli Komisi Liturgi KWI Petrus R Somba dalam pembekalan mengenai Musik Liturgi di Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah (KBI), Purwakarta.

Di depan 80 anggota koor lingkungan, dirigen, pemazmur dan organis di paroki termuda dari Keuskupan Bandung itu Petrus Somba menjelaskan, karena merupakan bagian penting dan utuh dari liturgi, musik liturgi tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus menjalankan tugas yang tidak boleh diganti atau dinomorduakan yakni, “berperan atau bertugas melayani liturgi, melayani ibadat kepada Tuhan.”

Seminar pembekalan 12 Mare 2017 itu dilaksanakan oleh Dewan Harian Paroki KBI untuk meningkatkan musik liturgi di paroki yang baru akan berusia dua tahun tanggal 1 Juni 2017 dan dalam rangka 50 tahun Musicam Sacram (MS), instruksi Konsili Vatikan II tentang musik dalam liturgi.

Musik liturgi harus selalu dikaitkan dengan konteks liturgi yang sedang dirayakan. Berarti, yang penting adalah liturgi, bukan hanya musiknya, kata Petrus Somba mengutip MS nomor 11: “Hendaknya dicamkan sungguh-sungguh bahwa kemeriahan sejati liturgi tidak tergantung pertama-tama pada indahnya nyanyian atau bagusnya upacara, tetapi pada makna dan perayaan ibadah yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis itu sendiri, dan pelaksanaan setiap bagiannya …”

Paus Benediktus XVI memperkuat hal itu dengan mengatakan dalam Sacramentum Caritatis (SC) nomor 42: “Sebagai unsur liturgi, nyanyian hendaknya sungguh dipadukan dengan seluruh perayaan. Oleh karena itu, segala sesuatu – teks, musik, dan pelaksanaannya – harus sesuai dengan makna misteri yang sedang dirayakan, struktur ritus dan masa liturgi.”

Menurut Petrus Somba, yang harus menjadi pedoman utama para pelayanan musik liturgi dalam menjalankan tugas pelayanan mereka dalam bidang musik adalah bahwa dalam liturgi atau ibadat itu “umat memuji dan memuliakan Allah dan di saat yang sama Allah hadir dan menguduskan umat-Nya.”

Kehadiran dan karya Allah itu, tegasnya, harus sungguh disadari. Dengan demikian, tegasnya, “seyogyanya kegiatan musikal dalam ibadat atau liturgi dilakukan dengan penuh penghormatan dan rasa syukur atas kehadiran Allah yang sedang berkarya menguduskan umat-Nya.”

Maka, kegiatan musikal dalam liturgi harus dilakukan tidak hanya dengan menggunakan musik dan nyanyian yang sesuai dengan kaidah musik, tetapi juga dengan kaidah musik liturgi dan cara membawakan yang pantas untuk menghormati Allah yang hadir dan berkarya, kata Petrus Somba.

Juga diingatkan, liturgi yang baik dan benar harus memenuhi lima kriteria yakni, tindakan (penuh kesadaran), bersama (seluruh gereja bukan perseorangan), suci (ada dasar teologis dan biblisnya), simbolis (ekspresi artistik dan kultural), dan resmi (mengikuti struktur dan tata perayaan yang baku).

Sebagai bagian penting dan utuh dari liturgi, musik liturgi memiliki beberapa fungsi sebagaimana ditegaskan dalam MS nomor 5, agar doa diungkapkan secara lebih menarik, misteri liturgi dinyatakan lebih jelas, kesatuan hati dicapai berkat perpaduan suara, hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat keindahan upacara kudus, seluruh perayaan lebih jelas mempralambangkan liturgi surgawi yang dilaksanakan di kota suci Yerusalem baru.

Karena demikian pentingnya musik liturgi yang merupakan bagian dari liturgi itu sendiri, Petrus Somba mengutip SC 113 a yang menegaskan: “Liturgi lebih agung bila diiringi dengan nyanyian meriah”. Lebih jauh lagi, SC mengingatkan para seniman music, bahwa mereka “dipanggil untuk mengolah musik liturgi dan memperkaya khazanahnya” (SC 121 a).

Selain Tradisi Musik Liturgi Gereja Katolik, pembicara mengajak pesera juga mendalami Nyanyian dalam Misa, Mazmur Tanggapan, Beberapa Catatan Penting tentang Masa Prapaskah dan Pakan Suci, serta Perayaan Perkawinan.

Dalam pembakalan itu Petrus Somba bukan saja memberikan materi tetapi berdialog dengan peserta serta memberikan beberapa contoh sambil bernyanyi, bermazmur dan bermain organ, dan di akhir pertemuan itu, dia duduk sambil memainkan keyboard mengiringi para pencinta musik liturgi Paroki Santa Maria KBI itu menyanyikan lagu dari Puji Syukur nomor 376: “Tuhan, ambil hidupku dan kuduskan bagi-Mu, waktuku pun pakailah memuji-Mu s’lamanya.”

“Seminar itu sangat bagus untuk menambah pengetahuan tentang musik liturgi. Pembicara sangat bagus pula. Penyampaiannya sederhana bisa dimengerti,” kata seorang anggota koor dan pemazmur dari Paroki KBI Leo Adi Prijama.

Sementara itu, seorang ketua Lingkungan, Joseph Manurung mengatakan bahwa seminar itu sudah terlaksana dengan baik, dan harapan DPP Paroki yang diungkapkan dalam pelaksanaan seminar itu “segera direalisasikan di lingkungan-lingkungan.”(paul c pati)

Pages