Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 2 hours 49 min ago

53 mahasiswa Universitas Ma Chung tinggal dan menjaga tujuh pusat keagamaan

Wed, 26/07/2017 - 20:11

Untuk meningkatkan nilai persatuan di tengah kebhinekaan dan merekatkan persatuan dan kesatuan antarsesama anak bangsa dalam menjaga Pancasila, Kebhinekaan, NKRI, dan UUD 1945, sebanyak 53 mahasiswa-mahasiswi Universitas Ma Chung Malang bekerjasama dengan Polres Batu melakukan kegiatan Orientation Based on Reflection, Lintas Iman Obor 2, di Kota Batu.

Selama tiga hari, para mahasiswa-mahasiswi itu tinggal dan menjaga tujuh pusat keagamaan yang ada di Kota Batu yakni Vihara Dhammadipa Arama, Klenteng Kwam Im Tong, Pondok Pesantren Darus Solichin, Seminari Tinggi SVD, Biara Suster SSpS Santa Maria, Komunitas Hindu di Pura Giri Arjuna, dan Komunitas Institute Injil Indonesia.

Dengan didampingi dosen, staf, alumni dan mahasiswa fasilitator, mereka diberangkkan tanggal 24 Juli 2017 Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto dari ruang pertemuan utama (Rupatama) Polres Batu.

“Setiap agama pasti mengajari toleransi, saya minta selama dalam kegiatan, peserta menjaga dan menghormati setiap kegiatan yang dilaksanakan pada masing-masing tempat ibadah,” kata Kapolres Kota Batu Budi Hermanto.

Budi Hermanto memberikan apresiasi kepada Universitas Ma Chung yang sudah melakukan kegiatan untuk memperteguh kebhinekaan kepada mahasiswa dan mengacu pada Nawacita Presiden Jokowi, dan berharap kegiatan itu dikembangkan dan dilaporkan dengan bagus, “hingga bisa mendorong toleransi umat beragama di mana pun.”

Felik Sadwindu Wisnu Broto, Kepala Pusat Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan, Universitas Ma Chung mengatakan, kegiatan itu merupakan acara tahunan yang diimplementasikan lembaganya “untuk membentuk karakter mahasiswa yang berdaya cipta pada masyarakat dan menghidupkan karakter toleransi antar umat beragama.”

Kegiatan itu dilaksanakan bekerjasama dengan kapolres karena memiliki visi sama. “Kita mendapatkan dukungan dari Kapolres Batu, karena visi kita sama,” ujar Felik. Tiga lalu, kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Malang, tahun 2016 di Kota Malang dan tahun ini dilaksanakan di Kota Batu.

Dengan menginap selama tiga hari di pusat peribadatan, diharapkan mahasiswa menjadi tahu ajaran serta kegiatan rohani di tempat ibadat itu. Mahasiswa menginap di tempat peribadatan yang berbeda dengan keyakinannya.

“Kita berharap mahasiswa kita berpikiran luas, karena dulu ada yang mengira salah satu pusat keagamaan itu mengajarkan ajaran radikal, ketika mereka hidup di sana selama beberapa hari, baru mereka paham bahwa anggapan mereka selama ini salah,” ujar Felik.

Selain itu, lanjutnya, diharapkan usai dari kegiatan itu, para mahasiswa membuat tulisan refleksi yang akan dibukukan, “hingga menjadi kekayaan keilmuan untuk mahasiswa atau pun untuk masyarakat.” (Felixianus Ali)

 

 

 

Rabu, 26 Juli 2017

Wed, 26/07/2017 - 14:02

PEKAN BIASA XVI

Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua Santa Peawan Maria (P)

Bacaan I: Sir. 44:1. 10-15

Mazmur: 132:11.13-14.17-18

Bacaan Injil: Mat. 13:16-17

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Renungan

“Mereka adalah orang-orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa” (Sir. 44:10). Kata-kata itu tepat untuk mengungkapkan penghormatan kepada Yoakim dan Anna, yang adalah orangtua Maria, ibu Yesus. Tradisi mengisahkan bahwa mereka tidak henti-hentinya memohon kepada Tuhan agar dikaruniai anak, hingga lahirlah Maria yang kelak mengandung Yesus Kristus, Mesias. Allah mempersiapkan kelahiran Yesus di dunia melalui orang-orang yang patut dipuji karena kesalehan dan iman mereka. Ketika bersabda, ”Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat. 13:16), Yesus mengacu kepada mereka yang telah dipakai oleh Allah untuk mendatangkan keselamatan bagi umat manusia di muka bumi. Orang-orang yang mau bekerja sama dengan rencana Allah ini pantas disebut ’berbahagia’ karena telah diizinkan melihat dan mendengar bagaimana firman Allah benar-benar terlaksana dalam sejarah melalui diri mereka.

Apakah kita juga pantas disebut ’berbahagia’ karena bersedia dipergunakan Tuhan dalam rencana penyelamatan-Nya? Kita, dengan panggilan dan jalan hidup masing-masing, diundang untuk setia melakukan kebajikan dan karenanya menjadi orang-orang kesayangan Tuhan yang selalu siap ketika dibutuhkan.

Tuhan, Engkau memerlukan peran serta manusia dalam pemenuhan janji kese­lamatan-Mu. Semoga aku dengan sukacita mempersiapkan dan menyediakan diri untuk Kaupergunakan sesuai dengan rencana-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Rolly Untu MSC: Lancarnya tahbisanku adalah hasil 22 pertemuan berkala OMK keuskupan

Tue, 25/07/2017 - 17:52

Wawancara dengan Uskup Manado yang baru Mgr Rolly Untu MSC        

             Terkejut. Itu suasana yang dirasakan Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC saat tahu ditunjuk sebagai Uskup Manado menggantikan Uskup Emeritus Manado Mgr Josef Suwatan MSC. “Kog saya, ada begitu banyak imam di sini?” tanya Mgr Rolly yang menyadari kelemahan dan keterbatasannya. “Orang tahu siapa saya, tetapi mereka memilih saya. Mereka mengharapkan sesuatu, maka saya berpikir apa yang harus saya perbuat untuk keuskupan ini, karena begitu lama saya tidak mengikuti yang terjadi di sini.”

            Meski merasa lemah, Mgr Rolly Untu merasa pengalaman dikasihi Tuhan adalah kekuatannya. “Kisah panjang pengalaman hidup saya menerangkan bahwa Tuhan mengasihi saya dan Tuhan mau memakai saya. Maka, dengan penuh kepasrahan saya katakan, kalau Tuhan menghendaki, saya akan laksanakan tugas itu dengan kesadaran untuk membagikan pengalaman dikasihi kepada semakin banyak orang,” kata uskup baru itu.

            Mgr Rolly Untu menghabiskan pendidikan imamat selama 15 tahun, tujuh tahun di antaranya di Seminari Menengah Kakaskasen, yang dimulai setelah tamat SD. Banyak hal dia alami di seminari itu, antara lain pengalaman rohani, peningkatan kepribadian, dan upaya bertahan dan berjuang bersama teman-teman tingkat SMP yang masih berantem, bersaing, dan berjuang untuk bisa eksis dan bertahan. “Dalam arti tertentu kita menang melewati tujuh tahun di sana. Begitu lama kita dibentuk, diasah terus, dan menjadi batu murni.”

            Akhirnya, mantan Provinsial MSC Indonesia itu ditahbiskan menjadi Uskup Manado, 8 Juli 2017. Beberapa hari setelah menerima tahbisan dari Mgr Antonio Guido Filipazzi yang kini Duta Vatikan untuk Nigeria, Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC menerima Paul C Pati dari PEN@ Katolik di Wisma Keuskupan Manado untuk wawancara.

PEN@ Katolik: Awal Agustus, Orang Muda Katolik (OMK) se-Asia akan mengadakan Asian Youth Day di Yogyakarta, yang tentu akan dihadiri wakil-wakil Keuskupan Manado. Apa sebenarnya kebutuhan OMK yang Mgr Rolly lihat selama ini?

            MGR ROLLY UNTU MSC: Kebutuhan OMK saat ini, sama halnya saat saya masih muda, yakni kebutuhan diakui dan dihargai serta diberi tempat dalam kehidupan umat atau Gereja. Perhatian adalah bagian dari hak kaum muda, masa depan Gereja yang sekarang mulai belajar guna kaderisasi.

            Masa muda saya lebih di seminari menengah. Di sana seminaris mempersiapkan diri dengan berbagai cara, rohani, akademik, intelektual, kehidupan bersama, kehidupan kepribadian, dan mulai belajar melakukan perutusan dalam lingkungan terbatas. Saat itu kami melatih dan mengetahui apa artinya diutus ke lingkungan tempat saya hidup dan berkarya.

            Saya mengalami dan percaya kalau orang muda diberikan peran atau kesempatan maka banyak kreativitas akan bermunculan, dan inilah sumbangan berarti bagi kehidupan umat atau Gereja.

Lalu apa tantangan OMK saat ini?

            Saya lahir dalam keluarga besar. Sekarang lebih banyak keluarga kecil dengan satu atau dua anak. Pembentukan seorang anak muda tentu berbeda, tergantung keluarga masing-masing. Namun, bukan berarti keluarga kecil tidak akan menghasilkan hal yang wah. Contoh, keluarga Nazareth, Yosef Maria dan Yesus, dan keluarga Mgr Josef Suwatan MSC (uskup emeritus Manado). Mgr Suwatan hanya dua bersaudara, tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Semua tergantung keluarga.

            Tantangan sekarang adalah begitu banyak fasilitas. Dulu fasilitas terbatas, belum ada TV, apalagi hp. Maka, banyak waktu lebih terfokus. Sekarang begitu banyak tawaran. Kalau orang tidak fokus, dia terbawa oleh lingkungan. Nah di situlah OMK perlu mendapat perhatian lebih untuk membina diri dalam keluarga atau melihat dalam kebersamaan mana nilai yang paling utama dalam kehidupan ini.

Keuskupan Manado unggul dalam hal pertemuan berkala OMK sekeuskupan yang sudah berlangsung 22 kali sejak 1980. Apakah hasilnya?       

            Saya belum begitu masuk dalam pertemuan-pertemuan itu, karena saya banyak di luar keuskupan. Tapi, melihat pentahbisan saya sebagai uskup sejak ibadat sore agung di katedral, hingga upacara tahbisan di Stadion Maesa Tondano, dan Misa Perdana di katedral, yang berjalan dengan baik, dengan kehadiran banyak orang dari mana-mana, serta kesaksian beberapa orang dari luar keuskupan, yang sudah beberapa kali menghadiri tahbisan uskup, bahwa upacara tahbisan saya ini luar biasa, saya merasa itu antara lain hasilnya.

            Melihat lancarnya semua upacara berkaitan dengan tahbisan saya, disiplin umat yang hadir, liturgi yang diatur baik, dan keterlibatan begitu banyak kelompok dan orang, mereka mengatakan umat di sini hidup. Nah, kekuatannya dari mana? Jawabannya, dari keluarga-keluarga. Maka berbicara tentang hasilnya pertemuan berkala itu, saya katakan, rangkaian upacara tahbisan saya itu antara lain hasilnya.

            Berarti, berkat binaan sebelumnya dalam level paroki, kevikepan, lalu keuskupan dalam kaitan dengan pertemuan berkala, OMK dan orangtua yang pernah mengikuti pertemuan berkala itu sudah biasa dengan pertemuan seperti itu. Buktinya, umat dari luar keuskupan memuji koordinasi atau cara pengaturan acara sebesar itu. Bukankah itu menekankan ada komunikasi yang baik satu sama lain.

            Itu hasilnya. Acara akbar atau besar ini bisa lancar menggambarkan bahwa umat di keuskupan ini sudah terbiasa dengan pertemuan-pertemuan besar seperti ini. Sudah terbiasa dengan koordinasi dan komunikasi. Mereka tahu apa yang mereka harus buat.

Bagaimana masalah pastoral di keuskupan ini?

            Hasil pertemuan berkala itu sudah luar biasa. Namun, kalau kita masuk lebih jauh ke dalam,  barangkali ada hal-hal yang perlu ditingkatkan. Sudah baik bukan berarti sudah sempurna. Sama seperti ciptaan. Dikatakan bahwa Allah menciptakan dunia ini baik adanya, tapi baik tidak sama dengan sempurna. Oleh karenanya, penciptaan masih jalan terus.

            Begitu juga dengan kehidupan pastoral di keuskupan ini. Ada yang sudah baik dengan hasil seperti rangkaian upacara pentahbisan tadi, namun kita lihat juga kenyataan bahwa ada hal-hal yang perlu ditingkatkan lagi, diperbaharui dan disempurnakan terus-menerus. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi tentang Gereja juga menegaskan “Ecclesia semper reformanda” (Gereja, yaitu kita semua umat Allah, senantiasa harus diperbaharui). Adalah tugas para uskup dan para imam untuk membaharui diri terus-menerus.

            Tugas ini, jujur, adalah beban berat. Tapi Yesus mengatakan, “Datanglah kepada-Ku kalian yang letih lesuh dan berbeban berat.” Yesus tahu juga ini tidak mudah. Dia juga bergumul dengan maut ketika menerima tugas yang Dia katakan berat, “kalau boleh biarkan piala ini lepas daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Karena ini tugas, apapun kita harus hadapi.

Saat berjanji dalam ibadat sore agung menjelang tahbisan, Mgr berjanji untuk dengan seksama akan memperhatikan pengelolaan harta benda Gereja.

            Yang ada dalam janji itu adalah standar yang diminta Vatikan, yang berlaku umum di mana-mana. Tentu isinya begitu karena ada pengalaman. Itu bukan undang-undang atau pedoman yang dibuat di atas awan dan turun dari langit. Tidak.

            Namun saya ingin mengatakan bahwa moto saya “Dalam terang-Mu, kami melihat terang” adalah visi saya. Itu kemudian akan dijabarkan dalam misi, sesuai yang diharapkan pimpinan Gereja atau Paus, atau diimplementasikan dalam sasaran-sasaran atau bidang-bidang yang akan disasar. Misalnya, bidang pastoral dengan mempersatukan umat dan para imam, pembinaan calon imam serta pembinaan imam. Kekuatan dalam Gereja adalah pembinaan. Ujung-ujungnya adalah juga menata harta benda Gereja.

            Menata keuangan adalah bagian dari pendidikan untuk para pastor dan umat. Saya mau belajar apa yang terjadi di sini, walaupun saya sendiri dari sini. Saya pernah bertugas di sini, tapi lebih banyak di rumah bina. Saya memang pernah membantu di paroki, asistensi, melihat realita yang terjadi, termasuk bagaimana mengatur kolekte, juga siapa yang memegang uang yang masuk ke paroki. Itu bagian dari pendidikan dan pembinaan yang butuh waktu, baik untuk pastor dan untuk umat.

            Ada tradisi di sini yang mengatakan “kase jo pa pastor” (berikan saja kepada pastor) supaya uang tidak “macam-macam” oleh umat, dengan mengandalkan bahwa pastor dapat dipercaya. Mungkin ketika dilibatkan, umat kurang terampil atau kurang dipersiapkan, sehingga daripada berantem, pastor saja yang memegang uangnya. Dalam paroki-paroki tertentu hal ini masih ada. Mereka mengatakan, pastor saja yang pegang uang, kenapa mau repot. Itu satu cara berpikir.

            Saya tak mau pusing dengan itu. Bukan dalam arti tak mau peduli, bukan. Serahkan saja kepada tim, mereka yang urus. Saya mau fokus pada pelayanan pastoral. Seperti halnya Gereja perdana, ketika ada konflik di antara para rasul diputuskan untuk memilih tujuh diakon yang diangkat untuk mengatur atau melayani meja, supaya ada pembagian tugas. Ini bukan baru sekarang. 2000 tahun sudah ada.

Sebagai uskup baru, apakah Mgr mulai merasakan tantangan yang akan dihadapi?

            Tantangan saya adalah bagaimana terus-menerus membangun persekutuan umat, terutama kolegialitas para imam. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh adalah peribahasa sangat bijaksana yang berlaku di mana-mana dalam setiap organisasi, juga dalam organisasi Gereja Katolik yang terbesar. Kita harus menjaga itu. Itu tantangan kuat, menjaga persatuan umat, persatuan di antara para pastor.

            Tantangan lain, sama dengan tantangan OMK yang menghadapi rupa-rupa kemajuan, demikian  juga tantangan dalam pembinaan calon imam dalam menjawab kebutuhan jaman ini dengan berpedoman pada Injil. Nah, bagaimana itu pun diterapkan kepada umat. Di gereja saja, masih jalan terus. Sementara kotbah, komunikasi dengan luar gereja masih jalan.

            Lihatlah dalam keluarga, komunikasi dengan pihak luar lancar, sedangkan komunikasi satu sama lain dalam keluarga dan komunitas saat makan bersama, misalnya, terhambat, karena semua sibuk sendiri berkomunikasi dengan pihak luar.

Apakah luasnya keuskupan yang mencakup tiga propinsi secara keseluruhan ini juga menjadi tantangan?

            Benar, keuskupan ini mencakup Sulawesi Utara, Propinsi Gorontalo, dan Propinsi Sulawesi Tengah. Umat tersebar di mana-mana. Ada tantangan jarak. Tapi, ini bukan hal baru sekarang. Ini sudah sejak 100 tahun lalu, ketika para misionaris datang ke sini. Dulu jauh lebih parah lagi. Dulu di tahun 60-an hanya ada enam paroki. Paroki Lembean yang ada di Sulawesi Utara harus membawahi semua umat di Sulawesi Tengah.

         Sekarang dengan pemekaran jadi 61 paroki dan 2 kuasi paroki disertai penempatan pastor di situ, tantangan semakin ringan. Maka, jangan mengeluh jauh lagi, karena sekarang kapan pun bisa ke dua propinsi itu untuk memberikan Sakramen Penguatan dan lain-lain. Semua sudah disiapkan. Sekarang bisa terbang kapan pun. Tidak seperti dulu.

            Tantangan paling berat sekarang adalah diri sendiri, uskupnya, imam-imamnya. Dulu misionaris bisa melayani di tengah beratnya medan dan keterbatasan fasilitas, mengapa sekarang dengan banyak kemudahan orang merasa seolah-olah lebih berat. Ini karena hati yang tidak ada kasih. Omong doang. Ketika dituntut berbuat lebih, muncul rupa-rupa alasan, tidak ada signal atau apa saja. Padahal dulu tanpa signal sama sekali, mereka enjoy, berbulan-bulan tidak datang ke Manado, bertahun-tahun tidak cuti ke keluarga, 10 tahun baru ketemu keluarga di Manado. Sekarang sepertinya ada yang hilang yakni diri sendiri, karena tidak puas dan tidak bersyukur dengan apa yang sudah diberikan.***

 

 

Selasa, 25 Juli 2017

Tue, 25/07/2017 - 15:02

PEKAN BIASA XVI 

Pesta Santo Yakobus, Rasul (M)

Bacaan I: 2Kor. 4:7-15

Mazmur: 126:1-2ab.2c-3.4-5.6; R: 5

Bacaan Injil: Mat. 20:20-28

Sekali peristiwa, menjelang kepergianYesus ke Yerusalem, datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: ”Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: ”Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan

“Bejana tanah liat” (bdk. 2Kor. 4:7) adalah gambaran yang sangat tepat bagi sosok manusia beriman, supaya senantiasa menyadari berbagai kelemahan yang masih melekat pada dirinya kendati sudah berjanji setia kepada Kristus. Kelemahan itu juga masih ada dalam diri Yakobus rasul yang kita rayakan pestanya hari ini. Ketika menanggapi permintaan ibu Yakobus soal posisi bagi anak-anaknya di Kerajaan Allah, Yesus mengingatkan, ”Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:26-27). Iman dan kesetiaan pada Kristus berarti menempatkan diri di hadapan sesama sebagai pelayan. Artinya, seorang pengikut Kristus harus melepaskan ambisi pribadi dan kelekatan-kelekatan duniawi yang hanya akan menghalangi semangat kasih dalam pelayanan kepada sesama.

Ada yang mengatakan bahwa ambisi itu penting dalam perjuangan hidup di dunia. Tanpa ambisi, orang akan sulit bertahan dalam iklim yang mengutamakan prestasi. Akan tetapi, kita juga tahu bahwa ambisi kita sering diarahkan pada kepentingan pribadi, sedangkan semangat Kristus adalah pelayanan demi keselamatan banyak orang. Itu sebabnya, kita perlu berhati-hati dengan keinginan pribadi yang hendak kita paksakan dalam kebersamaan iman dengan orang lain.

Yesus Kristus, Tuhanku, Engkau memberikan diri-Mu sebagai sumber kekuatan bagiku dalam menjalani kehidupan. Semoga aku berani mengikuti teladan-Mu dan melayani orang lain, khususnya ketika aku dipercaya untuk menjadi pemimpin. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Suster Tresia OP dari Indonesia ucapkan kaul kekal di Kongregasi Suster-Suster OP Anunciata Filipina

Mon, 24/07/2017 - 23:53

 

Suster Tresia OP (tengah) bergambar bersama Suster Patricia OP dan Suster Teresa OP dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia yang hadir dalam Misa Pengikraran Kaul Kekal Suster Tresia OP

“Kekuatan Tuhan (the Power of God), Janji Tuhan (the Promise of God) dan Kesabaran Tuhan (the Patience of God) adalah tiga hal yang merupakan berkat anugerah bagi kita semua, bagi kamu semua, para suster yang sebentar lagi akan mengikrarkan Kaul Kesetiaan untuk selama-lamanya.”

Uskup Agung Lingayen, Dagupan, Filipina, Mgr Socrates Buenaventura Villegas berbicara dalam homili Misa Kaul Kekal lima suster Dominikan Anunciata Filipina, Suster Maria Huynh Tri Hoang Tram OP (Vietnam),

Suster Maria Ngo Thi Kim Thu OP (Vietnam), Suster Tresia OP (Indonesia), Suster Ana Nguyen Thi Ngoc La OP (Vietnam) dan Suster Regina M Ramos OP (Filipina), di hadapan Prioress General Suster Maria Natividad Martinez de Castro OP di Gereja Santo Dominikus Pengasinan, Filipina, 16 Juli 2017.

Suster Tresia OP, yang lahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara di Pulau Tello, Nias, Sumatera Utara, dan sudah menyelesaikan pendidikan akuntansi tahun 2004, masuk sebagai aspiran Kongregasi Suster-Suster Dominikan Anunciata Filipina tahun 2007 dan mengikrarkan kaul pertama, 5 Juni 2011.

“Walau kamu hanya akan mengucapkannya dalam kata-kata, namun ingatlah selalu bahwa kata-kata merupakan ‘kekuatan’,” lanjut Mgr Villegas dalam homilinya bertema “The Best is yet to come,” seraya mengingatkan bahwa Sabda telah menjadi Daging, dan tinggal di antara kita,  dan dengan Sabda (kata-kata) Tuhan Allah, maka terciptalah bumi dan seluruh isinya ini.

“Berhati-hatilah dengan kata-kata yang kauucapkan, karena kata-katamu mempunyai kekuatan! Tetapi, kata-katamu akan menjadi kekuatan Kudus, jika kata-kata memang berasal dari Tuhan, karena kekuatan sejati dan kata-kata janji setia bukanlah dari mulutmu semata, tetapi datang dari perilaku cinta kasih sejati yang menyertainya. Kata-kata yang di dalam Tuhan, menjadikan kita selalu akan diselamatkan. Demikian pula, seandainya kamu tak bisa berkata-kata namun memiliki cinta kasih begitu besar, kamu pasti punya kekuatan besar juga, dan pasti akan diselamatkan,” lanjut uskup.

Dominican Sisters of the Anunciata adalah kongregasi religius apostolik dengan hak pontifikal yang didirikan oleh Santo Fransiskus Coll, seorang imam Dominikan berkebangsaan Spanyol tahun 1856 di Catalonia, Spanyol, cerita Suster Tresia OP.

Dua alasan pendirian kongregasi ini adalah terbengkalainya pendidikan perempuan dan anak-anak masa itu. Selain itu,  lanjut Suster Tresia OP, Padre Coll menjumpai banyak perempuan yang punya panggilan membiara, tapi  tak dapat mewujudkannya karena masa itu perlu “mas kawin” untuk masuk biara.

Awalnya, pendirian kongregasi menghadapi banyak tantangan mulai dari ketidaksetujuan uskup setempat, karena kaum perempuan yang masuk kongregasi tidak punya keterampilan. Namun, berkat argumen Padre Coll tentang “bagaimana nasib umat?” uskup pun merestui.

Banyaknya tantangan yang dihadapi dan bagaimana semua bisa diatasi membuat Padre Coll selalu mengatakan, “kongregasi adalah karya Tuhan semata-mata dan bukan karyanya.” Bahkan ia mengatakan, “kongregasi didirikan oleh Santo Dominikus sendiri.”

Dominicas de la Encarnacion de Hijo de Dios (Suster-Suster Dominikan dari Inkarnasi Putra Allah) adalah nama awal kongregasi itu. Namun, ketika Padre Coll telah tiada, dalam edarannya Pastor Enrich OP dari Spanyol yang menjadi direktur kedua menasihati para suster untuk meneladani misteri Maria Menerima Kabar Gembira. Dalam surat edaran selanjutnya ia memanggil para suster sebagai suster-suster Anunciata. Pada hakekatnya kedua nama mempunyai arti yang sama, jelas suster itu.

Saat ini, kongregasi itu telah menyebar di 22 negara di Eropa, Latin Amerika, Afrika dan Asia. Di Asia, kongregasi memiliki tiga komunitas di Filipina dan satu di Vietnam, demikian Suster Suster Tresia OP yang tinggal di Biara Suster Dominikan Anunciata, 12 P. Bernardo Street, Cubao, Quezon City, Philippines, dengan email tr3s_wen@yahoo.co.id. (Andrei Kurniawan OP)

Suster Tresia OP dari Kongregasi Suster-Suster Dominikan Anunciata Filipina bersama ibunya Suster Tresia OP dengan Ibu Pembimbing Rohaninya Suster Tresia OP (paling kanan) di Malam Panggilan sebelum kaul kekal Suasana Malam Panggilan, sebelum Misa Pengikraran Kaul Kekal, yang diikuti semua suster dalam komunitas.

 

Senin, 24 Juli 2017

Mon, 24/07/2017 - 13:30

MINGGU BIASA XVI

Sharbel Mkhluf, Niceforus, Yohanes Soret, Lusia dari Savoyen

Bacaan I: Kel. 14:5-18

Mazmur: Kel. 15:1-2,3-4,5-6

Bacaan Injil: Mat. 12:38-42
warna liturgi Hijau

 

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

Renungan

Karena ketakutan melihat tentara Mesir yang mengejar, orang Israel mempertanyakan keputusan Musa membebaskan mereka dari penindasan. Akan tetapi, Tuhan justru menggunakan situasi itu untuk menampakkan kekuasaan-Nya melalui tangan Musa (bdk. Kel.14:16-18). Di masa yang berbeda, ketika menanggapi permintaan ahli Taurat dan orang Farisi akan tanda, Yesus menegur kekerasan hati mereka, padahal Ia yang hadir di antara mereka itu lebih daripada Yunus maupun Salomo (bdk. Mat. 12:41-42). Iman seseorang akan tercermin dalam reaksinya ketika mengalami situasi yang sulit atau berada dalam keraguan atas keputusannya sendiri. Seharusnya reaksi seseorang yang sungguh-sungguh beriman adalah mempercayakan hidupnya hanya kepada Tuhan dan berani berubah setelah mengalami peristiwa rahmat. Adalah mengeherankan bahwa pengalaman diselamatkan dari penindasan tidak serta-merta membuat manusia lelbih percaya pada peran Tuhan dalam hidupnya.

Berapa banyak tanda lagi yang masih kita perlukan? Hingga kini masih ada orang Kristiani yang ‘menuntut’ rahmat dan jawaban atas doanya kepada Tuhan sebagai syarat bahwa kalau itu didapatkan, ia akan tetap setia dalam imannya. Tuhan tidak dapat kita ‘atur’. Yang seharusnya kita atur adalah reaksi kita sendiri supaya jangan sampai menyia-nyiakan seluruh pengalaman iman yang sudah membentuk kehidupan kita.

Tuhan Yesus Kristus, kuasa-Mu selalu melampaui berbagai ketakutan dan keraguanku. Semoga aku lebih peka melihat tanda-tanda kehadiran dan tindakan-Mu dalam berbagai peristiwa kehidupan. Amin.

 

Ziarah Batin 2017

 

Menulis adalah ibadah karena dalam tulisan disampaikan pesan pewartaan dan Kabar Baik

Sun, 23/07/2017 - 19:12

“Pekerjaan menulis merupakan salah satu bentuk ibadah karena di dalamnya, tulisan-tulisan itu ingin menyampaikan pesan pewartaan, Kabar Baik dari Allah sendiri,” kata Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung Pr saat membuka Pelatihan Jurnalistik bertema “Menjadi Penulis Produktif: Media sebagai Sarana Pewartaan Injil” yang berlangsung di Rumah Bina Saron, Larantuka, 20-22 Juli 2017.

Dalam sambutan peresmian pelatihan itu, Mgr Frans menggarisbawahi pentingnya para pelaku Komsos Paroki untuk tak henti mewartakan Kabar Baik kepada umat. Oleh karena itu, kata uskup “para pelaku Komsos Paroki pertama-tama harus punya niat dan ketertarikan terlebih dulu dalam dunia tulis-menulis. Setelah itu, mereka baru akan bisa merasakan sukacita dan kegembiraan, karena menikmati tugas-tugasnya dengan baik.”

Hadir dalam pembukaan pelatihan jurnalistik para pegiat Komsos Paroki se-Keuskupan Larantuka yang merupakan kerjasama antara Komisi Komsos Keuskupan Larantuka dengan Komisi Komsos KWI adalah Ketua Komisi Komsos Keuskupan Larantuka Pastor Tobias Tube Kerans Pr, Ketua Sekpas Keuskupan Larantuka Pastor Eduardus Djebarus Pr, dan beberapa imam Keuskupan Larantuka yang berkarya di Sekpas Larantuka. Mgr Kopong Kung hadir juga dalam Ibadat Sabda pembukaan pelatihan itu.

Menurut Pastor Eduardus Djebarus, pelatihan seperti itu sangat berguna untuk peningkatan kualitas dan pengembangan wawasan serta keterampilan para pelaku Komsos di paroki-paroki. Sementara itu, menurut Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Pastor Kamilus Pantus Pr pelatihan jurnalistik seperti ini baru pertama kali dilakukan di Keuskupan Larantuka.

Dalam pelatihan jurnalistik itu, 45 peserta yang terdiri dari utusan paroki dan sekolah, belajar tentang teknik penulisan fakta, praktek penulisan fakta, teknik dan praktek penulisan feature, teknik dan praktek penulisan opini, pengenalan lay out, pengenalan wawancara, praktek dan penulisan wawancara, belajar menjadi admin website, dan menulis di website.

Pastor Tobias Tube Kerans mengatakan dalam sambutannya bahwa tujuan kegiatan itu adalah agar peserta bisa mengembangkan semua sarana pewartaan di parokinya, khususnya majalah atau berita paroki, dan untuk membantu karya pewartaan Komisi Komsos Keuskupan, sebagai penulis dan pewarta, sebagai supplier berita dari setiap paroki masing masing. (Emanuel Bataona)

Yesus, Alam dan Kita

Sat, 22/07/2017 - 23:06

Hari Minggu 16 Biasa

23 Juli 2017

Matius 13: 24-43

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya (Mat 13:31).”

Dari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita di dalam Injil hari ini, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, lalang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia. Pria dan wanita mengolah tanah, mematuhi siklus alam, menabur benih yang disiapkan dengan baik, menjaga pertumbuhan dan kemudian memanen hasilnya untuk kebaikan komunitas. Penggunaan ragi adalah metode masak yang sangat kuno. Wanita akan menempatkan ragi dalam adonan, dan mikroorganisme ini akan berinteraksi dengan karbohidrat dalam tepung, menciptakan karbon dioksida, dan sebagai akibatnya, adonan ragi akan berkembang. Meski roti tidak beragi akan bertahan lebih lama, ragi ini akan membuat roti lebih lembut dan lebih nikmat untuk dikonsumsi.

Dengan menyebutkan keindahan alam dan kreativitas manusia, Yesus mengakui kehebatan Tuhan, sang pencipta dan juga kebaikan dari ciptaan-Nya. Dia melihat harmoni antara alam dan manusia, dan ketika keduanya bekerja sama, semua akan mewujudkan keindahan dan kemuliaan Tuhan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahwa sang jahat bekerja untuk menghancurkan keselarasan ini, dengan menanam benih keserakahan, kebencian dan ketidakadilan di dalam hati kita. Alih-alih menggunakan bakat dan akal yang diberikan Tuhan untuk memelihara alam, kita memilih untuk memanipulasinya dan memanfaatkan alam untuk keuntungan dan kesenangan kita sendiri.

Sebagai contoh, kita bangga dengan telepon selular kita. HP telah menjadi gaya hidup modern, dan kita terus memburu model terbaru yang lebih canggih. Namun, kita tidak sadar bahwa ada pria, wanita dan bahkan anak-anak bekerja dalam kondisi mengerikan di dalam rantai produksi yang panjang ini. Sebuah ponsel adalah kombinasi logam yang kompleks, dan salah penambangan adalah cara mudah namun pada saat bersamaan paling bermasalah untuk mengambil mineral-mineral ini dari perut bumi. Misalnya, sebagian besar baterai ponsel terbuat dari kobalt, dan penambangan kobalt tidak hanya menyebabkan masalah lingkungan yang besar, tapi juga memicu konflik bersenjata di Kongo, menyebabkan hilangnya nyawa manusia, dan masalah pengungsi yang hebat. Bahan lainnya seperti tembaga dan alumunium berasal dari negara berkembang seperti Indonesia, Cile dan Filipina, dan menyebabkan permasalahan lingkunagan hidup. Itu hanya sebuah HP; Gadget lain seperti laptop, komputer, dan perangkat elektronik lainnya, memerlukan lebih banyak lagi bahan-bahan baku ini.

Saya sendiri ikut serta dalam masalah lingkungan ini, karena saya menulis refleksi ini di laptop tua saya, dan mengirimkannya melalui komputer atau ponsel saya. Saya percaya bahwa banyak dari kita ingin mengikuti Yesus dalam melestarikan keharmonisan antara alam dan kreativitas manusia, tetapi kita terjebak dalam jaring ketidakharmonisan global ini. Namun, kita tidak boleh putus asa. Kita tidak perlu membuang gadget kita, tapi setidaknya kita harus sadar akan ketidakadilan besar yang dilakukan terhadap alam dan sesama manusia. Kita juga diajak untuk lebih sadar dengan apa yang kita miliki, seperti pakaian, makanan dan listrik, dan bagaimana proses pengolahan mereka seringkali telah merusak alam. Untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan kita, berarti mengikuti teladan-Nya untuk memperhatikan bagaimana alam bekerja dan menghargai kecerdasan manusia. Selain itu, kita diajak untuk mengikuti jejak-Nya dalam merawat ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan dengan indah oleh Bapa-Nya dan juga Bapa kita.

 

 

Pastor Bollen iklankan Flores lewat Sea World Club, bangun kehidupan sosial ekonomi orang Sikka

Sat, 22/07/2017 - 01:24

Pastor Heinrich Bollen adalah misionaris SVD asal Jerman yang dikenal luas di Maumere karena karya monumentalnya dalam membangun kehidupan sosial ekonomi orang Sikka. Namun, tanggal 2 Juli 2017 merayakan HUT ke-88, anak kedua dari Pasutri Johann Bollen dan Katharina Leitheiser itu memilih tinggal di Sea World Club, Waiara, Maumere, yang didirikannya, karena kondisi kesehatan menurun.

Sepertinya, pastor pariwisata Indonesia Timur itu mau menyiapkan hari-hari senja kehidupannya di villa itu, sebuah cottage pantai yang sudah mendunia.

Di sana imam itu tetap menjalankan pastoral khusus untuk pendampingan rohani bagi turis mancanegara sekaligus mempromosikan Cottage Sea World Club dan mengiklankan Flores lewat berbagai dokumen audio-visual perihal kehidupan sosio-budaya orang Flores dan panorama indah Flores.

Tidak sekedar memperkenalkan Flores, Pastor Bollen telah membangun jaringan internasional peduli Flores, sehingga banyak orang menjadi mitra personal Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (YASPEM) yang didirikan pastor itu. Mereka memberikan kontribusi melalui berbagai cara untuk kegiatan pemberdayaan warga Flores.

Ketika menjadi kepala paroki Watublapi (1962-1974), tiga prioritasnya adalah memerangi kelaparan yang selalu terjadi setiap tahun, mengatasi krisis air selama musim kering, dan melakukan sesuatu melawan pelbagai penyakit.

Peningkatan pertanian menjadi kata kunci mantan pastor pendamping umat Jerman di Jakarta (1986-1993) itu dalam memecahkan masalah kelaparan. Pastor Bollen bukan saja mendorong penanaman tanaman pangan, tetapi menggerakkan masyarakat untuk menjadikan tanaman kakao sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat Sikka. Upaya itu membuat imam digelari “pastor cokelat.”

Pastor asal Jerman yang menerima tahbisan imamat 15 Mei 1958 itu tidak hanya berdiam di pastoran. Dia sendiri terjun dari kebun ke kebun untuk memperkenalkan penanaman kakao yang baik dan mengajarkan pengolahan pasca panen yang memenuhi standar pasar di Surabaya.

Untuk mengatasi kesulitan air terutama di musim kering, imam itu mengajak umatnya membangun embung permanen penampung suplai air hujan. Ide yang tidak biasa ini mendapat tantangan dari umat. Namun Pastor Bollen dari rumah ke rumah mengajak orang menggali tanah dan dengan bahan bangunan bantuan dari berbagai pihak di Maumere dia berhasil membangun embung.

Tahun 1968 angka penderita TBC cukup tinggi. Untuk memberantas TBC, Pastor Bollen memprakarsai pendirian klinik-klinik TBC di desa. Hanya dalam waktu beberapa tahun umat berhasil mendirikan 12 pos pemberantasan TBC.

Klinik-klinik itu sebagian besar merupakan rumah-rumah bambu sederhana. Sebagian besar karyawannya pun adalah keluarga dari para pasien TBC. Metode ini berhasil menurunkan angka penderita TBC di Sikka. (Yuven Fernandez)

 

SDK Santo Yusuf Waipukang Lembata rayakan satu abad dengan olah raga dan kesehatan

Fri, 21/07/2017 - 20:32

Kick off Pertandingan Sepak Bola SD/SMP se-Kecamatan Ile Ape Lembata sudah dilaksanakan 17 Juli 2017 dan akan berpuncak pada 23 Agustus 2017. Selain itu, mulai awal Agustus tahun ini akan dilaksanakan Program Laskar Sehat dan Cerdas yang digagas oleh beberapa aliansi kesehatan.

Kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka 100 tahun atau satu abad Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santo Yusuf Waipukang Ile Ape Lembata yang berdiri 23 Agustus seratus tahun lalu (1917) dan diyakini telah memiliki lulusan yang menjadi imam dan biarawan-biarawati yang tersebar hampir di seluruh benua.

“Panitia sudah terbentuk sejak awal 2017. Kita telah merencanakan beberapa kegiatan antara lain, pertandingan sepak bola memperebutkan piala satu abad SDK Waipukang, malam kesenian, seminar nasional dan beberapa kegiatan inovatif lainnya. Khusus sepak bola hanya untuk SD dan SMP se-Kecamatan Ile Ape,” kata ketua panitia Satu Abad SDK Santo Yusuf Waipukang, Irenius Dolu Nilan, kepada PEN@ Katolik.

Sekretaris Panitia Kanisius Ukeng menambahkan, fokus kegiatan lebih ditujukan kepada anak SD. “Maka, kita sangat mengharapkan seluruh alumni SDK Santo Yusuf Waipukang dan para simpatisan bersama memberikan sumbangsih pemikiran dan sumbangan untuk meningkatkan kualitas generasi yang akan datang,” jelas Kanis yang percaya bahwa gerakan literasi dan kesehatan harus benar-benar ditanamkan sejak dini “agar anak-anak dapat bersaing dalam dunia dewasa ini.”

Seorang alumni SDK Waipukang, Vinsen Belawa Making, yang juga Wakil Ketua Stikes CHMK di Kupang membenarkan yang dikatakan oleh Kanis, “karena Lembata merupakan salah satu kabupaten yang tertinggal dalam bidang kesehatan, dengan satu hal mencolok, tingginya angka malaria.”

Maka, bertepatan dengan HUT satu Abad SDK Waipukang, lanjut Sekretaris Eksekutif Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) NTT itu, “kita menggandeng beberapa aliansi kesehatan seperti IAKMI NTT, Jaringan Mahasiswa Kesehatan Kota Kupang (JMK3), Undana, AMMAPAI dan Stikes CHMK, untuk memberikan pelajaran dan pelatihan kepada anak-anak SD guna menjadi promotor bidang kesehatan.”

Selain itu, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) akan diperkuat di SDK Santo Yusuf Waipukang “yang akan menjadi sentral kegiatan kita,” kata Making seraya  berharap pada acara puncak nanti program itu dapat diluncurkan oleh pemerintah Kabupaten Lembata. (Emanuel Bataona)

Dulu digali Jepang untuk hindari serangan sekutu, kini jadi Gua Maria di Lotta

Fri, 21/07/2017 - 04:56

 

Pastor Jacobus Ludovikus Wagey Pr menjelaskan tentang Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta

Ternyata di Lotta, Pineleng, Sulawesi Utara, tepatnya di samping belakang Amphitheater Emmanuel Youth Centre, yang menjadi venue Indonesian Youth Day 2016, ada sebuah gua yang dibuat oleh tentara Jepang dan kini menjadi Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta.

John Kardinal Ribat MSC dari Papua New Guina, ketika berkunjung ke Skolastikat MSC Pineleng dalam rangka Pentahbisan Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC, mampir ke gua itu dan berdoa, 9 Juli 2017. Menjawab permintaan Tarekat MSC Manado, kardinal pertama dari Tarekat MSC itu memberkati Gua Maria itu.

Tanggal 11 Juli 2017, PEN@ Katolik datang ke Lotta menemui Pastor Jacobus Ludovikus Wagey Pr, kelahiran 10 Oktober 1935, yang hari itu merayakan HUT Imamat ke-55, untuk mengenal lebih dekat Gua Maria yang kini dijalankannya menggantikan Pastor Jan van Paassen MSC, almarhum.

“Guna menghindari serangan sekutu terhadap Angkatan Laut Jepang di Manado, tahun 1944, pasukan Jepang menyingkir ke Lotta dan membangun Rumah Sakit di sini. Dan, guna menghindari serangan udara, di tahun itu mereka menggali gua ini sepanjang sekitar 20 meter. Namun, gua itu terbiar setelah Jepang kembali,” imam yang akrab dipanggil Pastor Sjaak itu memulai ceritanya.

Saat pembicaraan di depan gua itu, nampak banyak orang, baik anak-anak, kaum muda dan orangtua, keluar masuk gua itu. Gua Maria itu sudah diberkati oleh Uskup Emeritus Josef Suwatan MSC pada Hari Raya Kabar Gembira 25 Maret 1992. Doa pemberkatan dalam gua itu disertai Doa Rosario oleh sekitar 100 umat yang masing-masing memegang lilin bernyala.

Sebelum diresmikan sebagai tempat ziarah, gua itu menjadi tempat pembuangan sampah. Setelah digali lagi saat beberapa proyek pembangunan setrum kateketik membutuhkan batu, tahun 1991 kepada seorang bapa dari Keluarga Lumingkewas-Arianti, yang mencari tempat samadi, ditawarkan gua itu. Dia masuk dengan tikar dan lampu, dan beberapa jam kemudian dia keluar dan mengatakan tempat itu sangat bagus untuk mencari ketenangan. Ia usulkan agar ujung gua berbentuk L itu dijadikan kapel.

Usul diterima dengan syarat dibuat sesederhana mungkin sesuai keadaan alaminya. Oktober 1992, Pastor Hisashi Nakagwa dari Jepang yang melayani umat di Manado sejak 1942 hingga 1945, “terharu” melihat proyek militer Jepang itu kini berubah menjadi tempat berdoa.

Tanggal 13 September 1993, Duta Vatikan Mgr Pietro Sambi masuk ke gua itu dan berdoa. Seorang pemuda Protestan pun pernah masuk dengan gitar dan kitab suci dan bertapa tiga hari di gua itu tanpa makan kecuali minum air yang menetes di situ sejak tahun itu.

Semakin banyak orang berkunjung ke gua itu saat itu. Pastor van Paassen pun meminta tiga mahasiswa dari Papua untuk menggali gua itu menjadi bentuk salib. Dari kebun kelapa di atas bukit di mana gua itu terletak sudah dipasang pipa paralon 14 meter hingga ruangan kapel untuk membantu tersedianya oksigen untuk pernafasan dalam gua. Rumah burung walet pun dibangun di depan gua agar peziarah tidak lagi diganggu walet yang beterbangan dalam gua.

Melihat gua becek karena air menetes terus, maka dibangun bak penampung hingga 6 kubik di ujung kepala salib gua dan saluran ke wisma sehingga tak ada lagi kekurangan air di situ. “Air itu sudah diperiksa di lab dan dinyatakan bersih tidak ada bakteri atau unsur membahayakan,” kata Pastor Sjaak.

Yakin air itu dari Bunda Maria, Pastor Jan langsung meminumnya. “Saya pun ikut yakin. Kalau Bunda Maria boleh minta Bernadeth gali di tempat becek dan terjadi saluran besar air, di sini boleh juga,” tegas Pastor Sjaak seraya mengajak mendengar irama “indah” tetesan air ke dalam bak. “Secara pribadi saya percaya Bunda Maria memberikan air ini untuk kesegaran dan kesehatan kita,” lanjut imam itu.

Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta yang semakin banyak diminati “ini adalah karya misionaris MSC dan saya hanya meneruskan,” aku imam diosesan itu seraya mengajak PEN@ Katolik berdoa tiga Salam Maria, seraya menegaskan, Maria pasti mendengarkan doa-doa kita.” Sesudah kita berdoa datang empat gadis remaja dan berdoa di sana, dan masih ada lagi. Semua membenarkan yang dikatakan Pastor Sjaak bahwa “semakin banyak orang datang berdoa di sini, dan membawa pulang airnya.”(paul c pati)

Bak air, di ujung gua berbentuk salib, menampung tetesan air yang bisa langsung diminum dan diyakini sebagai pemberian Bunda Maria. Pastor Jacobus Wagey Pr di depan Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta Pastor Jacobus Ludovikus Wagey Pr Burung walet yang tadinya bersarang di gua kini pindah ke rumah baru ini

Rabi Rosen: Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Israel buka komunikasi antarpemimpin agama

Thu, 20/07/2017 - 18:43
Pemandangan Kota Tua Yerusalem

Sebuah forum antaragama berlangsung di Yerusalem 19 Juli 2017 untuk mengeksplorasi pentingnya kota suci itu bagi orang Yahudi, Kristen dan Muslim. Forum dengan judul ‘Yerusalem dan agama monoteistik; Simbol, sikap, kehidupan nyata” diselenggarakan oleh Pontifical Notre Dame Centre bersama Universitas Roma Eropa.

Salah satu pembicara utama forum itu adalah Rabi David Rosen, presiden kehormatan Dewan Internasional Umat Kristen dan Umat Yahudi yang terkenal karena suaranya untuk peningkatan hubungan antaragama.

Dalam pembicaraan dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Rabi Rosen yakin bahwa pesan inti konferensi itu adalah bahwa “Yerusalem tidak akan pernah menjadi pelukan eksklusif seseorang, dan kita hanya akan benar-benar berhasil mengupayakan ketenangan Yerusalem, seperti dikatakan pemazmur, kalau kita dapat mengakui, dan menghormati, bahkan menerima keterikatan orang lain pada kota itu.”

Dalam konteks perebutan kekuasaan antara nasionalisme Palestina dan Israel, Rosen mengatakan, kota itu “bukan hanya menjadi tempat konflik, tapi alat konflik, di mana pihak-pihak mengeksploitasi potensi spiritualnya untuk keuntungan sendiri.” Ini “mentalitas kalah-menang” yang hanya bisa diatasi “kalau kita dapat melampauinya dan mengakui keterkaitan orang lain sebagai berkat dan bukan kutukan.”

Berbicara tentang peran pemimpin agama dalam usaha mengakhiri konflik di Tanah Suci, Rabi Rosen mencatat, salah satu “berkat” akibat kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Israel tahun 2000 adalah pembentukan Dewan Lembaga-Lembaga Agama Tanah Suci (www.crihl.org).

Dewan itu memiliki tiga tujuan utama, pertama “membuka jalan komunikasi antara pemimpin agama.” kedua, “mengutuk hasutan” dan serangan-serangan ke tempat-tempat keagamaan mana pun, dan ketiga “memberikan dukungan religius untuk prakarsa politik guna mengakhiri konflik, sehingga dua negara dan tiga agama bisa berkembang di tanah itu.”

Berkenaan dengan dua tujuan pertama, Rabi Rosen yakin sudah ada “beberapa prestasi moderat.” Tujuan ketiga, katanya, nampaknya akan “gagal total, tapi bukan karena para pemimpin agama tidak mau diikutsertakan. Sebaliknya, mereka ingin diikutsertakan namun para pemimpin politik tidak tertarik melakukannya.”

Para pemimpin agama di wilayah itu, menurutnya, diangkat oleh otoritas-otoritas politik maka berpikir bahwa mereka akan menantang pemimpin-pemimpin mereka atau akan menyebabkan terobosan dalam realitas politik adalah ‘khayalan.”

Namun, dia mengingat kata-kata Uskup Lutheran dari Yerusalem baru-baru ini kepada utusan Presiden AS Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt: “Kita tidak akan mampu mewujudkan perdamaian, namun perdamaian tidak akan berhasil dan bertahan tanpa kita.” Peran para pemimpin agama, lanjutnya, dapat menjadi “sangat penting dalam memberikan kontribusi pada proses perdamaian yang berhasil.”

Bagian kegagalan inisiatif perdamaian di masa lalu, menurut Rabi Rosen, menjadi “kegagalan untuk mengambil dimensi religius secara serius.” Mengingat ketegangan-ketegangan baru-baru ini di Bait Allah, dia menyimpulkan, konferensi ini tepat waktu karena menyoroti “betapa Yerusalem mudah terbakar, betapa Yerusalem dieksploitasi laksana sepak bola politik […] dan betapa menghayal menganggap kita bisa menyelesaikan konflik ini tanpa dimensi religius.(paul c pati berdasarkan Radio Vatikan).

 

Kamis, 20 Juli 2017

Thu, 20/07/2017 - 11:50

Pekan Biasa XV (H)

Elia, Nabi; Santa Margaretha dari Antiokhia; Santo Vinsent Kaun; Santo Apolinaris Uskup Martir

Bacaan I: Kel. 3:13-20
Mazmur: 105:1.5.8-9.24-25.26-27; R:8a
Bacaan Injil: Mat. 11:28-30

Sekali peristiwa bersabdalah Yesus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Renungan

Tidak ada manusia yang mau bertahan dalam kesesakan. Tuhan pun tidak akan membiarkan keadaan itu. Kehendak Tuhan yang dikatakan kepada Musa adalah menuntun bangsa Israel keluar dari kesengsaraan di Mesir, menuju ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (bdk. Kel. 3:17). Semua itu pasti membutuhkan perjuangan dan kerja sama dari manusia. Yesus juga melukiskan diri-Nya sebagai pemberi kelegaan bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat, tetapi Ia tidak menghilangkan ’kuk’ itu. Ia justru memasang kuk itu sambil mengajak untuk belajar dari pada-Nya (bdk. Mat. 11:28-29). Perbedaan antara beban yang dipikul dengan dan tanpa iman terletak pada semangat dan pengorbanan yang dihayati dalam kepercayaan kepada Kristus. Kristus sendiri sudah menanggung beban dunia di pundak-Nya, sehingga Ia dapat menawarkan kelegaan kepada para pengikut-Nya yang masih harus berjuang dalam hidup keseharian mereka.

Menjadi kristiani tidak serta merta menghindarkan kita dari berbagai kesulitan dan problem kehidupan, tetapi karena janji penyertaan Kristus dan iman kita semuanya itu tetap dapat kita tanggung dengan sukacita. Perjuangan adalah hal yang wajar dalam setiap perjalanan. Kita yang beriman selalu memiliki pilihan untuk menghadapi masalah dengan keyakinan bahwa Kristus tiap saat menawarkan kelegaan dan penghiburan yang kita perlukan di sepanjang jalan.

Yesus Kristus, Engkau memberi makna pada setiap beban yang harus kami tanggung karena itu pun diperlukan untuk menjadi pengikut-Mu. Semoga aku tetap mampu bersyukur karena tiap langkahku senantiasa Kausertai. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Fransiskan muda diajak melayani penuh persaudaraan seperti Santo Bonaventura

Thu, 20/07/2017 - 11:35

Saudara-Saudara Fransiskan muda diajak untuk selalu rendah hati dan melayani dengan penuh persaudaraan, karena semangat demikian merupakan semangat yang melekat dalam pribadi Santo Bonaventura, yang hidupnya selalu rendah hati, penuh perhatian dan taat kepada Yesus.

Demikian inti homili Wakil Provinsial (Sekretaris Jenderal OFM) Indonesia Pastor Mikhael Peruhe OFM dalam Misa Pengucapan Profesi Pertama sepuluh Fransiskan muda di Kapel Transitus Santo Bonaventura, Depok, pada Pesta Santo Bonaventura, 15 Juli 2017.

Uskup Terpilih Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, Kepala Paroki Santo Paulus Depok Pastor Gregorus Jandu OFM, dan Pastor Fransiskus Okky OFM menjadi konselebran Misa yang juga dihadiri keluarga para Fransiskan muda dan 400 umat Katolik dari Wilayah Santo Bonaventura dari Paroki Santo Paulus Depok.

Pastor Mikhael Peruhe mengawali homili dengan kisah  seorang pemuda yang meninggalkan keluarganya. “Setelah menjual seluruh harta, ia memilih hidup menyepi dan tinggal di sebuah gua yang jauh dari pemukiman. Ia ingin mencari Tuhan dalam keheningan. Ia berdoa terus-menerus dan mencari ketenangan hidup,” cerita imam itu.

Berhari-hari ia berada di tempat itu, lanjut cerita itu. “Ia hening sambil merefleksikan seluruh perjalanan hidupnya. Saat ia  hidup dalam kelimpahan harta, ia mendapat bisikan yang mengatakan bahwa ia harus segera keluar dari tempat itu dan pergi ke kota dan tinggal di keluarga seorang pembuat sepatu.”

Sang pemuda lalu melakukannya. “Ketika tiba di rumah pembuat sepatu itu, ia mendapat perlakukan sangat baik dari keluarga itu. Ia dilayani dan diberikan tumpangan. Setelah beberapa hari, ia kembali ke tempatnya semula.”

Tuhan lalu bertanya kepada pemuda dalam mimpi, ”Apa yang kamu rasakan dalam perjumpaan dengan keluarga tukang sepatu tersebut?” Dia pun menjawab, “keluarga itu sangat baik, sangat peduli, rendah hati dan penuh belas kasih,” jawab pemuda itu.

Menurut Pastor Mikhael Peruhe, kisah itu mirip dengan 10  novis yang mengucapkan kaul pertama saat Pesta Santo Bonaventura itu. Pengalaman perjumpaan dengan keluarga pembuat sepatu sebagai pengalaman menimba kebaikan hidup, yang boleh seorang Fransiskan muda dapatkan dalam meniti panggilan hidup, kata imam itu seraya menegaskan bahwa dia percaya “begitu banyak pengalaman dapat meneguhkan panggilan 10 Fransiskan muda itu.

Dalam Injil, semua orang yang memilih jalan mengikuti Yesus dipanggil jadi garam dan terang dunia. ”Kesepuluh Fransiskan muda ini adalah garam yang mempunyai sifat tidak egois, yang membuat makanan jadi enak, dan adalah sumber terang, yang secara merata menerangi lingkungan sekitar,” kata Pastor Mikhael Peruhe seraya berharap para Fransiskan muda meneladani Santo Bonaventura dan Santo Fransiskus Asisi yang penuh kesetiaan dan ketaatan mengikuti Yesus. (Konradus R Mangu)

 

Pastor Albertus Herwanta OCarm: Banyak orang diselamatkan dan terhibur lewat tulisan

Wed, 19/07/2017 - 14:29

“Menulis itu kebudayaan. Tanpa menulis, manusia akan kehilangan kebudayaan. Menulis itu memang susah kalau tidak mau berlatih. Karena tidak mau menulis, akhirnya tidak produktif. Banyak orang akhirnya diselamatkan lewat tulisan. Banyak orang merasa terhibur lewat tulisan. Banyak orang merasa sedih karena tulisan. Banyak orang saling menyalahkan karena lewat tulisan. Tulisan harus bisa menjadi budaya, karena budaya yang baik akan melahirkan tulisan dan manusia yang baik.”

Rektor Universitas Katolik Widya Karya Malang (UKWK) Pastor Albertus Herwanta OCarm berbicara ketika membuka Workshop Menulis Cerpen Satu Paragraf (Pentigraf) di Aula UKWK 8-9 Juli 2017, yang dilaksanakan bersama oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UKWK dan Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPK DG).

Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru (PAUD, SD, SMP, SMA atau SMK) dan orang muda beragama Katolik dan Protestan, pemerhati literasi, dosen, anak sekolah, dan orangtua.

Dunia literasi, menurut pandangan Pastor Albert, merupakan dunia yang sungguh menantang karena di dalamnya terdapat miliaran ilmu yang belum disentuh dan dipelajari oleh orang-orang Nasrani. “Lembaga UKWK punya tanggung moral yang besar terhadap dunia literasi dan setiap potensi yang ada seharusnya dikembangkan agar jadi kekayaan yang akan dibagikan kepada orang lain,” kata imam itu.

Diakui, kendala yang sering dihadapi mahasiswa adalah menulis. “Kita menjadi Katolik atau Kristen Protestan, karena kita telah memulainya dengan menulis. Sejarah Yesus dimulai dari menulis. Tulisan-tulisan yang ada dalam Kitab Suci itulah yang akhirnya membawa kita mengenal Yesus Kristus,” kata Pastor Albert.

Sekretaris Nasional KPK-DG Antonius Agus Mahendro membenarkan, menulis bukanlah hal baru atau hal baku. “Dengan tulisan seorang ‘menyerahkan’ diri dan berjumpa dengan orang lain. Lewat tulisan pula, sesama manusia saling menukar informasi serta pengalaman dan pengetahuan,” kata Mahendro, seraya berpesan agar “Jangan takut untuk menulis.”

Peserta juga mendengarkan masukan dari Penyair Tangsoe Tjahyono dan Sastrawan Eka Budianta.

Menurut Tjahyono, lewat tulisannya penulis bisa menawarkan pesan moral dengan cepat, mesti harus berbelit. Dan, “bagi saya, menulis itu rekreasi yang murah, karena ada imajinasi yang liar, yang tumbuh di dalamnya,” kata penyair kelahiran Jember itu.

Eka Budianta menyarankan agar penulis bukan hanya memiliki kosakata yang baik, tetapi kosakata yang banyak. “Baik saja tidak cukup. Harus banyak. Banyak juga tidak menjamin, kalau tidak ditekuni dengan membaca dan menulis,” kata sastrawan itu seraya mengajak peserta untuk mulai mencintai dunia literasi.

Workshop pentigraf itu menambah pengetahuan dan ilmu bagi Agung Widyatmoko (45). “Saya sudah lama vakum dengan dunia literasi. Dulunya saya sering menulis di blog. Sekarang di facebook. Artinya, dengan mengikuti kembali workshop pentigraf ini, saya diperkaya serta diingatkan untuk kembali memulai proses kreatifitas menulis,” kata peserta dari Surabaya itu kepada PEN@ Katolik.

Setelah Workshop, Gabriella Amalinda Dwi K ingin kembali membangkitkan literasi yang dulunya sempat membuatnya dikenal. “Mungkin ya ini saatnya bagi aku untuk bangkit dan memulai kembali menulis. Bagiku, dunia literasi harus dihidupkan kembali di kalangan umat Katolik dan Protestan. Kalau tidak dihidupkan kembali, akan sangat mempengaruhi citra gereja Katolik dan Protestan,” kata mahasiswi keperawatan itu kepada PEN@ Katolik. (Felixianus Ali)

Rabu, 19 Juli 2017

Wed, 19/07/2017 - 11:49

PEKAN BIASA XV (H)

Santo Arsenius Agung; Santa Aurea

Bacaan I: Kel. 3:1-6.9-12
Mazmur: 103:1–2.3-4.6-7; R:8a
Bacaan Injil: Mat. 11:25-27

Sekali peristiwa berkatalah Yesus: ”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”

Renungan

“Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Begitulah jawaban Musa ketika Allah menampakkan diri dan mengutusnya dari dalam nyala api di semak duri (bdk. Kel. 3:2.11). Musa merasa tidak punya kemampuan untuk melakukan tugas itu, padahal Allah akan menyertai siapa saja yang dipanggil untuk menjalankan rencana-Nya. Dalam doa-Nya, Yesus bersyukur kepada Bapa karena orang-orang kecil justru dipilih untuk menyingkapkan rencana-Nya. Para murid Yesus pun berasal dari kalangan orang-orang sederhana, namun memiliki kemauan untuk bekerja keras dan kesetiaan untuk berjuang demi Kerajaan Allah. Panggilan Allah sering kali dimulai dari kalangan mereka yang mampu beriman secara sederhana dan tidak mengandalkan kepandaian ataupun kehebatannya.

”Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Kel. 3:12). Jaminan dari Tuhan Allah ini adalah satu-satunya kekuatan yang membuat kita berani menjawab ’Ya’ pada panggilan untuk melayani di masa kini. Tuhan selalu memberi kekuatan yang cukup dalam setiap tugas yang kita emban, maka yang diharapkan dari kita ialah kerelaan dan kesetiaan untuk melakukan dengan sebaik-baiknya pekerjaan yang dipercayakan-Nya kepada kita.

Tuhan Yesus, Engkau memanggilku dengan namaku karena Engkau sudah merencanakan hidupku sejak aku masih dalam kandungan ibu. Semoga aku tetap setia melakukan tugas dari-Mu dengan sepenuh kemampuanku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

VIDEO KATEDRAL HATI TERSUCI MARIA MANADO

Tue, 18/07/2017 - 23:29

PEN@ Katolik mempersembahkan VIDEO KATEDRAL HATI TERSUCI MARIA MANADO

Empat putri diterima sebagai aspiran dan lima sebagai novis dalam Kongregasi SFIC

Tue, 18/07/2017 - 14:05
Pemasangan selubung oleh suster yang sudah berkaul kekal kepada novis baru

Dalam proses pendidikan (formatio) tarekat religius, setiap calon biarawan atau biarawati selalu melalui dua tahap pendidikan paling penting, yakni masa postulat yang dilanjutkan ke masa novisiat. Setelah melalui dua tahap itu, bila memenuhi syarat seorang calon biarawan atau biarawati diijinkan mengucapkan kaul sementara, sebelum akhirnya mengucapkan kaul definitif, yakni kaul kekal.

Sekjen Keuskupan Agung Pontianak Pastor Pius Barces CP menjelaskan hal itu pada Misa Penerimaan Lima Postulan SFIC sebagai Novis dan Empat Aspiran SFIC sebagai Postulan di Kapel  Susteran SFIC Santo Willibrordus Pontianak, 10 Juli 2017. SFIC adalah singkatan dari Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei atau Suster-suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah.

Dijelaskan, masa postulat berasal dari kata bahasa Latin, postulare, yang artinya meminta. “Postulat adalah pendidikan awal seorang calon hidup bakti, entah suster, bruder atau imam tarekat. Menurut Hukum Gereja, masa ini dilaksanakan selama setengah tahun. Tetapi pada umumnya masa postulat selama satu tahun. Orang yang sedang menjalani masa postulat disebut postulan,” jelas Pastor Pius.

Selanjutnya, novisiat merupakan masa percobaan calon bagi anggota tarekat, entah ordo, atau kongregasi. “Masa novisiat adalah masa inisiasi ke dalam hidup membiara. Pada tahap ini calon hendaknya mengalami cara hidup suatu tarekat agar mampu mengetahui apakah ia cakap untuk itu. Selama masa novisiat seorang calon juga belajar mencocokkan diri dengan bentuk hidup membiara sesuai karisma atau spiritualitas tarekat masing-masing. Akhir masa pendidikan ini ditandai bahwa seorang diijinkan mengucapkan kaul yang pertama,” kata imam itu.

Lima postulan yang diterima masuk novisiat adalah Saudari Viktoria Evranosa dengan nama biara Suster Chiara Evranosa SFIC, Saudari Alesia Doyek dengan nama biara Suster Mikhaella Alesia SFIC, Saudari Patricia Kristina dengan nama biara Suster Hildegardis Patricia SFIC, Saudari Pia Ria Sumanti dengan nama biara Suster Theresia Sumanti SFIC, Saudari Martalia Arsima dengan nama biara Suster Gabriella Arsima SFIC.

Sedangkan empat aspiran SFIC yang diterima sebagai postulan adalah Saudari Maria Paulina Guyum dari Paroki Salib Suci Noyan (Keuskupan Sanggau), Saudari Kristine Natalia dari Paroki Santa Maria Nyarumkop (Keuskupan Agung Pontianak), Saudari Asteria Norisa dari Paroki Santo Petrus Sanggau Ledo (Keuskupan Agung Pontianak) dan Saudari Teodora Yenita Yeni  dari Paroki Darit (Keuskupan Agung Pontianak).

Upacara penerimaan menjadi novis dan postulan itu dihadiri oleh Linus Putut Pudyantoro yang datang berbagi pengalaman dan pengetahuannya dalam kapasitasnya sebagai pencipta lagu dan pelatih paduan suara atau vokal group baik lagu rohani atau liturgi Gereja, maupun lagu budaya daerah yang ada di Indonesia.

Para suster SFIC Provinsi Indonesia di Pontianak mendapat hadiah dua buah lagu yang diciptakan dan dipersembahkan khusus untuk para suster SFIC yaitu “Teguhkanlah ya Tuhan Ikrar Setiaku” dan “O Maria Bunda Suci Allah”. (Suster Maria Seba SFIC)

Para novis baru menerima Konstitusi dan Statuta General SFIC Upacara Penerimaan Novis SFIC Provinsial SFIC memberikan selubung tanda pertobatan dan mengenakan manusia baru kepada novis baru Provinsial, Suster Irene SFIC memasang salib kepada postulan baru Upacara penerimaan postulan baru SFIC Linus Putut Pudyantoro memberikan ucapan proficiat kepada para postulan dan novis SFIC

Selasa, 18 Juli 2017

Tue, 18/07/2017 - 11:57

Pekan Biasa XV (H)

Santo Frederik dari Utrecht; Santa Simforosa dan Putra-Putranya

Bacaan I: Kel. 2:1-15a
Mazmur: 69:3.14.30-31.33-34; R:33
Bacaan Injil: Mat. 11:20-24

Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya: ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

Renungan

Bayi Musa selamat karena belas kasihan putri Firaun yang mengambilnya dari Sungai Nil (bdk. Kel. 2:6.10). Ia sesungguhnya diselamatkan oleh Allah yang merancangkan keselamatan bagi bangsa Israel yang tertindas di Mesir. Dalam Injil, Yesus meratapi kota-kota yang tidak juga mau bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya (Mat. 11:20). Kata-kata Yesus lebih terdengar sebagai perasaan heran mengapa setelah menyaksikan perbuatan-perbuatan Tuhan, mereka tidak juga mau berubah. Tampaknya tidak semua manusia menangkap tanda-tanda yang dialaminya di dunia, padahal semua itu memuat penyelenggaraan ilahi yang seandainya disadari akan membawa keselamatan seperti yang diharapkan. Peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup seseorang seharusnya mengubah dan membaruinya, sebab itu adalah bagian dari rencana Tuhan atas diri setiap orang maupun komunitas yang lebih besar.

Beberapa peristiwa dalam hidup kita tidak segera kita mengerti maknanya. Kadang-kadang baru setelah beberapa tahun kemudian kita disadarkan bahwa semuanya itu harus kita alami supaya kita bertumbuh makin dewasa dalam iman. Akan tetapi, kita sebetulnya bisa mulai dari sekarang mencoba mengerti apa kiranya rencana Tuhan di balik kejadian-kejadian yang kita alami. Mungkin kita perlu segera berubah dari kebiasaan buruk yang tanpa sadar masih terus kita lakukan hingga saat ini.

Tuhan, tindakan-Mu dalam setiap peristiwa kehidupan yang kualami memuat rencana yang indah atas diriku. Semoga aku rela mengubah hal-hal yang masih dapat kuubah dalam diriku agar sesuai dengan rencana-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Rolly Untu MSC: Pembinaan calon imam adalah bagian tanggung jawab uskup

Tue, 18/07/2017 - 03:17

“Pembinaan calon imam adalah bagian dari tanggung jawab uskup. Saya telah mengatakan pengakuan iman serta janji dan tanggung jawab saya dalam salve menjelang tahbisan, dan pembinaan calon imam adalah bagian dari itu,” kata Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dalam talk show setelah Peletakan Batu Penjuru sebuah basis atau unit dan Misa Pertama Uskup Baru di Seminari Tinggi Pineleng, Sulawesi Utara, 11 Juli 2017.

Talk show yang dihadiri para formator dan frater diosesan Keuskupan Manado dan Keuskupan Amboina itu diikuti Mgr Rolly Untu, Uskup Emeritus Mgr Josef Suwatan MSC, Rektor Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng Pastor Melky Malingkas Pr dan seorang ibu anggota Komunitas Tritunggal Mahakudus.

Dalam realitanya, jelas Pastor Yonas Atdjas Pr, di tahun ajaran 2016/2017 jumlah seminaris di sana berjumlah 81 dengan kesediaan kamar memadai. Jumlah itu cukup memadai di tahun ajaran 2017/2018 kalau “Basis Babilonia” dimanfaatkan, karena jumlah seminaris menjadi 127 orang ditambah 46 seminaris dari Pondok Emaus, di Tateli, Sulawesi Utara, tempat tahun rohani calon imam diosesan. Tapi, tahun ajaran 2018/2019, pasti ketersediaan kamar “amat tidak memadai” karena diperkirakan jumlah seminaris menjadi 193 orang dengan tambahan 66 orang dari Pondok Emaus.

Mgr Rolly Untu, yang ditahbiskan Uskup Manado oleh Mgr Antonio Guido Filipazzi yang kini Duta Vatikan untuk Nigeria, 8 Juli 2017, membenarkan bahwa seminari adalah jantung dan biji mata Gereja dan pembinaan calon imam adalah komitmen penggembalaan seorang uskup, karena menyadari bahwa kemajuan keuskupan tergantung pada para imam yang datang dari seminari. “Maka kalau ingin keuskupan menjadi lebih baik, kami harus peduli pada seminari,” tegas uskup yang belajar di Seminari Pineleng sejak 1976 dan mengajar di seminari itu sejak 1995.

Dalam janji saat Ibadat Sore Agung (Salve) Menjelang Tahbisan Uskup Manado di Katedral Manado, 7 Juli 2017, Mgr Rolly menegaskan: “Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memajukan panggilan hidup imamat dan membiara, sehingga dengan selayaknya akan terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan spiritual segenap Gereja. Saya akan mengakui dan memajukan martabat kaum awam dan peranan mereka yang khas dalam tugas perutusan Gereja. Dan secara khusus saya akan memperhatikan untuk mengembangkan karya-karya misioner yang diperuntukkan bagi evangelisasi bangsa-bangsa.”

Mgr Rolly Untu dan Mgr Suwatan dijemput oleh para frater diosesan dengan Tarian Kabasaran di gerbang masuk Seminari Pineleng. Mereka lalu mengusung kedua uskup dengan tandu mengelilingi seminari. Setelah memimpin peletakan batu penjuru basis baru, Mgr Rolly Untu memimpin Misa Pertama sebagai Uskup Baru Manado di alma maternya itu.

Dalam Talk Show dan Ramah Tamah bertema “Melangkah Bersama Sang Gembala: In Lumine Tuo, Videmus Lumen” dan sub tema “Care, Share and Charity,” Pastor Malingkas menjelaskan bahwa diharapkan pada imam projo dari Seminari Tinggi Pineleng “menjadi imam yang memiliki kedewasaan yang bertanggungjawab, menjadi pastor bonus.”

Selain berharap agar muncul peduli dalam diri para frater dan formator, rektor itu berharap Mgr Rolly Untu memberikan perhatian besar bagi Seminari Pineleng. Harapan lain agar seminari itu “menjadi sekolah cinta kasih di mana kita saling berbagi, saling membantu dan saling mendukung agar semua warga seminari berjalan bersama menciptakan pastor bonus yang ingin berbagi dengan umat.”

Acara itu juga bertujuan untuk “charity” yakni bersama umat menggalang dana untuk membantu membangun basis baru. Talk show yang dihibur oleh kelompok koor seminaris dan OMK diakhiri dengan penyerahan proposal kepada wakil Komunitas Tritunggal Mahakudus dan Tulang Rusuk.

Menurut Pastor Yonas, total biaya pembangunan basis itu 2,069,033,583,69 rupiah. Melihat realita yang ada, jelas imam itu, jumlah seminaris tidak sebanding dengan kamar tidur yang tersedia. Maka, “mau tidak mau, digunakanlah bangunan tua yang terletak dekat kandang (Basis Babilonia, karena dekat kandang babi) sebagai tempat tinggal para frater. Bangunan itu sebenarnya sudah mulai rusak dan tidak terlalu layak untuk dihuni. Namun apa boleh buat?!” kata imam itu seraya menambahkan bahwa Basis Poppe dan Basis Matius, yang sudah tua dan sangat memprihatinkan dengan dinding yang mulai berguguran dan tiang-tiang yang melapuk, juga tetap digunakan.

“Karenanya, kami berencana membangun sebuah unit asrama guna menyediakan empat hunian yang layak bagi para frater, sehingga proses formasi boleh berjalan dengan baik,” demikian Pastor Yonas. (paul c pati)

 

Pages