Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 24 min 16 sec ago

Sekretaris Komisi Seminari KWI: Seminari itu jantung Gereja yang akan mati tanpa seminaris

2 hours 24 min ago
Foto bersama para rektor seminari menengah Regio MAMPU. Foto PEN@ Katolik/YM

“Seminari menengah di Indonesia ada 39. Paling banyak ada di Regio Makassar, Amboina, Manado dan Papua (MAMPU), maka semestinya Papua dapat melahirkan banyak imam dan adik-adik semua yang masih muda-muda inilah yang nanti dipanggil. Kita manusia punya jantung, kita hidup karena jantung kita berdetak. Nah, seminari adalah jantung Gereja, maka ketika seminari itu tidak ada calon-calonnya, nanti Gereja akan mati.”

Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Yoseph Kristanto Pr berbicara dalam homili Misa Aksi Panggilan bagi Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Merauke di Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali Merauke, 22 September 2018.

Perayaan Misa itu membuka Temu Rektor Seminari Menengah Regio MAMPU 2018 yang dilaksanakan di Rumah Bina Pankat Keuskupan Agung Merauke selama empat hari 22-25 September 2018. Misa yang dihadiri ratusan OMK itu dipimpin oleh Rektor Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke Pastor Maternus Minarto Pr dengan konselebran Pastor Kristanto Pr dan 15 imam lain dari regio itu.

Pastor Kristanto mengajak OMK untuk mengikuti jejaknya menjadi imam. “Panggilan Tuhan itu sudah ada pada setiap orang, tinggal bagaimana panggilan itu bisa dijawab,” tegas imam itu seraya mengatakan perlunya kerelaan menjawab panggilan Tuhan.

Menurut imam itu, seminari menengah di Regio MAMPU cukup banyak, hanya saja tahbisan imam, khusus di Papua nampaknya masih sangat sedikit. Maka, imam itu berharap ada putra-putra daerah yang terpanggil melayani umat di keuskupannya masing-masing, apalagi jumlah imam diosesan di Keuskupan Agung Merauke masih sangat minim.

“Kita lihat masih ada pastor dipinjam dari Keuskupan Agung Semarang dan beberapa pastor juga dikontrak dari keuskupan lain. Kami bermimpi, Gereja Katolik di Indonesia akan semakin kaya, kalau putra-putra daerah mampu juga menyumbangkan diri untuk menjadi imam, atau bruder maupun suster,” harap Pastor Kristanto dalam Misa yang juga mendengarkan sharing pengalaman dua orang imam.

Temu Rektor Seminari Menengah ini merupakan kegiatan tahunan Komisi Seminari KWI yang memiliki lima regio, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara dan MAMPU.(PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia Pastor Yoseph Kristanto Pr membawakan homili Misa Aksi Panggilan bagi OMK Keuskupan Agung Merauke. PEN@ Katolik/YM

Pastor Spadaro: Perjanjian antara Tahta Suci dan Cina adalah tanda harapan dan perdamaian

12 hours 5 min ago
Pastor Antonio Spadaro SJ. Vatican Media

Direktur Civiltà Cattolica, sebuah media milik Yesuit, Pastor Antonio Spadaro SJ, yang ikut bersama Paus dalam perjalanannya ke Negara Baltik, berbicara dengan Alessandro De Carolis dari Vatican News, tentang Perjanjian Sementara tentang pengangkatan Uskup, yang ditandatangani di Beijing, 22 September 2018.

Alessandro De Carolis: Pastor Antonio Spadaro, dengan penandatanganan Perjanjian antara Tahta Suci dan pemerintah di Beijing, perubahan apa yang akan terjadi untuk Gereja Cina?

Pastor Antonio Spadaro SJ: Dengan Perjanjian ini, tidak ada lagi kesulitan-kesulitan yang membuat Gereja terpecah antara dua komunitas. Pada titik ini, tidak ada rintangan bagi persekutuan Gereja dalam globalitasnya di Cina, dan dalam hubungannya dengan Bapa Suci. Inilah tujuan yang dicapai oleh Perjanjian Sementara ini. Di saat yang sama, selesailah sebuah proses yang sudah berlangsung lama, yang dimulai oleh Yohanes Paulus II, yaitu, legalisasi penerimaan kembali ke dalam persekutuan dengan Paus dan legalisasi para Uskup yang ditahbiskan secara ilegal, secara tidak sah, yaitu, ditahbiskan oleh pemerintah tanpa Mandat Pontifikal. Sekitar 40 Uskup telah dilegitimasi sejak tahun 2000. Paus Fransiskus telah menyelesaikan pekerjaan ini. Tidak diragukan lagi, itu juga bagian penting untuk misi Injil. Gereja, yang tidak lagi terbagi, akan bisa lebih bebas, dengan menjalani proses rekonsiliasi, untuk memberitakan Injil, yang merupakan hal yang paling penting.

Apakah boleh menelusuri kembali akar Perjanjian Sementara ini pada surat yang ditulis Paus emeritus Benediktus XVI kepada umat Katolik Cina tahun 2007?

Paus Benediktus memiliki gagasan yang sangat, sangat jelas, yakni: kita harus menemukan cara untuk membangun kepercayaan di antara pemerintah Cina, otoritas Cina, dan Tahta Suci. Dan, kepercayaan akan membuka ruang untuk dialog, dan secara bertahap kita akan sampai pada titik yang telah kita capai hari ini. Jadi, saya mau mengatakan bahwa Paus Fransiskus telah menyelesaikan hasrat mendalam yang ditulis Paus emeritus Benediktus XVI dalam dokumen yang sangat penting itu.

Kami telah berbicara tentang masa lalu yang panjang, termasuk penderitaan. Sekarang kita sedang berbicara tentang hadiah baru, yang dimulai dengan harapan terbaik. Bagaimana bayangan masa depan, menurut Anda?

Unsur utama masa depan adalah pewartaan Injil. Tidak ada tujuan lain dalam Perjanjian ini. Oleh karena itu, ada dimensi pastoral, yang jelas-jelas mengandung benih masa depan. Jadi, hendaknya kita mengerti juga apa artinya ini bagi Gereja universal. Misalnya, Benediktus XVI, dalam pengantar bukunya, The Light of the World, yang diterbitkan dalam edisi bahasa Cina, berharap adanya Kristianitas Cina, yaitu, sepenuhnya Kristen dan sepenuhnya Cina. Apa istilahnya dalam teologi, refleksi, mengingat budaya besar negeri ini telah berulang kali diserukan oleh Paus Fransiskus, yang mengatakan kagum atas kebijaksanaan ini? Saya ulangi, tantangan mendasar adalah tantangan karakter pastoral. Saat ini perlu mewartakan Injil, dan mungkin, jika kita mau, Perjanjian ini juga akan menjadi tanda, tanda harapan, tanda perdamaian di dunia tempat sementara orang terus membangun tembok, terutama antara Barat dan Timur.

Penandatanganan Perjanjian Sementara ini bertepatan dengan tahap pertama perjalanan Paus Fransiskus ke negara-negara Baltik, kunjungannya ke Lituania. Berbicara dengan otoritas dan dengan orang-orang muda, Paus mengatakan bahwa menjaga jiwa dan menemukan kembali akar-akar sebuah masyarakat itu penting. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa pesan ini bisa juga bermanfaat bagi umat Katolik di Cina?

Pesan Fransiskus di sini di Lituania, tentu sangat berharga bagi semua umat Katolik, termasuk umat Katolik Cina. Ketika Paus di sini di Vilnius berbicara tentang akar, Paus juga berbicara tentang penyambutan dan keterbukaan. Bahwa, pada dasarnya, seseorang perlu menyelamatkan akarnya agar tidak terlalu bergantung pada akar tanpa buah: akar seseorang adalah akar dari pohon yang menghasilkan buah. Dan Paus telah mengatakan dengan sangat jelas, terutama ketika mendarat di Vilnius, bahwa negara ini adalah negara yang, karena kuat di akarnya, tahu cara menyambut orang-orang dari kebangsaan yang berbeda, bahasa yang berbeda, agama yang berbeda. Inilah masa depan.

Serikat Yesus memiliki sejarah sangat panjang di Cina, yang dimulai beberapa abad lalu – 500 tahun lalu – dengan Pastor Matteo Ricci. Apa yang dimaksud dengan penandatanganan Perjanjian ini bagi para Yesuit?

Bagi kami para Yesuit, Perjanjian ini sangat berarti, karena kami mengatakan bahwa Cina berada di hati setiap Yesuit. Matteo Ricci adalah orang yang dibentuk dalam budaya Renaissance dan, dengan menyerap budaya Eropa, dia memutuskan pergi ke Cina. Dan ini – tepatnya formasinya – memungkinkan dia untuk berdialog dengan budaya negara besar ini: dia jatuh cinta padanya, dia menyerapnya. Dan para Yesuit setelah dia memahami budaya ini, mempelajari budaya ini, termasuk Konfusianisme, dan meneruskannya ke Eropa. Dengan cara ini mereka membuat Eropa lebih Cina. Sangat mengejutkan melihat bagaimana evangelisasi, bagi para Jesuit awal ini, diwariskan dari cinta yang mendalam terhadap budaya masyarakat. Jadi tidak ada keinginan untuk evangelisasi fundamentalis, atau sesuatu seperti misi budaya, melainkan keinginan untuk menjumpai orang-orang dan ide-ide mereka. Saya juga sangat terkejut karena Global Times, yang merupakan surat kabar resmi Cina, tepat pada hari saat Perjanjian antara Cina dan Tahta Suci ditandatangani, menggambarkan Paus Fransiskus sebagai “Paus Yesuit pertama,” dan menghubungkan dia secara langsung dengan Matteo Ricci, dengan mengatakan bahwa orang ini, seperti pendahulunya, telah dan kini memiliki kaitan sangat fleksibel dan dinamis berkenaan dengan evangelisasi, yang mampu mencintai umatnya. Ini mengejutkan saya karena ini persis seperti pengertian Perjanjian itu: membangun kepercayaan, mencintai sebuah bangsa.(Diterjemahkan oleh PEN Katolik/pcp)

Paus menerima pengunduran diri dua uskup Chili lainnya

Sat, 22/09/2018 - 15:37
Paus bersama para uskup Chili. Vatican Media

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri dua uskup Chili lainnya dan menunjuk dua administrator apostolik di tempat mereka. Tujuh uskup Chili sekarang mengundurkan diri sebagai akibat dari skandal pelecehan seksual.

Paus Francis telah menerima pengunduran diri Uskup Carlos Eduardo Pellegrín Barrera, dari Keuskupan San Bartolomé de Chillán. Pastor Sergio Hernán Pérez de Arce Arriagada, yang berasal dari keuskupan yang sama, telah ditunjuk sebagai administrator kerasulan.

Paus juga menerima pengunduran diri Uskup Cristián Enrique Contreras Molina dari Keuskupan San Felipe, dan menunjuk Pastor Jaime Ortiz de Lazcano Piquer, vikaris yudicial Keuskupan Agung Santiago de Chile.

Dengan pengunduran diri dua uskup itu, sudah tujuh uskup Chili yang telah mengundurkan diri setelah pertemuan luar biasa pada Mei lalu saat Paus memanggil mereka ke Roma karena skandal pelecehan seksual yang telah mengguncang Gereja di negara itu. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya tegas melawan pelecehan

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Paus Fransiskus menerima lagi pengunduran diri dua uskup Chili

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Paus akan menerima tiga korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili

Pelecehan seks Chili: Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan kesalahan serius

Greg Burke: Paus Fransiskus rutin bertemu korban pelecehan seks yang dilakukan klerus

Kekudusan dalam Keagungan

Sat, 22/09/2018 - 13:35
Paus Benediktus XVI merayakan Misa tahbisan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Juni 2010. Foto: SIPA PRESS / REX FEATURES

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-25 pada Masa Biasa, 23 September 2018: Markus 9: 30-37)

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [diakon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.

Tetapi, ada juga berita yang tidak begitu baik. Saat ini, Gereja juga menghadapi krisis yang mendalam. Di banyak negara dan tempat, para klerus dan biarawan, terlibat dalam skandal dan hal-hal yang memalukan. Salah satu yang terburuk adalah pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur yang dilakukan oleh beberapa imam dan bahkan uskup, dan ada usaha untuk menutup-nutupi hal ini sehingga kejahatan struktural ini berkembang subur. Namun, ini bukan satu-satunya hal yang mengganggu Gereja. Beberapa klerus tidak jujur dan memiliki kehidupan ganda. Beberapa diam-diam memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa mungkin tidak melakukan skandal apa pun, tetapi kurang berbelas kasih dan tidak miliki semangat dalam melayani umat Allah. Banyak cerita yang beredar tentang pastor yang menolak untuk mendengar pengakuan dosa atau mengurapi orang yang sakit karena mereka memprioritaskan hobi mereka atau para biarawan yang gampang marah terhadap orang lain. Sikap-sikap ini hanya membuat umat menjauh dari Gereja.

Injil kita Minggu ini berkisah tentang Yesus yang mengajar para murid, yang kemudian akan menjadi pemimpin Gereja perdana. Injil ini sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian yang akan datang di Yerusalem. Di sini, para murid hanya terdiam. Mungkin, memori akan Yesus yang menegur Petrus dan memanggilnya “Setan” masih segar di pikiran para murid dan tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pemalukan yang sama. Bagian kedua dari Injil berbicara tentang tema kebesaran dan kepemimpinan. Kali ini, para murid memiliki reaksi yang berbeda. Tidak hanya mereka yang memulai diskusi, tetapi mereka juga dengan penuh semangat berdebat di antara mereka sendiri. Kita dapat membayangkan Petrus membanggakan dirinya sebagai pemimpin di antara para rasul, atau Yohanes mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah yang paling dekat dengan Yesus, atau Matius bangga akan kekayaannya. Bagaimanapun, mereka adalah Paus pertama dan para uskup pertama kita. Namun, ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sekali lagi terdiam.

Para rasul sepertinya lupa bahwa murid-murid Yesus yang sejati harus memikul salib mereka dan mengikuti Yesus ke Yerusalem. Namun, Yesus memahami bahwa keinginan manusia untuk menjadi yang terbaik adalah karunia dari Allah juga. Yesus tidak melarang rasul-rasul-Nya untuk bermimpi dan berusaha untuk mencapai kebesaran, tetapi Dia membuat perubahan radikal. Dia mengarahkan energi yang kuat ini dari sekedar untuk mencapai kepentingan pribadi, berubah menjadi untuk melayani orang lain. Lalu, Yesus pun berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Memang, mereka perlu menjadi unggul, tetapi tidak dala ukuran duniawi, tetapi dalam melayani dan memberdayakan sesama.

Dalam dokumen terbarunya, Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus berbicara tentang “Logika Salib.” Kebahagiaan sejati adalah sebuah paradoks. Jika para klerus, biarawan dan kita semua ingin bahagia, bukanlah kejayaan dan kesuksesan duniawi yang kita kejar, tetapi pelayanan dan pengorbanan kita untuk orang lain.

Kita terus berdoa bagi para imam dan uskup kita, serta para biarawan. Kita berdoa tidak hanya agar mereka dapat menghindari dosa, tetapi mereka mungkin menjadi kudus. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihidupi sampai penuh.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Paus Fransiskus mengirimkan salam sebelum berkunjung ke Baltik

Sat, 22/09/2018 - 03:51
Paus Fransiskus berdoa di depan gambar Maria Salus Populi Romani di dalam Basilika Santa Maria Maggiore sebelum melakukan Kunjungan Apostolik ke Lithuania, Latvia, dan Estonia. Foto Vatican Media

Hari ini, 22 September 2018, Paus Fransiskus mengadakan Perjalanan Apostolik ke Lithuania, Latvia, dan Estonia, yang akan berlangsung hingga 25 September 2018. Sebelum melakukan perjalanan itu, Paus mengirimkan ucapan hangat kepada rakyat Lithuania, Latvia, dan Estonia.

“Meskipun saya datang sebagai Gembala Gereja Katolik,” kata Paus Fransiskus seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, “Saya ingin merangkul semua orang dan memberikan pesan perdamaian, kehendak baik, dan harapan untuk masa depan.”

Paus melihat kunjungannya bertepatan dengan ulang tahun ke-100 kemerdekaan tiga bangsa itu, dan mengatakan akan menghormati “semua orang yang pengorbanannya di masa lalu telah memungkinkan adanya kebebasan kita sekarang ini.”

“Kebebasan, seperti kalian tahu, adalah harta yang harus tetap dilestarikan dan diwariskan, sebagai warisan berharga, untuk generasi baru,” kata Paus.

Paus Fransiskus mengajak semua orang di Baltik untuk bekerja demi masyarakat yang lebih baik. “Di masa-masa kegelapan, kekerasan, dan penganiayaan, nyala kebebasan tidak padam, tetapi menginspirasi harapan akan masa depan saat martabat setiap yang diberikan Tuhan dihormati dan setiap kita merasa dipanggil untuk bekerja sama menuju terbentuknya masyarakat yang adil penuh persaudaraan.”

Bapa Suci mengungkapkan bahwa sekarang ini solidaritas dan pelayanan lebih penting dari sebelumnya. “Saya berharap kunjungan saya akan menjadi sumber dorongan bagi semua orang yang berkehendak baik, yang terinspirasi oleh nilai-nilai spiritual serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari masa lalu, sedang berupaya secara damai untuk meringankan penderitaan saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan dan meningkatkan persatuan dan kerukunan di setiap lapisan masyarakat.”

Akhirnya, Paus Fransiskus berterima kasih kepada banyak orang yang sedang bekerja tanpa lelah menyiapkan Kunjungan Apostoliknya ke Lituania, Latvia, dan Estonia. “Kepada kalian semua, saya pastikan kedekatan saya dalam doa dan saya mengirimkan berkat saya.” Dan, seperti selalu, Paus meminta kita untuk terus berdoa untuk dirinya.

“Tuhan memberkati kalian!”

Sebagaimana telah menjadi kebiasaan dalam kepausannya sebelum mengadakan kunjungan apostolik, pada Kamis sore, 20 September, Paus Fransiskus datang ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa bagi perjalanannya ke negara-negara Baltik itu.

Begitu sampai di dalam Basilika, Paus hening dalam doa di depan gambar Maria Salus Populi Romani (Keselamatan Penduduk Roma). (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang terkandung dalam pernyataan Allah: ”Akulah Tuhan Allahmu”?

Fri, 21/09/2018 - 19:23
Dari sytereitz.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

442. Apa yang terkandung dalam pernyataan Allah: ”Akulah Tuhan Allahmu” (Kel 20:2)?

Ini berarti bahwa orang beriman harus menjaga dan menjalankan tiga keutamaan teologal dan menghindari dosa yang bertentangan dengan itu. Iman percaya kepada Allah dan menolak segala sesuatu yang berlawanan dengannya, seperti keragu-raguan yang disengaja, ketidakpercayaan, kesesatan, penyangkalan iman dan skisma. Harapan menanti dengan penuh kepercayaan penampakan Allah yang terberkati dan pertolongan-Nya, dan menghindari keputusasaan dan kecurigaan. Kasih mencintai Allah di atas segalanya dan karena itu menolak sikap acuh tak acuh, sikap tidak tahu terima kasih, kelesuan, kejenuhan rohani, dan kebencian akan Allah yang muncul dari kesombongan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2083-2094, 2133-2134

443. Apa arti sabda Allah, ”Sembahlah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mat 4:10)?

Kata-kata ini berarti menyembah Allah sebagai Allah segala sesuatu yang ada, merayakan ibadah individual dan komunitas kepada-Nya yang menjadi kewajibannya, berdoa kepada-Nya dengan pujian, syukur, dan permohonan, mempersembahkan kurban kepada-Nya terutama kurban rohani dari kehidupannya sendiri,yang dipersatukan dengan kurban sempurna Kristus, dan memegang teguh janji dan kaul yang telah diikrarkan di hadapan-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2095-2105, 2135-2136

Keterkejutan melanda Perancis, seorang imam muda bunuh diri

Fri, 21/09/2018 - 01:57
Pastor Jean Baptiste Sèbe dalam setelah Pemberian Saramen Permandian di tahun 2017 © F3 Normandie

Perancis dilanda keterkejutan karena Pastor Jean-Baptiste Sèbe, seorang imam berusia 38 tahun yang sangat terkenal dan sangat dihargai, ditemukan tewas di Gereja Santo Romain di pagi hari, 18 September 2018. Malam hari setelah penemuan jenazahnya, dirayakan Misa untuk mendoakan imam itu.

Kepala Paroki Santo Yohanes XXIII Rouen Perancis, dosen teologi di Institut Katolik Paris, imam di beberapa perguruan tinggi negeri dan sekolah menengah di Rouen itu ditemukan tewas menyusul tuduhan perilaku tidak senonoh dan pelecehan seksual terhadap seorang gadis muda.

Dalam sebuah surat yang diterbitkan di situs Keuskupan Rouen, Uskup Agung Rouen Mgr Dominique Lebrun menyebut imam itu bunuh diri.

“Jelas dia bunuh diri,” kata uskup agung itu. Sikap itu sulit dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. “Ada banyak pertanyaan dalam hati kami, mengapa?” Otoritas Gereja mengungkapkan ketidakpahaman mereka atas sikap pastor itu. Penjelasan satu-satunya yang disampaikan  dalam surat itu bahwa imam itu ”sedang mengalami saat yang sulit.”

Setelah menemukan imam itu tak bernyawa lagi, menurut Mgr Lebrun, keluarganya, orang tuanya, saudara-saudaranya segera diberitahu. “Kami memikirkan keluarganya, parokinya, pelayanan pendidikannya, Kolese Saint-Dominique, para mahasiswa dan rekan-rekannya, dan semua yang menemaninya .”

Namun, tanggal 19 September, jaksa Republik Rouen melaporkan bahwa bunuh diri adalah subjek dari pengaduan uskup agung dari tangan seorang ibu. “Seorang wanita datang mengeluh kepada Uskup Agung Rouen tentang perilaku tidak senonoh dan serangan seksual yang dilakukan terhadap putrinya. Tapi tidak ada yang menjadi perhatian polisi sebelum bunuh diri ini,” kata sebuah sumber polisi seperti ditulis dalam The Cross. Polisi yang menyelidiki fakta-fakta berhati-hati meneliti apa yang mungkin menjadi motivasi tindakan putus asa dari imam muda itu.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan beberapa media dari Perancis)

Mgr Rolly canangkan Kusuma Youth Day untuk tingkatkan kualitas iman OMK

Thu, 20/09/2018 - 23:45
Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, didampingi Ketua Komkep Kusuma, memberkati Patung Salib Kusuma Youth Day 2018 yang akan diarak menuju tempat pelaksanaan di Tompaso Baru. (Foto: PEN@ Katolik/A. Ferka)

Guna meningkatkan kualitas iman Orang Muda Katolik (OMK) yang ada di Keuskupan Manado serta dalam rangka merayakan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado, Komisi Kepemudaan Keuskupan Manado (Komkep Kusuma) akan menggelar Kusuma Youth Day 2018.

Kusuma Youth Day merupakan kelanjutan dari Pertemuan Berkala OMK Keuskupan Manado yang sudah berlangsung 22 kali sejak tahun 1980. Pencanangan Kusuma Youth Day 2018 dilakukan saat acara puncak Peringatan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado di Emmanuel Amphitheater Lotta, Pineleng, Sulawesi Utara, 14 September 2018.

Sebagai tanda pencanangan itu, Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, didampingi Ketua Komkep Kusuma Pastor Hendro Kandowangko Pr, memberkati Patung Salib Kusuma Youth Day yang akan diarak menuju tempat pelaksanaan yakni Paroki Santo Paulus Tompaso Baru.

Diawali ibadah singkat yang dipimpin Ketua Komkep Kusuma didampingi anggota Komkep dan Panitia, Salib Suci itu mulai diarak keesokan harinya, 15 September, dari Emmanuel Amphitheater menuju Gereja Santo Cornelius Lotta dan dijemput puluhan OMK Paroki Lotta dan sejumlah suster.

Sebanyak 11 paroki akan mendapat giliran kunjungan Salib Suci tersebut yakni di Kevikepan Manado, Kevikepan Tombulu dan Kevikepan Stella Maris yang akan menjadi tuan rumah kegiatan.

Pastor Kandowangko menjelaskan, dalam momen Kusuma Youth Day kali ini, ada empat bagian yang akan dilakukan yakni Pra Event (Agustus-September), Live in (23-25 Oktober 2018), Main Event (25-28 Oktober 2018) dan Youth Competition (2019).

“Kegiatan yang bertema “OMK, Iman dan Diskresi Panggilan” ini akan dihadiri sekitar 3.000 peserta yakni para utusan OMK dan pendamping OMK paroki se-Keuskupan Manado,” jelas Pastor Hendro (PEN@ Katolik/A. Ferka)

Salib Kusuma Youth yang dibawa oleh Ketua Komkep Kusuma Pastor Hendro Kandowangko Pr dari Emmanuel Amphitheater menuju Gereja Santo Cornelius Lotta. (Foto: PEN Katolik/A. Ferka)

Mengapa Dekalog wajib ditaati?

Thu, 20/09/2018 - 22:47
Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 15 November 2017: Ketaatan pada perintah-perintah Allah hendaknya mengalir dari hubungan pribadi dengan Bapa dan dari tempat bersyukur untuk hal-hal yang telah dilakukan-Nya dalam hidup seseorang. Kredit Foto: Daniel Ibez/CNA

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

439. Mengapa Dekalog membentuk satu kesatuan organis?

Sepuluh Perintah Allah membentuk satu keseluruhan organis dan tak terpisahkan karena setiap perintah menunjuk pada perintah-perintah lainnya dan pada seluruh Dekalog. Karena itu, melanggar satu perintah berarti melanggar seluruh hukum.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2069-2079

440. Mengapa Dekalog wajib ditaati?

Karena Dekalog mengungkapkan kewajiban mendasar manusia terhadap Allah dan sesamanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2072-2073, 2081

441.  Apakah mungkin menaati Dekalog?

Ya, karena Kristus membuat kita mampu menaatinya dengan anugerah Roh dan rahmat-Nya. Tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2074, 2082

Uskup Sibolga Mgr Ludovikus Simanullang OFMCap meninggal dunia

Thu, 20/09/2018 - 05:52
Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap. Foto dari Kantor Waligereja Indonesia

RIP. Telah wafat MGR. LUDOVIKUS SIMANULLANG OFMCap, hari Kamis 20 September 2018, jam 03.25 di ruang ICU RSE Medan. Setelah jenazahnya diurus, akan dibawa ke dalam kapel dan diikutsertakan dalam Misa pagi jam 6.00. Kemudian akan diantar ke Sibolga dengan ambulans.

Berita kematian Mgr Simanullang itu disampaikan oleh Vikaris Episcopalis (Vikep) Pro Religiosis et Clericis Keuskupan Agung Medan Pastor Leo Sipahutar OFMCap lewat halaman Facebook sekitar pukul 4.30 pagi ini.

Ketika PEN@ Katolik meminta konfirmasi berita itu sekitar 15 menit kemudian, Pastor Sipahutar membenarkan dan menceritakan bahwa Mgr Simanullang masuk Rumah Sakit Elisabeth sejak 1 September 2018 karena keluhan sakit pada ginjalnya.

“Tanggal 6 September, saluran empedunya dibersihkan dengan tembak laser. Hasilnya baik. Lalu tanggal 8 September dilakukan operasi empedu sebab di empedu itu ada batu dan sudah bernanah. Hasilnya baik. Tetapi dua hari kemudian mulai sesak dan tensinya tidak stabil. Ternyata jantungnya tak sanggup menahan kondisinya itu,” jelas imam itu.

Dijelaskan,obat pengencer darah sudah diberikan agar jantung dapat lebih baik mengasup darah. “Ternyata hal itu kemudian mengakibatkan pendarahan pada bekas operasi empedu. Kemudian operasi kedua terpaksa dilaksanakan untuk membersihkan darah yang banyak di dalam lambungnya, sekaligus mengatasi pendarahan itu, dan terpaksa dilakukan transfusi darah sebab sudah banyak darah yang habis,” lanjut imam yang juga sering terdengar di Radio Karina mewartakan Kabar Sikacita itu.

Sesudah itu, lanjut imam itu, ternyata ada keracunan pada ginjal Mgr Simanullang “sehingga perlu darahnya dicuci, dan tubuhnya makin lemah, sehingga tidak dapat lagi dibawa ke Singapura untuk tindakan lebih canggih.”

Diinformasikan bahwa Mgr Simanullang sudah menerima Sakramen Orang Sakit tanggal 12 September 2018 dari tangan Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga OFMCap.

Mgr Simanullang ditunjuk sebagai Uskup Sibolga tanggal 14 Maret 2007 untuk mengisi sede vacante Keuskupan Sibolga yang sudah berlangsung hampir tiga tahun, sejak Mgr Sinaga diangkat sebagai sebagai Uskup Agung Koadjutor Medan, 3 Januari 2004.

Mgr Simanullang ditahbiskan sebagai Uskup Sibolga 20 Mei 2007 oleh Penahbis Utama Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli, didampingi Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap dan Uskup Agung Koadjutor Medan yang kemudian menjadi Uskup Agung Medan Mgr Sinaga.

Mantan Minister Provinsial di Propinsi Kapusin Santo Fidelis (Sibolga) sejak 1997-2003 dan 2006-2007 (tidak selesai karena diangkat menjadi uskup) itu lahir di Sogar, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 23 April 1955, mengikrarkan kaul kekal sebagai Kapusin tanggal 2 Agustus 1981, dan menjadi imam Kapusin tanggal 10 Juli 1983

Seusai tahbisan, tugas perdananya adalah berkarya di Paroki Tarutung Bolak, kemudian mengikuti studi lanjut di Universitas Antonianum Roma, Italia: 1988-1993 dan lulus dalam program doktoral. Setelah kembali, imam itu menjadi Magister Postulan Mela dan Moderator Paroki Tarutung Bolak (1993-1997)

Selama menjadi imam, Mgr Simanullang juga aktif sebagai formator bagi para calon imam di STFT Santo Yohanes Pematang Siantar, Sumatera Utara.(PEN@ Katolik, paul c pati)

Paus pada audiensi umum: Hormatilah orangtua bahkan dengan ketidaksempurnaan mereka

Wed, 19/09/2018 - 23:57
Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 19 September 2018. Foto Vatican Media

Paus Fransiskus mendedikasikan katekese audiensi umum Rabu, 19 September, pada perintah keempat, “Hormatilah ibu-bapamu,” dengan mengatakan “Menghormati orangtua menyebabkan umur yang panjang yang bahagia.”

Kata “kebahagiaan” dalam Sepuluh Perintah Allah, tegas Paus, hanya muncul dalam kaitannya dengan orangtua. Sebenarnya, perintah keempat adalah sebuah janji, “supaya kalian berumur panjang dan hidup baik di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepada kalian.”

Dengan bantuan ilmu pengetahuan manusia, kata Paus, “kami dapat memahami apakah seseorang bertumbuh dalam lingkungan yang sehat dan seimbang atau telah mengalami pengabaian atau kekerasan di masa kanak-kanak.”

Bapa Suci mengatakan, perintah keempat tidak mengharuskan ibu dan bapa menjadi sempurna, dan tidak berbicara tentang tugas anak-anak terlepas dari jasa orangtua mereka. Bahkan jika tidak semua orangtua baik dan tidak setiap anak senang, semua anak bisa bahagia, karena pencapaian hidup sepenuhnya dan bahagia tergantung pada bersyukur kepada mereka yang melahirkan.

Mengenai hal ini, Paus menunjuk beberapa contoh orang kudus dan orang Kristen yang meskipun masa kanak-kanaknya menyakitkan, namun bisa menjalani “kehidupan cemerlang,” berkat Yesus Kristus, mereka telah berdamai dengan kehidupan.

Salah satu contoh adalah Nunzio Sulprizio, orang Italia berusia 19 tahun, yang akan dinyatakan sebagai orang kudus bulan depan. “Dia meninggal dunia setelah terbebas dari banyak rasa sakit dan banyak hal, karena hatinya tenang dan dia tidak pernah menolak orangtuanya,” kata Paus.

Santo Camillus de Lellis yang membangun kehidupan cinta dan pelayanan dari masa kanak-kanak yang kacau, Santa Josephine Bakhita yang dibesarkan dalam perbudakan mengerikan, Beato Carlo Gnocchi sebagai seorang anak yatim piatu yang miskin, dan Santo Yohanes Paulus II yang kehilangan ibunya di usia dini.

Apa pun masa lalu seseorang, kata Paus, “perintah keempat memberi kita orientasi yang mengarah kepada Kristus yang di dalam-Nya Bapa yang sejati diperlihatkan, Bapa yang mengajak kita untuk “dilahirkan kembali dari tempat tinggi.” Oleh karena itu “teka-teki kehidupan kita tercerahkan kalau kita menemukan bahwa Tuhan selalu mempersiapkan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya, di mana setiap tindakan adalah misi yang diterima dari-Nya.”

Karena rahmat, luka-luka kami mendapatkan kekuatan untuk menemukan bahwa pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi “mengapa”, tetapi “untuk siapa?” Jadi, lanjut Paus, “semuanya terbalik dan menjadi berharga dan konstruktif.”

Dalam terang cinta, lanjut Paus, “pengalaman kita yang menyedihkan dan menyakitkan menjadi sumber kesehatan bagi orang lain. Karenanya kita dapat mulai menghormati orangtua kita dengan kebebasan anak-anak dewasa dan menerima keterbatasan mereka dengan penuh belas kasih.”

Mengakhiri katekesenya, Paus Fransiskus mendesak orang Kristiani untuk mengunjungi orangtua mereka di masa tuanya, “dan jangan pernah menghina mereka dengan kata-kata jelek dan kasar, termasuk orangtua orang lain, karena mereka telah memberi kehidupan.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

 

 

Seluruh anak perintis Gereja Merauke diajak lanjutkan misi Kristus di negeri Anim-Ha

Wed, 19/09/2018 - 22:50
Pastor Andreas Fanumbi Pr menyampaikan homili dalam Misa Syukur Pesta Peraknya di Gedung Vertenten Sai. Foto PEN@ Katolik/YM

“Estafet pelayanan misi Kerajaan Allah di Keuskupan Agung Merauke yang sudah dilakukan para perintis yakni para misionaris, imam dan biarawan-biarawati, serta para guru dan katekis awam dari Tanimbar dan Kei harus dilanjutkan. Ini tugas mulia yang dipercayakan oleh Tuhan.”

Pastor Andreas Fanumbi Pr mengucapkan seruan itu dalam homili Misa Syukur Pesta Perak Imamatnya bersama Keluarga Tanimbar di Gedung Serba Guna Vertenten Sai, kompleks Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Merauke, 15 September 2018. Dalam Misa bertema ‘Berbagi dari Kekurangan’ itu, imam yang akrab disapa Pastor Andy itu didampingi konselebran Pastor Antonius Fanumbi MSC dan Pastor John Kandam Pr.

Di gedung Vertenten Sai yang dulu digunakan sebagai Katedral Mereuke itu, Pastor Andy mengajak seluruh anak perintis untuk melanjutkan misi Kristus di negeri Anim-Ha. “Tempat ini menjadi tempat bersejarah, karena para perintis, yakni para Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) datang ke tempat ini bersama para katekis, tokoh agama, guru dan perintis lain yang dibawanya. Sebagai anak perintis dan mewakili seluruh anak perintis, saya berbicara di tempat ini.”

Anak-anak perintis adalah anak-anak para guru dan katekis dari suku Tanimbar dan Kei, yang dibawa oleh para misionaris Belanda ke Papua Selatan. Pastor Andy sendiri berasal dari suku Tanimbar namun lahir dan besar di Papua. Imam itu adalah juga anak dari perintis.

Estafet harus mereka lanjutkan dan tidak boleh berhenti, minta imam itu seraya menegaskan bahwa dia pun wajib melanjutkan misi Kristus. “Komitmen saya, 25 tahun yang akan datang, adalah fokus pada option for the poor, perhatian bagi orang-orang miskin. Inilah misi khusus yang harus dilanjutkan oleh anak-anak perintis,” tegas imam itu.

Pastor Andy mengingatkan bahwa saat ini, Merauke memiliki potret yang baru yaitu potret kemiskinan di seluruh pinggiran kota, potret buruk dari semua pelayanan yang tidak difokuskan kepada mereka. “Melihat potret ini, sebagai seorang imam, saya bertekad terus membaharui diri dengan pertobatan,” kata imam itu.

Seluruh anak perintis lalu diajak untuk bersama-sama melaksanakan misi Kristus yang dipercayakan para pendahulu. Seluruh anak perintis, tegas Pastor Andy, “harus memberikan pelayanan tulus kepada orang asli Papua dan seluruh umat Allah.”

Ingatlah, seru imam itu, “tete-nenek kita berbagi dari kekurangan, maka kita pun juga berbagi dari kekurangan. Kita memberi apa yang ada pada kita. Kita harus keluar dari zona nyaman dan pergi ke zona yang ada tantangan untuk memberitakan bahwa domba-domba Kristus harus mendapat porsi yang sesungguhnya untuk karya pelayanan lebih jauh,” tegas Pastor Andy.

Di akhir homili, Pastor Andy berharap Keluarga Besar Tanimbar, Keluarga Besar Kei dan lain-lain berbagi dari kekurangan. “Tuhan mengharapkan supaya kita berbagi dari kekurangan dan kita memberi dengan tulus, kita memberi dengan kesederhanaan, kita memberi dengan ikhlas. Maka pemberian kita itu akan diberkati oleh Tuhan,” kata Pastor Andy. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Artikel Terkait:

Pastor Andy Fanumbi rayakan pesta perak dengan operasi bibir sumbing dan gerakan seribu rupiah

Apa arti ”Dekalog”?

Wed, 19/09/2018 - 22:28
Foto diambil dari blog Kevinnunez

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

436. Apa arti ”Dekalog”?

Dekalog artinya ”sepuluh firman” (Kel 34:28). Firman ini meringkas Hukum Taurat yang diberikan oleh Allah kepada umat Israel dalam konteks Perjanjian, dan Musa sebagai perantara mereka. Dekalog ini, yang menyajikan perintah-perintah cinta kepada Allah (tiga yang pertama) dan kepada sesama (tujuh yang lainnya), diperuntukkan bagi umat terpilih dan setiap orang, khususnya yang mau menjalani hidup yang terbebas dari perbudakan dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2056-2057

437. Apa hubungan antara Dekalog dengan Perjanjian?

Dekalog harus dipahami dalam terang Perjanjian tempat Allah mewahyukan Diri dan menyatakan kehendak-Nya. Dalam menaati perintah-perintah-Nya, umat menunjukkan bahwa mereka milik Allah dan mereka menjawab inisiatif cinta-Nya dengan persembahan syukur.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2058-2063, 2077

438. Seberapa pentingnya Dekalog ini bagi Gereja?

Gereja, dalam kesetiaannya kepada Kitab Suci dan teladan Kristus, mengakui kepentingan paling dasar dan makna Dekalog: Orang-orang Kristen wajib menaatinya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2064-2068

Misionaris Italia, Pastor Pierluigi Maccalli, diculik di Niger

Tue, 18/09/2018 - 23:55

Seorang imam misionaris Italia, Pastor Pierluigi Maccalli, yang berkarya di Niger, telah diculik oleh orang-orang yang diduga militan jihad di dekat perbatasan dengan Burkina Faso, di malam 17 September 2018. Kementerian Luar Negeri Italia sedang menyelidiki kasus itu.

Seorang juru bicara pemerintah Niger mengatakan sehari sesuahnya bahwa itu penculikan kedua seorang warga Eropa di negara Afrika Barat tahun ini, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News

Pastor Maccalli dari Serikat Misi Afrika (SMA) aslinya dari Keuskupan Crema di Italia bagian utara dan telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai misionaris di Pantai Gading sebelum pindah ke Paroki Bomoanga, di Keuskupan Niamey.

Seorang saksi mata mengatakan, imam berusia 57 tahun itu diculik bersama dengan seorang biarawati setempat. Wilayah ini telah berjuang mengalahkan kelompok-kelompok jihadis, termasuk beberapa kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan ISIS, yang aktif di sepanjang perbatasan Niger dengan Mali dan Burkina Faso.

Kementerian Luar Negeri Italia melakukan kontak dengan keluarga imam itu dan sedang menangani kasus itu.

Keluarga Pastor Maccalli mengatakan bahwa keluarga itu menyatu dalam doa penuh harapan agar orang yang mereka cintai itu kembali dengan selamat.

Paroki Bomoanga, tempat Pastor Maccalli berkarya, digambarkan sebagai daerah terisolasi dan terabaikan karena kurangnya jalan, komunikasi dan infrastruktur. Ini area yang dirundung kemiskinan struktural serta persoalan serius yang berasal dari kurangnya perawatan kesehatan, air, dan pendidikan.

Dengan komitmen kuat untuk mengawali evangelisasi dengan peningkatan martabat manusia, Pastor Maccalli selalu memperhatikan masalah-masalah lokal, dengan mempertahankan proyek-proyek kredit mikro untuk pengembangan dan menentang beberapa praktik tradisional seperti infibulasi dan sunat perempuan. Menurut sumber-sumber lokal, ini bisa menjadi motif di balik penculikannya.

SMA adalah komunitas internasional misionaris Katolik yang melayani masyarakat Afrika di seluruh dunia. SMA didirikan di Lyons tahun 1856. Hampir 1.000 anggotanya berasal dari Afrika, Amerika, Asia dan Eropa dan bekerja di sejumlah negara Afrika serta Eropa, Amerika, dan Asia.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Para uskup Belanda menuntut kejelasan dan kebenaran tentang kasus-kasus pelecehan

Tue, 18/09/2018 - 23:24
Gereja Katolik Belanda menanggapi tuduhan (Pavlofox)

Sebuah koran Belanda mempublikasikan daftar nama-nama uskup dan kardinal yang diduga terlibat dalam upaya menutupi pelanggaran seksual atau pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan klerus. Namun kasus-kasus yang dipersoalkan itu telah ditangani di masa lalu berkat penyelidikan yang ditugaskan oleh Gereja sendiri.

Sudah bertahun-tahun Gereja Katolik di Belanda berkomitmen memerangi pelanggaran seks oleh klerus dan telah mengambil langkah-langkah ketat untuk memastikan bahwa kejahatan itu tidak terulang. Baru-baru ini diterbitkan berita tentang masalah yang berkaitan dengan kasus-kasus masa lalu yang telah ditangani.

Sebuah pernyataan diterbitkan di situs Konferensi Waligereja Belanda sebagai tanggapan atas sebuah artikel di surat kabar harian Belanda “NRC” (Nieuwe Rotterdamsche Courant) yang menyebutkan sekitar dua puluh uskup dan dua kardinal dituduh menutupi pelanggaran di negara itu selama 65 tahun, antara 1945 dan 2010. Empat dari klerus yang dituduh itu telah meninggal.

Sebagian besar informasi itu, ungkap pernyataan itu, sudah dipublikasikan tahun 2011 setelah penyelidikan yang diprakarsai Gereja Katolik sendiri. Banyak klerus yang tertuduh sudah meninggal. Atas dasar penyelidikan ini, Gereja Belanda meluncurkan langkah-langkah di tahun 2011 untuk mencegah dan memerangi pelanggaran itu. Di tahun 2014, sebuah Pedoman Perilaku yang sangat ketat diadopsi, dan diperbaharui tahun 2018 dengan kewajiban yang lebih ketat untuk melaporkan dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur kepada polisi, bahkan dalam kasus “kemiripan kebenaran”.

Daphne van Roosendaal, juru bicara Konferensi Waligereja Belanda, menegaskan kembali bahwa berita itu bukan sesuatu yang  baru. Menurut pandangannya, berita itu diterbitkan atas dasar laporan Pennsylvania. Perempuan itu mengatakan, daftar nama-nama itu harus diverifikasi.

Dijelaskan, dalam terang Pedoman Perilaku yang baru, sekarang praktis mustahil melakukan pelanggaran tertentu. Dia yakin, penting bagi Gereja bahwa kebenaran diketahui dan cahaya itu dicurahkan atas segala sesuatu yang telah terjadi, dan penting bagi para korban bahwa kebenaran itu dikejar.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?

Tue, 18/09/2018 - 22:21
Paus Fransiskus membawa Injil saat merayakan Kamis Putih di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 29 Maret 2018. Foto Paul Haring/CNS

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

434. ”Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16)

Kepada seorang pemuda yang mengajukan pertanyaan ini, Yesus menjawab, ”Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah”, dan kemudian Dia menambahkan, ”Datanglah kemari dan ikutilah Aku” (Mat 19:16-21). Mengikuti Yesus mengandung arti termasuk menaati perintah-perintah Allah. Hukum tidak dihapuskan, tetapi manusia diundang untuk menemukannya kembali dalam Pribadi Guru ilahi, yang melaksanakannya secara sempurna dalam Diri-Nya, menyingkapkan arti yang sebenarnya, dan memaklumkan keabsahannya yang tetap.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2052-2054, 2075-2076

435. Bagaimana Yesus menafsirkan Hukum?

Yesus menafsirkan Hukum dalam terang perintah rangkap tetapi satu, yaitu perintah cinta kasih, kepenuhan Hukum: ”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada dua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para Nabi” (Mat 22:37-40).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2055

Perjalanan Salib membuat Keuskupan Manado tumbuh dan berkembang selama 150 tahun

Tue, 18/09/2018 - 21:31
(dari kiri ke kanan) Mgr Petrus Turang Pr, Mgr Josef Suwatan MSC, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, Mgr Rolly Untu MSC, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Mgr John Liku, da Pastor Dammy Pongoh Pr. (Foto PEN@ Katolik/A Ferka)

“Perjalanan Salib di Keuskupan Manado yang berawal dari kedatangan Pastor Johanes de Vries SJ atas permintaan Bapak Daniel Mandagi telah memberikan dampak yang luar biasa. Lewat perjalanan Salib Suci itu, iman umat Katolik daerah ini, Keuskupan Manado, telah tumbuh dan berkembang.”

Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC mengatakan hal itu dalam Misa Syukur Peringatan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado (Bertumbuh dan Berkembangnya Gereja Katolik di Keuskupan Manado) yang berlangsung di Emmanuel Amphitheater Lotta pada Pesta Salib Suci, 14 September 2018.

Misa itu diawali dengan penataan Salib dan Obor Yubileum yang dibawa dalam prosesi sepanjang 50 kilometer sekitar 15 jam dari Kema ke Lotta oleh 150 OMK Kema dan diterima oleh Mgr Rolly dengan berlutut dan mencium kaki salib itu beberapa ratus meter di depan amphitheater itu.

Mgr Rolly memimpin Misa yang dihadiri ribuan umat itu dengan konselebran Uskup emeritus Mgr Josef Suwatan MSC, Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang, Uskup Agung Makassar Mgr John Liku Ada dan ratusan imam Keuskupan Manado.

Mgr Rolly menjelaskan, iman Katolik telah tumbuh dan berkembang di Keuskupan Manado, “setelah kedatangan Pastor de Vries dengan melakukan pembaptisan di Kema tanggal 14 September, 150 tahun lalu, kemudian di Langowan dan beberapa tempat lain, maka umat Katolik semakin berkembang.”

Kemudian, para para imam dan suster dari beberapa tarekat mulai berdatangan di daerah ini dan lahirlah banyak katekis, guru agama, penolong-penolong, tenaga kesehatan dan lain-lain, “yang menjadi tanda dan simbol bahwa Salib Suci itu terus bertumbuh dan berkembang,” kata Mgr Rolly seraya berharap agar Pesta Salib Suci juga menjadi momen untuk merenung buah-buah iman dalam perjalanan Salib Suci yang menyelamatkan.

Menurut Mgr Rolly, rencana Allah lewat Salib Suci tetap hidup dan berjalan di Keuskupan Manado. “Estafet perjalanan Salib Keselamatan terus terjadi di Tanah Minahasa dan Keuskupan Manado yang telah dirintis Pastor de Vries,” tegas Uskup Manado itu.

“Perjalanan Salib Keselamatan ini terus berjalan, terus berkembang dan terus menjadi sumber keselamatan. Pelbagai tantangan terus saja ada tapi tidak menggoyahkan semangat iman di sini,” tegas Mgr Rolly.

Mgr Turang, saat diberi kesempatan berbicara dalam Misa itu, mengatakan bahwa luar biasanya iman umat di Keuskupan Manado hendaknya diikuti semangat beri diri dari kaum awam melalui pengabdian, perjalanan hidup lewat pekerjaan atau karyanya dalam tugas-tugas duniawi. “Semangat spiritualitas itu, membuat Allah hadir di dunia ini,” kata Mgr Turang.

Mgr Mandagi menambahkan, semangat iman umat di Keuskupan Manado sungguh luar biasa dan menghasilkan banyak buah. “Setelah 150 Tahun, ada buah-buah yang dihasilkan, yakni buah persatuan dan kesatuan, buah perayaan liturgi yang luar biasa, dan buah pengorbanan,” kata Mgr Mandagi seraya menambahkan bahwa hidupnya Gereja di Keuskupan Manado karena adanya banyak imam.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, saat memberi sambutan seusai Misa mengakui betapa besarnya kontribusi umat Katolik di Sulawesi Utara. “Pemprov Sulut mengapresiasi kontribusi tersebut,” ujar gubernur, yang berharap peran umat Katolik semakin meningkat termasuk dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Selain Misa Syukur, puncak peringatan yubileum ditandai ramah tamah serta penampilan berbagai atraksi. Namun beberapa bari sebelumnya, panitia pelaksana yang diketuai Pastor Dammy Pongoh Pr telah melakukan pelbagai kegiatan puncak peringatan yubileum, antara lain Pertemuan Sekami se-Keuskupan Manado, Konser Musik Klasik dan Tradisional, Festival Paduan Suara, dan Pagelaran Sendratasik (seni drama, tari dan musik). (PEN@ Katolik/A Ferka)

Suasana Misa. Foto PEN@ Katolik/A Ferka Acara puncak 150 Tahun Bertumbuh dan Berkembangnya Gereja Katolik di Keuskupan Manado turut dihadiri Gubernur Sulut Olly Dondokambey. (Foto PEN@ Katolik/A Ferka)

Paus Fransiskus memberikan salib kepada orang-orang yang mengikuti Doa Angelus

Mon, 17/09/2018 - 23:17
Vatican Media

Untuk merayakan Pesta Salib Suci 14 September, Paus Fransiskus memberikan salib kecil kepada yang hadir dalam Doa Angelus hari Minggu, 16 September, di Lapangan Santo Petrus, dengan  menyebutnya “tanda kasih Allah, yang dalam Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.”

“Hari ini, dua hari setelah Pesta Salib Suci, aku berpikir untuk memberi kepada kalian yang berada di sini di lapangan ini sebuah salib,” kata Paus dalam sambutannya setelah doa Angelus, demikian laporan Devin Watkins dari Vatican News.

Sekitar 40.000 salib logam bersepuh perak disebarkan disertai kartu doa dengan kata-kata (dalam bahasa Inggris, Italia, dan Spanyol): “Salib Kristus mengandung semua cinta Allah; di sana kita menemukan belas kasih-Nya yang tak terukur.” Paus Fransiskus mengucapkan kata-kata itu dalam Jalan Salib yang diadakan pada Hari Kaum Muda se-Dunia di Brasil, 26 Juli 2013.

“Salib adalah tanda kasih Allah, yang dalam Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita,” kata Paus sebelum pembagian salib itu. “Saya mengajak kalian untuk menerima hadiah ini dan menempatkannya di rumah kalian, di kamar anak-anak kalian, atau kamar kakek-nenek kalian.”

Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa salib itu “bukan barang hiasan.” Paus mengatakan salib adalah “sebuah tanda keagamaan yang dimaksudkan untuk kontemplasi dan doa.”

Dengan menatap Yesus yang Tersalib, lanjut Paus “kita memandang keselamatan kita.”

Bapa Suci berterima kasih kepada para suster, orang miskin, dan para pengungsi yang membagikan hadiah, yang, kata Paus, “kecil tapi berharga.”

Setelah itu, para relawan itu mendapatkan sandwich dan minuman ringan, yang diberikan oleh Kantor Amal Kasih Kepausan atas nama Paus Fransiskus.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Vatican Media Vatican Media

Apa tujuan perintah-perintah Gereja?

Mon, 17/09/2018 - 21:09
berdasarkan gambar dari http://www.saintgeorges.ca/our-homilies/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

431. Apa tujuan perintah-perintah Gereja?

Lima perintah Gereja dimaksudkan untuk memberi jaminan kepada umat beriman syarat minimum yang dituntut dalam hidup doa, hidup sakramental, komitmen moral, dan perkembangan dalam cinta Allah dan sesama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2041, 2048

432. Manakah perintah-perintah Gereja itu?

Perintah-perintah itu adalah:

1) Ikutlah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.

2) Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun.

3) Sambutlah tubuh Tuhan pada masa Paskah.

4) Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.

5) Bantulah kebutuhan-kebutuhan material Gereja, masing-masing menurut kemampuannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2042-2043

433. Mengapa kehidupan moral Kristen mutlak perlu untuk pewartaan Injil?

Karena kehidupan mereka disesuaikan dengan Yesus. Orang-orang Kristen menarik orang lain kepada iman akan Allah yang benar, membangun Gereja, mewartakan kepada dunia dengan semangat Injil, dan menantikan kedatangan Kerajaan Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2044-2046

Kaum muda milenial berbagai agama ikut persiapan pertunjukan pembawa pesan multikultural

Mon, 17/09/2018 - 19:03
PEN@ Katolik/LAT

Lebih dari 200 orang muda dari berbagai agama menikmati pertunjukan teatrikal bertajuk “Makrifat (mengenal) SakaMuni Temui Jatidiri” di Semarang, 15 September, yang diselenggarakan dalam rangka pra-event Srawung (perjumpaan) Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018 di bulan Oktober.

SakaMuni (Srawung Kaum Muda Milenial) adalah salah satu pre-event Srawung Persaudaraan Sejati OMK Rayon Barat Utara Kevikepan Semarang, yang mengangkat konsep pertunjukan dengan kolaborasi teatrikal, musik-tari, dan film-videografi yang dikemas menjadi satu cerita sebagai pembawa pesan multikulural tentang keberagaman suku, agama, bahasa dan adat istiadat dengan tema “Srawung Kaum Muda Milenial.”

Ketua panitia, Maria Victa, bersyukur karena acara yang melibatkan kaum muda berbagai agama itu berjalan baik dan lancar, dan berharap acara puncak Srawung bulan Oktober 2018 semakin ramai. “Semoga bisa semakin ramai. Kaum mudanya semakin bisa srawung dari latar belakang apa pun, hadir dan menyemarakkan acara itu,” katanya.

Proses persiapan acara itu, kata penulis naskah, Hendy Kiawan, kepada awak media, diawali dengan mendengarkan kegelisahan dan keprihatinan orang muda dewasa ini tentang gejala intoleransi yang mulai merebak di masyarakat. “Dari situlah muncul ide ‘Makrifat SakaMuni Temui Jatidiri,” katanya

Cerita tentang makrifat sebenarnya lahir dari pergulatan kaum muda sendiri untuk mempertanyakan “bagaimana kesejatian saya harus berproses dalam kehidupan.” Makrifat, jelasnya, adalah satu karya “yang lahir dari perjuangan seseorang untuk melepaskan diri dari belenggu tata nilai norma.”

Makrifat juga menyinggung soal kesatuan antara manusia dengan Tuhan, kata Hendy yang juga menyoroti kegelisahan orang muda terkait surga. “Kami percaya, surga itu ada dalam kebersamaan. Salah satunya, proses srawung yang nantinya kita lakukan merupakan proses surgawi, bagaimana kita menikmati keselamatan, persaudaraan satu keluarga,” katanya.

Kegiatan teater itu, menurut sutradara teater, Paminto, sebenarnya membuka ruang ekspresi bagi anak-anak muda untuk mengasah keterampilan. Sayangnya, selama ini ruang berkesenian sangat kurang “sehingga banyak anak muda lari ke aktivitas yang boleh dikatakan tidak menguntungkan.”

Acara itu mendapat apresiasi positif dari Koordinator Persaudaraan Lintas Agama yang berbasis di Semarang, Setyawan Budi, karena acara itu berhasil menggandeng kerja sama kaum muda dari berbagai agama. Dia berharap, kegiatan itu tetap bisa berkelanjutan.

Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Semarang,  Mushonifin, menyatakan kegembiraannya atas keberhasilan acara itu. “Ini momentum bagi kita semua untuk membangun jati diri kita kembali sebagai anak bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Semarang Pastor Hubertus Adi Wiyanto MSF yang berproses bersama kaum muda berharap, srawung tetap dilanjutkan. “Tidak hanya berhenti pada even, tetapi berkelanjutan di srawung setiap hari. Teman-teman muda memiliki jejaring kuat dalam menjalani kehidupan ini. Jadi, kegiatan sangat merukunkan ini, saya rasa baik jika dirawat sampai ke akar rumput, sampai di pergaulan sehari-hari, sehingga srawung sungguh berbuah, menjadi berkat bagi siapa saja, teristimewa untuk Indonesia yang kita cintai,” ungkapnya.

Pastor Martinus Joko Lelono Pr yang mengawal srawung di beberapa tempat mengatakan, Keuskupan Agung Semarang (KAS) memberi tempat bagi kaum muda untuk menyadari bahwa mereka mempunyai peran untuk menyiapkan masa depan. “Kami mengajak kaum muda terlibat dalam kegiatan lintas iman. Kita ingin berperan aktif menjaga nasionalisme,” kata Pastor Joko yang berharap kaum muda aktif menjaga kesatuan Indonesia dan persaudaraan antarumat manusia.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengapresiasi pra-srawung di berbagai kota sebagai proses kreatif orang muda yang istimewa. “Suasana di berbagai wilayah menampilkan kreativitas unik. Yogya, Solo, Kedu, Semarang memperkaya paradigma bagaimana orang muda bergembira, bersaudara dengan kreativitas luar biasa istimewa,” kata imam itu.

Pastor Budi berharap, pergerakan selama tahun 2018 terus berkembang dan bergema untuk “mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman apa pun agama dan kepercayaannya. Kita bersaudara, muda, bergembira.”(PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

PEN@ Katolik/LAT

Pages