Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 1 hour 29 min ago

Jumat, 24 November 2017

Fri, 24/11/2017 - 11:22

PEKAN BIASA XXXIII

Peringtatan Wajib Santo Andreas Dung Lac, Imam dan kawan kawam Martir Vietnam (M)
Santo Krisogonus; Santo Vinsensius Liem; Santo Ignasius Delgado; Santo Dominikus An-Kham

Bacaan I: 1Mak. 4:36-37.52-59

Mazmur: 1Taw. 29:10-12d; R:13b

Bacaan Injil: Luk. 19:45-48

Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Renungan

Tindakan revolusioner itu harganya mahal. Keberanian Yesus untuk membersihkan Bait Allah dari praktik-praktik kecurangan dan ketidakadilan membuat Ia semakin dibenci oleh para Imam dan pemimpin bangsa Yahudi. Tindakan Yesus mengganggu stabilitas kenyamanan dan kemapanan para pemimpin tersebut. Sementara nuansa yang sangat berbeda ditampilkan oleh Kitab Makabe. Di sana digambarkan sukacita bangsa Israel karena Bait Allah yang telah selesai dibangun dan betapa mereka penuh semangat untuk menghias Bait Allah tersebut dengan ornamen-ornamen indah sebagai persembahan bagi Allah.

Dulu orang Israel penuh sukacita atas Bait Allah karena itu berarti Allah berdiam bersama mereka. Di zaman Yesus, sukacita itu berganti dengan ketidakadilan dan kecurangan yang membuat Bait Allah bagaikan sarang penyamun.

Yesus mengingatkan orang Israel supaya bertobat dan kembali kepada sukacita yang pada masa lalu dialami leluhur mereka. Tetapi, pertobatan memang bukan perkara sederhana. Ketika manusia berniat untuk bertobat, ia harus berani mengubah dirinya secara revolusioner. Masalahnya, itu berarti harus mengubah situasi nyaman dan aman, ketenangan dan kenikmatan yang selama ini terbiasa dialami. Di sinilah tantangan bagi orang beriman. Beranikah kita mengubah cara hidup, membangun habitus baru untuk hidup seturut kehendak Allah? Atau kita memilih bertahan dengan segala kenyamanan seperti mereka yang menolak Yesus?

Tuhan Yesus, cairkanlah hatiku yang beku dan tuntunlah aku kepada pertobatan yang sejati. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agus rayakan HUT ke-68 sambil ajak umat gunakan talenta yang diberikan Tuhan

Fri, 24/11/2017 - 11:12

Tuhan itu baik. Kita lahir ke dunia ini karena kemauan Tuhan dan ketika lahir kita diberi talenta masing-masing. Tugas kita adalah menggunakan talenta itu dengan dengan baik dan sepenuh hati, meski hanya satu talenta.  “Walaupun kita punya talenta yang hebat dan tinggi, tetapi jika kita tidak menggunakannya dengan baik, itu merupakan kesalahan.”

Pesan itu disampaikan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr dalam Misa yang dipimpinnya bersama 10 imam konselebran di Gedung Pasifikus milik Paroki Santo Yoseph Katedral Pontianak, 22 November 2017, untuk merayakan HUT ke-68 dari uskup agung itu. Mgr Agus lahir di Lintang, Kapuas, Sanggau, Kalimantan Barat, 22 November 1949.

Homili Misa yang dihadiri banyak umat, pastor, suster, bruder dan frater itu menekankan perumpamaan tentang talenta yang menurut uskup itu harus dipertanggungjawabkan oleh semua orang yang sudah menerimanya dari Tuhan.

“Saya ingat betul, waktu itu tanggal 21 Mei 2014 saya dipanggil oleh Duta Vatikan untuk menghadap. Dalam pertemuan itu saya ungkapkan isi hati saya, bahwa saya baru saja merasa “enak” di Keuskupan Sintang, mengapa sudah harus dipindah ke Keuskupan Agung Pontianak. Siapakah saya ini hanya seorang uskup pedalaman, anak kampung. Saya tahu bahwa tugas sebagai Uskup Agung Pontianak itu berat,” kenang Mgr Agung.

Ungkapan itu, menurut Mgr Agus, diungkapkan karena kesadaran bahwa sebagai manusia pasti punya kelemahan. Namun, uskup itu percaya bahwa semuanya itu adalah kemauan Tuhan dan Tuhan sanggup melengkapi kekurangan dan kelemahan yang ada dalam dirinya.

Bahkan Mgr Agus bangga mengatakan dirinya adalah anak kampung karena dia yakin akan kebaikan Tuhan, yang mau memakai dirinya meskipun dia anak kampung. Ungkapan refleksi Mgr Agus yang menceritakan perjalanan panggilannya sebagai anak kampung tertulis dalam buku Otobiografi Mgr Agustinus Agus berjudul “Anak Kampung Jadi Uskup Agung, yang diluncurkan bulan Juni 2017 pada pesta 40 tahun imamatnya.

Setelah Misa, seluruh umat yang hadir diundang menuju Wisma Keuskupan Agung Pontianak untuk melanjutkan acara yang Mgr Agus sebut sebagai acara kekeluargaan. Di sana ada lagu-lagu selamat ulang tahun, peniupan lilin, pemotongan kue ulang tahun, pembagian kue ulang tahun dan makan bersama. (aop/mssfic)

 

Kamis, 23 November 2017

Thu, 23/11/2017 - 11:37

PEKAN BIASA XXXIII (H) 

Santo Klemens I, Paus Martir; Santo Kolumbanus;
Beato Mikhael Agustinus Pro

Bacaan I: 1Mak. 2:15-29
Mazmur: 50:1-2.5-6.14-15; R:23b
Bacaan Injil: Luk. 19:41-44

Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota Yerusalem, Ia menangisinya, kata-Nya: ”Wahai Yerusalem, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Renungan

Seorang gadis kecil mendapat hadiah sebuah kalung ”mainan” dari ayahnya. Meski mainan, tetapi kilau manik-maniknya sangat memikat hati gadis kecil itu. Dengan bangga setiap hari ia memakai kalung itu, kadang sambil bergaya di depan cermin. Sekian minggu berselang, ayahnya datang dan bertanya, ”Boleh ayah minta kalungmu?” Gadis itu menggeleng. Tiga kali ayahnya bertanya dan selalu ditanggapi dengan penolakan. Bahkan gadis kecil itu menjadi kesal lantaran mengira ayahnya ingin mengambil kalung kesayangannya. Lalu ayahnya pergi. Yang tidak diketahui oleh gadis kecil itu, di genggaman tangan ayahnya ada sebuah kalung emas asli nan berkilau yang tadinya hendak ditukar dengan kalung mainan tersebut.

”Jika engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu … tetapi semuanya sekarang tersembunyi bagimu” (Luk. 19:42). Yesus menangis melihat manusia yang begitu kokoh berpegang pada benteng keselamatan yang mereka bangun dengan segala kemegahan. Benteng keselamatan yang sejati sungguh tersembunyi sehingga tak dapat dijadikan sandaran atau jaminan pengharapan. Di sini sebuah pertanyaan ditujukan kepada kita, apakah kita mau terus berpegang pada kemuliaan yang tampak atau pada rahmat Allah yang tersembunyi?

Ya Allah, bukalah mataku supaya tidak disilaukan oleh yang fana dan mampu melihat rahmat-Mu yang tersembunyi. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Rudy Suparman, CEO Star Energy, terima Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi

Thu, 23/11/2017 - 02:24

Metro TV, dalam program pukul 20.00-21.30, tanggal 21 November 2017, menayangkan secara langsung penyerahan penghargaan “Economic Challenges Awards 2017” dengan tema “Leading the Change” dalam 10 kategori, yakni energi, farmasi, infrastruktur, konstruksi, consumer dan retail, property dan real estate, perbankan, telekomunikasi, industri kreatif, CEO of the Year.

Di tengah tidak menentunya harga komoditas, kata pakar saham yang menjadi pembaca nominasi pertama, Ellen May, “sektor energi semakin penuh dengan tantangan. Namun, dengan terus meningkatnya kebutuhan energi membuat industri di sektor ini harus mampu bertransformasi untuk menjawab kebutuhan energi, sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis dengan baik.”

Setelah menayangkan lima perusahaan nominasi untuk kategori energi (PT Aneka Tambang (Persero) TBK, PT Medco Energi International TBK, PT Pertamina TBK, PT Perusahaan Gas Nasional TBK, dan Star Energy Group Holdings PTE LTD), Ellen May mengatakan “Dan, pemenang Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi adalah Star Energy Group  Holdings PTE LTD.”

Maka, naiklah ke panggung seorang pengusaha Katolik dari Jakarta yakni Rudy Suparman, CEO PT Star Energy, yang kemudian menerima penghargaan Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi dari Menteri ESDM Ignatius Jonan.

Setelah berterima kasih untuk penghargaan yang diterima, Rudy Suparman mengatakan, “apa yang kami lakukan di sini adalah untuk memperbesar kemampuan Indonesia dalam menghasilkan listrik dari tenaga panas bumi, yang merupakan energi yang ada di Indonesia sendiri. Kami harap apa yang kami lakukan menjadi satu persembahan bagi seluruh bangsa Indonesia.”

Menurut Metro TV yang memberi alasan penghargaan itu, perlambatan ekonomi masih terus membayangi Indonesia. “Rapor kinerja perusahaan-perusahaan di sektor strategis masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2017 cenderung masih stagnant. Sektor konsumsi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan karena pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini pun memberikan tekanan pada pencapaian sektor industri. Economic Challenges Awards 2017 pun mencari perusahaan dan individu yang mampu menjawab tantangan ini.”(pcp)

Murid-murid SMAK Santa Maria Malang ikuti latihan kepemimpinan untuk tangkal radikalisme

Tue, 21/11/2017 - 23:18

Guna meningkatkan kecintaan dan bela negara, serta menangkal dan menjauhkan radikalisme dari sekolah, Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMAK Santa Maria Langsep Malang melaksanakan Latihan Kepemimpinan Tingkat Lanjut (LKTL) di perkebunan milik Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK).

Latihan kepemimpinan yang dilaksanakan 17-19 November 2017 dan diikuti 30 siswa-siswi sekolah itu,. menurut Wakil Kepala Kesiswaan SMAK Santa Maria YB Mispan, bertujuan untuk melatih mental, kedisiplinan, tanggung jawab, karakter, kejujuran, keakraban, “termasuk memiliki kecintaan yang mendalam terhadap NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Kebhinekaan.”

Kegiatan yang juga mengajak seluruh siswa-siswi SMAK Santa Maria untuk terus meningkatkan toleransi antarteman itu, jelas Mispan, dilengkapi bakti sosial yang dilakukan OSIS bagi masyarakat setempat yang berpenghasilan rendah dengan “menjual pakaian bekas layak pakai” untuk “melatih para murid untuk berempati dan peduli kepada sesama yang masih sangat membutuhkan bantuan.”

Pendamping OSIS itu menambahkan, sejak September hingga November 2017, calon-calon pengurus OSIS melakukan proses pembinaan dan penggemblengan di setiap jam pulang sekolah, “berupa latihan kedisiplinan dan tanggung jawab, yang merupakan hal terpenting dalam pembentukan karakter murid.”

Menurut Mispan, penggemblengan yang melibatkan semua pembina itu menerapkan sistem 50 persen dan 30 persen. “Artinya, 50 persen dilihat dari sisi kepribadian, kejujuran, dan kedisiplinan, dan 30 persen dari sisi akademis. Dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan output yang sungguh diharapkan.”

Latihan kepemimpinan bertema “Strive for Progress” itu juga dilengkapi outbond untuk melatih kebersamaan dan kekompakan serta meningkatkan saling percaya dan cinta antarteman dalam bingkai NKRI.

Seorang murid kelas XII yang diangkat sebagai ketua panitia, Viona Wijaya, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa masyarakat setempat menyambut baik kegiatan baksos dalam LKTL itu, “dan mereka meminta kami untuk kembali melakukan baksos serupa. Kami semua ikut senang dan gembira, walau pun yang kami berikan belum seberapa.” (Felixianus Ali)

 

Viona Wijaya YB Mispan

Selasa, 21 November 2017

Tue, 21/11/2017 - 14:06

PEKAN BIASA XXXIII

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)
Santo Nikola Giustiniani

Bacaan I: 2Mak. 6:18-31

Mazmur: 3:2-7; R:6b

Bacaan Injil: Luk. 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Renungan

Zakheus adalah pemungut cukai yang bertindak tidak adil terhadap sesama. Tetapi ia juga korban dari kebencian masyarakat. Ia diberi label orang berdosa dan seakan selamanya ia harus membawa label atau cap itu ke mana pun ia pergi. Seakan tidak ada lagi kemungkinan atau kesempatan baginya untuk bertobat dan menjalani hidup yang lebih baik. Dengan kata lain, Zakheus adalah orang yang dikerdilkan oleh kebencian dan label yang diberikan masyarakat kepadanya. Perjumpaan Zakheus dengan Yesus adalah kritik bagi cara kita memperlakukan orang yang bersalah.

Zakheus bukan orang yang menikmati kejahatannya. Ia ingin dibebaskan, tetapi tidak dimungkinkan oleh stigma dan perlakuan masyarakat. Tetapi, ia tetap ingin mengalahkan kekerdilannya dengan memanjat pohon untuk bertemu dengan Yesus. Ia berusaha keras melampaui batas dirinya untuk bertemu dengan Yesus. Bukankah ini suatu tanda pertobatan?

Lalu, perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya. Yesus tidak mengatakan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya memberi Zakheus kesempatan untuk mewujudkan niat pertobatannya. Kemudian, terjadilah sukacita itu. Zakheus bertobat dan berbagi sukacita dengan orang miskin dan semua orang yang pernah menjadi korban kejahatannya. Penghakiman dan kebencian hanya akan membuat semua orang terpenjara, sedangkan belas kasih dan pengampunan memerdekakan manusia.

Tuhan Yesus, curahkanlah semangat belas kasih kepadaku supaya aku tidak mudah menghakimi sesama, melainkan menerima setiap orang dengan kasih. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agustinus Agus berkati aula serba guna sumbangan alumni persekolahan suster

Tue, 21/11/2017 - 05:25

“Saya bangga dengan orang-orang Pontianak yang sukses, tetapi tidak melupakan tempat asalnya. Orang Kalbar yang sukses dan punya niat luhur ingin membangun Kalbar, pasti pahalanya lebih luhur lagi,” kata Mgr Agustinus Agus kepada wakil-wakil donatur dan alumni Sekolah Suster Pontianak, Vidjongtius, Ali, Suwana dan Lauren Sarinah, yang kini menjadi pengusaha di Jakarta.

Uskup Agung Pontianak berbicara tanggal 19 November 2017 dalam pemberkatan Aula Serba Guna Persekolahan Suster Pontianak, yang ide atau cikal bakal pembangunannya serta tekad bahu membahu membangun dan memajukan sekolah itu muncul dalam Reuni Akbar Lintas Angkatan 1960-1990 SD dan SMP Suster Pontianak, 25 Maret 2017.

Reuni itu terlaksana berkat dukungan Provinsial SFIC Suster Irene SFIC dan suster-suster lainnya, serta Tim Peduli Pendidikan Keuskupan Agung Pontianak, yang mendukung tekad para alumni untuk “tidak berpangku tangan, melainkan secara optimal dan bertahap membantu dan membawa sekolah suster ke tingkat yang lebih baik, khususnya dalam menghadapi perubahan pesat di dunia pendidikan saat ini.”

Sejak awal, menurut Mgr Agus, Gereja Katolik sudah memiliki karya rumah sakit, karya pendidikan dan karya sosial lainnya, “tetapi sekarang ini mutu pelayanan menurun, sudah ada pembedaan kaya dan miskin, maka perlu perubahan, bukan hanya di medan karya, tetapi juga dalam biara dan Gereja, jangan sampai sekolah Katolik, atau rumah sakit Katolik menjadi karya yang hanya disegani tetapi tidak dicintai.”

Uskup berharap semoga dengan perubahan, perkembangan dan pembangunan fasilitas pendukung seperti aula baru dari para donatur itu, pelayanan para Suster SFIC lebih baik lagi dan “menjadi contoh bagi masyarakat bahwa orang Katolik itu baik, sekolah Katolik itu baik, tidak membeda-bedakan suku, agama dan sebagainya,” tegas Mgr Agus.

Ketua Tim Peduli Pendidikan Juliana Sujadi menegaskan, sekarang sekolah Katolik banyak terpukul dari pelbagai segi di antaranya perubahan susunan penduduk, menghilangnya peran biarawan atau biarawati di kelas, persaingan dari sekolah-sekolah lain, jumlah murid menyusut, keuangan sulit, tingkat gaji tenaga pengajar rendah, lemah advertising atau marketing. “Sudah banyak sekolah Katolik ditutup. Upaya satu-satunya yang harus dilakukan agar bisa survive adalah berani berubah dan berinovasi,” katanya.

Vidjongtius yang juga Ketua Alumni SMP Suster Pontianak membenarkan bahwa dunia kompetisi tidak hanya merambah atau identik dengan dunia bisnis tetapi juga dunia pendidikan. “Kompetisi ini tidak bisa berhenti dan tidak bisa kita didikte. Kompetisi pasti lewat, maka kami sebagai alumni tergerak hati untuk membatu persekolahan suster agar  mampu berkompetisi dengan sehat dan tidak terlepas dari pengembangan mutu pelayanan,” katanya.

Menanggapi menurunnya kualitas maupun kuantitas sekolah Katolik, Sister Irene SFIC mengatakan, sejak awal misionaris datang ke Kalimantan Barat sudah mendirikan sekolah karena keprihatinan bahwa waktu itu tidak ada sekolah, bukan karena ada modal.

“Sudah seratus tahun lebih, tepatnya 28 November 1906, para suster misionaris dari Belanda datang ke Kalimantan Barat dengan karya awal pendidikan dan sampai saat ini para suster masih berkomitmen meneruskan karya ini,” kata Suster Irene seraya berterima kasih atas dukungan uskup dan pastor paroki serta semua orang yang berkehendak baik untuk membantu sekolah itu.(Suster Maria Seba SFIC)

Senin, 20 November 2017

Mon, 20/11/2017 - 14:11

PEKAN BIASA XXXIII (H)

Santo Feliks dari Valois; Santo Edmund

Bacaan I: 1Mak. 1:10-15.41-43.54-57.62-64

Mazmur: 119:53.61.134.150.155.158; R:88

Bacaan Injil: Luk. 18:35-43

Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: ”Apa itu?” Kata orang kepadanya: ”Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru: ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: ”Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: ”Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: ”Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Renungan

Orang buta di Yerikho itu bisa dibayangkan sebagai orang di pinggir jalan yang sama sekali tidak diperhatikan oleh kerumunan orang yang menyertai Yesus. Entah informasi apa yang ia dapatkan, tiba-tiba ia berseru: ”Yesus anak Daud, kasihanilah aku”. Seruannya itu menarik. Untuk orang yang baru bertemu Yesus, menyerukan ”Yesus anak Daud” terbilang tidak wajar. Pengandaiannya, ia kenal dengan Yesus dan keluarga-Nya, termasuk tahu silsilah Yesus. Atau, ia tahu bahwa Yesus adalah Mesias, karena dalam tradisi iman Yahudi, dikisahkan turun-temurun bahwa Mesias adalah Putra Daud.

Yang pasti, dikisahkan bahwa orang menyuruh ia diam. Di tengah kerumunan yang hiruk-pikuk, suaranya bisa terdengar dan bahkan terasa menganggu orang di sekitarnya. Bisa dibayangkan betapa keras teriakannya. Ia tidak surut ketika orang menyuruhnya diam. Teriakan keras dan tanpa henti ini akhirnya berhasil. Yesus berhenti. Tentu saja, kerumunan orang itu pun berhenti. Dan peristiwa langka terjadi: orang-orang memandang kepada orang buta. ”Kaum marginal” ini menjadi ”seseorang”.

Untuk Yesus, orang yang di hadapan-Nya bukan sekadar orang buta atau orang miskin. Ketika Yesus mengatakan, ”Melihatlah!”, siapa yang dimaksud? Setidaknya dua pihak. Pertama, orang buta yang dimampukan melihat karya Allah yang ajaib. Kedua, orang banyak yang dimampukan melihat belas kasih Allah kepada orang lemah dan sekaligus dibuka matanya akan kehadiran orang-orang lemah di sekitarnya. Yesus mengajak kita pengikut-Nya untuk peka mendengar jeritan orang kecil, dan memelekkan mata semua orang untuk melihat keajaiban Tuhan di dalam hal-hal sederhana dan dalam diri orang-orang kecil.

Tuhan Yesus, bukalah mataku agar mampu melihat kasih-Mu yang agung dan melihat saudara-saudariku yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus rayakan Misa dan makan bersama kaum miskin: mereka membuka jalan menuju surga

Mon, 20/11/2017 - 13:53
Paus Fransiskus makan siang bersama 4000 orang miskin setelah Misa bersama mereka

Paus Fransiskus merayakan Misa hari Minggu XXXIII Masa Biasa dan Hari Orang Miskin se-Dunia yang pertama di Basilika Santo Petrus. Bapa Suci mengumumkan Hari Orang Miskin se-Dunia dalam Tahun Yubileum Luar Biasa Belas Kasih, dan mempercayakan pelaksanaan dan promosinya kepada Dewan Kepausan untuk Peningkatan Evangelisasi Baru.

Sekitar 4000 orang miskin hadir bersama umat dalam Misa itu, dan setelah Misa itu Paus Fransiskus menawarkan makan siang bagi mereka.

Ketika berbicara tanpa teks kepada para tamu saat makan siang itu, Bapa Suci mengatakan, “Kami berdoa semoga Tuhan memberkati kita, memberkati makanan ini, memberkati mereka yang telah mempersiapkannya, memberkati kita semua, memberkati hati kita, keluarga kita, keinginan kita, kehidupan kita dan memberikan kepada kita kesehatan dan kekuatan.”

Selanjutnya Bapa Suci memohon berkat Tuhan atas semua orang yang makan dan melayani di dapur-dapur umum di seluruh kota. “Hari ini, Roma penuh dengan ini [amal kasih dan kehendak baik],” kata Paus.

Menurut Laporan Radio Vatikan, Hari Kaum Miskin se-Dunia akan dirayakan setiap tahun pada hari Minggu ke-33 dalam Masa Biasa.

Dalam homili yang Paus persiapkan untuk acara tersebut dan disampaikan di Basilika Santo Petrus setelah pembacaan Injil, Paus Fransiskus berkata, “Di dalam orang miskin, yang haus akan cinta kita, Yesus mengetuk pintu-pintu hati kita.”

Kalau kita mengatasi ketidakpedulian dalam diri kita dan, dalam nama Yesus, kita memberi diri untuk saudara-saudaranya yang paling kecil, lanjut Paus “kita adalah teman baik dan setia-Nya, Dia mau tinggal bersama kita.”

Bahwa dalam umat beriman yang benar-benar hidup dalam kemiskinan, kita menemukan kehadiran Yesus, yang sekalipun kaya, menjadi miskin (lih. 2 Kor 8: 9), dan bahwa oleh karena itu di setiap orang miskin, hadir “kekuatan yang menyelamatkan,” Paus Fransiskus mengatakan, “Kalau di mata dunia mereka memiliki nilai yang kecil, merekalah yang membuka jalan bagi kita menuju surga.”

“Bagi kami,” lanjut Paus, adalah tugas evangelis untuk peduli terhadap mereka, sebagai kekayaan sejati kita, dan untuk itu bukan hanya memberi mereka roti, tetapi juga bersama mereka memecah roti firman Allah yang pertama disampaikan kepada mereka.”

Mencintai orang miskin, kata Paus Fransiskus, “berarti memerangi segala bentuk kemiskinan, spiritual dan material: dan itu akan membuat kita baik. Mendatangkan kaum miskin di tengah kita akan menyentuh hidup kita. Hal itu akan mengingatkan kita akan apa yang benar-benar penting: mencintai Tuhan dan sesama kita. Hanya ini abadi, semua yang lain akan berlalu.”

Sebanyak 4000 orang miskin yang hadir itu didampingi oleh sukarelawan dari Italia, Prancis, Spanyol, Brussels, Luxembourg dan Polandia.

Setelah Misa, 1.500 orang miskin diundang makan siang di Aula Paul VI, sementara 2.500 lainnya dibawa ke beberapa perguruan tinggi Katolik, seminari dan organisasi amal kasih di sekitar Vatikan untuk makan di sana.

Sementara itu sejak tanggal 13 sampai 19 November, sudah didirikan klinik keliling tepat di depan Lapangan Santo Petrus yang menawarkan layanan medis gratis bagi orang miskin mulai pukul 09.00 hingga 16.00.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus Fransiskus menerima persembahan roti saat dia memimpin Misa khusus untuk merayakan Hari Orang Miskin se-Dunia yang pertama di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 19 November 2017 – REUTERS

Lebih dari Sekedar Talenta

Sun, 19/11/2017 - 00:16

MINGGU BIASA KE-33

19 November 2017

Matius 25: 14-30

“… Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah…” (Mat 25:25)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Talenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.

Kembali ke Injil kita, kata talenta memiliki artian yang sedikit berbeda. Bahasa Yunani “talanta” dalam Injil kita hari ini berarti jumlah uang yang luar biasa besar. Mungkin, talenta itu bernilai lebih dari lima belas miliar rupiah dalam perhitungan saat ini. Dari perumpamaan kali ini, kita tahu sang tuan adalah sangat kaya sehingga dia bisa dengan mudah mempercayakan talentanya pada para hambanya. Dan ketiga hamba tersebut diharapkan bisa memanfaatkan talenta yang mereka terima, dan menghasilkan lebih banyak talenta. Dalam waktu singkat, kedua hamba pertama menggandakan talenta, dan sang tuan pun memuji mereka. Hamba ketiga tidak melakukan apapun, dan mengubur talentanya. Hal ini menyulut kemarahan sang tuan dan dia langsung menghukum sang hamba karena ketidakmampuan dan kemalasannya. Kita pun setuju dengan keputusan sang tuan, dan menarik pelajaran dasar dari perumpamaan ini bahwa kita juga harus mengembangkan “talenta” kita dan menghindari kemalasan.

Namun, tidak seperti perumpamaan tentang sepuluh gadis (kita mendengarkan hari Minggu yang lalu), Yesus tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa kita harus meniru sang tuan atau dua hamba yang sukses. Ada sesuatu yang lebih rumit di sini. Dengan membaca perumpamaan hari ini lebih seksama, kita mungkin bertanya apakah sungguh hamba ketiga malas, atau ada hal yang lain? Jika dia memiliki begitu banyak uang di tangannya, mengapa dia menguburkannya dan menunggu penghakiman yang berat? Dia bisa saja lari dengan uang itu ke tempat yang jauh dan mencari keuntungan di tempat lain? Jawabannya terungkap dalam pembelaan hamba ketiga ini. Hamba tersebut sadar bahwa tuannya adalah manusia yang kejam yang “menuai di mana dia tidak menabur, dan mengumpulkan di mana dia tidak menanam.” Ini berarti bahwa dia tahu bahwa tuannya memperoleh kekayaannya melalui cara-cara yang tidak jujur. Anehnya, alih-alih menyangkal tuduhan tersebut, dengan angkuh, sang tuan mengakui kesalahannya. Dia adalah manusia yang kejam dan tidak jujur, dan mungkin, dia ingin para hambanya meniru cara-cara tidak jujurnya dalam melipatgandakan talenta mereka. Dengan demikian, untuk membungkam hambanya yang jujur ini, dia melemparkannya ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Hamba ketiga mengatakan bahwa dia takut dan karenanya, dia mengubur talenta tersebut. Dia mungkin takut pada tuannya, tapi mungkin dia lebih takut kepada Tuhannya yang benar. Dengan melakukan perbuatan tidak jujur, dia melakukan ketidakadilan, dan membuat orang lain menderita. Dia mungkin dihakimi sebagai hamba malas, tapi dia berpihak kepada kebenaran. Meski hidup dalam budaya kebohongan, ia tetap teguh dalam kejujurannya dan apa yang benar.

Mungkin interpretasi perumpamaan kali ini tidak biasa, tapi pelajaran yang kita petik lebih radikal dan mendalam daripada hanya sekedar mengembangkan talenta kita. Melalui hamba ketiga, Yesus mengundang kita untuk menjadi tanda Kerajaan Allah di dunia. Dengan merajalelanya hoax dan kebohongan di sekitar kita, kita diajak untuk mencari dan berbicara kebenaran. Dengan begitu banyaknya ketidakadilan dan kemiskinan, kita dipanggil untuk melakukan apa yang benar namun tetap berbelas kasih. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah Gereja yang tidak memprovokasi suatu krisis, sebuah Injil yang tidak meresahkan, sebuah Firman Tuhan yang tidak menantang hati nurani siapa pun, Injil macam apakah itu? Pewarta yang menghindari isu-isu sensitif agar ia selalu aman, dia tidak menerangi dunia.”

 

 

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Sat, 18/11/2017 - 21:08
Orang-orang mengangkat lilin bernyalah saat menyambut patung Bunda Kita dari Fatima setelah prosesi untuk penyembuhan nasional dari Tempat Ziarah Edsa ke Monumen People Power di Quezon, 5 November 2017. ROY LAGARDE

Keluarga Dominikan Filipina akan menjalankan puasa dan doa selama sehari demi perdamaian di negara yang sedang mengalami meningkatnya jumlah kematian yang terkait dengan perang pemerintah terhadap narkoba.

Puasa itu dijadwalkan berlangsung tanggal 3 Desember 2017, hari Minggu pertama Adven, sebagai tanggapan atas “tantangan terhadap nilai dan martabat kehidupan manusia.”

Provinsial Ordo Pewarta Filipina Pastor Napoleon Sipalay Jr OP mengatakan bahwa hari itu juga merupakan kesempatan untuk mengintensifkan aksi amal untuk keluarga-keluarga para korban yang dibunuh di luar proses peradilan.

“Intensinya untuk mendapatkan sejumlah uang yang bisa kami kumpulkan pada hari puasa itu dari berbagai komunitas Keluarga Dominikan … untuk keluarga-keluarga para korban pembunuhan di luar proses peradilan itu,” kata Pastor Sipalay.

Sebelumnya para rohaniwan Dominikan mengungkapkan keprihatinannya pada situasi hak asasi manusia di negara itu karena pemerintah menolak menghentikan sikap keras terhadap perdagangan narkoba ilegal.

Bahkan Pastor Mike Deeb OP, delegasi permanen Ordo Dominikan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Promotor Jenderal Peradilan dan Perdamaian dalam Ordo Dominikan membunyikan tanda bahaya meningkatnya pembunuhan terkait narkoba.

Imam itu mengatakan, penyalahgunaan narkoba “sangat mengkhawatirkan” dan “masalah besar yang menjadi perhatian” di PBB. Namun, imam itu juga menegaskan bahwa pembunuhan tidak akan mengatasi masalah itu.

Sipalay menambahkan, meskipun tindakan mereka hanya “setetes air di lautan lepas” dalam hal pembunuhan berkaitan dengan obat-obatan terlarang, namun dia berharap agar aktivitas seperti itu menyentuh kehidupan orang lain.

“Apa yang kita lakukan adalah untuk memulai riak ombak kecil yang menyentuh banyak anggota Keluarga Dominikan untuk melakukan sesuatu yang konkret,” kata imam itu.(pcp berdasarkan CBCPNews)

 

 

 

Sabtu,18 November 2017

Sat, 18/11/2017 - 13:30

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Romanus dr Antiokia; Beato Grimoaldo Santamaria; Santa Rosa Filipin Duchene; Beata Salomea

Bacaan I: Keb. 18:14-16; 19:6-9

Mazmur: 105:2-3.36-37.42-43; R:5a

Bacaan Injil: Luk. 18:1-8

Pada suatu ketika Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Renungan

Salah satu keluhan yang sering terucap mengenai doa adalah ”kapan dikabulkan?” Ketika dihadapkan pada dunia yang serba cepat nan instan dan menawarkan aneka kepastian yang sungguh menarik, doa bisa terasa sebagai tindakan sia-sia tanpa kejelasan. Dalam situasi ini, godaannya adalah pemikiran ”daripada berdoa terus-menerus tanpa kepastian akan dikabulkan, lebih baik berpaling pada yang pasti-pasti saja”. Maka, satu-satunya alasan untuk tetap bertekun dalam doa adalah iman. Itulah yang dikemukakan oleh Yesus.

Doa bukan sekadar membuka mulut dan mengucap kata. Doa sejatinya adalah tindakan iman. Kitab Kebijaksanaan menampilkan sebuah pernyataan iman akan Allah yang penuh kuasa dan mampu melakukan hal-hal ajaib bagi umat-Nya dengan cara-Nya yang dahsyat. Kepercayaan akan Allah yang mahakuasa itu mesti melandasi setiap doa. Kepercayaan ini mencakup juga percaya akan cara kerja Allah dan membiarkan Allah bekerja dengan cara-Nya, bukan cara kita. Ketika doa terlantun, di situ iman dinyatakan. Memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja dengan cara-Nya, itulah semangat doa sejati. Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat doa saya dikabulkan, melainkan seberapa dekat diri saya dengan Allah melalui doa yang dilantunkan.

Allah Bapa sumber segala kebaikan, tambahkanlah imanku dan ajarilah aku untuk percaya bahwa kasih-Mu lebih besar dari segala kebutuhan dan pengharapanku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Para uskup ajak umat pahami gagasan dan makna Pancasila dan mencintainya sebagai dasar negara

Sat, 18/11/2017 - 01:43
Konferensi Pers sesudah Sidang KWI 2017 diberikan oleh Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Foto Dokpen KWI

Di akhir sidang tahunan 2017, para uskup Indonesia mengeluarkan pesan yang memanggil Gereja untuk membangun tata dunia dan mengajak umat Katolik untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila serta meyakini dan mencintainya sebagai Dasar Negara Indonesia.

Para uskup percaya, seperti ditulis dalam pesan yang dikeluarkan 16 November 2017, bahwa kehadiran Gereja Katolik menjadi lebih berarti kalau seluruh umat mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan untuk menciptakan perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia.

Berikut ini PEN@ Katolik menurunkan keseluruhan isi pesan itu:

Pesan Sidang Panggilan Gereja Membangun Tata Dunia

Segenap umat Katolik yang terkasih,

Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema “Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.” Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan dari pengamat proses. Dengan hari studi itu, kami semakin menyadari panggilannya untuk ikut membangun tata dunia serta mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk lebih memahami situasi kebangsaan saat ini, memperkuat suara kenabian Gereja di zaman sekarang, dan membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Gereja Katolik, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia, diharapkan ikut merawat dan terlibat menentukan masa depan bangsa. Konsili Vatikan II dalam dokumen Apostolicam Actuositatem (AA), yang membahas tentang panggilan dan peran awam di tengah-tengah dunia, mengajak Gereja untuk tidak hanya menyampaikan warta tentang Kristus dan menyalurkan rahmat-Nya kepada umat, tetapi juga ikut meresapi dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injili (bdk. AA. no. 5). Peran utama Gereja dalam menata dan membangun hidup bersama yang Pancasilais terletak di pundak kaum awam. Dokumen Gaudium et Spes (GS), yang berbicara tentang Gereja di dunia dewasa ini, menggarisbawahi bahwa secara khas kegiatan keduniawian menjadi wewenang kaum awam (bdk. GS. no. 43). Kaum awam yang hadir dalam berbagai kehidupan hendaknya menekuni bidang keahlian dan karya sampai menjadi profesional agar pelayanan mereka untuk masyarakat lebih bermutu. Dalam hal ini, para gembala umat diundang untuk mendampingi, menguatkan, dan memberi teladan lewat kerjasama dengan para tokoh pemerintah, agama dan adat. Para Uskup, imam, dan diakon diharapkan menaruh perhatian terhadap kaum awam dalam karya kerasulan mereka. Anggota lembaga hidup bakti, baik religius maupun sekuler,hendaknya juga berusaha ikut mengembangkan kegiatan-kegiatan kaum awam (bdk. AA. no. 25).

Kita bersyukur kepada Allah karena Bangsa Indonesia dianugerahi wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah, dan keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama yang sangat indah. Kita berterima kasih kepada para pejuang dan pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah menyarikan kenyataan Indonesia tersebut dalam Pancasila dan dijadikan sebagai landasan hidup berbangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kendati demikian, kita menyayangkan keadaan akhir-akhir ini, di mana Pancasila dirongrong oleh radikalisme dan terorisme, serta kesatuan bangsa dicederai oleh sikap tidak toleran terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Situasi itu diperparah oleh adanya politik yang menggunakan isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) untuk mencapai kepentingan tertentu dengan mengabaikan cita-cita kesejahteraan bersama, keadilan sosial, dan keluhuran martabat manusia. Kondisi ini kian memprihatinkan manakala kekayaan alam dikelola dan dinikmati segelintir golongan, tanah adat atau milik masyarakat dibeli dan dikuasai pengusaha tertentu dengan restu penguasa, kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia masih terjadi di mana-mana. Persoalan lain adalah derasnya perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Di samping membawa kemajuan, kehadiran mereka di daerah tujuan juga menimbulkan masalah lain seperti benturan antar suku, perebutan lahan kerja, dan  persengketaan tempat pemukiman.

Situasi bangsa seperti itu, tidak lepas dari kurangnya sosialisasi dengan metode yang tepat, kurangnya pengamalan nilai-nilai Pancasila, lemahnya keteladanan dan kepedulian sebagian para pemimpin, serta kurangnya keadilan sosial dan kesamaan di hadapan hukum. Disamping itu, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, membuat ideologi dan paham yang bertentangan dengan Pancasila mudah menyebar di masyarakat. Media sosial saat ini juga sering dipakai untuk melontarkan ujaran kebencian dan kebohongan yang dapat merusak sendi-sendi hidup bersama.

Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah mengambil sikap tegas dengan membuat beberapa kebijakan seperti membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) untuk membumikan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila,  menetapkan UU No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dan memblokir situs-situs yang terbukti menyebarkan ajaran, ajakan, dan paham yang bertentangan dengan Pancasila. Selain itu, pemerintah juga berusaha mengarusutamakan nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan kemasyarakatan dengan mempercepat pembangunan di daerah pinggiran. Pembuatan jalan, irigasi, bandara, dan pelabuhan di berbagai daerah yang dapat memajukan perekonomian daerah adalah langkah nyata Pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial. Meskipun begitu, pembangunan di daerah, khususnya di perbatasan hendaknya tetap melindungi masyarakat setempat, agar pembangunan tidak hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Saudara-Saudari terkasih,

Gereja Katolik harus terus membuka diri untuk membangun dialog dengan agama lain yang didasari ketulusan. Dialog ini penting untuk membangun sikap saling mengenal satu sama lain, meruntuhkan berbagai kecurigaan, dan mengikis fanatisme agama. Dengan dialog, Gereja ingin meneruskan misi Tuhan yaitu merobohkan tembok-tembok pemisah dan membangun jembatan persahabatan dengan semua orang demi terwujudnya persaudaraan sejati yang mengarah pada hidup bersama yang lebih damai dan tenteram.

Persaudaraan ini diperkuat dengan melakukan kegiatan kekeluargaan dan kemanusiaan seperti silaturahmi saat perayaan hari besar keagamaan, bakti sosial lintas iman, pertemuan rutin para tokoh lintas agama, dan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Gereja Katolik dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan dengan mewartakan ujaran dan ajaran kasih dan pengalaman persaudaraan dalam perbedaan.

Gereja Katolik di Nusantara hadir lewat  pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tindakan amal-kasih. Saat ini, wajah Gereja dalam bidang-bidang tersebut ingin terus di tampilkan dengan meningkatkan mutu pelayanan bagi semua orang. Dengan pendidikan, Gereja dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila di kalangan anak-anak dan kaum muda hingga mereka makin baik dan benar memahami gagasan Pancasila dan makna nilai-nilainya, sehingga mau dan mampu membuat gerakan bersama yang memperkuat persaudaraan. Dengan karya kesehatan, Gereja ikut meningkatkan kesehatan masyarakat, melayani semua lapisan masyarakat terutama mereka yang miskin, dan mengembangkan persaudaraan lintas suku, agama, dan golongan. Di sinilah bersama semua pihak yang berkehendak baik, kita makin meningkatkan tindakan amal kasih demi kesejahteraan bersama.  Disamping tiga bidang pelayanan tersebut, para pemimpin Gereja tetap harus berani bersuara untuk membela masyarakatnya, khususnya masyarakat adat yang hak-haknya atas tanah dan budaya sering kurang diperhatikan.

Saudara-Saudari terkasih,

Peran hierarki sangat penting dalam mendukung kaum awam agar lebih berani mengambil peran-peran sosial dan politik sebagai lahan pewartaan Kabar Gembira dan menghidupi nilai-nilai Pancasila. Tahun 2018 akan diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah  serentak di 171 daerah dan tahun 2019 akan berlangsung Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Dalam konteks agenda politik seperti itu, hierarki diharapkan hadir untuk membimbing umat agar tidak mudah terpecah-pecah oleh pilihan politik yang berbeda, tahan terhadap berbagai kampanye yang berbau SARA, dan mendorong kaum awam yang mempunyai kemampuan ikut dalam pertarungan politik tersebut. Semakin banyak orang Katolik yang berkomitmen menjadi pejabat negara atau pejabat publik yang berkualitas, serta berani mengambil kebijakan berdasarkan nilai-nilai Pancasila demi kesejahteraan masyarakat umum, peran Gereja Katolik untuk Indonesia kian nyata.

Kami mengajak Saudara-Saudari untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila serta menyakini dan mencintainya sebagai Dasar Negara Indonesia. Marilah kita mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan untuk menciptakan perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia. Dengan terlibat aktif dalam berbagai gerakan bersama yang mengembangkan sikap terbuka dalam hidup beragama, memperkuat Bhinneka Tunggal Ika, membangkitkan semangat bermusyawarah, dan mewujudkan keadilan sosial, kehadiran kita menjadi lebih berarti. Semoga dengan demikian, kita membangun Indonesia menjadi semakin sesuai dengan kehendak Allah. Itulah bagian dari panggilan kita untuk menyempurnakan tata dunia. Tuhan memberkati!

Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2017 di Gereja Stasi Santo Andreas Kim Tae Gon, Kelapa Gading, 16 November 2017. Foto Dokpen KWI

Umat Katolik Dekanat Belu Utara di Atambua rayakan HUT-32 THS-THM yang juga suburkan iman

Fri, 17/11/2017 - 23:54

Dengan iringan drum band anak-anak Sekolah Dasar Katolik (SDK) Halilulik, terlihat arak-arakan meninggalkan terminal Halilulik di Atambua, Timor, menuju Paroki Roh Kudus Halilulik. Di paroki itu, rombongan disambut tetua adat dengan sapaan Hase-Hawaka (bahasa Tetum) yang berarti bertegur sapa untuk menyambut tamu-undangan yang datang atau memasuki suatu wilayah di Belu.

Setelah penerimaan secara adat oleh panitia, tuan rumah, Pastor Paroki bersama DPP dan para tetua adat, peziarah ini diarak masuk ke dalam Gereja untuk berdoa bersama. Setelah menerima berkat dari Kepala Paroki Halilulik Pastor Roni Fenat Pr, acara dilanjutkan dengan peringatan HUT ke-32 Organisasi Bela Diri Pencak Silat Tunggal Hati Seminari (THS)-Tunggal Hati Maria (THM) Distrik Keuskupan Atambua, Dekanat Belu Utara, di lapangan depan paroki yang diikuti seluruh peziarah dan umat setempat.

Acara yang berlangsung Sabtu dan Minggu, 11-12 November 2017, dengan peserta sekitar 500 orang itu diisi dengan ceramah rohani dan penguatan pengetahuan organisasi yang dibawakan Pastor Roni Fenat, serta meditasi bersama yang dipimpin seorang senior THS Julio Elio dari ranting Haliwen.

Koordinator Belu Utara Elias YT Mali dalam sambutannya mengatakan selain memupuk tali persaudaraan dalam mempertahankan dan menjaga kerukunan NKRI, kegiatan yang merupakan acara tahunan yang diadakan secara bergilir itu bertujuan “untuk menjalin silaturahmi antarsesama anggota THS-THM, serta menjalin kekeluargaan dengan umat Katolik setempat, sehingga iman Katolik dapat tumbuh subur berkat keteladanan dan kerendahan hati dari masing-masing orang.”

Menurut Pastor Fenat yang juga menjadi penasihat THS-THM Ranting Paroki Halilulik, THS-THM masuk ke Keuskupan Atambua melalui banyak tantangan dan pergumulan iman. Uskup Atambua saat itu, Mgr Anton Pain Ratu SVD, yang kini sudah merupakan Uskup Emeritus, meminta agar THS-THM harus mampu menunjukkan jati dirinya sebelum diakui Gereja lokal, Keuskupan Atambua. “Tantangan itu akhirnya membuat THS-THM menjadi besar seperti saat sekarang,” jelas imam itu.

Perjalanan THS-THM adalah perjalanan sangat panjang dan cukup melelahkan, kata Pastor Fenat. “Tapi, dengan keyakinan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, kita terus maju. Kita sudah matang, dan terus berbenah diri. Satu hal penting, jangan pernah melecehkan organisasi lain, karena kekuatan THS-THM tidak terletak pada fisik, melainkan pada Sabda Allah, pondasi hidup iman kristiani. Kekuatan THS-THM ada pada batin, dan bukan pada kekuatan fisik,” tegas imam itu.

Lince Fahik, seorang panitia dari Sub Ranting Lebur, Halilulik, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa karena cintanya pada organisasi THS-THM itu, “saya dapat menikmati berbagai berkat dan kemudahan selama menjalani pergumulan hidup. Saya banyak terbantu berkat doa-doa sesama anggota THS-THM. Iman saya semakin bertumbuh subur, dan terlebih lagi saya makin rendah hati, dan aktif di Gereja dan lingkungan lewat berbagai kegiatan.”(Felixianus Ali)

Jumat, 17 November 2017

Fri, 17/11/2017 - 13:04

PEKAN BIASA XXXII (H)

Peringatan Wajib Santa Elizabeth dari Hungaria, Perawan
Santo Dionisius Agung; Santo Gregorius Thaumaturgos; Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: Keb. 13:1-9

Mazmur: 19:2-3.4-5; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 17:26-37

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Renungan

Paus Fransiskus sering mengingatkan supaya kita tidak terjebak dalam ”kesementaraan”. Pada level pertama, kesementaraan menunjuk pada gaya hidup yang berpusat pada materi dan kesenangan duniawi. Paus mengingatkan kita untuk menghindari materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan keterikatan pada uang. Pada level kedua, kesementaraan juga menunjuk pada keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ada dalam kuasa manusia.

Hal ini yang dikritik oleh Kitab Kebijaksanaan, bahwa manusia menganggap diri sebagai allah penguasa jagat raya. Kitab Kebijaksanaan menyampaikan pesan yang sebenarnya sederhana, tetapi dalam: Barang fana hanya ciptaan yang menggambarkan sepotong gambaran kuasa Allah yang maha dahsyat. Tetapi, barang ciptaan itu memang sedemikian menggoda, sehingga tidak sedikit manusia yang berhenti terpaku di hadapan kefanaan sehingga seakan hal material menjadi nyawa mereka. Injil Lukas mengingatkan kita akan kisah istri Lot yang kehilangan nyawa karena ingin mempertahankan ”nyawanya”. Karena terikat pada dunia yang ada di belakangnya, istri Lot mengalami kebinasaan.

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Di mana nyawa hidup kita letakkan? Kepada siapa hidup kita sandarkan? Pada gambarnya atau pelukisnya?

Allah Bapa pencipta semesta, bantulah aku dengan tuntunan Roh-Mu untuk melepaskan diri dari keterikatan akan segala yang fana dan mengarahkan diri kepada kebahagiaan sejati bersama-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Doa bersama keluarga adalah kekuatan yang perlu ditekankan dalam pembinaan perkawinan

Thu, 16/11/2017 - 21:49

Doa adalah kekuatan dalam keluarga. Itu adalah keyakinan Komisi Keluarga Keuskupan Manado. Maka, di saat doa bersama dalam keluarga-keluarga saat makan, sebelum tidur dan bangun pagi mulai cenderung jarang terjadi, komisi itu membawa tema “Keluarga Bahagia adalah Keluarga yang Berdoa” dalam program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan.

Ketika menggelar program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan di Paroki Maria Ratu Damai Melongguane dan Paroki Santa Maria Mangaran, Talaud, Komisi Keluarga Keuskupan Manado yang dipimpin ketua komisi, Selvie Rumampuk, juga membawa tema itu.

Sebanyak 48 pimpinan umat yang terdiri dari Pengurus Dewan Pastoral Paroki, Stasi dan Wilayah Rohani serta Pembina Perkawinan “yang merupakan ujung tombak di tengah umat” di dua paroki yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud itu mengikuti kegiatan yang digelar di Paroki Melongguane, 11-12 November 2017.

Doa bersama dalam keluarga pun menjadi salah satu materi, berkaitan dengan cara membangun keluarga bahagia, yang disampaikan oleh Pasutri Johanis Pantouw-Selvie Rumampuk. Materi lain adalah komunikasi yang baik dalam keluarga, keterbukaan, kejujuran, kerelaan memaafkan satu sama lain, dan menjadikan keluarga sebagai Gereja kecil.

Selain mendengarkan paparan materi-materi itu, dalam kegiatan yang dibuka dan ditutup oleh Kepala Paroki Maria Ratu Damai Melongguane Pastor Delis Umbas SJ, peserta juga berdiskusi seputar peran sebagai suami dan sebagai istri.

Selvie Rumampuk mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada pembina atau pendamping keluarga dan agar mereka dapat memberi persiapan perkawinan kepada calon nikah. “Setelah kegiatan ini diharapkan peserta menerapkan apa yang telah mereka terima baik untuk keluarga maupun kepada umat termasuk kepada calon-calon nikah,” katanya. (A. Ferka)

Tokoh-tokoh agama sepakat pertahankan Pancasila agar negara kokoh dan tidak goyah

Thu, 16/11/2017 - 20:21

Ketika Pancasila sebagai dasar negara kokoh, negara juga kokoh. Ketika Pancasila rapuh atau goyah, maka negara juga akan goyah dan roboh,” kata seorang tokoh Buddha, Suparetno, dalam Srawung Kebangsaan bertema “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila” di Muntilan.

Suparetno berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS), Paroki Santo Antonius Muntilan, Museum Misi Muntilan, OMK Santo Antonius Muntilan, serta Banser dan Ansor Muntilan.

Ketua Komisi HAK KAS Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, Pancasila sudah final, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati. “Sehingga kita bersyukur dengan Pancasila. Kita mempunyai payung nunggal bangsa, nunggal rasa. Itu ada payungnya. Dan payung Pancasila itu tidak akan hancur oleh badai dan petir apapun, karena kekuatan dan kedahsyatannya mampu menaungi dan merangkul semua.

Selanjutnya dalam acara 29 Oktober 2017 itu, tokoh Islam Bambang mengatakan, Pancasila sudah mengakomodir konsep Ketuhanan. Islam mengenal konsep ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan antar sesama manusia), jelas Bambang.

Oleh karena itu, lanjutnya, “kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara atau nunggal bangsa, kemudian ukhuwah basyariah nunggal rasa pada manusia, akan selalu dibawa. Kita perlu memahami, wajiblah kita berhubungan dengan Allah, namun kita memahami juga bahwa di Indonesia ini kita harus mempersiapkan diri, membangun kepercayaan diri dan membangun semangat diri untuk berbangsa dan bermasyarakat.”

Dalam acara yang dimeriahkan oleh seni Gejog Lesung “Laras Ati”, Sholawat Pitutur, tarian Senyum Indonesia dan pencak silat itu, Bambang mengatakan bahwa NU selalu berada di garda depan ketika Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, pluralisme, semangat kebangsaan, dan kebersamaan di Indonesia terusik.

Sedangkan tokoh Kristen, Pendeta Kristi mengapresiasi acara srawung itu. Baginya, acara itu merupakan usaha untuk saling mengenal satu sama lain apapun latar belakang kepercayaannya. “Saya rasa kasih dan cinta itu bahasa yang universal,” katanya.

Menurut Pendeta Kristi, Pancasila adalah harga mati. “Kita sebagai bagian dari Indonesia apapun agamanya rasanya tidak tinggal diam, tidak bisa sibuk dengan diri kita dengan agama kita masing-masing tanpa kita punya sikap yang nyata terkhusus juga kepada negara. Karena kita selain umat beragama, kita ini warga negara,” katanya.

Tokoh agama Konghucu, Tjan Kie, mengatakan bahwa setiap agama pasti menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dan perikemanusiaan. “Sebagai manusia ya jelas harus menganggap semuanya saudara,” katanya.

Acara Srawung Budaya merupakan salah satu rangkaian Gelar Budaya Muntilan 2017 yang diselenggarakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Selain sarasehan dalam Srawung Budaya, beberapa acara diselenggarakan dalam waktu terpisah seperti seminar Pancasila untuk pelajar, festival film pendek tentang Pancasila, peringatan hari Sumpah Pemuda, pameran pendidikan, gelar budaya pelajar dan kesenian lokal, dan refleksi kebudayaan.

Kepala Paroki Santo Antonius Muntilan Pastor A Kristiono Purwadi SJ mengapresiasi acara itu karena semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu terus diserukan dengan lantang. “Rasa-rasanya menjadi semakin relevan bagi  kita terutama Indonesia. Betul bahwa kita berasal dari berbagai macam wilayah. Tetapi toh, kita merasa disatukan. Kita berasal dari atau besar dari berbagai warna kulit,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

 

 

Kamis, 16 November 2017

Thu, 16/11/2017 - 13:04

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santa Margarita dari Skotlandia, Santo Yohanes de Castillo, dan Santo Alphonsus Rodrigues;

Santa Gertrudis dari Hefta

Bacaan I: Keb. 7:22–8:1

Mazmur: 119:89.90.91.130.135.175; R: 89a

Bacaan Injil: Luk. 17:20-25

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

Renungan

Dalam sejarah dunia, ada banyak cerita manusia yang dengan berbagai macam cara dan keyakinan berusaha mencari dan menemukan Tuhan. Belum lama ini ada kegaduhan mengenai sebuah kelompok yang oleh sebagian orang disebut ”ajaran sesat”. Mereka dianggap sesat karena tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini oleh kelompok mayoritas dan membentuk kelompok eksklusif yang mencurigakan. Gerakan semacam itu bukan yang pertama dan boleh jadi bukan pula yang terakhir dalam masyarakat. Gerakan yang dianggap sesat itu, dan juga berbagai cara manusia untuk mencari Tuhan, menampilkan kegelisahan yang menyelimuti manusia. Sebuah pertanyaan mendasar tentang Tuhan: bagaimana bisa berjumpa dengan Tuhan? Masalahnya, Tuhan tidak bisa diukur dan ditebak.

Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak bisa diperkirakan dengan tanda-tanda lahiriah. Sementara manusia cenderung berpegang pada tanda-tanda yang bisa diterima secara inderawi. Maka, pertanyaannya, Tuhan seperti apa yang dicari manusia? Yang sejati atau yang seturut gambaran manusia?

Untuk sampai kepada Tuhan yang sejati dan untuk mengenal kehadiran-Nya, manusia perlu dituntun oleh kebijaksanaan ilahi sendiri. Maka, dengan indah, Kitab Kebijaksanaan menunjukkan sikap yang perlu dibangun dalam pencarian akan Tuhan. Di akhir bacaan pertama dikatakan, dengan ”Aku jatuh cinta kepada kebijaksanaan dan kucari sejak masa mudaku”. Barang siapa merindukan dan mencari kebijaksanaan, ia akan menemukan Allah.

Ya Allah, penuhilah aku dengan Kebijaksanaan-Mu yang menuntunku pada jalan kebenaran-Mu. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Sekretaris Postulator Umum OP kunjungi pusat Legio Maria dalam upaya penggelaran kudus Frank Duff

Wed, 15/11/2017 - 23:50
Frank Duff, pendiri Legio Maria

Sekretaris Postulator Umum Ordo Pewarta Pastor Llewellyn Muscat OP mengunjungi Kantor Pusat Internasional Legio Maria di Dublin, 3-7 November 2017, guna memberi pengarahan bagi orang-orang yang mengupayakan penggelaran kudus bagi pendiri Legio Maria, Frank Duff (1889-1980), dengan perhatian khusus pada karya Komisi Sejarah guna menyelesaikan pekerjaannya.

Selama di Dublin, Pastor Muscat bertemu berbagai orang yang terlibat dengan berbagai aspek Penggelaran Kudus Frank Duff dan diterima oleh Uskup Agung Dublin Mgr Diarmuid Martin. Imam itu juga mengunjungi rumah tempat Frank Duff menjalani sebagian besar hidupnya dan tempat dia meninggal.

Makam Frank Duff di Pemakaman Glasnevin, Dublin, dan Konferensi (tahunan) Evangelisasi Legio (Peregrinatio Pro Christo) juga dikunjungi. Dalam konferensi itu, imam Dominikan itu mendorong 200 orang yang hadir untuk mempromosikan dan berdoa untuk Penggelaran Kudus Frank Duff.

Legio Maria

Legio Maria didirikan tahun 1921 oleh Frank Duff. Dia adalah anggota Serikat Santo Vincentius (Saint Vincent de Paul Society, SVP) yang saat itu hanya memiliki keanggotaan laki-laki. Setelah mendengar ceramah yang disampaikan Frank Duff tentang Devosi Sejati Santo Louis Marie de Montfort kepada Maria, beberapa wanita yang berpikiran kerasulan bertanya apa yang mungkin mereka lakukan. Dari sinilah, tanggal 7 September 1921 lahir Legio Maria. Ke mana mana saja SVP pergi untuk menangani kebutuhan fisik yang besar saat itu, Legio Maria melengkapi pekerjaannya dengan berkonsentrasi pada kebutuhan spiritual yang jumlahnya banyak.

Doktrin Tubuh Mistik Kristus menjadi bagian dari aksi Legio Maria dan Frank Duff melihat bahwa semua bagian mencapai kepenuhannya dengan melihat dan melayani Kristus dalam setiap orang yang ditemui. Dengan organisasi ini umat Katolik memenuhi kewajiban Pembaptisan. Setelah Kongres Ekaristi 1932 Legio Maria berkembang pesat di seluruh dunia. Berkat dukungan para uskup dan klerus yang memberikan dorongan dan pembinaan spiritual yang sangat mereka dibutuhkan, kini Legio Maria berada di lebih dari 170 negara dan di sebagian besar keuskupan.

Anggota aktif Legio Maria menghadiri pertemuan mingguan yang berlangsung tidak lebih dari 1 jam 30 menit dan ditugaskan untuk melaksanakan (selalu dengan berpasangan) tugas kerasulan minimal dua jam per minggu. Anggota auxilier menemani anggota aktif dengan mengucapkan doa Tessera, Doa Rosario, Catena (Magnificat) dan doa-doa penutup. Doa-doa ini dipersembahkan kepada Bunda Maria untuk digunakan sesuai kehendaknya.

Tugas-tugas Legio Maria tergantung pastor paroki. Legio Maria hanya bisa masuk ke keuskupan dengan izin uskup dan hanya bisa masuk paroki dengan izin dari pastor paroki.

Doa untuk Beatifikasi Hamba Allah Frank Duff:

Allah Bapa, Engkau mengilhami hamba-Mu Frank Duff dengan wawasan mendalam tentang misteri Gereja-Mu, Tubuh Kristus, dan tentang tempat Maria Bunda Yesus dalam misteri ini. Dalam keinginannya yang besar untuk berbagi wawasan ini dengan sesama dan karena bakti sejatinya kepada Maria, dia membentuk Legio Maria menjadi tanda cinta keibuan bagi dunia dan sarana untuk mengikutsertakan semua anaknya dalam karya evangelisasi Gereja.

Kami berterima kasih kepada-Mu Bapa atas rahmat yang diberikan kepadanya dan atas manfaat yang diperoleh Gereja dari imannya yang berani dan bersinar. Dengan keyakinan kami memohon kepada-Mu agar melalui perantaraannya Engkau mengabulkan permohonan yang kami panjatkan ke hadapan-Mu. …………… Kami juga memohon, kalau sesuai kehendak-Mu, agar kekudusan hidupnya bisa diakui oleh Gereja demi kemuliaan Nama-Mu, melalui Kristus Tuhan kami , Amin.

Semua orang yang menerima rahmat dengan perantaraan Hamba Allah itu diajak menghubungi kantor Postulator Umum Ordo Pewarta (postulatio@curia.op.org) atau kantor Legio Maria di Dublin (Kantor Pusat Internasional: Concilium Legionis Mariae, De Montfort House, Morning Star Avenue, Brunswick Street, Dublin 7, Irlandia). (pcp berdasarkan tulisan Sile NiChochlain dalam www.op.org)

Rabu, 15 November 2017

Wed, 15/11/2017 - 13:05

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Albertus Agung

Bacaan I: Keb. 6:1-11

Mazmur: 82:3-4.6-7; R: 8a

Bacaan Injil: Luk. 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: ”Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Lalu Ia memandang mereka dan berkata: ”Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Lalu Yesus berkata: ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Renungan

Kata orang, manusia itu tempatnya lupa. Kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan kiranya bisa membenarkan ungkapan itu. Ada sepuluh orang yang disembuhkan, tetapi hanya satu yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus.

Tidak mudah rupanya untuk menyadari kebaikan yang didapat dari orang lain. Mungkin lebih tidak mudah lagi menyadari bahwa dalam hidup kita ada begitu banyak kebaikan yang berasal dari Allah. Kitab Kebijaksanaan menampilkan pula orang-orang yang lupa akan Allah karena merasa memiliki kuasa. Para pemimpin yang lupa, yang main kuasa, yang menyalahgunakan kekuasaan, yang merasa di atas segalanya. Para penguasa yang lupa bahwa kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki hanya debu di hadapan Allah.

Tetapi, tidak semua orang terlena dan lupa. Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, ada seorang yang kembali kepada Yesus dan berterima kasih atas kesembuhan yang dialami. Kiranya ia adalah potret manusia-manusia yang sadar akan kebaikan Allah. Kepadanya Yesus lalu berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Sepuluh orang disembuhkan, tetapi hanya satu yang mendapat keselamatan. Ia diselamatkan karena iman, karena ia menolak lupa akan kebaikan yang ia terima. Yesus mengajak kita selalu menyadari kasih Allah dan senantiasa ”mencondongkan telinga dan merindukan perkataan Allah”.

Allah yang mahabaik, ingatkanlah aku selalu akan kebaikan-Mu dan penuhilah hatiku dengan syukur akan keindahan hidup yang aku terima dari-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pages