Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 14 min 13 sec ago

Sabda Allah perlu direnungkan di tengah banyak keuntungan dan dampak negatif dunia modern

9 hours 14 min ago

Setiap bulan September, Gereja mengajak seluruh umat untuk membaca Kitab Suci dan merenungkan Sabda Allah yang ada di dalamnya. Tema Bulan Kitab Nasional 2017, seperti tertulis dalam Pengantar Perayaan Pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional Minggu Biasa XX11, adalah “Kabar Gembira di tengah Gaya Hidup Modern” dan sub-tema “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan” (Lukas 12:15).

Kemajuan dalam dunia modern, menurut pengantar itu, telah membawa banyak perubahan bagi kehidupan  manusia, baik secara pribadi maupun secara umum. “Kemajuan ini telah mendatangkan banyak keuntungan bagi manusia. Misalnya, kemajuan teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, komunikasi menjadi cepat, dan transportasi  menjadi lebih lancar, dan sebagainya.”

Tetapi, lanjutnya, “segala kemajuan ini juga mendatangkan dampak negatif bagi manusia.” Semakin maraknya sikap hidup yang konsumeris dan hedonis, adalah salah satu dampaknya. Maka, buku pengantar itu mengajak kita “untuk merenungkan sabda Allah agar dapat memahami apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan di tengah kemajuan zaman ini. Dengan demikian, kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini sesuai kehendak Allah, Bapa kita.”

Untuk menjawab ajakan itu, paroki-paroki yang ada di Keuskupan Agung Pontianak telah mengadakan Seminar Kitab Suci untuk umum 1 September 2017 bersama Pastor George CSE, Workshop Paduan Suara untuk umum 27 Agustus 2017 bersama Aloysius Mering, Lomba Lektor tingkat remaja 3 dan 17 September 2017, Lomba Mazmur tingkat remaja 10 dan 17 September 2017, dan Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci Kategori Anak-Anak  21 dan 24 September 2017.

Selain itu, telah dilaksanakan Bina Iman Sekami dan kegiatan BKSN di Stasi Sompak Paroki Pakumbang tanggal 1-3 September 2017 bersama Sekretaris KKI Keuskupan Agung Pontianak Suster Laura SFIC untuk semakin mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah serta mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. (Suster Maria Seba SFIC)

Workshop Paduan Suara Seminar Kitab Suci BKSN di Stasi Sompak Paroki Pakumbang Workshop di Katedral

Foto-foto kegiatan BKSN Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak (JN, Ermest, Marina Ammy)

Foto-foto kegiatan BKSN Stasi Sompak Paroki Pakumbang (Suster Laura SFIC)

Kaum muda lintas iman berkomitmen memerangi berita hoax yang memecah belah persatuan

9 hours 39 min ago

Interfaith Youth Camp (kemah kaum muda lintas iman) di Tawangmangu, Karananyar, Jawa Tengah, 16-17 September 2017 diisi dengan berbagai acara, antara lain, pembicaraan mengenai era digital, saat peserta mendengarkan pembicaraan dari Purnawan Kristanto tentang literasi digital.

Di era digital ini, tegas Purnawan dalam acara yang dilaksanakan Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Kebersamaan Kabupaten Klaten itu, “jangan hanya ponsel yang cerdas, tetapi penggunanya juga harus cerdas dan mengabaikan berita palsu.” Blogger sekaligus penulis buku itu juga membagikan tips mengenali dan mengritisi berita palsu (hoax).

Sesudah pembicaraan itu, lebih dari 60 muda-mudi lintas iman yang menjadi peserta lalu melahirkan kesepakatan untuk “memerangi berita hoax yang dapat memecah belah persatuan, menjaga kerukunan antarumat beragama, dan melanjutkan jalinan silaturahmi antaragama.”

Interfaith Youth Camp itu dihadiri utusan-utusan dari berbagai organisasi keagamaan di Kabupaten Klaten seperti, GP Ansor, IPPNU, IPNU, Fatayat, Pemuda Katolik, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Kristen Jawa, BEM Sekolah Tinggi Hindu Dharma, Orang Muda Katolik,  Persekutuan Siswa Kristen Klaten, Menara Doa Kota, dan Pemuda Desa Jonggrangan.

Untuk menghangatkan udara dingin di lereng gunung Lawu, peserta menyalakan api unggun dan menampilkan kreativitas mereka. Kemudian, peserta yang dibagi dalam lima kelompok dengan anggota dari berbagai agama diminta menyiapkan pentas seni untuk menunjukkan indahnya keberagaman dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hari berikutnya, peserta berwisata ke air terjun Grojokan Sewu untuk menambah suasana akrab antarpeserta.

“Orang muda menjadi ujung tombak perubahan dan persatuan bangsa Indonesia. Maka generasi muda berkewajiban menjaga Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata sesepuh FKUB Kebersamaan, Gus Jazuli, seraya menekankan pentingnya mempererat persaudaraan antaragama dan orang muda sebagai pelaku utamanya.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Klaten, Marzuki Adnan, mengatakan kegiatan itu adalah bentuk nyata dalam mewujudkan arti kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama, khususnya generasi mudanya. “Ini langkah konkret dalam menjaga kebhinnekaan,” katanya seraya berharap kegiatan serupa dilanjutkan dan mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Klaten, “sebagai bentuk kepedulian kita akan perdamaian dan kebersamaan umat beragama.”

Ketua Panitia Abdushomad Marfai mengatakan, kegiatan itu berlangsung karena kerjasama yang baik antarorganisasi dan dukungan pihak terkait. “Seluruh pembiayaan acara ini dari iuran masing-masing organisasi dan beberapa sesepuh FKUB yang peduli,” kata Wakil Ketua IPNU Klaten itu.

Sekretaris Interfaith Youth Camp, Gregorius Angger, yang juga mewakili Pemuda Katolik Komisariat Cabang Klaten, menambahkan bahwa acara itu adalah media komunikasi efektif antarumat beragama. “Pesertanya adalah orang muda yang juga generasi penerus, maka jalinan dan jaringan komunikasi efektif seperti ini perlu dilanjutkan demi tercapainya kerukunan antarumat beragama,” katanya.

Acara  juga dihadiri berbagai aktivis lintas iman Klaten seperti, Gus Jazuli Kasmani (pengasuh ponpes Sunan At Mutaqien), Gus Marzuki Adnan (ponpes Al Barokah, Wonosari Klaten), Pendeta Wahyu Nirmala (GKJ Jatinom), Pendeta Lukas Prastowo, Ketua Pemuda Katolik Klaten Aris  Retnanto, dan Muhammad Milkhan dari Gusdurian Klaten. FKUB Gunung Kidul, Yogyakarta, juga datang melihat pelaksanaan itu serta berkeinginan untuk mengadakan acara serupa.

Di ujung acara itu peserta bersama berdoa bagi penyelesaian tragedi kemanusiaan di Rohingya. Doa itu dipimpin Pendeta Lukas Prastowo. Dan sebelum pulang, peserta membuat rencana kegiatan bersama, antara lain wisata rohani lintas iman, bakti sosial, dan pameran ekonomi kreatif. (Lukas Awi Tristanto)

Kamis, 21 September 2017

Thu, 21/09/2017 - 14:46

PEKAN BIASA XXIV

Pesta Santo Matius, Rasul dan Pengarang Injil (M)

Bacaan I: Ef. 4:1-7.11-13

Mazmur: 19:2-3.4-5; R: 5a

Bacaan Injil: Mat. 9:9-13

Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia.Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas-kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan

Suatu kali ada pertemuan bapak-bapak selama seminggu. Direncanakan akan berakhir pada hari minggu, tetapi panitia berubah pikiran. Supaya bisa bersama keluarga di akhir pekan, maka pertemuan dipadatkan. Di tempat itu jadwal penerbangan tidak selalu ada setiap hari, maka mereka tergesa-gesa agar tidak tertinggal pesawat. Bapak A menyenggol seorang anak yang jualan buah dan buahnya berceceran di lantai. Tetapi, karena terburu mengejar pesawat, Bapak A meninggalkan anak itu tanpa minta maaf dan membantu. Ada peserta lain, yakni Bapak B yang melihat kejadian itu, ia berbalik dan dari jauh ia melihat anak itu sedang meraba-raba di lantai berusaha mengumpulkan buah. Ternyata ia buta. Bapak B segera mendekat dan berkata: “Maaf Nak, pasti ini hari yang buruk bagimu.” Sambil mengumpulkan semua buah dalam keranjang, ia menghitung jumlah yang rusak dan memberikan uang kepada anak itu.

Tindakan Bapak B di atas merupakan perwujudan dari nasehat Paulus hari ini: “Hendaklah hidupmu sebagai orang yang dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” Ef. 4:1). Matius juga menjadi teladan bagi kita dalam hal berpadanan dengan panggilan Yesus: “Ikutlah Aku!” dan Matius sungguh mengikuti Yesus dalam kata dan tindakan menjadi seorang pewarta Injil. Pertanyaan yang patut kita refleksikan sekarang adalah “apakah hidup kita sudah sepadan dengan kehendak Tuhan?”

Tuhan Yesus, jadikanlah aku terjemahan Injil yang hidup bagi sesamaku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Pastor Polce Pitoy MSC dari Indonesia menjadi anggota Dewan Umum MSC sedunia

Thu, 21/09/2017 - 05:12

Pastor Paulus ‘Polce’ Laurentius Pitoy MSC dari Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Umum Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) sedunia yang berbasis di Roma. Anggota Dewan Pimpinan Umum MSC yang terbentuk tanggal 20 September 2017 adalah (dari kiri ke kanan) Pastor Humberto Henrique da Silva MSC (Rio de Janeiro), Pastor Paulus ‘Polce’ Pitoy MSC (Indonesia), Pastor Absalón Alvarado Tovar MSC (Superior General – Guatemala, Amerika Tengah), Pastor Andre Claessens MSC (Belgia) and Pastor Christopher Chaplin MSC (Australia).(pcp)

 

Uskup baru Manado kunjungi masyarakat, pemerintah dan umat di Kotamobagu

Wed, 20/09/2017 - 22:28
Mgr Rolly Untu MSC mendoakan Walikota Kotamobagu Tatong Bara

Wakil-wakil umat dari Paroki Kristus Raja Kotamobagu nampak berkumpul di pintu masuk Kota Kotamobagu pada hari Sabtu 16 September 2017. Mereka menantikan kedatangan Uskup Manado Mgr  Rolly Untu MSC. Sekitar pukul 5 sore rombongan uskup baru itu tiba di gerbang Kota Kotamobagu, dan Dewan Pastoral Paroki Inti Paroki Kotamobagu mengalungkan bunga kepadanya.

Mgr Rolly lalu diarak mengelilingi Kotamobagu menggunakan mobil jeep terbuka. Sepanjang jalan Uskup Manado memberikan salam kepada seluruh masyarakat Kota Kotamobagu. Kunjungan pastoral pertama uskup itu di Kotamobagu disambut hangat oleh masyarakat termasuk Walikota Kota Kotamobagu Tatong Bara.

Perjalanan berakhir di rumah dinas walikota. Di sana Mgr Rolly disambut tarian adat dan drumband SMP Katolik Theodorus Kotamobagu. “Saya sangat terharu melihat kebersamaan umat Katolik dengan umat Muslim di sini. Saat menuju ke rumah dinas ini, saya melewati dua mesjid besar, gereja Kristen dan terahkir Gereja Katolik. Itu tanda bahwa Kota Kotamobagu adalah kota yang terberkati,” kata Mgr Rolly.

Di sepanjang jalan mengitari Kota Kotamobagu, Uskup Manado mengaku tidak lupa memberkati seluruh Kota Kotamobagu, “semoga Kotamobagu bisa menjadi kota yang penuh cinta kasih, sehingga tidak ada perbedaan antara umat beragama,” kata Mgr Rolly di depan seluruh jajaran Pemkot Kotamobagu yang hadir di rumah dinas itu.

Uskup menjelaskan bahwa kedatangannya ke Kota Kotamobagu sebagai penyambung cerita dan tugas Mgr Josef Suwatan MSC, uskup emeritus Manado, yang lebih dulu dekat dan menyapa masyarakat kota kotamobagu. Mgr Rolly berharap seluruh umat Katolik di Kotamobagu selalu mendukung dan membantu program pemerintah.

Tatong Bara berharap kehadiran Mgr Rolly Untu MSC bisa membawa kedamaian dan kebersamaan di antara kita, dan umat masing-masing lebih dalam memahami agamanya. “Yang tidak paham agamanya, tidak akan mampu memahami agama orang lain. Yang ingin merusak persaudaraan, menjadi musuh kita bersama,” tegas Walikota.

Mengakhiri kunjungan di rumah dinas walikota itu, Mgr Rolly mendoakan agar “Walikota Ir Hj Tatong Bara selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin pemerintahan.”

Keesokan harinya, 17 September 2017, Mgr Rolly Untu MSC merayakan Misa Pertama di Paroki Kotamobagu dan kunjungan pastoralnya ke paroki itu. Sedangkan di malam harinya, uskup baru mengadakan tatap muka dengan umat. Dan dalam rangka memperingati hari pelindung Kristus Raja Semesta Alam, Mgr Rolly dan Kepala Paroki Kotamobagu Pastor Canisius Rumondor MSC membuka berbagai macam lomba yang akan dijalankan umat.

Pembukaan perlombaan itu dilakukan dengan pemukulan tetengkoran, alat komunikasi dan musik tradisional  dari bambu, secara bersama oleh uskup, pastor paroki dan ketua panitia.

Dalam tatap muka bersama umat, Mgr Rolly menjelaskan mengenai mottonya, “Dalam terang-Mu kami melihat cahaya,” seraya mengajak semua umat untuk menjadi terang dan berharap motto itu bisa menjadi visi para pastor paroki se-Keuskupan Manado dan “terus melanjutkan cerita ini kepada seluruh umat paroki.”

Tidak sulit melihat cahaya Tuhan, kata Mgr Rolly seraya mengajak umat untuk sering berdoa, menjaga persatuan antarumat beragama, dan meningkatkan iman Katolik. Uskup juga berpesan agar umat selalu menjaga harta benda Gereja dalam hati dan diri kita. “Jika kita bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh, pasti kita akan melihat terang-Mu, sehingga kita semua bisa melihat masa depan Gereja Katolik,” kata Uskup Manado.

Pastor Canisius Rumondor mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan karena Mgr Rolly Untu MSC bisa bersama-sama dengan umat Paroki Kristus Raja Kota Kotamobagu untuk menceritakan motto Mgr Rolly “yang bisa ditanamkan dalam diri kita menjadi visi bersama demi kemajuan Paroki Kristus Raja Kotamobagu. (michael)

Uskup mengitari Kota Kotamobagu dengan jip terbuka

Pemukulan tetengkoran membuka berbagi lomba menjelang pesta nama poroki

Rabu, 20 September 2017

Wed, 20/09/2017 - 11:17

Pekan Biasa XXIV

Peringatan Wajib Santo Andreas Kim Taegŏn, Imam, dan Paulus Chŏng Ha-sang, dkk Martir-Korea (M)
Santa Kolumba dan Pamposa; Santo Eustakius

Bacaan I: 1Tim. 3:14-16

Mazmur: 111:1-6; R: 2a

Bacaan Inji: Luk. 7:31-35

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak, ”Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

Renungan

“Jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim. 3:15). Pertanyaan refleksi bagi kita: ”Bagaimana kita harus hidup sebagai keluarga Allah?” Nasihat Santo Paulus dan penegasan Yesus di dalam Injil hari ini menjadi pedoman kita. Dalam hidup bersama kita harus mendasarkan diri kita pada Kristus sebagai pokok iman kita. Kita harus memiliki suatu prinsip dan keputusan dan tidak hidup dalam garis ”abu-abu” sebagaimana dalam Injil hari ini dikatakan: ”Kami meniup seruling bagimu tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk. 7:32). ”Jika ”Ya” katakanlah ”Ya” dan jika ”Tidak” katakanlah ”Tidak” selebihnya adalah dari setan”.

Dalam konteks hidup kita yang kadang membuat ambigu oleh karena berbagai tawaran, hendakya kita memiliki suatu prinsip hidup bersama, yakni supaya kita sama-sama membangun tubuh mistik Kristus, yakni Gereja. Ini berarti kita harus menyingkirkan segala kepentingan pribadi, egoisme, demi hidup bersama sebagai keluarga Allah: Hidup rukun, damai, saling memaafkan, saling membantu dengan ikatan kasih dan persaudaraan.

Tuhan Yesus, semoga aku selalu mengusahakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi atau kelompokku. Mampukanlah aku untuk bertindak tegas pada diriku sendiri. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Peace Train mampir di Semarang belajar kebhinnekaan dan perdamaian lewat dialog dan seni

Wed, 20/09/2017 - 00:48

Tari Maumere membuat pentas seni lintas agama semakin hangat. Malam itu, semua hadirin bergoyang mengikuti gerak para penari. Para tokoh agama pun ikut melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama musik. Umat dari berbagai agama larut dalam kegembiraan.

Itulah gambaran pentas seni lintas agama yang menjadi puncak Peace Train yang dilaksanakan di pelataran Gereja Santa Teresia Bongsari Semarang, 17 September 2017. Peace Train adalah program travelling lintas iman dan lintas negara dengan sarana kereta api. Peserta dari berbagai agama dan kepercayaan bersama-sama mengunjungi komunitas agama, penggerak perdamaian, rumah ibadah, serta tokoh-tokoh toleransi dan perdamaian di kota tujuan.

Selain Tari Maumere yang dibawakan kaum muda Gereja Jemaat Allah Global Indonesia (JAGI), Malam Kesenian Lintas Agama itu diisi penampilan Bengkel Sastra Taman Maluku, “jembrengan batik” dari Komunitas Diajeng Semarang, puisi dari peserta Peace Train, rebana dari Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Gus Dur, tari Bali dari Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), teater dan akustik dari OMK Bongsari.

Sehari sebelumnya, Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang mendampingi 27 peserta Peace Train untuk belajar kehidupan masyarakat Semarang yang bhinneka dan damai. Mereka berasal dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Baha’i, Sikh, Sapta Darma, dan Kapribaden. Dua peserta adalah warga negara Lesotho dan Malawi.

Di hari pertama, rombongan Peace Train secara maraton bersilaturahmi dengan berbagai komunitas religius dan organisasi pegiat kebhinnekaan dan perdamaian di Semarang, seperti Jemaat Ahmadiyah di Masjid Nusrat Jahan, umat Buddha Theravada di Vihara Tanah Putih, umat Kristen Unitarian Indonesia di Gereja JAGI, dan sorenya Parisada Hindu Dharma Indonesia di Pura Girinatha.

Hari kedua, rombongan menyimak paparan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang mengenai pantauan terakhir kemerdekaan berkeyakinan dan beragama di Jawa Tengah serta peranserta PELITA Semarang dalam memberi dukungan moral terhadap nasib rakyat, seperti pelestarian Pegunungan Kendeng.

Hari ketiga, rombongan menikmati ibadah di bangunan cagar budaya kebanggaan Semarang, Gereja Blenduk bersama umat GPIB Immanuel, dan Kota Lama Semarang. Menjelang siang, mereka ikut upacara King Hoo Ping di Gedung Rasa Dharma bersama umat Konghucu lalu singgah di Klenteng Tay Kak Sie. Di Sore hari bersilaturahmi ke Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan. Malam kesenian di halaman Gereja Bongsari adalah puncak perjalanan itu.

Program Peace Train digagas oleh Franky Tampubolon, Anick HT, Ahmad Nurcholish, dan Destya Nawriz. “Kami ingin peserta mengalami proses belajar, bekerja bersama, mengelola perbedaan, berkampanye, dan menuliskan pengalaman perjumpaan. Program ini diharapkan bisa rutin dilakukan ke sebanyak mungkin kota di Indonesia yang bisa dijangkau lewat kereta dan melibatkan sebanyak mungkin kaum muda lintas agama,” jelas Frangky.

PELITA, sebagai panitia penyambutan, terdiri dari EIN Institute, Gereja JAGI Jemaat Ahmadiyah, LBH, eLSA, Hikmahbudhi, Komunitas Gusdurian, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK-KAS), Institute of Peace and Security Studies (IPSS), Peace Hub Community, MATAKIN dan Peradah.

Koordinator PELITA Setyawan Budy menegaskan, keunikan dan keragaman adalah rahmat Tuhan. “Keunikan dan keragaman budaya, identitas, suku bangsa, bahasa, juga keyakinan dan agama adalah rahmat dari Sang Pencipta Kehidupan. Walau memiliki pandangan dan keyakinan berbeda, kita dipanggil untuk terus bergandeng tangan, berpegang erat, sebagai sesama musafir kehidupan, di sini, kini. Sebagai warga Republik Indonesia yang kaya akan khazanah suku bangsa dan budaya, kita harus aktif menjaga harmoni dan stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif, damai dan humanis, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan dan kepentingan kelompok kita masing-masing. PELITA dengan senang hati bekerja sama dengan pihak mana pun dan menyambut siapa saja yang ingin merawat kebangsaan dan melindungi kebhinnekaan,” kata Setyawan Budy.

Seorang peserta, Johanes Edward Tampubolon senang dengan Peace Train. “Saya merasakan adanya dialog, karena selama ini umat beragama terjebak dalam monolog,” katanya. Sedangkan Estetika Christy Pertiwi Noron mengaku melihat keharmonisan dalam keberagaman. “Kita menemukan satu titik terdalam, di setiap hati seseorang dan di setiap ajaran agama. Yang terdalam itu cuma kasih,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

Pastor Chito dari Marawi dibebaskan dari penahanan Maute di Filipina

Tue, 19/09/2017 - 21:24

 

Pastor Chito dari Marawi (tengah)

Uskup Marawi Mgr Edwin dela Pena di hari Minggu, 17 September 2017 memuji penemuan kembali Pastor Teresito “Chito” Suganob yang telah ditahan oleh kelompok Maute yang terinspirasi oleh ISIS sejak krisis meletus di Kota Marawi, Filipina, hampir empat bulan lalu.

Pastor Chito diselamatkan bersama seorang yang lain sekitar pukul 11 ​​malam pada hari Sabtu, 16 September 2017, kata Yesus Dureza yang bertugas sebagai Penasihat Presiden untuk Proses Perdamaian kepada CBCPNews.

Seraya memuji upaya militer dalam menyelamatkan Suganob dan sandera lainnya yang diculik oleh para teroris, Uskup Edwin mengatakan senang menerima pesan tentang pembebasan Pastor Chito tidak peduli betapa tidak jelasnya pesan-pesan itu.

Uskup menerima pesan itu di Bandara Internasional Abu Dhabi saat dalam perjalanan ke Manila setelah berbicara di depan sebuah kongregasi di Roma pada hari Jumat tentang situasi di Marawi dan dialog antaragama yang terus berlanjut di prelaturnya.

Jesus Dureza pertama kali mengungkapkan berita itu di hari Minggu pagi bahwa Suganob telah diselamatkan pada Sabtu malam di sebuah daerah dekat masjid kedua terbesar di Kota Marawi di Distrik Bato. Namun, dia menolak memberikan informasi lebih banyak karena operasi militer sedang berlangsung di wilayah itu dengan harapan menyelamatkan lebih banyak sandera sipil.

Pastor Chito dan sejumlah warga sipil diculik oleh kelompok Maute 23 Mei lalu ketika mereka melancarkan serangan ke Kota Marawi termasuk Katedral Santa Maria.

Pastor Teresito Soganub telah memberikan konferensi pers hari Senin, 18 September 2017, di Camp Aguinaldo di pinggiran kota Quezon, timur laut Manila, Filipina. (pcp berdasarkan CBCPNews)

Selasa,19 September 2017

Tue, 19/09/2017 - 13:14

Pekan Biasa XXIV (H)

Santo Yanuarius; Santo Theodorus; Santa Emillia de Rodat; Santo Fransiskus Maria dari Camporosso

Bacaan I: 1Tim. 3:1-13

Mazmur: 101:1-3b.5-6; R: 2b

Bacaan Injil: Luk. 7:11-17

Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata:”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! ” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan  dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi  besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan

Perjumpaan yang menghidupkan, demikianlah kita bisa menggambarkan kehadiran Yesus dalam bacaan Injil hari ini.Ia menghibur yang berduka, dan membawa kehidupan bagi yang mati. Di sekitar kita ada banyak orang yang “mati” dalam iman, harapan, dan kasih, oleh karena pengalaman kehidupan yang pahit yang mereka alami. Maka, sebagai pengikut Yesus kehadiran kita diharapkan dapat menghidupkan kembali iman, harapan, dan kasih saudara-saudara yang mengalami derita.

Hal itu hanya mungkin jika, kita menjadi teladan yang baik, sebagaimana kreteria yang dinasehatkan Paulus dalam bacaan pertama hari ini. Orang yang tak bercacat, perkawinan monogamy, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, mengajar dengan baik, bukan peminum/pemabuk, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai dan bukan hamba uang, tidak sombong, punya nama baik di luar, tidak bercabang lidah, tidak serakah, tidak memfitnah, dapat dipercaya dan hidup keluarga yang baik. Jika kreteria ini ada dalam diri kita, maka kehadiran kita betul-betuk akan membawa kehidupan baru bagi orang lain dalam setiap perjumpaan.

Tuhan Yesus, semoga dalam setiap perjumpaanku dengan orang lain, aku dapat menghidupkan mereka yang patah semangat dan dapat membantu yang menderita. Amin.

Sumber: Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

 

Suster Edith Watu OSU minta sekolah terus berubah agar tidak ditinggalkan masyarakat

Tue, 19/09/2017 - 11:42

Sudah 60 tahun sebuah sekolah berkarya mencerdaskan bangsa dalam pendidikan anak-anak seraya membangun komunitas pembelajar yang kreatif, kritis dan inovatif dalam mengintegrasikan ilmu dan iman berdasarkan nilai kemanusiaan seturut kehendak Santa Angela.

Meski demikian, Kepala Yayasan Setia Bhakti Jakarta Suster Edith Watu OSU meminta sekolah itu “tidak berpuas diri.” Permohonan itu disampaikan di depan para siswa-siswi, guru dan staf, alumi, umat dan suster Ursulin dalam Perayaan Syukur SMP Katolik Theodorus Kotamobagu bertema “Meningkatkan peranserta alumni SMP Katolik untuk kemajuan pendidikan dan SDM di Bolaang Mongondow.”

Perayaan di Lapangan SMP Katolik Theodorus Kotamobagu 18 September 2017 itu dibuka dengan Misa Syukur yang dipimpin Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC dan ditutup dengan peniupan kue HUT ke-60 serta pelepasan 60 balon. Kepala Dinas Pendidikan Kotamobagu Rukmi Simbala dan Asisten 1 Pemerintah Kota Kotamobagu, Nasrun Gilalom, juga hadir.

Sebaliknya, tegas Suster Watu, apa yang sudah dibuat selama 60 tahun harus dilihat sebagai tantangan untuk berubah dalam segala aspek pendidikan, “agar pendidikan SMP ini sejalan dengan Visi dan Misi Ursulin,” dan “menjadi pelaku aktif dalam mewujudkan pembaharuan.” Kalau tidak ada perubahan pelayanan, meski sudah 60 tahun berkarya “cepat atau lambat sekolah kita akan  ditinggalkan masyarakat,” tegas suster.

Namun, Nasrun Gilalom mengamati SMP Katolik Theodorus Kotamobagu adalah salah satu sekolah terbaik yang dimiliki pemerintah Kotamobagu. “Banyak lulusannya menjadi sosok pemimpin yang sederhana, tegas dan disiplin. 60 tahun adalah perjalanan sangat matang, sudah banyak suka dan duka. Prestasinya menjadi contoh sekolah lain untuk tergerak membangun pendidikan lebih baik,” katanya.

Tanggal 17 September 1957 secara resmi SMP RK (Roma Katolik) dibuka di Kotamobagu, namun tahun 2003 sekolah itu mengganti nama menjadi SMP Katolik Theodorus Kotamobagu. Tanggal 16 September 2017, ratusan alumni mengawali perayaan itu dengan “Reuni Intan” sekaligus mengenang budaya saling melayani dan mencintai, menghargai pluralisme budaya dan agama, serta membangun kepedulian sesama dan alam ciptaan. Acara dilaksanakan di sekolah dan dilanjutkan di hotel pada malam hari.

Ketua Yayasan SMP Katolik Theodorus Kotamobagu Suster Maria Florentina Memu OSU mengatakan dalam acara reuni itu bahwa semangat Serviam sekolah itu sudah menjadi garam dan terang di tengah masyarakat dan tetap berharap dengan semangat itu membentuk sumber daya manusia (SDM), karena mimpinya adalah terus menciptakan pemimpin-pemimpin kreatif untuk bangsa Indonesia.

Walikota Kotamobagu Tatong Bara, alumni 1983, hadir dalam acara bertema “Meningkatkan peranserta alumni SMP Katolik untuk kemajuan pendidikan dan SDM di Bolaang Mongondow” itu. Dia membaur bersama teman-temannya. “Kesuksesan saat ini tidak lepas dari peran ibu dan bapak guru yang selalu sabar mendidik kita,” kata walikota seraya menggambarkan perjuangan tidak mudah untuk masuk SMP Katolik saat itu.

Selain perkenalan di antara alumni, berbagai hiburan, dan makan bersama, secara simbolis Walikota Kotamobagu Tatong Bara dan Suster Maria Florentina Memu OSU menanam pohon di lingkungan sekolah itu. Perempuan itu bersyukur bisa menjadi satu keluarga SMP Katolik Theodorus “yang selalu mengajarkan tentang cinta kasih, tanggungjawab dan disiplin.” Namun, lanjutnya, “pesan yang selalu saya ingat adalah untuk selalu tanamkan kesederhanaan dan kebersamaan.”

Menurut Jems Tuuk, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi ketua panitia reuni itu, SMP itu sudah mendidik seorang siswa teladan yang kini sangat berperan membangun Kota Kotamobagu, Tatong Bara. Kegiatan malam di hotel dengan Tema “Dari Torang For Torang” itu, lanjutnya, bertujuan agar seluruh alumni “selalu bersama walaupun kita berbeda, karena kita selalu diajarkan untuk saling menghormati perbedaan dan saling mendukung satu dengan yang lain.”

Kepala Sekolah SMP Katolik Theodorus Kotamobagu Christina Damping mengatakan kedisiplinan para guru dan siswa tidak pernah berubah, sudah 35 tahun pengabdian saya untuk mendidik anak-anak menjadi siswa teladan. Alumni lain, Gloria Lumora, berharap SMP itu terus maju dengan semangat Serviam. “Pertahankan terus misi dan visi sekolah dan teruslah membentuk pendidikan berkarakter dan bermoral dalam diri siswa dan siswi,” lanjutnya.

Menurut mantan kepala sekolah Petrus F Tulusan, bulan Maret Tahun 1957 Bupati Bolaang Mongondow menemui pastor di Kotamobagu dan ‘memberikan perintah’ untuk mendirikan sekolah Katolik. “Saat itu pemerintah dan sekolah Katolik sudah menjadi satu bagian persaudaraan untuk memajukan pendidikan di tanah Bolaang Mongondow,” kata Tulusan seraya berharap seluruh siswa SMP Katolik Theodorus Kotamobagu terus berprestasi sehingga tercipta SDM berkualitas, jujur dan bertanggungjawab.(michael)

Kepala Dinas Pendidikan Kotamobagu, Drs Rukmi Simbala MAP bersama Suster Edith Watu OSU

Walikota Kotamobagu Tatong Bara Peserta Reuni

Mgr Mencuccini minta empat diakon yang ditahbiskan mengasihi Kristus lebih dari yang lain  

Mon, 18/09/2017 - 19:20
Empat Diakon Kapusin yang baru ditahbiskan (dari kiri) Diakon Fridolinus Andat OFMCap, Diakon Ferdinandus Rufinus OFMCap, Diakon Romanus Rusdi Fardani OFMCap, dan Diakon Celestinus Joni OFMCap (Sr Maria Seba SFIC)

Tugas diakon antara lain mewartakan Injil, meyakinkan orang menjadi umat Allah dengan memberi pembaptisan, memimpin berbagai upacara liturgi, melambungkan doa pujian dan permohonan dalam ibadat harian bukan hanya untuk umat Allah melainkan untuk seluruh umat manusia dalam tugasnya sebagai pelayan sabda, pelayan altar, karya amal kasih.

Selain tiga tugas pelayanan khusus itu, kata Uskup Sanggau Mgr Giulio Mencuccini CP saat menahbiskan empat frater Kapusin di Paroki Santa Maria Tak Bernoda Pusat Damai, Sanggau, Kalimantan Barat, 15 September 2017, diakon menghayati hidup selibat dan menjalani hidup rohani demi menjalani persatuan mesra dan mendalam dengan Kristus.

“Kalian harus dapat mengasihi Kristus lebih dari yang lain dan kasih itu harus nampak lebih dulu dalam kehidupan Anda dan kemudian dalam pewartaan,” pesan Mgr Mencuccini yang didampingi Minister Provinsial Kapusin Pontianak Pastor Amandus Ambot OFMCap dan Kepala Paroki Pusat Damai Pastor Fritz Budmiger OFMCap, beserta para imam konselebran lain.

Keempat diakon itu ditahbiskan dengan motto “Bersukacitalah dalam Pengharapan, Sabar dalam Kesesakan dan Bertekunlah dalam Doa (Rom. 12:12)”. Menurut Mgr Mencuccini, motto itu adalah inti nasehat dan pesan untuk empat frater yang sudah mendapat berkat orang tua yang menyerahkan mereka kepada Tuhan. “Kita patut berterima kasih kepada orang tua mereka,” kata uskup.

Panggilan menjadi diakon, lanjut uskup, adalah rahasia yang tak terselami oleh pemikiran manusia, “karena Tuhanlah yang memilih seseorang menjadi diakon dan bukan pertama-tama atas kemauan dirinya sendiri dengan mengandalkan kemampuan dan kepandaiannya.”

Seraya mengucapkan proficiat kepada empat saudara diakon yang ditahbiskan, Pastor Ambot mengatakan, awalnya 13 orang masuk sebagai postulan, kemudian sisa 7 orang saat masuk novisiat, dan sekarang masih 6 orang bertahan. “Masih cukup separuh, ini luar biasa, dua di antaranya sedang menjalani studi post S1 di STT Pastor Bonus,” kata imam itu.

Imam itu menugaskan Diakon Ferdinandus Rufinus OFMCap di Paroki Kristus Raja Sambas Keuskupan Agung Pontianak, Diakon Celestinus Joni OFMCap di Paroki Pusat Damai, Diakon Fridolinus Andat OFMCap di Paroki Santo Paulus Rasul Balai Karangan, dan Diakon Romanus Rusdi Fardani OFMCap di Rumah Retret Laverna-Bunut. Tiga terakhir di Keuskupan Sanggau.

Awalnya, Diakon Rupinus mengaku tidak tahu apa itu ordo atau kongregasi dalam tarekat religius. “Saya hanya tahu pastor saja, yang penting jadi pastor. Setelah menempuh pendidikan Tahun Orientasi Panggilan di Nyarumkop barulah saya tahu bahwa ada banyak tarekat atau ordo. Saya memilih Kapusin karena penasaran saja, teman-teman seangkatan waktu itu banyak memilih Kapusin. Meskipun awalnya coba-coba, namun saya bersyukur karena sampai saat ini saya bahagia dan tidak menyesal menjadi Kapusin.”

Diakon Joni pertama mengenal pastor ketika Pastor Fritz Budmiger OFMCap dari Swiss berkunjung ke stasi dan merayakan Misa di gedung SD. Dia berpikir, “Kok orang Barat bisa pergi ke kampung pelosok?” Tinggal di asrama dengan aneka kegiatan, kedisiplinan, Misa, dan doa Rosario membentuk hidup rohaninya yang menumbuhkan benih panggilan untuk menjadi pastor. “Atas bimbingan Pastor Fritz, saya coba mewujudkan panggilan dengan masuk Ordo Kapusin. Kapusin bagiku bukan hanya jubah coklatnya, tetapi Ordo Saudara Hina Dina yang berpihak kepada orang miskin dan papa.”

Perjumpaan Diakon Andat dengan Pastor Kapusin kurang lebih delapan tahun di Menjalin pelan-pelan menumbuhkan benih panggilan. “Selain itu saya beberapa kali menghadiri tahbisan imam, kaul kekal saudara Kapusin. Pengalaman-pengalaman ini semakin memperkuat keinginan saya untuk kelak bergabung dengan Ordo Kapusin. Awalnya saya ragu-ragu, muncul pertanyaan di benak saya ”Apakah saya mampu studi? Apakah saya mampu hidup seperti mereka?” Pengalaman panjang selama pendidikan tahap demi tahap membuat dia sampai kepada refleksi bahwa menjadi Kapusin adalah proses tanpa henti sampai akhir.

Diakon Rusdi Fardani mengenal Kapusin karena perjumpaan dengan “Si jubah coklat” ketika duduk di SMP Yos Sudarso, Parindu. “Si jubah coklat sangat menawan hati, seolah-olah menjerat hati saya yang masih muda belia. Pesona yang dipancarkan terkadang muncul dan tenggelam oleh suasana hati yang tidak menentu. Tetapi keinginan itu kembali diteguhkan ketika saya melangkah ke jenjang pendidikan SMA Don Bosco Sanggau Kapuas. Sekolah dan asrama yang merupakan tempat pelayanan ‘Si jubah coklat’ membangkitkan kembali keinginan  yang sempat redup. Pancaran kegembiraan, persaudaraan, kesederhanaan dan pelayanan “Si jubah coklat” semakin memperkuat keputusan saya untuk bergabung dengan Ordo Kapusin.” (Suster Maria Seba SFIC)

Tahbisan Diakon Empat Saudara Kapusin Provinsi Pontianak oleh Uskup Sanggau Mgr Giulio Mencuccini CP di Paroki Maria Tak Bernoda Pusat Damai-Sanggau (Sr Maria Seba SFIC) Mgr Giulio Mencuccini CP memberikan ucapan selamat kepada empat diakon yang baru menerima tahbisan (Sr Maria Seba SFIC) Upacara pemasangan jubah dan stola diakon didampingi oleh kedua orangtua masing-masing (Sr Maria Seba SFIC)

 

Senin, 18 September 2017

Mon, 18/09/2017 - 15:27

PEKAN BIASA XXIV (H)

Santo Yosef dari Copertino; Santo Yohanes Makias

Bacaan I: 1Tim. 2:1-8

Mazmur: 28:2.7.8-9; R: 6

Bacaan Injil: Luk. 7:1-10

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: ”Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: ”Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Renungan

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi. Penyembuhan itu terjadi oleh karena iman dan usaha dari pada sang perwira untuk hambanya. Yesus telah menolong orang lain, yang pada waktu itu dianggap sebagai orang kafir. Inilah wujud dari nasihat Paulus kepada Timotius, ”Aku menasihatkan: naikkanlah permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar agar kita hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (1Tim. 2:1-2).

Perwira yang dipuji Yesus (bdk. Luk. 7:9) boleh menjadi contoh teladan dalam doa dan tindakan bagi sesama. Perwira itu tak hanya bicara soal iman, tetapi juga kebaikannya mewujud dalam tindakan menolong orang lain yang ditandai dengan membantu pembangunan rumah ibadat dan mengusahakan kesembuhan bagi hambanya. Semoga iman kita kepada Yesus terwujud dalam kehidupan sehari-hari dengan mendoakan orang lain, melakukan kebaikan, dan teguh dalam kepercayaan.

Tuhan Yesus, terima kasih atas segala berkat-Mu atas hidupku. Semoga aku memiliki iman yang teguh sebagaimana sang perwira yang memohon kesembuhan bagi hambanya. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pastor Tom Uzhunnalil tak alami kekerasan fisik dalam tahanan kelompok yang belum diketahui 

Mon, 18/09/2017 - 01:15

Pastor orang India, yang diculik dan dibebaskan tanggal 12 September 2017 setelah 18 bulan ditahan di Yaman, mengatakan tanggal 16 September 2017 bahwa dia tidak pernah mengalami kekerasan fisik atau bahaya. Para penculik hanya berpura-pura melakukan kekerasan dalam video untuk mendapatkan uang tebusan atau tanggapan cepat dari pihak berwenang.

Nampak lemah setelah kehilangan 30 kilogram dalam penahanan, Pastor Tom Uzhunnalil SDB itu menunjukkan kekuatan spiritual dan pikiran jernih dalam konferensi pers di pusat Salesian di Roma, 16 September. Imam berusia 59 tahun itu berbicara dalam bahasa Inggris yang dibantu oleh penerjemah bahasa Italia.

Imam itu mengatakan, para penculik memberinya insulin dan tablet untuk mengobati diabetesnya dan mengurus kebutuhan dasarnya. Katanya, dia tidur nyenyak, baik malam maupun siang hari, dan tidak pernah menangis. Dia dipindahkan beberapa kali selama penahanan, tapi dia tidak tahu di mana dia ditahan. Orang-orang yang menahannya terus menutupi wajah mereka di hadapannya, katanya.

Pastor Uzhunnalil, yang berasal dari provinsi Salesian Bangalore, diculik tanggal 4 Maret 2016 ketika empat orang bersenjata tak dikenal menyerang sebuah panti perawatan di Yaman, kota pelabuhan bagian selatan Aden. Sebanyak 16 orang termasuk empat suster Misionaris Cinta Kasih dari Ibu Teresa tewas saat itu. Sudah empat tahun lebih Pastor Tom bekerja sebagai pastor panti itu.

Nampak terharu melihat sekelompok suster Misionaris Cinta Kasih di aula itu, suara Pastor Uzhunnalil terputus-putus mengenang orang-orang yang terbunuh di wisma perawatan itu. “Saya bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Dia membuat saya cukup sehat. Pikiran jernih. Emosi terkendali sampai sekarang,” kata imam itu. “Tuhan sangat baik padaku. Tak ada senjata diarahkan kepada saya.” Ketika panti jompo di Aden diserang, dia menyebut dirinya orang India dan dibawa ke ruangan lain “sementara mereka membunuh yang lain.”

Dengan jenggot yang sudah dicukur bersih dan rambut yang sudah dipotong, Pastor Uzhunnalil nampak berbeda dengan sosok kurus disertai jenggot dan rambut putih dalam video dan foto-foto dirinya yang disiarkan oleh kantor berita Oman setelah pembebasannya.

Imam itu mengatakan, dia dipindahkan dari Yaman dengan mobil ke Oman, kemudian dibawa dengan pesawat ke ibukota sebelum diterbangkan ke Roma tempat dia tinggal bersama komunitas Salesian di Vatikan.

Juga dikatakan bahwa dia tidak mengetahui identitas atau afiliasi para penculik dan dari orang-orang yang menginterogasi dia yakin motif mereka adalah tebusan. Namun, Pastor Angel Fernandez Artime, Rektor Kepala atau pemimpin serikat Salesian Don Bosco sedunia, yang hadir dalam konferensi pers itu mengatakan, mereka tidak memiliki informasi tentang pembayaran uang tebusan. “Tidak ada yang pernah memberitahukan kami bahwa mereka meminta uang. Tidak ada minta satu Euro pun kepada kami,” kata Pastor Artime. “Kami tidak tahu apa-apa. Ini benar. Dan saya yakin Pastor Tom pun lebih tidak tahu,” kata imam itu.

Rincian pembebasan itu tidak diketahui, meskipun Vatikan telah mengucapkan terima kasih kepada Sultan Oman dalam sebuah pernyataan dan Pastor Uzhunnalil mengucapkan terima kasih kepada para pejabat dan pemimpin Oman di India asalnya.

Meskipun tidak bisa merayakan Misa selama dalam penahanan, Pastor Uzhunnalil mengatakan dia biasa mengucapkan Doa Ekaristi dengan mengucapkan doa-doa Misa dalam ingatan. Karena banyak waktu yang dimilikinya, imam itu mengatakan banyak berdoa bagi semua orang, Paus Fransiskus, para uskup, sesama imam Salesian, anggota keluarga, saudara, teman, termasuk para penculiknya.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus minta Misionaris Hati Kudus Yesus untuk kembali pada cinta pertama mereka

Sun, 17/09/2017 - 20:18
Paus Fransiskus bersama Pater Jenderal MSC yang baru Pastor Mario Absalón Alvarado Tovar MSC dalam audiensi bersama peserta kapitel umum.jpg

Tunjukkan dengan kehidupan dan karya-karya kalian kasih sayang Allah yang lembut dan penuh gairah terhadap orang kecil, kurang mampu, rentan dan terbuang.” Itulah nasihat Paus Fransiskus kepada para delegasi Kapitel Umum Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Vatikan, 16 September 2017.

Dalam sambutannya, Paus Fransiskus mendorong para peserta Kapitel Umum yang berlangsung tiga minggu dengan tema, “kalian telah menyimpan anggur yang baik sampai sekarang,” untuk kembali pada cinta pertama dan satu-satunya mereka.

Inspirasi pendiri MSC, Bapa Suci mengingatkan, adalah menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus. “Kalian berusaha meningkatkan devosi itu dan membuatnya berbuah melalui berbagai karya dan aktivitas yang menjadi saksi kasih Yesus yang lemah lembut dan berbelas kasih kepada semua orang, terutama yang sangat membutuhkan,” jelas Paus.

Bapa Suci kemudian mengatakan, “Tetaplah memandang Yesus Kristus dan belajarlah dari Dia cara mencintai dengan hati manusia yang sesungguhnya, peduli terhadap anggota-anggota kawanan yang hilang dan terluka, mengupayakan keadilan dan menunjukkan solidaritas terhadap yang lemah dan miskin.”

Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus  adalah komunitas imam dan bruder internasional yang bekerja membagikan pesan cinta Tuhan dalam suasana sosial yang selalu berubah di dunia. MSC berkarya di lebih dari 50 negara di seluruh dunia dengan lebih dari 1.700 anggota yang membawa warisan pendirinya, Pastor Jules Chevalier.

Meskipun mengalami penurunan jumlah dalam dekade-dekade terakhir, kata Paus, “pertumbuhan panggilan di Amerika Selatan, Oceania dan Asia terbukti menghibur dan menawarkan harapan untuk masa sekarang dan masa depan.”

Paus juga menghimbau MSC untuk membina kaum muda, yang juga merupakan ungkapan karisma MSC. “Betapa mendesaknya saat ini untuk mendidik dan membantu generasi baru untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang sejati dan untuk menumbuhkan visi injili tentang kehidupan dan sejarah!’”I(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Keadilan Tuhan dan Pengampunan

Sun, 17/09/2017 - 00:31

Minggu Biasa ke-24

17 September 2017

Matius 18: 21-35

“Bergerak dengan belas kasihan tuan hamba itu membiarkannya pergi dan memaafkannya pinjaman. (Mat 18:27) “

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Mengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.

Meskipun terkadang bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam, kabar baiknya adalah bahwa rasa keadilan adalah sesuatu yang tertanam dalam setiap jiwa manusia. Rasa keadilan yang kita miliki adalah apa yang kita sebut keadilan manusia. Keadilan semacam ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari karena ini mendorong kita untuk menghargai perbuatan baik dan menghukum perbuatan salah. Jika kita bekerja keras untuk perusahaan kita, kita layak mendapatkan upah yang baik, tapi jika kita tidak melakukan pekerjaan kita, perusahaan memiliki hak untuk memecat kita. Jika kita belajar dengan giat, kita mengharapkan nilai bagus, tapi jika kita malas, jangan berharap kita berhasil. Jika kita membayar pajak, kita ingin pemerintah menyediakan layanan publik yang andal. Rasa keadilan ini mengatur kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita marah jika ada pelanggaran keadilan ini. Kita marah saat mengetahui rekan kerja kita yang tidak banyak bekerja, mendapat gaji yang sama. Meskipun saya tidak ingin fokus pada nilai, saya biasanya kesal mengetahui bahwa setelah mengerahkan banyak usaha, saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman sekelas yang tidak belajar. Kita akan marah jika pajak kita masuk ke saku pejabat pemerintah yang korup dan tidak kompeten.

Dengan rasa keadilan ini, tidak ada tempat untuk pengampunan. Dengan demikian, usulan Petrus untuk mengampuni tujuh kali terdengar luar biasa. Namun, Yesus mengundang kita untuk memahami rasa keadilan yang berbeda, keadilan Tuhan. Keadilan manusia dimulai dengan kita, apa yang kita layak dapatkan, tapi keadilan Tuhan dimulai dengan Tuhan. Seperti raja dalam perumpamaan hari ini, dia menuntut hambanya untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Ini adalah keadilan manusia. Namun, sang raja tahu bahwa dia begitu kaya sehingga pembayaran hutang hambanya tidak akan menambah banyak perbendaharaannya. Jadi, saat sang hamba memohon belas kasihan, raja bisa dengan mudah memaafkannya. Toh, ia tidak kehilangan apa-apa. Hutang sang hamba sekarang berubah menjadi kekayaannya, dan dari orang yang sangat miskin karena hutangnya yang besar, dia menjadi kaya secara instan. Si hamba kemudian diharapkan bisa melakukan keadilan yang sama seperti sang raja, dan juga memaafkan sesama hamba yang berutang padanya. Sayangnya, dia tetap diperintah oleh keadilan manusia dan bahkan termakan oleh dendam. Hal ini membawa malapetaka baginya.

Kita berutang kepada Tuhan segalanya, hidup kita, semua yang kita miliki, dan bahkan penebusan kita, namun segala yang kita lakukan tak akan sanggup untuk membayar-Nya atau menambah kemuliaan-Nya karena Dia itu sempurna. Dalam rahmat dan kesempurnaan-Nya, Tuhan mengampuni kita. Utang kita yang besar kepada Tuhan telah terhapus, dan faktanya, berubah menjadi kekayaan kita. Rahmat dan pengampunan tidak hanya mungkin tapi juga ciri keadilan Tuhan. Seperti sang hamba, kita harus mengampuni saudara dan saudari kita karena kita telah menjadi kaya karena keadilan-Nya. Kita memaafkan karena kita telah dimaafkan. Kita memaafkan karena kita kaya akan rahmat-Nya. Kita memaafkan karena keadilan Tuhan menuntutnya.

 

Sabtu,16 September 2017

Sat, 16/09/2017 - 13:03

PEKAN BIASA XXIII

Peringatan Wajib Santo Cornelius, Paus dan Santo Siprianus, Uskup dan Martir (M)
Santa Eufemia

Bacaan I: 1Tim. 1:15-17

Mazmur: 113:1-5a.6-7; R:2

Bacaan Injil: Luk. 6:43-49

Yesus menyampaikan wejangan ini kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya—Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan—, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Renungan

Injil hari ini menampilkan dua pengajaran melalui dua perumpamaan kepada kita. Yang pertama, mengenai setiap pohon diketahui dari buahnya. ”Katakanlah, maka saya akan mengatakan siapakah engkau,” demikian kata mutiara yang menggambarkan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut merupakan ungkapan identitas diri seseorang. Jika kata-kata yang baik, bijak, dan positif yang keluar dari mulut, artinya yang tersimpan dalam hati adalah yang baik dan di dalam hati yang baik pula. Jika tidak maka sebaliknya yang terjadi. Yang kedua, hal mendengarkan pengajaran Yesus, tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan setiap hari, bagaikan rumah yang dibangun di atas dasar yang tidak kokoh kuat.

Karena itu, marilah kita selalu menyiapkan waktu untuk membaca Firman Tuhan. Karena Firman Tuhan itu dapat membentuk karakter diri seseorang. Bahkan ketika kita membaca Firman Tuhan dan melaksanakan dalam hidup sehari-hari, maka kita akan semakin menyerupai Yesus. Hendaklah kamu pun sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya. Demikian ajakan Yesus untuk kita para pengikut-Nya.

Ya Yesus Tuhanku, anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku tidak hanya membaca firman-Mu, tetapi juga melaksanakannya dalam kehidupan setiap hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Mgr Rolly canangkan Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik Kembali dan Berkembang di Manado

Sat, 16/09/2017 - 00:11

Setelah prosesi Salib, penghormatan Salib, dan Misa, Uskup Manado Mgr Estephanus Benedictus Rolly Untu MSC mencanangkan Tahun Yubileum, setahun menjelang perayaan 150 tahun Umat Katolik ditemukan kembali atau hidup kembali di wilayah misi yang kemudian menjadi Keuskupan Manado.

Perayaan dan pencanangan, yang dilaksanakan di Gereja Katolik Stasi Kema, Paroki Santo Paulus Lembean, Sulawesi Utara, 14 September 2017 itu, ditandai dengan pemukulan tetengkoren (bambu yang digunakan sebagai komunikasi tradisional masyarakat Sulawesi Utara) dan pelepasan 63 balon simbol 63 paroki di Keuskupan Manado.

“Tanggal 14 September 1993, kita telah merayakan 125 tahun Gereja Katolik Kembali dan Berkembang di Keuskupan Manado. Ada banyak saksi di sini sekarang, saksi-saksi hidup, pastores, umat, juga panitia waktu itu, ada juga saksi lain yaitu salib yang diarak 25 tahun lalu, yang tadi diarak dari Tountalete ke sini bersama dengan obor,” kata Mgr Rolly dalam pencanangan itu, seperti dibagikan oleh Komsos Keuskupan Manado.

Tanggal 14 September 2018, “kita akan merayakan 150 tahun Gereja Katolik Kembali dan Berkembang di Keuskupan Manado, 25 tahun kemudian dari perayaan 25 tahun lalu,” kata Mgr Rolly seraya mengutip sambutan Uskup Emeritus Mgr Josephus Suwatan MSC saat mencanangkan Tahun Yubileum 125 Tahun Keuskupan Manado, 14 September 1992, bahwa perayaan itu adalah kesempatan bagus untuk “aggiornamento” yaitu pembaharuan hidup menggereja dan penataan kembali karya-karya pastoral Keuskupan Manado.

Maka dilakukanlah kegiatan-kegiatan untuk mengenal diri dalam konteks sejarah, mawas diri dalam realita masa kini, dan menata diri menuju masa depan. “Sejak Perayaan Tahun Yubileum 125 Tahun itu, saya mencatat tiga pertemuan penting yang telah menentukan langkah-langkah strategis Keuskupan Manado sampai tahun ini. Pertama, Musyawarah Pastoral Keuskupan Manado tahun 1993, kedua Sinode Keuskupan Manado tahun 2000, dan ketiga lokakarya tahun 2011 untuk menyusun Rencana Strategis Pastoral Gereja Katolik Keuskupan Manado 2012-2016,” kata uskup.

Selain itu, Mgr Rolly memperhatikan peristiwa-peristiwa penting lain yang ikut menentukan perjalanan Keuskupan Manado seperti pertumbuhan panggilan imam diosesan yang semakin banyak. Dalam kepemimpinan Uskup Emeritus Suwatan, dicatat 161 tahbisan, 91 di antaranya imam diosesan. “Suatu perkembangan yang luar biasa,” tegas uskup baru itu.

Mgr Roilly juga mencatat pemekaran paroki dan pembentukan kevikepan, kehadiran tarekat-tarekat baru, keterlibatan awam yang semakin bervariasi dalam hidup menggereja, Indonesian Youth Day tanggal 1-6 Oktober 2016, dan tahun ini, tahbisan dirinya sendiri sebagai uskup baru, 8 Juli 2017, 27 tahun setelah tahbisan Mgr Suwatan.

“Sebagai Uskup Manado, saya mengajak umat Katolik Keuskupan Manado untuk menyambung cerita ini, menyambung kisah perjalanan kita bersama, mulai hari ini 14 September 2017 sampai dengan 14 September 2018, mulai di Kema, di stasi ini.

Menurut catatan sejarah yang dibagikan Pastor Albertus Sujoko MSC, tanggal 14 September 1868 Pastor Jan de Vries SJ berangkat dari Batavia (Jakarta) dan mendarat di pantai Kema. Pastor Jan de Vries diutus oleh Vikaris Apostolik Batavia, Mgr P Vrancken Pr (1847-1874) untuk memenuhi undangan Daniel Mandagi, pensiunan tentara KNIL yang sudah menjadi Katolik di Jawa, dan ingin membaptis anaknya. Waktu itu tidak ada satu pun imam Katolik di wilayah Sulawesi Utara karena semua wilayah dikuasai oleh pendeta Protestan. Sisa-sisa umat Katolik dari karya misi tahun 1500-an juga sudah menjadi Protestan.

Mgr Suwatan kebetulan menemukan surat dari Daniel Mandagi itu. Surat yang diserahkan oleh Pastor Jocobus Wagey Pr (Imam diosesan Manado tertua yang saat ini berusia 82 tahun) itu diperoleh dari ketua umat di Desa Tintjep, Paroki Sonder, tempat Pastor Wagey berkarya saat itu.

Menyadari hal itu, Mgr Suwatan lalu membuat perayaan besar di tahun 1993 dengan penghormatan Salib Tuhan Kita Yesus Kristus yang diarak berkeliling seluruh wilayah Keuskupan Manado. Saat itu juga dilaksanakan gerakan penulisan sejarah permulaan dari setiap paroki.

Pastor Katolik baru bisa sampai di Manado tanggal 14 September 1868, demikian catatan Pastor Sujoko. Sejak itu, secara berkala ada pastor datang ke Manado dari Surabaya. “Kalau saya tidak salah ingat, di buku baptis Paroki Pineleng ada nama Pastor Jan van Meurs SJ, pastor paroki di Surabaya yang sekitar tahun 1886 setiap setahun sekali mengunjungi stasi-stasi di sebelah utara Surabaya, yaitu Makassar dan Manado untuk memberikan pelayanan kepada umat Katolik,” tulis imam itu.

Hujan mewarnai Kema saat pencanangan tahun yubileum yang disebut oleh Mgr Rolly Untu sebagai “Pesta Iman Kita Bersama” itu. Walaupun ada hujan-hujan sedikit “tetapi kita melihat dengan penuh iman, ini hujan berkat bagi kita sekalian menandai perjalanan satu tahun ke depan. Mari kita berjalan terus sesuai moto saya: Dalam terang-Mu kami melihat terang.”(paul c pati)

Jumat, 15 September 2017

Fri, 15/09/2017 - 12:24

PEKAN BIASA XXIII

Peringatan Wajib SP Maria Berdukacita (P)

Bacaan I: Ibr. 5:7-9
Mazmur: 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; R: 17b
Bacaan Injil: Luk. 2:33–35 (atau Yoh. 19:25-27)

Ketika maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Allah, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Renungan

Dukacita mendahului kemenangan. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Semangat seperti ini lahir dari dalam diri orang-orang yang memiliki iman, harapan dan kasih; inilah tanda-tanda seorang yang saleh.Jika tidak, penderitaan dan sakit sekecil apa pun akan dilihat sebagai suatu kemalangan dan bahkan akhir dari segalanya. Santo Paulus dalam Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9) menyampaikan dengan jelas tentang katekese penderitaan: Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus telah belajar menjadi taat di tengah gejolak dan tantangan yang mengancam jiwa-Nya, bahkan sampai Ia harus menderita dan wafat di kayu salib. Oleh ketaatan-Nya itu, Ia mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan kita. Ketaatan Yesus bukan ketaatan buta, tetapi lahir dari iman, harapan, dan kasih-Nya pada Bapa.

Inilah juga yang dialami Bunda Maria. Bagai sebilah pedang menusuk jantungnya tatkala ia menyaksikan sendiri bagaimana anak terkasihnya, Yesus, ditolak oleh orang sekampungnya, dibenci dan dipergunjingkan oleh para ulama dan pemimpin bangsanya sendiri, bahkan disesah, dicaci maki, diseret dan disalibkan hingga wafat di kayu salib. Puncak kepedihan hati Maria amat terasa ketika memangku tubuh tak bernyawa anak semata wayangnya, di Bukit Golgota, selepas diturunkan dari atas salib. Pedih dan teramat perih. Namun iman, harapan dan kasih Bunda Maria pada Allah membuat dia harus tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Semuanya itu harus dilalui menuju kemuliaan kebangkitan.

Tuhan Yesus, berilah aku iman yang teguh dan kasih yang taat seperti Bunda Maria, agar aku kuat bertahan di dalam segala cobaan dan derita hidup sebagai jalan menuju keselamatan. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Vox Point Indonesia persis seperti diharapkan agar umat wujudkan imannya di bidang politik

Thu, 14/09/2017 - 22:27

“Dalam permenungan singkat, saya mengatakan, saya belajar banyak baik politik dan lain-lain, agar kita semua mempunyai mata yang jeli, telinga yang tajam, daya pikir yang cerdas dalam rangka menyapa situasi gerak umat kita dan masyarakat kita di Indonesia.”

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko berbicara dalam Misa Pelantikan DPD Vox Populi Institute (Vox Point) Indonesia Jawa Tengah di Semarang. “Kita ingin mewujudkan iman itu secara serius, secara nyata, melalui pergulatan yang sangat diwarnai oleh ciri khas kita sebagai seorang awam,” lanjut uskup agung itu dalam homili.

Mgr Rubi mengatakan dalam Misa 31 Agustus 2017 bahwa dirinya sangat bergembira ketika mendengar berita berdirinya Vox Point di Jawa Tengah. “Spontan saya mengatakan dalam hati, ‘bagus’. Ada dukungan dalam diri saya. Ada kegembiraan. Inilah yang persis kita harap-harapkan, inilah persis yang kita nanti-nantikan, yaitu bagaimana umat Katolik menghidupi iman dan mewujudkannya dalam kegiatan sangat konkret dan sangat khas, khas awam berupa pelayanan di  bidang politik.”

Betapa pentingnya menjadi rasul awal, tegas uskup agung, karena tujuan kerasulan awam adalah mewujudkan iman, berjaga-jaga terus agar iman akan Yesus Kristus tidak mati, tapi diwujudkan dalam membela bangsa dan negara ini. “(Kita) mencoba mengupayakan negara kita agar tetap sungguh-sungguh sesuai rencana awal yang diwarnai kebebasan, kesatuan dan keadilan dan kesatuan bersama,” kata Mgr Rubi.

Mgr Rubi berharap agar Vox Point bisa bertumbuh dan berkembang dan menyuarakan suara rakyat, “mampu menyuarakan di tengah kesulitan-kesulitan yang kita bayangkan sebagai ‘srigala-srigala’ yang ingin memporakporandakan bangsa kita,” dan agar “Ketajaman kita untuk menangkap sinyal-sinyal dan keberanian kita untuk menyuarakannya dan memperjuangkannya menjadi bentuk perwujudan iman yang paling konkret di tengah masyarakat Indonesia.”

Pengurus DPD Vox Point Jawa Tengah dilantik dan diminta mengucapkan komitmen sebagai pengurus.

RY Kristian Hardianto yang terpilih sebagai ketua DPD Vox Point Jawa Tengah menyatakan rasa syukur karena Gereja sungguh kaya dengan potensi. “Kaya dengan potensinya yang demikian luar biasa, khususnya nilai-nilai Kristiani kita, nilai-nilai kasih kita dan nilai-nilai yang bisa kita tawarkan kepada bangsa dan negara ini,” katanya.

Kristian pun berharap agar Vox Point bisa memberikan sumbangsih, “bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk Gereja dan juga untuk negara sehingga kita bisa berkontribusi minimal di Jawa Tengah.”

Ketua Umum Nasional Vox Point Indonesia Yohanes Handoyo Budhisedjati berharap agar pengurus Jawa Tengah sebagai anggota baru dalam Komunitas Vox Point “senantiasa berkolaborasi dengan organisasi-organisasi lain dan bersinergi untuk memberikan manfaat bagi Gereja dan bangsa.”

Salah satu ciri Vox Point yang penting, tegasnya, adalah sebagai lembaga yang bertujuan untuk mengajak kaum awam Katolik supaya tidak alergi terhadap politik, “bahkan juga mendorong awam Katolik terjun ke dunia politik.” Untuk mewujudkan hal-hal itu, diperlukan langkah-langkah konkret, terstruktur dan terukur, salah satunya adalah yang dilakukan Vox Point untuk membuat umat Katolik mengerti, memahami dan menumbuhkan minat  berpolitik, “melalui edukasi politik berupa penyelenggaraan sarasehan, seminar, dialog, lokakarya, maupun simposium.”

Pengawas Dewan Pimpinan Nasional Vox Point Indonesia, Eusabius Binsasi berharap setiap organisasi Katolik, baik ormas keagamaan maupun organisasi dalam Gereja mempunyai spirit khusus. “Kalau tidak, saya yakin mereka pasti akan berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai kelompok elit,” yang katanya merupakan “awal kehancuran.”(Lukas Awi Tristanto)

Kamis, 14 September 2017

Thu, 14/09/2017 - 14:22

PEKAN BIASA XXIII

Pesta Salib Suci (M)

Bacaan I: Flp. 2:6-11

Mazmur : 78:1-2,34-35,36-37,38

Bacaan Injil : Yoh. 3:13-17

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Renungan

Begitu besar kasih Allah kepada umat manusia. Ia menghendaki agar manusia ciptaan-Nya yang sesuai dengan rupa dan citra-Nya sendiri tidak binasa melainkan selamat dan bahagia. Karena itulah Ia mengutus Yesus Kristus, Putera tunggal-Nya untuk memulihkan kembali hubungan kita dengan Allah Bapa yang putus akibat dosa dan maut. Dia dating ke dunia “…bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”. Penderitaan yang dahsyat, sengsara yang mengerikan sampai wafat di kayu salib merupakan konsekuensi dari pilihan Allah yang mau menyelamatkan dan membahagiakan umat manusia. Sulit dipahami misteri kasih Allah ini.

Kesulitan, penderitaan, dan aneka persoalan yang kita alami merupakan bagian dari salib kehidupan selama di dunia ini. Mengalami pengalaman ”salib” ini, tidak berarti bahwa Tuhan tidak menyertai dan memberkati kita. Maka, ketika kita mengalami aneka persoalan itu, hendaklah kita tidak putus asa. Tetaplah berharap pada kasih dan kemurahan Tuhan. Dia pasti akan memberikan kekuatan dan penghiburan agar kita mampu menghadapi semua ini.

Ya Bapa yang maha pengasih dan penyayang, seperti halnya Engkau telah memberikan kekuatan kepada Yesus ketika Dia mengalami penderitaan sampai wafat di kayu salib, semoga dengan kekuatan ilahi-Mu, aku mampu menghadapi dan mengatasi semua tantangan dan kesulitan selama di dunia ini. Oleh salib suci-Mu, selamatkanlah aku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pages