Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 4 hours 56 min ago

Apa arti gelar ”Tuhan”?

Thu, 22/02/2018 - 23:18

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

83. Dalam arti apa Yesus adalah Putra Tunggal Allah?

Yesus adalah Putra Allah dalam cara yang unik dan sempurna. Pada saat pembaptisan dan transfigurasi-Nya, suara Bapa menyebut Yesus sebagai ”Putra Nya yang terkasih”. Dalam memperkenalkan Diri-Nya sebagai Sang Putra yang”mengenal Bapa” (Mat 11:27), Yesus menegaskan relasi-Nya yang tunggal dan abadi dengan Allah Bapa-Nya. Dia adalah ”Anak Tunggal Allah” (1Yoh 4:9), kedua dari Tritunggal. Dia adalah figur sentral pewartaan iman. Para Rasul melihat”Kemuliaan-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” (Yoh 1:14).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 441-445, 454

  1. Apa arti gelar ”Tuhan”?

Dalam Kitab Suci, gelar ini menjelaskan Allah sebagai yang Mahakuasa. Yesus memakai gelar ini bagi Diri-Nya sendiri, dan mewahyukan kekuasaan ilahi-Nya lewat kekuasaan Nya terhadap alam, terhadap iblis-iblis, terhadap dosa, dan terhadap maut, terutama melalui Kebangkitan-Nya. Syahadat Jemaat Kristen pertama mengakui bahwa kekuasaan, hormat, dan kemuliaan yang diperuntukkan bagi Allah Bapa juga diperuntukkan bagi Yesus. ”Allah mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:9). Dialah Allah dunia dan sejarah, sebagai Yang Satu, kepada siapa kita harus sepenuhnya menyerahkan kebebasan pribadi kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 446-451, 455

Paus Fransiskus mengangkat Pastor Paulinus Yan Olla MSF sebagai Uskup Tanjung Selor

Thu, 22/02/2018 - 22:46

Hari ini, Kantor Pers Vatikan melaporkan bahwa Paus Fransiskus telah mengangkat Rektor Mahasiswa Teologi MSF di Malang, Pastor Paulinus Yan Olla MSF, yang lahir tanggal 22 Juni 1963 di Seom-Eban, Keuskupan Atambua, Timor Barat, sebagai Uskup Tanjung Selor.

Setelah melewati pendidikan seminari menengah di Laian, Atambua, dan kemudian Seminari Tinggi  di Yogyakarta itu, serta menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologi di Fakultas Kepausan Weda Bhakti Yogyakarta, dan mengikrarkan kaul kekal dalam dalam Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), dia ditahbiskan imam tanggal 28 Agustus 1992.

Jabatan yang pernah diembannya adalah Kepala Paroki Keluarga Kudus Banteng, Semarang (1992-1994), Koordinator Komisi Keluarga Keuskupan Agung Samarinda (1993-2005), Rektor Seminari Don Bosco Minor di Samarinda (1995-1997), Kepala Paroki Buna Maria di Banjarbaru dan Direktur Postulat MSF di Banjarbaru (Keuskupan Banjarmasin) (1997-2000).

Saat studi teologi spiritual di Theresianum, Roma (2000-2004), Pastor Paulinus Yan Olla MSF menjadi asisten umum MSF di Roma (2001-2007) dan sekretaris jenderal MSF di Roma (2007-2013). Sejak 2013, imam itu menjadi Rektor Mahasiswa Teologi MSF di Malang, dan sejak tahun 2014 menjadi Koordinator Komisi Keluarga Keuskupan Malang, dan Dosen Spiritual di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.

Keuskupan Tanjung Selor berdiri tanggal 9 Januari 2002 sebagai pemekaran dari Keuskupan Samarinda. Uskup pertama untuk keuskupan ini adalah Mgr Yustinus Tarmana Harjosusanto MSF. Namun Uskup itu diangkat sebagai Uskup Agung Samarinda sejak 16 Februari 2015. Sejak itu, sede vacante (tahta kosong) keuskupan itu tetap diisi oleh Mgr Harjosusanto sebagai Administrator Apostolik.

Keuskupan Tanjung Selor mencakup Kalimantan Utara yang mencakup Kota Tarakan, Kabupaten Berau, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Timur Tana Tidung, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.

Berdasarkan data tahun 2014, keuskupan itu memiliki 51.582 umat Katolik di antara 944.148 penduduk di wilayah itu. Mereka terbagi dalam 15 paroki dan dilayani oleh lima imam praja dan 18 imam religius.(pcp)

Keluagra miskin Betlehem membuat satu setengah juta Rosario untuk Hari Kaum Muda se-Dunia

Thu, 22/02/2018 - 16:12

Guna mendorong doa untuk perdamaian, Saint-Jean-Marie Vianney Lausanne dan Caritas Jerusalem meluncurkan sebuah proyek dengan nama “AveJmj”. Dalam proyek itu, keluarga-keluarga miskin di Bethlehem membuat satu setengah juta Rosario, yang akan diberikan kepada orang-orang muda yang sedang mempersiapkan hari Kaum Muda se-Dunia (WYD) di Panama 2019 guna mendorong mereka berdoa untuk perdamaian. “AveJmj,” yang dipromosikan oleh Uskup Emeritus Reykjavik (Islandia) Mgr Pierre Bürcher, telah diluncurkan untuk menyambut acara bear kaum muda itu. “Kami memutuskan untuk menamainya proyek AveJmj. ‘Ave’ adalah singkatan dari doa Rosario, sementara Jmj adalah akronim (dalam bahasa Spanyol) dari Hari Kaum Muda se-Dunia, dan juga inisial nama-nama Yesus , Maria dan Yoseph,” jelas Uskup Bürcher. Inspirasi dari prakarsa itu, lanjut uskup itu, muncul karena ajakan Paus “untuk berdoa bagi perdamaian dunia, khususnya untuk Yerusalem dan Timur Tengah.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Mengapa Yesus disebut ”Kristus”?

Wed, 21/02/2018 - 23:35
Yesus Kristus berdiri di antara Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Andreas di depan kuba Basilika Santo Petrus. Foto oleh Lisa Johnston

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

81. Apa arti nama ”Yesus”?

Diberikan oleh malaikat pada waktu Pewartaan (kepada Maria), nama ”Yesus” berarti ”Allah menyelamatkan”. Nama itu mengungkapkan identitas dan misi-Nya ”karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Petrus menyatakan, ”di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 430-435, 452

82. Mengapa Yesus disebut ”Kristus”?

”Kristus”dalam bahasa Yunani, ”Messiah” dalam bahasa Ibrani, berarti ”Yang diurapi”. Yesus adalah Kristus karena Dia disucikan oleh Allah dan diurapi oleh Roh Kudus untuk misi penebusan-Nya. Dia adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh Israel, diutus ke dalam dunia oleh Bapa. Yesus menerima gelar Mesias, tetapi Dia menjelaskan makna istilah itu ”turun dari surga” (Yoh 3:13), disalibkan dan kemudian bangkit, Dia Hamba yang Menderita yang ”memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Dari nama Kristus, muncul sebutan kita sebagai orang Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 436-440, 453

Paus Fransiskus terima pengunduran diri Uskup Nigeria dan angkat administrator apostolik

Wed, 21/02/2018 - 19:01

Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa mengeluarkan pernyataan pers hari Senin 19 Februari 3018 yang menyatakan, “Setelah menerima pengunduran diri Yang Mulia Peter Ebere Okpaleke, Bapa Suci membebaskannya dari pengurusan pastoral Keuskupan Ahiara (Nigereia Selatan), dan pada saat yang sama berterima kasih atas cintanya kepada Gereja.”

Uskup Okpaleke, seperti dilaporkan oleh  Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, diangkat oleh Paus Benediktus XVI tahun 2012 sebagai Uskup Keuskupan Ahiara. Namun para klerus dan umat setempat menolak pengangkatannya dan mencegahnya memasuki katedral untuk mengambil alih keuskupan itu.

Bulan Juni 2017, Paus Fransiskus meminta setiap klerus yang secara resmi menjadi anggota keuskupan itu untuk menulis surat kepadanya dengan menjanjikan kesetiaan kepada Paus dan mengungkapkan kesediaan untuk menerima pengangkatan Uskup Okpaleke.

Paus Fransiskus menerima lebih dari 200 surat dari masing-masing imam yang mewujudkan ketaatan dan kesetiaan mereka kepadanya, serta penjelasan mengenai kesulitan mereka dalam menerima penunjukan episkopal Uskup Oksekeke.

Siaran pers kongregasi terus mengatakan bahwa “dengan mempertimbangkan penyesalan mereka, Bapa Suci memutuskan untuk tidak melanjutkan dengan sanksi kanonik dan menginstruksikan Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa untuk menanggapi mereka satu per satu.”

Paus “tidak bermaksud menunjuk uskup baru di Ahiara, tapi (…) berhak untuk tetap memberikan perhatian khusus pada keuskupan ini.” Paus telah menunjuk seorang Administrator Apostolik, Mgr Lucius Iwejuru Ugorji. Uskup Umuahia itu telah diberikan semua kekuasaan sebagai seorang uskup.(pcp berdasarkan Vatican News)

 

Mgr Agus: Pengikut Yesus tak bisa hindari tanggungjawab untuk jadi agen perdamaian

Wed, 21/02/2018 - 16:31
Mgr Agustinus Agus diwawancarai oleh wartawan Vatikan di Ganjuran saat Asian Youth Day di Yogyakarta/PEN@ Katolik/pcp

“Kita semua sebagai pengikut Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk membawa damai, tidak bisa menghindari tanggungjawab untuk menjadi agen-agen perdamaian, agar sukacita di antara umat manusia dan seluruh alam ciptaan menjadi kenyataan. Bukan sebaliknya, menjadi orang yang menghambat adanya rasa damai.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menulis pernyataan itu dalam Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2018 dengan tema “Mewujudkan Sukacita Seluruh Ciptaan di Bumi Kalimantan” yang dikeluarkan di Pontianak pada Hari Rabu Abu, 14 Februari 2018.

Sesuai tema yang juga menjadi tema Prapaskah keuskupannya itu, jelas Mgr Agus, para pengikut Yesus Kristus diajak untuk ikut ambil bagian agar hidup penuh sukacita dirasakan oleh setiap orang di bumi, di tanah air Indonesia, di mana pun berada.

Situasi hidup kemasyarakatan Indonesia yang kini diwarnai perpecahan dan kekerasan, “ditambah lagi masalah kemiskinan, tidak adanya lapangan kerja, ancaman narkoba, pergaulan bebas, pengelolaan kekayaan alam yang semena-mena, adalah tantangan nyata yang harus dihadapi agar hidup penuh sukacita menjadi milik umat manusia, khususnya kita yang hidup di bumi Kalimantan ini,” tulis uskup.

Prelatus itu melukiskan bahwa masa puasa 2018 dijalani saat “bangsa dan negara kita akan menghadapi pesta demokrasi yaitu pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota di 171 kabupaten atau kota serta provinsi di seluruh Indonesia.”

Uskup mengajak umatnya untuk berdoa agar pesta demokrasi berjalan damai sesuai harapan rakyat dan bangsa dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat. “Tentu harapan kita semua agar apapun hasilnya tidak akan mengkotak-kotakkan apalagi memecah-belah bangsa dan negara kita tercinta ini,” tulis Mgr Agus seraya meminta setiap orang Katolik yang sudah memenuhi syarat memilih untuk menggunakan hak pilih sesuai hati nuraninya.

Masa puasa ini, lanjut uskup, juga dilaksanakan dalam suasana yang masih diwarnai ancaman perpecahan, perilaku kekerasan dan intoleransi yang tidak sesuai Pancasila, bahkan akhir-akhir ini tindakan kekerasan bukan hanya terhadap penganut-penganut agama tetapi terhadap pemimpin-pemimpin agama. “Sungguh sangat menyayat hati dan sangat disesalkan,” tulis Mgr Agus.

Tanggal 11 Februari 2018 “kita dikejutkan dengan penyerangan terhadap umat di gereja Santa Lidwina di Bedog, Sleman, DIY, yang menyebabkan seorang pastor, tiga awam dan seorang polisi mengalami luka-luka. Penyerangan itu terjadi ketika Misa sedang berlangsung. Hidup aman, penuh kedamaian, saling mencintai, hormat menghormati, saling menghargai yang menjadi dambaan setiap orang terasa masih jauh dari kenyataan,” tulis Mgr Agus yang merasa hidup penuh kasih antarsesama seakan hanya mimpi.

Dalam masa puasa, jelas uskup, umat yang sudah menempuh jalan yang tidak sesuai kehendak Allah, diajak kembali atau berbalik ke jalan yang benar, seperti yang disabdakan Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh” (Yoel.2, 12).

Mgr Agus juga mengajak umat melihat kembali hidup keagamaannya, apakah sudah sesuai dengan ajaran iman yang dianut. “Kita dipanggil menghindari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan iman kita, sebaliknya memperbanyak perbuatan baik, serta menghindari dosa dan memperbanyak perbuatan amal yang penuh kasih terutama terhadap orang-orang kecil dan terlupakan.”

Secara khusus di masa puasa ini Mgr Agus minta umatnya melakukan langkah-langkah nyata agar ada sukacita di antara umat manusia, serta merajut hubungan penuh kasih dengan sesama tanpa membeda-bedakan suku, agama, budaya, ras dan antargolongan.

Di akhir surat gembala itu, Mgr Agus mengajak umatnya menyimak dan merenungkan anjuran Paus Fransiskus tentang puasa yakni, puasa mengeluarkan kata-kata menyerang dan mengubahnya dengan kata-kata manis dan lembut, puasa kecewa atau tidak puas dan memenuhi diri dengan rasa syukur, puasa marah dan memenuhi diri dengan sikap taat dan sabar, puasa pesimis dan memenuhi diri dengan optimis, puasa khawatir dan memenuhi diri dengan percaya kepada Tuhan, puasa meratap atau mengeluh dan menikmati hal-hal sederhana dalam kehidupan, puasa stress dan memenuhi diri dengan doa, puasa kesedihan dan kepahitan dan memenuhi hati dengan sukacita, puasa egois dan menggantinya dengan belarasa kepada yang lain, puasa sikap tidak bisa mengampuni dan balas dendam dan menggantinya dengan perdamaian dan pengampunan, puasa ngomong banyak dan memenuhi diri dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.(aop/pcp)

 

Pernahkah Anda berpikir untuk puasa media sosial selama masa Prapaskah?

Wed, 21/02/2018 - 03:48

Oleh Suster Beth Murphy OP

Ada beberapa percakapan serius tentang media sosial (medsos) di kalangan para suster Dominikan akhir-akhir ini. Salah satu pertanyaannya berbunyi, “Haruskah kami menutup akun medsos kongregasi selama masa Prapaskah? Menjawab pertanyaan itu, kami pun memutuskan untuk tetap membuka saluran-saluran itu. Argumen kristisnya, kalau kami melepaskan tempat kami di ruang media, sesederhana apa pun itu, berarti suara kami untuk kebaikan dan keadilan bisa digantikan dengan hal-hal yang kurang bijaksana.

Sungguhpun demikian, selama masa Prapaskah postingan kami akan berkurang. Kami akan menjalani hari-hari puasa dengan tidak mengirim postingan, dan kami akan fokus pada masalah spiritual dan keadilan yang muncul dalam perjalanan doa, puasa dan amal kasih selama 40 hari ini.

Meskipun menghentikan kebiasaan gadget bisa benar-benar terjadi, sebuah jajak pendapat non-ilmiah yang berlangsung cepat oleh para suster dari Kongregasi Suster-Suster Dominikan Springfield di Illinois, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa hanya sedikit suster yang memilih puasa medsos secara pribadi untuk Masa Prapaskah.

“Saya ingin tetap berhubungan selama Masa Prapaskah agar saya tetap mengetahui kebutuhan-kebutuhan teman-teman saya dan kebutuhan-kebutuhan dunia,” kata Suster Judy Hilbing. Suster itu menambahkan bahwa dia sudah biasa memeriksa berita-berita medsos sebelum tidur agar dia bisa membawa persoalan dunia, persoalan keluarganya dan persoalan sahabat-sahabatnya ke dalam doanya.

Bagi Suster Rose Miriam Schulte, persoalannya adalah bagaimana menentukan batas yang lebih baik. “Saya tidak bermaksud melepaskan medsos, namun saya putuskan untuk menggunakan batasan yang lebih baik, misalnya kapan saya menggunakan medsos. Saya putuskan untuk tidak menggunakannya saat sudah berjanji untuk berdoa atau membaca bacaan rohani, atau saat sudah berjanji melayani orang lain dalam pelayanan saya,” kata suster itu.

Bagi Suster Kathleen Kenny, yang keluarganya tersebar di dunia, terlalu berharga untuk mengabaikan akses lewat medsos untuk berhubungan orang-orang terkasihnya.

Suster Bernice Juip mengatakan, dia bermaksud memakai dua pendekatan. Dia ingin mengintensifkan penggunaan medsos “untuk mengikuti terus kebutuhan keluarga, komunitas dan teman-teman saya serta menanggapinya dalam doa” dan “untuk menanggapi persoalan-persoalan keadilan sosial yang menekan agar saya bisa mendoakannya dan secara aktif mengikuti cara yang tepat.” Suster itu juga bermaksud membatasi penggunaan medsos “kalau saya akan atau harus mengobrol dengan orang lain yang hadir secara fisik.”

Suster-suster lain tidak akan berhenti menggunakan saluran internet, karena mereka sudah jarang menggunakannya, atau tidak sama sekali. Masih ada suster yang tidak jelas apa itu medsos.

Tampaknya hanya satu guru teologi yang juga staf komunikasi komunitas itu yang menghindari teknologi baru itu selama Masa Prapaskah. Namanya, Suster Mary Jo Sobieck Dia mengajar di SMA Katolik Maria, Chicago Heights, Illinois. Setiap tahun dia melakukan itu, dan “menjadi lebih produktif dengan waktuku,” kata suster itu.

Direktur komunikasi dari kongregasi itu, Suster Beth Murphy, mengatakan, dia sudah menghapus akun aps medsos dari perangkatnya dan berharap dapat mencurahkan diri sepenuhnya dalam kehidupan komunitas, dalam bacaan rohani, dan dalam kesempatan-kesempatan untuk pelayanan selama Masa Prapaskah. “Saya penasaran ingin melihat apa dampaknya dalam irama hari saya,” kata suster itu. “Karena adalah tanggung jawab saya untuk memantau medsos kami dan medsos organisasi-organisasi keagamaan dan sosial lainnya, seringkali terasa berat terhubung setiap saat,” kata suster itu.

Suster itu bersama rekannya, Aaron Tebrinke, ingin bersama-sama bertanggung jawab memantau informasi-informasi yang masuk melalui medsos selama hari kerja dengan komputer desktop mereka, namun keduanya berencana mengabaikan aplikasi pada perangkat mereka selama Masa Prapaskah.

“Dua puluh tahun lalu, setelah bertahun-tahun melakukan pelayanan yang membutuhkan banyak media cetak, radio dan TV, saya meninggalkan berita-berita selama Masa Prapaskah,” kata Suster Beth. Awalnya, saya langsung mengalami gejala putus obat, tapi segera saya merasa bahwa cara itu membebaskan. Saya belajar tentang apa yang terjadi di dunia ini dari orang-orang di sekitar dan saya menjadi reflektif tentang kehidupan tanpa mediasi. Saya sadar, saya tidak perlu tahu segala sesuatu yang terjadi atau memperhatikan kebutuhan dunia. Hal ini membuat saya bisa berdoa lebih dalam dan lebih kontemplatif. Saya berharap itu bisa jadi salah satu dampak dari puasa medsos saya juga.”

Ada alasan-alasan yang benar untuk memilih atau tidak memilih berpuasa medsos.

Mana yang bisa Anda pilih?

(Tulisan yang muncul di web Kongregasi Suster-Suster Dominikan Springfield, Illinois, Amerika Serikat, pada hari Rabu Abu, 14 Februari 2018, dan dikutip oleh web Ordo Pewarta ini diterjemahkan oleh paul c pati)

 

Apa Kabar Gembira bagi umat manusia itu?

Tue, 20/02/2018 - 23:00

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

79. Apa Kabar Gembira bagi umat manusia itu?

Kabar Gembira adalah pewartaan Yesus Kristus, ”Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16), yang wafat dan bangkit dari mati. Pada masa Raja Herodes dan Kaisar Agustus, Allah menepati janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Dia mengutus ”Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Tau rat supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 422-424

80. Bagaimana Kabar Gembira ini menyebar?

Sejak awal mula, para murid yang pertama dikobarkan oleh semangat untuk mewartakan Yesus Kristus untuk membawa semuanya kepada iman akan Dia. Bahkan pada zaman sekarang, dari cinta akan Kristus muncullah semangat di antara orang beriman untuk berevangelisasi dan berkatekese, yaitu untuk mewartakan seluruh rencana Allah dalam Pribadi Kristus dan membawa umat manusia dalam persatuan dengan Dia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 425-429

Mgr Subianto: Ketidakpedulian global adalah ”kusta” yang sebabkan manusia tak manusiawi lagi

Tue, 20/02/2018 - 15:06

Ketidakpedulian global kiranya merupakan bukti berjangkitnya ”kusta”, yaitu penyakit yang menyebabkan manusia tidak manusiawi lagi dan manusia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satu akibat dari ”kusta” ketidakpedulian yang ada di depan kita adalah pencemaran air sungai yang mengakibatkan berbagai penyakit dan banjir.

Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengatakan hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2018 untuk Keuskupan Bandung bertema “Tergerak Berbagi Berkat” yang dibacakan di semua di wilayah keuskupan itu pada Misa Minggu Biasa VI, Hari Orang Sakit se-Dunia, 10 dan 11 Februari 2018.

Dalam surat itu Mgr Subianto bertanya, “Berapa banyak sampah yang dibuang ke sungai setiap hari? Berapa banyak kotoran dialirkan ke sungai setiap saat? Berapa banyak limbah yang dibuang ke sungai setiap waktu? Berapa banyak racun yang terkumpul dalam sungai setiap detik?”

Uskup juga meminta sungai yang berukuran besar maupun kecil dicermati dan selokan yang ada di sekitar kita dilihat! “Bagaimana keadaannya? Kalau ada hujan (besar), genangan air terjadi di banyak tempat. Banjir melanda beberapa wilayah, bahkan secara rutin, seperti di wilayah Bandung Selatan,” kata uskup.

Pertobatan sejati, menurut Mgr Subianto berdimensi empat, makin dekat dengan Allah, makin betah dengan diri sendiri, makin akrab dengan sesama, dan makin berpihak pada alam. “Pertobatan perlu diwujudkan dalam berbagai gerakan melalui pantang dan puasa, doa dan tapa, serta amal dan kasih,” tegas uskup yang juga Sekretaris Jenderal KWI itu.

Salah satu gerakan yang kini sedang digalakkan di wilayah Jawa Barat, di mana Keuskupan Bandung berada, jelas uskup, adalah gerakan Citarum Harum. “Pejabat pemerintah dan aparat TNI/POLRI bergandengan tangan dengan umat dan masyarakat memulihkan Sungai Citarum dengan berbagai cara: penyuluhan masyarakat, pembersihan sungai, penghijauan hulu, penertiban bantaran sungai, pengerukan sungai, dan penyehatan air.”

Namun, di balik program Citarum Harum itu, lanjut uskup, ada kesadaran dan gerakan untuk memulihkan kehidupan. “Sungai Citarum itu hanya salah satu sungai. Marilah kita terapkan juga pada sungai-sungai lain baik kecil maupun besar. Polusi air itu hanya salah satunya, marilah kita pulihkan keutuhan ciptaan yang terjadi juga karena adanya polusi mental, moral, dan spiritual,” pinta Mgr Subianto.

Selain itu, Mgr Subianto dalam bagian akhir suratnya meminta umatnya untuk menjadikan laku tobat mereka di masa Prapaskah ini sebagai pembaharuan kesadaran dan gerakan peduli pada alam sebagai konsekuensi kepedulian pada hidup sesama dan sebagai perwujudan iman pada Allah.

“Dengan mati raga dan puasa, kita makin sadar untuk mengontrol diri agar tidak menjadi gangguan bagi sesama. Dengan doa dan tapa, kita makin peka akan panggilan Allah untuk memulihkan kehidupan. Dengan amal dan kasih, kita makin mampu berbagi rejeki dengan sesama,” tegas uskup seraya meminta umat untuk bersama masyarakat meningkatkan kesadaran dan mengembangkan gerakan solidaritas sosial demi keutuhan ciptaan.

Uskup mengusulkan agar umat wujudkan kesadaran itu dengan gerakan sederhana yang dimulai dari keluarga sendiri, misalnya mengurangi sampah, membuang sampah pada tempat yang pas, melakukan penghijauan, dan menjalankan penghematan air.(paul c pati)

Mgr Suharyo: Kendati begitu beragam, kita adalah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa

Mon, 19/02/2018 - 19:00
Mgr Suharyo dalam perayaan REBA Ngada 2018 di Anjungan NTT TMII, Foto dari dok KAJ

Ketika memasuki masa Prapaskah 2018, KAJ sedang menjalani Tahun Persatuan dengan semboyan “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia”. “Kita ingin memaknai pengalaman hidup kita, khususnya dalam konteks kesatuan dan kebhinekaan bangsa kita, sebagai karya Allah. Kita bersyukur karena Tuhan menyapa kita juga melalui pengalaman keragaman berbangsa”.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menulis hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2018 bertema “Kita Bhinneka, Kita Indonesia” yang dibacakan di gereja-gereja di KAJ sebagai pengganti khotbah Misa 10 dan 11 Februari 2018.

Keragaman itu, jelas Mgr Suharyo, tercermin antara lain dalam angka-angka ini, “Negara dan Bangsa Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 1.340 suku bangsa dan 546 bahasa. Kendati begitu beragam, kita adalah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.”

Dalam surat gembala tertanggal 9 Februari 2018 itu, Mgr Suharyo menegaskan bahwa “Kita hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rumah kita bersama.” Maka umat diajak mensyukuri kesatuan dan sekaligus keragaman itu, antara lain dalam Doa Prefasi Tanah Air: “Berkat jasa begitu banyak tokoh pahlawan, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa, … kami bersyukur atas bahasa yang mempersatukan, … dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami”.

Sebagai bangsa beragam, lanjut uskup, “kita mempunyai cita-cita yang sama, yaitu mewujudkan negara yang berketuhanan, adil dan beradab, bersatu, berhikmat dan bijaksana serta damai dan sejahtera.”

Namun di lain pihak, lanjut prelatus itu, umat KAJ tidak bisa menutup mata terhadap peristiwa-peristiwa yang menjauhkan mereka dari cita-cita sebagai bangsa. “Secara khusus berkaitan dengan cita-cita Persatuan Indonesia, kita menyaksikan perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat, seringkali justru tampak sebagai penghambat.”

Mgr Suharyo mengutip salah satu penelitian yang dilakukan Wahid Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia, April 2016, yang menunjukkan bahwa 59,9% dari responden yang diminta tanggapannya, “memiliki kelompok yang dibenci.” Kalau benar demikian, tegas uskup agung itu, “bukan persatuan dalam kebhinekaan yang tumbuh, tetapi kebencian yang menjadi wajah masyarakat kita.

Juga dikutip hasil penelitian CSIS Agustus 2017 bahwa generasi muda (usia 17-29 tahun di 34 provinsi) menyatakan optimis mengenai masa depan Indonesia: 26,9% sangat optimis, 62,3% cukup optimis, dan mereka juga tidak setuju (52%) atau kurang setuju (32%) mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Namun, dalam penelitian yang sama diungkap, 58,4% tidak menerima pemimpin berbeda agama. “Angka-angka itu menunjukkan ada sesuatu yang tidak baik, tidak ideal dalam hidup kita sebagai bangsa,” tegas Mgr Suharyo yang menegaskan bahwa dalam kenyataan seperti itu iman kita menuntut untuk peduli. “Kita ingin mewujudkan kepedulian dengan terus-menerus berusaha mengamalkan Pancasila. Kita ingin mengubah tantangan-tantangan ini menjadi kesempatan untuk mewujudkan iman dengan melakukan gerakan-gerakan nyata, mulai dari yang paling sederhana.”

Sesuai tema tahun persatuan 2018, uskup berharap semoga masa Prapaskah “menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk makin mampu memahami kehendak Allah bagi bangsa kita, khususnya terkait dengan kesatuan dan keragaman bangsa kita,” serta semoga “kita makin mampu mengalami dan merasakan kehadiran-Nya yang menyelamatkan dan kita dikuatkan dalam upaya merawat dan menjaga persatuan dalam kebhinekaan kita dalam upaya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.”

Dalam surat gembala itu juga ditulis banyak program yang ditawarkan oleh Panitia Penggerak Tahun Persatuan di lingkungan, paroki, sekolah, dan komunitas-komunitas yang dapat langsung dijalankan, misalnya menyanyikan lagu “Kita Bhinneka – Kita Indonesia”, mendaraskan Doa Tahun Persatuan, mengadakan kenduri paroki, buka puasa bersama, piknik kebangsaan dengan mengunjungi tempat bersejarah nasional dan banyak hal lain yang terdapat dalam buku “Pedoman Karya dan Inspirasi Gerakan Pastoral-Evangelisasi Tahun Persatuan Keuskupan Agung Jakarta”.

Ada upaya lain sesuai kebutuhan setempat. Tapi yang penting, menurut uskup, “kita berusaha (mulai dari lingkup RT/RW) mempererat persaudaraan dalam masyarakat, tanpa membedakan agama, suku, etnis, dan perbedaan lain. “Harapannya, dalam upaya berkesinambungan dan saling terkait, usaha-usaha kita membangun persatuan dalam keragaman akan berbuah dalam wujud habitus dan budaya baru.”

Ketika habitus dan budaya baru bertumbuh dan berkembang, Mgr Suharyo percaya, “bertumbuh dan berkembang pulalah Kerajaan Allah, kerajaan kebenaran, keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera.” (paul c pati)

Apa konsekuensi-konsekuensi lain yang muncul dari dosa asal?

Mon, 19/02/2018 - 16:00
Original Sin dari Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

77. Apa konsekuensi-konsekuensi lain yang muncul dari dosa asal?

Sebagai konsekuensi dosa asal, kodrat manusia terluka dalam kekuatan alamiahnya tanpa menjadi rusak secara total. Karena dosa asal ini, muncullah kebodohan, penderitaan, kekuasaan maut, dan kecenderungan terhadap dosa. Kecenderungan ini disebut konkupisensi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 405-409, 418

78. Setelah dosa yang pertama, apa yang dilakukan oleh Allah?

Sesudah dosa yang pertama, dunia dibanjiri dosa, tetapi Allah tidak membiarkan manusia berada di bawah kuasa maut. Dalam ”Protoevangelium” (Kej 3:15), Allah memaklumkan dengan cara yang misterius bahwa kejahatan akan dikalahkan dan manusia akan diangkat dari kedosaannya. Pernyataan ini merupakan pewartaan pertama Mesias dan Penebus. Karena itu, kedosaan ini pada masa yang akan datang disebut dengan ”kedosaan yang membahagiakan” karena ”memunculkan Penebus Agung bagi kita” (Liturgi Malam Paskah).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 410-412, 420

Surat Master Ordo Pewarta untuk Pertemuan Internasional Dominikan Awam di Fatima 2018

Sun, 18/02/2018 - 23:38

Bulan Oktober 2018, Persaudaraan Dominikan Awam akan menjalankan Pertemuan Internasional Dominikan Awam di Fatima, Portugal. Untuk menyambut pertemuan itu, Master Ordo Pewarta Pastor Bruno Cadore OP mengeluarkan sebuah surat dari Roma, tanggal 25 Januari 2018, pada Pesta Pertobatan Santo Paulus Rasul. Koordinator Nasional Dominikan Awam di Indonesia Theo A Atmadi OP menerjemahkan surat itu dan diturunkan dalam PEN@ Katolik secara bersambung:

Roma, 25 / 01 / 18, Pesta Pertobatan Santo Paulus Rasul.

Kepada para Awam Ordo Pewarta.

Prot. 73/17/810 ICLDF.

Saudara-saudariku terkasih dalam Ordo Pewarta,

Adalah dalam rangka Yubileum Ordo saya berbicara dengan kalian yang dalam beberapa bulan mendatang akan mempersiapkan Pertemuan Internasional Dominikan Awam. Tidak diragukan lagi, di semua regio, pertemuan ini merupakan peristiwa sangat penting untuk merayakan rahmat yang diberikan kepada Ordo, sehingga boleh memiliki saudara-saudari awam sebagai anggota aktif dalam misinya. Sesuai spesifikasi setiap regio, pertemuan ini merupakan pula kesempatan untuk mempertimbangkan kembali cara yang bisa membuat panggilan awam menjadi lebih penting dari sebelumnya, jika Ordo hendak berinkulturasi lebih baik dalam mewartakan Kabar Gembira akan datangnya Kerajaan Allah. Bagi keseluruhan Ordo, dan dalam perspektif yang dibuka dalam kongres tentang Misi Ordo yang mengakhiri Yubileum di bulan Januari 2017, saya mengungkapkan harapan agar pertemuan ini dapat menjadi kesempatan untuk meminta kreativitas apostolik yang diperlukan yang sungguh mengintegrasikan peranserta khusus Awam dari Ordo. Inilah cara Ordo bisa melayani dunia dan Gereja dengan pewartaan. Delapan ratus tahun setelah ketetapan Dominikus untuk mengutus saudara-saudaranya ke empat penjuru dunia, menurut saya pengutusan ini harus menemukan aktualisasinya saat ini, bukan hanya peduli pada penyebaran yang bersifat ‘geografis’ saja, namun juga berupaya menetapkan pewartaan Ordo dengan menjadikannya kaya akan keragaman budaya dan keadaan hidup. Dan, mengetahui bahwa melalui kekayaan keberagaman inilah sehingga Ordo terpanggil untuk memanifestasikan identitasnya menjadi sebuah “lembaga pewartaan” yang satu, yang berakar dalam persekutuan dalam satu dan panggilan yang sama untuk “sepenuhnya mempersembahkan diri bagi pewartaan Sabda Tuhan.”

Kita semua tahu bahwa realita persaudaraan awam dalam Ordo sangat berbeda menurut regio, dinamika mereka sungguh berbeda di sana-sini, juga integritas penuh mereka terhadap dalam kehidupan Ordo pun sangat beraneka. Kita juga tahu betapa banyak waktu diperlukan dan banyak energy akan terbuang kalau hendak bertanya kepada diri kita sendiri tentang “identitas” Dominikan dari persaudaraan-persaudaraan itu, tanpa selalu akan membawa buah kehidupan yang kita harapkan. Namun bersama banyak orang dari kalian, saya yakin kehidupan awam dari Ordo tidak karena fokus pada struktur dan formalitas, tetapi dari keberanian untuk mendengarkan panggilan untuk bergabung dalam Ordo, karena itulah Ordo Pewarta, untuk melayani misi Gereja, Umat Allah yang sedang berziarah dalam sejarah (Lumen Gentium), untuk terus mewartakan kedatangan Kerajaan Allah. Bukankah ke jalan ini begitu banyak Dominikan Awam, seperti Pier Giorgio Frassati dan Giorgio La Pira, menuntun kita? Sesuai Konsili Vatikan II, perlulah kiranya mengingat bahwa sebagai awam, oleh Pembaptisan, “mengambil bagian dalam jabatan Kristus sebagai imam, nabi dan raja” dan “menjalankan perutusan segenap umat Kristiani dalam Gereja dan di dunia.” (Lumen Gentium, 31)

Tanda Persaudaraan

Keputusan untuk mengangkat Anggota-Anggota Ordo yang awam tanpa menyebut lagi “Ordo Ketiga” melainkan menyebutnya “Persaudaraan Dominikan Awam” menyoroti aspek utama pewartaan Kerajaan Allah yaitu, bersama dengan Ordo secara keseluruhan, kalian dipanggil untuk menyebar. Bagi Santo Dominikus, yang sejak awal misinya di Languedoc ingin dipanggil saudara Dominikus, Persaudaraan itu secara intrinsik terkait dengan pewartaan Kerajaan Allah. Saudara dan saudariku, yang tidak datang bersama setelah saling memilih, namun yang saling menerima sebagai sahabat-sahabat Allah, saling belajar cara menjadi anggota serta aktor dalam keluarga, sebagai putra dan putri dari Bapa yang sama. Menjadi tanda persaudaraan di tengah kehidupan sekular adalah menjadi tanda yang ada dalam diri umat manusia yakni kemampuan untuk hidup sebagai saudara, yakni menjalin hubungan relasi, yang meski dengan semua keberagamannya, mereka bersatu alam sebagai anak-anak yang sama, dan dalam keinginan yang sama untuk diutus ke dunia ini sebagai saksi-saksi Sabda Tuhan, saksi-saksi kehidupan, dan saksi-saksi rahmat Tuhan.

(bersambung …)

Pastor Franz Magnis Suseno SJ: Umat Katolik sesungguhnya sangat diterima umat agama lain 

Sun, 18/02/2018 - 16:40

“Kehadiran umat Katolik sesungguhnya sangat diterima umat agama lain. Hanya saja di daerah tertentu seperti baksos di Bantul, Yogyakarta, belum lama ini, itu terjadi karena ada miskomunikasi antara penyelenggara dengan umat setempat. Mungkin tidak terjadi penolakan saat umat paroki yang mau membantu warga dengan memberikan sembako, jikalau umat setempat sebelumnya membangun komunikasi dengan baik dengan para tokoh Muslim sekitar.”

Pastor Franz Magnis Suseno SJ mengatakan hal itu dalam seminar bertajuk “Mengalami Kehadiran Allah di Tengah Kebhinekaan” yang dilakukan di aula Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang dan dihadiri sekitar 300 umat Katolik dari sejumlah paroki se-Dekenat Tangerang.

Pastor kelahiran Jerman itu mengatakan perlunya umat Katolik menjaga perasaan umat beragama lain. Misalnya, tegas imam itu, di daerah-daerah yang mayoritas Islam, “hindarilah membangun sarana yang mewah atau megah sehingga tidak menimbulkan sikap ketidaksenangan umat beragama lain, atau jagalah sehingga jangan sampai terlalu mencolok Katoliknya.”

Soal kasus Bantul, lanjut staf pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya itu, baksos yang ditolak warga masyarakat mungkin karena kurangnya komunikasi atau pendekatan antara panitia baksos dengan umat yang mau dibantu. “Saya sarankan perlu menjelaskan kepada tokoh Muslim bahwa Katolik akan membantu dalam rangka pesta nama paroki dan sebagainya. Tapi, mungkin hal ini tidak dilakukan maka bisa terjadi penolakan seperti itu,’’ kata imam itu.

Ketika tidak ada komunikasi yang baik, imam itu memperkirakan, orang luar akan mudah datang untuk menghasut dan menuding isu sebagai kristenisasi. “Maka saya menganjurkan perlunya kerjasama dan komunikasi yang baik antara Muslim setempat jikalau mau memberikan bantuan,’’ tegas Pastor Magnis.

Contohnya, “sewaktu Romo Ismartono SJ dari KWI membantu para korban tsunami di Aceh, hampir pasti tidak mengalami kesulitan, karena waktu itu dia bergabung dengan kelompok Muslim yang melakukan aksi kemanusiaan yang sama,” kata Pastor Magnis seraya mengusulkan umat Katolik belajar dari pengalaman itu.

Juga diharapkan agar kehadiran umat Katolik di mana pun menjadi hal positif bagi masyarakat. “Saya menggunakan kalimat yang biasa dipakai para puteri Gus Dur bahwa agama Islam mesti menjadi rahmatan lil’alamin dan Katolik harus menjadi rahmat bagi seluruh ciptaan Allah,” tegas Pastor Magnis seraya menambahkan bahwa Gereja Katolik tidak salah dalam memberikan bantuan namun dalam teknisnya perlu komunikasi yang baik sebelumnya.

Pastor Franz Magnis Suseno SJ mengajak seluruh umat Katolik untuk selalu mengembangkan sikap saling menghargai umat beragama lain di lingkungan, wilayah, maupun paroki masing-masing, seperti yang dianjurkan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo “agar para romo di setiap paroki selalu berkomunikasi dengan umat Muslim, baik Muslim NU maupun Muslim Muhammadyah.

Seminar 3 Februari 2018 yang dimoderatori oleh Theresia Riana yang merupakan dosen sebuah universitas di Tangerang itu diselenggarakan oleh Kelompok Ignatian yang didukung Kelompok Pria Katolik (KPK) Santa Helenna Curug. Ignasian merupakan kelompok yang mendalami secara khusus semangat Santo Ignatius Loyola. (Konradus R Mangu)

Puasa

Sun, 18/02/2018 - 00:11

Minggu Prapaskah 2018

18 Februari 2018

Markus 1:12-15

“Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya…(Mk. 1:12-13)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.

Kita menahan diri untuk mengkonsumsi makanan dan air dalam jangka waktu tertentu karena berbagai alasan dan motif. Beberapa orang berpuasa untuk menundukkan keinginan daging dan mendisiplinkan diri. Beberapa orang berpuasa karena melihatnya sebagai cara untuk mencapai kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa yang lain berpuasa untuk mencapai hidup sehat dan seimbang. Sedangkan yang lain diminta untuk berpuasa sebagai persyaratan medis atau tes kesehatan. Saya ingat seorang teman dokter mengharuskan saya untuk berpuasa selama enam sampai delapan jam sebelum darah saya diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Kita sekali lagi memasuki masa Prapaskah, dan Gereja menginstruksikan kita untuk berpuasa, berpantang, dan mengintensifkan doa kita. Namun, dibandingkan tradisi-tradisi lainnya, puasa kita sebenarnya sangat ringan. Kita hanya diwajibkan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dua hari saja dalam setahun! Cara kita berpuasa juga tidak terlalu sulit itu. Kita berpuasa dengan hanya makan sekali kenyang dalam sehari. Namun, pernah kita bertanya, mengapa kita, orang-orang Kristiani, harus berpuasa? Mengapa Gereja ingin kita mengikatkan diri pada praktik kuno ini?

Salah satu alasannya adalah kita mengikuti teladan para nabi besar kita. Musa berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum dari Tuhan di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia berpuasa dari makanan ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19: 8). Akhirnya, Yesus sendiri pergi ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari sebelum Ia memulai misi-Nya. Mengapa para nabi besar ini dan Yesus sendiri berpuasa? Jika kita memperhatikan dengan seksama, Musa dan Elia berpuasa karena mereka mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan. Seperti mereka, puasa kita terkait secara fundamental dengan perjalanan kita menuju Tuhan. Seringkali kita sangat bangga dengan diri kita sendiri, merasa mandiri karena kita telah mencapai dan mengumpulkan banyak hal dalam hidup kita. Puasa membuat kita lapar dan lemah, dan sekali lagi kita diingatkan akan kerentanan dan kefanaan kita sebagai manusia. Ketika kita merasa tidak berdaya, inilah juga saat ketika kita diajak menyadari ketergantungan radikal kita terhadap Tuhan, yang adalah kekuatan sejati kita. Sungguh, menjadi seorang manusia yang sejati adalah menjadi manusia yang benar-benar terhubung dengan Tuhan, sumber kemanusiaan dan kehidupan kita. Puasa menjadi sarana yang baik untuk memurnikan hati kita untuk melihat Tuhan karena hanya ‘hati yang murni bisa melihat Tuhan.”

Kita juga mengamati bahwa Musa, Elia, dan Yesus berpuasa sesaat sebelum mereka memulai misi besar mereka. Musa menerima hukum Taurat dan mengajarkannya kepada bangsa Israel. Elia diutus untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Yesus akan memulai pelayanan-Nya yang akan membawa-Nya ke kayu salib, sengsara, wafat, dan juga kebangkitan-Nya. Seperti halnya mereka, puasa kita mempersiapkan kita untuk misi sejati kita sebagai orang Kristiani. Seringkali, kita sibuk dengan banyak hal, dan puasa membantu kita untuk mengarahkan dan memfokuskan kembali diri kita pada misi yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan waktu kita yang terbatas di bumi ini, apa hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita? Dengan tubuh fana kita, sudahkah kita memberi cukup waktu dan usaha untuk misi kita? Apakah puasa kita membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan misi kita?

 

 

Orang Muda dari berbagai latar belakang akan ikut proses Sinode Para Uskup XV

Sat, 17/02/2018 - 22:50

300 orang muda dari seluruh dunia telah dipilih untuk datang ke Roma dalam persiapan Sinode Para Uskup XV yang akan  berlangsung bulan Oktober 2018. Kardinal Lorenzo Baldisseri, Sekretaris Jenderal dari Sekretariat Sinode Para Uskup menjelaskan dalam konferensi pers tanggal 16 Februari 2018 bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah Sinode para Uskup, direncanakan sebuah pertemuan pra-sinode tanggal 19-24 Maret.

Orang-orang muda yang akan menghadiri pertemuan ini, menurut laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, dipilih oleh Konferensi Waligereja, kongregasi religius, dan dikaster-dikasteri Vatikan lainnya. Mereka mewakili kaum muda dari berbagai latar belakang etnis dan agama, lapisan masyarakat, dan pengalaman hidup, termasuk beberapa orang yang telah mengalami perdagangan manusia.

Pertemuan itu akan diadakan guna memastikan suara pendengar yang akan menerima pesan sinode itu didengar secara langsung. Masukan pertemuan itu akan dipresentasikan kepada Paus Fransiskus pada tanggal 25 Maret. Masukan itu akan juga diikutsertakan dalam Instrumentum laboris yang akan digunakan oleh para Bapa Sinode saat mereka memfokuskan tema itu.

Media sosial adalah cara utama yang ingin didengar dari orang muda oleh Sekretariat Sinode Para Uskup. Lebih dari 221.000 tanggapan terhadap questioner online telah diterima. Kini bisa ikut grup-grup Facebook dalam berbagai bahasa dengan mendaftar menggunakan tautan di Synod’s website.

Juga hadir pada konferensi pers 16 Februari itu dua anak muda yang ikut kelompok yang diselenggarakan oleh Sekretariat yang mempersiapkan Sinode itu. Filippo Passantino menggarisbawahi penggunaan media sosial untuk melibatkan kaum muda dalam Sinode.

Mengacu pada akun Facebook, Twitter, dan Instagram ari Sinode itu, Filippo mengatakan bahwa “atas anjuran dan intuisi kami, kami menawarkan perspektif yang lebih muda guna berbicara dengan orang muda lainnya. Tujuan kehadiran online adalah untuk menciptakan interaksi dengan rekan-rekan kami di seluruh dunia dan untuk memfasilitasi partisipasi mereka.”

Stella Marillene Nishimwe, yang berbicara dalam bahasa Prancis, mengatakan, “Saya ingin … mengajak semua orang muda di dunia untuk ikut dalam momen berharga yang Gereja berikan kepada kita ini guna membuat suara kita menjangkau sejauh mungkin.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Perayaan Imlek dipenuhi tradisi dan simbol yang juga memiliki makna liturgis

Sat, 17/02/2018 - 13:19

Warna merah dan emas adalah warna yang identik dengan Imlek, yang dalam Gereja Katolik memiliki makna liturgis, yakni makna atau simbol kemartiran, kerelaan seorang saksi iman yang disebut martir untuk mati mencurahkan darahnya demi imannya kepada Kristus, dan sebagai pengikut Kristus warna merah melambangkan perjuangan, pengorbanan, penderitaan dan salib.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Pastor Andreas Kurniawan OP dalam homili Misa Imlek di Katedral Santo Yosep Pontianak, 16 Februari 2018. Kepala Paroki Katedral Pastor Alexius Alek Mingkar Pr memimpin Misa itu disertai tujuh konselebran.

Lebih jauh Ekonom Keuskupan Agung Pontianak itu melihat salib sebagai “lambang kemenangan dan lambang keselamatan kita.” Oleh karena itu, meski dalam kehidupan selalu ada kejahatan dan kegelapan silih berganti, Pastor Andrei Kurniawan mengajak umat untuk tidak terpuruk dalam situasi itu, melainkan melihat sisi terang dan kebaikan bersama Tuhan. “Apa yang harus kita lakukan? Pertama-tama kita tidak perlu khawatir, berikutnya kita harus bersyukur!” tegas imam itu.

Di hari penuh sukacita itu, umat Tionghoa mengunjungi sanak keluarganya. “Ini erat kaitannya dengan tradisi kue keranjang yang lengket namun manis,” kata Pastor Andreas Kurniawan yang menjelaskan bahwa kue keranjang yang dibagikan kepada seluruh umat setelah Misa Imlek itu “melambangkan rasa erat-keakraban dalam keluarga, bersatu dan menyatu dalam kegembiraan, keharmonisan dan kemanisan.”

Imam Dominikan keturunan Tionghoa itu tak lupa mengingatkan umat Tionghoa yang hadir untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan “sebab kegelapan, kejahatan, ketakutan, keputusasaan akan dikalahkan dengan sikap yang mampu bersyukur.” Namun selain bersyukur kepada Tuhan, imam itu mengingatkan untuk tidak lupa menghormati orangtua karena dengan demikian “berkat akan mengalir dengan sendirinya.”

Dalam Misa, Pastor Paulus Toni OFMCap mengajak umat dan para imam konselebran untuk ucapkan salam tahun baru kepada Tuhan, “sumber berkat bagi kita” dengan salam tradisional Tionghoa. “Tangan kanan untuk bekerja, tetapi juga untuk berkelahi atau melakukan kekerasan, sedangkan tangan kiri sebagai tanda damai dan cinta kasih. Maka, kepallah telapak tangan kanan dan katuplah dengan telapak tangan kiri. Ini simbol kedamaian, persahabatan, terima kasih dan syukur,” tegas Pastor Toni, dosen STT Pastor Bonus dan formator untuk frater-frater Kapusin di biara Lorenzo.

Kemudian Provinsial Ordo Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap mengambarkan filosopi sukacita dan kedamian dalam simbol pohon Mei Hwa. “Pohon itu akarnya adalah iman, batangnya adalah kasih, dahannya adalah pengharapan, daunnya adalah kesabaran, bunganya adalah sukacita dan buahnya adalah damai sejahtera,” ungkapnya.

“Semoga perayaan Imlek ini memberikan damai dan sukacita,” pesan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr kepada seluruh umat yang disampaikan dalam Misa itu oleh Pastor Alexius Alek Mingkar Pr.

Selain warna merah, Imlek juga disertai dengan beberapa simbol dan tradisi seperti shio, lampion, barongsai, angpau, pohon Mei Hwa, petasan, kembang api, jeruk, dan kue keranjang. Konon simbol-simbol atau tradisi Imlek itu, cerita Pastor Andreas Kurniawan OP, berasal dari lagenda tentang raksasa bernama Nián dari pegunungan yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa.

Untuk melindungi diri, pada awal tahun penduduk menaruh makanan di depan pintu agar Nian memakan makanan yang disiapkan itu dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen. Namun suatu waktu, penduduk melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Percaya bahwa Nian takut warna merah, maka sehingga setiap kali tahun baru akan datang, mereka menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu, serta menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. (Suster Maria Seba SFIC)

 

 

Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan himbau masyarakat tidak mudah terprovokasi

Sat, 17/02/2018 - 05:00

Menyusul serangkaian peristiwa berupa “intimidasi kepada para tokoh agama dan teror terhadap rumah ibadah yang memilukan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia,” 16 pimpinan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan nasional menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan isu yang dapat memecah-belah kerukunan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Himbauan itu mereka sampaikan tanggal 14 Februari  2018, “sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama, disaksikan Monumen Gong Perdamaian Dunia di kota Ambon yang menjadi simbol pentingnya menjaga perdamaian antarsesama saudara sebangsa dan setanah air.”

Beberapa waktu belakangan ini, mereka mencatat “telah terjadi serangkaian peristiwa berupa intimidasi kepada para tokoh agama dan teror terhadap rumah ibadah yang memilukan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.”

Intimidasi dan teror itu, menurut catatan mereka, antara lain kepada KH Umar Basri (ulama, tokoh NU, dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Bandung) 27 Januari 2018, H R Prawoto (ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis yang dianiaya hingga meninggal oleh orang tak dikenal) 1 Februari 2018, Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya (yang dipersekusi di Desa Caringin, Legok, Tangerang) 7 Februari 2018, Gereja Santa Ludwina (di Desa Trihanggo, Gamping, Sleman yang diserang dan menyebabkan Pastor Karl Edmund Prier SJ dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam) 11 Februari 2018, masjid di Tuban, Jawa Timur, yang dirusak, dan rumah ibadah umat beragama Hindu di Bima, NTB, yang dilecehkan 12 Februari 2018.

Dampak dari peristiwa-peristiwa itu, menurut mereka, adalah terganggunya stabilitas keamanan daerah dan nasional yang dapat memicu konflik horizontal yang lebih besar. Oleh karena itu, “persoalan-persoalan intoleransi dan radikal ini harus segera ditangani sehingga konflik sekecil apapun dapat segera diselesaikan dengan serius dan tuntas,” tulis mereka.

Sayangnya, lanjut mereka “kami melihat belum ada penanganan sistematis dan efektif dari berbagai lembaga terkait. Setiap lembaga masih bergerak sendiri tanpa ada koordinasi yang sinergis. Tindakan pencegahan yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan masih belum terlaksana dengan baik.”

Menyikapi hal itu, selain pernyataan di atas mereka mendesak Presiden untuk “menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan agar bekerjasama dengan solid, sinergis, dan responsif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan intoleran.”

Mereka juga mendesak Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI untuk “berkoordinasi dalam mengungkap aktor intelektual dari rangkaian kasus yang telah terjadi serta mengoptimalkan tindakan preventif agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.”

Segenap elemen bangsa antara lain pejabat publik, tokoh agama, tokoh masyarakat, elit partai politik, pimpinan ormas, juga mereka ajak “untuk turut mengkondusifkan keadaan serta tidak mengeluarkan pernyataan yang provokatif.”

Kepada seluruh anggota dari organisasi HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM, HIKMAHBUDHI, KMHDI, KAMMI, HIMA PERSIS, Pemuda Muslimin Indonesia, SEMMI, Gema Mathla’ul Anwar, GPII, IPTI, HIMMAH, dan GMKI, juga diinstruksikan “menjaga ikatan persaudaraan serta berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang harmoni kebangsaan berdasarkan Pancasila, UUD 1945.”

Pernyataan itu ditandatangani di Ambon, 14 Februari 2018 oleh Ahmad Nawawi (Ketua Umum DPP GEMA Mathla’ul Anwar), Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium PP PMKRI), M Muhtadin Sabily (Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Indonesia), Mulyadi P. Tamsir (Ketua Umum PB HMI), Putu Wiratnaya (Presidium PP KMHDI), Ali Muthohirin (Ketua Umum DPP IMM), Nizar Ahmad Saputra (Ketua Umum PP HIMA PERSIS), M Azizi Rois (Ketua Umum DPP SEMMI), Agus Mulyono Herlambang (Ketua Umum PB PMII), Irfan Ahmad Fauzi (Ketua Umum PP KAMMI), Sugiartana (Ketua Presidium HIKMAHBUDHI), Robaytullah Kusumajaya (Ketua Umum DPP GMNI), Aminullah Siagian (Ketua Umum PP HIMMAH), Masri Ikoni (Ketua Umum PB GPII), Sahat Martin Philip Sinurat (Ketua Umum PP GMKI), dan Ardy Susanto (Ketua Umum DPP IPTI). (pcp)

Apa dosa asal itu?

Fri, 16/02/2018 - 19:37

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

75. Apa dosa manusia yang pertama itu?

Ketika dicobai iblis, manusia pertama, laki-laki dan perempuan, telah membiarkan kepercayaan kepada Sang Pencipta mati dari dalam hati mereka. Dalam ketidaktaatan, mereka ingin menjadi ”seperti Allah”, tetapi tanpa Allah dan tidak selaras dengan-Nya (Kej 3:5). Karena itu, Adam dan Hawa langsung kehilangan rahmat asali kesucian dan keadilan bagi mereka sendiri dan semua keturunan mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 396-403, 415-417

76. Apa dosa asal itu?

Dosa asal yang di dalamnya semua manusia dilahirkan adalah keadaan tiadanya kesucian dan keadilan asali. Dosa asal adalah dosa yang ”membelenggu” kita, bukan sesuatu yang kita lakukan, merupakan suatu keadaan kelahiran dan bukan suatu tindakan pribadi. Karena kesatuan asali seluruh umat manusia, dosa asal ini diturunkan kepada keturunan Adam ”bukan dengan peniruan, tetapi lewat pembiakan”. Pewarisan ini menjadi misteri yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 404, 419

Greg Burke: Paus Fransiskus rutin bertemu korban pelecehan seks yang dilakukan klerus

Fri, 16/02/2018 - 18:48
Direktur Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke

Vatikan mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus beberapa kali sebulan bertemu korban pelecehan seksual, baik pribadi atau kelompok guna “mendengarkan dan membantu mereka menyembuhkan lukanya yang serius.” Pernyataan itu dikeluarkan oleh Direktur Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke, 15 Februari 2018 guna menjawab pertanyaan wartawan tentang percakapan Paus dengan konfrater Yesuit dalam perjalanan apostoliknya ke Peru. Saat itu, menurut Paus, dia terlibat pertemuan rutin dengan para korban pelecehan seks yang dilakukan klerus. “Paus Fransiskus, mendengarkan para korban dan mencoba membantu menyembuhkan luka-luka berat akibat pelecehan yang mereka alami. Pertemuan itu berlangsung benar-benar untuk menghormati para korban dan penderitaan mereka,” kata Greg Burke. Ketika berbicara kepada para Yesuit dalam pertemuan di Lima, ibu kota Peru, Paus mengatakan pelecehan seks yang dilakukan klerus adalah penghinaan terbesar bagi Gereja. Paus mengatakan, beberapa anggota Gereja menunjukkan bahwa jumlah pedofil tertinggi ditemukan dalam keluarga, dan persentase di antara para imam Katolik hanya 1,6%. “Tapi ini mengerikan, meskipun hanya satu dari saudara-saudara kita! Karena dia ditahbiskan untuk membawa kekudusan bagi orang muda dan yang belum begitu muda dan dia menghancurkan mereka. Ini mengerikan. Kita harus dengarkan apa yang harus dikatakan oleh korban pelecehan!” kata Paus. Dalam situasi seperti ini, jelas Greg, Paus mengatakan kepada para Yesuit di Peru bahwa dia bertemu beberapa di antara para korban itu pada hari-hari Jumat. (pcp)

Komisi HAK dukung Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 demi tegaknya demokrasi

Fri, 16/02/2018 - 18:09

Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (HAK KWI) mendukung terselenggaranya Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 demi tegaknya demokrasi dan terjaganya eksistensi bangsa Indonesia. Maka, mendukung suksesnya pilkada dan pemilu itu merupakan panggilan luhur umat Katolik, yang adalah bagian sepenuhnya dari bangsa Indonesia.

Pernyataan itu adalah bagian dari Rangkuman dan Rekomendasi Rapat Pleno Komisi HAK KWI di Jakarta, 2-8 Februari 2018, yang dihadiri 60 peserta meliputi pengurus Komisi HAK KWI, perwakilan pengurus Komisi HAK seluruh keuskupan dan undangan.

Wujud dukungan itu, menurut rangkuman peserta terlihat dari waktu penyelenggaraan rapat itu sendiri dan tema yang dipilih, yakni ”Menjadi Agen Toleransi dan Kerukunan dalam Masyarakat Indonesia yang Majemuk Menyongsong Tahun Politik 2018-2019.”

Peserta mencatat dalam rangkuman itu: “Kita harus optimis Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 akan berjalan dengan baik, namun tetap perlu untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang bisa mengganggu.”

Kondisi-kondisi yang mengindikasikan munculnya gangguan, menurut identifikasi mereka, adalah “isu-isu SARA untuk menarik simpati dan memenangkan kontestasi.” Oleh karena itu mereka menegaskan perlunya upaya bersama dengan pelbagai pihak untuk “menjaga dan menolak munculnya politik identitas, politik uang (transaksional), dan teror dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.”

Selanjutnya mereka sepakat bahwa tugas penting yang harus diperankan oleh Komisi HAK dalam rangka pilkada dan pemilu itu adalah ikut serta menciptakan suasana kondusif dalam masyarakat yang dibangun bersama tokoh-tokoh lintas iman.

“Melalui dan dalam kebersamaan dengan mereka, menggali nilai-nilai luhur yang menginspirasi dan mendukung kerukunan, kedamaian, serta cinta kepada bangsa dan negara,” dan “Berdasarkan nilai-nilai luhur itu mengajak warga berpartisipasi secara bertanggungjawab dan bermartabat dalam Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.”

Selanjutnya dalam rangka menjalankan tugas dan mewujudkan peran-peran kekinian dalam masyarakat, Komisi HAK mengeluarkan rekomendasi untuk dirinya sendiri agar selain mengoptimalisasi koordinasi dan peran pengurus dan meningkatkan kapasitas dan dedikasi personal pengurus, dimantapkan dan diperjelas juga tempat Komisi HAK dalam gerak pastoral Gereja.

Mereka sepakat meningkatkan pelibatan umat yang mempunyai potensi dan dedikasi dalam menjalankan tugas atau kerja komisi, serta meningkatkan jejaring dan kerjasama di lingkungan internal dengan komisi lain di KWI, ormas-ormas Katolik dalam memberdayakan awam, dan kerjasama eksternal.

Kemudian, dalam rangka menghadirkan Gereja yang lebih relevan dan signifikan di tengah masyarakat yang beragam akhir-akhir ini, mereka sepakat akan perlunya langkah-langkah pastoral yang dikerjakan oleh Komisi HAK.

Langkah-langkah itu antara lain mendorong umat untuk mengembangkan sikap iman yang inklusif dan dialogis, mendorong pimpinan Gereja (hirarki) agar semakin komitmen mengupayakan komunikasi, interakasi, dan kerjasama lintas iman untuk membangun kerukunan, dan mendorong umat dan Gereja untuk berinisiatif dan kreatif membangun kerukunan melalui silaturahmi dan kegiatan bersama lintas iman.

Selain itu, komisi akan siapkan kader-kader awam Gereja, calon imam, dan khususnya orang muda yang punya hati dan keberanian untuk membangun kerukunan, tingkatkan komunikasi dan jejaring dengan komunitas-komunitas lintas iman, menjadikan perayaan Gereja sebagai kesempatan menghadirkan dan melibatkan komunitas lintas iman, dan mengenang dan memaknai peristiwa dan momentum penting kebangsaan dalam perayaan Gereja untuk meneguhkan semangat nasionalisme.(pcp)

Pages