Pen@ Katolik

Subscribe to Pen@ Katolik feed
pastoral and ecclesiastical news agency
Updated: 36 min 35 sec ago

Paus dalam Misa: “Siapkan Natal dengan keberanian iman”

4 hours 4 sec ago
Paus Fransiskus merayakan Misa di Casa Santa Marta (Vatican Media)

Paus Fransiskus menyoroti minggu kedua Adven seraya mengajak umat beriman untuk memohon rahmat persiapan diri dengan iman untuk merayakan Natal. Dalam homili Misa di Casa Santa Marta, 10 Desember 2018, Paus mengatakan “tidak mudah untuk menjaga iman, untuk mempertahankan iman.”

Ketika merenungkan Injil hari itu yang menceritakan kisah seorang lelaki lumpuh yang Yesus sembuhkan, Paus berkata bahwa iman memberi kita keberanian dan menunjukkan kepada kita cara menyentuh hati Tuhan.

Dalam perumpamaan itu, kata Paus, Tuhan “melihat iman” orang-orang membawa pria itu dan menempatkannya di depan-Nya. “Butuh keberanian,” kata Paus, untuk naik ke atap dan menurunkannya dalam tandu melalui ubin…. “Orang-orang itu punya iman: Mereka tahu bahwa jika orang sakit itu ditempatkan di depan Yesus, dia akan disembuhkan.”

Paus juga mengenang episode-episode lain yang menceritakan kekaguman Yesus akan iman orang-orang. Misalnya, kasus perwira yang meminta penyembuhan hambanya, wanita Kanaan yang mau menjadi perantara anak perempuannya yang kerasukan setan, dan wanita yang menderita pendarahan yang disembuhkan setelah menyentuh ujung jubah Yesus. “Yesus, mencela orang-orang yang kurang imannya,” seperti Petrus yang ragu, tetapi dia berkata, ”dengan iman semuanya mungkin.”

Pada minggu kedua Adven ini, lanjut Paus Fransiskus, “kami memohon rahmat persiapkan diri dengan iman untuk merayakan Natal.” Natal, kata Paus, sering ditandai dengan cara duniawi atau kafir. Namun, seraya mengulangi permintaan Tuhan agar kita melakukannya dengan iman, Paus berkata, “tidak mudah menjaga iman, tidak mudah mempertahankan iman … tidaklah mudah!”

Paus Fransiskus menyelesaikan renungannya dengan mengomentari episode penyembuhan seorang anak lelaki buta yang diceritakan dalam Injil Yohanes: “Baiklah kita hari ini, dan juga besok, selama minggu ini, mengambil bab 9 dari Injil Yohanes itu dan bacalah cerita bagus tentang anak lelaki yang buta sejak lahir itu.”

“Dari lubuk hati kita,” kata Paus mengakhiri renungannya, “ucapkan pernyataan iman dan berkata: Aku  percaya Tuhan. Bantu saya dalam imanku. Pertahankan iman saya dari keduniawian, dari takhayul, dari semua yang bukan iman. Jauhkan iman saya dari reduksi menjadi teori, melainkan menjadi teologis atau moral … Iman akan Dikau, Tuhan.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Vatican News)

“Kandang Natal Pasir” dan Pohon Natal Lapangan Santo Petrus diresmikan

Sat, 08/12/2018 - 22:20
Vatican Media

Kandang Natal dan Pohon Natal di Lapangan Santo Petrus tahun ini diresmikan pada malam tanggal 7 Desember 2018 dalam upacara yang dihiasi lagu-lagu Natal, tarian rakyat dan musik band. Ratusan orang, termasuk para pembesar Gereja bertepuk tangan ketika tirai diturunkan membuka gambaran seluas 16 meter tentang kelahiran Yesus yang seluruhnya terbuat dari pasir dan dijuluki “Kandang Natal Pasir.” Kandang Natal dengan patung-patung yang terbuat dari pasir berupa gambaran timbul itu adalah hadiah dari resor Pantai Jesolo di Italia, utara Venesia, dan Patriarkat Venesia. Lebih dari 700 ton pasir dari Pantai Jesolo dipadatkan untuk menciptakan patung-patung Kandang Natal selebar 16 meter dan setinggi 5 meter pada lokasi seluas 25 meter persegi itu. Pohon Natal dari cemara merah setinggi 23 meter di samping tempat kelahiran bayi Yesus itu, yang dihiasi lampu-lampu warna warni dalam upacara itu, adalah hadiah dari wilayah Friuli-Venezia Giulia Italia dan Keuskupan Concordia-Pordenone. Di antara yang hadir dalam upacara peresmian itu adalah presiden komisi yang mengatur Negara Kota Vatikan Kardinal Giuseppe Bertello, Patriark Venesia Uskup Agung Francesco Moraglia, dan Uskup Concordia-Pordenone Mgr Giuseppe Pellegrini. Kandang Natal dan Pohon Natal akan tetap dipajang sampai Pesta Pembaptisan Tuhan, 13 Januari 2019, yang menandai akhir masa Natal. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Artikel terkait:

Paus Fransiskus mendapat hadiah Kandang Natal yang terbuat dari roti

Paus Fransiskus: Pohon Natal dan Kandang Natal simbol harapan dan cinta

Pohon Natal didirikan di Lapangan Santo Petrus

Kandang Natal dan Pohon Natal adalah tanda tanda cahaya dan harapan

Kandang Natal Pasir. Vatican Media Upacara peresmian Kandang Natal dan Pohon Natal Lapangan Santo Petrus. Vatican Media

Paus Fransiskus angkat Pastor Kornelius Sipayung OFMCap sebagai Uskup Agung Medan

Sat, 08/12/2018 - 21:17
Foto Leo Sipahutar

Il Santo Padre Francesco ha accettato la rinuncia al governo pastorale di Medan (Indonesia), presentata da S.E. Mons. Anicetus Bongsu Sinaga, O.F.M. Cap. Il Papa ha nominato Arcivescovo Metropolita di Medan (Indonesia) il Rev.do P. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap., finora Ministro Provinciale di Medan.

Pengumuman dalam bahasa Italia yang diterbitkan oleh Sala Stampa atau Kantor Pers Vatikan, 8 Desember 2018, itu berarti bahwa Paus Fransiskus telah menerima permohonan pengunduran diri dari tugas pastoral Keuskupan Agung Medan (Indonesia), yang disampaikan oleh Mgr Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dan menunjuk Uskup Agung Metropolitan Medan (Indonesia) Pastor Kornelius Sipayung OFMCap, yang saat ini bertugas sebagai Minister Provinsial OFMCap Provinsi Medan.

Dijelaskan, Pastor Kornelius Sipayung OFMCap lahir di Bandar Hinalang-Kabanjahe, Sumatera Utara, Keuskupan Agung Medan, 26 Agustus 1970. Setelah mengikuti Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar, imam itu menyelesaikan mata kuliah filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Santo Yohanes Pematangsiantar. Imam itu mengucapkan kaul kekal, 22 Agustus 1998, dan ditahbiskan imam 11 Desember 1999.

Pastor, yang pernah bertugas sebagai Kepala Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Kabanjahe, Medan (1999-2002), meraih Lisensi Teologi Dogmatis di Universitas Gregoriana, Roma, dan menyelesaikan kursus bahasa Inggris enam bulan di Brisbane, Australia (2002-2005).

Imam itu kemudian bertugas sebagai Pembina Seminari Kapusin di Pamatangsiantar dan Dosen berbagai disiplin ilmu teologi di STFT Santo Yohanes Pematangsiantar (2005-2015), menjadi guardian  biara OFMCap di Pematangsiantar dan Wakil Minister Provinsi OFMCap Provinsi Medan (2012-2015).

Pastor Kornelius, yang terpilih sebagai Minister Provinsial OFMCap tahun 2015 dan terpilih kembali tahun 2018 untuk masa jabatan berikutnya hingga 2021, adalah juga anggota Badan Kerjasama Provinsi Kapusin Indonesia yang menyatukan perwakilan Provinsi Medan dan Provinsi Pontianak, serta dua kustodi yakni Sibolga dan Nias. Badan ini adalah bagian dari Konferensi Asia-Pasifik Ordo Kapusin.

Di tingkat nasional, imam itu merupakan anggota Komisi Teologi dari Konferensi Waligereja Indonesia, dan di tingkat keuskupan sebagai anggota Dewan Imam Keuskupan Agung Medan dan administrator Yayasan Harapan Jaya dan Caritas Medan. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Sala Stampa dari Vatikan)

Paus dalam Misa: Tuhan adalah batu, di atasnya kita membangun kehidupan

Fri, 07/12/2018 - 19:37
Paus Fransiskus merenungkan bacaan-bacaan dalam Misa pagi di Casa Santa Marta (Vatican Media)

Paus Fransiskus dalam homili Misa di Casa Santa Marta, Kamis, 6 Desember 2018, memfokuskan tiga pasang kata, yang diambil dari bacaan Kitab Suci hari ini: berbicara dan bertindak; pasir dan batu; tinggi dan rendah.

Pasangan pertama, “mengatakan dan melakukan,” menunjukkan keistimewaan dua pendekatan berlawanan pada kehidupan Kristen:

Berbicara adalah cara percaya, tetapi sangat dangkal, setengah perjalanan: Saya mengatakan bahwa saya orang Kristen tetapi saya tidak bertindak seperti seorang Kristen. Sederhananya, kira-kira sama dengan berpakaian seperti orang Kristen: hanya mengatakan kata-kata adalah semacam penipuan, berbicara tanpa melakukan. Anjuran Yesus konkret, selalu konkret. Kalau seseorang mendekat dan meminta nasihat, [Dia selalu menyarankan] hal-hal konkret. Karya-karya belas kasih adalah konkret.

Pasangan kata-kata yang kedua juga sebenarnya berlawanan. Pasir “tidak padat,” itulah konsekuensi berbicara “tetapi tidak bertindak; berpakaian layaknya orang Kristen. Tapi, itulah kehidupan yang dibangun tanpa dasar.

Di sisi lain, batu adalah Tuhan:

Dialah kekuatan. Tetapi banyak kali, mereka yang percaya kepada Tuhan tidak terlihat, tidak berhasil, mereka tersembunyi… tetapi mereka mantap. Ia tidak menempatkan harapannya dalam berbicara, dalam kesombongan, dalam kebanggaan, dalam kuasa kehidupan yang fana, [tetapi] dalam Tuhan, batu karang. Konkretnya kehidupan Kristen membuat kita maju dan membangun di atas batu karang yaitu Tuhan, yaitu Yesus; di tanah Tuhan yang kokoh. Bukan pada penampilan atau kesombongan, kebanggaan, rekomendasi … Tidak. [Pada] kebenaran.

Kemudian Paus beralih pada pasangan istilah yang ketiga, tinggi dan rendah, yang berbeda dengan jalan orang yang sombong dan angkuh, di satu sisi, dengan langkah kaki orang yang rendah hati di sisi yang lain. Mengutip pembacaan dari Nabi Yesaya, Paus Fransiskus mencatat bahwa Tuhan, “sudah menundukkan penduduk tempat tinggi, dan kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya; direndahkan-Nya sampai tanah, dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sederhana, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.”

Kutipan dari Nabi Yesaya ini bagaikan lagu Magnificat, nyanyian Bunda kita: Tuhan mengangkat orang yang rendah hati, mereka yang berada di dalam kekonkretan setiap hari, dan mengalahkan orang-orang yang sombong, yang membangun kehidupan mereka dengan kesombongan, kebanggaan … hal-hal ini tidak bertahan lama.

Dalam masa Adven ini, kata Paus, akan berguna untuk bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan penting tertentu: “Apakah saya seorang Kristen kata-kata, atau perbuatan?” “Apakah saya membangun kehidupan saya di atas batu karang Allah, atau di atas pasir keduniawian, kesombongan?” “Apakah saya rendah hati, selalu berusaha berjalan dengan rendah hati, tanpa kesombongan, agar dapat melayani Tuhan?”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Vatican News)

Umat diingatkan bahwa para imam tidak sempurna namun mereka dipilih oleh Tuhan

Fri, 07/12/2018 - 11:50
Pastor Enrico D Gonzales OP. Foto dari blog http://mypreachersnotebook.blogspot.com

Dalam kuliah “Theology for the Modern Age” (Teologi untuk Zaman Modern, TMA) tahun ini, pengkhotbah Dominikan, Pastor Enrico D Gonzales OP, mengingatkan umat beriman dari organisasi-organisasi awam paroki dan komunitas-komunitas religius bahwa para imam jauh dari sempurna namun mereka istimewa karena dipilih oleh Allah.

“Dalam proses ini, Tuhanlah yang memilih para imamnya. Dia tidak memilih imam-imam yang sempurna. Dia juga berharap agar setiap imam yang dipilih menjadi suci dan menjadi inspirasi bagi umat,” kata imam itu dalam diskusi tentang Tahun Imam dan Kaum Hidup Bakti. Berita tentang kuliah 17 November itu diterbitkan oleh media online Konferensi Waligereja Filipina, cbcpnews.net, 6 Desember 2018.

Pastor Gonzales merefleksikan tema konferensi tahun ini, “Ang Pari: Pin Pinili mula sa mga tao, upang maglingkod sa Diyos para sa mga Tao” (Imam dipilih dari antara umat untuk melayani Tuhan sebagai wakil mereka (Ibrani 5: 1).

Imam itu juga menekankan, antara lain, bahwa para imam memiliki “tanggung jawab besar” karena pertama dan terutama, Allah memilih mereka di antara umat.

Dengan memfokuskan beberapa poin penting dalam pembaruan seutuhnya kehidupan para imam, Pastor Gonzales mengingatkan umat beriman tentang sejumlah hal yang diperlukan untuk membantu para imam menjalani pelayanan mereka. “Doa benar-benar kita perlukan untuk lebih hidup dalam melayani Gereja; penebusan agar ada rekonsiliasi untuk kesalahan-kesalahan para imam dan umat; dan amal kasih yang memperkuat komunitas para pemimpin yang melayani.”

TMA dimulai dengan Tertio Millenio Adveniente, serangkaian pembicaraan bulanan yang diadakan di seminari, berdasarkan dokumen Paus Yohanes Paulus II dalam mempersiapkan Tahun Yubileum Agung 2000. Mantan Dekan ICMAS-GST dan rektor seminari saat ini, Pastor Emmanuel I Cruz, mengembangkan program itu menjadi TMA.

TMA kini melibatkan umat beriman yang melayani pembinaan paroki dan pelayanan katekese dalam menangani topik-topik teologis yang berbeda sementara “membaca tanda-tanda zaman bagi Gereja di Milenium Ketiga.”(PEN@ Katolik berdasarkan laporan Sem. Kendrick Ivan B. Pangaiban dari cbcpnews.net)

Foto dari http://mypreachersnotebook.blogspot.com/

Paus Fransiskus akan mengunjungi Uni Emirat Arab di bulan Februari

Thu, 06/12/2018 - 23:06

Paus Fransiskus akan mengunjungi Abu Dhabi di Uni Emirat Arab dari tanggal 3 hingga 5 Februari 2019 untuk menghadiri pertemuan antaragama tentang “Persaudaraan Manusia.” Greg Burke, Direktur Kantor Pers Takhta Suci, mengatakan tanggal 6 Desember 2018 bahwa kunjungan itu menyoroti komitmen Paus Fransiskus untuk membangun budaya perjumpaan. Tema kunjungan itu, jelas Burke, adalah “Jadikan Aku Saluran Perdamaianmu.” Dikatakan bahwa kunjungan ke Uni Emirat Arab adalah “niat Paus.” Topik besar kunjungan ini, lanjutnya, adalah “Bagaimana caranya semua orang yang berkehendak baik dapat mengupayakan perdamaian.” Burke menambahkan, seperti perjalanan apostolik Paus ke Mesir tahun 2017, kunjungan ini “menunjukkan betapa Bapa Suci sungguh mementingkan dialog antaragama.” Kunjungan Paus Fransiskus ke dunia Arab, Burke menyimpulkan, “adalah contoh sempurna budaya perjumpaan.” Siaran pers yang diterbitkan oleh Kantor Pers Vatikan lebih rinci menyebutkan bahwa kunjungan Paus itu adalah tanggapan atas undangan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, dan atas undangan Gereja Katolik di Uni Emirat Arab. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Vatican News)

Paus: Selama Masa Adven, mintalah kepada Yesus untuk mengajarkan kita berdoa

Thu, 06/12/2018 - 03:28
Paus Fransiskus tiba di Aula Paulus VI untuk Audiensi Umum Rabu (Vatican Media)

Setelah mengakhiri renungan-renungannya tentang Sepuluh Perintah Allah pada Audiensi Umum minggu lalu, pada hari Rabu, 5 Desember 2018, Paus Fransiskus memulai seri katekese baru, yang berfokus pada “Bapa Kami.”

“Injil-Injil memberikan kepada kita gambaran sangat jelas tentang Yesus sebagai seorang pendoa,” kata Paus ketika memulai pengajaran katekese itu. Terlepas dari pentingnya misi-Nya, dan permintaan-permintaan umat kepada-Nya, Yesus sering merasa perlu “menyendiri dan berdoa.” Ini terbukti dari awal misi-Nya, setelah keberhasilan awal pelayanannya di Galilea.

“Di beberapa tempat dalam Kitab Suci,” lanjut Paus Fransiskus, “tampaknya yang terpenting adalah doa Yesus, keintiman-Nya dengan Bapa.” Ini jelas terlihat dalam penderitaan di taman, sebelum Penyaliban.

Meskipun Yesus berdoa seperti orang lain, kata Bapa Suci, doa-Nya kepada Bapa-Nya memiliki misteri mendalam. Itulah sebabnya para murid-Nya meminta kepada-Nya, “Tuhan, ajarilah kami berdoa.” Yesus tidak ingin hanya diri-Nya sendiri yang intim bersama Bapa-Nya, tetapi Dia “justru datang untuk memasukkan kami ke dalam hubungan dengan Bapa.”

Kita juga harus menjadikan doa para murid sebagai doa kita sendiri: “Tuhan, ajarilah kami berdoa.” “Walaupun kita sudah berdoa bertahun-tahun,” kata Paus Fransiskus, “tetap masih ada yang harus dipelajari.” Seraya mengingat perumpamaan tentang pemungut cukai dan orang Farisi, Bapa Suci mengatakan langkah pertama dalam doa adalah merendahkan diri sendiri di hadapan Allah.

Paus Fransiskus mengakhiri renungan pertamanya tentang doa Yesus dengan nasihat untuk sering mengulangi doa para murid itu selama masa Adven: “Tuhan, ajarilah kami berdoa.” Kalau kita melakukan hal ini, kata Paus, Tuhan pasti tidak akan membiarkan doa kita tidak terjawab.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Christopher Wells dari Vatican News)

 

Paus menyatakan belangsungkawa atas kematian mantan Presiden AS George Bush

Thu, 06/12/2018 - 02:29
Jenazah George HW Bush meninggalkan Gedung Capitol AS usai upacara pemakaman kenegaraan di Washington DC. AFP

Paus Fransiskus menyatakan belasungkawa atas kematian mantan presiden AS George Herbert Walker  Bush yang meninggal 30 November pada usia 94 tahun. Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengirim telegram atas nama Paus Fransiskus kepada para uskup AS. Telegram itu, seperti dilaporkan oleh Joachim Teigen dari Vatican News, berisi ungkapan kesedihan Paus serta janji-janjinya untuk berdoa bagi mantan presiden itu serta keluarganya.

“Sedih mendengar kematian mantan Presiden George HW Bush, Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa yang tulus dan kepastian doa-doanya bagi seluruh keluarga Bush. Seraya menyerahkan jiwa Presiden Bush kepada cinta penuh belas kasih dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Mulia memohon kepada Tuhan agar semua orang yang berduka atas kematiannya menerima berkat kekuatan dan kedamaian,” tulis telegram pada saat pemakaman kenegaraan di Washington DC, 5 Desember 2018.

Ketua Konferensi Amerika Serikat Kardinal Daniel N DiNardo juga mengungkapkan kesedihan atas meninggalnya mantan Presiden Bush. Dalam pesan yang dikirim atas nama para Uskup AS, kardinal itu menyatakan rasa terima kasihnya untuk “orang hebat ini” yang memiliki “komitmen teguh untuk membangun jembatan-jembatan perdamaian dan menjamin kebebasan bangsa kita, dan mengilhami banyak orang sebagai seorang suami, ayah dan kepala keluarga yang berbakti.”

Tanggal 5 Desember dinyatakan sebagai hari berkabung di AS. Hari itu, diadakan ibadah pemakaman di Katedral Nasional di Washington DC. Dari sana, jenazah mantan presiden itu dibawa ke negara asalnya Texas untuk disemayamkan di tempat umum, sebelum dimakamkan bersama istrinya Barbara di Perpustakaan Kepresidenan George HW.

Bush menjabat sebagai Presiden AS dari 1989 hingga 1993. Sebelumnya, dia menjabat sebagai senator, duta besar untuk PBB, Direktur CIA, dan Wakil Presiden di bawah Presiden Ronald Reagan.

Karena menderita penyakit Parkinson, ia dipaksa menggunakan kursi roda pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Dia meninggal di rumahnya di Houston, Texas.

Masa kepresidenannya bertepatan dengan masa kepausan Santo Paus Yohanes Paulus II. Keduanya bertemu beberapa kali, di antaranya dua kunjungan Presiden Bush ke Vatikan. Menurut Presiden George Bush Jr., salah satu kutipan favorit ayahnya adalah mengutip apa yang dikatakan Santo Fransiskus dari Asisi, “Beritakan Injil setiap waktu, dan bilamana perlu, gunakan kata-kata.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Santo Paus Paulus VI dan Santo Padre Pio dikenang dengan koin-koin baru dan sampul filateli

Tue, 04/12/2018 - 23:54

Santo Paulus VI dan Santo Padre Pio dihormati dengan koin 5 Euro dan Sampul Filateli Vatikan. Kanonisasi Santo Paus Paulus VI dan peringatan ke-50 kematian Padre Pio adalah antara lain tema-tema penerbitan filatelis dan numismatik Vatikan yang baru, 4 Desember 2018.

Sebuah koin perak khusus dengan gambar berlapis emas dengan sebuah wajah berharga lima euro dikeluarkan oleh Kantor Filateli dan Numismatik untuk kanonisasi Paus Montini empat puluh tahun setelah kematiannya. 1.500 koin diedarkan pada sirkulasi pertama.

Sebagai bagian dari siklus empat tahun yang didedikasikan untuk Kardinal Virtues, sebuah koin emas 200 euro yang didedikasikan untuk Virtue of Temperance dicetak. Gambar pada koin, yang dipahat oleh Antonella Napolione, menggambarkan seorang wanita yang sedang mencampur anggur dengan air, sementara pada tiang ada sebuah pedang terbalut yang melambangkan kemampuan untuk bertarung sambil tetap menguasai diri.

Peringatan ke-50 meninggalnya Santo Pio dari Pietralcina dirayakan dengan sebuah sampul filatelis-numismatik, yang berisi koin peringatan seharga 2 euro dan sebuah perangko.

Volume Numismatik juga diterbitkan. Ini termasuk dua koin 2-euro yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-1950 kemartiran Santo Petrus dan Paulus dan 100 tahun penampakan Fatima.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus dalam Misa: Adven, saat menciptakan perdamaian dalam jiwa, keluarga, lingkungan

Tue, 04/12/2018 - 23:17
Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta tanggal 4 Desember 2018. (Vatican Media)

Pada Misa pagi di Casa Santa Marta, 4 Desember, Paus Fransiskus bicara tentang cara umat Kristiani mempersiapkan Natal dengan membangun perdamaian dalam jiwa seseorang, dalam keluarga dan dalam dunia melalui kerendahan hati. Menciptakan perdamaian, kata Paus dalam homili, antara lain tidak berbicara jahat dan menyakiti orang lain, sedikit meniru Allah, yang merendahkan diri-Nya.

Menunjuk pada adegan pastoral yang diangkat oleh Yesaya dalam bacaan pertama, di mana serigala dan domba, serta macan tutul dan anak kecil hidup berdampingan tanpa membahayakan, Paus mengatakan nabi berbicara tentang perdamaian Yesus yang mengubah kehidupan dan sejarah, yang menyebabkan Dia disebut “Pangeran Perdamaian.”

Maka, Adven adalah saat mempersiapkan diri untuk Pangeran Perdamaian dengan berdamai dengan diri kita sendiri, jiwa kita, yang sering dalam kecemasan, penderitaan dan tanpa harapan. Untuk ini, seseorang harus memulai dengan diri sendiri.

Paus berkata, hari ini Tuhan bertanya kepada kita apakah jiwa kita damai? Jika tidak, maka kita harus meminta kepada Pangeran Perdamaian untuk menenangkan jiwa-jiwa kita, agar kita dapat bertemu Dia. Paus mengatakan, kita begitu terbiasa melihat jiwa-jiwa orang lain bukan jiwa kita sendiri.

Setelah berdamai dengan jiwa kita, inilah saatnya berdamai dalam rumah, dalam keluarga, kata Paus yang melihat banyak kesedihan dalam keluarga, “perang-perang kecil” dan kadang-kadang perpecahan.

Paus mendesak umat Kristiani untuk memeriksa diri sendiri apakah mereka dalam keadaan damai atau berperang dalam keluarga-keluarga mereka atau dengan orang lain, apakah ada jembatan-jembatan atau tembok-tembok yang memisahkan.

Paus lalu berbicara tentang menciptakan perdamaian di dunia yang banyak peperangan, perpecahan, kebencian, dan eksploitasi. Umat Kristiani hendaknya bertanya kepada diri sendiri apa yang mereka lakukan terkait dengan menciptakan perdamaian di dunia dengan mengupayakan perdamaian di lingkungan, di sekolah dan di tempat kerja.

Paus mendesak umat Kristiani untuk bertanya kepada diri sendiri apakah mereka mencari-cari alasan untuk berperang, membenci, berbicara jelek tentang orang lain dan mengutuk atau apakah mereka lemah lembut dan berupaya membangun jembatan-jembatan.

Anak-anak juga dapat bertanya kepada diri sendiri apakah di sekolah mereka mem-bully teman yang tidak mereka sukai karena dia lemah, atau apakah mereka berdamai dan memaafkan segalanya.

Perdamaian, kata Paus, tidak pernah diam tetapi selalu bergerak maju. Perdamaian dimulai dengan jiwa, dan setelah melakukan perjalanan perdamaiannya, kembali ke jiwa. Menciptakan perdamaian sedikit meneladani Allah. Ketika Dia ingin berdamai dengan kita dan mengampuni kita, Dia mengutus Anak-Nya untuk membuat perdamaian, untuk menjadi Pangeran Perdamaian.

 

Paus berkata, untuk menjadi pencipta perdamaian, seorang tidak harus bijaksana, terpelajar dan studi perdamaian. Perdamaian itu sikap yang Yesus bicarakan dalam Injil. Yesus memuliakan Allah karena Dia menyembunyikan hal-hal ini dari yang bijak dan pandai dan menyatakannya kepada orang-orang kecil.

 

Paus mendesak umat Kristiani untuk membuat diri mereka kecil, rendah hati dan menjadi pelayan orang lain. “Tuhan akan memberi kepada kalian kemampuan untuk memahami bagaimana membuat perdamaian dan akan memberi kepada kalian kekuatan untuk membuatnya,” Paus meyakinkan.

 

Setiap ada kemungkinan “perang kecil” di rumah, di hati, di sekolah atau di tempat kerja, kata Paus, kita harus berhenti sebentar dan mencoba berdamai. “Jangan pernah, jangan pernah melukai orang lain. Jangan pernah,” kata Paus, seraya menasihati umat Kristiani untuk mulai tidak bicara jelek tentang orang lain atau menembakkan meriam pertama. Dengan cara ini, kata Paus, kita menjadi pria dan wanita perdamaian, meneruskan perdamaian. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Misionaris di Ekuador rayakan pesta perak imamat di Papua untuk promosi panggilan

Tue, 04/12/2018 - 22:09
Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC, misionaris di Negara Ekuador, Amerika Latin, memberi homili dalam Misa Pesta Perak Imamatnya di Merauke. PEN@ Katolik/ym

Dengan iringan tarian adat Papua, seorang misionaris dijemput di rumah keluarganya dan diarak menuju Gereja Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali. Di depan gereja, imam itu disambut dengan tarian adat Kei dan diarak masuk menuju altar bersama uskup dan beberapa imam lainnya.

Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC adalah misionaris di Negara Ekuador, Amerika Latin. Dia berada di kota kelahirannya, Merauke, untuk merayakan Pesta Perak Imamatnya. Sudah 11 tahun imam berdarah Kei yang akrab disapa Pastor Manu, lahir di Merauke, 27 Desember 1958, dan berasal dari Paroki Bambu Pemali, Keuskupan Agung Merauke (MAMe), itu bertugas di Ekuador.

Misa bertema “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yesaya 42,3a), dirayakan 2 Desember 2018 dan dihadiri ratusan umat serta dipimpin Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. Pastor Manu serta beberapa imam MSC dan diosesan menjadi konselebran.

Menurut Pastor Manu, perayaan di Merauke atas permintaan keluarga besarnya dan keinginannya untuk mempromosikan panggilan kepada kaum muda KAMe. “Sebenarnya sudah lama direncanakan. Meskipun saya juga diminta oleh Uskup Riobamba di Ekuador untuk merayakannya di sana, atas izin tarekat saya berada di sini karena keluarga saya meminta saya merayakan di Indonesia, sekaligus saya ingin adakan promosi panggilan di Merauke,” kata imam itu kepada PEN@ Katolik.

Pastor Manu berharap umat Katolik di KAMe selalu memberikan dukungan dan doa untuk dirinya dalam menjalankan tugas perutusan sebagai misionaris di luar negeri. “Harapan saya juga agar orang muda Papua bisa melanjutkan tongkat estafet yang sudah ditanamkan. Kami berharap ada juga anak Papua menjadi misionaris,” kata Pastor Manu.

Ketika ditanya tantangan dan kesulitan misionaris di sana, Pastor Manu menegaskan persoalan pertama adalah bahasa, meskipun dia sudah belajar bahasa Spanyol di seminari kecil dan seminari tinggi, serta kursus dua minggu di Jakarta setelah diminta menjadi misionaris oleh Provincial MSC. Di Spanyol, lanjutnya, dia bersama seorang imam lainnya masih belajar bahasa itu selama 1 bulan lebih dan melakukan adaptasi selama 1 tahun.

“Setelah satu tahun mulai adaptasi dengan budaya dan bahasa, dan sekarang syukurlah kami sudah bisa kuasai secara lisan maupun tulis,” kata imam itu seraya menambahkan budaya setempat juga menjadi tantangan utama, mengingat budaya di sana sangat terbuka dan bebas. “Itu tantangan kami untuk mendalami kehidupan rohani,” lanjutnya.

Pastor Manu mengaku di Ekuador “semuanya harus dikerjakan sendiri, sopir sendiri, masak sendiri, mencuci sendiri serta membersihkan dan merawat rumah sendiri. Itu tantangan-tantangan yang ada,” kata Pastor Manu. Meskipun demikian, lanjutnya, penduduk Ekoador umumnya sangat ramah dan selalu memberikan perhatian khusus kepada para imam.

Pastor Manu adalah anak keenam dan sembilan bersaudara. Kedua orangtuanya, Kanisius Ohoiwutun dan Paskalina Maturbongs sudah meninggal. Setelah SD Santo Agustinus Bambu Pemali dan SD Nasional Katolik (Naskat) di Desa Kolser, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, dia masuk Seminari Kecil Santo Yudas Tadeus Langgur, Maluku Tenggara dan tamat tahun 1979.

Tahun 1980, Pastor Manu masuk Tarekat MSC. Setelah dua tahun filsafat di Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng, Sulawesi Utara, dia menjalani novisiat di Karang Anyar Kebumen, Jawa Tengah. Tahun 1983 kembali ke Pineleng, dan ke Merauke tahun 1985 untuk tahun pastoral di Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke. Setahun kemudian dia melanjutkan pendidikan teologi di Pineleng. Tahun 1990 ia ditugaskan ke Merauke untuk memperdalam kehidupan membiara dan panggilan imamat, dan ke salah satu paroki di daerah Mappi hingga 1991. Dia dipindahkan ke Pulau Kimaam hingga 1993.

Tanggal 28 November 1993, Pastor Manu ditahbiskan imam oleh Uskup Agung Merauke Mgr Jacobus Duivenvoorde MSC di Paroki Bambu Pemali. Setelah tahbisan, ia kembali ke Kimaam, tepatnya Paroki Batu Merah, sebagai Pastor Paroki hingga 2000. Setelah itu, ia jadi Kepala Paroki Santo Yoseph Kumbe. Tahun 2005 ia dipindahkan ke Jakarta kemudian ke Ambon. Tahun 2007, tepatnya 15 April, Tarekat MSC mengutusnya sebagai misionaris di Ekuador.

Di sana dia ditugaskan di Paroki Santo Dominikus de Guzman yang berada di Keuskupan Agung Guayaquil. Setelah kurang lebih 11 tahun, September 2018, Pastor Manu dipindahkan ke Paroki Santo Yoseph di Keuskupan Agung Quito. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

PEN@ Katolik/ym Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC bersama keluarga tiba di halaman gereja. PEN@ Katolik/ym Tarian Kei menjemput Pastor Emmanuel Ohoiwutun MSC di depan gereja. PEN@ Katolik/ym

Paus menyalakan lilin untuk perdamaian di Suriah

Mon, 03/12/2018 - 23:54
Paus Fransiskus saat Doa Malaikat Tuhan, dengan sebuah “Lilin untuk Perdamaian di Suriah” (Vatican Media)

“Adven adalah waktu untuk harapan,” kata Paus Fransiskus dalam Doa Malaikat Tuhan hari Minggu, 2 Desember 2018. ‘Saat ini, saya ingin berharap untuk perdamaian anak-anak Suriah.” Bapa Suci memberi dukungan suara bagi prakarsa yayasan amal internasional, Aid to the Church in Need (ACN), dengan menyalakan lilin yang secara resmi memulai Kampanye “Lilin-Lilin untuk Perdamaian di Suriah.”

“Semoga api harapan ini menghalau kegelapan perang,”  seru Paus. “Marilah berdoa dan membantu umat Kristiani untuk tetap tinggal di Suriah dan Timur Tengah sebagai saksi belas kasih, pengampunan, dan rekonsiliasi,” lanjut Paus seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News.

Paus memperluas seruannya dengan mengatakan, “Semoga nyala api pengharapan juga mencapai semua orang yang hari-hari ini sedang menderita konflik dan ketegangan di berbagai belahan dunia lain, baik yang dekat dan yang jauh.” Paus berdoa agar “doa Gereja” bisa “membantu mereka merasakan kedekatan Allah yang setia” dan bisa “menyentuh setiap hati nurani untuk berkomitmen tulus demi perdamaian.”

Bapa Suci juga berdoa semoga Tuhan “mengampuni mereka yang berperang, mereka yang membuat senjata untuk saling menghancurkan” dan semoga Tuhan “mengubah hati mereka.” Mengakhiri doanya, Paus memimpin umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk berdoa Salam Maria “demi perdamaian di Suriah yang tercinta.”

Dalam sebuah pernyataan pers, ACN meminta orang-orang yang berkehendak baik di seluruh dunia untuk menanggapi seruan perdamaian dari anak-anak Suriah ini, antara lain dengan menyalakan lilin … “guna menyebarkan pesan perdamaian dari anak-anak Suriah dan menyebarkan pesan harapan selama masa Adven.”

Menurut ACN, lilin yang dinyalakan oleh Paus dihiasi oleh pengrajin dari Kota Tua Damaskus, dan “berhiaskan foto dari sekitar 40 anak, sebagian besar dari Aleppo, disertai logo kampanye itu.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang karya ACN di Suriah, dan Kampanye “Lilin untuk Perdamaian di Suriah,” silakan kunjungi: syria.acninternational.org. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Zenit

Direktris Bank Sampah Flores: Berbicara sampah tanpa action sama dengan tidak buat apa-apa

Mon, 03/12/2018 - 17:33
Pengurus OSIS dan pengurus kelas Smater Maumere belajar membuat pupuk cair organik. Foto PEN@ Katolik/yf

Berbicara sampah tanpa action sama dengan tidak buat apa-apa, kata Direktris Bank Sampah Flores (BSF), Susilowati, di hadapan para pengurus OSIS dan Pengurus Kelas SMAK Frateran Maumere (Smater), NTT, 1 Desember 2018.

Bu Susi,demikian panggilan akrabnya, datang ke Smater bersama tiga orang turis peduli sampah yakni Jon Price dari Inggris berserta Gaelle Couedel dan Appaim Thomas dari Perancis yang mengenakan kaus kuning bertuliskan “I’m a trash hero” (saya pahlawan sampah).

Kehadiran mereka di sekolah itu untuk menjelaskan cara membuat pupuk cair organik dan pengolahan sampah plastik.

“Pengurus OSIS dan pengurus kelas harus menjadi pahlawan sampah. Apalagi Smater menjadi contoh Sekolah Adiwiyata Nasional di daratan Flores, sehingga betul-betul sekolah adiwiyata yang disandang bermakna,” kata Bu Susi. Setiap hari, lanjutnya, “kita menyaksikan di sekitar kita banyak bahan dan sisa sayur-sayuran dan buah-buahan terbuang.”

Membuat pupuk cair organik sangat mudah karena bahan, alat dan cara membuatnya sangat mudah, jelas Bu Susi, seraya menjelaskan bahwa alat-alatnya berupa tabung, komposter, sendok makan dan botol kosong. “Bahannya adalah sampah organik, gula pasir, terasi udang dan air, baik air sumur, air sungai atau air hujan, bukan air keran karena mengandung zat kaporatif.”

Langkah pertama jelas Susi, adalah membuat cairan bioaktifator. “Untuk membuatnya kita mencampurkan dua sendok makan gula pasir dan terasi ke dalam botol kosong, kemudian menambahkan air ke dalamnya dan kocok agar semuanya tercampur.”

Kemudian, sampah organik dimasukkan dalam tabung komposter lalu disemprotkan dengan cairan bioaktifator hingga basah. “Tutup dan selama satu minggu baru bisa memanen. Setelah pupuk cair diperoleh, kita bisa langsung menyemprotkan ke tanaman,” kata Susi.

Jon Price mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa masalah sampah adalah masalah dunia. “Kita harus merubah cara berpikir dan cara bertindak. Jangan hanya berpikir diri sendiri saat ini tetapi pikirkan anak cucu. Kita harus menjadi contoh bagi orang lain,” kata Jon.

Gaelle Couedel dan Appaim Thomas sependapat bahwa pencegahan sampah harus dimulai dari sekolah dasar. “Proses pembiasaan hidup sehat tanpa sampah harus dimulai sejak sekolah dasar dan berkelanjutan hingga perguruan tinggi,” kata Gaelle yang diamini Thomas.

“Materi yang dibawakan sangat baik dan sesuai tuntutan Smater sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional,” kata Ketua OSIS Smater Petrasia Depe Gani seraya memuji peserta yang langsung membentuk pokja-pokja sampah. “Itu yang paling menarik!” katanya (PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Artikel Terkait:

Rromo Tomo perintis sistem pertanian lestari yang lebih bermartabat

Mgr Bruno Syukur pelestarian lingkungan hidup bentuk nyata ungkapan iman

Manusia harus tetap belajar terus-menerus sepanjang hidup

“Kekuatan panggilan,” wawancara dengan Paus Fransiskus yang panjangnya seperti buku

Sat, 01/12/2018 - 22:12
Paus Fransiskus. AFP

Buku baru Paus Fransiskus berjudul “Kekuatan panggilan. Hidup bakti jaman ini” akan keluar tanggal 3 Desember 2018. Buku sepanjang 120 halaman, yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa, menceritakan percakapan selama empat jam yang diadakan di Santa Marta bulan Agustus antara Bapa Suci dan Misionaris Spanyol Fernando Prado.

Di antara banyak tema yang disinggung dalam dialog, yang menggunakan contoh-contoh dari kehidupan dan pengalamannya sendiri, Paus Fransiskus terutama mengangkat tema panggilan dan misi kaum hidup bakti, dengan mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi Gereja di zaman sekarang.

Paus menolak untuk dikirim pertanyaan-pertanyaan sebelum wawancara itu, agar dia boleh melakukan dialog terbuka dan jujur, bahkan berkaitan dengan beberapa topik yang lebih sulit.

Mengenai motivasi dan kepositifan, Paus Fransiskus membantu kita menghargai hal-hal kecil, belajar dari orang lain dan bekerja bersama sambil mengikuti dan menerima pesan Gereja.

Dialog dibagi menjadi tiga bab yakni Amatilah masa lalu dengan rasa syukur, Jalanilah masa kini dengan penuh gairah, dan Terimalah masa depan dengan harapan.

Kenyataannya, yang pertama dalam bab-bab ini, Paus mendorong kita untuk melihat kembali ke masa lalu dengan rasa syukur, tetapi tidak seperti memandang sebuah objek di museum, tetapi dengan mata seseorang yang mencari akar inspirasi.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Francesca Merlo dari Vatican News)

Karunia Pentahbisan

Sat, 01/12/2018 - 18:48

Saya telah berada di formasi Ordo Dominikan di Filipina selama lebih dari 12 tahun, dan jika saya menambahkan empat tahun formasi seminari kecil saya di Indonesia, totalnya sampai 16 tahun! Ini sangat panjang karena lebih dari separuh hidup saya berada di formasi. Jika kita percaya bahwa semuanya memiliki tujuan, saya bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan dari formasi yang sangat panjang ini?” Mengapa saya harus tetap berada dalam kehidupan formasi dengan suka dan dukanya? Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu dalam belajar? Mengapa saya harus bertekun dalam doa?

Jawabannya ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Ini karena saya ingin menjadi imam secara khusus seorang imam Dominikan. Namun, tidak hanya sekedar imam Dominikan, tetapi seorang imam Dominikan yang kudus, setia dan juga dewasa. Jawabannya tampak sederhana, tetapi setiap kata dalam jawaban ini membawa pemahaman dan konsekuensi yang sangat besar. Memiliki tujuan yang begitu mulia ini mungkin menjelaskan mengapa formasi saya harus sangat panjang.

Namun, setelah melewati lebih dari 16 tahun dalam formasi, berjuang menghadapi banyak ujian yang sulit, menghadiri doa dan latihan rohani yang tak terhitung jumlahnya, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, saya sekarang berdiri di depan ambang pintu yang akan merubah hidup saya selamanya, yakni pentahbisan. Melihat ke belakang, saya sadar bahwa saya telah berkembang dan bertumbuh. Namun, benar juga bahwa saya mengalami banyak kegagalan dan bahkan melakukan kebodohan yang tak terkatakan. Puji Tuhan, bahwa meskipun kekurangan ini, saya masih hidup!

Dengan jujur mengevaluasi hidup saya, saya menyadari bahwa saya tidak layak untuk pentahbisan ini. Saya dapat membanggakan beberapa pencapaian saya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Saya bisa menunjukkan diri sebagai seorang frater yang menjalani kehidupan religius dengan baik. Saya bisa membanggakan berbagai kerasulan yang saya berikan. Saya bisa membanggakan penghargaan yang saya terima di setiap kelulusan. Namun, hal-hal ini hanyalah sekedar angin yang datang dan pergi!

Namun, mengapa pentahbisan ini tetap berada dalam jangkauan saya meskipun ketidaklayakan saya? Saya sadar bahwa panggilan ke menjadi seorang diakon atau pun imam adalah sebuah karunia. Dalam Filosofi yang diuraikan oleh Santo Thomas Aquinas, manusia bukanlah mahkluk yang mutlak. Keberadaan bukanlah hak manusia dan kapan saja manusia bisa kehilangan eksistensinya. Semua tergantung pada sang sumber dari segala kehidupan, Tuhan sendiri. Pada dasarnya hidup saya bukan hak atau keharusan, tapi karunia. Keberadaan saya adalah anugerah Tuhan dan begitu juga tahbisan saya. Ini bukan karunia berdasarkan sistem point, jika tidak, itu disebut upah. Ini bukan karunia yang saya bisa tuntut berdasarkan hak saya. Itu bukanlah karunia yang datang dari warisan saya atau yang dapat saya beli di Gereja. Ini adalah karunia yang sungguh cuma-cuma. Tuhan dalam misteri belas kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah memutuskan untuk memberikan saya karunia yang indah ini. Menerima karunia ini walaupun ketidaklayakan saya, saya hanya bisa bersyukur.

Karunia ini tidak hanya berbicara tentang saya, sang penerima. Akhirnya ini menunjuk pada sang pemberi. Karunia menunjukkan bagaimana sang pemberi menghargai sang penerima. Semakin berharga karunianya, semakin berharga sang penerima bagi sang pemberi. Sebuah hadiah yang sederhana melambangkan niat baik dari sang pemberi, tetapi karunia yang menuntut pengorbanan sang pemberi, tentu saja luar biasa. Karunia pentahbisan mengungkapkan siapa Allah saya. Dia adalah Tuhan yang melihat di luar kelemahan dan kekurangan saya, yang menganggap saya sebagai milik-Nya yang berharga, yang berani berbagi kehidupan dan misi-Nya dengan saya. Sungguh, saya senantiasa bersyukur memiliki Allah yang adalah kasih. (Renungan berdasarkan Bacaan Hari Minggu Pertama Adven, 2 Desember 2018: Lukas 21: 25-28, 34-36 ini ditulis untuk PEN@ Katolik oleh Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP)

 

Paus: Persatuan Kristen adalah harapan untuk orang menderita dan dunia terluka

Fri, 30/11/2018 - 23:52
Paus Fransiskus dan Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartholomeus. Foto AFP

Meskipun ada perbedaan antara umat Katolik dan umat Kristen Ortodoks, Paus Fransiskus mengatakan kedua komunitas itu dipanggil untuk menjadi tanda harapan dengan bekerja bersama demi perdamaian, martabat manusia dan pemeliharaan ciptaan.

“Kita bisa bekerja sama hari ini dalam mengupayakan perdamaian di antara bangsa-bangsa, penghapusan semua bentuk perbudakan, rasa hormat dan martabat setiap manusia dan perawatan ciptaan,” kata Paus dalam pesan kepada Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartholomeus pada pesta Santo Andreas, pelindung Patriarkat yang berbasis di Istanbul, Turki, 30 November 2018.

Pesan itu, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, dibacakan pagi hari itu pada Pesta Santo Andreas oleh Presiden Dewan Kepausan untuk Peningkatan Kesatuan Umat Kristen Kardinal Kurt Koch dalam Liturgi Ilahi di Patriarkat yang terletak di Istanbul, Turki.

Kardinal itu memimpin delegasi Vatikan pada perayaan itu untuk membalas kunjungan Patriarkat itu ke Roma pada perayaan Santo Petrus dan Paulus, para pelindung kota abadi, 29 Juni.

Pemecahan besar pertama antara para pengikut Kristus, Gereja Bizantium yang berbasis di Konstantinopel (Istanbul hari ini) dan Gereja Katolik yang berbasis di Roma, memuncak dalam perpecahan pahit tahun 1054 yang dikenal sebagai Skisma Besar.

Namun, sejak Patriark Athenagoras dan Paus Santo Paulus VI, setelah Konsili Vatikan II, Paus Fransiskus melihat Roh Kudus memungkinkan mereka melanjutkan “dialog persaudaraan”.

Mengingat perkembangan hubungan antara mereka selama lima puluh tahun terakhir, Paus mengatakan mereka mengalami persekutuan, meskipun tidak penuh dan lengkap. “Dengan bersatu kita memberikan tanggapan lebih efektif terhadap kebutuhan banyak pria dan wanita zaman kita, terutama mereka yang menderita kemiskinan, kelaparan, penyakit dan perang,” kata Paus.

Paus mengenang peranserta Patriark Bartholomeus bersama para pemimpin dan perwakilan Gereja lain pada hari doa dan refleksi untuk perdamaian di Timur Tengah, yang diselenggarakan 7 Juli di Bari, Italia selatan. “Sungguh senang ikut merasakan bersama Yang Mulia kekhawatiran akan situasi tragis saudara-saudari kita di wilayah ini,” kata Paus.

“Dalam dunia yang terluka akibat konflik, kesatuan umat Kristiani merupakan tanda harapan yang harus memancar lebih jelas,” kata Paus Fransiskus.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Mark Nimo: Umat Katolik perlu aktif menangggapi panggilan Allah untuk melayani

Fri, 30/11/2018 - 23:08
Mark Nimo berbicara dalam konferensi pers. PEN@ Katolik/km

Umat Katolik, tidak boleh pasif dalam beriman dan mewartakan Kristus melainkan harus berperan aktif dalam melayani di lingkungan, kata seorang pewarta awam dari Chicago, Amerika Serikat. Pria bernama Mark Nimo itu berpesan, “Kita perlu aktif menanggapi panggilan Allah untuk melayani.’’

Mark Nino berbicara dalam konferensi pers yang dihadiri puluhan media massa Katolik, 24 November 2018. Dia hadir di Jakarta hari itu sebagai salah satu pembicara dan pemberi kesaksian dalam kegiatan Unlimited  Worship Conference  (UCW) 2018 di sebuah mall di Jakarta Selatan. Kegiatan itu dihadiri 3.300 umat dari beberapa keuskupan di Indonesia bahkan Malaysia dan Singapura.

Nimo yang didampingi Koordinator UWC 2018 George Cello Ganda menceritakan, pengalaman hidupnya merupakan kasih Tuhan yang tak terhingga. “Dulu, sekitar 28 tahun silam saya hidup sebagai orang Katolik biasa-biasa saja. Saya terlibat dalam pengalaman seks bebas  bahkan dunia hitam, sehingga saya mengalami kepahitan luar biasa. Namun, saat diajak seorang ibu  untuk bersama mengikuti persekutuan doa, hidup dalam kedosaan itu saya tinggalkan.”

Setelah menamatkan kuliah  jurusan ekonomi ia sempat bekerja selama setahun dan mengikuti sekolah pemuridan selama enam bulan, lalu bertugas di Uganda sebagai pengajar agama Katolik. Kemudian dia kembali ke Amerika Serikat untuk melayani penderita HIV/AIDS.

“Pengalaman hidup dan Injil merupakan dua hal yang saya pakai untuk pelayanan,” kata Nimo yang menyelesaikan S3 dalam teologi, seraya menekankan pentingnya hidup doa dalam keluarga. Bapak tiga anak itu menceritakan “Setiap hari saya bersama anggota keluarga memiliki waktu atau jam doa bersama  anak dan istri,” katanya.

Dalam menjalani hidup keluarga, lanjutnya, dia juga menanamkan semangat saling membantu dalam keluarga dan kecintaan kepada anak-anaknya untuk ikut melayani, dan dua anaknya menjadi anggota tim pujian di paroki. “Istri saya pintar memasak. Saya selalu membantu istri, misalnya belanja keperluan pasar, membantu mencuci pakaian dan menyetrika. Hal ini saya lakukan karena saya begitu mencintai istri dan anak-anak saya,” lanjut Nimo.

Menjawab pertanyaan wartawan soal mengapa memilih hidup sebagai pewarta, Nimo mengatakan, “Setiap orang yang dibaptis memiliki kewajiban membantu karya kerasulan awam.” Di parokinya, di Chicago, Nimo diminta oleh pastor untuk membantu pengajaran di paroki-paroki lain.

Berbicara mengenai kerukunan, dia mengatakan bahwa negara yang baik dan aman bermula dari keluarga yang harmonis. “Tanpa ada keharmonisan keluarga, negara yang aman dan damai suit dicapai,” tegas Nimo seraya menganjurkan agar umat Katolik memberikan perhatian terhadap keluarga.

Dalam UCW 2018 hadir juga desainer kondang Anne Avantie, dan yang tampil dalam talk show pada acara itu adalah FX Hardiman, Joppy Taroreh, Jane Hanjaya, dan Benyamin Ratu. Misa yang menutup UWC itu dipimpin oleh Vikep KAJ Pastor Andang Binawan SJ dengan 8 konselebran termasuk Pastor Christ Purba SJ sebagai moderator Badan Pelayanan Pembaharuan Kharismatik Katolik (BP PKK).(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Paus dalam Misa: “Yang mengaku Kristen tapi hidup seperti penyembah berhala akan berakhir”

Thu, 29/11/2018 - 22:46
Paus Fransiskus memberikan homili pada Misa di Casa Santa Marta (Vatican Media)

Dalam Misa di Casa Santa Marta, 29 November 2018, Paus Fransiskus memalingkan pemikiran pada akhir dunia berdasarkan bacaan hari itu dari Kitab Wahyu, yang menggambarkan kehancuran Babel, simbol keduniawian, dan dari Injil Lukas 21:20-28 saat Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem, kota suci.

Pada hari penghakiman, Babel akan dihancurkan dengan seruan kemenangan yang hebat, kata Paus. Pelacur besar akan jatuh, kata Paus, dikutuk oleh Tuhan, dan pelacur itu akan menunjukkan kebenarannya: “Sarang bagi iblis, kandang bagi setiap roh yang tidak bersih.”

Paus mengatakan, korupsi akan terungkap di bawah kecantikannya yang luar biasa dan pesta-pestanya akan terungkap sebagai kebahagiaan palsu.

Suara para penyanyi, pemain kecapi, peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi dalammu. Tidak akan ada pesta yang lebih indah … Pengrajin seni tidak akan ditemukan lagi dalammu; karena engkau bukan kota kerja tetapi korupsi. Suara batu kilangan tidak akan terdengar lagi dalammu; tidak ada cahaya lampu yang akan terlihat dalammu lagi. Kota mungkin terang, tapi akan tanpa cahaya, tidak bercahaya. Penduduknya adalah masyarakat korup – suara pengantin wanita dan pengantin pria tidak akan pernah terdengar lagi dalammu. Ada banyak pasangan, banyak orang, tetapi tidak akan ada lagi cinta. Kehancuran ini dimulai dari dalam dan berakhir ketika Tuhan berkata: ‘Cukup’. Dan akan datang suatu hari ketika Tuhan berkata: ‘Cukup dengan penampilan dunia ini.’ Inilah krisis masyarakat yang angkuh, terlalu percaya diri, diktator, dan berakhir dengan cara ini.”

Paus kemudian beralih pada nasib Yerusalem. Kota itu akan melihat kehancurannya, kata Paus, dalam jenis korupsi lain, “korupsi yang datang dari ketidaksetiaan kepada cinta; kota itu tidak dapat mengenali cinta Allah di dalam Putra-Nya.” Kota suci akan “diinjak-injak oleh orang-orang kafir” dan dihukum oleh Tuhan, kata Paus, karena kota itu membuka pintu hatinya untuk orang-orang kafir.

Penyembahan berhala dapat terjadi dalam kasus kehidupan Kristen kita. Apakah kita hidup sebagai orang Kristen? Sepertinya kita melakukan itu. Tapi sesungguhnya hidup kita dalam penyembahan berhala, kalau hal-hal ini terjadi: kalau kita digoda oleh kehidupan-kehidupan Babel dan Yerusalem. Keduanya mencari sintesis yang tidak bisa dilakukan. Dan keduanya dikutuk. Apakah Anda seorang Kristen? Apakah Anda Kristen? Hiduplah seperti seorang Kristen. Air dan minyak tidak tercampur. Mereka selalu berbeda. Masyarakat kontradiktif yang mengaku beragama Kristen tetapi hidup seperti penyembah berhala akan berakhir.”

Kembali pada dua bacaan itu, Paus mengatakan, setelah kedua kota itu dikutuk, suara Tuhan akan terdengar: Keselamatan setelah kehancuran. “Dan Malaikat berkata: ‘Datanglah: Berbahagialah orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.’ Pesta besar; pesta yang benar,” katanya.

“Menghadapi tragedi kehidupan, kita dipanggil untuk melihat ke cakrawala, karena kita telah ditebus dan Tuhan akan datang menyelamatkan kita. Ini mengajarkan kita untuk menjalani cobaan dunia, bukan berkompromi dengan keduniawian atau penyembahan berhala yang membawa kehancuran kita, tetapi dengan harapan, dengan pemisahan diri kita dari rayuan duniawi dan penyembahan berhala ini dengan melihat ke cakrawala dan berharap dalam Kristus Tuhan. Harapan adalah kekuatan kami untuk bergerak maju. Tetapi kita harus memintanya dari Roh Kudus.”

Akhirnya, Paus mengajak kita berpikir tentang orang Babilonia zaman kita dan banyak kerajaan kuat abad terakhir yang telah jatuh. “Kota-kota besar saat ini akan juga berakhir,” kata Paus, “dan begitu juga hidup kita, jika kita terus pada jalan menuju penyembahan berhala.”

Paus mengatakan, yang tertinggal hanyalah mereka yang berharap akan Tuhan. “Bukalah hati kita dengan harapan dan jauhkan diri kita dari penyembahan berhala.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Kebebasan anak-anak Allah

Thu, 29/11/2018 - 20:34
Seorang anak lelaki naik ke atas panggung Aula Paulus VI saat Audiensi Umum 28 November 2018. Foto AFP

https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2018-11/pope-francis-audience-little-boy.html#play

Dengan mengklik link di atas Anda akan menyaksikan sebuah peristiwa dalam Audiensi Umum mingguan di hari Rabu, 28 November 2018, saat seorang anak laki-laki asal Argentina naik ke panggung Aula Paulus VI sehingga mengejutkan Paus dan para peserta audiensi. Paus Fransiskus menggunakan kesempatan itu untuk merenungkan kebebasan anak-anak Allah: “Anak ini tidak dapat berbicara, tetapi dia tahu cara berkomunikasi. Dia bebas. Ketika Yesus mengatakan kita harus menjadi seperti anak-anak, Dia mengatakan kepada kita bahwa kita harus memiliki kebebasan yang dimiliki anak-anak dengan ayah mereka. Anak ini telah mengajari kita semua. Dan kita memohon rahmat agar dia dapat berbicara.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Mgr Agus luncurkan Basis Integrasi Data Umat Keuskupan di hari ulang tahunnya

Thu, 29/11/2018 - 13:21
Mgr Agustinus Agus memencet sebuah tombol pada sebuah laptop dan BIDUK KAP dimulai. Foto Komsos KAP

“Dengan mengucapkan Demi Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Program Pendataan Umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak secara resmi dimulai,” kata Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus sambil menekan sebuah tombol pada laptop.

Dan, di atas panggung itu, di antara musik dan hujan kertas warna-warni terpantul tulisan pada sebuah layar lebar … biduk.kap.or.id. Sebuah spanduk juga ditayangkan di depan panggung itu. Spanduk itu menjelaskan bahwa Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) Keuskupan Agung Pontianak itu “untuk meningkatkan pelayanan umat.” Oleh karena itu, lanjut spanduk itu, “Pastikan Anda Terdata.”

Peristiwa peluncuran BIDUK KAP berlangsung dalam perayaan HUT ke-69 Mgr Agus yang dirayakan di SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop, Singkawang, Kalimantan Barat, 22 November 2018. Selain para pastor paroki se-KAP, peristiwa itu dihadiri juga oleh Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Siprianus Hormat Pr, Vikjen KAP Pastor William Chang OFMCap, Wakapolda Kalbar Brigjend Pol Sri Handayani. Juga hadir Direktur IT BINUS Ivan Sangkereng dan Ibu Lisa dari Yayasan Binus.

Dalam sambutan sebelum peluncuran itu Mgr Agus mengatakan dua hal. Pertama bahwa dia sengaja merayakan ulang tahunnya di Persekolahan Nyarumkop karena hatinya ingin membuat Nyarumkop bangkit dan harum kembali.

“Mari kita bangun dalam kebersamaan persekolahan Nyarumkop ini. Saya yakin dalam semangat penuh kebersamaan dan dengan mengedepankan profesionalitas, apa yang menjadi cita-cita kita akan bisa terlaksana dengan baik,” kata Mgr Agus yang menyayangkan aula persekolahan itu belum selesai. “Masih perlu juga perbaikan sana-sini agar siswa-siswi nyaman tinggal di tempat ini,” lanjut uskup.

Kedua, kata uskup, “sejak Februari tahun ini para imam KAP sudah menyetujui adanya pendataan umat Katolik, dan dalam hal ini kita bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara (Binus) dan BIDUK Keuskupan Agung Jakarta.” Namun Mgr Agus berterima kasih kepada para pastor paroki KAP, karena program itu “tidak akan berhasil kalau tidak didukung oleh para pastor paroki.”

Ketua Tim Data KAP Pastor Astanto Adi CM mengatakan, paroki-paroki sudah dapat mulai memasukkan data sensus yang diadakan ke web link yang ada itu, “maka mereka akan menerima user name dan password yang baru.”

Sesudah para ketua dekanat naik ke panggung untuk menerima user name dan password yang akan dipakai untuk masuk dalam weblink itu, Mgr Agus menyematkan Pin Sensus kepada para ketua dekenat. Peluncuran juga ditandai dengan penandatanganan spanduk, yang ditampilkan saat peluncuran itu, oleh para pastor paroki.

Dalam Misa Syukur HUT itu Mgr Agus merenungkan kisah dari Injil Lukas 17:11-19 tentang sepuluh penderita kusta yang disembuhkan Yesus tetapi hanya satu yang datang berterima kasih, seorang Samaria. Mgr Agus meminta siswa-siswi yang hadir dalam Misa itu untuk berterima kasih, karena banyak anak seusia mereka tidak bisa bersekolah atau berasrama seperti mereka.

Uskup mengajak mereka juga untuk belajar berterima kasih, karena seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain. “Saya merayakan hari ulang tahun saya karena saya merasa bahwa Tuhan itu sangat mencintai saya dengan segala kekurangan saya. Rahmat dan berkat Tuhan menuntun saya. Tuhan tidak menuntut saya mengerjakan sesuatu di luar kemampuan saya. Jadi walau pun saya sakit dan menderita saya berterima kasih,” kata uskup.

Mgr Agus mengajak semua yang hadir untuk membiasakan diri mengucapkan terima kasih kepada bapa, kepada mama, dan kepada Tuhan. “Saya yakin, Tuhan akan membalas kebaikan kalian, karena apapun yang kita peroleh tanpa dari Tuhan tidak akan punya arti apa-apa,” tegas Mgr Agus. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan data dari KAP/aop)

Artikel Terkait:

Pendataan umat berbasis internet di Keuskupan Agung Pontianak akan diluncurkan 22 November

Uskup Bandung luncurkan sistem informasi manajemen umat, SIMU

Sekretaris paroki di Keuskupan Bandung diminta profesional terampil dan tulus

Kredit untuk semua foto-foto ini adalah Komsos KAP

Mgr Agus menyerahkan user name dan password untuk masuk dalam weblink kepada ketua-ketua dekenat. Foto Komsos KAP Penandatangan spanduk peluncuran BIDUK KAP. Foto Komsos KAP Menyanyikan “Selamat Ulang Tahun” dilanjutkan peniupan lilin dan pemotongan kue. Foto Komsos KAP Suasana Misa HUT ke-69 Mgr Agus dan Peluncuran BIDUK KAP. Foto Komsos KAP

Pages