Mirifica.net

Subscribe to Mirifica.net feed Mirifica.net
Bishops' Conference of Indonesia
Updated: 1 hour 6 min ago

26 Maret, St. Ludger

5 hours 7 min ago

 

Lahir di Belanda, ia dididik oleh St. Gregorius dari Utrecht. Kemudian pergi ke Inggris, belajar kepada Beato Alcuin dari York. Ditahbiskan sebagai Benediktin pada usia 35 tahun, ia bermisi selama tujuh tahun, sampai ia diberi kepercayaan oleh Charlemagne untuk membimbing kerohanian lima provinsi. Ia kemudian diangkat sebagai uskup Munster pada usia 62 tahun dan melayani lima tahun sampai meninggal.

sumber dan gambar: #catholicorg

Sejuk di Wisma Unio Weetebula

Sat, 25/03/2017 - 12:15

HUJAN baru saja turun, tapi kemudian mentari terlihat memancar begitu teriknya. Udara yang terasa sedikit menyejuk kembali membuat gerah para Seminaris Sinar Buana di ruang Aula Wisma Unio, Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT, Sabtu (25/3/2017).

Meski begitu, semangat 30-an seminaris tak lantas padam. Satu per satu berebut menjawab tantangan yang diberi pemateri tentang membuat intro sebuah berita.

“Gara-gara ditingal selingkuh suaminya seorang ibu tega membunuh ketiga Anak nya,”jawab Evan, salah satu siswa kelas 8 (2 SMP) dengan lantang.

Hingga lewat pukul 12.00 Wita para peserta Pelatihan Menulis Produktif ini masih melanjutkan tugas menulis materi Majalah Dinding.

Tiga hari para seminaris mengikuti pelatihan. Mulai Kamis (23/3) sore, mereka sudah siap-siap berkamar di Wisma Unio milik para Romo Projo Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT. Budi Sutedjo Dharma Oetomo berpasangan dengan Maria Herjani mengawali pelatihan menulis dilanjutkan Gabriel Abdi Susanto di Hari Sabtu.

Tak lama lagi kegiatan pelatihan menulis ini berakhir disambut deru hujan yang kembali menyejukkan udara siang itu.

Balada Ketikan Dua Jari dan Save-an Hilang Seminaris Sinar Buana

Sat, 25/03/2017 - 10:28

WEETEBULA – Enam komputer disiapkan dengan susunan 3 x 2 meja, meramaikan teras aula Wisma UNIO, Weetebula dengan perangkat keras dan kabel-kabel. Lima desktop dan satu laptop yang beroperasi dengan Windows XP ini dipakai 30 seminaris Sinar Buana yang mengikuti pelatihan jurnalistik kerjasama Seminari Sinar Buana dan Komsos KWI. Para peserta dibagi lima orang per kelompok; satu kelompok satu komputer. Bergantian, mereka mengetik hasil tulisan dari pelatihan berjeniskan opini, berita fakta, dan feature. Rencananya, ketikan ini akan dicetak dan dipakai sebagai bahan majalah dinding di Seminari.

“Mading di seminaris mati hidup mati hidup. Setelah pelatihan, tugas kalian adalah membangkitkannya kembali,” ujar RD Yustinus Guru Kedi, kepala sekolah Seminari Menengah Sinar Buana dalam pembukaan pelatihan yang dimulai Kamis (23/3) sampai hari ini. Dari dua hari pertama pelatihan; bersama Budi Sutedjo dan Maria Herjani, mereka bergulat dengan ilmu jurnalistik yang belum pernah dipelajari sebelumnya.

“Meski masih kecil (usia SMP dan SMA) dan baru pertama pelatihan, tulisan mereka banyak yang bagus. Mereka kebanyakan menulis tentang budaya lokal Sumba,” kata Maria Herjani, tim Indonesia Menulis fasilitator pelatihan ini.

Setelah tiga jenis tulisan mereka diperiksa, mereka diizinkan mengetiknya di komputer. Siapa cepat, dia dapat menggunakan komputer lebih dulu. Pelajaran di laboratorium komputer seminari membekali para seminaris untuk mengoperasikan Microsoft Word, sehingga mengetik bukanlah hal baru. Beberapa seminaris terlihat mengetik menggunakan dua jari secara perlahan dan hati-hati; ditemani teman sekelompok di sampingnya yang membantu membacakan tulisan yang mau diketik.

Enam komputer ini mulai disiapkan siang kemarin (24/3), ketika peserta masih diarahkan untuk menulis di kertas. Teras aula wisma UNIO setengah terbuka, sehingga para peserta nantinya akan mengetik sambil bisa menikmati pemandangan barisan pohon kelapa dan rumah penduduk (Itu kalau kelihatan, karena pengetikan direncanakan pada senja hari).

Lima desktop dan satu laptop yang baru selesai diinstalasi

Setelah jalan salib, satu dua komputer mulai terisi, sampai enam komputer semua digunakan. Tidak lama, empat komputer tiba-tiba padam. Para seminaris kebingungan; ternyata kabel listriknya tersenggol. Untunglah tulisan mereka ter-recover sehingga tidak perlu mengulang lagi. Nasib Boston Suru, seorang seminaris, lebih menantang lagi. “Saya sudah ketik, sudah di-save, tapi hilang,” ujarnya sambil terheran-heran. Setelah diselidiki, ternyata ketikannya tertimpa tulisan lain dengan judul yang sama.

Boston, korban ketikan hilang

Di sudut komputer kelompok lain, tiga seminaris bekerjasama menyelesaikan ketikan satu per satu. Yang seorang mengetik, kanannya membacakan, yang kirinya mengomentari font yang kurang cocok dengan seleranya. Faktanya, mayoritas menghabiskan waktu 5-10 menit untuk memilih font dan warna yang disukai. “Seharusnya diselesaikan dulu tulisannya, baru memilih font dan warna,” kata Maria. Ada pula yang kesulitan menggunakan mousepad laptop. 10 menit pertama dihabiskan bersama teman-temannya untuk menerka penggunaan mouse tanpa kabel itu.

Semua seminaris bersemangat mengetik tulisan mereka

Mereka mulai aktivitas mengetik dari 20.30 WITA, sampai 21.00 WITA -seharusnya. Setelah diizinkan mengetik sampai 22.00 WITA, suasana semakin memanas. Satu per satu tertawa lega setelah ketikannya selesai. Ada juga yang selesai mengetik, tiba-tiba kembali lagi ke komputer ketika temannya mengetik. “Ada yang salah nama pastor di tulisanku,” ucap Sairo Meo Ngai, seminaris SMP yang selesai lebih dulu itu.

Ternyata, sampai pukul 23.30 WITA pun, masih ada yang mengetik. Satu komputer sudah dimatikan, duanya sudah dipakai untuk main games oleh mereka yang sepertinya sudah cukup penat, tiganya masih dipakai berjuang. Rekan yang menemani di samping juru ketik jatuh tertidur di kursi meja itu. Mereka mulai ‘bertobat’ ketika jam menunjukkan pukul 00.00 WITA.

Hari ini, para seminaris belajar mengenai jurnalisme online. Beberapa dari mereka belum menyelesaikan ketikan yang mau dicetak untuk mading itu. Sampai tadi pagi sebelum sesi dimulai pun, mereka mencuri waktu untuk mengetik. Di tengah kehijauan tanah Sumba Barat Daya ini, para calon imam mengakrabkan diri dengan komputer; mendekatkan diri kepada dunia tulis-menulis; mengejar mimpi untuk berkarya bagi Gereja Katolik Indonesia lewat torehan tinta dan ketikan dua jari. Ad Majorem Dei Gloriam.

Greget: Ketika Pegiat Menulis ‘Kedapatan’ Pelatihan Menulis

Seminaris Sinar Buana Mengakrabkan Diri dengan Jurnalisme Online

Sat, 25/03/2017 - 09:21

WEETEBULA – Sebagai rangkaian perayaan 50 tahun Seminari Sinar Buana, diadakanlah seminar nasional “Peran Gereja Memerangi Hoax” dan pelatihan menulis bagi para seminarisnya. Bertempat di Wisma UNIO, 30 seminaris tingkat SMP dan SMA belajar jurnalistik dari Kamis (23/3) sampai siang ini. Setelah belajar ilmu menulis dengan Tim Indonesia Menulis, mereka belajar ilmu web dan penulisan materi web bersama Gabriel Abdi Susanto, wartawan.

Dalam sesi pengantarnya, Abdi berbicara mengenai jurnalistik daring (online). Ada beberapa kiat untuk menulis di media daring secara praktis:

  1. Gunakan format piramida terbalik. “Informasi yang paling penting diletakkan lebih dulu, baru mengikuti informasi yang kurang penting,” kata Abdi.
  2. Pendek. Berita daring tidak perlu panjang-panjang. Pembaca daring cenderung kepada berita yang singkat, padat, dan jelas.
  3. Sesuai fakta. Bukan hanya di jurnalistik online, menulis sesuai fakta adalah kewajiban. “Bilamana tidak sesuai, itu namanya fiktif,” ujar Abdi. Beliau menyarankan, sebuah wawancara atau peristiwa bisa direkam dan dicatat seluruh informasi pentingnya, barulah nanti bisa dipakai untuk menulis berita.
  4. Kredibilitas narasumber. “Seorang yang sekolah keperawatan tentu tidak cocok menjadi narasumber untuk isu politik. Harus dicari yang memang ahli di bidangnya,” jelas Abdi.
  5. Kohesivitas. Ada keterpaduan antara kalimat pertama dan kalimat kedua dst. pada berita. Caranya: sebuah kalimat setelahnya, menjelaskan kalimat sebelumnya.

Kemudian, peserta diajak mempraktikkan materi yang dibagikan. Nantinya, pembekalan ini diharapkan bermanfaat untuk penyusunan mading di Seminari Sinar Buana.

Greget: Ketika Pegiat Menulis ‘Kedapatan’ Pelatihan Menulis

Sat, 25/03/2017 - 08:12

“Saya sebenarnya menulis sudah lama…” ucap Hildebertus P. M. Wawo dalam suara kecil. Seminaris tingkat SMA Sinar Buana, Weetebula ini sudah menulis lusinan puisi dan fragmen sejak beberapa tahun silam. “Saya buat jadi buku, tapi saya simpan karena tidak tahu mau kirim ke mana…”

Perbincangan singkat dengan lelaki muda yang akrab disapa Deri ini berlangsung di sela pelatihan jurnalistik untuk Seminari Menengah Sinar Buana. Pelatihan ini sendiri diadakan sebagai bagian dari rangkaian besar perayaan ulang tahun emas (50 tahun) Seminari Sinar Buana. Sebagai salah satu siswa, Deri bersyukur bisa termasuk dalam 30 orang yang mewakili 300 seminaris seluruh angkatan, yang boleh ikut pada pelatihan ini.

Deri namanya, menulis dunianya…

Pupil mata Deri serentak melebar ketika ditanya soal menulis. Suaranya pun menjadi kalem, tapi tiba-tiba naik dan bertempo cepat. “Ada yang saya simpan sampai kertasnya robek,” cerita Deri. Bagi penulis muda ini, pelatihan jurnalistik ini menjadi jawaban hobinya. Deri mengaku belum pernah mengikuti pelatihan serupa sebelumnya. “Seminar sudah ikut (menanggapi seminar nasional yang diadakan sebelum pelatihan ini) sebelumnya, tapi membahas genre, narkoba, dll. Belum pernah ada yang tentang jurnalistik. Maka itu, saya pikir pelatihan ini pas sekali untuk diikuti.”

Meski hobi Deri belum mendapat wadah rutin, ia tetap berkarya. “Saya minta masukan dari teman-teman dan frater di seminari; respon mereka positif. Ada pula satu fragmen karya saya yang dipentaskan menjadi drama dan sudah ditampilkan di beberapa tempat,” tukas Deri. “Drama 20 menit!” potong seorang adik kelas yang menyimak wawancara ini.

Fragmen yang dipentaskan itu bercerita mengenai isu budaya lokal Sumba yang agak bertolak belakang dengan anak lelaki yang berminat menjadi kaum berjubah. Tradisi menjunjung anak lelaki sebagai kepala keluarga, harus mencari nafkah. Lantas, hidup selibat mengambil hidup yang semacam itu. Tidak ada yang bisa disalahkan, selain mencari jalan tengah terbaik. Para pastor yang berkarya di Sumba punya misi mengedukasi para orangtua dan anak-anak bahwa tradisi dan agama tidak perlu dipertentangkan; bahwa menjadi imam adalah suatu panggilan Allah yang mulia, kudus, dan alangkah baiknya bila dipenuhi dengan sukacita dan penuh dukungan. “Setelah pastor berbicara, akhirnya para orangtua mengerti dan melepas anaknya bila mereka mau jadi imam,” kata Deri.

Bahkan sebelum mengikuti pelatihan menulis, pementasan fragmen ini membuktikkan Deri punya jalan di bidang tulis-menulis. “Saya dapat sesuatu setelah ikut pelatihan dua hari ini (23-24/3), bahwa setelah ini saya harus keluarkan seluruh tulisan saya dan berbuat sesuatu,” tegas Deri.

Anak muda ini belum terpikir untuk menulis sebuah buku, karena ia lebih tertarik untuk mengembangkan karya sastra puisi dan fragmen. “Paling banyak saya menulis tentang hari Valentine, tentang cinta-cintaan. Orang muda betul,” kata calon imam tersebut sambil tersenyum lebar.

Renungan Harian Sabtu, 25 Maret 2017 (Lukas 1: 26 – 38)

Sat, 25/03/2017 - 00:00

 

Tema:  Kabar Sukacita Yang Mendatangkan Keselamatan

(Lukas 1: 26 – 38)

 

Saudara-saudari…. Hari ini kita merayakan Pesta Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan. Satu perayaan peringatan yang membuka babak baru dalam sejarah keselamatan umat manusia. Pesta ini mengingatkan kita akan beberapa hal penting yang patut kita syukuri.

  1. Tuhan mau mewujudkan rencanaNya untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengutus PuteraNya. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah mewujud-nyatakan apa yang sudah direncanakannya dari abad-ke abad.
  2. Tuhan mau memenuhi janji-Nya, yang sudah disampaikanNya kepada toko -toko iman dan para nabi dari jaman ke jaman. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Ia sangat setia memenuhi janjiNya.
  3. Tuhan mau tunjukkan keikutsertaan-Nya dalam sejarah keselamatan manusia. Bahwa Tuhan samasekali tidak acuh tak acuh akan penderitaan manusia, tetapi secara aktip dan partisipatip terlibat dalam sejarah keselamatan manusia. Dia tidak hanya menonton dari jauh kesengsaraan manusia, tetapi turun ke dunia dalam diri PuteraNya, hadir dan secara aktip dan partisipatip menyelamatkan manusia lewat pengajaran dan penyembuhan dari bermacam-macam penyakit serta membebaskan manusia dari kungkungan setan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Dia sangat prihatin dengan keadaan manusia berdosa, keprihatinanNya bukan bersifat pasif tetapi sangat bersifat aktip, Ia turun ke dunia merasakan penderitaan manusia dan karena cintaNya akan manusia, Ia berani berkorban, mati di kayu salib.
  4. Lewat peristiwa sukacita ini, Tuhan tunjukkan mujizat yang sangat luar biasa kepada manusia, bahwa kelahiran PuteraNya, Yesus Kristus tidak melewati hukum alam yaitu perkawinan antara suami istri, tetapi Roh Kudus sendiri yang menaungi Bunda Maria, dan dari persatuan Roh Kudus dengan Bunda Maria mengandunglah Bunda Maria, yang kemudian sesudah 9 bulan seorang bayi mungil dilahirkannya ke dunia ini, yang kemudian diberi-nya nama Yesus.
  5. Peristiwa sukacita ini bukan hanya aktivitas Tuhan semata, tetapi keterlibatan manusia pun sangat nampak. Maria, mewakili umat manusia di dunia ini, memberikan satu tanggapan yang sangat bagus kepada Tuhan dengan demikian karya keselamatan Tuhan pun bisa terjadi di dunia ini. Kalau Maria tidak menanggapinya dengan positip, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita harus berterima kasih kepada Bunda Maria karena ia menanggapi tawaran Allah sehingga kita pun boleh alami keselamatan.

Pertanyaan untuk kita: Apakah kita selalu mewujud-nyatakan apa yang sudah kita rencanakan dalam hidup kita? Apakah kita selalu setia menepati janji kita? Dengan menerima Sakramen permandian kita sudah menjadi anggota Gereja yang sah. Apakah kita selalu bekerja sama dengan Tuhan agar keselamatan itu sungguh menjadi satu kenyataan bagi kita? Sadarkah kita bahwa mujizat selalu terjadi dalam hidup kita? Apa saja usaha pribadi kita agar Tuhan selalu kita rasakan dan sungguh hadir bersama kita setiap saat dalam hidup kita?

Marilah saudara-saudari… Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Ia sangat mencintai kita. Kabar sukacita yang disampaikanNya kepada Bunda Maria sudah mendatangkan keselamatan bagi kita. Kita berdoa semoga keselamatan yang sudah kita terima selalu kita jaga dengan baik dan kita pupuki setiap saat sehingga mendatangkan keselamatan abadi bagi jiwa kita di saat kita kembali kepada Bapa.

Kita memohon Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amen.

oleh: Rm Fredy Jehadin SVD

25 Maret, Bapa Isai

Sat, 25/03/2017 - 00:00

 

Isai dalam bahasa Ibrani berarti “senyum Tuhan” ; “keselamatan dari Tuhan”. Putra Abraham dan Sarah di usia tuanya. Isai akan memperanakkan Esau dan Yakub. Ketika Sarah meninggal, Isai sangat terpukul dan menghabiskan setiap malamnya dengan menyendiri di pinggir kota; ia bersedih sekaligus bermeditasi untuk memulihkan kehancurannya.

sumber dan gambar: #santibeatiit

Jalan Salib di Sela Pelatihan Menulis

Fri, 24/03/2017 - 23:29

YA ALLAH, dengan darah Putera tunggal-Mu sendiri Engkau telah menguduskan salib sebagai lambang kemenangan. Sudilah kiranya memberikan sekalian orang yang memuji dan meluhurkan salib itu, boleh menikmati rahmat pwrlindunganMu di mana saja, hari ini dan selalu sepanjang masa. Karena Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami. Amin

Lantang dan bertenaga doa penutup jalan salib ini dilantunkan para seminaris Seminari Menengah Sinar Buana, Weetebula, Sumba. NTT, Jumat (23/3/2017) di akhir pemberhentian.

Di tengah pelatihan menulis, 30-an anak muda belasan tahun ini tetap menjalankan rutinitas harian utamanya misa kudus di pagi hari selain ibadat jalan salib yang berlangsung sore tadi.

Usai jalan salib dan makan malam, kegiatan latihan menulis berlanjut hingga tengah malam. Sekitar pukul 12.00 Wita, beberapa anak masih berkutat dengan tugasnya di depan komputer.

Baru setelah salah satu Romo Pamong menyuruh berhenti, mereka segera beranjak ke kamar masing-masing setelah sebelumnya membereskan kursi dan sampah yang berserak di ruang Aula Wisma Unio Keuskupan Weetebula tempat anak-anak ini berkumpul.

Semangat Para Seminaris Sinar Buana Belajar Menulis

Fri, 24/03/2017 - 18:03

USAI memahami bagaimana menulis feature dan opini, para siswa Seminari Sinar Buana melatih ketrampilan menulis dengan praktik langsung. Tema umum tentang Seminari yang sedang berulang tahun ke-50, dan tema khususnya bebas sesuai keinginan.

Sejauh pengamatan tidak ada kesulitan yang berarti yang dialami 30-an siswa SMP dan SMA Seminari ini. “Saya sudah sering menulis karena mengurus majalah” ujar Nior salah siswa kelas 8.

Robert, siswa kelas 10 menyebutkan, dirinya juga sudah terbiasa menulis. “Saya sering menulis cerpen, puisi karena saya suka.”

Kepala Sekolah Seminari Sinar Buana RD Yustinus Guru Kedi menyebutkan, 30-an siswa ini hasil seleksi atas 300-an siswa Seminari. “Mereka terpilih ikut pelatihan ini karena memang punya minat,” ujar Yustin, panggilan sang Romo.

Budi Sutedjo Dharma Oetomo bersama Maria Herjani dari Tim Indonesia Menulis yang membimbing para seminaris ini mengakui, 80 persen anak-anak sudah bagus semangat menulisnya meski harus terus dilatih.

3 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Perayaan Tahbisan Uskup Sintang

Fri, 24/03/2017 - 16:17

Berita mengenai tahbisan Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, Rabu (22/3/2017) masuk jajaran berita populer di lingkungan Gereja Katolik Indonesia sejak Rabu (22/3/2017) hingga saat ini.

Perayaan tahbisan yang dilangsungkan di Stadion Baning, Sintang, itu pun menghadirkan beberapa fakta unik, yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

  1. Duta Besar Vatikan Ganti Waktu Sambutannya dengan Mendoakan Secara Khusus Samuel Oton Sidin, OFM dan umat Keuskupan Sintang

“Pertama, tadi saya sudah berbicara lama saat membawakan homili, dan kedua, karena saya tidak ingin menguji kesabaran anda dengan berbicara lama lagi pada kesempatan sambutan ini”, kata Mgr. Antonio Guido Filipazzi, diikuti dengan gelak tawa umat yang hadir.

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi ketika membawakan doa untuk Uskup Samuel dan umat Keuskupan Sintang/Kredit: Komsos KWI

Kesempatan sambutan pun ia ganti dengan mengungkapkan harapannya lewat doa yang ia tujukan kepada Uskup Samuel dan seluruh umat keuskupan Sintang. Inilah harapan dan  doa Mgr.Antonio Guido Filipazzi yang didaraskan dari mimbar sabda:

Allah Bapa yang suci…

yang telah memberikan kami Putera-Mu sebagai gembala

Tolonglah para gembala dan komunitas yang Engkau percayakan kepada mereka

 sehingga  mereka semua  dipenuhi dengan kasih dan

Semoga  domba-domba selalu taat kepada mereka. Amin

Mgr. mengatakan bagi kita orang Kristen, harapan terbaik kita adalah selalu bisa mendaraskan doa  kepada Allah bagi para gembala dan semua orang beriman.

  1. Gubernur Cornelis Minta Gereja Transparan Terkait Pengelolaan Aset Gereja

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis M.H., ketika membawakan sambutan sebelum penutupan misa tahbisan uskup Sintang, Rabu (22/3/2017)/Kredit: Komsos KWI

Bukan Gurbernur Cornelis namanya jika ia tak blak-blakan saat berbicara. Di hadapan para uskup yang hadir dan umat Katolik yang datang dari berbagai wilayah di Keuskupan Sintang, Gubernur Kalimantan Barat itu meminta agar gereja lebih transparan terkait pengelolaan aset Gereja.

“Karena terkadang harta Gereja ini tidak tercatat dengan baik, saya sudah merasakan bagaimana membantu gereja untuk menyelesaikan persoalan-persoalan gereja, termasuk rumah sakit dan  segala macam itu”, kata Gubernur Kornelis yang  rela berjemur di tengah terik matahari dari mimbar sabda.

“Saya berani mengatakan begini karena saya seorang Katolik, yang sudah berbuat. Yang penting baik, bisa dinikmati oleh umat”, tegasnya disambut tepuk tangan para uskup dan umat yang hadir.

Sebelumnya Corneli menyinggung tiga tantangan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia dan meminta agar Gereja Katolik Indonesia ikut bersuara dan bersinergi dengan pemerintah guna menghadapinya. Ketiga tantangan itu adalah masalah  kemiskinan di Kalimantan Barat, hoax di media sosial dan  intoleransi.

  1. Payung Pelindung Duta Besar Vatikan, Dirjen Bimas Katolik, dan Ketua Panitia Tahbisan Uskup Sintang

Tiga payung dengan warna berbeda digunakan untuk melindungi Duta Besar Vatikan untuk Indonesa, Dirjen Bimas Katolik dan Ketua Panitia Tahbisan Uskup Sintang saat tampil membawakan sambutan/Kredit: Komsos KWI

Masih ingat warna payung yang digunakan oleh Presiden Jokowi saat menemui massa Aksi Bela Islam Jilid II I pada 2 Desember silam? Nah, pada kesempatan sambutan sebelum penutupan misa tahbisan Uskup Sintang,  beberapa payung yang digunakan untuk melindungi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia pun dari panas matahari pun sempat mencuri perhatian umat, sebagaimana terlihat dalam foto berikut ini:

 

 

Baca juga: Mgr-paskalis-bruno-jatuh-pingsan-saat-misa-tahbisan-uskup-sintang

 

Brevir Sore, Jumat: 24 Maret 2016, PEKAN III PRAPASKAH – O PEKAN III – HARI BIASA PEKAN III PRAPASKAH Ibadat Sore 1: Besok HARI RAYA KABAR SUKACITA (Putih)

Fri, 24/03/2017 - 16:00

PEMBUKAAN

P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.

U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

MADAH

Ketahuilah dunia

Bahwa Tuhan telah tiba

Untuk menebus umatNya

Supaya sungguh bahagia

Nubuat Nabi Yesaya

Akhirnya terbukti nyata

Dalam Perawan Maria

Yang kini menjadi Bunda

Maria mengandung putra

Karena taat setia

Kepada sabda ilahi

Yang dibawa duta suci

Terpujilah Tuhan Yesus

Yang dikandung Perawan kudus

Berkat kuasa Roh suci

Utusan Bapa surgawi. Amin

PENDARASAN MAZMUR

Antifon

Sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai, sebuah taruk akan timbul dari akarnya. Roh Tuhan akan menaunginya.

Mazmur 112 (113)

Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan,*

pujilah nama Tuhan.

Terberkatilah nama Tuhan,*

sekarang dan selama-lamanya.

Dari timur sampai ke barat,*

terpujilah nama Tuhan.

Tuhan menguasai segala bangsa,*

kemuliaanNya mengatasi langit.

Siapakah seperti Tuhan, Allah kita,*

yang bersemayam di takhta yang luhur;

yang membungkuk untuk melihat ke bawah,*

untuk memandang langit dan bumi.

Tuhan menegakkan orang lemah dari debu,*

dan mengangkat orang miskin dari sampah,

untuk mendudukkannya di tengah para penguasa,*

di tengah para penguasa bangsanya.

Tuhan memberikan keturunan kepada wanita mandul,*

dan menjadikannya ibu yang penuh sukacita.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Sebuah tunas akan tumbuh dari tunggul Isai, sebuah taruk akan timbul dari akarnya. Roh Tuhan akan menaunginya.

Antifon

Tuhan akan memberi Dia takhta Daud bapaNya, dan Ia akan memerintah selama-lamanya.

Mazmur 147 (147B)

Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem,*

pujilah Allahmu, hai Sion.

Sebab Ia menguatkan palang pintu gerbangmu,*

Ia memberkati para pendudukmu.

Sebab Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu,*

dan mengenyangkan dikau dengan gandum yang paling baik.

Ia mengutus sabdaNya ke bumi,*

dengan segera firmanNya berlari.

DiturunkanNya salju seperti bulu domba,*

dihamburkanNya embun beku bagaikan abu.

DilemparkanNya hujan es seperti kerikil,*

siapa dapat menahan dinginnya?

Ia bersabda lagi, maka es mencair kembali,*

Ia menyuruh anginNya bertiup, maka air mengalir.

Dialah yang menyampaikan firmanNya kepada Yakub,*

ketetapan dan hukumNya kepada Israel.

Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa,*

hukum-hukumNya tidak mereka kenal.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Tuhan akan memberi Dia takhta Daud bapaNya, dan Ia akan memerintah selama-lamanya.

Antifon

Sabda ilahi yang dari semula lahir dari Bapa, hari ini menjadi manusia untuk kita dan menghampakan diri.

Kidung Flp 2,6-11

Meskipun berwujud Allah,+

Kristus Yesus tidak mau berpegang teguh,*

pada kemuliaanNya yang setara dengan Allah.

Ia telah menghampakan diri,+

dengan mengambil keadaan hamba,*

dan menjadi sama dengan manusia.

Ia kelihatan sebagai seorang manusia dan merendahkan diri,+

karena taat sampai mati,*

sampai mati di salib.

Sebab itu Allah telah meninggikan Dia,+

dan menganugerahkan kepadaNya,*

nama yang melebihi segala nama.

Agar dalam nama Yesus,+

bertekuklah setiap lutut,*

di surga tinggi, di bumi dan di bawah bumi.

Agar setiap lidah mengakui,+

untuk kemuliaan Allah Bapa,*

Tuhanlah Yesus Kristus.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Sabda ilahi yang dari semula lahir dari Bapa, hari ini menjadi manusia untuk kita dan menghampakan diri.

BACAAN SINGKAT

(1 Yoh 1,1-2)

Apa yang ada semenjak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata, yang telah kami saksikan, dan telah kami raba dengan tangan, tentang sabda hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya, dan sekarang kami bersaksi dan mewartakan kepada kamu tentang hidup kekal yang ada pada Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

LAGU SINGKAT

P: Sabda menjadi manusia lemah,* Dan tinggal di antara kita.

U: Sabda menjadi manusia lemah,* Dan tinggal di antara kita.

P: Sejak awal mula sabda itu bersama Allah.

U: Dan tinggal di antara kita.

P: Kemuliaan kepada Bapa Putera dan Roh Kudus.

U: Sabda menjadi manusia lemah,* Dan tinggal di antara kita.

Antifon Kidung

Roh kudus akan datang kepadamu, hai Maria, dan kekuatan Allah yang mahatinggi akan menaungi engkau.

KIDUNG MARIA

(Luk 1,46-5)

Aku mengagungkan Tuhan,*

hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku.

Sebab Ia memperhatikan daku,*

hambaNya yang hina ini.

Mulai sekarang aku disebut: yang bahagia,*

oleh sekalian bangsa.

Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang mahakuasa,*

kuduslah namaNya.

Kasih sayangNya turun-temurun,*

kepada orang yang takwa.

Perkasalah perbuatan tanganNya,*

dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya

Orang yang berkuasa diturunkanNya dari takhta,*

yang hina-dina diangkatnya.

Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan,*

orang kaya diusirNya pergi dengan tangan kosong

Menurut janjiNya kepada leluhur kita,*

Allah telah menolong Israel, hambaNya.

Demi kasih sayangNya kepada Abraham serta keturunannya,*

untuk selama-lamanya.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon Kidung

Roh kudus akan datang kepadamu, hai Maria, dan kekuatan Allah yang mahatinggi akan menaungi engkau.

DOA PERMOHONAN

Pada hari ini Bapa kekal mewartakan keselamatan kita kepada Maria dengan perantaraan malaikatNya. Marilah kita penuh kepercayaan berdoa:

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

P: Ya Bapa, Engkau telah memilih perawan Maria untuk menajadi bunda PuteraMu,* kasihanilah semua orang yang merindukan keselamatan Kristus.

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

P: Engkau telah mewartakan damai dan sukacita kepada Maria dengan perantaraan Malaikat Gabriel,* Kurniakanlah selamat, sukacita dan damai sejati kepada seluruh dunia.

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

P: Engkau menghendaki sabdaMu menjadi manusia atas persetujuan Maria dan Roh Kudus,* bukalah hati kami untuk menyambut Kristus, seperti Maria bersedia menerima Dia.

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

P: Engkau mengangkat orang yang lain yang hina-dina dan mengenyangkan yang lapar dengan kebaikan,* hiburlah yang berdukacita, tolonglah yang miskin, bantulah orang yang mendekati ajalnya.

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

P: Allah, tak ada hal yang mustahil bagiMu, dan Engkau mengerjakan pekerjaan besar,* bangkitkanlah kami pada hari terakhir bersama semua orang yang mendahului kami, dan selamatkanlah kami.

U: Kurniakanlah rahmatMu kepada kami, ya Tuhan.

BAPA KAMI

Bapa kami yang ada di surga,

dimuliakanlah namaMu.

Datanglah kerajaanMu.

Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari hari ini.

Dan ampunilah kesalahan kami,

seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin

DOA PENUTUP

Ya Allah, Bapa kekal, menurut kehendakMu Sabda telah menjadi manusia. Ia menerima tubuh insani dalam rahim perawan Maria. Kami mengakui penyelamat kami itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Indahkanlah permohonan kami, semoga kami mengikuti teladanNya sebagai manusia dan menjadi serupa juga dengan kodrat ilahiNya. Sebab Dialah  pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin

PENUTUP

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U: Amin.

 

Sumber: Buku Ibadat Harian Ofisi Menurut Ritus Roma Diterbitkan Oleh PWI-Liturgi, 1995, Penerbit Nusa Indah Ende.

 

 

Lebih Dekat dengan Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap

Fri, 24/03/2017 - 10:40

Pastor Samuel Oton Sidin, OFM.Cap yang telah ditunjuk Vatikan untuk menjadi Uskup Sintang Oktober 2016 lalu, kini resmi menjadi uskup Sintang setelah melalui prosesi Misa Tahbisan pada Rabu tanggal 22 Maret 2017. Putera Bengkayang, Kalimantan Barat ini pun resmi memegang tongkat kegembalaan keuskupan Sintang, yang sebelumnya berada di tangan Mgr. Agustinus Agus. Rentang waktu karya pastoralnya terakhir ia jalani sebagai pastor Paroki Tebet, Jakarta.

Riwayat Pendidikan

Mgr. Samuel menjalani pendidikan dasar di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Selesai dari sana, ia memutuskan  masuk ke Seminari Menengah Santa Paulus Nyarumkop, Singkawang, Kalimantan Barat. Pada 12 Januari 1977, Samuel masuk ke Novisiat Kapusin Santo Fidelis Sigmaringen di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Masa pendidikan dan pembinaan di Novisiat ia jalani dengan baik hingga setahun kemudian ia mengucapkan kaul pertamanya.  Waktu itu tanggal  13 Januari 1978. Selesai menjalani  masa Novisiat, Iakemudian  melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Pematang Siantar di Sinaksak, Tapian Dolok, Simalungun, Sumatera Utara. Ia mengucapkan kaul kekal pada 18 Juli 1982, dan ditahbiskan menjadi imam di Peranuk, Bengkayang pada 1 Juli 1984.

Setelah ditahbiskan menjadi imam tahun 1984 hingga tahun 1985, ia menjalankan karya pastoralnya sebagai Pastor Rekan di Paroki Santa Maria, Nyarumkop, Singkawang Timur, Singkawang, Kalimantan Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Kepausan Antonianum, Roma dan selesai pada tahun 1990 dengan gelar doktor bidang teologi spiritualitas. Judul disertasinya adalah “The role of creatures in Saint Francis’ praising of God”.  Dengan pengalaman dan bekal pendidikan yang telah diperolehnya, Samuel tidak butuh waktu terlalu lama untuk menerima tugas dan pekerjaan yang lebih besar. Sepulangnya dari Roma, Ia diangkat menjadi Socius (Wakil) Magister Novisiat Kapusin Santo Fidelis Sigmaringen di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara hingga tahun 1993. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1997, ia diangkat menjadi Magister di tempat pembinaan yang sama. Lalu ia terpilih menjadi Provinsial Kapusin untuk dua masa jabatan hingga tahun 2003.

Rumah Pelangi

Kepeduliaanya pada lingkungan hidup menjadi sipirit awal Samuel melakukan gerakan cinta lingkungan hidup. Tahun 2008, Ia lalu mendirikan  “Rumah Pelangi” di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Ia merintis Rumah Pelangi di areal lahan seluas 90 hektar dengan tujuan untuk konservasi hutan. Kehadiran Rumah Pelangi berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi pembukaan jalan-jalan baru di  wilayah Kalimantan terutama yang menghubungkan Pontianak dan Sanggau yang berdampak pada rusaknya ekosistem hutan.

Ia kemudian terpilih kembali menjadi Provinsial Kapusin Pontianak pada tahun 2009 hingga 2012. Pada Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2012, ia menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori Pembina Lingkungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak 2012 selepas tugasnya sebagai Provinsial Kapusin Pontianak, ia ditugaskan menjadi Pastor Kepala Paroki Tebet Santo Fransiskus Assisi di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Pentahbisan

Pastor Samuel akhirnya ditahbiskan  menjadi Uskup Sintang pada 22 Maret  2017. Mgr. Agustinus Agus,yang juga merupakan pendahulunya bertindak sebagai uskup pentahbis utama.  Dua uskup Ko-Konsekrator adalah Uskup Sanggau Mgr. Giulio Mencuccini, C.P. dan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi. Perayaan pentahbisan Mgr. Samuel dilangsungkan di Stadion Baning, Sintang, disaksikan langsung oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr.  Antonio Guido Filipazzi.

Hadir pula Ketua Presidium KWI, Mgr. Ignatius Suharyo, para uskup dari seluruh Indonesia dan ribuan umat Katolik dari wilayah keuskupan Sintang yang mencakup tiga kabupaten, yakni kabupaten Sintang, kabupaten Kapuas Hulu dan kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

 

Kredit Foto: Mgr. Samuel Oton Sidin, Uskup baru Sintang (memegang tongkat kegembalaan) diperkenalkan kepada umat yang hadir setelah rangkaian prosesi tahbisan.

Brevir Siang, Jumat: 24 Maret 2016, PEKAN III PRAPASKAH – O PEKAN III – HARI BIASA PEKAN III PRAPASKAH Ibadat Sore 1: Besok HARI RAYA KABAR SUKACITA (Putih)

Fri, 24/03/2017 - 10:00

PEMBUKAAN

P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.

U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

MADAH

Sungguh agung cinta Tuhan

Yang tidak takut berkurban

Mautpun tak menghalangi

Kasih setya yang sejati.

Selalu siap mengabdi

Datang untuk melayani

Itulah semangat Tuhan

Yang harus kita wujudkan.

Terpujilah Allah Bapa

Bersama Putra tercinta

Yang memperoleh Roh suci

Pembaharu muka bumi. Amin.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon

Ia dihina dan disalibkan orang, manusia penuh sengsara, yang tahu apa artinya menderita.

Mazmur 21 (22) I

Allahku, ya Allahku, mengapa aku Kautinggalkan?*

Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh, dan tidak menolong aku.

Allahku, di waktu siang aku berseru-seru,†

tetapi Engkau tidak menjawab,*

di waktu malam aku mengaduh-aduh, tetapi tidak juga aku tenang.

Padahal Engkau bersemayam di atas takhta yang suci,*

ya Allah, kemuliaan Israel.

KepadaMu leluhur kami percaya,*

mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.

KepadaMu mereka berseru, dan mereka Kaubebaskan,*

kepadaMu mereka berharap, dan tidak Kaukecewakan.

Tetapi aku ini cacing dan bukan manusia,*

cercaan orang dan hinaan rakyat.

Semua yang melihat aku mengolok-olok aku,*

mereka mencibirkan bibir dan meggelengkan kepala:

“Ia hidup untuk Tuhan? Biar Tuhan meluputkannya,*

biar Tuhan melepaskannya, kalau Tuhan memang menaruh perhatian”.

Ya Tuhan, Engkau yang mengeluarkan daku dari kandungan,*

yang meletakkan daku dengan aman pada dada ibuku.

KepadaMu aku diserahkan sejak lahir,*

sejak aku dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.

Jangan tinggal jauh dari padaku, sebab musuh telah dekat,*

dan tak ada penolong bagiku.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Ia dihina dan disalibkan orang, manusia penuh sengsara, yang tahu apa artinya menderita.

Antifon

Mereka membagi-bagi pakaian Yesus di antara mereka dan membuang undi atas jubahNya.

Mazmur 21 (22) II

Seperti lembu-lembu jantan, musuh mengerumuni aku,*

seperti banteng raksasa, mereka mengepung aku.

Mereka mengangakan moncong terhadap aku,*

seperti singa yang menerkam dan mengaum.

Seperti air aku tercurah,*

dan segala tulangku terlepas dari sendinya.

Hatiku menjadi seperti lilin,*

hancur luluh dalam diriku.

Kekuatanku kering seperti beling,*

lidahku melekat pada langit-langit mulutku.

Seperti anjing, musuh mengerumuni aku,*

gerombolan penjahat mengepung aku.

Mereka menusuk tangan dan kakiku,*

segala tulangku dapat kuhitung.

Mereka menonton dan memandangi aku,†

membagi-bagi pakaianku di antara mereka,*

dan membuang undi atas jubahku.

Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah jauh,*

kekuatanku, bergegaslah menolong aku!

Lepaskanlah aku dari pedang,*

dan nyawaku dari cengkeraman anjing.

Selamatkanlah aku dari moncong singa,*

dan tolonglah aku mengalahkan tanduk banteng.

Maka aku akan memansyhurkan namaMu kepada saudaraku,*

dan memuji Engkau di tengah-tengah umat.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Mereka membagi-bagi pakaian Yesus di antara mereka dan membuang undi atas jubahNya.

Antifon

Seluruh keluarga bangsa-bangsa akan bersembah sujud di hadapan Tuhan.

Mazmur 21 (22) III

Hai orang takwa, pujilah Tuhan,†

segenap keturunan Yakub, muliakanlah Tuhan,*

gentarlah terhadapNya, hai segala keturunan Israel.

Karena Tuhan tidak menganggap hina,*

dan tidak merasa jijik terhadap kesengsaraan orang miskin.

Tuhan tidak menyembunyikan wajahNya terhadap mereka,*

tetapi mendengarkan seruan mereka.

Aku akan memuji Engkau dalam himpunan umat,*

dan menepati nadarku di depan orang takwa.

Orang miskin akan makan dan dikenyangkan,†

orang yang mencari Tuhan akan memuji Dia,*

semoga mereka hidup untuk selamanya!

Seluruh bumi akan insaf dan berbalik kepada Tuhan,*

dan seluruh keluarga bangsa-bangsa akan bersembah sujud di hadapanMu.

Karena Tuhan sungguh raja,*

dan penguasa atas para bangsa,

semua penghuni alam maut akan menyembah Dia,*

dan semua orang mati akan berlutut di hadapanNya.

Tetapi aku, aku akan hidup bagi Tuhan,*

dan keturunanku akan mengabdi kepadaNya.

Mereka akan mengisahkan karya Tuhan turun-temurun,*

dan mewartakan keadilanNya kepada anak cucunya.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Seluruh keluarga bangsa-bangsa akan bersembah sujud di hadapan Tuhan.

BACAAN SINGKAT

(Yer 3,12.14a)

Kembalilah, itulah firman Tuhan, dan Aku tidak akan menolak kamu. Sebab Aku ini berbelaskasih, dan murkaKu tidak abadi. Pulanglah hai anak-anak yang telah murtad, itulah firman Tuhan.

P: Persembahan kepada Allah ialah jiwa yang menyesal.

U: Hati remuk-redam takkan Kautolak.

DOA PENUTUP

Ya Tuhan, curahkanlah rahmatMu dalam hati kami. Kami ini sering lemah. Maka bila kami menyeleweng, bimbinglah kami kembali agar kami selalu setia kepada perintahMu. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin

PENUTUP

P: Marilah memuji Tuhan.

U: Syukur kepada Allah.

 

Sumber: Buku Ibadat Harian Ofisi Menurut Ritus Roma Diterbitkan Oleh PWI-Liturgi, 1995, Penerbit Nusa Indah Ende.

 

 

Inti Pesan Paus untuk Hari Komsos

Fri, 24/03/2017 - 09:45

SEJAK 2014 Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyelenggarakan Hari Komunikasi Sosial secara nasional selama sepekan.

“Dikemas dalam satu pekan yang kami sebut sebagai Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN),”ujar Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI, RD Kamilus Pantus, di Wisma Unio Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT, Jumat (24/3/2017).

Menurut Kamilus, KWI setiap tahun menunjuk keuskupan tertentu untuk merayakan PKSN secara nasional. “PKSN mendatang, pada 28 Mei, akan diselenggarakan di Keuskupan Purwokerto,”ujar Kamilus di hadapan siswa Seminari Menengah Sinar Buana, Weetebula.

Jangan Takut, Aku Besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman” merupakan tema atas refleksi dan pesan yang disampaikan Paus Fransiskus. “Untuk memahami alam pikiran Paus atau mengerti inti pesan ini, kita bisa pelajari lewat Kitab Suci yang menjadi acuannya, yakni Yesaya 43:5,”jelas Kamilus.

Yesaya mengungkapkan Sabda Allah yang meneguhkan yang menyatakan kehadiranNya setiap saat dalam hidup kita sebagai orang beriman.

“Kehadiran Yang Ilahi dalam hidup manusia ini menjadi kekuatan agar kita semakin berani menegakkan kebenaran iman, harapan dan kasih dalam hidup,”tegas Kamilus.

Di akhir paparannya, Kamilus mengajak para seminari berefleksi lewat sebuah film garapan Studio Audio Visual PUSKAT bersama Komsos KWI berjudul “Asa itu Ada.”

Calon Imam (dan Penulis) Muda Weetebula Siap Hasilkan Buku

Fri, 24/03/2017 - 09:10

WEETEBULA – Seminar nasional bertemakan “Peran Gereja Memerangi Hoax” yang diadakan kemarin (23/3) dilanjutkan dengan pelatihan jurnalistik untuk para seminaris Sinar Buana, Weetebula. Sebanyak 20 seminaris SMA dan 10 yang SMP mendalami ilmu menulis bersama Tim Indonesia Menulis, Budi Sutedjo dan Maria Herjani.

“Dari 30 siswa ini, mereka diharapkan melanjutkan majalah dinding yang mati hidup mati hidup di seminari. Mereka juga akan membagikan materi pelatihan ini kepada 300 anak lain yang belum berpartisipasi pada pelatihan ini,” kata RD Yustinus Guru Kedi, kepala sekolah Seminari Sinar Buana.

Pelatihan yang berlokasi di Wisma Unio Keuskupan Weetebula ini berlangsung dari kemarin sore sampai besok (25/3). Sejak artikel ini ditulis, peserta sudah mengikuti sesi penulisan kata mutiara dan penulisan fakta. Pagi ini setelah misa harian, mereka diajak untuk memahami pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia 2017 yang dibawakan oleh RD Kamilus Pantus, Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI.

“Meski masih muda, ternyata semangat mereka (peserta pelatihan) dalam pelatihan ini luar biasa,” kata Maria Herjani seusai sesi pengantar kemarin.

Selanjutnya, mereka diajak untuk membuat pesawat kertas bertuliskan mimpi mereka, lalu menerbangkannya sebagai simbol pencapaian mimpi tersebut. Pelatihan dilanjutkan dengan mempraktikkan menulis fakta, lalu beralih ke jenis tulisan lain seperti opini dan feature.

“Nantinya, tulisan mereka akan diterbitkan menjadi buku kecil. Di dalamnya ada foto mereka, kata mutiara, dan mimpi yang sudah mereka tulis sendiri. Ini juga dapat membakar semangat mereka untuk berkarya,” ujar Budi Sutedjo.

Brevir Pagi, Jumat: 24 Maret 2016, PEKAN III PRAPASKAH – O PEKAN III – HARI BIASA PEKAN III PRAPASKAH Ibadat Sore 1: Besok HARI RAYA KABAR SUKACITA (Putih)

Fri, 24/03/2017 - 04:00

PEMBUKAAN

P: Ya Allah, bersegeralah menolong aku.

U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

MADAH

Kristus surya keadilan

Kini fajar Kaudatangkan

Enyahkanlah kegelapan

Tampilkanlah kehidupan.

S’moga pertobatan kami

Di masa Prapaska ini

menurunkan rahmat ampun

Atas dosa yang bertimbun.

Bila tiba hari paska

Perkenankan para hamba

Bersorak kegembiraan

Merayakan kebangkitan.

Ya Tritunggal mahasuci

Trimalah pujian kami

Yang kami lambungkan ini

Dengan ikhlas penuh bakti. Amin.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon

Terhadap Engkaulah aku berdosa, ya Tuhan, kasihanilah aku.

Mazmur 50 (51)

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu,*

menurut besarnya rahmatMu, hapuskanlah kesalahanku.

Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,*

dan cucilah aku dari dosaku.

Kusadari pelanggaranku,*

dosaku selalu membayang di hadapan mataku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkaulah aku berdosa,*

yang jahat di hadapanMu kulakukan.

Jadi ternyata Engkau adil bila menghukum aku,*

dan tepatlah keputusanMu.

Sungguh aku dilahirkan dalam kesalahan,*

dan dalam dosa aku dikandung ibu.

Sungguh Engkau berkenan akan ketulusan hati,*

Engkau meresapkan kebijaksanaan ke dalam batinku.

Bersihkanlah aku, agar aku jadi murni,*

basuhlah aku agar jadi putih melebihi salju.

Sampaikanlah kabar sukacita kepadaku,*

semoga hati yang Kauremukkan bersorak gembira.

Palingkanlah wajahMu dari dosaku,*

hapuskanlah segala kesalahanku.

Ciptakanlah hati murni bagiku, ya Allah,*

baharuilah semangat tabah dalam batinku.

Janganlah Kaubuang aku dari hadapanMu,*

janganlah Kauambil rohMu yang kudus dari padaku.

Kembalikanlah kepadaku kegembiraan atas keselamatanMu,*

dan berilah aku semangat yang rela.

Maka aku akan mengajarkan sikap hatiMu kepada orang berdosa,*

supaya mereka kembali kepadaMu.

Lepaskanlah aku dari dosa pembunuhan, ya Allah penyelamatku,*

maka aku akan memashyurkan keadilanMu.

Ya Tuhan, sudilah membuka bibirku,*

supaya mulutku mewartakan pujianMu.

Engkau tak berkenan akan kurban sembelihan,*

kurban bakar yang kupersembahkan, tidak Kausukai.

Persembahan kepada Allah, ialah jiwa yang menyesal,*

hati remuk redam takkan Kautolak.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Terhadap Engkaulah aku berdosa, ya Tuhan, kasihanilah aku.

Antifon

Ya Tuhan, kami tahu bahwa kami orang berdosa.

Yer 14,17-21

Mataku becucuran air mata,*

siang malam tiada hentinya.

Sebab malapetaka besar menimpa rakyatku,*

suatu malapetaka yang amat besar.

Bila aku keluar ke padang,*

kulihat orang yang ditembusi pedang.

Bila aku masuk kota,*

kulihat orang yang merana kelaparan.

Bahkan nabi dan imampun,*

berkeliaran tanpa tujuan.

Sungguhkah Yehuda Kautolak sama sekali?†

Merasa muakkah Engkau terhadap Sion?*

Mengapa kami Kaupukul tanpa harapan akan sembuh?

Kami berharap akan selamat, tetapi tak ada kabar baik.*

Kami berharap akan sembuh, tetapi hanya ada kegelisahan.

Ya Tuhan, kami tahu bahwa kami orang berdosa,†

dan bahwa leluhur kami berbuat jahat.*

Sungguh, kami telah berdosa terhadapMu.

Demi kemuliaan namaMu, janganlah menolak kami,†

janganlah membiarkan takhtaMu yang mulia dihinakan.*

Ingatlah, ya Tuhan, jangan membatalkan perjanjianMu dengan kami.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Ya Tuhan, kami tahu bahwa kami orang berdosa.

Antifon

Tuhan itu Allah, kita umatNya, domba penggembalaanNya.

Mazmur 99 (100)

Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi,*

berbaktilah kepadaNya dengan gembira.

Marilah menghadap Tuhan dengan sukaria,*

ketahuilah bahwa Tuhan itu Allah.

Dialah pencipta, dan kita milikNya,*

kita umatNya, domba penggembalaanNya.

Masukilah pintu gerbangNya dengan lagu syukur,*

pelataranNya dengan puji-pujian.

Bersyukurlah kepadaNya, pujilah namaNya,*

sebab Tuhan itu baik.

Cinta kasihNya tetap selama-lamanya,*

dan kesetiaanNya turun-temurun.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon

Tuhan itu Allah, kita umatNya, domba penggembalaanNya.

BACAAN SINGKAT

(Yes 53,11b-12)

Orang saleh itu, hambaKu, akan menyucikan semua orang dengan memikul sendiri kesalahan mereka. Maka itu, Aku akan memberi dia semua orang menjadi miliknya, sebab ia menyerahkan diri kepada maut dan digolongkan di antara kaum durhaka. Padahal ia menanggung dosa semua orang dan menjadi pengantara bagi orang-orang jahat.

LAGU SINGKAT

P: Tuhan akan melepaskan daku dari perangkap,* Dan dari jerat musuh.

  1. Tuhan akan melepaskan daku dari perangkap,* Dan dari jerat musuh.

P: Dari lawan yang memfitnah.

U: Dan dari jerat musuh

P: Kemuliaan kepada Bapa Putera dan Roh Kudus.

U: Tuhan akan melepaskan daku dari perangkap,* Dan dari jerat musuh.

Antifon Kidung

Guru, hukum manakah yang paling utama? Yesus menjawab: Hendaklah engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati.

KIDUNG ZAKARIA

(Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*

sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*

putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*

dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*

dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*

dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*

akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*

dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*

sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*

berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan,*

Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*

dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kemuliaan kepada Bapa dan putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon Kidung

Guru, hukum manakah yang paling utama? Yesus menjawab: Hendaklah engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati.

DOA PERMOHONAN

Kristus Tuhan kita telah wafat di salib untuk menghidupkan kita. Patutlah kita bersyukur kepadaNya dan berdoa dengan tulus hati:

U: Hidupkanlah kami dengan wafatMu, ya Tuhan.

P: Guru dan penyelamat kami, Engkau telah membuktikan kesetiaanMu kepada kami, dan memperbaharui kami dengan kemuliaan sengsaraMu,* semoga kami jangan berkeras hati dalam kejahatan.

U: Hidupkanlah kami dengan wafatMu, ya Tuhan.

P: Semoga kami hari ini rela mengurangi makanan kami,* untuk menolong suadara-saudara kami yang melarat.

U: Hidupkanlah kami dengan wafatMu, ya Tuhan.

P: Semoga kami menerima hari pertobatan ini dengan penuh bakti,* dan menyucikannya bagiMu dengan karya amal.

U: Hidupkanlah kami dengan wafatMu, ya Tuhan.

P: Luruskanlah hati kami yang memberontak terhadapMu,* dan berilah kami kerelaan dan kebesaran hati.

U: Hidupkanlah kami dengan wafatMu, ya Tuhan.

BAPA KAMI

Bapa kami yang ada di surga,

dimuliakanlah namaMu.

Datanglah kerajaanMu.

Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari hari ini.

Dan ampunilah kesalahan kami,

seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin

DOA PENUTUP

Ya Tuhan, curahkanlah rahmatMu dalam hati kami. Kami ini sering lemah. Maka bila kami menyeleweng, bimbinglah kami kembali agar kami selalu setia kepada perintahMu. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin

PENUTUP

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U: Amin.

 

Sumber: Buku Ibadat Harian Ofisi Menurut Ritus Roma Diterbitkan Oleh PWI-Liturgi, 1995, Penerbit Nusa Indah Ende.

 

 

Renungan Harian Jumat, 24 Maret 2017 (Markus 12:28b-34)

Fri, 24/03/2017 - 00:00

 

Mencintai Tuhan Diwujudkan Lewat Mencintai Sesama

(Markus 12: 28b- 34)

 

Saudara-saudari… Pada suatu sore, seorang suster membagi pengalamannya sewaktu dia berlibur di kampung halamannya. Keluarganya sangat senang menyambut dia. Pada waktu malam pergantian tahun lama ke tahun baru, mereka duduk berdoa menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan atas tahun lama yang sebentar lagi mereka lewati dan menyambut tahun baru yang tidak diketahui apa yang akan terjadi. Sesudah doa mereka bersukaria. Mereka semua rasakan hangatnya kasih antara mereka. Besok sorenya sekitar jam 6, seorang pemuda, saudara sepupu dari suster datang. Bapa dari suster memberi dia uang untuk beli satu kerat bir. Sewaktu satu kerat bir datang, suster menyuruh sepupunya minum di tempat lain, bukan di rumah kediaman mereka karena suster tahu bahwa sepupunya biasa mabuk dan sewaktu dia mabuk sering beradu argumentasi dengan orang lain dan selanjutnya terjadi perkelahian. Sepupunya setuju. Sewaktu sepupunya pergi, teman-teman dari sepupunya, yang semuanya sudah mabuk mencegat dia, dan bertanya, dia mau ke mana? Sepupu suster dengan polos katakan bahwa suster tidak mengizinkan dia untuk minum di rumah. Mendengar perkataan itu, mereka yang sudah mabuk mencari suster dan mau membunuh suster. Sambil berjalan menuju rumah orangtua suster, pemuda-pemuda itu teriak memanggil suster, melempari batu ke rumah orangtua suster. Kejadian itu terjadi sekitar jam 7 malam. Karena merasa takut, suster lari sekuat tenaga ke hutan, dan menyembunyikan dirinya di hutan selama beberapa jam. Sekitar jam 11 malam ia kembali lagi ke rumah. Malam itu juga suster dihantar oleh saudaranya ke kampung tetangga karena pemabuk tetap mencari suster. Sepanjang malam suster berdoa meminta bantuan Tuhan agar pemuda-pemuda yang mabuk itu kembali sadar bahwa apa yang sedang mereka perbuat sungguh tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.  Besoknya suster kembali ke rumah orangtuanya dan mengajak orangtuanya untuk sama-sama berdoa untuk pemuda-pemuda yang selalu mabuk itu agar bertobat. Sejak kejadian itu sampai suster kembali lagi ke biara, dia tidak pernah bertemu mereka lagi. Mereka sudah serahkan uang kepada orangtua suster sebagai tanda ucapan maaf. Orangtua menyerahkan uang itu kepada suster tetapi suster meminta orangtua untuk serahkan uang itu kepada pastor, meminta pastor mendoakan mereka agar betul bertobat. Menurut ceritera orangtua suster, bahwa pemuda-pemuda itu sudah bertobat dan tidak mabuk lagi.

Saudara-saudari…apa yang dilakukan suster ini adalah salah satu bentuk dari perwujudan hukum cinta kasih. Suster yang hidup hariannya selalu berkomunikasi dengan Tuhan, pikirannya selalu fokus pada Tuhan, hatinya selalu merasa dekat dengan Tuhan, dan selalu merasakan kekuatan dari Tuhan. Semua pengalaman kedekatannya dengan Tuhan itu sudah menjadi inspirasi baginya untuk mengampuni pemuda-pemuda yang berniat buruk ke atasnya. Dia sungguh berdoa untuk mereka agar mereka bertobat. Itulah perwujudan hukum cinta kasih. Bahwa dia mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan dengan segenap kekuatannya. Rencana buruk dari beberapa pemuda itu dibalasnya dengan kasih, dibalasnya dengan doa, dibalasnya dengan mempersembahkan misa khusus untuk mereka agar bertobat dan mengubah sikap sesuai dengan kehendak Allah. Selain suster mencintai Tuhan, dia juga sudah mencintai sesamanya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menghayati dan mengamalkan hukum cinta kasih lewat mencintai saudara-saudari kita yang berbuat jahat kepada kita?

Marilah saudara-saudari… mencintai Tuhan baru akan mempunyai arti kalau kita bisa wujudkan cintai itu lewat saudara – saudari kita, secara khusus kepada mereka yang selalu menyakiti kita.  Mungkin hal itu terasa berat, tetapi  kalau kita jalankan itu bersama Kristus yang sudah disalibkan dan dari salib Dia mengampuni mereka yang bersalah kepadaNya, pasti kita pun akan berhasil.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan kita agar kita sanggup melayani sesama, secara khusus mereka yang menyakiti kita dengan demikian kita pun sanggup mewujudkan hukum cinta kasih itu lewat saudara-saudari kita.

Kita meminta Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!

 oleh: Rm Fredy Jehadin SVD

24 Maret, Sta. Katarina dari Swedia

Fri, 24/03/2017 - 00:00

 

Nama “Katarina” berarti “perempuan murni”. Nama aslinya adalah Katarina Ulfsdotter, kedua dari delapan anak St. Brigida. Ia dipaksa menikah di usia muda, tapi sepakat untuk hidup perawan dengan suaminya. Pada usia 19 tahun, Katarina mengikut ibunya ke Roma, untuk hidup ala biarawati dan berziarah. Ia memindahkan relikui ibunya ke biara Vadstena, di mana ia menetap, dipilih sebagai kepala biara, dan meninggal di situ.

sumber dan gambar: #santibeatiit

6 Kiat Mudah Menjadi Penulis Produktif ala Budi Sutedjo

Thu, 23/03/2017 - 21:40

MENJADI penulis produktif tidaklah sulit, asalkan kita punya niat. Budi Sutedjo Dharma Oetomo dari Indonesia Menulis memberi kiat-kiat Sederhana bagaimana menjadi penulis dirangkum dari pembicaraannya selama Pelatihan Menulis Produktif di Aula Wisma Unio, Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT, Kamis (23/3/2017) sebagai berikut :

1. Jangan terpenjara pada kata-kata berbakat. Mulailah menulis meski merasa tidak tidak berbakat.

2. Jangan tunggu sampai tua baru baca buku, karena membaca merupakan modal menulis.

3. Sering-seringlah ke perpustakaan untuk membaca buku. Anda bisa membaca buku di perpustakaan dan menuliskan kembali pendapat penulis.

4. Bawalah buku/kertas catatan di mana pun/ kapan pun untuk menulis ide yang bisa muncul setiap saat.

5. Cermatlah mengamati peristiwa/sesuatu sehari-hari. Hal-hal kecil bisa menjadi ide dan bahan tulisan.

6. Menulis bisa membuat awet ide/gagasan yang ingin kita sampaikan kepada orang lain dibanding hanya kata-kata/pendapat lisan.

Ulasan Eksegese Minggu Prapaskah IV/A (Yoh 9:1-41; 1Sam 16:1b, 6-7, 10-13a)

Thu, 23/03/2017 - 19:55

 

MENGENALI DIA DALAM TERANGNYA
Rekan-rekan yang budiman!

Kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir (Yoh 9:1-41) ini dibacakan dalam perjalanan kita selama Minggu Prapaskah IV tahun ini. Orang buta ini sebenarnya tidak minta atau dipintakan agar bisa melihat. Tapi seperti dikisahkan Yohanes, Yesus menghidupkan mata orang itu. Penyembuhan kali ini terjadi lewat tindakan meramu lumpur dengan ludah dan persyaratan mandi di sebuah kolam. Boleh dicatat juga, peristiwa ini terjadi pada hari Sabat. Ketika diminta menjelaskan bagaimana ia jadi bisa melihat, orang itu memang tahu apa yang terjadi tapi belum kenal siapa penolongnya tadi. Kemudian ketika bertemu dan berbicara dengan Yesus sendiri, barulah ia mengenali siapa sebenarnya dia.

Bacaan pertama (1Sam 16:1b, 6-7, 10-13a) menceritakan bagaimana Samuel dituntun Tuhan untuk mengenali orang pilihan-Nya, yakni Daud, anak bungsu dari Isai, agar diurapi menjadi pemimpin umat. Samuel mendapat kemampuan untuk melihat yang dilihat Tuhan, yakni yang lebih dalam daripada kenampakan luar belaka. Kemampuan batin ini amat menentukan. Namun demikian, tidaklah Samuel segera mendapatkannya. Ketika melihat ketujuh anak Isai yang lain, ia masih memakai ukuran-ukuran manusiawi bagi calon pemimpin. Tetapi kesadaran batinnya berkembang. Ia melihat lebih jauh. Tak didapatinya seorangpun dari ketujuh anak Isai tadi patut diurapinya. Masih ada yang bungsu yang sedang berada di luar “menggembalakan kambing domba” kata Isai, ayahnya. Dan memang, Daud, anak bungsu inilah yang diurapi Samuel. Tindakan ini meresmikan Daud sebagai. “Yang Terurapi”, dan bagi pendengar kisah yang paham Ibrani, segera terpikir bahwa inilah Mesias yang dipilih Yang Mahakuasa lewat ketajaman mata batin Samuel.q

Baik si buta dalam Injil Yohanes maupun Samuel dalam bacaan pertama sama-sama mendapat tuntunan dari atas untuk setapak demi setapak sampai kepada yang benar. Tuntunan dan bimbingan ilahi dapat terjadi pada dua orang yang amat berbeda seperti halnya Samuel, nabi besar, atau orang buta tanpa nama yang dikisahkan Yohanes. Berikut ini akan ditinjau lebih jauh petikan Injil Yohanes.

TERANG BAGI DUNIA

Ada anggapan bahwa cacat badaniah erat berhubungan dengan dosa. Ini tercermin dalam Kel 9:1-7 (penyakit sampar sebagai hukuman bagi orang Mesir); Mzm 38:2-6 (sakit akibat kebodohan pendosa); Yeh 18:20 (kutipan anggapan umum bahwa anak menderita akibat dosa orang tuanya). Bahkan murid-murid percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orang yang mengandungnya (Yoh 9:2). Tapi Yesus tegas menolak anggapan itu. Ia mengatakan bukan orang itu atau orang tuanya berdosa (ay. 3). Dalam bagian kedua ay. 3 ia mengalihkan pemikiran murid-muridnya dari sikap melacak asal mula cacat sejak lahir itu menjadi kesadaran bahwa karya ilahi yang terjadi pada diri orang itu. Selanjutnya ditambahkan dalam ay. 5, “Selama aku ada di dunia, akulah terang bagi dunia.”

Injil Yohanes kerap memakai gagasan “terang” dengan maksud mengingatkan orang akan terang yang diciptakan pada awal karya penciptaan (Kej 1:3-5). Terang ini menjadi dasar bagi hari-hari penciptaan selanjutnya. Pada hari keenam manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:27-31), artinya sempurna. Penciptaan dan pemberkatan manusia ditampilkan sebagai karya penciptaan yang paling besar dan paling akhir. Karena itu, pada hari ketujuh Pencipta beristirahat. Dengan menyebutkan kata-kata Yesus tentang dirinya sebagai “terang”, Yohanes bermaksud menampilkan Yesus sebagai awal karya penciptaan yang melandasi kejadian selanjutnya sampai ke penciptaan manusia yang utuh. Latar ini memperjelas makna ay. 4 “supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia”, maksudnya, agar karya penciptaan juga menjadi nyata dalam diri orang buta sejak lahir itu. Orang itu memperoleh penglihatannya dan menjadi manusia yang layak, bukan lagi si buta peminta-minta. Dalam diri orang itu terjadi karya penciptaan juga: kegelapan, kebutaan sejak awal, digantikan dengan terang penglihatan dalam perjumpaan dengan sabda ilahi sendiri. Orang itu juga menjadi pribadi yang berpikir mandiri. Ini jelas dalam tanya jawab dengan orang-orang yang menanyainya dan khususnya dengan Farisi nanti.

MELIHAT AGAR PERCAYA

Ketika ditanyai bagaimana ia jadi bisa melihat, orang tadi menyebut “Orang yang bernama Yesus itu” mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam Siloam (ay. 11). Ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, jawabannya makin tegas (ay. 17), “Ia itu nabi!” Tetapi orang-orang Farisi itu berusaha mengintimidasi dengan mempersoalkan kok terjadi pada hari Sabat! Orang itu kemudian bertemu Yesus lagi, tapi kali ini ia dapat melihatnya. Ketika Yesus menanyainya apa ia percaya kepada “Anak Manusia”, orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya. Yesus mengatakan bukan saja ia melihat tapi sedang berbicara dengannya. Ini penjelasan dari Yesus sendiri bahwa yang dimaksud dengan “Anak Manusia” ialah dirinya sendiri. Saat itu juga orang tadi bersujud dan berseru (ay. 38), “Aku percaya, Tuhan!”

Mula-mula orang tadi hanya mendengar bahwa yang menyembuhkannya ialah orang yang bernama Yesus. Tapi setelah ditanyai kok bisa terjadi begitu, ia menyimpulkan, orang itu pastilah seorang nabi. Dan ketika berjumpa sendiri dengannya dan melihatnya serta mendapatkan penjelasan dari Yesus sendiri, orang itu akhirnya bersujud dan percaya. Sebaliknya, orang Farisi bisa melihat tapi tak percaya. Mengapa? Karena mereka tidak meluangkan diri bagi terang yang sesungguhnya. Gagasan-gagasan saleh sepihak yang mereka pertahankan mati-matian itu memenuhi diri mereka dan akhirnya menggelapkan mata batin mereka sendiri.

MELANGGAR KEKUDUSAN SABAT?

Diceritakan oleh Yohanes bagaimana Yesus mengerjakan serangkai tindakan seperti yang lazim dilakukan seorang penyembuh tradisional: meramu lumpur dengan ludah dan memoleskan ke mata orang buta. Ini terjadi di dekat Bait Allah seperti jelas dari konteksnya, Yoh 8:59. Baru saja Yesus meninggalkan Bait Allah menghindar dari ancaman dirajam di situ. Dalam berjalan menjauhi tempat itu ia melihat orang buta tadi (Yoh 9:1). Saat yang tepat. Terang yang sesungguhnya dilempar keluar oleh mereka yang semestinya meluangkan tempat baginya. Maka kini ia datang ke tempat yang tak terduga-duga, ke orang yang sudah tak berpengharapan lagi. Setelah mengoles mata orang tadi, Yesus menyuruhnya berendam di sebuah kolam yang bernama Siloam. Berjalan kaki dari wilayah Bait Allah ke kolam Siloam di ujung selatan Yerusalem (hampir 1 km dengan belok-beloknya) dalam perhitungan orang Farisi sudah melebihi batas yang diperbolehkan dilakukan pada hari Sabat. (Lihat Kis 1:12 mengenai jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat: dari Bukit Zaitun ke Yerusalem, paling-paling 500 meter.) Jadi di mata kaum Farisi, bukan saja Yesus melanggar hukum Sabat dengan meramu pengobatan, tetapi malah menyuruh orang melanggar hukum Sabat pula.

Bolehkah dibilang Yesus bertindak sebagai nabi yang tak mau dihalangi rambu-rambu kelembagaan adat agama yang menyesakkan? Amatan seperti ini sering terdengar. Tetapi tak usah arah pemikiran ini diikuti begitu saja. Salah-salah kita malah hanya akan memperlawankan Yesus dengan kaum Farisi dengan cara kita sendiri, dan bukan dengan mengikuti maksud Injil.

Injil Yohanes tidak menampilkan Yesus sebagai penyangkal lembaga Sabat atau lembaga kesalehan manapun. Yohanes ingin menunjukkan bagaimana Yesus membuat orang buta sejak lahir tadi menjadi manusia utuh, bisa melihat dan malah lebih daripada orang-orang lain. Yang dilakukan Yesus sebetulnya memungkinkan Sabat bisa betul-betul terjadi. Sabat itu kan keadaan di mana Pencipta bisa memandangi ciptaan-Nya utuh tak kurang apapun, tidak cacat, lebih-lebih manusia yang diciptakan-Nya sebagai karya puncaknya. Itulah hari Sabat yang sesungguhnya.

ISYARAT

Sore itu saya berkonsultasi ke Oom Hans mengenai beberapa perkara keramat dari dunia sana. Di sebelah kursi goyangnya bertengger rajawali yang susah diduga umurnya. Sesore itu kami bicarakan kata-kata Yesus seperti disampaikan dalam Yoh 9:39, “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya siapa saja yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya siapa saja yang dapat melihat, menjadi buta.” Dari pembicaraan itu semakin jelas bahwa kata “menghakimi” di situ kiranya bukan berarti memeriksa siapa salah, siapa saleh, siapa patut diganjar, siapa mesti kena hukuman. Kedatangan Yesus justru untuk menyingkirkan kegelapan yang merundung kemanusiaan justru karena Yesus itulah Sang Terang. Persis seperti dalam penciptaan. Itulah makna pemakaian kata “menghakimi” di situ. Orang yang matanya terhalang akan mampu melihat terang yang sungguh, tapi mereka yang merasa mengukuhi terang malah bisa jadi buta!

Begini penjelasan Oom Hans: “…Karya penciptaan masih berlangsung sekarang ini juga. Dalam hidup kalian! Ada kalanya yang kalian buat bisa diterima apa adanya (seperti pada orang yang dimelekkan itu), atau diterima dengan kurang leluasa (kayak oleh orang tua si buta yang takut mengakui Yesus), bisa jadi juga dinilai mengurangi kemurnian agama (cara orang Farisi). Mengutuhkan kemanusiaan kok dianggap keliru, dan anehnya, dengan alasan mau membela keluhuran ilahi sendiri (kekudusan sabat)! Bisakah orang memperlawankan kebesaran ilahi dengan pengertian sempit kita mengenai siapa Dia itu?” Lalu ia menyulut pipa cangklongnya dan masuk dalam arus-arus keramat. Rajawali yang hingga kini masih diam tepekur itu pelan-pelan membuka sayapnya lebar-lebar, mengatupkannya lagi, lalu memiringkan kepala mau berkomentar. Serasa sepasang mata yang tajam itu melontarkan isyarat, “Bukalah mata batin kalian – terang sudah makin kelihatan!”

Salam hangat,
A. Gianto

Pages