UCAN Indonesia

Subscribe to UCAN Indonesia feed UCAN Indonesia
Sebuah layanan dari UCA News
Updated: 2 hours 22 min ago

Uskup Memimpin Pencarian Orang Hilang di Marawi

Fri, 24/11/2017 - 12:37

Sejumlah orang Kristen masih hilang di Marawi sebulan setelah militer Filipina membebaskan kota tersebut dari serangan teroris menyusul pengepungan selama lima bulan yang menewaskan lebih dari seribu orang.

Tim Aksi Tanggap Darurat Kemanusiaan di Daerah Otonom Muslim Mindanao  melaporkan bahwa pada minggu lalu setidaknya 293 orang dalam daftar Palang Merah masih belum diketahui keberadaannya, walaupun belum jelas berapa banyak orang Kristen.

Jumlah yang hilang bisa jauh lebih tinggi, menurut LSM yang bekerja di wilayah ini. Komite manajemen orang yang meninggal dan hilang dari LSM “Task Force Bangon Marawi” tidak memiliki daftar resmi orang hilang.

“Mereka tidak ingin keluar dan mencatat nama mereka secara resmi,” kata Revie Sani, ketua komite tersebut, dan menambahkan bahwa kleuarga yang hilang “takut ditandai sebagai saudara seorang ekstremis.”

“Tantangannya di sini adalah bahwa orang-orang dengan keluarga yang hilang tidak ingin menggunakan jalur resmi. Mereka mencari sanak keluarga mereka yang hilang menggunakan media sosial namun mereka tidak meminta bantuan kami,” katanya.

Uskup Edwin de la Pena dari Marawi, mengatakan bahwa dia terus mencoba dan menemukan orang-orang Kristen yang hilang yang diduga melarikan diri saat orang-orang bersenjata kelompok Maute menyerang dan menduduki kota tersebut pada tanggal 23 Mei.

“Sebagai seorang uskup, adalah kewajiban bagi saya untuk mencari umat saya, menemukan mereka dan bagimana keadaan kehidupan, bagaimana mengatasi keadaan mereka,” kata prelatus tersebut dalam sebuah jumpa pers di Manila pada 21 November.

Uskup mengatakan bahwa pencarian difokuskan untuk menemukan kelompok orang Kristen “karena sangat penting membangun masyarakat sebelum membangun struktur.”

“Prioritas kami adalah membantu pengungsi sesuai dengan koridor perdamaian,” katanya, seraya menambahkan bahwa sudah ada relawan yang menjelajahi provinsi-provinsi sekitarnya untuk menemukan keluarga-keluarga Kristen pengungsi dari Marawi.

Pada puncak pertempuran di bulan Juni, pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro menetapkan “koridor perdamaian” untuk membantu warga sipil yang terkena dampak perang di Marawi.

Koridor perdamaian yang disebut mencakup beberapa kota di provinsi Lanao Del Sur, Cotabato dan Davao di wilayah selatan Mindanao.

Uskup de la Pena mengatakan bahwa kelompok Gereja Katolik dari Marawi sedang melakukan “penjangkauan solidaritas” dan program rehabilitasi pembangunan perdamaian di masyarakat di sepanjang koridor.

Dia mengatakan bahwa para relawan juga memperhatikan kebutuhan sandera yang dibebaskan oleh militer selama akhir konflik. “Tidak ada kelompok lain yang melihat kebutuhan para mantan sandera tersebut,” kata uskup tersebut.

“Mendengarkan cerita mereka membuat Anda merasa … maaf, bagi mereka bahwa mereka harus melalui [cobaan berat],” kata Uskup de la Pena. “Bagaimana mereka bisa keluar dari neraka jika tidak ada keajaibannya,” tambahnya.

Pada 20 November, militer Filipina menyerahkan kepada Uskup de la Pena, Pastor Teresito Soganub, vikjen Marawi yang disandera oleh para teroris bersama beberapa pekerja gereja.

Uskup mengatakan bahwa pastor tersebut “baik-baik saja” dan badannya bertambah berat selama dua bulan dia melakukan pembekalan dengan militer setelah dibebaskan pada bulan September.

Pastor Soganub menghadiri retret minggu ini di lokasi yang tidak diungkapkan.

Prelatus tersebut mengatakan bahwa pastor tersebut harus “menjalani sebuah proses” sebelum diberi tugas paroki lagi. “Mungkin butuh waktu lama,” kata Uskup Dela Pena. “Kita akan menyeberangi jembatan itu sampai kita sampai di sana,” tambahnya.

Sekitar 10.000 warga kembali ke rumah mereka di Marawi minggu ini setelah tinggal di tempat penampungan sementara dan di tempat-tempat evakuasi di luar kota selama enam bulan terakhir. Hampir 400.000 orang mengungsi akibat pertempuran tersebut.

Umat Katolik Filipina Mengalami ‘Persekusi Media Sosial’

Fri, 24/11/2017 - 11:37

Umat Katolik di Filipina tetap mengalami persekusi meskipun mereka adalah kelompok mayoritas di Filipina, kata seorang imam pada serangkaian kegiatan yang diadakan untuk merayakan Red Wednesday.

Red Wednesday merupakan kampanye global yang bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada umat Kristiani yang mengalami persekusi.

Meski “tidak ada siksaan fisik” di kalangan umat Kristiani di negara itu, Pastor Alvin Platon dari Keuskupan Lingayen-Dagupan mengatakan bahwa persekusi bisa dilihat di media sosial.

“Ini bentuk baru persekusi,” katanya. Persekusi ini tidak seperti apa yang terjadi di masa lalu ketika persekusi “lebih pada fisik, seperti penganiayaan.”

Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Socrates Villegas mengatakan bahwa para pemimpin Gereja menjadi “martir” di media sosial karena mengkritik kebijakan pemerintah.

Para pemimpin Gereja, katanya, diserang di media sosial karena bertindak sebagai “kompas moral bagi masyarakat.”

“Kapan pun kami mengimbau penghormatan kepada kehidupan dan martabat manusia, kami dicap sebagai musuh dan menjadi target paratroll,” lanjutnya.

“Troll” adalah istilah gaul untuk seseorang yang menabur perselisihan dengan mengunggah pesan-pesan yang berisi hasutan, tidak relevan atau di luar topik di internet.

Menurut Pastor Platon, umat Katolik di negara itu menghadapi “perang kata” yang menguji iman mereka.

“Kami berharap dan berdoa semoga umat Kristiani yang mengalami persekusi lewat media sosial tetap teguh dalam iman dan tidak menyerah,” katanya.

Untuk melawan perang kata, katanya, Gereja terlibat dalam evangelisasi melalui media sosial “di mana umat berada.”

Sebanyak 45 katedral, 24 tempat ziarah dan lima basilika di Filipina ikut dalam serangkaian kegiatan Red Wednesday tahun ini. Mereka berdoa dan menghiasi bagian depan gedung gereja dengan warna merah.

Kampanye Red Wednesday diluncurkan oleh Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan dan bertujuan untuk menciptakan kesadaran tentang persekusi terhadap umat Kristiani di seluruh dunia.

Di Manila, Uskup Marawi Mgr Edwin de la Pena mengatakan kepada umat Katolik yang berkumpul di Katedral Manila bahwa ia tidak mengharapkan adanya serangan teroris di wilayah prelaturnya yang berakibat pada konflik selama lima bulan.

Sekitar 400.000 orang terkena dampak dari pertempuran yang mulai terjadi sejak 23 Mei lalu ketika kelompok bersenjata yang diiinspirasi oleh ISIS menyerang dan menduduki Kota Marawi di Filipina bagian selatan.

“Kami tidak pernah menyangka bahwa persekusi umat Kristiani yang bermula dari Timur Tengah, sebagai akibat dari meningkatnya terorisme dan ektstremisme Islam radikal, akan sampai ke Filipina,” katanya.

Uskup de la Pena mengambil kesempatan itu untuk berterima kasih kepada umat Katolik yang turut membangun kembali Kota Marawi “dengan berbagi tugas yang berat dalam membangun kembali kehidupan yang hancur.”

Tahun ini, bagian dari misi Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan, sebuah kelompok karitatif Katolik internasional, adalah mencari dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Marawi.

Prelatus itu berjanji akan melakukan berbagai upaya guna menghentikan persekusi umat Kristiani “dengan kekuatan Injil tentang cinta kasih, pengampunan dan belas kasih Allah.”

Pemuda Myanmar, Bangladesh Temukan Makna Kunjungan Paus

Fri, 24/11/2017 - 10:02

Banyak orang muda di Myanmar dan Bangladesh percaya bahwa kunjungan Paus Fransiskus akan membantu mereka menghadapi tantangan hidup.

Paus Fransiskus, yang akan berada di dua negara bertetangga itu dari 27 November-2 Desember, bermaksud untuk fokus pada pertemuan kaum muda dari berbagai agama dan denominasi.

Paus diharapkan menggunakan kesempatan untuk mengambil “detak jantung” kaum muda menjelang Sinode Pemuda tahun depan di Vatikan.

Pada 29 November, paus akan merayakan sebuah misa khusus untuk sekitar 5.000 pemuda Kristen dan non-Kristen di Katedral St. Maria di Yangon, pusat komersial Myanmar.

Di ibu kota Bangladesh, Dhaka, Paus Fransiskus pada tanggal 2 Desember menghadiri pertemuan antaragama dan ekumenis dengan 8.000-10.000 pemuda di Notre Dame College yang dikelola gereja.

Sebuah hak istimewa

Jacinta Lu Seng, 20, dari Negara Bagian Kachin di Myanmar utara, mengharapkan pertemuan paus dengan kaum muda akan memperdalam kepercayaan mereka dan memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam urusan gereja.

Di negara Bagian Kachin bagian utara, para pemuda termasuk anak perempuan menghadapi tantangan besar karena kecanduan narkoba, katanya, dengan alasan pengangguran dan kurangnya kesempatan pendidikan.

“Saya berharap paus akan mengangkat isu-isu penting yang dihadapi pemuda Myanmar selama kunjungannya dan dia juga akan menangani masalah perdamaian,” kata Lu Seng, salah seorang dari ribuan etnis Kachin yang mengungsi karena konflik sipil.

Manik Willver D’Costa, mantan koordinator pemuda di Keuskupan Agung Chittagong di Bangladesh, mengharapkan paus untuk merujuk pada masalah keluarga dan sosial yang berkontribusi pada kurangnya spiritualitas di kalangan kaum muda.

Banyak orang tua tidak punya waktu untuk berdoa atau untuk mengajar anak-anak mereka tentang agama di dunia yang semakin dipengaruhi oleh ateisme, katanya.

Tuntutan akademik yang mengharuskan untuk menghadiri ibadah keagamaan hari Minggu dapat dikesampingkan, tambahnya.

D’Costa menunjukkan bahwa paus dapat membimbing gereja untuk menjangkau orang muda dengan lebih efektif.

Pastor Patrick Simon Gomes, mantan sekretaris Komisi Pemuda Uskup Bangladesh, mengatakan bahwa struktur keluarga dan sosial telah dilemahkan oleh budaya digital.

Ini termasuk memberi status pahlawan pada hubungan pribadi yang tidak bermoral.

Pastor Gomes mencatat bahwa Paus Fransiskus memprioritaskan kehidupan keluarga karena di sinilah karakter anak terbentuk.

Promosikan harmoni di tengah ekstremisme

Meskipun secara keseluruhan menjadi negara Muslim moderat, Bangladesh telah mengalami peningkatan tajam dalam ekstremisme agama dan kekerasan terhadap kaum minoritas belakangan ini.

Afsara Azim, 22, seorang mahasiswa keuangan Muslim, mengatakan bahwa kunjungan Paus Fransiskus dapat membantu kaum muda mengupayakan toleransi.

“Kebanyakan orang Bangladesh percaya pada harmoni agama dan komunal, tapi juga ada beberapa fanatik agama di negara ini,” kata Azim.

Baik Myanmar dan Bangladesh menderita kekurangan fasilitas pendidikan dan bimbingan karir serta tingginya tingkat pengangguran.

Sekitar 40 persen orang muda dari Myanmar telah pindah ke Thailand dan Malaysia untuk bekerja sebagai buruh atau pekerja pabrik dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah survei.

Di Bangladesh, sekitar satu juta pemuda, atau 25 persen dari kelompok usia 15-29 tahun, menganggur pada 2015-2016, menurut Biro Statistik.

Pastor Gomes, yang memiliki pengalaman panjang sebagai pekerja muda, mengatakan bahwa orang muda harus keluar dari “zona nyaman” mereka untuk mencari pekerjaan di luar negeri dan di LSM atau mungkin mempertimbangkan peluang bisnis kecil.

Krisis Rohingya

Priyangka Debnath, 21, seorang mahasiswa ekonomi Hindu, berharap Paus Fransiskus akan menyoroti penderitaan pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Bangladesh saat ini sedang berjuang untuk mengatasi masuknya ratusan ribu orang Rohingya dari negara tetangga Myanmar.

Debnath, yang akan menghadiri pertemuan pemuda di Dhaka, mencatat reputasi Paus Fransiskus sebagai pembawa damai.

Dia juga mengharapkan paus untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi di Bangladesh dimana sekitar seperempat dari 160 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Meningkatkan hubungan ekumenis

Saikat Sarker, 26, pemimpin pemuda gereja Baptis di Bangladesh, percaya bahwa Paus Fransiskus dapat mendorong hubungan yang lebih baik antara pemuda Katolik dan Protestan.

Hubungan saat ini tidak kuat karena penekanan pada doktrin dan mentalitas yang berbeda, kata Sarker.

Namun, Paus Fransiskus bisa mendorong generasi muda untuk mencari rasa persatuan yang lebih besar diantara orang kristen, tambahnya.

Harapan pada pemuda

Maximilian Menu, presiden Komisi Keuskupan Agung Mandalay di Myanmar, mengatakan bahwa orang-orang muda bersemangat dan termotivasi oleh dorongan yang diberikan Paus Fransiskus kepada kaum muda sebagai masa depan gereja.

Ini bagian dari “kekecewaan” karena kurangnya kolaborasi dan dorongan oleh para pemimpin gereja seperti para uskup dan imam.

Suara pemuda terlalu sering diabaikan, tambah Menu.

William Nokrek, 25, seorang Katolik dari suku Garo Bangladesh, mengatakan bahwa Paus Fransiskus dapat membantu mempromosikan kaum muda sebagai pengambil keputusan gereja.

Nokrek, yang adalah presiden Gerakan Mahasiswa Katolik Bangladesh, juga mengatakan bahwa kaum muda sendiri perlu lebih sadar akan peran mereka di gereja dan masyarakat.

Kardinal Charles Bo dari Yangon meminta perhatian lebih besar di Myanmar untuk mengatasi konflik, kemiskinan, nasib para pemuda yang bekerja sebagai budak modern di negara-negara terdekat dan ancaman obat-obatan terlarang.

Uskup Korea, Jepang Serukan Dialog Atasi Konflik Nuklir

Thu, 23/11/2017 - 14:30

Para uskup Korea dan Jepang mengimbau agar petinggi militer dan politisi di Asia Timur Laut menciptakan perdamaian lewat dialog mengingat ketegangan mulai muncul di wilayah tersebut terkait ambisi Pyongyang soal nuklir.

Sebuah pernyataan bersama berjudul “Harapan akan Perdamaian di Asia Timur Laut” ditandatangani oleh 21 uskup Korea dan Jepang di hari terakhir pertemuan tahunan mereka yang diadakan pada 14-16 November di Kota Kirishima, Jepang.

Kota Kirishima masuk wilayah Prefektur Kagoshima.

Pada 17 November lalu, utusan senior Beijing Song Tao mengunjungi Pyongyang untuk menyampaikan sambutan kepada para pejabat Korea Utara yang menghadiri Kongres Partai Komunis di Cina. Kongres ini baru saja berakhir.

Song juga merupakan ketua Departemen Luar Negeri Partai Komunis Cina.

Kunjungan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Song berada di sana untuk membahas isu senjata nuklir.

Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing tidak mengadakan banyak pertemuan tingkat tinggi dengan Korea Utara. Namun sebelumnya, Beijing berulang kali mendorong adanya solusi diplomatik untuk mengatasi krisis terkait pengembangan senjata nuklir dan rudal oleh Pyongyang.

Kunjungan Song dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing. Saat itu Presiden Trump menekan Cina supaya melakukan aksi yang lebih besar agar bisa bertahan di Korea Utara.

Korea Utara menguasai 90 persen perdagangan dengan Cina.

“Negara-negara di Asia Timur Laut tengah berupaya membangun stabilitas dan kemakmuran demi kekuatan militernya dengan melakukan kerjasama atau membentuk aliansi dengan para penguasa lain yang memiliki sistem politik yang sama,” kata para uskup dalam pernyataan yang ditandatangani sebelum kunjungan Song itu.

“Hal ini menciptakan ancaman bagi keamanan masing-masing negara dan menimbulkan ketegangan saat ini. Kita semua hendaknya menyadari bahwa perdamaian sejati tidak bisa dijamin dengan persenjataan nuklir atau militerisasi.”

Para uskup menekankan bahwa “masyarakat kedua negara hendaknya ingat bahwa orang miskin dan lingkungan hidup terus menderita, sementara sejumlah besar uang dibuang untuk pengembangan senjata.”

Tema Kolokium Uskup Korea-Jepang Ke-23 adalah “Orang Tua dan Gereja.” Kedua negara ini menghadapi masalah serius terkait angka kelahiran yang rendah dan penduduk berusia senja.

Di Korea Selatan, hampir setengah dari jumlah penduduk berusia lebih dari 65 tahun hidup dalam kemiskinan, demikian survei ekonomi OECD 2016. Sekitar seperempatnya hidup sendiri dan banyak di antaranya berjuang mengatasi kesendirian dan depresi.

Suster Theophano Lee Kye-yeong dari Kongregasi Abdi Keluarga Kudus menyampaikan kepada para uskup tentang situasi di Korea Selatan.

Dikatakan, 49,6 persen orang tua hidup miskin dan satu dari empat orang tua harus mengumpulkan koran bekas untuk bertahan hidup. Selain itu, ada banyak orang tua yang “berziarah” ke gereja Katolik dan Protestan untuk meminta sedekah setiap pagi.

“Para orang tua Korea menghadapi siksaan dan kematian seorang diri. Selain itu, rata-rata 10,6 orang bunuh diri setiap hari,” katanya.

Yasuhiro Yuki, seorang dosen dari Universitas Shukutoku di Jepang, mengatakan bahwa situasi di negaranya tidak lepas dari kesepian, mati mendadak, dan jumlah penderita demensia yang terus bertambah.

Ia pun memperlihatkan kepada para uskup sebuah program televisi Singapura tentang kematian di kalangan orang tua di Jepang. Program ini menayangkan sejumlah kamar yang penuh dengan belatung.

 

Paus Membentuk Badan Diplomatik Vatikan yang Baru

Thu, 23/11/2017 - 12:53

Paus Fransiskus membentuk sebuah bagian baru di Sekretariat Negara Vatikan untuk mengawasi pelatihan, penetapan dan pelayanan nuncius dan diplomat Vatikan di seluruh dunia.

Bagian Personil Diplomatik akan menjadi perhatian khusus tethadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan orang-orang yang bekerja dalam dinas diplomatik Tahta Suci atau yang sedang mempersiapkan untuk melakukannya, demikian sebuah pernyataan pada 21 November dari Sekretariat Negara.

Menurut Catholic News Service, bagian ini akan mengawasi pemilihan, formasi awal dan berkelanjutan, kondisi hidup dan pelayanan, promosi dan hal-hal lain.

Kepala bagian tersebut, Uskup Agung Polandia Jan Pawlowski, juga akan mengadakan dan memimpin pertemuan ad hoc untuk mempersiapkan nominasi perwakilan paus, yang secara resmi dinominasikan oleh paus dan biasanya dijadikan uskup agung dengan jabatan utama mereka sebagai nuncio atau delegasi apostolik

Staf diplomatik di kedubes Vatikan di seluruh dunia dan sebagian besar uskup agung yang menjadi nuncius adalah alumni Akademi Gerejawi Kepausan. Di sana, di sebuah komunitas para imam dari seluruh dunia, para diplomat masa depan menerima pelatihan khusus bahkan saat mereka menyelesaikan gelar lanjutan – biasanya dalam hukum kanon – di salah satu universitas pontifical di Roma. Mereka juga harus belajar berbagai bahasa.

Pengumuman resmi Vatikan mengatakan kepala bagian baru itu akan bertanggung jawab, bersama dengan direktur Akademi Gerejawi Kepausan, untuk pemilihan dan pembentukan kandidat.

Peran nuncius dan tanggung jawab mereka dalam proses pencalonan uskup untuk keuskupan di negara-negara yang mereka layani menjadi topik diskusi yang sering dilakukan pada pertemuan Paus Fransiskus dengan Dewan Kardinal sedunia, yang memberi nasehat kepadanya tentang tata pemerintahan gereja dan melanjutkan penelitian tentang usulan untuk menata kembali Kuria Roma.

Kelompok Hindu Sebar Isu Kristenisasi Jelang Kunjungan Paus ke Asia

Thu, 23/11/2017 - 04:00

Para pemimpin kelompok Hindu sayap kanan di India kembali mengobarkan isu kristenisasi menjelang kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke Asia, khususnya ke Myanmar dan bukan India.

Mereka beranggapan bahwa Paus dilarang berkunjung ke negara itu oleh Perdana Menteri Narendra Modi.

“Vishwa Hindu Parishad” (VHP, Dewan Umat Hindu) dan beberapa kelompok sayap kanan lainnya seperti Bajrang Dal – sebuah kelompok Hindu garis keras yang menentang karya-karya misionaris Kristiani – pernah menuntut moratorium tentang kegiatan kristenisasi yang dilakukan Gereja. Mereka juga menentang kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke New Delhi pada November 1999 lalu.

Paus Fransiskus “harus mengklarifikasi bagaimana kristenisasi dibenarkan,” kata Angad Prasad, aktivis Bajrang Dal dari Negara Bagian Assam di India bagian timur laut.

Sejumlah sumber VHP mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka akan mengajukan beberapa pertanyaaan kepada Paus terkait isu kristenisasi yang selama ini ditentang oleh kelompok-kelompok Hindu tersebut.

Para pemimpin Gereja “hilang harapan” untuk kunjungan Paus ke India tahun ini ketika Kardinal Oswald Gracias dari Mumbai tidak secara langsung mengatakan kepada media bahwa New Delhi tidak mengirim undangan kepada Paus hingga Juni lalu – sebuah syarat untuk kunjungan seorang kepala negara di bawah protokol hubungan diplomatik internasional.

Kardinal Oswald sendiri akan merayakan Misa bersama Paus Fransiskus di Yangon, Myanmar, pada 28 November.

“Sekarang sudah bulan Juni. Jika mereka tiba-tiba mengatakan, ‘silahkan datang … (ini) akan butuh waktu beberapa bulan bagi semua keuskupan untuk mempersiapkannya,” kata ketua Konferensi Waligereja India itu.

Namun kemudian para uskup di Asia menyampaikan perubahan. Dikatakan: “Kita harus mencari tempat yang baik di mana kita bisa memberi penghormatan kepada Bapa Suci.”

Baik pemerintah dan Vatikan sama-sama mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan alasan mengapa India tidak menjadi tempat tujuan kunjungan Paus. Namun kabarnya pemerintahan Perdana Menteri Modi yang pro-Hindu tidak mengirim undangan kepada Paus.

Setahun lalu, Paus Fransiskus mengatakan kepada media bahwa ia “hampir yakin” akan mengunjungi Bangladesh dan India tahun ini. Namun Agustus lalu Vatikan mengumumkan bahwa Paus akan mengunjungi Bangladesh dan Myanmar pada 27 November hingga 2 Desember.

“Saya tidak yakin apakah ia (Paus Fransiskus) siap datang atau ingin datang,” kata Pravin Togadia, ketua VHP.

“Saya juga tidak tahu mengapa ia tidak datang … maka saya tidak mau berkomentar,” katanya kepada ucanews.com.

Perdana Menteri Modi sempat menjalin hubungan diplomatik ketika menghadiri pertemuan para pemimin dunia di Manila, Filipina, termasuk dengan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Cina Li Keqiang.

Di dalam negeri, ia juga bertemu beberapa tamu pejabat termasuk Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian.

Bulan Desember juga merupakan bulan pemilihan umum di Gujarat, sebuah negara bagian di India bagian barat yang sangat penting bagi partai pendukung Perdana Menteri Modi, yakni Bharatiya Janata Party (BJP). Gujarat juga merupakan tempat di mana ia pernah menjadi ketua partai sebelum sukses marambah kancah politik nasional.

Sejumlah pengamat mengatakan bahwa Perdana Menteri Modi dan BJP menghindari kunjungan Paus bulan November ini karena bisa membahayakan prospek pemilihan umum partai tersebut.

Demo Dibatalkan, Imam Yesuit Berterima Kasih Kepada Muhammadiyah

Wed, 22/11/2017 - 20:26

Sejumlah imam Ordo Serikat Yesus (SJ) menyampaikan terima kasih kepada Muhammadiyah atas keterlibatannya dalam membatalkan rencana aksi protes di depan Kolese Kanisius.

Rencananya, Gerakan Pemuda Jalan Lurus Jakarta akan menggelar aksi protes pada 17 November di depan sekolah Katolik yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, tersebut untuk membalas aksi walkout yang dilakukan sebelumnya oleh sejumlah alumni saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan sambutan pada acara peringatan 90 tahun Kolese Kanisius.

Aksi walkout itu memicu amarah para pendukung gubernur, beberapa di antaranya merupakan kelompok garis keras.

Musisi terkenal Ananda Sukarlan meninggalkan ruangan saat acara yang digelar 12 November itu masih berlangsung. Sekitar 100 alumni mengikutinya.

Aksi walkout itu dilakukan untuk memprotes Gubernur Anies yang memenangkan pemilihan kepala daerah April lalu dengan mengeksploitasi isu agama dan etnis untuk mengalahkan petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, seorang penganut agama Protestan dan juga keturunan Cina.

Rektor Kolese Kanisius Pastor Joannes Heru Hendarto SJ mengatakan aksi protes itu dibatalkan berkat intervensi Muhammadiyah dan gubernur karena menurut mereka aksi para alumni itu merupakan aksi spontan dan tidak mewakili sikap sekolah tersebut.

“Kami berterima kasih kepada para pemimpin Muhammadiyah karena mereka mencegah aksi protes yang berpotensi kisruh di sekolah ini,” katanya.

Pada 16 November, sejumlah imam SJ juga bertemu Gubernur Anies. Lalu ia mengeluarkan sebuah pernyataan yang meminta para pendukungnya untuk tidak membesarkan isu tersebut.

Harapan yang Tinggi atas Kunjungan Paus ke Bangladesh

Wed, 22/11/2017 - 15:27

Para Pemimpin agama Bangladesh berharap kunjungan Paus Fransiskus yang akan datang  mendorong keharmonisan dan toleransi di negara berpenduduk mayoritas Muslim ini.

Namun, satu kelompok Muslim garis keras memperingatkan bahwa mereka akan memprotes jika paus mengatakan atau melakukan sesuatu “tidak terduga dan tidak dapat diterima.”

Kunjungan Paus 30 November – 2 Desember akan menjadi yang ketiga oleh seorang paus ke negara berpenduduk padat dan miskin itu. Paus Paulus VI melakukan kunjungan singkat tahun 1970 yang berlangsung beberapa jam di Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) untuk mengungkapkan simpati bagi para korban badai dahsyat.

Paus Yohanes Paulus II datang ke Bangladesh yang merdeka pada tanggal 19 November 1986.

Selama perjalanannya yang akan datang ke ibukota, Dhaka, Paus Fransiskus akan bertemu dengan Perdana Menteri Sheikh Hasina dan Presiden Abdul Hamid serta anggota korps diplomatik dan masyarakat sipil.

Dia akan mengunjungi dua monumen peringatan nasional.

Paus akan merayakan Misa untuk lebih dari 100.000 orang di Dhaka, tempat  dia akan menahbiskan 16 diakon menjadi imam. Dia akan menghadiri pertemuan antar agama dan ekumenis dan juga menelpon orang-orang miskin yang dipimpin oleh Misionaris Cinta Kasih, kongregasi yang didirikan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.

 

Sebuah perayaan nilai, sukacita dan cinta

Kunjungan paus tersebut akan menandai perayaan 46 tahun hubungan Vatikan-Bangladesh, kata Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka.

Vatikan adalah salah satu negara pertama yang mengakui Bangladesh setelah memperoleh kemerdekaan dari Pakistan pada tahun 1971, diikuti oleh hubungan diplomatik penuh melalui penunjukan nunsio apostolik pada tahun 1973.

Hubungan tersebut didasarkan pada nilai-nilai universal seperti belas kasihan dan martabat manusia, melampaui etnisitas dan politik, Kardinal D’Rozario mengatakan kepada ucanews.com.

Prelatus tersebut mencatat ekspresi simpati internasional saat Bangladesh menderita bencana alam dan juga tragedi seperti runtuhnya Rana Plaza 2013 yang menewaskan lebih dari 1.100 jiwa.

“Saya melihat perasaan gembira pada orang-orang, yang sangat ingin bertemu dengan pemimpin yang merupakan simbol persatuan gereja,” kata Cardinal D’Rozario.

“Mereka akan berbondong-bondong saat peziarah melihat dia setara dengan melihat Kristus terlihat di dunia ini.”

Maolana Fariduuddin Masoud, presiden kelompok Muslim liberal Bangladesh Jamiyat-ul-Ulema (Dewan Ulama), mengatakan bahwa cinta dan keramahan akan disorot selama kunjungan tersebut.

“Paus Fransiskus adalah tokoh suci dan pemimpin global, jadi orang-orang merasa terhormat untuk memiliki dia di Bangladesh dan mereka akan menawarnya dengan sangat mencintai,” kata Masoud kepada ucanews.com.

 

Mempromosikan dialog dan harmoni melawan ekstremisme

Citra pluralistik dan toleran Bangladesh telah dinodai oleh kebangkitan mematikan radikalisme Islam dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2013, militan Islam membunuh sekitar 50 orang termasuk blogger atheis, penulis dan penerbit, aktivis homoseksual, Muslim liberal, minoritas agama dan orang asing.

Sebuah tindakan keras pemerintah melihat sekitar 70 gerilyawan tewas dan puluhan lainnya ditangkap.

Namun, sedikit yang telah dilakukan untuk memerangi ideologi radikal yang memicu kekerasan, termasuk melalui promosi dialog antaragama.

Rana Dasgupta, seorang pengacara dan pemimpin Hindu di Dhaka, mengatakan bahwa paus mungkin melihat penyimpangan dalam pertempuran Bangladesh melawan ekstremisme.

“Ekstrimis ingin menyerang hati bangsa – pluralisme dan harmoni kita, jadi mereka membunuh orang-orang yang memegang pandangan liberal atau kritis terhadap agama atau menganut agama lain,” kata Dasgupta kepada ucanews.com.

“Ideologi ekstremis ini bukan bagian dari budaya kita, tapi sedikit yang telah dilakukan di depan ini untuk menghadirkan sebuah ideologi kontra.

“Paus Fransiskus bersikap lunak terhadap Islam, menolak untuk mengaitkannya dengan terorisme dan menyerukan dialog antara agama-agama untuk memerangi kekerasan dan ekstremisme.”

Dasgupta mengatakan bahwa pemerintah Bangladesh mencoba untuk mempromosikan dialog dan harmoni, namun belum cukup berhasil.

“Mungkin paus bisa memberikan panduan bagaimana dialog terbaik bisa digunakan untuk harmoni dan perdamaian,” katanya.

Ashoke Barua, seorang pemimpin Buddhis, mengatakan bahwa kunjungan kepausan akan menjadi keuntungan bagi kerukunan beragama.

Perjalanan Paus Fransiskus akan menghidupkan kembali kerukunan beragama dan membuat semua orang semakin dekat, katanya.

“Ini juga merupakan kesempatan besar untuk menyajikan kebaikan Bangladesh kepada dunia.”

Kardinal D’Rozario mengatakan bahwa meski ada kemunduran baru-baru ini, paus menyadari bahwa negara tersebut tetap berkomitmen terhadap harmoni dan perdamaian.

“Bangsa kita seperti sungai,” kata kardinal itu.

“Terkadang Anda melihat arus kuat didorong oleh angin kencang, tapi di dasar sungai ada ketenangan.

“Dan ini berasal dari religiusitas dasar dan pluralisme orang.”

Krisis Rohingya

Bangladesh sedang berjuang untuk mengatasi masuknya pengungsi yang dipicu oleh kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

Paus diharapkan untuk mengangkat isu ini secara terbuka atau pribadi.

Kardinal D’Rozario mencatat bahwa Bangladesh telah menjalani “nilai-nilai tradisional “nya dengan menerima Rohingya yang melarikan diri.

“Paus akan datang untuk harmoni dan damai, bukan hanya untuk Rohingya tapi untuk semua,” katanya.

“Dia tidak datang untuk memecahkan masalah, tapi dia pasti akan memiliki pesan untuk mereka dan untuk semua orang.”

Kardinal mencatat bahwa krisis Rohingya memiliki unsur kekerasan yang serupa dengan komunitas marjinal di seluruh dunia, termasuk di mana “kekuatan besar dunia” terlibat.

“Paus tidak akan hanya berbicara tentang Rohingya, tapi orang-orang yang dianiaya lainnya dan mungkin dia akan mengkritik orang-orang yang menumpahkan air mata buaya ‘untuk Rohingya tapi tidak untuk orang lain, seperti orang Kristen di Timur Tengah,” prelatus tersebut menambahkan.

Muslim moderat Maolana Masoud mengatakan bahwa paus mungkin tidak memberikan solusi bagi Rohingya, namun dia masih bisa memberi mereka harapan.

“Harapan adalah pertanda hidup, jadi Rohingya datang ke Bangladesh karena mereka ingin hidup,” kata Masoud.

“Orang-orang yang teraniaya ini tahu bahwa Paus Fransiskus  peduli dan bersimpati kepada mereka.”

Radikal menyambut tapi waspada

Kelompok garis keras Bangladesh Hefazat-e-Islam (Pelindung Islam) telah mendorong penerapan undang-undang anti-hujatan yang ketat, eksekusi atheis, islamisasi buku teks sekolah dan pemindahan berhala dan patung dari tempat-tempat umum.

Kelompok ini juga menyerang apa yang dilihatnya sebagai evangelisasi Kristen di beberapa daerah.

Seorang pemimpin Hefazat senior menyambut Paus yang datang ke Bangladesh, namun mengatakan bahwa dia akan memantau kunjungan tersebut dengan ketat.

“Paus Fransiskus adalah pemimpin tertinggi umat Kristen dan kepala negara Vatikan, jadi kami menyambutnya di negara ini,” Mufti Faizullah, seorang sekretaris gabungan dari kelompok tersebut, mengatakan kepada ucanews.com.

“Kami akan mengamati dengan seksama apa yang dia katakan dan lakukan selama perjalanan.

“Jika kita menemukan sesuatu yang tak terduga dan tidak dapat diterima, kita akan memprotes dan mengeluarkan pernyataan jika perlu.”

Uskup Kritik Politisi yang Menganggap Sekulerisme Suatu Kebohongan

Wed, 22/11/2017 - 15:04

Mayoritas umat Hindu bersikap toleran terhadap agama lain namun politisi dengan sengaja menciptakan masalah dengan mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya, kata sekretaris jenderal konferensi uskup Katolik India.

Uskup Theodore Mascarenhas bereaksi terhadap seorang pemimpin Partai Pro-Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India yang menolak konsep sekularisme pemerintah.

Yogi Adityanath, seorang menteri berusia 45 tahun dari negara bagian Uttar Pradesh yang berpenduduk paling padat di India, mengatakan pada sebuah acara baru-baru ini bahwa sistem pemerintahan di India tidak bisa sekuler.

Uskup Mascarenhas mengatakan bahwa isu tersebut diangkat untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah yang lebih mendesak.
 
Adityanath harus bekerja untuk pengembangan masyarakat umum dan tidak membicarakan masalah yang tidak penting bagi mereka, kata Uskup Mascarenhas.
 
Prelatus tersebut mencatat bahwa India memiliki sebuah konstitusi sekuler terlepas dari komentar publik Adityanath.

Adityanath, yang berpakaian safron simbolis, telah membandingkan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi dengan dewa Hindu, Ram.

Dewa Hindu melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Uskup membantah bahwa “Ram yang sesungguhnya” mewakili toleransi, kedamaian, keadilan dan harmoni.

“Akan tetapi, politisi memberikan definisi yang berbeda tentang hal itu,” kata Uskup Mascarenhas.

Adityanath ada seorang imam Hindu yang juga politisi dan menjadi menteri utama Uttar Pradesh pada bulan Maret tahun ini, dipandang oleh banyak pakar politik sebagai wajah baru BJP di India.

Dia juga imam kepala kuil Gorakhnath Siwa yang terkenal di negara itu.

Dia menikmati pengaruh politik yang lebih besar di kalangan umat Hindu karena pandangannya yang keras dalam agama Hindu dan praktiknya.

Sedikitnya 18 kasus kriminal ditudukan kepadanya di masa lalu, termasuk intimidasi dan kerusuhan.

Pemimpin partai Kongres oposisi Kapil Sibal juga mempertimbangkan debat terakhir.

“Yogi Adityanath mengatakan bahwa sekularisme adalah sebuah kebohongan dan membandingkan pemerintahan Modi dengan Ram Rajya,” tulis Sibal di sebuah situs blog.

Sibal berpendapat bahwa Adityanath berbohong.

Imam Filipina Gunakan Media Sosial untuk Melawan Perang Narkoba

Tue, 21/11/2017 - 16:28

Seorang uskup dan seorang imam asal Argentina yang melayani sebuah komunitas miskin di Manila, Filipina, menggunakan media sosial (medsos) untuk menarik perhatian masyarakat terhadap sejumlah kasus pembunuhan terkait narkoba yang terjadi di negara itu.

Pastor Luciano Ariel Felloni dari Keuskupan Novaliches mengakui bahwa medsos membuatnya mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang kontribusi Gereja dalam berbagai upaya pemerintah memerangi narkoba.

Ia dikenal masyarakat karena program “Menyembuhkan, Bukan Membunuh,” sebuah program rehabilitasi berbasis komunitas untuk para pecandu narkoba, dan dianugerahi sebagai “Pemberi Pengaruh Media Sosial Tahun Ini” pada Penghargaan Media Sosial Katolik 2017.

Ia juga merupakan salah satu dari sejumlah pemimpin Gereja yang menjadi target kritikan yang disampaikan secara daring karena pertentangannya yang cukup vokal atas pembunuhan terhadap terduga pengguna dan pengedar narkoba.

“Dengan menggunakan medsos untuk menjelaskan bahwa karya kami tidak bermuatan politik dan bahwa inilah kontribusi kami terhadap perang melawan narkoba, orang bisa berubah pikiran dan paham,” katanya.

Namun troll berbeda. “Mereka dibayar untuk menyerang,” katanya.

“Lupakan troll, sudah jelas bahwa mereka itu tidak benar,” lanjutnya, seraya menegaskan bahwa orang yang memiliki pendapat berbeda hendaknya juga didengar.

“Troll” adalah istilah gaul untuk seseorang yang menabur perselisihan dengan mengunggah pesan-pesan yang berisi hasutan, tidak relevan atau di luar topik di internet.

Dalam sebuah diskusi pada Pertemuan Media Sosial Katolik Ke-6 yang diadakan menjelang penerimaan penghargaan pada 18 November itu, Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengatakan bahwa troll menargetkan para penyampai pesan dan mengabaikan isi pesan itu sendiri.

Mereka yang diduga sebagai troll menyerang para pemimpin Gereja Katolik yang cukup vokal dalam menentang upaya pemerintah memerangi narkoba. Para uskup dan imam dituduh melakukan tindak korupsi dan pelecehan seksual.

“Kebenaran memang menyakitkan, tapi kebenaran membebaskan orang,” katanya.

Baik Pastor Felloni dan Uskup David menyarankankan agar umat Katolik melihat troll sebagai sebuah peluang dan bukan menghindari mereka dan juga orang-orang yang menyerang Gereja secara daring.

“Jika kalian tidak bereaksi atas berbagai pernyataan, berbagai pernyataan ini akan segera menjadi kebenaran Injil,” kata Uskup David.

“Kebenaran menjadi keprihatinan serius dalam konteks begitu banyak kebohongan dalam berbagai macam hal yang kita dengar atau baca,” lanjutnya.

“Jangan biarkan diri kalian diintimidasi,” katanya, seraya menambahkan bahwa serangan secara daring akan selalu ada tapi karya baik harus terus dilakukan “karena orang tertarik akan kebenaran.”

Prelatus itu menggunakan medsos untuk membenarkan “pernyataan (yang salah) yang begitu cepat diterima jika tidak dikoreksi.” Jika sebuah kebohongan diterima sebagai kebenaran akan berdampak pada “matinya hati nurani,” katanya.

“Sebagai pemimpin Gereja, saya merasa bersalah jika saya membiarkan hati nurani mati,” kata Uskup David kepada sekitar 600 anak muda yang mengikuti pertemuan tersebut.

Melalui medsos, imbuhnya, orang pun memberi tanggapan terhadap program keuskupannya yang diperuntukkan bagi orang miskin termasuk keluarga para korban pembunuhan ekstra-yudisial.

“Allah juga bekerja melalui medsos. Ini juga forum kebenaran dan empati. Ini semua tentang empati. Ini menuju pada belas kasihan,” katanya.

 

Simak video berikut ini:

Perjuangan Petani Timor-Leste Melawan Kekeringan

Tue, 21/11/2017 - 16:06

Panas terik begitu menyengat. Filomena da Costa, 48, hanya bisa duduk terdiam di bawah sebuah gubuk kecil sambil menatap sawahnya yang kering.

Lahan seluas satu hektar yang terletak di Distrik Manatuto tersebut ia beli bersama suaminya, Stanislao Ramos dos Reis, 58, beberapa tahun lalu.

Bertani padi adalah mata pencaharian mereka sejak 2007.

Awalnya semua berjalan baik, namun kemudian berubah ketika kekeringan parah sebagai dampak dari fenomena El Nino melanda Timor Leste sejak akhir 2015 lalu.

“Saya panen sekali setahun sejak saat itu. Panennya sedikit, tidak banyak. Kemarau panjang tidak menghasilkan padi yang baik,” kata Filomena, ibu dari tujuh anak.

Bahkan tahun ini paling parah.

“Saya sudah coba menyalurkan air ke sawah. Tapi panen Juli lalu hanya satu ton,” lanjutnya.

Sebelumnya ia biasa menanam padi dua kali dalam setahun. Panennya pun bisa mencapai dua hingga tiga ton.

Menyadari bahwa bertani padi tidak bisa lagi diandalkan, Filomena dan suaminya mulai beternak sapi untuk bertahan hidup.

Namun sayang, panas terik pun mulai mengincar ternaknya.

“Satu dari 33 sapi saya mati tahun ini karena panas,” katanya.

Domingos Ramos Correira, 57, pernah terpaksa meninggalkan sawah seluas 1,5 hektar yang terletak di Distrik Baucau agar ia bisa bekerja sebagai kuli bangunan.

“Lebih baik jadi petani sawah,” kata bapak dari tujuh anak itu.

Selain Filomena dan Domingos, ada ratusan ribu orang yang terkena dampak dari kekeringan parah yang melanda negara itu.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Timor-Leste telah mengalami kemarau panjang selama sekitar dua tahun. Sekitar 350.000 orang atau sepertiga dari 1,3 penduduk negara itu tekena dampaknya.

Sebagian besar masyarakat yang terkena dampak kekeringan tinggal di Distrik Baucau, Distrik Cova LIma, Distrik Lautem, Distrik Oucesse dan Distrik Viqueque.

Assessment Capacities Project (ACAPS), sebuah NGO yang berbasis di Jenewa, Swiss, mengungkapkan bahwa pada musim hujan terakhir yang berakhir Mei lalu jarang terjadi hujan sehingga kondisi kekeringan di seluruh wilayah negara itu terus terjadi.

“Ini berdampak pada masyarakat petani,” kata Nivio Leite Magalhaes, mantan Direktur Pusat Logistik Nasional.

Lebih parah lagi, pertanian merupakan aktivitas utama di Timor-Leste. Hasil panen makanan pokok seperti beras dan maizena mengalami penurunan. Begitu pun hasil panen lainnya seperti ketela, ubi dan pisang.

Di Distrik Baucau, para petani yang tinggal di tujuh desa mengalami gagal panen.

“Ada sekitar 1.300 kepala keluarga yang mendapat bantuan emergensi selama 45 hari berupa beras dan beberapa paket bibit sayur,” kata Jaime dos Reis, koordinator Advokasi dan Komunikasi World Vision Timor-Leste.

Sementara itu, pemerintah menyatakan bahwa distribusi beras kepada masyarakat yang membutuhkan sudah dilakukan dan penjualan beras harga murah sudah dilaksanakan.

Namun bagi petani seperti Filomena dan Domingos, mereka hanya berharap agar hujan segera turun.

“Supaya sawah bisa dialiri air,” kata Filomena.

Uskup Tamil Membangun Kembali Kehidupan Korban Perang

Tue, 21/11/2017 - 15:56

Delapan tahun setelah berakhirnya perang sipil Sri Lanka, Keuskupan Batticaloa sedang berupaya membangun kembali kehidupan keluarga yang dikepalai oleh perempuan.

Ribuan wanita yang suaminya terbunuh dalam konflik yang berlangsung selama 26 tahun hidup dalam kemiskinan dan mengalami stigma sosial.

Batticaloa, yang terletak di pantai timur negara itu, memiliki populasi 525.142 yang terdiri dari mayoritas warga Tamil Hindu serta minoritas Muslim dan orang Sinhala.

Uskup Joseph Ponniah, seorang Tamil, khawatir dengan kehidupan 32.000 janda korban perang, yang sebagian besar harus mengandalkan pendapatan dari pekerjaan serabutan.

“Kami membantu mereka melalui program beasiswa untuk pendidikan anak-anak mereka dan melakukan pelatihan kejuruan khusus untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” kata uskup tersebut.

Benih dan bantuan lainnya diberikan kepada sekitar 2.000 petani untuk mengembangkan metode pertanian organik.

Keuskupan tersebut memiliki 46.459 umat Katolik, sekitar 3,67 persen dari populasi.

Menurut kementrian Perkembangan Anak dan Urusan Perempuan, ada 89.000 janda yang terkena dampak perang saudara Sri Lanka di utara dan timur.

Pastor Geron De Lima adalah direktur organisasi kesejahteraan Caritas Katolik setempat yang menyediakan layanan lintas agama dan etnis. Ini termasuk pelatihan menenun dan produksi kerajinan tangan Palmyrah.

Antara 15 sampai 20 wanita diberikan sertifikat setelah enam bulan pelatihan oleh Dewan Pengembangan Palmyrah Sri Lanka yang kemudian membeli apa yang mereka hasilkan.

Caritas membayar gaji untuk instruktur, kata Pastor Lima kepada ucanews.com.

Pastor De Lima menambahkan bahwa perempuan diberdayakan, melalui pemberian keterampilan akuntansi dan pemasaran, untuk membentuk usaha kecil. Kebanyakan penerima manfaat tidak beragama Katolik, seperti orang Hindu dan Muslim.

Keuskupan juga menyelenggarakan program antar agama yang bertujuan mengkonsolidasikan perdamaian.

“Jika ada kesalahpahaman, kita menciptakan lingkungan untuk berkumpul dan menyelesaikan masalah mereka melalui diskusi,” kata Pastor De Lima.

Dia mencontohkan upaya untuk mengajarkan bahasa Tamil dan Sinhala di dalam komunitas masing-masing.

“Jika tidak ada hambatan bahasa maka semua orang bisa saling mengerti,” kata Pastor De Lima.

“Sinhala tinggal di rumah masyarakat Tamil untuk belajar dan memahami tradisi dan budayanya.”

Uskup Ponniah mengatakan bahwa gereja tersebut telah memilih 100 siswa, dari keluarga Katolik yang kehilangan ayah mereka, yang diberi 2.500 sampai 10.000 rupee (US $ 16 sampai US $ 65) setiap bulannya.

25 siswa lainnya dari keluarga non-Katolik juga mendapat beasiswa, kata uskup tersebut, yang merupakan presiden Komisi untuk Keadilan, Perdamaian dan Pembangunan Manusia di keuskupan.

“Kami melakukan pertukaran program antara orang Tamil dan Muslim dan termasuk konseling, meditasi dan kegiatan budaya,” tambahnya.

Batticaloa pada tahun 2012 dibentuk untuk menjadi keuskupan ke-13 Sri Lanka. Sebelumnya, Batticaloa bagian dari Keuskupan Trincomalee-Batticaloa.

Uskup Ponniah lahir pada tahun 1952 dan ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1980.

Otoritas China Geledah Ribuan Rumah Muslim di Xianjiang

Tue, 21/11/2017 - 09:44

Pihak berwenang di wilayah Xinjiang di wilayah barat laut China dilaporkan telah menggeledah rumah 30.000 anggota kelompok etnis Muslim Kazakshtan selama beberapa minggu terakhir, menyita alquran, sajadah, dan barang-barang religius lainnya.

Seorang warga di daerah Tekes, Prefektur Otonomi Ili Kazakh, mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa dia baru saja kembali ke China setelah melakukan perjalanan melintasi perbatasan di Kazakhstan untuk menemukan kampung halamannya yang penuh dengan polisi.

Dia mengatakan bahwa nama dan nomor kartu identitasnya ditambahkan ke daftar pencarian orang (DPO) “yang dicari polisi” bersama 60 orang Kazakh lainnya, karena “kembali ke China setelah lama tidak ada.”

“Antara 25 Oktober dan 1 November, rumah dan tempat tinggal 30.000 orang Kazakh digeledah secara paksa,” kata sumber tersebut.

“Mereka mencari Al Quran, sajadah dan Tasbih, dan apapun yang bertuliskan nama Allah atau Nabi Muhammad.”

Dia mengatakan orang Han Tionghoa di daerah itu, yang juga menghabiskan waktu di Kazakhstan, ditinggalkan sendirian saat terjadi tindakan keras tersebut.

“Mereka menyita semua jenis barang religius,” katanya.

Sumber kedua, penerjemah bahasa Kazakh, memberikan laporan serupa.

“Di daerah Tekes, 30.000 rumah digeledah oleh polisi untuk mencari Al Quran, sajadah dan juga pakaian yang dibeli di Kazakhstan, dan barang dikirim dari Kazakhstan,” kata sumber tersebut. “Polisi menyita semuanya.”

Sumber tersebut mengatakan pejabat telah memperingatkan orang-orang untuk tidak menyembunyikan barang apapun, jika tidak mereka akan menghadapi konsekuensi lebih berat jika ditemukan kemudian.

Minoritas juga ditekan untuk menghadiri upacara pengibaran bendera pagi hari, di mana orang-orang mendapat perhatian saat lagu kebangsaan diperdengarkan, kata mereka.

Serangan Tekes terjadi setelah pihak berwenang China memerintahkan keluarga minoritas etnis minoritas di Xinjiang untuk menyerahkan barang-barang keagamaan pada bulan September yang lalu.

Ancaman, Usia Lanjut Tidak Menghalangi Semangat Misionaris Italia Ini

Tue, 21/11/2017 - 05:17

Usia tua terus membayangi Peter Geremia, tapi bahkan setelah 78 tahun misionaris kelahiran Italia yang telah menghabiskan empat dekade di Filipina selatan, tidak memiliki rencana untuk pensiun.

Pastor Geremia, seorang anggota Institut Kepausan untuk Misi Luar Negeri (PIME), adalah salah satu misionaris asing tertua di Mindanao. Dia telah menghadapi beberapa tantangan dalam hidupnya dan telah ditahan setidaknya tiga kali, namun dia tidak pernah goyah dalam misinya untuk bekerja dengan orang miskin, terutama di daerah pedalaman.

Pastor Geremia tiba di Filipina pada Agustus 1972, pada awal pemerintahan mantan diktator Ferdinand Marcos dua dekade pemerintahan militer.

Bekerja di daerah terpencil di Keuskupan Kidapawan di provinsi Cotabato Utara, misionaris muda tersebut menyaksikan ekses dari kediktatoran secara langsung.

Dia memprotes pembunuhan petani miskin oleh tentara dan anggota kelompok milisi yang mengakibatkan dia dituduh sebagai pendukung kelompok gerilya Tentara Rakyat Komunis.

Pada tanggal 11 April 1985, sebuah kelompok paramiliter di Mindanao berusaha membunuh Pastor Geremia namun malah membunuh misionaris Italia lainnya, Pastor Tullio Favali, di kota Tulunan. Pembunuh kemudian ditangkap dan dipenjara.

Misionaris Italia itu tetap bersemangat dalam pekerjaan misionarisnya, bahkan setelah pembunuhan rekan-rekan lainnya di Mindanao; Pastor Salvatore Carzedda di Zamboanga City pada tahun 1992, dan Pastor Fausto Tentorio di Cotabato Utara pada tahun 2011.

Pada tahun 2006, dua rekan awam terbunuh saat dua misionaris Italia lainnya diculik.

Pastor Geremia hanya menggambarkan dirinya sebagai “orang yang selamat”.

“Sekarang setelah saya tua, saya masih akan melanjutkan pekerjaan saya di keuskupan, saya tidak punya rencana untuk kembali ke Italia untuk pensiun, saya berencana untuk tinggal di sini dan melayani rakyat selama saya bisa,” katanya kepada ucanews.com. dengan suara lembut dan gemetar.

Dia tidak ingat bagaimana dia telah menghabiskan 45 tahun bekerja di Filipina dari 54 tahun sebagai seorang imam. Empat puluh tahun di Mindanao di mana dia pertama kali bekerja di sebuah komunitas Muslim yang dianggap sebagai “tanah tak bertuan” bagi orang-orang Kristen di tahun 1970an.

Pastor Geremia dan timnya berhasil menjembatani hambatan antara Muslim dan Kristen di kota tersebut melalui dialog antaragama yang berlabuh sesuai dengan kebiasaan dan kepercayaan masing-masing.

“Orang-orang di sana sekarang hidup harmonis,” kata misionaris tersebut, ia menambahkan bahwa orang-orang Kristen sekarang bergabung dengan tetangga Muslim mereka dalam berbuka puasa selama bulan Ramadan sementara umat Islam menghadiri upacara pernikahan Katolik.

Dengan almarhum Pastor Tentorio, Pastor Geremia membantu mengatur perlawanan masyarakat suku di kota Columbio melalui program keuskupan untuk masyarakat suku Filipina.

Para imam berjalan melewati hutan untuk mencari komunitas suku yang tanah leluhurnya diancam oleh perambahan hutan dan kepentingan pertambangan.

Karyanya dengan orang miskin diakui tahun ini ketika dia dipilih untuk menerima penghargaan Saint Theresa of Calcutta untuk pekerjaan kemanusiaannya di Mindanao.

“Saya terkejut,” katanya. “Saya dinominasikan oleh [Masyarakat suku Mindanao], orang Moros, dan orang-orang Kristen.”

Bahkan dengan atau tanpa pengakuan tersebut, misionaris Italia tersebut mengatakan bahwa dia akan terus hidup dan bekerja dengan masyarakat Mindanao. Meski usianya sudah lanjut, Pastor Geremia menjabat sebagai koordinator keuskupan untuk pelayanan pastoral penjara.

 

Pengangguran di Kalangan Anak Muda Sri Lanka Tinggi

Mon, 20/11/2017 - 18:26

 

Pengangguran di kalangan anak muda di Sri Lanka masih menjadi persoalan karena pemerintah belum memenuhi janjinya untuk mengatasi masalah tersebut meski sejumlah aksi protes sudah dilakukan.

Salah satu anak muda yang terlibat dalam aksi protes menuntut pemerintah untuk segera mengambil tindakan adalah Mahesh Vimukthi, pendiri Perhimpunan Sarjana Pengangguran.

Sayangnya, aksi protes biasanya ditanggapi dengan gas air mata dan semprotan air agar para demonstran membubarkan diri.

Bagi Vimukthi and demonstan lainnya, mereka tidak punya pilihan lain kecuali terus melakukan aksi protes karena para penguasa belum mengembangkan sebuah strategi konret untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja untuk anak muda.

Ada lebih dari 60.000 sarjana dan lulusan sekolah yang menganggur dan jumlahnya terus meningkat, katanya.

Menurut survei yang dilakukan oleh Departemen Sensus dan Statistik, jumlah penduduk yang menganggur diperkirakan mencapai 352.875 orang hingga April tahun ini.

Sementara angka pengangguran tertinggi di kalangan anak muda berusia 15-24 tahun mencapai 18,5 persen. Angka pengangguran di kalangan perempuan lebih tinggi dibanding angka pengangguran di kalangan laki-laki.

Aruna Sanjeewa, 23, sudah melewati sembilan kali wawancara kerja. Menurutnya, pekerjaan di sektor umum sulit didapat tanpa akses ke jaringan partai politik.

Kegentingan politik yang terjadi di negeri itu pada 1970-an dan 1980-an, katanya, terkait dengan rasa frustrasi di kalangan anak muda akibat pengangguran.

Salah satunya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Janatha Vimukthi Peramuna (Front Pembebasan Rakyat). Dalam pemberontakan ini, sekitar 60.000 orang terbunuh atau hilang.

Selain itu, katanya, pengangguran juga turut memicu perang sipil yang berlangsung cukup lama antara milisi Tamil dan pasukan keamanan.

Konflik tersebut mulai terjadi pada 1983 dan belum berakhir hingga milisi yang dikenal dengan sebutan Macan Tamil dikalahkan oleh militer pada 2009. Sekitar 100.000 orang terbunuh dalam konflik ini.

Menurut PBB, lebih dari 40.000 warga sipil tewas selama tahap-tahap akhir pertempuran tersebut.

Direktur Pusat Pelatihan Teknik Tec Vithanika Pastor Anton Ranjith menggambarkan pengangguran di kalangan anak muda di negeri itu sebagai persoalan yang “membara.”

Ia mengatakan bahwa pusat pelatihan yang dikelola oleh Gereja itu telah melatih sejumlah anak muda baik laki-laki maupun perempuan sebagai teknisi sejak 1983. Tahun ini, ada 100 anak muda yang dilatih.

“Pusat ini membuka kursus pelatihan mekanik untuk motor, kulkas dan pendingin ruangan,” katanya.

“Kami memberi pelatihan kepemimpinan dan sertifikat yang berafiliasi dengan Kementerian Pelatihan Ketrampilan,” lanjutnya.

Dengan kualifikasi semacam itu, mereka bisa mendapat pekerjaan baik di dalam dan di luar negeri.

Bagi Aruna Shantha Nonis yang mengelola “Born To Win Relationships” untuk anak muda, tenaga mentor masih kurang.

Pelatihan ketrampilan hendaknya bersifat holistis dan mengembangkan sikap positif yang diperlukan sehingga anak muda bisa mendapat pekerjaan, katanya.

KWI: Gereja Katolik Perlu Bangun Dialog untuk Kikis Fanatisme Agama

Mon, 20/11/2017 - 17:38

 

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menutup sidang tahunan baru-baru ini dengan sebuah pesan yang menggarisbawahi pentingnya membangun dialog lintas-iman untuk mengikis fanatisme agama.

Menurut KWI, keadaan bangsa Indonesia saat ini cukup memprihatinkan karena Pancasila, sebagai dasar negara, dirongrong oleh radikalisme dan terorisme. Sementara itu, kesatuan bangsa Indonesia diciderai oleh sikap intoleran terhadap mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

KWI melihat bahwa berbagai sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) yang digunakan dalam politik untuk mencapai kepentingan tertentu dengan mengabaikan cita-cita kesejahteraan bersama, keadilan sosial dan keluhuran martabat manusia turut memperparah situasi tersebut.

“Gereja Katolik harus terus membuka diri untuk membangun dialog dengan agama lain yang didasari ketulusan. Dialog ini penting untuk membangun sikap saling mengenal satu sama lain, meruntuhkan berbagai kecurigaan dan mengikis fanatisme agama,” kata para uskup dalam pesan berjudul “Panggilan Gereja Membangun Tata Dunia.”

Pesan setebal tiga halaman itu dikeluarkan seusai sidang tahunan yang berlangsung 6-16 November di Gedung KWI di Menteng, Jakarta Pusat.

“Dengan dialog, Gereja ingin meneruskan misi Tuhan yaitu merobohkan tembok-tembok pemisah dan membangun jembatan persahabatan dengan semua orang demi terwujudnya persaudaraan sejati yang mengarah pada hidup bersama yang lebih damai dan tenteram,” lanjut para uskup.

Sekretaris Jenderal KWI, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunyamin OSC, mengatakan bahwa salah satu cara konkret untuk membangun dialog adalah melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial.

“Misalnya, tidak pernah menolak undangan untuk terlibat aktif dalam kepengurusan RT, RW dan kelurahan,” katanya.

“Dengan terlibat aktif dalam gerakan bersama (semacam itu) bisa mengembangkan sikap terbuka, memperkuat Bhinneka Tunggal Ika, membangkitkan semangat musyawarah dan mewujudkan keadilan sosial. Maka kehadiran Gereja Katolik menjadi lebih relevan dan signifikan,” lanjutnya.

Berbicara kepada ucanews.com, Mgr Bunyamin mengatakan bahwa KWI ingin mengaktualisasikan dokumen Konsili Vatikan II, Apostolicam Actuositatem, atau dekrit tentang kerasulan awam yang dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.

“KWI menggarisbawahi dokumen tersebut karena panggilan ini sangat konkret saat ini: bagaimana kaum awam sungguh terlibat dan para gembala membantu kaum awam supaya tidak pecah soal pilihan politik,” katanya.

Dalam pesannya, KWI memang menyinggung soal peran hierarki dalam mendukung kaum awam agar lebih berani mengambil peran politik khususnya menjelang pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan dilangsungkan secara serentak di 17 propinsi, 39 kota dan 115 kabupaten pada 2018 and pemilihan presiden pada 2019.

Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM mengakui bahwa sentimen SARA tidak begitu kental di Propinsi Papua. Namun ada kekhawatiran bahwa kaum pendatang yang kebanyakan Muslim akan mendominasi secara ekonomi.

“Kami berusaha bertemu para tokoh agama untuk berdialog,” katanya.

Tan Gwan An, umat Stasi Santo Andreas Kim Taegon di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyambut baik pesan KWI tersebut.

“Saya sering ikut pertemuan dengan para tokoh agama lain, seperti Muslim. Kami terlibat dalam dialog. Misalnya, kami saling mengunjungi saat perayaan Natal dan Idul Fitri,” katanya.

Katharina R. Lestari, Jakarta

 

Paus Kirim Pesan Video tentang Kunjungan ke Myanmar

Mon, 20/11/2017 - 13:43

Paus Fransiskus dalam pesan videonya ke Myanmar mengatakan bahwa dia mengunjungi negara tersebut untuk mewartakan Injil Yesus Kristus dan untuk mendorong rekonsiliasi, pengampunan dan perdamaian.

Paus mengatakan bahwa dia ingin menyampaikan kepada komunitas Katolik untuk memberi kesaksian kepada dunia dengan membuka hati mereka bagi orang lain, terutama orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

“Pada saat yang sama, saya ingin mengunjungi negara ini dalam semangat penghormatan dan untuk mendorong setiap usaha membangun harmoni dan kerjasama yang ditujukan untuk kebaikan bersama,” kata Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus akan tiba di Yangon pada 27 November 2017 di mana dia juga akan bertemu dengan presiden, penasihat negara Aung San Suu Kyi, diplomat dan kelompok masyarakat sipil.

Dia akan memimpin sebuah misa untuk umum di Yangon pada 29 November di mana diperkirakan lebih dari 150.000 umat Katolik dan orang-orang dari agama lain akan bergabung.

Paus juga akan bertemu dengan para biksu Buddha, uskup setempat dan merayakan Misa bersama dengan para pemuda Katolik sebelum berangkat ke Bangladesh pada 30 November.

Orang Kristen Sambut Baik Rencana Membantu Orang Miskin Jadi PNS

Mon, 20/11/2017 - 12:45

Para pemimpin Kristen di India menyambut baik rencana pemerintah memberikan pembinaan gratis kepada siswa dari minoritas agama di sana untuk membantu mereka mempersiapkan ujian masuk pegawai negeri sipil.

Mereka berharap pada akhirnya akan lebih banyak orang Kristen, termasuk dari kalangan minoritas suku, dapat menjadi bagian dari birokrat.

Presentasi Suster Anastasia Gill, anggota Komisi Minoritas Delhi, menggambarkan rencana tersebut sebagai langkah yang membesarkan harapan.

Ujian masuk pegawai negeri sipil dicatat karena termasuk yang terberat di negara ini.

Lembaga swasta mengenakan biaya US $ 500-3000 per tahun untuk melatih calon-calon dalam mengikuti serangkaian dua tes tertulis dan sebuah wawancara.

Mereka yang berhasil menjadi bagian jaringan elit India birokrat, Dinas Administrasi India.

Suster Gill mengatakan bahwa program pembinaan, jika diterapkan dengan benar, akan sangat bermanfaat bagi aspirasi Kristen miskin dari kelompok masyarakat adat dan komunitas Dalit yang kurang beruntung, yang sebelumnya dikenal sebagai kaum yang  tak tersentuh.

Menteri Federal untuk urusan minoritas Mukhtar Abbas Naqvi mengatakan bahwa pemerintah bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk memberikan pembinaan khusus secara gratis.

Dia ingin siswa dari minoritas agama seperti Muslim dan Kristen mengatasi apa yang dia lihat sebagai “inferiority complex” untuk memberdayakan diri mereka sendiri.

Meskipun Muslim merupakan 12 persen dari 1,2 miliar penduduk India, perwakilan mereka di birokrasi dan kepolisian relatif sedikit.

Naqvi mengatakan bahwa kementeriannya menyediakan pembinaan gratis melalui persiapan dengan beberapa lembaga terkemuka dan sebagai hasilnya, tercatat 52 kandidat Muslim lulus ujian pegawai negeri sipil pada tahun 2016.

Suster Gill, seorang pengacara Mahkamah Agung, mengatakan bahwa dalam konteks politik India, kata “minoritas” sering merujuk pada umat Islam.

Sangat disayangkan bahwa banyak skema yang dirancang untuk kaum minoritas tidak menjangkau orang-orang Kristen, yang mungkin lamban memanfaatkannya, katanya.

Pastor Z. Devasagaya Raj, sekretaris kantor waligereja India untuk penduduk asli dan orang-orang Dalit, mengatakan kepada ucanews.com bahwa dia akan mendorong orang-orang Kristen yang layak untuk mengajukan pembinaan gratis.

Dia mengatakan dari tahun 2016, misinya menawarkan bantuan 10.000 rupee (sekitar US $ 150) kepada siswa ujian pegawai negeri asal Dalit untuk membeli bahan belajar.

“Tapi sejauh ini hanya satu siswa yang mendekati kami,” katanya.

Dalit dan penduduk asli membentuk sekitar 60 persen dari 25 juta orang Kristen India, kebanyakan tinggal di desa-desa terpencil.

Ritika Minj, seorang Katekumen dari sebuah masyarakat adat, mengatakan bahwa dia bergabung dengan pusat pelatihan tiga bulan yang lalu, namun beberapa temannya yang miskin tidak dapat melakukannya karena biaya yang sangat mahal tersebut.
“Tentu, rencana pemerintah akan membantu banyak siswa minoritas,” katanya.

Dua Belas Militan Dituduh Membunuh Pemilik Toko Katolik

Fri, 17/11/2017 - 17:56

Polisi di utara Bangladesh menuduh 12 militan atas pembunuhan seorang penjaga toko Katolik tahun lalu, yang terjadi di tengah-tengah serangkaian pembunuhan oleh ekstremis Muslim.

Petugas di distrik Natore mengajukan daftar tuduhan resmi, sebuah dokumen untuk memulai penyelidikan awal, pada 15 November karena kematian Sunil Gomes, 72.

Gomes dipukul sampai mati di toko bahan makanannya di dekat Gereja Katolik St. Maria Lourdes  di Bonpara, Natore pada tanggal 5 Juni 2016. Pembunuhan tersebut memicu serangkaian demonstrasi dari orang-orang Kristen di Natore dan bagian lain negara ini, termasuk ibukota Dhaka.

Dari 12 yang dituduh, tujuh orang terbunuh dalam “baku tembak polisi,” sebuah eufemisme untuk baku tembak, dan satu di dalam tahanan polisi. Empat sisanya dituntut secara in absentia.

Kepala polisi Natore Biplob Talukder mengatakan pemimpin militan dalam tahanan, Rajib Gandhi alias Jahangir, mengaku saat diinterogasi bahwa militan dari Jamaat-ul Mujahidin Bangladesh (JMB) merencanakan dan melakukan pembunuhan tersebut.

“Dia mengakui pembunuhan Sunil Gomes merupakan bagian dari strategi mereka untuk mengacaukan negara tersebut dalam serangkaian pembunuhan minoritas Hindu, Budha, Kristen, Muslim [Syiah] dan orang asing,” kata Talukder kepada ucanews.com.

Tapi Uskup Gervas Rozario dari Rajshahi, yang keuskupannya mencakup daerah tersebut, merasa skeptis terhadap tuduhan tersebut.

“Hanya satu gerilyawan yang ditahan, empat masih dalam jumlah besar sementara tujuh sudah meninggal, saya tidak menganggapnya sebagai kemajuan yang berarti dalam kasus ini. Namun, saya harap orang lain dapat tertangkap jika polisi tulus tentang keadilan,” kata Mgr Rozario, ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Wali Gereja Bangladesh.

Uskup menambahkan “kita masih berharap bahwa keadilan dan penilaian yang adil mungkin terjadi walaupun  tertunda.”
Swapna Gomes, putri korban, juga mengungkapkan keraguan atas kasus tersebut.

“Kami ragu tentang keadilan karena polisi tidak bersemangat dalam penyelidikan mereka dan kata-kata dan tindakan mereka seringkali tidak sesuai. Sudah lebih dari setahun, namun empat militan masih bersembunyi. Ibu dan saya hidup dalam ketakutan menjadi sasaran, “katanya kepada ucanews.com.

Sunil Gomes terbunuh sebagai bagian dari serangkaian serangan militan Islam di Bangladesh, yang pernah dianggap sebagai model pluralisme dan toleransi agama.

Sejak tahun 2013, sekitar 50 orang termasuk blogger atheis, penulis, penerbit, anggota minoritas agama dan Islam dan orang asing diterjang peluru oleh militan setempat yang berjanji setia kepada kelompok teror transnasional Negara Islam dan Al-Qaeda.

Sebagai tanggapan, pemerintah melancarkan tindakan keras yang melibatkan sekitar 70 militan, termasuk pemimpin tertinggi, tewas dan puluhan lainnya ditangkap.

Pages