UCAN Indonesia

Subscribe to UCAN Indonesia feed UCAN Indonesia
Sebuah layanan dari UCA News
Updated: 13 min 50 sec ago

Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan

15 min 9 sec ago

Sebelas anggota keluarga yang menghadiri pembaptisan di sebuah gereja Katolik terbunuh saat gempa yang mengguncang Meksiko tengah pada 19 September. Di antara mereka yang terbunuh di Gereja Santiago [St Yakobus] adalah gadis berusia 2 bulan yang dibaptis dan empat anak di bawah umur lainnya, demikian lapor AP.

Satu-satunya yang selamat dari upacara pembaptisan adalah ayah gadis itu, pastor dan asisten pastor, kata Keuskupan Agung Puebla.

“Itu kejadian yang mengerikan dan sangat menyedihkan di mana sebagian besar orang di dalam gereja sekarat,” kata asisten pastor Lorenzo Sanchez kepada kantor berita itu.

Korban tewas terbunuh saat atapnya roboh. Yang lain bisa hidup karena mereka berada lebih dekat ke dinding saat atapnya runtuh.

Penduduk lokal di kota Atzala di negara bagian Puebla, menggali berjam-jam untuk mengevakuasi mayat dari reruntuhan. Jenazah ditutup dan diletakkan di jalan di mana sebuah pesta pasca baptisan telah direncanakan akan dilakukan.

Kematian di gereja tersebut merupakan bagian dari lebih dari 230 orang yang diketahui telah terbunuh oleh gempa berkekuatan 7.1 skala Richter itu. Awal bulan ini, sebuah gempa lainnya menewaskan sekitar 90 orang di wilayah selatan negara itu.

 

Berita terkait:  Mexican earthquake kills 11 of family during baptism ceremony

Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas

Thu, 21/09/2017 - 21:00

Timor-Leste menghadapi ketidakpastian politik setelah Partai Khunto keluar dari koalisi tiga partai dua hari sebelum pelantikan kabinet 15 September.

Langkah tersebut memunculkan pertanyaan apakah pemerintah sekarang yang minoritas dapat bertahan dalam masa lima tahun penuh.

Pemerintah sekarang harus mendapatkan suara anggota dari partai lain untuk bisa meloloskan anggaran belanja negara, jika ditolak dua kali, pemilu baru harus segera dilakukan.

Penasehat senior partai Khunto Jose Dos Santos Naimori mengatakan bahwa partainya memutuskan bahwa pihaknya tidak dapat bekerja sama dengan mitra seniornya yang memimpin koalisi, Fretilin, yang menjadi pemenang pemilu pada 22 Juli.

Namun perdana menteri baru negara kecil itu, Mari Alkatiri yang telah memulai masa jabatan kedua setelah memimpin negara mayoritas Katolik tersebut pada tahun 2002-2006, mengatakan bahwa Khunto memiliki masalah internal yang perlu diselesaikan segera agar tidak mengganggu koalisi.

“Kami telah bekerja selama satu bulan untuk koalisi, tapi harus berakhir saat Fretilin tidak bekerja sama,” kata Naimori kepada wartawan.

Itu berarti Khunto sekarang akan berada dibarisan oposisi bersama dengan partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste dan Partai Pembebasan Populer.

Profesor Damien Kingsbury dari Deakin University di Melbourne mempertanyakan apakah koalisi Alkatiri bisa bertahan lama. “Sekarang kembali ke pemerintahan minoritas, antara Fretilin dan PD [Partai Demokrat] yang, sampai kesepakatan terakhir ini, memiliki hubungan antagonistik yang sudah berlangsung lama (PD meninggalkan pemerintah pada tahun 2015 setelah Fretilin diundang untuk bergabung), “katanya kepada ucanews.com.

“Ini akan menarik untuk melihat bagaimana mereka bisa berkomunikasi, dan berapa lama mereka bertahan. Ini mungkin cukup pragmatis agar bisa diterapkan, jika pemeritah minoritas bisa begitu.”

Alkatiri yang menjadi perdana menteri pertama di negara itu pada tahun 2002 dan mengundurkan diri pada 2006 karena ketidakstabilan politik, meyakinkan publik bahwa pemerintah akan bertahan selama lima tahun.

“Saya jamin pemerintah ini akan bertahan selama lima tahun,” kata Alkatiri dalam sebuah jumpa pers sebelum pelantikannya pada 15 September.

Dia juga berjanji untuk memasukkan orang-orang terbaik negara tersebut untuk memegang jabatan penting berdasarkan kompetensi mereka, bahkan dari partai oposisi.

Dua mantan perdana menteri berada di urutan pertama dari 12 menteri kabinet yang dilantik pada 15 September.

Presiden Francisco ‘Lu-Olo’ Guterres melantik Alkatiri, 68 tahun, sebagai PM; Jose Ramos Horta sebagai Menteri Negara dan Penasihat Keamanan Nasional; dan Rui Maria de Araujo sebagai Menteri Kesehatan, dan seorang politikus independen, Rui Gomes, diangkat sebagai Menteri Perencanaan dan Keuangan.

18 anggota kabinet lainnya akan dilantik bulan Oktober.

Direktur Eksekutif Yayasan HAK, Manuel Monteiro Fernandes, seorang pengamat politik Timor-Leste yang berpengalaman, percaya pada pemerintahan baru yang ditunjukkan melalui pengangkatan orang-orang penting ke kabinet.

“Saya yakin ini akan berlangsung selama lima tahun,” kata Monteiro kepada ucanews.com, pada 19 September.

Dia mengatakan bahwa Alkatiri telah menerapkan prinsip “orang yang tepat di tempat yang tepat” dengan menunjuk menteri berdasarkan kompetensi mereka, bukan pada pembagian kekuasaan. Inilah yang ditunggu orang-orang. ”

“Jika Alkatiri melakukan hal yang sama dengan 18 pos lainnya, saya pikir orang-orang akan bahagia, Fretilin akan mendapat banyak dukungan, dan tidak mungkin berhenti di tengah jalan,” tambahnya.

Camilo Ximenes, seorang analis politik dari Universitas Negeri Timor-Leste memperingatkan bahwa pemerintah minoritas menghadapi masalah serius dalam hal meloloskan undang-undang, khususnya anggaran negara.

Pasal 112 Konstitusi Timor-Leste menyatakan bahwa kegagalan untuk meloloskan anggaran dua kali berturut-turut, berarti pemilihan lain harus diadakan.

“Tapi bisa dipecahkan dengan membangun komunikasi strategis dan intensif dengan semua faksi politik di parlemen,” katanya.

Uskup Norberto do Amaral dari Maliana memohon kepada umat Katolik Timor-Leste, khususnya elit politik, dan 65 anggota Dewan Perwakilan Rakyat, untuk mempersatukan dan menjamin stabilitas.

“Saya mendesak semua elit politik untuk bersikap rendah hati dan terlibat dalam dialog bersama untuk memecahkan kebutuhan dasar masyarakat,” kata Uskup Amaral kepada Jornal Nasional Diario Timor.

ucanews.com

Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini

Thu, 21/09/2017 - 13:37

Umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang yang meliputi Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Riau-Kepri akan merayakan peristiwa iman pentahbisan Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko, OFM.

Kegiatan tahbisan akan dipusatkan di Stadion Depati Amir Pangkalpinang, Sabtu (23/9) mulai sekitar pukul 10.00 WIB.

Sebanyak 12.000 umat diperkirakan akan memadati stadion untuk mengikuti secara langsung peristiwa iman tahbisan Pimpinan Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang.

Rangkaian perayaan akan menampilkan budaya melayu mulai dari lagu yang bergaya melayu, busana uskup bermotig cual bangka, panggung atau altar utama bergaya melayu.

Ketua Umum Panitia Tahbisan, Pastor Agustinus Dwi Pramodo menjelaskan bahwa segala bentuk persiapan sudah dilakukan.

Karena itu, dirinya mengajak seluruh umat katolik dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama menyukseskan perayaan tahbisan uskup Pangkalpinang.

“Ini peristiwa iman umat Katolik di Provinsi Bangka Belitung dan Riau. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari pemerintah Provinsi, Kota Pangkalpinang dan kabupaten lainnya, dukungan pihak kepolisian, TNI dan seluruh elemen masyarakat selama masa persiapan. Tinggal hitungan hari acara tahbisan akan dilakukan. Karena itu, mari kita bersama mendoakan, bekerja bersama menyukseskan perayaan peristiwa iman tahbisan uskup Pangkalpinang,” ungkap Pastor Pramodo, Selasa (19/9).

Pastor Pramodo juga memohon pengertian dari seluruh masyarakat yang mungkin akan terganggu arus lalu lintas di beberapa lokasi perayaan seperti Stadioan Depati Amir, Gereja Katolik Bernadeth, Gereja Katolik Katedral Pangkalpinang.

“Kami panitia meminta pengertian dari seluruh masyarakat yang mungkin arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan akan terganggu. Kami mohon dukungan dan doanya, semoga semuanya berjalan lancar dan penuh hikmad,” harap Pastor Pramodo.

Lebih lanjut Pastor Pramodo menegaskan bahwa semua umat katolik diundang dan diajak untuk mengikuti perayaan tahbisan Uskup Pangkalpinang.

“Semua umat diundang untuk mengikuti kegiatan Salve Agung, Perayaan Tahbisan dan Misa Perdana Bapak Uskup. Karena itu, diharapkan umat untuk mengikuti semua petunjuk dan arahan yang sudah disampaikan kepada masing-masing komunitas basis dan paroki. Sekali lagi mari kita berdoa bersama, bekerja bersama agar acara tahbisan uskup berjalan lancar , memberikan peneguhan iman bagi umat,” harap Pastor Pramodo.

Kegiatan tahbisan akan dihadiri duta vatikan, 37 uskup, 8 uskup emeritus, 200 pastor konselebran, 100 biarawati, 700 anggota paduan suara, 200 orang penari dan atraksi barongsai.

 

Sumber: Bersama Sukseskan Tahbisan Uskup Pangkalpinang (Tribunnews.com)

 

Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir

Thu, 21/09/2017 - 11:43

Banyak tantangan di Jepang membuat panggilan gereja menjadi garam dan cahaya serta harapan menjadi lebih mendesak dari sebelumnya, Paus Fransiskus mengatakan kepada para uskup di negara itu.

Kenyataannya, sejarah panjang bangsa ini dimana keberanian para martir menunjukkan “kekuatan penginjilan yang sebenarnya dari gereja kalian,” katanya, dan mereka adalah harta besar yang harus selalu diingat, dihargai dan menjadi fundasi.

Ucapan paus disampaikan dalam sebuah surat yang ditujukan kepada semua uskup di Jepang, dan  disampaikan oleh Kardinal Fernando Filoni, prefek Kongregasi untuk Evangelisasi, yang mengunjungi Jepang pada tanggal 17-26 September.

Beberapa dari sederetan masalah yang mengkhawatirkan yang dihadapi negara termasuk tingkat perceraian yang tinggi, bunuh diri, ketidakpedulian pada agama dan “obsesi untuk pekerjaan dan pendapatan,” kata paus dalam surat tertanggal 14 September, pada hari raya Salib Suci.

Negara yang sangat maju bisa menghasilkan kekayaan material, tapi juga kemiskinan material, spiritual, moral dan eksklusi, tulisnya.

Itulah mengapa ia mendesak gereja di Jepang agar terus-menerus “menjadi garam dan cahaya” di dunia, katanya.

Seperti garam asli, katanya, gereja harus mencegah “pembusukan dan memberi rasa,” dan seperti cahaya, “menjaga agar tidak terjadi kegelapan.”

Seperti benih sesawi yang kecil, Gereja Katolik menjadi minoritas di Jepang telah dipercayakan dengan sebuah misi besar, dan kurangnya pastor dan agama di sana tidak boleh menghalangi panggilan untuk menginjil, katanya.

Sebaliknya, hal itu harus mengilhami mereka untuk tanpa lelah mencari pekerja baru untuk kebun anggur Tuhan.

 

Baca juga: Pope tells Japanese bishops not to forget early martyrs

Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste

Thu, 21/09/2017 - 10:49

Sebanyak 13 ribu milisi atau mantan pejuang pro-Indonesia yang menetap di Nusa Tenggara Timur atau NTT mengancam akan menutup pintu perbatasan Indonesia- Timor Leste, jika tetap tidak mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia.

“Kami akan menggelar unjuk rasa dan menutup pintu perbatasan negara agar tidak dilintasi hingga tuntutan kami ditanggapi pemerintah,” kata Mantan Milisi Angelino da Costa kepada Tempo, Rabu, 20 September 2017.

Menurut da Costa,  masyarakat warga baru  atau eks Timtim ada 2 yakni, masyarakat umum dan mantan penjuang. Masyarakat umum, telah mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia dengan memberikan sejumlah bantuan, seperti MBR dan lainnya. “Walaupun masih menyisahkan masalah yang belum terselesaikan,” katanya.

Namun, masyarakat miliisi sudah 18 tahun berada di Indonesia tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Karena itu, 13 ribu milisi atau satu kabupaten  berjumalh 1000 orang akan menggelar aksi unjuk rasa, dan menutup pintu perbatasan.

“Kami juga akan duduki Kantor Gubernur NTT hingga pemerintah pusat memberikan penjelasan nasib para milisi,” ujar da Costa.

Aksi unjuk rasa dan penutupan pintu perbatasan itu akan dilakukan pada 25 September 2017 dengan melibatkan 13 ribu milisi bersama keluarga. “Diperkirakan aksi itu akan diikuti 35 ribu milisi beserta keluarga,” katanya.

Da Costa  mempertanyakan kenapa tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap milisi. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka pintu perbatasan akan ditutup. Dia mencontohkan tentang kelompok separatis di Aceh mendapat perhatian pemerintah. Sedangkan milisi yang bela negara diabaikan. “Separatis di Aceh diperhatikan dari ujung kaki sampai kepala,” tegasnya.

Dia mengaku pihaknya telah menyurati Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Pertahanan serta Polisi Daerah NTT terkait aksi unjuk rasa dan rencana penutupan pintu perbatasan Indonesia – Timor Leste. “Surat sudah dimasukkan dari tingkat pusat hingga daerah,” tegasnya.

 

SELENGKAPNYA: 13 Ribu Milisi Ancam Tutup Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China

Wed, 20/09/2017 - 14:03

Uskup baru Hong Kong, Mgr  Michael Yeung, menggambarkan pendekatannya dalam berurusan dengan rezim yang menekan kebebasan beragama di China sebagai satu pendekatan yang sehat, yang mempertimbangkan pembicaraan yang sedang berlangsung antara Vatikan dan Beijing.

Dalam sebuah wawancara dengan ucanews.com, Uskup Yeung ingin mengingatkan orang bahwa dia bukan seorang diplomat atau terlibat dalam negosiasi Vatikan-Beijing, dan dia tidak akan mengganggu hubungan antara gereja dan China daratan.

“Seandainya saya bukan uskup Hong Kong dan hanya seorang imam, mungkin saya akan bergabung dalam banyak demonstrasi. Tapi sebagai uskup Hong Kong, orang akan melihat saya secara berbeda. Saya harus memikirkan hubungan Vatikan-China, “kata Uskup Yeung di ruang kerjanya di Hong Kong.

“Saya tidak mau mengganggu situasi. Jika ada kemungkinan untuk mempertahankan dialog, saya akan dengan segala cara melakukannya jika itu mungkin,” katanya.

Uskup Yeung, 71, dan pendahulunya, Kardinal John Tong, 78, yang mengundurkan diri pada bulan Juli, dikritik oleh beberapa kalangan Katolik karena tidak cukup banyak berbicara mengenai isu-isu yang mempengaruhi umat Katolik di daratan.

Misalnya soal nasib para uskup dan imam yang ditahan secara tidak sah atau ditempatkan di bawah tahanan rumah, atau kampanye anti-agama resmi seperti kampanye penurunan salib dan pembongkaran gereja di provinsi Zhejiang dan tempat lain.

Uskup Yeung percaya selalu ada tempat dalam situasi seperti itu. “Dalam bahasa China, ada pepatah ‘jangan pernah mengejar seseorang yang lari ke jalan buntu, karena tidak ada tempat baginya untuk lewat dan kemudian dia akan balik dan berkelahir dengan anda,” lanjutnya.

“Saya mencoba melihat isu-isu itu sebagai masalah lokal, bukan untuk meningkatkannya menjadi isu politik utama,” katanya.

“Jika pemerintah Wenzhou menurunkan salib dan hanya terjadi di Wenzhou maka ini adalah masalah lokal dan jika itu adalah satu gereja, sebuah gereja Protestan, maka anda harus menjaganya tetap kecil,” katanya. Uskup tersebut mengaku bahwa  tidak banyak gereja Katolik yang terkena imbas dalam kampanye pemindahan salib dan pembongkaran gereja.

Uskup Yeung mengatakan pemerintah China tidak mau kehilangan muka. “Jika anda mengatakan anda melawannya, maka mereka akan mengatakan, baiklah, mari berkelahi,” katanya.

Uskup Yeung mengatakan bahwa Gereja China menghadapi situasi tiga tingkat: pemerintah, Asosiasi Patriotik Katolik China (CPA), dan gereja.

“CPA sebenarnya (bekerja) sebagai jembatan antara pemerintah dan gereja. Pemerintah tidak akan menangani apa yang disebut Konferensi Waligereja  China (walaupun itu juga tidak disetujui secara resmi oleh Roma dan merupakan organisasi yang dikelola oleh Partai) mereka memberi tahu CPA apa yang harus dilakukan, “katanya.

Uskup Yeung menyatakan dengan tegas  bahwa Gereja Katolik bukanlah sebuah organisasi politik, tetapi jika situasi itu muncul yang bertentangan dengan keadilan sosial dan ajaran Katolik, maka gereja harus berbicara.

Uskup juga mengambil kesempatan untuk menanggapi berita media yang mencirikan dia sebagai orang yang mendesak untuk menghindari peristiwa 4 Juni yang mengingatkan penindasan keras Beijing terhadap demonstran pro-demokrasi damai yang berlangsung di dan sekitar Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

“Untuk 4 Juni, saya merasa sangat sedih, saya pernah melakukan demonstrasi tahunan [di Hong Kong] beberapa kali saja. Tapi setelah 28 tahun, saya bertanya pada diri sendiri apa lagi yang bisa saya lakukan?” Ujarnya.

“Untuk memberikan penilaian adil pada tanggal 4 Juni, saya rasa tidak masalah, itu tertulis dalam sejarah,” katanya. “Tapi jika Anda, pada saat yang sama, katakanlah menyelesaikan negara satu partai, ada pepatah yang dimiliki orang Tionghoa: ‘Anda meminta harimau itu untuk memberi kulitnya.'”

 

Baca juga: Hong Kong’s new bishop admits to a realistic approach to China

Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya

Wed, 20/09/2017 - 12:00

Pastor Tom Uzhunnalil -dari kongregasi Salesian Don Bosco (SDB)- sedang duduk di sebuah ruangan di lokasi yang tidak dia ketahui, salah satu dari sejumlah lokasi dia ditahan selama 18 bulan- ketika dia menerima kabar yang menggembirakan.

“Mereka yang menawan saya datang ke tempat saya tidur (dan berkata), ‘Saya membawa kabar baik untuk kamu. Kami akan mengirim kamu pulang. Kalau mau pergi ke kamar mandi, lakukan sekarang. Mandi, tapi cepat!” kata Pastor Tom kepada wartawan pada 16 September di kantor pusat Salesian di Roma.

Imam asal India itu diculik pada tanggal 4 Maret 2016, dari sebuah panti jompo dan penyandang disabilitas yang dikelola oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman. Pada hari itu, empat Misionaris Cinta Kasih dan 12 lainnya dibunuh dalam serangan oleh orang-orang bersenjata.

“Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk hari ini, karena sudah membuat saya aman, sehat, berpikiran jernih. Emosi saya terkendali sampai sekarang,” katanya setelah mendapatkan ketenangannya.

“Saya tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang para suster [Misionaris Cinta Kasih] karena saya terlalu emosional,” katanya.

Meskipun laporan setelah penculikannya menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh ISIS, namun Pastor Uzhunnalil mengatakan bahwa para penculiknya tidak pernah mengidentifikasi siapa mereka.

“Mengapa mereka tidak membunuhku, mengapa mereka tidak mengikat tanganku, aku tidak tahu,” katanya. “Mungkin mereka menginginkan uang tebusan atau apa pun itu.”

Dia bercerita bahwa setelah meninggalkan dia di bagasi mobil, para militan menggeledah kapel, mengambil tabernakel, membungkusnya dengan kain altar dan meletakkannya di dekat imam yang diculik tersebut. Dengan tangannya yang tidak terikat, Pastor Uzhunnalil dengan hati-hati memindahkan linen dan menemukan empat atau lima hostia kecil, yang dia simpan untuk merayakan Ekaristi pada beberapa hari pertama setelah penangkapan.

Setelah persediaannya habis habis, dia berkata, dia terus melafalkan doa-doa Misa saat sendirian meski tidak memiliki roti dan anggur.

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdoa bagi paus, uskupnya, saudara-saudara Salesian, dan para suster dan semua orang yang sudah dipanggil Tuhan pada hari penculikannya.

Pada 11 September, Pastor Uzhunnalil diberi kabar tentang pembebasannya.

Meskipun dia hanya mengetahui sedikit tentang persiapan pembebasannya, Pastor Uzhunnalil mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada mereka yang membantu pembebasannya, termasuk Sultan Qaboos bin Said al Said dari Oman, pemerintah India, dan Vatikan, termasuk Paus Fransiskus yang dia temui sehari setelah pembebasannya.

 

Baca juga: Indian Salesian priest recounts tale of capture, liberation

Caritas Melatih Guru untuk Mencegah Pelecehan Terhadap Anak-anak

Wed, 20/09/2017 - 11:22

Caritas Sri Lanka melatih guru-guru pra sekolah -TK atau PAUD- agar bisa mengidentifikasi anak-anak yang rentan terhadap penganiayaan fisik dan mental.

Menurut Caritas, anak-anak imigran berisiko tinggi, yang kebanyakan pelakunya adalah pengasuh atau anggota keluarga.

Otoritas Perlindangan Anak Nasional (NCPA) menerima 9.361 pengaduan pada tahun 2016, termasuk 2.180 kasus kekerasan dan 713 kasus pelecehan seksual, 196 di antaranya kasus serius.

Selanjutnya, NCPA menerima keluhan tentang 347 dugaan perkosaan dan 283 kasus pekerja anak.

Sebagian besar kasus dilaporkan berasal dari Provinsi Barat, termasuk di ibukota, Kolombo, serta distrik Kalutara dan Gampaha.

Geethani Fernando, seorang guru prasekolah dari kota pesisir Negombo di Provinsi Barat, mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk membantu anak-anak mengembangkan kepribadian yang seimbang di lingkungan yang secara psikologis kondusif.

Dia bertanggung jawab atas 40 anak berusia 3-4 tahun.

Caritas Colombo, yang secara lokal dikenal sebagai Sethsarana, telah melatih guru pra sekolah untuk mengidentifikasi anak-anak, melalui perilaku mereka, siapa dapat menjadi korban pelecehan, khususnya pelecehan seksual.

Orang tua dididik tentang bagaimana menjaga anak-anak mereka tetap aman di rumah dan juga di sekolah, termasuk dengan mengajarkan anak-anak tentang potensi bahaya.

Terapi seni digunakan sebagai alat untuk memungkinkan anak mengekspresikan emosinya. Karitas menyediakan konseling gratis untuk anak-anak yang membutuhkan.

Prasad Fernando, koordinator lapangan Caritas Colombo, mengatakan beberapa orang berbicara tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak di dalam “lingkaran keluarga”.

Kasus baru yang menarik perhatiannya melibatkan seorang ayah dari Negombo yang dituduh telah menggunakan anak perempuannya yang berusia 3 tahun untuk seks oral.

P.S. Vidaya, seorang gadis berusia 18 tahun, pada Mei 2015, diculik dalam perjalanan ke sekolah, diperkosa dan dibunuh oleh kelompok geng.

Pada bulan September 2015, orang-orang Sri Lanka marah dengan pembunuhan Seya Sadevmi Bakmeedeniya, seorang gadis berusia empat tahun. Dia diculik dan diperkosa oleh seorang pria paruh baya. Mayatnya ditemukan dua hari kemudian.

Caritas Colombo menjalankan berbagai program untuk anak-anak dan orang tua untuk membuat mereka sadar akan ancaman tersebut.

Samantha Nilmalgoda, seorang konsultan psikologis senior, berkata; “Sangat mudah untuk menyasar anak-anak sebagai mangsa karena mereka begitu polos.” Nilmalgoda sebelumnya bekerja untuk Angkatan Laut Sri Lanka sebagai konsultan psikologis.

Nilmalgoda, dengan dukungan Caritas Colombo, melatih guru pra sekolah untuk mengidentifikasi anak korban penganiayaan dan memberikan bantuan psiko-sosial.

T.M. Kamani Manjula, petugas pengembangan pra-anak di Sekretariat Wilayah Negombo, mengatakan bahwa seringkali ketidaktahuan orang tua yang menyebabkan anak menjadi korban.

Sulit untuk membuat orang tua sadar akan dampak penganiayaan verbal dan fisik karena mereka sering hanya memperhatikan masalah pelecehan seksual, kata Manjula menambahkan.

Sejauh ini, Caritas Colombo telah melatih hampir 100 guru pra sekolah di Provinsi Barat sebagai antisipasi dalam rangka perlindungan anak.

Menurut UNICEF Sri Lanka, 50 persen dari semua pelanggaran seksual terhadap anak dilakukan oleh orang tua, yang merawat atau seseorang yang dikenal baik oleh anak tersebut.

-ucanews.com-

Pastor Soganub Akhirnya Bebas dari Tangan Pemberontak Marawi

Tue, 19/09/2017 - 15:44

Seorang pastor senior Filipina yang disandera oleh gerilyawan yang berafiliasi dengan ISIS di kota Marawi selatan yang dilanda konflik telah dibebaskan setelah hampir empat bulan disandera.

Penasihat perdamaian Presiden Rodrigo Duterte, Jesus Dureza, menyampaikan kabar tersebut pada 17 September bahwa  Vikjen Marawi Pastor Teresito Soganub telah bebas dalam akun Facebook-nya.

Pejabat militer pada awalnya menolak untuk mengkonfirmasi berita tersebut namun pada 18 September mengumumkan bahwa pastor tersebut dibebaskan bersama dengan sandera lain.

Juru bicara Komite Manajemen Krisis Provinsi Lanao del Sur, Zia Alonto Adiong, sebelumnya merilis foto pastor tersebut di sebuah pesawat di samping perwira militer.

Pihak militer mengatakan penundaan dalam mengumumkan bahwa Pastor Soganub bebas adalah karena operasi penyelamatan yang sedang berlangsung untuk mengamankan sandera lain yang berada di sebuah kantong kecil di Manawi, sebuah pusat komersial dan religius yang dulu berkembang dan kini menjadi reruntuhan karena pertempuran selama empat bulan.

Kabur

“Saya senang menerima pesan tentang penyelamatan pastor Chito tidak peduli cara mereka kabur,” kata Uskup Edwin dela Pena dari Marawi kepada situs berita Konferensi Waligereja Filipina.

Marilyn Soganub-Ginnivan, adik perempuan Pastor Soganub, mengatakan bahwa keluarganya sangat senang mengetahui bahwa pastor tersebut bebas dan aman.

Dia mengatakan bahwa pastor tersebut belum dapat berhubungan dengan keluarga sejak dia dilaporkan berhasil diselamatkan pada 16 September.

“Kami masih menunggu teleponnya,” katanya kepada ucanews.com.

Keluarga Soganub, dari kota Norala di Cotabato Selatan, akan mengadakan pesta syukur untuk pastor tersebut, kata Soganub-Ginnivan.

“Kami telah berdoa untuk kebebasannya dan untuk para tawanan lainnya sejak mereka diculik. Tuhan menjawab doa kami,” katanya.

“Kekuatan doa sekali lagi ditunjukkan sebagai saksi iman kita yang teguh kepada Tuhan.” Tulis Uskup Agung Martin Jumoad dari Ozamiz dalam sebuah artikel yang diposkan di situs konferensi para uskup.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Manila, pastor Soganub mengatakan bahwa dia baik-baik saja seperti yang diharapkan setelah menjalani cobaan berat.

“Saya secara fisik kuat dan sehat,” kata Pastor Suganob di Camp Aguinaldo, markas militer nasional.

Pastor Suganob meminta orang-orang Filipina untuk mendoakan sandera lain yang tersisa sebelum dokter militer membawanya untuk pemeriksaan kesehatan.

Kelompok terkait dengan ISIS menangkap Pastor Soganub dan para pekerja gereja di Katedral Marawi pada tanggal 23 Mei, hari pertama pertempuran di kota Islam tersebut.

Serta membawa sekitar 30 orang dari kantor katedral, mereka juga merobek dan menodai ikon dan gambar suci lainnya dan mencoba membakar gedung tersebut.

Pastor Soganub muncul dalam sebuah video seminggu setelah penangkapannya, meminta Duterte untuk menarik pasukannya dan menghentikan serangan udara terhadap pemberontak.

Dia juga mengatakan bahwa militan memiliki lebih dari 200 sandera. Militer bulan lalu mengatakan jumlah sandera turun menjadi sekitar 40 orang.

Panglima militer Jenderal Eduardo Ano mengatakan bahwa tentara akan terus menyerang pemberontak sampai pertempuran tersebut selesai.

Dia mengatakan ada 12 sandera lain yang tersisa bersama Omar Maute, satu-satunya anggota senior klan lokal yang tersisa yang bersekutu dengan militan yang terkait dengan ISIS.

“Sisanya dari Mautes sudah mati,” kata Ano.

Jenderal Ano mengatakan Pastor Suganob memberitahu kepadanya bahwa para sandera diberi makan dengan baik dan tidak disakiti, namun tidak dapat menjamin perlakuan terhadap para tawanan lainnya yang tidak berada dalam kelompok mereka.

dia menambahkan bahwa saat pertempuran pecah, pemberontak memaksa beberapa sandera untuk berdiri sebagai penjaga bersenjata yang mengenakan jubah hitam untuk mencegah mereka melarikan diri karena takut ditembak oleh tentara.

Pejabat militer juga pada 18 September mengatakan hampir 900 orang telah tewas dalam konflik empat bulan tersebut. Untuk bulan lalu, militer mengatakan bahwa mereka memerangi hingga 50 militan garis keras di area seluas 500 meter persegi.

ucanews.com

Pemerintah Jakarta, NU Berjuang Bersama Melawan Ekstremisme

Tue, 19/09/2017 - 15:32

Pemerintah kota Jakarta bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, untuk melatih dan mendidik para pengkhotbah Islam dalam  menyebarkan pesan persatuan dan perdamaian sebagai  upaya memerangi peningkatan ekstremisme dan intoleransi agama.

Organisasi Islam akan melatih 1.000 pengkhotbah dalam sebuah program yang dimulai pada bulan November.

Gubernur baru Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, mengatakan bahwa pihak berwenang ingin mendidik para pengkhotbah “untuk mengkhotbahkan ajaran Islam yang benar … dan Islam yang toleran.”

Dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan ekstremisme dan intoleransi untuk mendapatkan pijakan di kota.

Menurut Maksum Machfiedz, wakil kepala dewan eksekutif pusat NU, program pelatihan itu, yang akan didanai oleh pemerintah kota akan berfokus pada bagaimana membuat Islam Nusantara  menjadi praktik utama di kalangan umat Islam di Indonesia.

Islam Nusantara adalah konsep yang dikembangkan oleh NU, berdasarkan pendekatan budaya dan pluralis, untuk menyebarkan Islam yang damai ke seluruh dunia.

Aktivis menyambut baik langkah tersebut, menyebutnya sebagai respon yang sangat dibutuhkan terhadap ancaman ekstremisme yang semakin meningkat, yang semakin dipromosikan di tempat-tempat ibadah.

Bonar Tigor Naipospos, wakil direktur Setara Institut untuk Demokrasi dan Perdamaian mengatakan kepada ucanews.com pada 14 September bahwa kelompok-kelompok yang tidak toleran dan ekstremis menargetkan masjid, terutama di daerah perumahan dan kantor-kantor terdekat untuk menyebarkan pandangan mereka.

“Mereka mencoba menjadi pengkhotbah saat sholat, terutama sholat Jumat,” katanya.

Naipospos mengatakan bahwa ini terlihat jelas saat pemilihan gubernur di Jakarta tahun ini, di mana masjid-masjid digunakan oleh kelompok-kelompok yang tidak toleran untuk menyerang gubernur Chinese Kristen incumbent, Basuki Tjahaja Purnama, yang kemudian dihukum karena menghujat karena telah mengeluhkan bahwa para pemilih dengan salah mengatakan bahwa pemungutan suara untuk non-Muslim menentang Quran.

Naipospos mengatakan bahwa upaya bersama antara pemerintah Jakarta dan NU perlu menjadi model yang bisa diterapkan di kota lain.

“Kami membutuhkan usaha lebih lanjut untuk menyelamatkan rumah ibadah dari kelompok intoleran,” katanya.

Pastor Antonius Benny Susetyo, seorang aktivis, mengatakan bahwa inisiatif pelatihan merupakan langkah maju bagi masyarakat untuk memahami agama secara keseluruhan agar tidak tertipu bahwa ini adalah sesuatu yang bisa digunakan untuk tujuan politik.

“Agama sering dijadikan alat politik untuk manipulasi kebenaran dan untuk membenarkan kekerasan,” katanya.

“Kami juga berharap agar kerja sama [pemerintah kota dan NU] akan mengembalikan fungsi sebenarnya  rumah ibadah sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan yang pengasih,” katanya.

Sekitar 50.000 Warga Rohingya Terancam Kelaparan

Tue, 19/09/2017 - 14:12

Program Pangan Dunia (WFP) organisasi milik PBB yang menyediakan bantuan makanan secara reguler kepada 120.000 orang Rohingya di kamp pengungsian, bekerja mengejar waktu untuk memberikan bantuan untuk kelangsungan hidup untuk 50.000 orang pengungsi yang telah mengungsi sekitar tiga minggu.

Gangguan pendistribusian bantuan terjadi menyusul tuduhan pemerintah bahwa badan bantuan tersebut mendukung pemberontak, yang menyebabkan kontraktor lokal menolak membawa bantuan makanan untuk negara bagian Rakhine yang dilanda konflik sejak 25 Agustus.

Hal ini juga mempengaruhi penyediaan perawatan kesehatan primer di kamp pengungsi internal di dekat Sittwe dan tempat lain di negara bagian ini.

Pengungsi Rohingya dari sepuluh kamp, ​​yang ditutup dengan penjagaan polisi di dekat Sittwe, ibu kota pelabuhan Rakhine, mengatakan bahwa beberapa kamp mendapat jatah makanan pada bulan Agustus namun sebagian besar kamp tidak mendapat jatah.

Program Pangan Dunia (WFP) secara teratur menyediakan beras, kacang dan minyak setiap bulan dan kontraktor lokal membawa makanan dengan truk dan mengirimnya ke kamp-kamp.

Kontraktor lokal yang berasal etnis Rakhine prihatin dengan pembalasan oleh kelompok garis keras Buddhis Rakhine menyusul tuduhan pemerintah bahwa biskuit energi WFP ditemukan di kamp militan Rohingya di Rakhine utara.

“Saya tidak tahu apakah kami akan mendapatkan bantuan pada bulan September tetapi kami sangat kesulitan untuk kelangsungan hidup sehari-hari karena kami benar-benar bergantung pada bantuan pangan yang diberikan donatur,” kata Roshida, seorang ibu berusia 25 tahun yang memiliki tiga orang anak yang tinggal di kam Maw Sonywa dekat Sittwe.

Sekitar 120.000 Muslim Rohingya mengandalkan bantuan dari PBB dan LSM Internasional sejak tahun 2012 ketika pertikaian berlatar agama meletus antara Rohingya dan etnis Rakhine di Sittwe dan sekitarnya, menyebabkan lebih dari 200 orang tewas.

Pierre Peron, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan karena gangguan keamanan di negara bagian Rakhine Tengah, banyak orang saat ini tidak menerima bantuan makanan secara normal. Dia mengatakan bahwa layanan perawatan kesehatan primer sangat terganggu karena dokter dan staf medis tidak hadir di klinik.

Peron menambahkan bahwa lingkungan yang aman dan kondusif bagi semua staf dan kontraktor kemanusiaan harus dipastikan sehingga mereka dapat melanjutkan pekerjaan penting mereka untuk memenuhi kebutuhan semua masyarakat di Negara Bagian Rakhine.

“Tanpa akses reguler untuk membantu dan dengan pembatasan yang ketat terhadap kebebasan bergerak ribuan orang, sedikit gangguan pada bantuan kemanusiaan memiliki dampak kemanusiaan yang sangat nyata,” kata Peron kepada ucanews.com.

Staf dari organisasi bantuan internasional takut untuk datang di kamp-kamp padat penduduk tersebut karena permusuhan terhadap kelompok-kelompok pemberi bantuan meningkat di Rakhine setelah kantor Aung San Suu Kyi berulang kali menerbitkan gambar biskuit energi WFP yang diduga ditemukan di kamp-kamp militan Rohingya.

Kantor Aung Suu Kyi mengatakan bahwa mereka menyelidiki dukungan kelompok bantuan untuk militan dalam setidaknya satu insiden.

Badan-badan donatur sering dituduh pro-Rohingya oleh Budha Rakhine dan kantor penyalur bantuan di Sittwe dijarah pada pada kerusuhan tahun 2014.

Zaw Zaw Naing yang bekerja sebagai petugas kesehatan masyarakat di Komite Penyelamatan Internasional di kamp pengungsi Dar Paing mengatakan kepada ucanews.com bahwa “klinik telah ditutup karena dokter yang dikirim oleh rumah sakit yang dikelola pemerintah tidak muncul dan pekerjaan saya juga berhenti.”

Zaw Zaw Naing dan relawan lokal lainnya telah berhenti bekerja selama hampir tiga minggu. Sementara itu, dua anak yang menderita radang paru-paru dan dua orang lansia yang menderita diabetes telah meninggal dalam dua minggu terakhir di kamp pengungsi Thetkaepyin.

Dosmin, seorang wanita berusia 24 tahun, mengatakan bahwa anak perempuan mereka yang berusia lima bulan meninggal karena pneumonia pada 28 Agustus karena hanya layanan kesehatan ringan yang tersedia di kamp-kamp tersebut.

“Saya membawa anak saya ke klinik terdekat tapi tidak tertolong karena mereka kekurangan peralatan darurat,” kata Dosmin kepada ucanews.com.

Namun, ada tanda-tanda bahwa krisis yang lebih luas dapat dihindari setelah WFP dapat melanjutkan distribusi bantuan di satu kamp pada 12 September dalam koordinasi dengan pemerintah, yang menyediakan truk, keamanan dan staf tambahan.

“Jika semuanya berjalan dengan baik, kami berharap bahwa lebih dari 50.000 pengungsi yang belum menerima jatah bulan Agustus akan mendapatkannya pada akhir minggu ini,” kata WFP pada 12 September.

 

Baca juga: Starvation risks 50,000 Rohingya refugees

PBB Khawatir 1 Juta Rohingya Bakal Melarikan Diri ke Banglades

Mon, 18/09/2017 - 16:51

Hingga 1 juta pengungsi Muslim Rohingya – atau seluruh populasi minoritas di negara bagian Rakhine, Myanmar – akan membanjiri Bangladesh pada akhir tahun, kata pejabat senior PBB.

Hampir 400.000 pengungsi telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus di tengah meningkatnya kekerasan di Rakhine, pejabat PBB mengatakan pekan lalu, dan menambahkan bahwa jumlahnya bisa jauh lebih tinggi.

Sebanyak 10.000 sampai 20.000 pengungsi melintasi perbatasan setiap hari, Radio Free Asia melaporkan mengutip pernyataan mereka.

“Kami harus memperkirakan kasus terburuk di mana semua orang keluar dari Rakhine,” Mohammed Abdiker Mohamud, direktur operasi dan keadaan darurat untuk Organisasi Migrasi Internasional (IOM), badan migrasi PBB, mengatakan pada sebuah briefing pers baru-baru ini di Bangladesh.

Sebanyak 400.000 pengungsi yang tiba di Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir mewakili lebih dari sepertiga populasi Muslim Rakhine, demikian data dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu oleh Komisi Penasehat di Negara Bagian Rakhine, sebuah badan yang ditunjuk oleh Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi dan dipimpin oleh mantan Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan.

Para pengungsi baru ini juga menambah jumlah penduduk Rohingya di Bangladesh tenggara mencapai lebih dari 800.000 orang, termasuk mereka yang melarikan diri dari kekerasan sebelumnya di Rakhine.

Ditanya apakah masyarakat internasional telah berbuat cukup banyak untuk menanggapi situasi tersebut, Mohamud menjawab,”Pendapat jujur saya, belum.”

“Apakah kita akan melihat 600.000? Atau 700.000? Atau apakah kita akn melihat satu juta orang yang datang sebelum akhir tahun ini?” kata pejabat IOM.

Ketika eksodus dimulai, badan-badan bantuan memperkirakan bahwa sebanyak 80.000 pengungsi dapat menyeberang ke Bangladesh. Namun dalam waktu kurang dari sebulan jumlah yang tiba dari Rakhine sudah empat kali lebih banyak dari jumlah tersebut, kata Mohamud. -ucanews.com

Paus Minta Agar Uskup Baru Memiliki Sikap Mendengarkan

Mon, 18/09/2017 - 15:58

Seorang uskup tidak bisa secara utuh membedakan kehendak Tuhan dengan hanya memimpin kawanannya. Sebaliknya, dia harus mendengarkan dan mengalami kehidupan orang-orang yang dipercayakan padanya, kata Paus Fransiskus kepada 120 uskup baru.

Bagi seorang uskup, mendengarkan suara Tuhan merupakan “tindakan komunitas” yang tidak boleh mengabaikan “kekayaan pendapat para imam, diakon, umat Allah dan orang-orang yang dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat,” kata paus pada 14 September di akhir pelatihan tahunan Vatikan untuk para uskup baru.

“Uskup bukanlah seorang ayah penguasa tunggal. Juga bukan seorang gembala yang takut dan menyendiri,” kata paus seperti dilansir Catholic News Service.

Dalam pidatonya, paus merefleksikan “penegasan pastoral dan spiritual” yang dibutuhkan seorang uskup dalam membimbing pria dan wanita dalam pencarian mereka akan hidup dan kebahagiaan.

Untuk memimpin kawanan, para uskup harus dipandu oleh Roh Kudus, yang berasal hanya dari hubungan pribadi dengan Allah melalui doa, dan yang membantu mereka dalam “menjadi bijak dalam pilihan dan perilaku pribadi dan gerejani.”

Keteguhan sejati, kata paus, terletak pada menumbuhkan sikap mendengarkan yang tidak bergantung pada “pandangan orang lain,” tapi menggunakan pandangan sendiri untuk melihat tempat dan manusia, tradisi spiritual dan budaya keuskupan.

Kerendahan hati terhadap rencana dan prioritas seseorang dan ketaatan kepada Injil dan ajaran gereja juga merupakan komponen penting dari proses peneguhan itu, yang berfungsi sebagai obat untuk “sesuatu yang selalu dilakukan dengan cara yang sama.

Seorang uskup tidak boleh menerima begitu saja bahwa dia memiliki kebijaksanaan, seolah-olah kebijaksanaan adalah hak yang diperoleh secara otomatis dengan pentahbisan. Tidak, hikmat adalah anugerah yang harus terus menerus diminta dalam doa, kata paus.

Imam Salesian yang Dibebaskan Butuh Waktu untuk Pemulihan

Mon, 18/09/2017 - 15:04

Bebasnya imam Salesian pada 12 September yang lalu setelah 18 bulan ditangkap oleh penculik di Yaman membawa  banyak kegembiraan  bagi pejabat gereja dan kerabat di negara asalnya di India selatan.

Pastor Thomas Uzhunnalil, SDB dibebaskan dan sekarang hidup tenang di biara kongregasinya di Roma, demikian dikonfirmasi Pastor Jose Koyickal, wakil provinsi Bangalore yang menjadi tempat tugas pastor yang diculik itu.

Ketika berita tentang pembebasan tersebut mulai beredar di media, orang-orang Katolik di desa Ramapuram di bawah Keuskupan Pala berkumpul di rumah leluhur mereka untuk berdoa dan membagikan permen yang mengungkapkan kegembiraan mereka di akhir penantian yang menyakitkan.

“Saat ini, dia sangat lemah, dia hampir tidak dapat berjalan, dia memiliki riwayat diabetes,” pembesar Salesian mengatakan kepada ucanews.com bahwa prioritas untuk Pastor Uzhunnalil adalah untuk memulihkan kembali kesehatannya.

“Pemeriksaan dan perawatan medis akan memakan waktu lama,” kata Pastor Koyickal, menambahkan bahwa jadwal masa depan Pastor Uzhunnalil bergantung pada kondisi kesehatannya.

Orang-orang gereja membuat persiapan untuk membawa pulang pastor itu sesegera mungkin, kata Pastor Koyickal namun tidak dapat mengkonfirmasi tanggal pemulangannya.

Umat Katolik di Keuskupan Kerala mempersembahkan doa khusus setelah Misa untuk kebebasan imam, yang diculik oleh tersangka teroris Islam pada tanggal 4 Maret 2016 dari kota Aden, Yaman.

Orang-orang bersenjata, yang menyerang rumah perawatan yang dikelola oleh Misionaris Cinta Kasih, juga menembak mati 16 orang, termasuk empat biarawati, sebelum menculik pastor tersebut. Pastor Uzhunnalil adalah pastor di rumah perawatan.

Shajan Thomas, sepupu pastor tersebut, mengatakan kepada ucanews.com bahwa keluarganya lega mendengar berita itu. Dia mengatakan pembebasan tersebut merupakan hasil usaha yang terus menerus oleh banyak orang, termasuk pemerintah dan gereja, dan doa orang-orang di negara ini.

Mengumumkan pembebasan Pastor Uzhunnalil setelah penahanan 557 hari, Kardinal George Alencherry dari Ernakulam-Angamaly yang berpusat di Kerala, memimpin sebuah doa syukur di Katedral St. Mary di Kochi.

Dia mengatakan bahwa doa jutaan orang dari seluruh dunia membantu pembebasan imam tersebut.

“Pemerintah India dan Vatikan juga melakukan upaya yang tulus. Koordinasi berbagai agen oleh Uskup Paul Hinder dari Vikariat Apostolik di Arabia Selatan, memungkinkan penyelamatan itu terjadi,” kardinal itu memberi tahu media tersebut.

Kardinal juga mengucapkan terima kasih kepada para ekstrimis Islam yang membebaskan para imam. “Tuhan bertindak melalui orang yang berbeda. Rilisan ini adalah berita tentang kegembiraan besar yang seluruh dunia telah tunggu,” katanya.

Konferensi Waligereja India juga mengucapkan terima kasih kepada Vatikan dan pemerintah India, terutama Perdana Menteri Narendra Modi dan Menteri Luar Negeri Sushama Swaraj atas usaha mereka untuk membebaskan para imam.

Berita tentang pembebasan Pastor Uzhunnalil mulai bermunculan saat media Oman melaporkan tentang hal itu. Beberapa video menunjukkan pastor yang turun dari pesawat terbang. Beberapa menunjukkan bahwa pastor itu berjalan di sebuah ruangan besar dan berbicara kepada media, mengatakan bahwa dia berterima kasih pada Tuhan dan Sultan Oman Sultan Qaboos bin Said.

Segera, Vikariat Arab Selatan mengirim sebuah komunike yang mengonfirmasikan berita tentang pembebasan imam tersebut. Ini mengutip Uskup Hinder, yang Vikariat Arab Selatan mencakup daerah tersebut, dengan mengatakan bahwa pastor tersebut “berada di tangan yang aman.”

Pemerintah India sejauh ini tidak mengeluarkan pernyataan resmi atau mengumumkan tentang  pastor tersebut. Satu-satunya konfirmasi dari berita tersebut adalah tweet dari Swaraj yang mengatakan: “Saya dengan senang hati memberi tahu bahwa Pastor Tom Uzhunnalil telah diselamatkan.”

Pelepasan imam mengakhiri penantian mengerikan bagi keluarga dan orang-orang gereja karena penahanannya dipenuhi dengan ketakutan akan penyiksaan. Beberapa minggu setelah desas-desus penculikannya mengatakan bahwa ekstremis Islam berencana untuk menyalibnya pada hari Jumat Agung.

Video juga menyebar di media sosial yang menunjukkan seseorang ditampar dan disiksa, dengan mengatakan bahwa imam berada di bawah tekanan. Dua video lainnya juga muncul, di mana pastor yang lemah meminta pemerintah, Vatikan dan Gereja Katolik untuk bekerja demi penyelamatannya, secara tidak langsung meminta mereka untuk memenuhi tuntutan penculiknya.

Pelepasan pastor itu membuat beberapa media berspekulasi jika uang tebusan dibayarkan untuk pembebasan imam tersebut. “Tapi biar kukatakan ini secara pasti, tidak ada yang pernah menuntut uang tebusan ke jemaat Salesian atau gereja di India dan kita tidak membayar apa-apa,” kata Pastor Koyickal.

“Jika ada orang lain yang membayarnya, kami tidak tahu,” kata pastor itu. Menurutnya, kebebasan itu dijamin murni melalui intervensi mekanisme pemerintah.

 

Baca juga: Freed Indian priest in Rome for treatment

Uskup Pakistan Ingatkan Suu Kyi untuk Melindungi Muslim Rohingya

Fri, 15/09/2017 - 13:30

Uskup Katolik Pakistan memohon kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, untuk melindungi komunitas minoritas Muslim Rohingya.

Perkiraan terakhir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sekitar 370.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh dalam dua minggu terakhir.

Menurut PBB, sebagian besar pengungsi adalah perempuan yang rentan, termasuk ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak dan orang tua.

Dalam sebuah pernyataan kepada media, uskup-uskup Pakistan mengecam penganiayaan terhadap minoritas muslim Rohingya di Myanmar.

Mereka mengulang apa yang dikatakan Paus Fransiskus, dalam pidatonya pada hari Minggu tanggal 27 Agustus saat doa Angelus, yang menyatakan bahwa dia mengikuti “berita sedih” penganiayaan ini.

Paus meminta agar Rohingya di Myanmar diberi hak kewarganegaraan penuh.

Ketua Presidium  konferensi Wali Gereja Pakistan, Uskup Agung Joseph Coutts dari Keuskupan Agung Karachi, dan Uskup Joseph Arshad dari Keuskupan Faisalabad, “mengecam keras” serangan terhadap Rohingya.

Mereka meminta Penasihat Negara Suu Kyi untuk menjamin hak penuh orang Rohingya di negaranya.

Mereka juga meminta Myanmar untuk menghentikan semua operasi militer di negara bagian Rakhine utara, di mana penduduk Rohingya merupakan yang terbesar. Para uskup mengatakan bahwa sekitar 1.300 kematian akibat “pembersihan etnis” merupakan sebuah tirani.

Selanjutnya, para uskup meminta masyarakat internasional, khususnya pemerintah Pakistan, untuk memulai dialog dengan Myanmar untuk mengizinkan akses organisasi kemanusiaan ke masyarakat yang terkena dampak.

“Gereja Katolik Pakistan berdiri teguh bersama orang Rohingya dan menyampaikan doa demi keselamatan dan kesejahteraan mereka, dengan harapan akan segera ditemukan solusi damai,” demikian kesimpulan pernyataan para uskup.

Sementara itu, ribuan orang melakukan demonstrasi di kota pelabuhan Pakistan selatan, Karachi, untuk mengutuk apa yang mereka sebut “genosida” Muslim Rohingya di Myanmar.

Baca juga:

Sekolah di Kuala Lumpur Terbakar, 24 Orang Meninggal

Fri, 15/09/2017 - 12:36

Dua puluh empat orang tewas dalam kebakaran yang menghanguskan sebuah sekolah Darul Quran Ittifaqiyah di Malaysia pada 14 September.

Para pejabat setempat menggambarkan tragedi tersebut sebagai salah satu bencana kebakaran terburuk di negara itu untuk beberapa tahun terakhir.

Kebakaran itu terjadi pada dini hari tanggal 14 September di gedung berlantai dua sekolah Darul Quran Ittifaqiyah, di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api dalam waktu satu jam namun kerusakan pada bangunan sangat luas.

“Ini benar-benar tidak masuk akal bagi banyak orang karena harus mati hangus terbakar. Saya pikir ini adalah salah satu bencana kebakaran terburuk di negara ini dalam 20 tahun terakhir,” kata Khirudin Drahman, kepala pemadam kebakaran Kuala Lumpur.

Dia mengatakan 22 siswa dan dua penjaga tewas dalam kobaran api tersebut.

Laporan mengatakan banyak dari mereka yang meninggal terjebak di asrama yang memiliki jeruji logam di jendelanya.

“Kami sekarang sedang menyelidiki penyebab kebakaran,” katanya.

Petugas pemadam kebakaran berada di lokasi kejadian mengatakan bahwa api itu dimulai di sebuah asrama dan menyebar dengan cepat meskipun petugas pemadam kebakaran dari tempat Pemadam Kebakaran terdekat mencapai tempat kejadian dalam hitungan menit.

ucanews.com

BNPT Kembalikan 15 Simpatisan ISIS ke Masyarakat

Fri, 15/09/2017 - 09:46

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) secara resmi melepas sebanyak 15 orang warga binaan eks deportan simpatisan jaringan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) untuk selanjutnya kembali ke masyarakat.

Ke 15 WNI eks. deportan simpatisan ISIS tersebut dilepas oleh Kasubdit Bina Dalam Lapas Khusus BNPT, Kolonel Mar. Andy Prasetyo di kantor BNPT, komplek Indonesian Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Kab. Bogor pada Rabu (13/9/2017) siang. Menurutnya pelepasan ini juga sebagai wujud gambaran suatu sinergitas antar Kementerian / Lembaga (K/L) terkait dalam penanggulangan terorisme.

Menurut Andy, momentum pelepasan eks deportan simpatisan ISIS ini bukan sekedar formalitras semata. Ini adalah momentum nyata bahwa kementerian dan lembaga yang terkait dalam penanggulangan terorisme bersama-sama untuk saling membantu mereka(deportan) agar dapat kembali diterima di lingkungan masyarakat.

Ia juga menjelaskan bahwa pelepasan ini juga merupakan tonggak bagi para deportan ini dimana mereka itu ingin kembali ke NKRI.

“Karena para deportan ini sudah mengakui penyesalannya saat mereka pindah ke Suriah,” ujarnya.

Dalam pelepasan tersebut beberapa unsur terkait juga turut hadir sesuai dengan domisili para deportan tersebut. Contohnya saat pemulangan tersebut yang menjadi leading sector adalah dari Kementerian Dalam Negari melalui unsur paling depan yakni lurah dibantu koramil dan juga polsek sesuai dengan domisli para deportan tersebut.

“Ini menandakan suatu kebersamaan untuk sama-sama peduli dalam memberantas paham radikal terorisme agar tidak kembali tumbuh di masyarakat. Karena kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa, sebelum dilepas untuk kembali ke masyarakat para deportan ini sejak sepulang dari Irak telah mendapatkan bimbingan terlebih dahulu terkait pemahaman seperti wawasan kebangsaannya, agama dan juga psikologinya di Pusat Deradikalisasi (Pusderad) BNPT.

Selama berada di Pusderad, mereka mencurahkan kesaksian bagaimana keadaan mereka selama berada di Suriah. Namun setelah berangkat ke Suriah timbul kekecewaan dari mereka bahwa janji yang diberikan oleh kelompok ISIS ini tidak sesuai dengan kenyataan.

“Dan akhirnya timbul dari benak mereka bahwa bangsa saya lebih baik daripada di Suriah. Dan akhirnya mereka kembali. Setelah kembali tanah air bagi mereka ini adalah kesempatan hidup kedua dengan lebih cinta kepada bangsa Indonesia,” ujar mantan Komandan Pusdik Bintara AL, Puslatdiksarmil, Kodikaltal ini.

Dijelaskannya, dalam pemulangan para deportan ini pihaknya juga menyerahkan kepada aparat teritorial setempat mengenai data-data para deportan itu selama berada di Pusderad BNPT seperti data kesehatan, keadaan psikologi terakhir dan sebagainya.

“Ini agar aparat teritorial itu tidak bingung lagi terhadap kondisi masing-masing deportan tersebut. Selain itu aparat di daerah dapat membantu mengembalikan identitas mereka yang sudah hilang seperti KTP, Kartu Keluarga. Kami berharap para stakeholder yang ada di daerah ini bisa membantu hak-hak para deportan ini,” ujarnya mengakhiri.

Seperti diketahui bahwa pada 12 Agustus 2017 lalu sebanyak 18 orang deportan WNI eks simpatisan ISIS ini tiba di Indonesia setelah dijemput pihak dari BNPT dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI di kota Erbil, Irak.

Selama satu bulan dalam pembinaan di Pusderad BNPT, sebanyak 15 dari 18 orang deportan itu bisa dilepas untuk dapat kembali ke masyarakat pada hari Rabu siang.

 

SELENGKAPNYA: BNPT Resmi Lepas Eks. Deportan Simpatisan ISIS untuk Kembali ke Masyarakat

Gereja Indonesia Dukung Upaya Pemerintah Mencegah Perdagangan Orang

Thu, 14/09/2017 - 15:24

Pejabat gereja Indonesia menyambut baik langkah pemerintah untuk menangani perdagangan manusia dengan mempermudah pekerja migran mendapatkan status hukum dan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah meluncurkan layanan satu atap untuk menerbitkan dokumentasi resmi kepada pekerja migran di Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur, yang memiliki jumlah kasus perdagangan manusia tertinggi.

Perizinan yang digunakan menjadi proses yang sangat panjang dan bisa memakan waktu berbulan-bulan, kata Samuel Adu, seorang petugas ketenagakerjaan dan transmigrasi.

“Ini dimanfaatkan oleh calo,” katanya.

Dengan sistem yang baru, proses mendapatkan izin jauh lebih cepat, kurang dari seminggu.

Pastor Paulus Christian Siswantoko, sekretaris Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral untuk Migran Perantau menyambut baik langkah tersebut, namun meminta pemerintah untuk memastikan sistem yang baru tetap bebas dari korupsi.

“Korupsi umumnya dilakukan dalam mengeluarkan izin,” katanya.

Pastor Yohanes Kristoforus Tara, koordinator komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Penciptaan Fransiskan di Timor juga menyambut baik langkah tersebut, namun juga meminta pemerintah untuk menyediakan pelatihan ketrampilan bagi para calon pekerja.

“Ini akan membuat upaya pemerintah melawan perdagangan manusia sedikit lebih komprehensif, “katanya.

Reyna Usman, pejabat lain di Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan, layanan baru di Nusa Tenggara Timur juga akan membantu keluarga pekerja migran tetap berhubungan dengan mereka.

“Keluarga akan tahu di mana, dengan siapa dan berapa lama pekerja migran bekerja karena semua informasi ini akan dicatat,” katanya.

Menurut Polda Nusa Tenggara Timur, lebih dari 1.600 orang diperdagangkan selama dua tahun terakhir, banyak di antaranya adalah anak-anak.

Aplonia Sara Mali Bere, mantan pekerja migran dari Atambua di Kabupaten Belu yang dua kali pergi ke Malaysia untuk bekerja secara ilegal mengatakan bahwa sistem yang baru harus memberi perlindungan yang lebih baik kepada para pekerja migran seperti dirinya.

“Jika pemerintah sekarang berusaha membuat segalanya lebih mudah, saya yakin banyak pekerja akan melalui jalur resmi,” katanya.

Sekolah Dibakar, Para Siswa Terpaksa Belajar di Tenda, Duduk di Tanah

Thu, 14/09/2017 - 15:01

Para pendidik termasuk dari kalangan Gereja Katolik, menyambut positif tertangkapnya anggota DPRD provinsi Kalimantan Tengah yang diduga mendalangi serangkaian serangan pembakaran sekolah dasar di Palangkaraya.

Yansen Alison Binti, 60 tahun, seorang politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang juga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, saat ini masih ditahan di Mako Brimob.

Polisi mengatakan Binti adalah dalang dibalik pembakaran terhadap tujuh sekolah di Palangkaraya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Juli. Di antara tujuh sekolah yang dibakar tidak ada satu pun sekolah katolik.

Delapan tersangka pelaku telah ditangkap dan mengaku saat ditanyai bahwa Binti memerintahkan mereka untuk membakar sekolah tersebut, kata beberapa penyidik.

“Dia memerintahkan sekolah-sekolah tersebut dibakar untuk membuka jalan bagi proyeknya sendiri di tempat tersebut,” kata juru bicara kepolisian, Martinus Sitompul.

Jika terbukti bersalah, Binti akan menghadapi hukuman 15 tahun penjara, sementara delapan pelaku pembakaran menghadapi 12 tahun di balik jeruji besi.

Serangan tersebut mengejutkan para pendidik di seluruh Indonesia.

Imam Fransiskan, Vinsensius Darmin Mbula dari Dewan Nasional Pendidikan Katolik, mengatakan apapun motifnya, membakar sekolah adalah tindakan barbar.

“Ini adalah ancaman serius terhadap tujuan pendidikan, yaitu untuk memanusiakan manusia dan menciptakan masyarakat yang lebih beradab dan adil,” kata Pastor Mbula, yang juga anggota komisi pendidikan keuskupan.

“Ini menyakitkan anak-anak yang sedang memperjuangkan haknya mereka untuk mendapat pendidikan,” katanya.

Pastor Silvanus Subandi, ketua Dewan Pendidikan Katolik di Keuskupan Palangkaraya mengatakan bahwa serangan tersebut menodai institusi pendidikan, dan merobek hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak di wilayah di mana gedung sekolah dan fasilitas sangat dibutuhkan.

“Sekarang siswa harus belajar di bawah tenda yang disediakan oleh pemerintah di komplek sekolah yang terbakar,” kata Pastor Subandi, yang juga wakil vikjen Keuskupan Palangkaraya, kepada ucanews.com, pada 12 September.

Imam tersebut mengatakan bahwa para siswa masih dalam trauma akibat serangan tersebut dan orang tua mereka bingung karena anak-anak mereka harus belajar di tenda.

Orang tua dari seorang anak di salah satu sekolah, Paulus Ekot, telah menyuarakan frustrasinya pada pihak berwenang atas tanggapan mereka terhadap serangan tersebut.

Semua peralatan sekolah juga dibakar, sehingga siswa yang menghadiri kelas sekarang harus duduk di tanah, tanpa kursi atau meja.

“Ini sudah berlangsung selama sebulan,” katanya.

 

Pages