Kumpulan Artikel dan Berita

Menjaga dan Merawat Alam

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 21:52

Fungsi Rambut

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 21:49

Puncta 17.10.18. Lukas 11:42-46 Kalian Mengabaikan Keadilan dan Kasih Allah

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 21:43
YESUS menghujat sikap orang Farisi yang hanya memandang hukum tetapi melalaikan keadilan dan kasih Allah. Sabda yang keras itu disampaikan Yesus karena Yesus melihat antara aturan dan realitas tidak sejalan. Orang Farisi suka membebani orang lain dengan aturan ketat tetapi mereka sendiri tidak menyentuhnya. Itulah yang disebut munafik. Kritikan pedas Yesus itu juga ditujukan kepada […]

Album Tahbisan Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Christophorus Tri Harsono (1)

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 20:18
BERIKUT ini, kami sampaikan beberapa foto hasil jepretan atas prosesi misa Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Christophorus Tri Harsono yang di hari Selasa tanggal 16 Oktober 2018 menerima Tahbisan Episkopalnya. Sejumlah Uskup berhalangan hadir dalam acara ini yakni Mgr. Ignatius Suharyo (KAJ) yang tengah berduka atas meninggalnya kakak kandungnya. Mgr. Pius Riana Prapdi (Keuskupan […]

Mgr Suharyo Minta Umat Katolik KAJ Tidak Membuang Makanan

UCAN Indonesia - Tue, 16/10/2018 - 18:40

Untuk merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo meminta umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk tidak membuang makanan melainkan berbagi dengan sesama.

Dalam surat gembala yang dibacakan pada Misa Minggu di semua 65 paroki, Mgr Suharyo mengatakan pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Dengan demikian, sudah seharusnya kebutuhan setiap orang akan pangan itu mempersatukan dan menumbuhkan solidaritas dan kerelaan untuk berbagi.

“Tetapi nyatanya pangan dengan mudah juga dapat menimbulkan konflik. Alasan utamanya, kebutuhan dasar pangan yang seharusnya menumbuhkan solidaritas, dalam kenyataan juga dapat menyulut keserakahan,” katanya.

“Itulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi: ‘Bumi ini cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia,’” lanjutnya.

Prelatus itu menyinggung laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB yang menyebutkan bahwa sekitar 820 juta penduduk di dunia mengalami kekurangan pangan dan 60 persen di antaranya adalah perempuan, 45 persen dari kematian anak di dunia disebabkan oleh kekurangan pangan dan 151 juta anak mengalami stunting atau gagal tumbuh.

Terkait stunting, Mgr Suharyo menyebut data dari Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa 37,2 persen anak di Indonesia mengalami gagal tumbuh atau empat dari 10 anak di Indonesia menderita stunting.

“Yang ironis ialah laporan yang sama menyatakan bahwa 672 juta orang mengalami obesitas dan lebih dari satu miliar penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan,” katanya.

Untuk itu, Mgr Suharyo mengajak keluarga dan komunitas Katolik untuk menjadi “tempat yang subur untuk mewariskan, merawat dan mengembangkan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan manusiawi sekaligus Kristiani, seperti kebhinnekaan dan belarasa, khususnya dalam rangka mengatasi kelaparan dan kekurangan pangan bergizi.”

“Upaya-upaya kecil apa pun – misalnya, tidak membuang makanan, memilih cara hidup ugahari, berani berkata ‘cukup,’ berbagi makanan dengan Saudara-Saudari kita yang sangat membutuhkan, jimpitan beras, menghemat air, mengikuti pertemuan-pertemuan dalam rangka HPS, merayakannya pada tingkat lingkungan, wilayah maupun paroki – menjadi bermakna karena dijiwai oleh iman,” katanya.

Menurut Mgr Suharyo, melalui gerakan semacam itu iman umat Katolik akan bertumbuh dan berbuah.

“Kita yakin bahwa Gereja adalah gerakan iman dan cinta melalui aksi-aksi nyata yang terus berkelanjutan, baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Seruan serupa disampaikan oleh Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko.

Dalam surat gembalanya, prelatus itu mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk mengembangkan keutamaan agar bisa menghargai dan menghormati profesi para petani, peternak dan nelayan dengan cara “mengonsumsi makanan dengan ugahari dan tidak membiasakan diri untuk menyisakan serta membuang makanan.”

“Terhadap kecenderungan banyak orang suka membuang makanan, Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ mengingatkan kita akan ancaman ‘budaya membuang’ (throw-away culture) yang mewarnai perilaku hidup kita (bdk. LS 22),” kata Mgr Rubiyatmoko.

KWI menetapkan tema “Keluarga Sebagai Komunitas Berbagi Pangan” sebagai tema HPS tahun ini. Di KAJ, tema yang diambil adalah “Dalam Kebhinnekaan, Pangan Mempersatukan.”

Vivo Addio Sukayamo dari Paroki St. Bernadet di Ciledug menyambut baik seruan Mgr Suharyo. “Saya setuju dengan ajakan itu. Memang dari kecil saya diajarkan (orangtua) untuk tidak buang makanan. Ambil saja yang sanggup dimakan, kalau sudah diambil harus habis,” katanya kepada ucanews.com.

Ia mengaku sedih ketika melihat ada orang yang membuang makanan. “Misalnya beli roti, baru digigiit sekali lalu dibuang. Kalau saya, kalau memang sudah saya gigit rotinya, meski tidak enak rasanya, harus dihabiskan,” lanjutnya.

Soal berbagi, ia mengaku selama ini hanya memberi donasi kepada orang yang membutuhkan bantuan. “Saya lebih pada kunjungan ke panti. Saya rutin melakukannya sebulan sekali. … Setiap bulan saya sudah anggarkan,” katanya.

 

Ribuan Umat Katolik akan Meriahkan Pesparani Nasional Pertama di Ambon

UCAN Indonesia - Tue, 16/10/2018 - 18:28

Sekitar 6.800 umat Katolik dari 32 propinsi akan berpartisipasi dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I yang akan digelar pada 27 Oktober hingga 2 November di Kota Ambon, Propinsi Maluku.

Sebagai penyelenggara, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) telah mempersiapkan Pesparani Katolik I sejak Februari bekerjasama dengan panitia lokal.

“Dari segi jumlah anggota kontingen, tercatat ada 6.800 orang,” kata Ketua Umum LP3KN Adrianus Eliasta Meliala saat jumpa pers di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pada Selasa (16/10).

Peserta akan tinggal di hotel, wisma dan asrama selama mengikuti kegiatan itu. “Namun karena ini adalah proyek sosial yang namanya ‘laboratorium perdamaian,’ toh akan ada beberapa orang yang akan diminta tinggal di rumah penduduk yang beragama Islam,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung soal bantuan finansial yang berasal dari pemerintah daerah (Pemda), pemerintah pusat dan masyarakat. “Dari APBD Pemda sejumlah 20 miliar, dari pemerintah pusat sejumlah 12 miliar lebih, ada juga dana masyarakat yang berasal dari pengusaha-pengusaha Katolik sekitar 5 miliar.”

Terkait terpilihnya Kota Ambon sebagai tempat penyelenggaraan Pesparani Katolik I, Sekretaris Umum LP3KN Toni HF Pardhosi mengatakan kegiatan itu berawal dari aspirasi masyarakat setempat.

“Mereka sudah melakukannya di tingkat propinsi. … Mereka merasa bahwa ini mestinya ada yang untuk tingkat nasional,” jelasnya, seraya menyinggung soal Deklarasi Aru yang muncul pada saat Pesparani tingkat propinsi di Dobo, ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, pada Oktober 2014.

“Makanya timbul istilah “Dari Maluku untuk Indonesia” untuk tingkat nasional,” lanjutnya.

“Dari Maluku untuk Indonesia” adalah motto Pesparani Katolik I. Sementara temanya adalah “Membangun Persaudaraan Sejati” dengan sub-tema “Dengan Penyelenggaraan Pesparani Nasional I Kita Padukan Tekad dan Upaya Meningkatkan Semangat Persatuan dan Kebhinnekaan Demi Kemajuan Bangsa dan Kemuliaan Tuhan.”

Menurut Toni, hal penting yang perlu ditekankan adalah dorongan itu berasal bukan hanya dari umat Katolik tetapi juga umat beragama lain.

“Ketika sudah ditetapkan di Ambon, maka kami coba berpikir bahwa ini sesuatu yang kontributif juga untuk Ambon sendiri karena Ambon itu sudah didaulat sebagai ‘laboratorium kerukunan umat beragama’ sebelum Pesparani (tingkat nasional) direncanakan,” katanya.

Sementara itu, Ernest Mariyanto, ketua bidang lomba Pesparani Katolik I, mengatakan visi dari kegiatan itu adalah menampung dimensi ke-Katolik-an dan ke-Indonesia-an.

“Ini dituangkan dalam pemilihan lagu. Maka lagu yang dipilih, misalnya untuk dimensi Katolik, adalah lagu-lagu tradisional Katolik atau lagu-lagu yang secara universal dipakai oleh Gereja Katolik. Ini dituangkan dalam lagu-lagu wajib. Dimensi Indonesia diwakili dengan karya komponis-komponis Indonesia, baik lagu wajib maupun pilihan,” katanya.

“Visinya adalah semboyan kita ‘100% Katolik, 100% Indonesia.’ Ini juga tertuang dalam kegiatan Pesparani ini,” lanjutnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kategori dalam Pesparani Katolik I mencakup paduan suara dewasa campuran, paduan suara dewasa pria, paduan suara dewasa wanita, paduan suara anak, paduan suara gregorian dewasa, paduan suara gregorian anak-remaja, menyanyikan Mazmur dewasa, menyanyikan Mazmur remaja, menyanyikan Mazmur anak, cerdas cermat rohani anak, cerdas cermat rohani remaja dan bertutur Kitab Suci anak.

“Terkait dengan penghargaan, panitia menentukan ada satu piala bergilir yakni Piala Presiden. Ada pula piala tetap untuk juara umum yang meraih poin paling tinggi dari seluruh kategori. Lalu ada juara-juara untuk setiap kategori yakni gold, silver dan bronze,” katanya.

Adrianus berharap Presiden Joko Widodo akan membuka Pesparani Katolik I. “Semua menteri bilang iya … Ya moga-moga sih dengan situasi di mana beliau setuju, pernah berjanji kepada kami pada waktu presiden berkunjung ke KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) bertemu dengan para uskup di mana beliau sangat jelas menyatakan kesediaannya untuk hadir dan membuka (Pesparani Katolik I). Maka ini akan mempertinggi kehadirannya,” katanya.

Dalam rilis yang dibagikan kepada wartawan saat jumpa pers, Ketua MUI Propinsi Maluku Abdullah Latuapo mengajak masyarakat setempat untuk mendukung Pesparani Katolik I.

“Kita harapkan semoga Pesparani ini tidak kalah dari keberhasilannya dengan MTQ dan Pesparawi. Itu yang kita harapkan. Oleh karena itu, kita mengimbau kepada masyarakat, mari kita mendukung dan menyukseskan acara Pesparani Katolik nasional yang pertana kali dilakukan,” katanya.

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) adalah festival umat Islam di Indonesia yang mulai digelar sejak 1968, sementara Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Nasional merupakan peristiwa keagamaan umat Protestan yang dimulai sejak 1983.

Pelita Hati: 17.10.2018 – Tak Berpura-pura

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 17:00
Bacaan Lukas 11:42-46 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan […]

Tangan Besi dan Solidaritas

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 16:33
TANGAN besi ungkapan biasa didengar untuk mendeskripsikan cara dan perilaku manusia memerintah dengan kejam. Sekali mencekik, tangan besi pasti menimbulkan korban. Tangan ini ternyata juga membutuhkan tangan-tangan lain untuk mencengkeram dan menguasai. Tangan besi sering disamakan dengan diktator. Kata ini berakar dari kata Latin dicere berkata, memerintah. Maka, dictator bermakna orang yang memberi perintah. Namun, […]

Hidup Selaras antara Lahiriah dan Batiniah

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 16:26
BACAAN-bacaan suci hari ini, Galatia 5:1-6 dan Lukas 11:37-41 memberi beberapa pointuntuk direfleksikan: Kebersihan diri dan lingkungan sekitat menyiratkan bahwa pribadi bersangkutan punya kepedulian pada keseharan secara umum. Yesus Tuhan mengutamakan kebersihan batiniah, dengan tidak mengabaikan kebersihan lahiriah. Kritik Yesus kepada orang Farisi dan kita murid-murid-Nya adalah kecenderungan mengutamakan tampilan luar atau casing semata. Yesus […]

Lentera Keluarga – Sunat

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 15:37
Selasa,  16 Oktober 2018 Bacaan: Gal 4:31b-5:6; Mzm 119:41.43.44.45.47.48 Injil : Luk 11:3-41 Renungan SUNAT masih menjadi persoalan awal di antara orang kristen yahudi dan yunani di Galatia. Apakah sunat itu wajib atau tidak bagi orang non yahudi untuk jadi kristen? Sunat bagi tradisi Yahudi adalah sebuah perjanjian yang pertama yang diberikan Allah kepada Abraham. […]

Siswa Sekolah Alkitab Direkrut Secara Paksa oleh Milisi Etnis

UCAN Indonesia - Tue, 16/10/2018 - 15:26

United Wa State Army (UWSA) secara paksa merekrut 41 siswa dan siswi di negara bagian Shan dekat perbatasan Myanmar dengan China, demikian laporan pemimpin Gereja Baptis etnis Lahu.

Pendeta Lazarus, sekretaris jenderal Konferensi Gereja – Gereja Baptis Lahu di Kyaing Tong, mengatakan bahwa 92 orang Kristen Lahu dibebaskan baru-baru ini setelah menandatangani perjanjian bahwa mereka hanya akan beribadah secara pribadi di rumah, bukan di gereja.

Namun, para siswa dipaksa untuk bergabung dengan milisi yang didirikan dari bekas Partai Komunis di Burma.

“Kami mendengar para siswa yang belajar di sekolah Alkitab ditugaskan ke berbagai daerah setelah mereka direkrut paksa menjadi tentara Wa,” kata Rev. Lazarus kepada ucanews.com.

Dia berjanji untuk membebaskan mereka dan meminta UWSA untuk membebaskan mereka.

Pdt. Lazarus menambahkan bahwa para pemimpin Gereja Baptis berencana untuk bertemu dengan partai politik dan asosiasi kebudayaan Lahu untuk membahas situasi di daerah perbukitan Wa tempat penculikan dan penahanan terjadi.

Sejumlah 52 gereja Baptis Lahu tetap ditutup dan lima telah dihancurkan. Lazarus menambahkan bahwa dia tidak tahu berapa lama penindasan akan berlangsung.

Dia mengatakan kurangnya kebebasan beragama adalah yang paling mengerikan sejak pekerjaan misi dimulai beberapa dekade yang lalu, meskipun ada beberapa masalah masa lalu, dan bahwa situasinya terus memburuk.

Lima biarawati Katolik dan enam guru awam diusir dari wilayah itu oleh UWSA sebagai bagian dari propaganda yang dimulai pada 13 September di mana kelompok militan mencabut  gereja yang mereka anggap tidak.

UWSA mengumumkan bahwa semua gereja di wilayah itu yang dibangun setelah tahun 1992 dianggap dibangun secara ilegal.

Hanya gereja-gereja yang dibangun antara 1989 dan 1992 yang diterima.

UWSA terus melarang pembangunan gereja-gereja baru dan mengharuskan para imam dan pekerja di gereja-gereja berasal dari penduduk setempat, bukan orang luar.

UWSA Ini juga melarang pengajaran agama di sekolah-sekolah di wilayah Wa, sementara fungsionaris UWSA dilarang menjadi anggota organisasi keagamaan apa pun.

Kepemimpinan UWSA juga berjanji untuk menghukum kader pemerintahan setempat jika mereka mendukung kegiatan misionaris.

Wilayah Wa adalah rumah bagi kelompok etnis termasuk Wa, Kachin, Ta’ang, Lahu, Lisu, Kokang dan Shan yang menganut agama Kristen, Budha, animisme, Penyembah roh dan Islam.

UWSA memiliki hubungan erat dengan pemerintah komunis China yang memiliki kepentingan dan ambisi ekonomi yang signifikan di kawasan ini. Beijing sudah lama mencurigai kelompok-kelompok Protestan menjadi  mata-mata Amerika Serikat.

Orang Kristen terdiri dari sekitar 30 persen dari sekitar 450.000 etnis Wa.

30.000-pasukan kuat UWSA – tentara etnis terbesar di Myanmar – dituduh sebagai salah satu kelompok perdagangan narkoba terbesar di Asia Tenggara

Uskup India yang Dituduh Perkosa Biarawati Bebas Bersyarat

UCAN Indonesia - Tue, 16/10/2018 - 14:43

Pengadilan negara bagian selatan India, Kerala, pada 15 Oktober memberikan bebas bersyarat kepada Uskup Franco Mulakkal, yang ditangkap hampir sebulan lalu atas tuduhan memperkosa seorang biarawati Katolik.

Pengadilan Tinggi Kerala memberikan jaminan dengan syarat bahwa uskup, yang berbasis di Kota Jalandhar utara, tidak boleh masuk ke negara bagian Kerala selain hanya untuk  melapor sekali dua minggu kepada polisi.

Prelatus itu juga diperintahkan untuk menyerahkan paspornya ke pengadilan untuk mempersempit ruang geraknya dari segala upaya untuk meninggalkan negara itu.

Pengacaranya, Vijay Bhanu, mengatakan kepada ucanews.com bahwa mendapatkan bebas bersyarat  merupakan “kemenangan” bagi uskup.

Uskup Mulakkal ditangkap pada 21 September setelah seorang suster Misionaris Yesus berusia 48 tahun, sebuah konggregasi  di keuskupan yang dipimpin prelatus itu, melaporkan bahwa uskup itu memperkosanya beberapa kali antara tahun 2014 dan 2016 ketika dia mengunjungi biaranya di Kerala.

Pada 24 September, uskup ditahan di rumah tahanan peradilan.

Pada 3 Oktober, pengadilan negara menolak permohonan bebas bersyarat karena “bukti yang cukup” terhadap dirinya dan fakta bahwa polisi belum menyelesaikan penyelidikan mereka. Pengadilan berpendapat bahwa bebas bersyarat dapat memungkinkan dia untuk mencoba mempengaruhi saksi.

Selama 24 hari, Uskup Mulakkal mendekam di tahanan di Pala, sebuah kota di distrik Kottayam tempat  biara korban berada.

Penangkapan uskup terjadi setelah adegan-adegan dramatis di Kerala yang mengakibatkan protes jalanan yang dihadiri oleh lima biarawati dari biara korban yang menuntut penangkapan uskup.

Syarat bebas bersyarat bahwa dia tidak boleh masuk Kerala kecuali kalau berurusan penting dengan jaminan dia melapor ke polisi, kata seorang biarawati yang mendukung protes masyarakat, yang berakhir segera setelah penangkapan itu terjadi.

Uskup yang berasal dari Keuskupan Kerala dapat dengan mudah mempengaruhi pemimpin agama dan politik yang menguntungkannya sehubungan dengan penyelidikan, kata suster itu.

Pengacara Indulekha Joseph, seorang pendukung atas protes para biarawati, mengatakan kepada ucanews.com bahwa 90 hari adalah hukum waktu normal yang memungkinkan terdakwa ditahan di dalam tahanan sambil menunggu penyelidikan.

“Petugas penyidik ​​tidak keberatan dengan jaminan bebas bersyarat itu,” katanya.

“Kami menganggap bahwa mereka telah menyelesaikan penyelidikan.”

Pengacara itu mengatakan undang-undang baru yang disahkan pada bulan April mewajibkan polisi untuk menyelesaikan penyelidikan dalam waktu dua bulan setelah laporan pengaduan diajukan.

Ketika biarawati mengajukan pengaduannya pada 28 Juni, polisi diminta untuk menyerahkan laporan investigasi akhir mereka dengan cepat sehingga sidang Uskup Mulakkal bisa dimulai.

Untuk menjamin peradilan yang cepat bagi para korban, undang-undang juga mengamanatkan penyelesaian uji coba dalam waktu dua bulan. Lebih lanjut menetapkan bahwa semua kasus perkosaan diselesaikan dalam waktu enam bulan.

Uskup diperintahkan dia harus meninggalkan Kerala dalam waktu satu hari setelah mendapatkan bebas bersyarat.

“Tetapi di mana dia akan tinggal adalah pertanyaan terbesar,” kata seorang imam yang terkait dengan kasus tersebut, dan mencatat bahwa Vatikan tidak mencopot “gelar sebagai uskup Jalandhar” meskipun dia tidak mendapatkan administrasi dari keuskupan berhari-hari sebelum penangkapannya.

Ada kekhawatiran apakah uskup akan kembali ke Jalandhar, kata imam yang tidak disebutkan namanya.

Sekretaris Jenderal Konferensi Wali Gereja India, Uskup Theodore Mascarenhas, mengatakan pihak berwenang yang tepat akan memutuskan di mana dia akan tinggal dan “apa yang akan dia lakukan.”

“Kami akan menyeberangi jembatan itu ketika kami datang ke sana,” katanya kepada ucanews.com tanpa merinci kapan keputusan akan diambil.

John Donbosco Lobo, Guru Penyebar Virus Literasi

UCAN Indonesia - Tue, 16/10/2018 - 14:03

John Donbosco Lobo begitu kaget ketika pada 2013 ia singgah di sebuah sekolah dasar di Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tempat ia mengenyam pendidikan tiga dekade sebelumnya.

Ia menemukan buku-buku di perpustakaan sekolah itu masih sama dengan buku yang ia dan teman-temannya dahulu gunakan.

Bahkan, kondisinya sudah jauh lebih buruk.

“Tidak hanya kumal, ada juga buku yang hanya tersisa sampulnya. Isinya sudah hilang,” katanya kepada ucanews.com.

Saat kemudian kembali ke Jawa Timur, tempat ia menjalani profesi sebagai guru Agama Katolik di salah satu sekolah negeri, bayangan tentang situasi di Jerebu’u itu terus menghantui pikirannnya.

“Saya terus-menerus bertanya dalam hati, bagaimana generasi masa depan dari daerah-daerah pelosok seperti di kampung saya itu bisa maju, kalau mereka tidak mendapat perhatian,” katanya.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, NTT, bersama beberapa daerah lain di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua, selalu berada di urutan terakhir dalam hal kualitas pendidikan, termasuk salah satunya adalah dalam hal kemampuan membaca.

Penilaian kemampuan membaca untuk para murid kelas awal yang pernah dilakukan oleh USAID pada tahun 2014, misalnya menemukan bahwa anak-anak di Jawa dan Bali dapat membaca 59,2 kata per menit, sedangkan di Nusa Tenggara, Papua dan Maluku hanya bisa membaca 29,7 kata per menit.

John Donbosco Lobo menyerahkan buku kepada seorang guru di Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Juga terungkap bahwa hanya 46 persen anak-anak dari provinsi-provinsi tersebut yang dapat memahami apa yang mereka baca, jauh lebih rendah dari Jawa dan Bali yang mencapai 78 persen

Kenyataan demikian, menurut John, sejatinya terjadi bukan karena anak-anak malas untuk belajar.

“Itu terjadi karena ketidaktersediaan sarana, termasuk di antaranya buku-buku,” katanya.

Ia mengambil perbandingan sederhana, dengan hasil pendidikan dari sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas memadai, termasuk seminari-seminari, yang biasanya mengungguli sekolah-sekolah lain.

“Kalau semua sekolah memiliki fasilitas lengkap, saya yakin otomatis mutu juga meningkat,” katanya.

John pun segera bertekad mengambil langkah; bagaimana menggalang donasi buku-buku untuk dikirim ke daerah pelosok.

Niat itu kemudian mendapat titik terang, ketika isterinya yang bekerja sebagai perawat berbagi cerita tentang rencana penggalangan donasi itu kepada seorang pasien, yang lalu menyatakan ingin membantu.

Pasien itu, seorang pengusaha, kemudian menepati janjinya. Buku satu truk diantar ke rumah John.

Mendapat ‘berkah’ itu, John memutuskan mengirimkannnya ke alma maternya, SMA St Thomas Aquina Mataloko, Ngada.

“Pihak sekolah sempat bertanya kepada saya, buku-buku ini dibagikan kepada siapa, saya bilang, bagi saja ke anak-anak di sekitar sekolah,” katanya.

Bantuan perdana itu, yang kemudian diekspos lewat media sosial menggerakkan pihak lain utntuk mengontaknya, meminta dikirimi buku.

Menghadapi banyaknya permintaan, John melakukan berbagai bentuk upaya penggalangan bantuan, termasuk di lingkungan tempat tinggalnya dan di Gereja.

“Kami meminta umat paroki untuk mambawa buku-buku yang layak pakai dari rumah mereka saat menghadiri Misa,” katanya.

John menyebut gerakan yang ia lakukan, “Katakan dengan Buku”, yang terinsipirasi oleh salah satu judul opini di Harian Kompas, tahun 2006 yang begitu membekas dalam ingatannya.

Upayanya yang mulanya hanya menyasar wilayah NTT kemudian merambah ke wilayah lain di seluruh Indonesia, dari Aceh, hingga Papua. Kelompok yang disasar pun dari beragam latar belakang.

Tahun lalu, kisahnya, sebuah kelompok di Makassar, Sulawesi Selatan meminta sumbangan Alquran.

“Ketika hal ini saya umumkan ke kenalan-kenalan saya yang Muslim, termasuk di lingkungan tempat tinggal saya, bantuan datang, dan saya mengirimkan ratusan Alquran ke sana,” katanya.

Ongkos kirim buku-buku ini dibantu oleh para donatur. Upaya John mendapat kemudahan setelah pada bulan Mei 2016, Presiden Joko Widodo merintis program pengiriman buku-buku gratis ke seluuh Indonesia pada tanggal 17 setiap bulan.

John kemudian masuk daftar sebagai salah satu anggota khusus, yang diizinkan mengirim buku dalam jumlah banyak.

“Setiap bulan saya mengirim lebih dari seribu buku,” katanya.

Untuk membantu aktivitasnya, John menggaet mahasiswa dri sejumlah kampus untuk mengurus packing dan pengiriman.

Romo Valerianus Jempau, Kepala SMP St Stefanus Ketang, Kabupaten Manggarai mengatakan, ia sudah dua kali mendapat buku-buku cerita dari John.

“Ia mengirimkan kepada saya sejumlah komik dan beberapa buku cerita yang memang khusus untuk anak-anak, karena ia tahu sasaran gerakan pastoral literasi yang saya jalankan,” katanya.

Ia menyebut, buku-buku itu sangat membantu tugasnya, mengingat di daerah pelosok, buku merupakan barang langka.

Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik mengatakan, apa yang dilakukan Lobo merupakan salah satu jawaban atas keperihatinan yang selama ini dialami sekolah-sekolah daerah pelosok.

“Kalau untuk buku wajib yang pengadaannya menjadi program pemerintah, dalam beberapa tahun terakhir, mungkin sudah tidak lagi menjadi persoalan. Yang sulit diakses adalah buku-buku penunjang, selain buku mata pelajaran,” katanya.

“Inisiatif individu yang dilakukan oleh John Lobo sudah sangat baik. Yang perlu adalah konsistensi, agar itu terus bertahan,” jelasnya.

John mengatakan, langkah yang ia lakukan adalah bagian dari perwujudan imannya, “mendedikasikan diri bagi saudara-saudara kita yang keterbatasan akses.”

Ayah dua orang anak ini mengatakan, selalu termotivasi ketika melihat foto anak-anak yang menyambut buku dengan girang.

“Wajah mereka yang riang menjadi alasan saya untuk terus berkomitmen meneruskan perjuangan ini.”

 

Muspas Keuskupan Agung Merauke hasilkan 11 program prioritas untuk kesejahteraan keluarga

Pen@ Katolik - Tue, 16/10/2018 - 11:05
Pemberkatan minyak suci dalam Misa Penutupan Muspas Kame 2018 di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katederal. PEN@ Katolik/ym

Untuk menjawab tema “Keluarga Katolik Keuskupan Agung Merauke yang Sejahtera,” musyawarah pastoral (muspas) Keuskupan Agung Merauke (KAMe) yang berlangsung di Rumah Bina Pankat, 7 hingga 14 Oktober 2018, menghasilkan 11 program prioritas untuk kesejahteraan keluarga Katolik.

Program-program yang akan dipersiapkan lewat pembekalan selama satu tahun ke depan, namun bisa menjadi program jangka panjang itu adalah budidaya sagu dan pengolahan sagu “untuk menjadi makanan pokok sehari-hari, termasuk kue sagu dan kripik sagu,” pengolahan dan pemasaran ikan “seperti pembuatan ikan asin, bakso ikan, dan budi daya ikan,” dan pengolahan karet dan gambir “untuk pemasaran dan pembudidayaannya.”

Program lainnya adalah pemasaran buah-buahan dan tanaman hidroponik, penanaman gaharu, peningkatan kegiatan pertanian keluarga berupa persawahan serta penanaman sayuran dan bahan makanan lokal, penyadaran program menabung bagi keluarga dan penggunaan CU (Credit Union) sebagai sarana untuk lebih mensejahterakan hidup keluarga, pengelolaan dan budi daya umbi-umbian, gerakan pangan lestari dengan memanfaatkan pekarangan untuk penanaman sayur dan obat-obatan, peternakan ayam dan babi, serta home industry beberapa jenis usaha kecil.

Keterlibatan dan keimanan umat, kata Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC kepada PEN@ Katolik di akhir muspas itu, tidak boleh dilupakan tetapi perlu diperhatikan, diperjuangkan dan diwujudkan, karena “merupakan hal penting dalam kehidupan menggereja, namun akan terganggu, jika kesejahteraan keluarga mereka terabaikan.”

Tema muspas itu, menurut Mgr Adi Saputra, adalah kelanjutan dari Sinode 2016 dan Muspas 2017. Sinode 2016 dengan tema “Keluarga Katolik Keuskupan Agung Merauke, yang Beriman, Terlibat dan Sejahtera Berdasarkan pada Budaya Setempat” menyoroti dan mengangkat peranan keluarga.

Sejahtera, lanjut uskup itu, “bukan hanya terkait terpenuhinya kebutuhan jasmani saja, tetapi juga rohani seperti ketenteraman hidup, doa, kerukunan, hiburan dan yang lainnya.”

Mgr Adi Saputra menjelaskan bahwa dalam melaksanakan 11 program prioritas itu, Keuskupan Agung Merauke akan bekerja sama dengan pemerintah, baik dinas terkait, pemerintah distrik maupun pemerintah kampung setempat. Di samping itu, lanjut uskup, “keterlibatan masyarakat sendiri juga perlu untuk mewujudkan pelaksanaan 11 program prioritas itu.” (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Pemberkatan minyak suci dalam Misa Penutupan Muspas Kame 2018 di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katederal. PEN@ Katolik/ym

Album: Salve dan Pemberkatan Insignia Uskup Keuskupan Purwokerto (2)

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 07:52
Salve Agung dan Pemberkatan Insignia Jelang Tahbisan Uskup Keuskupan Purwokerto (1) Live Streaming Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Purwokerto, Selasa (16/10/18) Pkl/ 15.00 WIB Kredit foto: Iva Prayogo/OMK Paroki Katedral Semarang.

Salve Agung dan Pemberkatan Insignia Jelang Tahbisan Uskup Keuskupan Purwokerto (1)

Sesawi.net - Tue, 16/10/2018 - 07:39
HARI Senin tanggal 15 Oktober 2018, pukul 18.00 WIB berlangsung Ibadat Salve Agung dan Pemberkatan Insigna. Prosesi ini dipimpin oleh Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC. Ibadat Salve Agung dan Pemberkatan Insigna diselenggarakan untuk pengikraran kesetiaan kepada Bapa Suci Paus Fransiskus dan pengakuan iman Uskup Terpilih Keuskupan Purwokerto Mgr. Christophorus Tri Harsono. Juga […]

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono diberkati: Semoga umat-Mu dipelihara dengan pimpinan kudus

Pen@ Katolik - Mon, 15/10/2018 - 23:59
Mgr Tri Harsono mengucapkan janji sambil menyentuh Kitab Suci dihadapan Uskup Agung Piero Pioppo dan Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. PEN@ Katolik/pcp

“Kami mohon dengan rendah hati semoga melalui yang Kaupilih sebagai rekan pengajar kebenaran, Engkau menghidupi umat-Mu dan memelihara mereka dengan pimpinan yang kudus. Semoga baik domba-domba maupun para gembala kelak dengan gembira masuk ke padang rumput surgawi.”

Sesudah berdoa demikian, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengisi pendupaan lalu mendupai tahta uskup Keuskupan Purwokerto yang ditinggalkan Mgr Julianus Sunarka SJ yang pensiun mulai 29 Desember 2016.

Pemberkatan tahta uskup itu berlangsung dalam Ibadat Agung Menjelang Tahbisan Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono di Katedral Kristus Raja Purwokerto, 15 Oktober 2018, yang dipimpin Mgr Subianto.

Sebelum memberkati tahta uskup itu, Mgr Subianto juga memberkati insignia uskup dan tanda-tanda yang akan dikenakan uskup setelah tahbisannya 16 Oktober 2018 di Graha Widyatama Universitas Soedirman, Purwokerto, 16 Oktober 2018. Tanda-tanda itu adalah mitra, cincin, tongkat, dan kalung salib, serta beberapa perlengkapan yang akan digunakan untuk kegiatan liturgis uskup.

“Berkatilah benda-benda ini, perlambang kesucian yang akan dikenakan oleh hamba-Mu, Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto.  Semoga, sebagai gembala utama yang bersinarkan kesucian dan berhiaskan kemuliaan, dia akan selalu membimbing  dan mencintai Gerejanya, serta mengantar semua orang kepada Allah,” demikian doa yang disampaikan Mgr Subianto.

Dalam Ibadat Agung itu, Mgr Tri Harsono juga mengungkapkan pengakuan iman dan membacakan janji sambil memegang Kitab Suci dihadapan Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo dan Mgr Subianto.

Setelah dibaca, Mgr Tri Harsono menandatangani pengakuan iman dan janji itu yang kemudian ditandatangani juga oleh Mgr Subianto dan Mgr Pioppo, yang lalu menyalami dan memeluk uskup terpilih.

Uskup terpilih itu akan memimpin keuskupan yang meliputi 12 kabupaten di wilayah Jawa Tengah bagian barat (Purworejo, Wonosobo, Batang, Kebumen, Banjarnegara, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Brebes, Tegal, dan dua kota (Pekalongan dan Tegal).

Jumlah umat Katolik di 12 kabupaten dan 2 kota itu, menurut data statistik 2015 sekitar 61.000 umat di tengah jumlah penduduk sekitar 20 juta jiwa.

Sebanyak 18 uskup termasuk Mgr Piero Pioppo serta Mgr Julianus Sunarka SJ dan Julius Kardinal  Darmaatmadja SJ menghadiri Misa di katedral yang dipenuhi para imam, kaum religius dan umat dan dimeriahkan dengan koor para frater diosesan dan religius.

Mgr Tri Harsono yang dengan rendah hati mengaku tidak punya banyak kelebihan “tetapi karena imannya kepada Allah dan komitmennya pada Gereja, Mgr Tri mau menjadi teladan yang diyakini sebagai kunci tugas penggembalaan di mana pun.”

Yang penting, lanjut Uskup Bandung yang juga Sekretaris Jenderal KWI itu, adalah menjadi teladan iman bagi para imam, bagi para biarawan-biarawati dan umat dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. “Dengan penuh iman Mgr Tri akan menggembalakan umat dan imamnya terutama bukan dengan kata-kata dan ajaran tetapi dengan perbuatan dan teladan sebagaimana yang dia lihat dalam diri Maria yang nekad menerima panggilan Tuhan yang berat ‘Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum’ (Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu).”

Melalui peristiwa ini, kata Mgr Subianto dalam homilinya, Mgr Tri Harsono mengajak kita untuk saling menjadi teladan dan saling menggembalakan.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto 16 Oktober

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono sudah diberkati. PEN@ Katolik/pcp Mgr Subianto memberkati insignia uskup dan tanda-tanda yang akan dikenakan Mgr Tri Harsono setelah tahbisannya sebagai uskup 16 Oktober 2018. PEN@ Katolik/pcp Foto PEN@ Katolik/pcp Foto PEN@ Katolik/pcp

3 Momen Istimewa Perayaan Salve Agung Menyongsong Tahbisan Mgr. Tri Harsono

Mirifica.net - Mon, 15/10/2018 - 23:33
ANGKAIAN perayaan ibadat agung (salve agung) yang dimulai dari perarakan pembuka hingga lagu penutup sejatinya merupakan satu kesatuan. Tak terpisahkan. Sekalipun demikian, tiga momen berikut ini boleh dibilang istimewa karena menandai tujuan dan arti penting dibalik perayaan ibadat agung menyongsong tahbisan Mgr. Tri Harsono. Pengakuan Iman oleh Mgr. Tri Harsono, Uskup Terpilih Keuskupan Purwokerto Momen …

Pages

Subscribe to KomKat KWI aggregator